Kamis, 27 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky untuk Indonesia

Antara Jakarta dan Singapura, Sebuah Teguran untuk Fasilitas Transportasi di Indonesia

Enam tahun yang lalu, saya dibawa pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya oleh kedua orang tua saya. Destinasinya adalah Singapura. Ketika itu saya sangat antusias. Di mata saya—seorang anak berusia sembilan tahun—negara-negara lain yang bukan Indonesia pastilah begitu indah, megah, dan hebat. Atau setidaknya, pasti jauh lebih hebat dari Indonesia.
Tetapi saya salah. Kesan saya saat itu, Singapura adalah tempat yang membosankan. Saya malah lebih senang memerhatikan percampuran ras dan etnik yang terasa kentara di jalanan-jalanan Singapura. Saya merasa semakin rindu rumah ketika saya diajak kedua orang tua saya untuk mampir ke Bugis Road. Saya tidak tertarik untuk mengunjungi Sentosa Island, pulau wisata Singapura; saya justru terlalu sibuk merasa bangga karena nama Bugis Road tidak kalah terkenal dengan nama jalan yang paling dikenal di Singapura, yaitu Orchard Road.
Namun, sepulangnya saya dari perjalanan itu, tepat ketika saya menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta, saya menyadari ada sesuatu yang tidak sama. Ada sesuatu yang mengganjal di mata saya. Bahkan setelah saya masuk ke dalam mobil yang menjemput saya, saya terus memikirkannya. Semakin jauh mobil melaju, semakin jelas alasan dari kegalauan saya.
Pertama, aspal jalanan tidak semulus jalanan di Singapura.
Kedua, karena begitu umumnya pemandangan dari terminal MRT dan monorail di Singapura, jalanan-jalanan di Jakarta terasa janggal tanpa keberadaan keduanya.
Ketiga, jalanan-jalanan di Jakarta begitu padat dengan kendaraan—entah itu adalah motor, mobil, truk, dan lain-lain. Jalanan tidak selalu macet, tetapi rasanya penuh sekali apabila dibandingkan dengan jalanan di Singapura yang begitu lengang dan teratur. Tidak hanya dipadati oleh kendaraan, saya mulai berpikir bahwa gerombolan pejalan kaki memenuhi jalanan, baik di tepi jalan maupun di tengah-tengah jalan. Lampu merah seolah merupakan sebuah simbol dari formalitas yang terabaikan, karena apapun warna yang menyala, kendaraan tetap bergerak semaunya, pejalan kaki tetap menyeberang sesukanya.
Ini ironis. Untuk ukuran sebuah kota yang bagi saya lebih hebat dari Singapura hampir dalam segala segi, Jakarta belum menjadi tempat yang layak untuk rutinitas warga-warganya yang begitu sibuk. Jakarta ibarat seorang anak kecil yang tidak bisa apa-apa dan akhirnya hanya bisa tertidur di tengah-tengah orang dewasa yang terus menerus berjalan di sekelilingnya.
Mungkin saya tidak bisa melakukan perbandingan secara generalisasi terhadap kondisi Jakarta dan Singapura terutama karena jumlah penduduk Jakarta sebanyak kurang lebih 10 juta jiwa sementara Singapura hanya kurang lebih 6 juta jiwa. Tetapi sebagai ibukota dari salah satu negara paling berpengaruh di Asia Tenggara, saya rasa seharusnya Jakarta paling tidak mampu ‘bertanggung jawab’ menyediakan sarana-sarana publik yang layak untuk para penduduknya.
Lebih jauh lagi, saya baru membahas keadaan Jakarta saja. Ibukota negara, anak emas dari program-program pembangunan dan modernisasi. Lantas, bagaimana dengan 32 provinsi lainnya di Indonesia?
Di samping perlunya kesegeraan peningkatan kualitas fasilitas-fasilitas umum di negara ini, transportasi adalah sesuatu yang bersifat vital. Sangat vital.
Transportasi adalah hasil atau akibat dari kemajuan masyarakat, tapi sebaliknya, transportasi dapat pula mengakibatkan masyarakat menjadi lebih maju. Sejarah menunjukkan bahwa suatu negara tidak akan maju dan kuat bila negara tersebut tidak mencurahkan perhatian yang besar pada perkembangan sistem transportasi di negara tersebut. Dengan demikian, transportasi menjadi salah satu pendukung utama dalam ketahanan nasional sebuah negara.
Dalam zaman modern dan utamanya pada era globalisasi seperti sekarang ini, dimana lalu lintas barang dan manusia semakin meningkat dengan cepat, transportasi merupakan rate of advantage sebuah negara. Bahkan mungkin sekali keuntungan atau surplus suatu negara disebabkan oleh kemampuan negara tersebut mengelola dan mengembangkan sistem transportasinya.
Tetapi informasi mengenai transportasi sangat kurang diketahui masyarakat dibandingkan dengan informasi dalam bidang keuangan, perdagangan, industri dan sebagainya. Penting bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi dan memahami perihal transportasi dalam negeri mereka sendiri.
Selama ini, warga Jakarta hanya bisa memprotes kemacetan yang terjadi nyaris setiap hari di kota mereka. Dengan informasi mengenai transportasi yang memadai, warga dapat memahami bahwa salah satu penyebab kemacetan adalah banyaknya jumlah kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalan raya. Kondisi kemacetan di Jakarta diperparah oleh meledaknya jumlah motor yang bisa dengan mudahnya bergerak dengan leluasa di jalanan.
Ini sangat kontras dengan keadaan di Singapura. Jalanan sepi dari mobil, dan bisa saya katakan saat itu saya hampir tidak melihat satu pun motor di jalanannya. Salah satu alasannya, penggunaan kendaraan pribadi di Singapura dijatah dan dibatasi. Di sisi lain, penggunaan dari kendaraan umum sangat dimaksimalkan dan fasilitasnya berkualitas sehingga para pengguna pun memiliki respek terhadapnya. Dari respek timbullah kesadaran untuk menjaga dan menggunakan sarana yang tersedia dengan tertib dan sesuai aturan.
Ada satu kata yang penting dari paragraf sebelumnya, yaitu motor. Motor merupakan sebuah variabel yang sangat berpengaruh dalam menentukan kemacetan jalan.
Fungsi motor yang sesungguhnya adalah sebagai sebuah alat transportasi jarak pendek yang jarak pemakaiannya berkisar antara 20-40 kilometer per hari. Karena jika lebih dari jarak tersebut maka konsentrasi pengendaranya pun akan menurun. Kemudian, mobilitas motor bersifat unstable dynamic, atau hanya bisa stabil ketika bergerak. Badan pengendara harus selalu berada dalam posisi mengendalikan kestabilannya, sehingga pengendara mudah lelah dan mudah kehilangan kendali. Dengan alasan-alasan ini, motor sangat berbahaya dan rentan kecelakaan.
Apa yang menjadikan motor sebuah masalah?
Dari segi kedisiplinan pengendara, masyarakat Indonesia belum cukup bermoral. Ada dua penyebab. Yang pertama, cara mendapatkan SIM yang begitu mudah, sehingga secara teknis nilai-nilai mengemudi belum menjadi karakter psikologis bagi pengendara. Pengendara pun tidak menyadari bahwa di jalan raya selalu ada risiko untuk dirinya sendiri dan orang lain. Yang kedua, karena kurangnya kesadaran pengendara akan nilai-nilai mengemudi, para pengendara motor cenderung memperlakukan motor seperti sepeda, yang notabene merupakan kendaran yang tidak berlisensi, dan kendaraan berlisensi tidak terikat dengan aturan jalan raya. Karena paradigma yang demikian inilah, pengendara motor banyak melanggar aturan, seperti melawan arus jalan, nyempil diantara kepadatan lalu lintas, dan bergerak seenaknya saja di tengah-tengah jalan sehingga menghambat aliran pergerakan di jalan raya. Di luar negeri, motor diberikan jalurnya sendiri sehingga tidak menghambat arus.
Yang membedakan pengendara motor dan pengendara mobil adalah marketing behavior-nya. Saat ini, harga uang muka untuk pembelian motor jauh lebih murah dari harga pembayaran sebuah sepeda secara tunai. Motor bisa dibeli dengan kredit yang ringan cicilannya. Artinya, mental mayoritas pembeli motor masih berada pada level sepeda. Sedangkan mobil, karena harganya jauh lebih mahal, lebih dihargai oleh pembelinya. Atau dengan kata lain, daya beli sesuai dengan tingkat kedewasaan pembelinya. Pengendara mobil pun lebih menghormati aturan-aturan di jalan raya dibandingkan dengan pengendara motor kebanyakan.
Masalah transportasi di Jakarta tidak terbatas pada urusan motor saja. Tidak optimalnya fungsi dari kendaraan-kendaraan umum yang sudah ada membuat hasil yang diharapkan dari tujuannya semula menjadi tidak efektif. Jalur busway diinvasi oleh kendaraan-kendaraan pribadi. Angkutan kota ngetem sembarangan di tengah jalan. Metromini tidak difasilitasi dengan layak. Dan masih banyak lagi.
Belum lagi mobilitas kendaraan umum di Jakarta yang kurang dapat diandalkan. Keamanan kurang terjamin, kenyamanan tidak diperhatikan. Apalagi masalah ketepatan waktu, sangat diragukan.
Jadi, bukannya tanpa alasan masyarakat Jakarta memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi alih-alih menggunakan kendaraan umum.
Yang kita butuhkan sekarang bukan lebih banyak lagi tuntutan, pertanyaan, dan protes ketidak puasan, yang kita butuhkan sekarang adalah solusi yang sederhana namun tepat sasaran.
Menurut Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia di tahun 2006, Bambang Susanto, berkebalikan dengan keyakinan umum, untuk pusat kota, penyelesaian yang diperlukan adalah mengelola kebutuhan dan bukannya menambah jalan baru. Jalan baru di tengah kota dianggap akan membangkitkan lalu lintas baru yang pada akhirnya justru akan menambah kemacetan. Kemacetan disebabkan oleh kepadatan jalan terhadap luasan dan padatan badan jalan yang terlalu sempit. Sehingga yang semestinya dilakukan adalah lebih banyak perluasan jalan.
Lalu, menanggapi masalah motor, harus ada pembatasan jumlah motor di jalan. Pada setiap daerah tertentu yang tingkat kepadatan motornya terlalu tinggi maka angka pertumbuhan jumlah motor harus ditekan menjadi 0%. Harga uang muka motor juga sebaiknya ditingkatkan, mungkin sampai 30% dari harga keseluruhannya, agar pembeli sudah memiliki kematangan secara psikologis. Sebagai alternatif penggunaan motor, beberapa perusahaan mobil lokal seperti Astra Otoparts telah memproduksi electric hybrid vehicle, yaitu kendaraan beroda 3 atau 4 yang memiliki tubuh ramping seperti motor namun, lebih stabil dan lebih aman. Perlu juga dibuat jalur khusus motor di kota seperti Jakarta yang jumlah motornya sudah terlanjur banyak.
Selanjutnya, fasilitas kendaraan umum perlu mendapat perhatian yang intensif. Dengan jumlah penduduk yang begitu banyak, Jakarta membutuhkan alat transportasi yang mampu membawa massa yang besar sekali angkut, seperti monorail, MRT, atau shuttlebus, dengan mutu, keamanan, dan kenyamanan yang terjamin. Keterjangkauan harus mencakup seluruh titik penting kota dari satu ujung ke ujung yang lain tanpa melupakan faktor efisiensi waktu dan biaya. Kita dapat menjadikan Singapura sebagai panutan dalam hal keefektifan. Di Singapura, dari titik manapun menuju titik terluar di Singapura hanya membutuhkan waktu paling banyak 45 menit menggunakan MRT. Mobilitas MRT juga sangat terpercaya karena terminal MRT yang tersebar di seluruh penjuru daerah dapat ditemukan dengan mudah. Jarak antara satu terminal ke terminal lain berkisar antara 10-15 menit dengan berjalan kaki.
Jakarta adalah sebuah kota yang besar. Sebuah kota yang kaya akan cerita, sebuah kota yang kaya akan kehidupan. Memang butuh waktu untuk memperbaiki dan membentuknya menjadi sesuatu yang luar biasa. Tapi saya mencintai Jakarta dengan segala masalah yang senantiasa membayang-bayanginya. Saya ingat kota ini pernah jadi citra nyata dari impian Soekarno akan prospeknya tentang kota masa depan yang ideal, saya ingat kota ini pernah bangkit dari dasar—dan saya percaya, kota ini tidak hanya bisa tumbuh menjadi lebih hebat dari Singapura saja. Beberapa tahun lagi, ketika generasi ini mulai membuka mata lebar-lebar, Jakarta akan memberikan kejutan yang menyenangkan untuk kita semua.



Sumber:
1. Wawancara dengan Irawan Satjadipura dan Edwin Arfiansyah
2. Artikel majalah Transportasi tahun 1992, oleh Irawan Satjadipura

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar