Rabu, 19 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

Fokus Sektor Perikanan

Indonesia merupakan sebuah negara yang terletak di antara dua benua besar, yang tak lain adalah benua Asia dan benua Australia. Diapit oleh dua benua besar pun tidaklah cukup. Indonesia juga diapit oleh dua samudera, yaitu samudera Atlantik dan samudera Pasifik. Negara berkepulauan yang sangat luas tersebut memiliki wilayah teritorial yang mencakup banyak lautan. Seolah tidak puas dengan pemberian lautan yang luas, Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik di daratan, maupun lautan. Dengan sumber daya alam yang melimpah, dapat dibayangkan sebuah negara dengan makmurnya hidup sejahtera, lancar, dan damai. Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Tetapi, mengapa negara kita tercinta ini memiliki banyak masalah? Dari masalah kesejahteraan, sampai masalah ekonomi pun bukan lagi hal yang baru bagi Indonesia. Dengan memanfaatkan berbagai sumber daya alam yang melimpah di sekitar kita, seharusnya masalah-masalah tersebut dapat diatasi. Apalagi, dengan luasnya lautan yang Indonesia miliki, sumber daya alam bukan lagi hanya berlimpah, melainkan sangat berlimpah. Maka dari itu, saya membuat tulisan mengenai solusi yang dapat saya berikan untuk negara kita tercinta, Indonesia, dalam bidang yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal, yaitu perikanan di Indonesia.

Peta Indonesia
Indonesia, yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki garis pantai sekitar sepanjang 81.000 km. Betapa harusnya kita bersyukur, di bawah penderitaan beberapa negara dengan masalah kekurangan air, Indonesia memiliki wilayah laut yang meliputi 5,8 juta km² atau sekitar 70% dari luas total wilayah Indonesia. Luas wilayah laut Indonesia terdiri dari 3,1 juta km² luas laut kedaulatan dan 2,7 juta km² wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Luasnya lautan yang Indonesia miliki, mencakup keindahan serta ekosistem yang beragam. Hal tersebut mengakibatkan negara kita yang tercinta, Indonesia, memiliki sumber daya alam melimpah. Berdasarkan TZMKO tahun 1939, lebar laut wilayah perairan Indonesia hanya meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian pulau Indonesia. Sedangkan, lebar laut hanya 3 mil laut. Hal tersebut dapat diterjemahkan, bahwa antar pulau di Indonesia terdapat laut internasional yang memisahkan satu pulau dengan pulau lainnya. Dapat dimengerti bahwa hal ini tentu dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Indonesia tidak hanya menerima kenyataan menyakitkan tersebut begitu saja. Pada tanggal 13 Desember 1957 pemerintah Indonesia mengumumkan Deklarasi Djoeanda. Deklarasi Djoeanda menitikberatkan pada beberapa poin, yang sebenarnya menyelamatkan Indonesia dari perpechan. Yang sebelumnya dikatakan bahwa wilayah laut menjadi pengancam persatuan dan kesatuan bangsa, karena memisahkan antar pulau di Indonesia dengan laut internasional, dalam Deklarasi Djoeanda disebutkan bahwa laut dan perairan di antara pulau-pulau menjadi pemersatu karena menghubungkan pulau yang satu dengan yang lain. Serta penentuan wilayah perairan Indonesia diputuskan dengan penarikan garis lurus pada titik terluar dari pulau terluar Indonesia. Sehingga batas-batas wilayah Indonesia diukur sejauh 12 mil dari garis dasar pantai pulau terluar.

Dua per tiga wilayah Indonesia merupakan wilayah laut yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah baik dari sumber daya hayati yang mampu diperbaharui, maupun sumber daya non hayati energi kelautan dan jasa-jasa kelautan yang sampai sekarang belum dimanfaatkan secara optimal. Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 1999 dibentuk dengan maksud keinginan bangsa Indonesia untuk memanfaatkan hadiah dari Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Bidang perikanan diharapkan menjadi tulang penyangga dalam pergerakan pembangunan kelautan Indonesia dalam upaya menjadikan laut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Laut yang dengan susah payah diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia di masa yang lalu, tentunya dibutuhkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian laut. Usaha-usaha tersebut pun dijelaskan pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1974 tentang pengawasan pelaksanaan eksplorasi (penyelidikan demi ilmu pengetahuan) dan eksploitasi (pemanfaatan) minyak dan gas bumi di daerah lepas pantai. Pertama, dilarang penangkapan ikan dengan alat yang dapat merusak ekosistem laut, seperti pukat harimau dan bahan peledak. Kedua, Mencegah pencemaran laut dengan pelarangan pembuangan limbah berbahaya ke laut dan melakukan budidaya ikan. Ketiga, melakukan perlindungan terhadap hewan-hewan langka. Keempat, menanam pohon bakau untuk mencegah abrasi (pengikisan batuan oleh air) pantai. Kelima, membuat terumbu karang sebagai tempat perkembangbiakan hewan-hewan laut.

Terumbu Karang di Indonesia
Jika kita tidak melaksanakan pelestarian laut dengan alasan tidak tahu menahu apa yang harus dilakukan, alasan tersebut tidak dapat ditolerir, karena penjelasan mengenai larangan dan usaha pelestarian sudah dijelaskan pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1974. Walaupun sudah dijelaskan sejelas-jelasnya apa seharusnya kita lakukan dan tidak kita lakukan, warga negara Indonesia masih membuang sampah sembarangan ke laut. Masih berperilaku egois, menangkap hewan laut dengan pukat harimau. Seperti belum cukup, hewan-hewan laut yang langka pun ditangkap juga. Hal-hal tersebut dilakukan hanya demi memuaskan keinginan pribadi dan keegoisan semata. Terumbu karang yang memiliki ekosistem dengan banyak hewan laut, yang juga menjadi pusat pencaharian nelayan, dan memberikan banyak ikan untuk kita makan, dihancurkan tanpa perasaan berterima kasih sedikit pun atas apa yang terumbu karang hasilkan untuk kita semua.

Masalah & Solusi:  

Dengan 'pintarnya' warga negara Indonesia menyia-nyiakan sumber daya alam berupa ikan yang berlimpah, dengan menghancurkan tempat ikan berkembang biak, atas keegoisan diri sendiri.

Usaha penangkapan, pemeliharaan (budidaya) dan pengolahan hasil sumber daya hayati perairan, sampai saat ini masih mengandalkan sepenuhnya terhadap tersedianya bahan baku dari alam, sementara bidang budi daya perairan (mariculture) belum menampakkan kekuatannya dalam memanfaatkan teknologi khususnya dalam bidang pemuliaan, breeding, reproduksi, pakan dan penyakit.

Indonesia yang memiliki panjang pantai 81.000 km; 17.508 pulau; 5,8 juta km2 wilayah laut/perairan yang dihuni oleh kekayaan biota perairan berupa lebih dari 2.000 jenis ikan; 850 jenis sponge, 910 jenis koral dan 4.500 jenis ikan karang atau 20% jenis ikan dunia (Subiyanto dan Djohani, 2000) merupakan wilayah pusat kekayaan biodiversitas dunia. Namun demikian, kondisi riel dari perjalanan sosial budaya bangsa Indonesia yang selama ini terlalu mengarah ke wilayah darat, membawa dampak terhadap perilaku masyarakat Indonesia yang cenderung memandang pesimis dalam memandang laut sebagai sumber kekuatan pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam kelautan, yakni tidak lain dari sektor perikanan.

Hasil Laut Indonesia
Dengan sering kita, bangsa Indonesia, mengkonsumsi makanan laut. Tetapi, dengan kurang pandainya bangsa Indonesia tidak mengembangkan potensi ekonomi dalam bidang perikanan tersebut. Pengembangan yang dimaksud tidak lain dari hanya pengkonsumsian semata, berkembang menjadi pengeksporan yang tentunya dapat lebih meningkatkan kemajuan ekonomi Indonesia. Bidang perikanan yang merupakan sebuah kegiatan perekonomian yang memanfaatkan sumber daya alam perikanan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya memiliki tujuan untuk meningkatkan pereknomian Indonesia. Memang tingkat kesejahteraan masyarakat di Indonesia belum stabil dan tidak tinggi, tetapi dengan meningkatnya ekonomi Indonesia, semakin banyak juga potensi yang didapatkan untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan oleh dampak dari peningkatan perkenomian Indonesia yang sangat luas, antara lain meningkatnya kesejahteraan manusia. Dengan mengoptimalisasikan dan memelihara produktivitas sumber daya perikanan dan kelestarian lingkungan, 2 hal biasa yang sebenarnya tujuan besar dapat tercapai. Sambil berenang, minum air, pribahasa mengatakan. Sumber daya perikanan dapat dilihat sebagai suatu faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu hasil yang bernilai untuk ekonomi masa kini maupun masa mendatang.

Nelayan Indonesia yang pergi berlayar
Sejalan dengan diketahuinya peran penting sumber daya, potensi pengembangan dalam bidang perikanan belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia menjelaskan kondisi potensi perikanan di Indonesia pada nomor kep.18/men/2011, yang tidak lain menjelaskan bahwa kelimpahan sumber daya perikanan tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia hanya mendapatkan beberapa persen dari jumlah seluruhnya. Dapat disimpulkan bahwa hasil budi daya milik negara kita sendiri, tidak sepenuhnya kita nikmati, melainkan terdapat sejumlah sumber daya yang malah dinikmati oleh bangsa lain. Istilahnya, kita telah 'kecolongan', sebelum memulai pengembangan. Masalah lain yang muncul merupakan produksi yang kurang dioptimalisasikan. Menurut data, industri pengalengan ikan yang terdaftar lebih dari 50 perusahaan, akan tetapi yang berproduksi kurang dari 50% dengan kapasitas produksi maksimum sekitar 60%. Dengan seharusnya kita dapat memproduksi hasil olahan makanan laut sebanyak 60%, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Sayang sekali, padahal dalam segi kebutuhan dunia akan makanan laut, khususnya ikan, sangat besar. Ditambah dengan luas laut Indonesia yang seluas 5,8 juta km2 atau 2/3 luas wilayah Republik Indonesia, dan panjang pantai 95.181 km, seharusnya kita dapat menjadi negara penghasil ikan. Akan tetapi, pendapatan domestik bersih perikanan Indonesia hanya sekitar 3,2%. Negara yang potensi perikanannya tidak sebesar Indonesia saja, seperti Korea Selatan dan Taiwan, dapat menjadi negara penghasil ikan yang berpengaruh di dunia. 



Sebuah ironi bila melihat potensi sumber daya yang besar di Indonesia dan sebuah tantangan tentang kondisi perikanan Indonesia menurut keputusan Mentri Perikanan dan Kelautan nomor kep.18/men/2011. Diperlukan sebuah penanaman pola pikir bahwa sumber daya perairan nasional memerlukan sistem pengelolaan yang seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian, karena sensitif terhadap kerusakan. Peluang optimalisasi sumber daya perairan nasional terbuka sangat luas dari berbagai sisi pemanfaatan dan penggelolaan. Selain itu, peningkatan produksi kelautan dan perikanan diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pembangunan ekonomi secara nasional.
 

Ketertinggalan Indonesia dalam pengembangan sektor perikanan disebabkan oleh banyak alasan, salah satunya adalah ketidakfokusan kita dalam pengelolaan industri perikanan. Dengan sumber daya yang melimpah, kita terlena sehingga melupakan kefokusan dalam pengembangan bidang tersebut. Dengan membaca ini, diharapkan bahwa Indonesia dapat lebih fokus lagi dalam hal mengembangkan sektor perikanan ke depannya. Selain soal ketidakfokusan dalam pengelolaan industri perikanan, Indonesia belum bijak dalam mengelola sumber daya alam pada bidang perikanan. Saking melimpahnya, seperti yang sebelumnya telah dijelaskan, Indonesia menjadi lupa diri dan menggunakan sumber daya alam, yang kemudian lupa meningkatkan pengembangan. Akan lebih baik jika Indonesia bijak dalam memilah-milah apa yang harus dikembangkan, daripada hanya menggunakan. Hal kefokusan serta kebijakan saling berpengaruh satu sama lain. Dengan meningkatkan fokus pada pengelolaan bidang perikanan, hal-hal seperti 'kecolongan' kesempatan memproduksi oleh bangsa lain, seperti yang terjadi sekarang, dapat dihilangkan.

Membuka lahan pariwisata kelautan adalah ide yang sangat bagus, apalagi dengan terbukanya lahan pariwisata, orang-orang akan tahu, bahwa perikanan Indonesia sangatlah bagus kualitasnya. Selain melalui sektor pariwisata, kita sebagai warga negara Indonesia dapat mengingatkan pemerintah untuk lebih memperhatikan sektor perikanan, agar pengembangan pun berjalan lancar. 



Sumber Data:
http://rizqiputriariani.blogspot.com
http://www.bakorluh-maluku.com/
http://www.neraca.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar