Jumat, 21 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Pendidikan; Antara Kewajiban dan Paksaan


                Pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting kehidupan. Pendidikan sendiri berasal dari kata didik, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengupayaan pengajaran dan pelatihan yang bertujuan untuk memberikan proses, cara, atau ajaran itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

                Secara tidak langsung, pendidikan pertama kita dimulai sejak kita baru saja lahir, dan terus berlanjut hingga akhir hidup. Bahkan, terkadang, orang-orang sudah mulai memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka dari sejak mereka masih berada di dalam kandungan, melalui musik, atau membacakan kepada bayi yang berada di dalam rahim ibunya. Pada mulanya hal ini dianggap hal yang terlalu mengada-ada, tapi sebuah penelitian yang dilaksanakan di Cambridge University, Inggris beberapa tahun yang lalu menyatakan, bahwa bayi yang semasa sebelum lahirnya diperdengarkan dengan musik, terutama musik klasik, relatif memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

                Dapat terlihat berbagai macam fungsi pendidikan yang sudah bisa dibilang konkret. Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan, baik yang formal seperti sekolah atau informal seperti tempat-tempat kursus, berkaitan dengan beberapa fungsi yang nyata. Yang pertama adalah untuk mempersiapkan anggota masyarakat  dalam pencarian nafkah. Tingginya pendidikan seseorang dapat berakibat perbandingan lurus terhadap nafkahnya. Misalnya, karena ia dianggap telah menempuh pendidikan tinggi, ia mendapat kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi, yang tentunya memberinya kesempatan untuk mendapat gaji yang lebih baik. Yang kedua, fungsi nyata dari pendidikan adalah untuk mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. Seseorang dengan bakat bermain musik, bila ia menempuh pendidikan yang tepat, ia akan merasakan kepuasan pribadi dari keahliannya bermain musik, selain itu ia bisa menjadi sarana pendidikan informal seperti guru les musik untuk kepentingan masyarakat. Yang ketiga, adalah melestarikan kebudayaan. Kebudayaan tiap negara, atau kebudayaan suatu etnis tertentu harus dilestarikan, dan salah satunya adalah lewat pendidikan. Yang keempat, menanamkan keterampilan yang perlu pagi partisipasi dalam demokrasi. Untuk mencapai sebuah kondisi negara dimana seluruh rakyatnya merupakan partisipan aktif dalam budaya berdemokrasi, dibutuhkan pendidikan agar keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dapat diajarkan, sekaligus dapat mengajarkan budaya berdemokrasi yang benar.
          Masih menurut Horton dan Hunt, selain fungsi yang nyata, pendidikan memiliki fungsi laten. Fungsi laten adalah fungsi yang pada awalnya mungkin tidak terlihat (tersirat) tapi memiliki potensi untuk muncul. Pertama adalah untuk mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan yang disalurkan dari lembaga pendidikan formal (sekolah) orang tua dapat melimpah tugaskan dan memberi wewenang dalam mendidik anak kepada sekolah. Yang kedua, menyediakan sarana untuk pembangkangan. Pembangkangan yang ada disini merupakan pembangkangan dalam konteks positif. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai-nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan antara sekolah dan masyarakat tentang suatu hal, misalnya tentang pendidikan mengenai seks (sex education) dan sikap terbuka masyarakat akan suatu hal. Lembaga pendidikan seperti sekolah bisa juga untuk mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan di sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga bisa menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi. Fungsi laten terakhir adalah, pendidikan dapat memperpanjang masa remaja. Pendidikan yang ditempuh melalui jalur lembaga pendidikan formal dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena sebagian besar siswa masih tergantung kepada orangtuanya, baik secara ekonomi ataupun moral.
          Sedangkan, menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yang secara konteks tidak jauh berbeda dengan pernyataan Horton dan Hunt. Yang pertama adalah transmisi atau pemindahan kebudayaan. Melalui pendidikan, budaya yang sudah dipelajari atau yang sudah ada sejak zaman dahulu kala bisa dipindahkan dari generasi yang sudah tua ke generasi selanjutnya. Yang kedua, memilih dan mengajarkan peranan sosial. Melalui pendidikan, kita bisa mendapatkan pengajaran tentang peranan-peranan sosial di masyarakat. Yang ketiga, menjamin integrasi sosial. Pendidikan juga bisa menjadi sebuah sarana peleburan sosial menjadi satu. Yang keempat, lembaga-lembaga pendidikan bisa mengajarkan corak kepribadian kepada murid-muridnya, yang bisa membuat mereka lebih menghargai perbedaan. Yang terakhir adalah sumber inovasi sosial.  
          Meskipun sudah terlihat begitu banyak fungsi dari pendidikan yang bisa didapat, sayangnya, di Indonesia pendidikan menjadi salah satu masalah besar. Pendidikan di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Hal ini tercermin dari tingkat buta aksara di Indonesia yang mencapai angka sekitar 7 juta jiwa dari total populasi Indonesia. Program-program pemerintah yang sangat mencanangkan pemberantasan buta aksara di Indonesia dinilai masih kurang efektif, karena jumlah yang masih begitu besar. Indonesia sendiri meraih peringkat ketujuh dalam urutan negara yang masih buta aksara. Dengan hal ini, dapat dikatakan bahwa setiap 21 orang dewasa di Indonesia, ada 1 orang dewasa yang masih buta aksara. Sejak tahun 1965, Indonesia masih belum mampu memerdekakan rakyatnya yang buta aksara. Hal ini terkadang malah dianggap remeh oleh pemerintah, yang lebih banyak memusatkan pengembangan daerah-daerah kota besar seperti Jakarta daripada daerah-daerah terpencil yang tentu saja, masih sarat akan rakyat-rakyat yang buta aksara.
          Meskipun begitu, pemerintah telah melakukan usaha-usaha lainnya untuk memajukan pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah program Wajib Belajar 9 Tahun (Wajar 9 Tahun). Sayangnya, hal ini masih dianggap gagal oleh sebagian orang, dikarenakan masih banyak anak-anak usia sekolah yang tidak dapat menuntaskan program Wajib Belajar 9 Tahun ini dikarenakan masalah klasik; yaitu biaya. Pada tahun 2010, ada sekitar 1,3 juta anak yang putus sekolah di antara usia 7 hingga 15 tahun di Indonesia.
          Sebenarnya, sudah ada program sekolah gratis dari pemerintah. Sebagian besar sekolah negeri sudah memakai program sekolah gratis. Tetapi, kadang-kadang biaya masih dipungut atas nama uang gedung, uang perbaikan, dan yang lainnya. Masih tidak terlalu banyak sekolah yang benar-benar 100% gratis di kota-kota besar. Yang lebih parah lagi, masih tidak terlalu banyak ada sekolah di daerah-daerah terpencil, tempat-tempat yang sebenarnya sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah. Bilapun ada sekolah gratis di tempat yang agak jauh dari kota besar, pendidikan yang diberikannya pun pendidikan gratis ala Indonesia, atau dengan kata lain; pas-pasan dan sebenarnya tidak sesuai dengan standar.
          Faktor lain yang menyebabkan banyaknya orang yang putus sekolah, atau orang yang tidak sekolah di usia remaja salah satu penyebabnya adalah faktor internalnya itu sendiri, terutama faktor silabus di Indonesia yang terlalu banyak. Kurikulum di Indonesia termasuk negara dengan kurikulum terbanyak, dengan standar kelulusan yang tinggi. Ya, hal ini bisa mendorong siswa untuk belajar dengan giat agar bisa lulus dengan baik, tapi, karena sebagian besar ilmu yang sudah mereka pilih tidak lagi berguna jika mereka sudah masuk ke perguruan tinggi yang memiliki fakultas masing-masing, ilmu-ilmu ini tidak lagi berguna dan menjadi sia-sia. Karena faktor silabus yang banyak dan standar yang tinggi ini pula, sebagian besar anak-anak menjadi malas untuk belajar, yang bisa berakibat pada tidak naik kelas atau tidak lulus; sehingga beberapa diantara mereka lebih memilih untuk berhenti sekolah dan lebih baik mencari uang saja.
          Selain itu, masih banyak anak-anak yang mengalami pemaksaan dalam pendidikan. Pemaksaan ini biasanya terbagi dua. Untuk anak-anak yang berasal dari kelas menengah ke bawah, biasanya pemaksaan ini dimaksudkan agar anak-anak tidak usah menempuh pendidikan formal dan langsung membantu orangtua mereka untuk mencari nafkah. Sedangkan, untuk anak-anak yang berasal dari kelas menengah ke atas, biasanya pemaksaan ini dimaksudkan agar anak-anak menempuh jalur pendidikan yang orangtua mereka inginkan. Misalkan contohnya adalah ketika pemilihan jurusan untuk masuk SMA. Orangtua anak tersebut ingin anak mereka masuk ke jurusan IPA, tapi anaknya sendiri lebih berminat ke jurusan IPS. Akhirnya orangtuanya memaksakan anaknya tersebut masuk ke jurusan IPA. Hal ini terkadang menyebabkan anak-anak menjadi malas belajar karena harus menjalani hal yang tidak mereka sukai.
          Solusi dari beberapa masalah di Indonesia ini adalah, tentu saja pemerintah harus lebih menggencarkan program-program pemberantasan buta aksara, langkah awal dalam pemajuan pendidikan Indonesia. Lalu, pemerintah mengoptimalkan Wajib Belajar 9 Tahun dan menggratiskan sekolah-sekolah untuk anak-anak, terutama anak-anak yang bisa disebut anak-anak miskin. Tetapi, sekolah-sekolah yang digratiskan masih harus memiliki standar yang sama dengan sekolah-sekolah berkualitas lainnya, dengan fasilitas lengkap untuk membantu pengembangan siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan. Di daerah-daerah terpencil, pembuatan sekolah-sekolah seperti ini sudah harus dimulai. Lalu, bila sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan lainnya yang memenuhi standar sudah mulai marak, angka 9 di program Wajar harus diganti dengan angka 12. Dan yang terakhir, orangtua harus mengerti bahwa anak-anak mereka membutuhkan pendidikan; pendidikan yang mereka sukai sehingga bisa mereka jalani dengan senang. Karena pendidikan adalah kewajiban, bukanlah paksaan.

Sumber:
www.wikipedia.com
www,google.com
www.edukasi.kompas.com
www.ccde.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar