Selasa, 18 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia


Indonesia, Negara yang Berpotensi Maju kok gak Maju-maju?

Masalah

Saat melihat Negri Indonesia banyak hal yang seharusnya membuat bangsa ini bangga. Namun, setelah 67 tahun negri ini merdeka, keadaannya makin cart marut hingga yang tergambar di bumi pertiwi bukanlah rasa bangga melainkan malu akan diri sendiri. Begitu banyak potensi-potensi yang belum dapat dikembangkan secara optimal di Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak, mengapa Indonesia tidak lebih maju dari negara-negara lain. Seperti misalnya Singapura, Jepang, atau Malaysia sekali pun masih terhitung lebih maju disbanding Indonesia. Banyak hal-hal kecil yang begitu penting sering terlewat oleh bangsa ini karena kepedulian terhadap diri sendiri begitu tinggi hingga orang-orang sekitar terlewat begitu saja.

Salah satu hal yang memegang kunci atas kemajuan Indonesia adalah pendidikan para penduduknya. Bagaimana Indonesia bisa maju jika pemutar roda kehidupan Indonesia, tidak mengerti bagaimana harus memutar rodanya. Saat negara lain terus maju dan menguatkan eksistensinya di dunia, Indonesia bagaikan jalan di tempat tanpa perkembangan yang membanggakan. Hal ini jelas terlihat dengan mutu pendidikan Indonesia yang tergolong rendah, mulai dari pendidikan yang tidak efektif, kurang eifisien dan standarisasi yang kurang tepat.

Pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk mencapai suatu tahap dimana ia memahami dan bisa menerapkan pembelajaran dikemudian hari dengan mudah, sesuai dengan kebutuhan, dan membantu untuk tercapainya cita-cita. Sebaliknya, pendidikan di Indonesia sangatlah mendorong dari segala arah agar peserta didik mendapat nilai yang “bagus” tanpa melihat keadaan, kemauan, dan kemampuan anak.

Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah peserta didik telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dinaggap hebat oleh masyarakat.

Dapat dilihat mulai dari pemilihan subjek pelajaran yang tersedia di sekolah-sekolah. Peserta didik diharuskan mengikuti pelajaran sesuai dengan yang diberikan oleh pihak sekolah, atau lebih tepat dipaksakan untuk mempelajari subjek-subjek yang kelak tidak dipakai pada kehidupan mendatang. Sehingga bagi peserta didik yang tidak berminat pada suatu mata pelajaran tetap dipaksakan untuk mempelajarinya, lalu menyebabkan peserta didik tersebut “ogah-ogahan” dalam pembelajaran. Namun ini tidak berhenti, jika subjek ini dibahas dalam kelas selanjutnya, peserta didik akan mendapatkan lebih banyak kesulitan dan menemukan lebih banyak kegagalan. Selanjutnya, peserta didik menempuh kehidupan sekolah hanya sebagai legalitas untuk menempuh jenjang pendidikan selanjutnya tanpa melihat prospek bagaimana kedepannya bagi peserta didik itu sendiri.


Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan di bidang sosial dan dipaksa mangikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Sayangnya masalah “gengsi” tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia. Keharusan dan kemauan orangtua pun jadi yang nomer satu.

Dari segi efisiensi, pendidikan hakikatnya menghasilkan pembelajaran yang dikategorikan efektif dengan proses yang murah. Saat membicarakan proses pembelajaran yang baik jangan pula dilupakan tentang proses yang baik juga. Proses ini jugalah yang kurang jika melihat pendidikan di Indonesia. Masyarakat khususnya orangtua kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relatif lebih rendah jika kita bandingkan dengan Negara lain. Bahkan sekarang sudah banyak sekolah-sekolah negri yang mendapatkan bantuan dana sehingga peserta didik yang kurang mampu dapat bersekolah tanpa mengeluarkan biaya.
Namun lagi-lagi mutu pendidikan di sekolah-sekolah gratis ini sangatlah diragukan karena, kembali lagi bahwa hanya sekedar bantuan. Hanya sampai sekolah tersebut dapat berjalan, dengan pengajar yang bersedia dibayar seadanya, dengan murid yang bersedia sekolah dengan fasilitas yang seadanya. Sudah sepatutnya seluruh sekolah, dari ujung Sabang sampai Merauke diratakan, disamakan, diseragamkan secara keseluruhan. Karena semua peserta didik yang ada di Indonesia berhak atas ilmu-ilmu yang tersedia di muka bumi. Sebagai contoh, ada sekolah negri, swasta, hingga sekolah-sekolah internasional yang menyamakan diri dengan sekolah luar negri. Hal ini memang bukanlah hal yang mudah dilihat dari luas tanah air yang berkali-kali lipat dibandingkan negara lain. Jika peserta didik diajarkan akan pentingnya kesatuan dan kebersamaan hal ini dapat sedikit demi sedikit terwujud.
Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan kenyataan yang ada di sekolah-sekolah, dapat dilihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relatif lebih lama jika dibandingkan Negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika peserta didik pulang, ia merasakan sangat lelah belum lagi dengan tugas-tugas yang yang tidak relevan dan sering kali melebihi kapasitas anak sebagai pelajar. Dapat kita umpakan, jika satu guru tidak mampu mengajar 2 subjek, bagaimana bisa berekspektasi untuk seorang peserta didik mampu memahami seluruh subjek?
Peserta didik terus ditekan untuk mendewasakan diri padahal pemikirannya lebih dekat dengan pemikiran anak kecil. Hal ini disebabkan karena usia belajar yang terlalu dini. Sebagai contoh anak kelas 1 SD atau bahkan TK yang sudah bisa membaca atau “diajarkan” untuk bisa membaca, yang seharusnya mereka masih dalam usia untuk bermain, menggambar, bernyanyi dan melakukan hal-hal yang tidak memberatkan. Lebih lagi jikalau anak malah sudah bisa menghitung dalam mulai pertambahan hingga pembagian. Ini bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan, karena ini dapat memberikan dampak yang begitu besar saat sang anak tumbuh menjadi peserta didik dengan tuntutan untuk bisa lebih lagi.
Peserta didik akan terus menunda-nunda pekerjaan karena dia merasakan waktu untuk bermainnya hilang saat kecil, sehingga pekerjaan dalam bentuk tugas atau pekerjaan rumah terus ditunda hingga waktu tenggat. Dapat diambil contoh, jika seorang guru memberikan tugas dengan tenggat 1 tahun, peserta didik akan cenderung menyelesaikannya tahun depan minus satu hari. Maka tidak ada bedanya dengan memberikan tenggat waktu 1 minggu, peserta didik pun akan mengerjakannya minggu depan minus satu hari. Ditambahlagi peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut banyak yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, Karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.

Salah satu acuan yang bisa diukur untuk menentukan Keberhasilan pendidikan adalah tingkat kesejahteraan para Guru. Namun apa bisa dikata, Di Indonesia masih banyak guru yang dibayar dengan upah yang kurang layak atau bahkan tidak layak. Walaupun banyak orang beranggapan bahwa guru itu adalah profesi yang mewah, namun tetap saja masih banyak guru yang belum bisa menerima hasil jerih payahnya secara adil.

SOLUSI
Dari sekian banyak masalah pendidikan yang menjadi pemegang kunci kemajuan di Indonesia, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hal-hal di atas?
Salah satu hal yang terpenting adalah menumbuhkan minat baca tulis anak-anak. Hal ini paling baik dilakukan oleh orang tua dengan rutinitas membacakan buku-buku cerita bergambar. Rutinitas membacakan buku-buku cerita ke anak-anak ini sekaligus juga akan memupuk keterbukaan komunikasi antar orang tua dan anak. Setelah sang anak terbiasa bebas berekspresi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya barulah mereka belajar menulis sehingga saat mereka bisa menulis bukan lagi ‘ini ibu budi’ atau ‘ini adik budi’ yang mereka tulis, namun mereka akan menulis apa yang mereka lihat dan pikirkan.

Ke depan di jenjang pendidikan selanjutnya, si anak akan lebih terfokus untuk mempelajari sesuatu yang benar-benar mereka sukai. Anak yang suka melukis akan terfokus dengan kurikulum khusus melukis, anak yang suka musik akan terfokus dengan kurikulum musiknya. Anak yang suka matematika akan mempelajari matematika dengan porsi lebih besar daripada pelajaran biologi. Pelajaran biologi yang mereka pelajari pun pelajaran biologi khusus untuk si anak matematika, tentunya akan berbeda dengan bobot dan porsi anak yang terfokus belajar biologi. Demikian pula sebaliknya. Bukan seperti yang ada sekarang ini, semua pelajaran harus dikuasai, semua pelajaran diberikan dengan porsi dan bobot yang sama. Kalaupun ada yang bisa menguasai semua pelajaran hampir dipastikan si anak akan tidak tahu harus kemana setelah mereka lulus.

Sistem pendidikan seperti ini akan menghasilkan orang-orang yang benar-benar ahli di bidangnya, ‘the right man on the right job’. Sistem pendidikan seperti ini akan secara drastis mengurangi pengangguran dan akan banyak menciptakan lapangan kerja karena setiap orang tahu benar apa yang harus mereka kerjakan.

Jadi kapan kita mulai membenahi Indonesia?



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar