Sabtu, 22 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

Jumlah Penduduk Menyebabkan Timbulnya Masalah Kemacetan dan Pengangguran di Indonesia

Peta Indonesia

            Apabila Anda melihat lingkungan di sekitar Jakarta, apa yang muncul di benak Anda? Masalah! Jakarta penuh dengan berbagai macam masalah yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Masalah-masalah tersebut antara lain, masalah kemacetan, masalah bahan bakar minyak (BBM), masalah pendidikan, dan sebagainya. Namun, masalah tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, masalah-masalah tersebut masih sering terjadi di daerah-daerah terpencil di seluruh pelosok Indonesia.

            Masalah-masalah yang sering terjadi di Indonesia sebenarnya diakibatkan oleh satu hal, yaitu penduduk. Menurut wikipedia, penduduk bisa didefinisikan menjadi dua pengertian, yaitu orang yang tinggal menetap di suatu daerah atau orang yang secara hukum berhak tinggal di suatu daerah. Dengan kata lain, orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di daerah tersebut. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu demografi.

Penduduk di Jakarta, Indonesia

            Robert Malthus membuat suatu teori bahwa laju pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur dan tidak akan pernah terkejar oleh pertambahan makanan dan pakaian yang hanya bertambah secara deret hitung. Teori tersebut pada dasarnya beranjak dari dua gagasan utama. Yang pertama, manusia selalu memerlukan sandang pangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang kedua, hasrat antara dua jenis kelamin akan selalu ada dan tidak akan berubah sifatnya. Namun, pada akhir abad ke-20, teori Malthus ini mulai dibantah oleh pakar kependudukan dan pakar ekonomi. Alasan teori tersebut mulai ditinggalkan adalah karena beberapa negara telah berhasil mengurangi laju pertumbuhan penduduk, sementara dari sisi produksi, telah berhasil ditingkatkan melalui kemajuan teknolgi.

Robert Malthus

            Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia bisa dibilang sangat pesat. Jumlah penduduk Indonesia yang awalnya sekitar 60.700.000 orang (berdasarkan hasil sensus penduduk pertama pada tahun 1930) bertambah 4 kali lipat dalam waktu 80 tahun, menjadi 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan (berdasarkan hasil sensus penduduk yang diumumkan pada bulan Agustus 2010). Apabila kita melihat perbandingan jumlah penduduk tersebut, sepertinya tidak terlalu banyak. Namun, jumlah penduduk Indonesia pada hari ini sudah bisa dibilang cukup banyak, karena Indonesia termasuk dalam 5 negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-4.

            Perubahan angka pertumbuhan penduduk, khususnya di Indonesia, dapat disebabkan oleh 3 unsur, yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi. Kelahiran merupakan salah satu faktor terbesar di Indonesia yang dapat menimbulkan perubahan dalam angka pertumbuhan penduduk. Sekitar 4.500.000 bayi lahir setiap tahun di Indonesia. Sedangkan, jumlah kematian di Indonesia tidak sebesar jumlah kelahiran di Indonesia, hanya sekitar 427.000 jiwa. Selain kelahiran dan kematian, faktor migrasi juga berperan penting dalam mempengaruhi perubahan angka pertumbuhan penduduk di Indonesia. Dalam beberapa tahun belakangan ini, sekitar 20.000 tenaga kerja asing setiap tahunnya memperoleh izin kerja  di Indonesia, sehingga mereka harus emigrasi ke Indonesia dan terhitung sebagai penduduk Indonesia.

            Bertambahnya angka pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang dapat memicu permasalahan di Indonesia, seperti masalah dalam transportasi (kemacetan, mahalnya harga transportasi umum, keamanan di jalan), masalah dalam ketenagakerjaan (pengangguran, sedikitnya lapangan kerja), masalah dalam perekonomian (kemiskinan), dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut sangat mudah untuk diidentifikasi di Indonesia, tetapi sangat sulit untuk diatasi.

Kemacetan

Kemacetan di daerah perkotaan

            Masalah yang paling sulit diatasi adalah kemacetan. Mengapa saya berpendapat bahwa kemacetan merupakan masalah yang timbul akibat banyaknya jumlah penduduk? Alasannya sangat sederhana. Kemacetan didefinisikan sebagai situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Banyaknya jumlah kendaraan tersebut merupakan akibat dari banyaknya jumlah penduduk yang harus menggunakan jalan untuk menuju suatu tempat, baik itu menuju kantor ataupun sekolah. Kasus seperti ini, dapat dilihat sehari-sehari, terutama di Jakarta, dari pukul 6 sampai pukul 9 pagi dan pukul 5 sore sampai pukul 8 malam WIB.

            Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kemacetan, di antaranya adalah perencanaan alur jalan raya dan tata kota yang kurang baik, traffic management atau manajemen lalu lintas yang kurang baik, dan rusaknya jalan. Ilmu tata kota sangat dibutuhkan untuk membangun suatu jalan. Perencanaan alur jalan raya dan tata kota yang kurang baik tidak dapat memberikan kenyamanan serta keamanan, dari segi transportasi, sehingga dapat menganggu aktifitas lalu lintas kendaraan. Pemerintah harus bisa lebih baik dalam merencanakan alur jalan raya sehingga masyarakat dapat menggunakan dan memanfaatkannya dengan baik.

            Di sisi yang lain, apabila kita mengamati dengan seksama, yang menyebabkan kemacetan terus terjadi, bukanlah karena faktor ketidakpedulian pemerintah terhadap masyarakatnya. Jalan raya di berbagai daerah sudah cukup luas dan sudah difasilitasi dengan cukup baik, misalnya dengan dilumuri aspal agar jalanan tersebut semakin mulus. Namun, jalanan tersebut kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Masyarakat cenderung memilih 'jalan tikus' dengan tujuan agar sampai di tempat lebih cepat. Padahal, kemacetan lebih sering terjadi di 'jalan tikus', yang seharusnya digunakan oleh penduduk yang tinggal di sekitar jalan tersebut. Selain itu, faktor kecerobohan masyarakat juga dapat menimbulkan kemacetan, seperti terjadinya kecelakan, adanya pemakai jalan yang kurang paham mengenai peraturan lalu lintas, banyaknya pedagang kaki lima yang berdagang di pinggiran jalan, dan masih banyak lagi.

            Kemacetan sudah pasti akan menimbulkan dampak negatif, tetapi banyak orang yang sering berpendapat bahwa masih ada dampak positif dari kemacetan. Dampak positif tersebut, antara lain menurunnya angka kecelakaan lalu lintas. Logikanya, apabila arus kendaraan berjalan dengan lambat, maka kejadian kecelakaan cenderung rendah di daerah tersebut. Akan tetapi, hal ini masih harus diteliti. Selain itu, bagi sebagian besar penduduk Jakarta, kemacetan lalu lintas juga dapat dijadikan alasan yang paling masuk akal untuk terlambat masuk kantor, keterlambatan datang untuk menemui keluarga, teman, dan sebagainya. Namun, sebaiknya kemacetan jangan dimanfaatkan sebagai alasan untuk keterlambatan.

            Dampak negatif dari kemacetan sangat mudah untuk kita sebutkan. Dampak-dampak tersebut, antara lain kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah, kerugian ekonomi, karena boros bahan bakar minyak, timbul rasa lelah dan stress, menganggu kelancaran kendaraan darurat, seperti ambulans, pemadam kebakaran, dalam menjalankan tugasnya, dan masih banyak lagi. Namun, ada satu dampak negatif yang tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga dapat merugikan lingkungan, yaitu meningkatnya polusi udara. Meningkatnya polusi udara dapat menurunkan kualitas udara. Meningkatnya kadar zat-zat pencemar utama yang berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor dapat menimbulkan penyakit dan secara tidak sengaja berkontribusi pada terjadinya perubahan cuaca dan pemanasan global.

Polusi akibat kemacetan

            Berbagai upaya untuk mengatasi kemacetan telah dilakukan pemerintah, dari mulai three-in-one, pembangunan jalan layang dan jalan tol, hingga pemberlakuan transportasi umum 'busway'. Namun, tidak satupun cara dapat mengatasi kemacetan. Pemberlakuan three-in-one sama sekali tidak efektif, karena pemilik mobil yang sedang melewati jalur tersebut kadang tidak memperbolehkan orang yang tidak dikenal untuk menumpang di mobilnya. Akibatnya, jalur-jalur three-in-one menjadi sepi, dan penduduk lebih sering menggunakan jalan-jalan yang bebas dari joki three-in-one. Pemberlakuan busway di beberapa daerah di Jakarta juga kurang efektif. Hal tersebut dikarenakan adanya jalur khusus untuk busway yang menyebabkan jalanan menjadi sempit, bagi pengguna kendaraan pribadi. Padahal, jumlah busway tidak terlalu banyak. Jalan layang dan jalan tol sebenarnya sudah dimanfaatkan masyarakat dengan baik, tetapi masih sering terjadi kemacetan, terutama di jalan tol.

Joki three-in-one
Jalan tol di Jakarta
Busway 'Transjakarta'

            Menurut saya, satu-satunya solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemacetan adalah timbulnya kerja sama antara penduduk dengan pemerintah. Selama ini, pemerintah lebih sering mengatasi kemacetan berdasarkan persepsi dan pendapat mereka. Sedangkan pendapat para pengguna jalan, yang selalu mengamati keadaan jalan yang digunakannya, kurang didengar. Dengan adanya pendapat dan persepsi dari 2 pihak yang berbeda, pemerintah dapat menemukan solusi yang tepat untuk memperbaiki masalah kemacetan. Hasil kerja sama antara 2 pihak tersebut, dapat dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensif yang biasanya meliputi 3 langkah, yaitu peningkatan kapasitas, keberpihakan kepada angkutan umum, dan pembatasan kendaraan pribadi.

            Salah satu langkah yang dapat diambil agar kemacetan dapat teratasi adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan atau prasarana. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan memperlebar jalan (dengan menambah lajur lalu lintas selama hal itu memungkinkan), merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah, mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu (biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan), meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, dan mengembangkan intelligent transport system.

            Langkah berikutnya yaitu keberpihakan kepada angkutan umum. Langkah ini dapat dilakukan untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan. Langkah tersebut, antara lain mengembangkan jaringan pelayanan angkutan umum, mengembangkan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di Perancis, Subway di Amerika, atau MRT di Singapura, pemberian subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Batam atau Jogjakarta, ataupun melalui keringanan pajak kendaraan bermotor.

MRT di Singapura

            Langkah yang terakhir adalah dengan membatasi kendaraan pribadi. Langkah ini biasanya tidak populer, tetapi apabila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrim. Langkah tersebut, antara lain membatasi kepemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatkan biaya kepemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, dan bea masuk yang tinggi dan membatasi penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertenu, seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pircing (ERP). Bentuk lain juga dapat dilakukan dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarif parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya.

Pengangguran

Ilustrasi pengangguran

            Masalah pengangguran dapat terjadi akibat ketidakseimbangan jumlah penduduk yang ingin mencari pekerjaan dengan kesempatan kerja yang tersedia. Sebenarnya, jumlah penduduk yang banyak disertai kemampuan dan usaha dapat meningkatkan produktivitas dan membuka lapangan kerja baru. Akan tetapi, apabila jumlah penduduk yang banyak tidak disertai dengan kemampuan dan usaha dapat menghambat kesempatan kerja dan bisa berakibat menimbulkan pengangguran. Hal seperti inilah yang sering terjadi di Indonesia. Selain itu, jumlah penduduk yang banyak dan tidak disertai dengan lapangan kerja yang memadai akan menimbulkan banyak penduduk yang tidak tertampung dalam lapangan kerja, sehingga dapat menimbulkan masalah pengangguran.

            Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang, sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Di Indonesia, pengangguran merupakan masalah besar dalam perekonomian negara. Data pengangguran di Indonesia saat ini sungguh meprihatinkan. Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 8% dari jumlah angkatan kerja. Sekitar 12,8 juta jiwa masyarakat Indonesia menganggur, baik pengangguran terbuka, maupun pengangguran setengah menganggur.

            Ada begitu banyak faktor yang menjadi penyebab sulitnya untuk menurunkan data pengangguran di Indonesia. Salah satunya, yaitu kekurangseriusan pemerintah dalam mengurangi jumlah penganggur, paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa menjadi pegawai negeri lebih prestisse dan lebih menjamin hidup, serta lemahnya mental berusaha sebagai fundamen kokoh memperbaiki kehidupan ekonominya. Namun, masyarakat tidak bisa serta merta hanya mengandalkan peran pemerintah dalam menggusur angka pengangguran tanpa mereka terlibat aktif dalam upaya membebaskan dirinya sendiri paling tidak untuk menganggur.

            Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran, seperti pendidikan gratis bagi yang kurang mampu. Salah satu penyebab pengangguran adalah rendahnya tingkat pendidikan seseorang, sehingga ia tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan susah untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, pendidikan yang tinggi belum cukup untuk memastikan agar seseorang bisa mendapatkan pekerjaan. Pemerintah harus berupaya untuk mendirikan tempat-tempat keterampilan, seperti Balai Latihan Kerja (BLK). Hal tersebut juga dapat mengatasi solusi bagi masyarakat yang tidak bisa mendapatkan atau tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Mereka dapat dilatih untuk bekerja dengan modal yang sudah mereka miliki.

Pendidikan yang tinggi dapat merubah keadaan ekonomi seseorang 
Kegiatan yang dilakukan di salah satu Balai Latihan Kerja di Indonesia

1 komentar:

  1. di singapura, tdk macet, tetapi di MRT penuh sesak juga, pas saya ke sana

    BalasHapus