Jumat, 14 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia

KRISIS PEMIMPIN YANG MERAJALELA

MASALAH

Hakikat manusia di dunia ini pada dasarnya diturunkan sebagai seorang khalifah atau pemimpin di bumi ini. Allah S.W.T menurunkan manusia ke dunia ini dengan tujuan agar supaya dunia dan kehidupan yang berjalan di dalamnya dapat tertata dengan teratur dengan manusia sebagai pemimpin – pemimpinnya. Setiap manusia yang diturunkan oleh Allah S.W.T. ke bumi ini pada dasarnya pasti memiliki jiwa – jiwa kepemimpinan yang unik, karena masing – masing orang pasti mempunyai cara dan jalannya sendiri dalam menerapkan jiwa – jiwa kepemimpinan itu sendiri. Sebenarnya, pemimpin itu sendiri adalah seseorang yang memimpin atau dapat dikatakan sebagai seseorang yang mengetuai dalam sebuah kelompok atau organisasi. Dalam pengertian tadi, memang seorang yang disebut pemimpin pasti menjalankan kepemimpinannya masing – masing. Kepemimpinan itu sendiri memiliki definisi yaitu proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.Dalam menjalankan kepemimpinan mereka, ternyata dibutuhkan pemimpin – pemimpin yang memiliki kualitas tertentu yang memenuhi standar sebagai seorang pemimpin . Diantara kualitas – kualitas yang dibutuhkan tersebut antara lain adalah :
1. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memecahkan setiap masalah dengan cara dan jalan yang dapat ditiru oleh pengikut – pengikutnya
2.   Seorang pemimpin harus dapat bersikap positif di dalam setiap hal yang dilakukannya.
3. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk bergaul dan berkomunikasi dengan oranglain. Cara berkomunikasi ini harus dibedakan antara satu ddengan lainnya, contohnya seorang pemimpin harus dapat membedakan cara berkomunikasi dengan pengikut dan dengan mitra bisnisnya.
4.   Setiap pemimpin harus dapat menjadi peginspirasi dan penumbuh motivasi bagi orang – orang disekitarnya, khususnya para pengikut – pengikutnya.
5.  Dan yang terakhir, seorang pemimpin harus selalu memiliki integritas yang tinggi dalam cara – cara kepemimpinan yang diterapkannya. Jika integritas sudah diterapkan dengan baik maka akan menjadi penunjang dalam setiap kegiatan -  kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok dan organisasinya.

Kebanyakan dari para calon pemimpin yang ada saat ini banyak dari mereka yang tidak memenuhi kesemuanya. Kebanyakan dari mereka yang tidak memenuhi standar – standar tersebut hanya akan menjadi salah satu komponen yang akan berpotensi besar dalam menghancurkan masa depan dunia ini. Naman, dari standar – standar yang dapat saya rumuskan diatas, pernah ada seseorang yang memenuhi semua standar – standar tersebut. Tetapi sayangnya, ia bukan berasal dari negeri kita ini. Ia adalah Rasulullah S.A.W. Beliau sudah memenuhi semua standar yang ada, beliau patut dijadikan panutan dalam hal kepemimpinannya. Kepemimpinannya yang menginspirasi dan menjadi panutan selurh ummat muslim di dunia ini telah banyak diakui oleh tokoh – tokoh besar di dunia, tidak terkecuali tokoh – tokoh besar di dunia barat. Jika kita melihat dari seluruh panutan yang diajarkan oleh rasullullah S.A.W. dan membandingkannya dengan para pemimpin beserta dengan cara kepemimpinan para pemimpin di Indonesia. Saya dapat mengatakan bahwa kepemimpinan yang dijalankan oleh para pemimpin di Indonesia masih sangat jauh dari kepemimpinan yang diterapkan oleh Rasulullah S.A.W. Dan di tahun 2012 saat ini saya dapat mengatakan bahwa permasalahan nyata yang sedang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, bangsa Indonesia saat ini adalah KRISIS KEPEMIMPINAN.

Jika kita lihat Indonesia pada zaman dahulu, Indonesia masih memiliki banyak Sumber Daya Alam yang melimpah, ini ditandakan dengan banyaknya hutan – hutan lebat yang hijau dan asri, lingkungan –lingkungan yang masih bersih, infrastruktur kota yang masih nyaman digunakan oleh masyarakat, dan masih banyak lagi. Selain sumber daya alam, dulu Indonesia juga kaya akan kebudayaan – kebudayaannya contohnya di bidang seni, ditandai dengan banyaknya tari – tarian, lagu – lagu dan alat – alat musik yang masih melimpah. Namun, jika kita lihat kasus Indonesia sekarang, tahun 2012, dan coba bandingkan lagi dengan Indonesia pada masa lalu. Dalam hal sumber daya alam, kita yang dulu memiliki sumber daya alam yang melimpah, sekarang sumber daya alam yang kita miliki sudah mulai tergerus dan sudah mulai habis. Mirisnya, sumber daya alam itu habis, kebanyakan bukan untuk kemakmuran dan keejahteraan masyarakat Indonesia. Sumber daya alam tersebut banyak dieksploitasi oleh pihak – pihak tertentu yang mementingkan kepentingan pribadi dan kepentingan kelompoknya masing – masing. Lebih parahnya lagi, pihak  - pihak yang mengeksploitasi sebagian besar sumber daya alam tersebut merupakan kita sendiri, bangsa Indonesia yang seharusnya menjaga dan melestarikan sumberdaya alam tersebut agar dapat bermanfaat bagi kita dan generasi penerus kita selanjutnya. Selain itu, dalam bidang kebudayaannya, Indonesia masa kini sering sekali kehilangan kebudayaan – kebudayaan tradisional asli Indonesia. Sebenarnya apa yang menyebabkan ini semua terjadi dan apakah yang menyebabkan terjadinya perubahan yang drastis dengan Indonesia pada masa lalu?
Yang dapat saya katakan disini, semua masalah yang tadi telah saya sebutkan diatas terjadi karena adanya krisis kepemimpinan di Indonesia. Mengapa disini saya sebut “krisis”? Ini karena pada saat ini kita, bangsa Indonesia sedang kekurangan. Kekurangan akan para pemimpin yang  dapat menjadi pemecah masalah – masalah yang sering terjadi di Indonesia , pemimpin -  pemimpin yang memenuhi standar, atau bahkan lebih baik daripada standar – standar minimal. Banyak para pemimpin indonesia saat ini yang menjadikan kepemimpinannya hanya sebagai alat dan penunjang tingkatan “kasta” yang ada di Indonesia.  Banyak pula kasus – kasus yang sering terjadi di Indonesia yang berhubungan dengan penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia.

Kita saksikan belakangan ini ada kecenderungan kepemimpinan di Indonesia sering menampilkan tindakan yang dipersepsi lebih menguntungkan kelompok-kelompok tertentu ketimbang kepentingan rakyat. Selain kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan yang sudah diproses secara hukum, masih banyak ditemukan indikasi penyalahgunaan yang diberitakan di media massa dan diulas di forum-forum diskusi. Dari situ, tampak sensitivitas pemimpin di Indonesia masih rendah. Kepemimpinan – kepemimpinan di Indonesia masih rawan penyalahgunaan kekuasaan. Sementara penggunaan kekuasaan yang diarahkan kepada perbaikan kondisi masyarakat Indonesia masih terus ditagih karena pelaksanaannya tampak setengah hati. Selain itu Pelayanan publik di Indonesia masih tergolong buruk meski sudah ada beberapa perbaikan, seperti kartu miskin yang memperingan biaya kesehatan dan pendidikan. Secara umum pelayanan publik di Indonesia masih jauh di bawah standar kelayakan. Sarana transportasi, bahkan di kota besar sekalipun, masih minimal. Pelayanan kesehatan dan penyediaan pangan dan perumahan rakyat juga demikian. Berbagai macam urusan yang memerlukan persetujuan aparat pemerintah masih berlangsung lambat. Penerapan dan penanganan hukum masih diskriminatif. Praktek pungutan liar, sogok-menyogok dan suap masih berlangsung, selain itu banyak program yang tidak berkelanjutan. Kita temukan juga undang-undang yang sudah disahkan dan diundangkan negara tak sungguh-sungguh diterapkan dalam masyarakat, hambatan-hambatan dalam pencairan dana program, lambatnya penanganan-penanganan masalah di dalam dan luar negeri. Masih banyak mekanisme dan aturan penerapan kebijakan dan pelaksanaan program yang belum jelas atau tak tersosialisasi secara baik. Kepemimpinan di Indonesia masih belum dapat menjaga dan mengendalikan proses pembangunan negara secara optimal. ini menunjukkan tergerusnya keteladanan dalam pemimpin – pemimpin beserta cara kepemimpinannya di Indonesia. Dari dulu sampai sekarang ada saja hal-hal yang menyebabkan para pemimpin negeri ini mengalami degradasi moral yang kian lama tidak terkendali. Banyak para pemimpin yang dengan seenaknya dan semaunya saja membuat suatu kebijakan atau aturan yang tanpa mempertimbangkan aspirasi rakyatnya sendiri. Padahal merka di pilih oleh rakyat, dan seharusnya juga akan kembali kepada rakyat. Tetapi, pada kenyataannya berbanding terbalik dengan kondisi saat ini.

Kita sebagai generasi penerus tidak bisa hanya tinggal diam dan duduk termenung menunggu sang pahlawan datang untuk membawa perubahan dan menyelamatkan Negara ini dari krisis kepemimpinan. Kita lah yang akan menentukan mau dibawa kemana arah Negara ini. Perlu kerja keras yang sangat ekstra untuk dapat membuat hal tersebut tercapai. Mulai dari sekarang kita harus segera bergerak demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia yang nantinya membawa Negara ini dapat bersaing dan berpacu dengan Negara-negara lain.

SOLUSI

Dalam makalah ini, saya mencoba menyuguhkan solusi – solusi yang mungkin dapat bermanfaat nantinya dalam masalah krisis kepemimpinan yang terjadi di Indonesia saat ini. Yang pertama, tahap penyeleksian anggota – anggota perwakilan rakyat harus lebih diperketat lagi. Tahapan tahapan penyeleksian ini sangat dibutuhkan bagi calon – calon pemimpin bangsa. Salah satu contoh tahapan pencalonan tersebut mulai diberlakukan keputusan yang mengatur tata cara pencalonan Pemilu DPR dan DPRD 

sejak 3 Desember lalu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Peraturan tersebut dituangkan di dalam Keputusan KPU No. 675 Tahun 2003 yang ditandatangani Ketua KPU Prof. Nazaruddin Sjamsuddin tanggal 3 Desember 2003. Keputusan ini merupakan penjabaran dari UU No. 12/2003 Tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, khususnya Bab VII Pasal 67, 68, 69, dan 70. (www.kpu.go.id)

Hal yang terjadi saat ini para wakil – wakil pemimpin rakyat hanya mengikuti berbagai persyaratan yang diajukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),tetapi dalam masa kerjanya mereka tidak menunjukkan bukti – bukti yang nyata. Jadi, hal yang mungkin perlu dilakukan adalah dengan memperketat proses penyeleksian calon-calon pemimpin bangsa, misalnya dengan melakukan masa peercobaan selama beberapa bulan di sebuah instansi tertentu. Dari sana dapat dilihat cara kepemimpinan yang diterapkannya, apakah sudah tepat untuk bangsa ini atau belum. Solusi kedua yang saya ajukan yaitu dengan bersifat selektif dalam menghadapi perkembangan – perkembangan globalisasi yang masuk ke Indonesia. Mengapa krisis kepemimpinan berhubungan dengan era globalisasi ini? Karena, secara tidak langsung perkembangan – perkembangan budaya dan teknologi yang masuk ke Indonesia dapat menjadi penunjang besar tergerusnya moral dan budaya bangsa, tidak terkecuali para calon dan para pemimpin bangsa. Dengan tergerusnya moral dan budaya bangsa para pemimpin Indonesia, maka akan tergerus pula standar – standar dan panutan Rasulullah S.A.W. tentang cara – cara kepemimpinan yang baik dan benar. Tetapi, bukan berarti semua perkembangan teknologi dan budaya era globalisasi yang masuk ke Indonesia itu buruk, masih banyak hal – hal yang dapat ditiru dari perkembangan tersebut, khususnya dalam bidang kepemimpinan. Misalkan saya ingin memberi contoh salah satu cara kepemimpinan negara adi daya, yaitu Amerika. Dengan terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden Amerika Serikat, kebudayaan rasisme yang sebelumnya marak terjadi di Amerika, jadi mulai berkurang. Ini berarti cara kepemimpinan Barrack Obama dengan menekan tingkat rasisme di Amerika Serikat telah berhasil membuat rakyat Amerika Serikat perlahan mampu untuk menekan tingkat rasisme tersebut. Itu mungkin dapat kita terapkan di Indonesia, mungkin di Indonesia bukanlah tingkat rasisme yang harus ditekan habis oleh para pemimpin bangsa ini, tetapi yang harus mampu dikurangi adalah masih maraknya tingkatan – tingkatan masyarakat yang dibedakan berdasarkan tingkat finansial dan jabatan masing – masing individu. Hal ini juga merupakan salah satu tantangan para pemimpin bangsa ini di masa yang akan datang. Solusi yang ketiga adalah dengan dibuatnya hukum yang lebih keras lagi. Hukum yang sedang berjalan sekarang masih memiliki banyak titik – titik kelemahan yang dapat memungkinkan ramainya sikap tidak taat hukumyang dilakukan oleh masyarakat Indonesia khususnya orang orang besar (pemimpin). Jika diberlakukan hukum yang lebih keras lagi, maka sikap untuk tidak mentaati hukum lama kelamaan akan menurun karena masyarakat pasti akan takut dengan sanksi – sanksi yang akan diberikan oleh hukum tersebut.

Sekian artikel saya tentang krisis kepemimpinan ini, semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Dan semoga dengan tulisan saya ini, masalah krisis kepemimpinan yang terjadi pada bangsa kita akan semakin berkurang. Terimakasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar