Jumat, 21 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Limbah, Sampah, dan BBM (Bahan Bakar Minyak Mahal)

                Indonesia merupakan negara dengan pulau terbanyak, dan penduduk terbanyak serta terpadat keempat di dunia. Indonesia juga merupakan salah satu negara kepulauan terbesar. Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang masih tergolong negara berkembang, Indonesia memegang peranan penting dalam beberapa hal di dunia, salah satunya kendaraan bermotor dan limbah dunia.
                Beberapa waktu yang lalu, Kota Bekasi dan Bandar Lampung dinobatkan sebagai kota terkotor di Indonesia, menurut Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Belum cukup buruk, kini, WHO (World Health Organization) yang dibawahi oleh UN (United Nations) atau PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) menobatkan Indonesia sebagai negara terkotor ketiga di dunia, setelah India dan Cina. Hal ini ditinjau dari kualitas kebersihan sanitasi di Indonesia yang hanya sekitar 36% masyarakat di Indonesia dari total populasi di Indonesia  (sekitar 250 juta jiwa) yang memiliki kualitas sanitasi yang terbilang bagus, atau hanya kurang dari 80 juta jiwa yang hidup dan tinggal di Indonesia. Bisa dikatakan, hanya sebatas itu rakyat Indonesia yang peduli dengan kebersihan. Hal ini terutama ditinjau dari ibukota negara itu sendiri.
                Belum cukup buruk, Bandung dinobatkan sebagai salah satu kota terpolut di dunia, dinilai dari kualitas udaranya dan kualitas sungai terbesarnya, yaitu Sunagi Citarum. 5 juta orang dari total yang tinggal di Bandung bertempat tinggal di dekat Sungai Citarum, yang membuat Sungai Citarum secara tidak langsung menjadi mata air utama. Sayangnya, karena kurangnya perhatian dari publik mengenai kebersihan diri dan kebersihan negara mereka sendiri, tempat-tempat yang menjadi pusat kehidupan seperti Sungai Citarum ini menjadi rusak dan kotor dan akan butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaikinya.

                1. Limbah

                Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah. Meskipun limbah terbagi atas limbah domestik atau limbah rumah tangga dan limbah industri, secara garis besar, karakteristik limbah adalah:
·        A. Berukuran mikro
·        B. Dinamis
·        C. Berdampak luas (penyebarannya)
·        D. Berdampak jangka panjang (antar generasi)
                Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).
                Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3.
                Sudah banyak limbah di Indonesia yang dibuang sembarangan. Indonesia sendiri rentan akan para penyelundup limbah, yaitu orang-orang yang secara sembarangan membuang limbah di tempat-tempat umum seperti sungai dan yang lainnya. Yang tidak menjadi perhatian pemerintah adalah, terkadang, ada beberapa bahan kimia yang sangat berbahaya ikut terbuang ke alam bebas. Bila hal ini terjadi, bahan kimia tersebut akan tercampur dengan tanah, air atau bahkan udara, dan dapat menyebabkan mutasi genetik, baik mutasi bakteri atau virus yang menyebabkan penyakit atau mutasi gen manusia itu sendiri. Seharusnya, pemerintah lebih mensosialisasikan pembuangan limbah ke tempat yang seharusnya, dengan cara memberikan tempat pembuangan akhir limbah. Industri-industri yang ingin memulai produksinya di Indonesia harus memiliki peralatan pengolahan limbah, baik limbah cair, padat, ataupun gas, yang sesuai standar sehingga ketika pada akhirnya limbah tersebut harus benar-benar dibuang, tidak akan ada efek berbahaya yang mengintai.

                2. Sampah
                Sampah bukan hal yang asing di Indonesia. Sampah, atau yang terkadang sering dikatagorikan dalam limbah bagian padat, merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alamsebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.
                Sampah sendiri secara garis besar terbagi atas sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah, baik yang padat ataupun cair, bisa terurai dengan cepat dan mudah. Salah satu dari contoh sampah organik adalah sampah bekas makanan, sampah sayuran busuk, dan lain-lain. Sampah anorganik adalah sampah yang biasanya terbuat dari bahan-bahan kimia, dan tergolong sulit diuraikan. Contohnya adalah plastik, polyester, dan lain-lain. Sampah-sampah ini adalah sampah-sampah yang sangat berbahaya, dikarenakan sangat merusak lingkungan dan terlihat sangat buruk bila sudah menumpuk dan tidak bisa diurai.
                Di alam bebas, terutama di daerah yang dekat dengan air, sampah anorganik menumpuk di pinggir-pinggir, karena tidak terbawa arus. Hal ini sangat berbahaya dikarenakan binatang-binatang yang kelaparan tertarik akan warna sampah-sampah ini yang cerah dan mengiranya sebagai makanan. Ketika ia mencoba memakan sampah ini, yang terjadi malah sampah ini tersangkut di kerongkongan atau paruh, sehingga mereka tidak bisa makan dan mati. Sampah yang terbawa arus pun pada akhirnya tersangkut dan membuat bendungan sampah dan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir.
                Pemerintah memang sudah menyediakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di darat, tetapi itu belum cukup. Apa yang harus dilakukan dengan sampah-sampah yang menumpuk tersebut? Seharusnya, pemerintah membuat undang-undang akan pengolahan sampah. Sampah-sampah tersebut wajib dikelompokkan berdasarkan jenis materialnya sebelum dibuang, sehingga lebih mudah untuk diproses kembali atau didaur ulang. Hal ini tentu memperkecil jumlah sampah yang beredar di alam bebas, dikarenakan hanya sedikit yang harus dibuang.
                3. BBM
                Sebagai salah satu negara dengan kota paling berpolusi di dunia, kendaraan bermotor memegang peran yang sangat penting. Di Indonesia, kendaraan bermotor beroda dua, atau yang lebih sering dikenal dengan sepeda motor, merupakan pilihan utama. Lebih dari setengah dari kendaraan bermotor yang beredar luas di jalanan-jalanan Indonesia merupakan kendaraan bermotor beroda dua. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, yang tanahnya tidak bisa dibilang rata dan perbatasan antara jalan dan bahu jalan sangatlah sempit. Kendaraan beroda dua dipilih karena bentuk badannya yang ramping dan kecil, sehingga dengan mudah menelusuri jalan-jalan kecil di Indonesia. Sebagian orang juga menggantungkan nafkah hidupnya pada kendaraan beroda dua ini, seperti menjadi tukan ojek dan yang lainnya.
                Sayangnya, tidak selamanya kendaraan beroda dua ini membawa dampak positif. Banyaknya kendaraan beroda dua, ditambah dengan kendaraan bermotor lainnya yang memenuhi jalan-jalan di Indonesia menambah kemacetan hingga berkepanjangan. Tidak jarang, di kota-kota besar, terlihat jalanan yang dipenuhi oleh antrian mobil dan motor yang bertahan hingga berjam-jam. Karena bentuk sepeda motor yang lebih kecil dan ramping, pengendaranya lebih memilih untuk menyalip diantara mobil-mobil, dan tak jarang, hal ini lebih banyak menyebabkan kemacetan bertambah atau timbul adanya kecelakaan.
                Banyaknya kendaraan bermotor ini  juga mengakibatkan hal lain; yaitu tingginya konsumsi BBM atau Bahan Bakar Minyak. Untuk saat ini, konsumsi Bahan Bakar Minyak yang tinggi, terutama Bahan Bakar Minyak yang mendapatkan subsidi dari pemerintah (Premium), tampaknya lebih banyak menimbulkan kerugian terhadap negara. Tingginya konsumsi BBM bersubsidi berefek pada meningkatnya permintaan dari konsumen. BBM, yang berasal dari minyak mentah di dalam bumi, merupakan salah satu Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui. Hal ini menyebabkan bahwa suatu saat nanti, minyak bumi tersebut akan habis. Sekarang ini, kita berada dalam krisis minyak dunia. Sebagian besar minyak yang berada di daerah-daerah Timur Tengah dikuasai oleh negara-negara modern yang memiliki peralatan yang sesuai untuk penggalian minyak. Hal ini menyebabkan negara-negara berkembang yang mengkonsumsi minyak dengan tinggi harus membeli minyak dengan harga yang tinggi. Hal ini berefek pada tingkat ekonomi negara tersebut. Subsidi pemerintah, yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain ditarik untuk membeli minyak sehingga rakyat Indonesia bisa membeli minyak dengan harga yang murah. Bahkan, seringkali, karena pemerintah tidak mampu lagi mensubsidi rakyatnya dengan harga minyak yang mahal dan kebutuhan yang tinggi, hal ini justru menambah utang negara kita terhadap negara lain.
                Terkait dengan penobatan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kota terpolut, penggunaan BBM yang sekarang ini tergolong tidak eco-living atau tidak ramah lingkungan. Meskipun kini mobil-mobil diwajibkan untuk mengikuti pengujian emisi gas buang, tetap saja dengan banyaknya mobil serta kendaraan bermotor lainnya yang beredar, tingkat polusi udara yang disebabkan oleh BBM tetap meningkat.
                Untuk masalah ini, salah satu solusi yang bisa ditawarkan pemerintah adalah memfasilitasi kendaraan umum yang nyaman, dengan rute yang sesuai dengan jalan-jalan yang sering dilalui oleh rakyat Indonesia. Memang, pemerintah sudah memberikan kendaraan umum, namun, kendaraan umum tersebut masih berada di bawah standar kenyamanan karena tenaga yang kurang, sehingga seringkali masih banyak penumpang yang berdesak-desakan di dalamnya, dan tidak mendapat tempat duduk padahal perjalanan yang ditempuh sangat jauh. Kendaraan-kendaraan seperti Metromini dan Kopaja seharusnya bisa diambil alih oleh pemerintah dan dibuat ulang dengan faktor keamanan serta kenyamanan yang lebih baik. Hal ini bisa mengurangi konsumsi BBM oleh pemilik kendaraan pribadi yang membeli BBM lebih banyak dari para pemilik kendaraan umum. Selain itu, pembuatan smart-car yang murah dan bisa terjangkau oleh mayoritas penduduk Indonesia juga diperlukan, karena kebutuhan smart-car akan BBM lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan mayoritas mobil milik penduduk Indonesia lainnya. Dengan pengurangan penggunaan BBM, tentu saja tingkat polusi udara di Indonesia bisa menurun.

Sumber:
www.id.wikipedia.com
www.metro.kompasiana.com
www.google.com
www.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar