Rabu, 12 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

Kasih Sayang Demi Pendidikan yang Lebih Baik



MASALAH

Berbagai pendapat muncul ketika mendiskusikan pendidikan di Indonesia. Ada yang berkata bahwa pendidikan di negeri ini sangatlah baik dengan ilmu pendidikan dasarnya yang sudah rumit, ada juga yang berargumen bahwa pendidikan tesebut tidak berhasil melahirkan pemuda yang berpotensi maksimal. Pada kesempatan kali ini, saya akan lebih fokus terhadap masalah-masalah pendidikan di Indonesia, dan kemudian memaparkan solusi dari masalah-masalah tersebut.

Pendidikan di mulai sejak dini, dan tingkat pendidikan yang pertama kali mengajarkan pendidikan akademis merupakan Kelompok Bermain (KB) atau disebut juga playgroup. Suatu hari, ketika saya sedang berlibur dengan ayah saya di kota Seoul, Korea Selatan. Akhir-akhir ini, Korea memang sedang mengalami kemajuan pesat. Di sana, kami melihat sekumpulan murid-murid balita dalam pakaian tradisional Korea yang sedang melaksanakan studi lapangan ke salah satu obyek wisata setempat bersama guru-guru mereka. Kami berdua memerhatikan sekumpulan balita-balita berkulit putih tersebut dengan saksama. Ayah saya pun berkata, “Kamu tau nggak kenapa orang Korea pintar?” Saya hanya dapat menggelengkan kepala. Beliau pun menjawab, “Karena guru-gurunya sayang sama murid mereka. Tuh, sayang, kan?” Katanya sembari menunjuk salah satu guru yang sedang berinteraksi dengan muridnya. “Kalo muridnya disayang, muridnya senang. Kalo muridnya senang, muridnya lebih mudah menangkap pelajaran dan lebih semangat. Jadi, mereka pintar.” Akhirnya kami pun terus berbincang, dan sampailah kami kepada saat yang menyimpulkan bahwa tak terhitung jumlah guru di Indonesia yang mengajar tanpa kasih sayang.
 
Pelajar-pelajar di Korea Selatan yang saya lihat bersama ayah saya

Menurut saya, sekolah yang lebih menentukan kemajuan pendidikan suatu negara merupakan sekolah negerinya dan bukan sekolah swasta. Pendapat saya beralasan bahwa sekolah swasta diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai cukup dana, sementara sekolah negeri seharusnya merupakan sekolah yang dapat diisi oleh warga negara Indonesia manapun – dari yang paling miskin, sampai yang paling kaya. Dewasa ini, tak terhitung jumlah sekolah di Indonesia yang kekurangan dana, seperti di sekolah-sekolah negeri dalam pelosok nusantara. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya apresiasi terhadap tim pengajar, dan juga kurangnya kesadaran pemerintah dan pihak-pihak lain dalam pentingnya pendidikan. Dengan dana yang kurang, fasilitas menjadi lebih terbatas, dan para pegawai yang termasuk juga tim pengajar hanya dapat memperoleh gaji yang kecil. Dengan gaji yang tidak maksimal, pegawai-pegawai tersebut sukar untuk bekerja dengan potensi terbaik mereka. Dibutuhkan etos kerja yang tinggi, namun gaji merupakan salah satu faktor yang paling memengaruhi etos kerja tersebut, terlebih lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa yang sulit ini.
 
Pada kesempatan lain, saya bersama ibu saya mengunjungi teman ayah yang tinggal di kota Sydney, Australia. Negeri kanguru itu terkenal dengan sejarahnya, yakni merupakan lahan di mana Inggris membuang kriminal-kriminalnya. Padahal sebenarnya, kriminal yang dimaksud juga bukan semuanya melakukan aksi kriminalitas tingkat tinggi. Bisa saja mereka hanya mencuri satu set cangkir teh, dan kemudian mereka diasingkan ke Australia. Namun yang patut kita kagumi adalah, bagaiman sebuah negara yang warganya berasal dari bibit kriminal dapat berhasil menjadi salah satu negara termaju di dunia?

Ketika sedang membahas pendidikan, kenalan keluarga yang telah berpengalaman di Australia tersebut menjelaskan bahwa "nggak seperti di Indonesia, kalo di sini guru-gurunya lebih mementingkan murid-muridnya untuk belajar tata krama dan etos kerja, serta semangat belajar." Teori ini beralasan bahwa jika pemerintah memprioritaskan pendidikan akademik sejak dini, ketika warganya sudah dewasa kelak, akan sulit untuk mengajarkan tata krama dan etos kerja. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, mereka berpendapat bahwa mengajarkan pelajaran-pelajaran sekolah yang rumit akan jauh lebih mudah daripada menanamkan etika serta semangat ketika sudah terlambat. Dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung teman ayah saya menyatakan bahwa di Indonesia, pemerintah meremehkan pendidikan dalam beretika dan memiliki etos kerja, padahal keduanya sangatlah penting.

Secara umum, telah diketahui bahwa semakin hari, pendidikan dasar di Indonesia semakin rumit. Apa yang sekarang saya pelajari di sekolah terdengar rumit bagi orangtua saya. Mereka tak merasa telah mempelajari materi-materi pelajaran saya ketika mereka SMA dahulu. Dan bahkan dalam jangka satu atau dua tahun, materi pendidikan di Indonesia sudah semakin rumit. Pernah suatu ketika, saya tak sengaja melihat papan tulis di kelas SMP. Tercenggang, saya membaca materi fisika yang baru saya pelajari ketika kelas 1 SMA di papan putih tersebut.

Pendidikan dasar di Indonesia juga dikenal dengan tingkatannya yang tinggi jika dibandingkan dengan pendidikan dasar di mayoritas negara asing. Terdapat salah satu kisah teman saya ketika melaksanakan student exchange; ketika kelas 2 SMP, ia bergabung dengan murid-murid kelas 9 SMP di Australia. Pada saat itu, para pelajar asing ini diperintahkan untuk mengerjakan soal matematika yang mereka anggap sulit. Namun, pendapat teman saya berkata lain. Soal tersebut merupakan materi dasar kelas 2 SMP kami yang sangatlah mudah. Maka terkejutlah sekumpulan murid-murid Australia tersebut ketika mereka mengamati teman saya dari Indonesia yang mengerjakan soal tersebut tanpa beban. 
 
Beranjak ke tingkat pendidikan SMA, salah satu pelajaran yang menggunakan hitungan misalnya adalah fisika. Pernah guru les saya berkata, bahwa di kebanyakan negara maju – seperti Amerika Serikat – yang dipelajari dalam pelajaran fisika SMA adalah teorinya. Yang dimaksud dengan teori misalnya adalah mayoritas pertanyaan dalam ujiannya yang seperti, “Mengapa jika sedang berada di dalam mobil, pernah ada saat ketika kamu melihat mobil lain seakan-akan mundur, padahal mobil tersebut sedang berjalan?” dan bukanlah pertanyaan mengenai hitungan dan rumus. Pertanyaan yang berkaitan dengan rumus dapat berupa perintah untuk menjelaskan alasan dari dibentuknya rumus-rumus yang sudah ada. Tentu saja di Indonesia terdapat juga pertanyaan logika seperti itu, namun jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan pertanyaan yang dijawab menggunakan rumus dan hitungan. Padahal, menurut saya pertanyaan teori seperti itu lebih melatih logika para pelajar dibandingkan dengan menghitung dan menggunakan rumus.

Dengan pendidikan di negaranya, Amerika Serikat memiliki lebih banyak warga negara yang mencapai kesuksesan lebih tinggi daripada warga negara Indonesia, maupun jika dilihat sekilas maupun secara teliti. Prinsip pendidikan seperti di negara tersebut nampaknya adalah mengajarkan murid-muridnya ilmu yang hanya dibutuhkan di masa depan mereka. Sampai tingkat SMP, mereka diajarkan ilmu sederhana yang cukup untuk memperkenalkan mereka terhadap cabang-cabang pendidikan. Ketika SMA, mereka diharapkan sudah dapat memilih bidang apa yang akan mereka tuju sebagai ilmu kuliah sekaligus profesi, sehingga mereka diperbolehkan memilih pelajaran-pelajaran yang akan mereka pelajari di jenjang pendidikan ini dengan tingkat yang diperlukan. Untuk mempelajari materi-materi tingkat tinggi, dapat diperdalam ketika kuliah dalam bidang mereka masing-masing.

Menurut saya, hal di atas merupakan salah satu faktor yang membawa Indonesia memenangi berbagai olimpiade internasional tingkat SD, SMP, dan SMA. Di dua belas tahun pendidikan tesebut, pendidikan di negeri ini jauh lebih rumit dari pendidikan di mayoritas negara asing.

Namun jika dilihat sekilas, pemuda Indonesia tidak memenuhi dunia pekerjaan internasional dengan kesuksesannya. Tentu saja ada yang membanggakan, dan jika dihitung dengan saksama hasilnya pun cukup banyak. Tetapi tetap saja, kesuksesan pemuda-pemuda Indonesia belum terlalu terdengar dan diketahui oleh dunia internasional. Pernyataan ini mengkonfirmasi bahwa pendidikan yang rumit pada pendidikan dasar bukanlah solusi yang ampuh untuk membentuk pemuda-pemuda bangsa yang sukses di kemudian hari.
 
Jujur, sebagai pelajar di Indonesia, saya merasakan beratnya mempelajari materi-materi yang begitu rumit dan rinci. Saya juga sering mendengar berbagai macam keluhan dari teman-teman yang senasib dengan saya. Di negara asing, seperti Amerika Serikat, murid-murid akan dibiarkan membaca tabel rumus dan hafalan lainnya ketika melaksanakan ulangan. Mereka juga diberi kebebasan untuk menghitung dengan kalkulator pada kebanyakan materi ketika ujian, yang berkebalikan dengan di Indonesia, yakni lebih sering melarang murid-muridnya menggunakan kalkulator ketika ujian daripada membiarkan.

Menghitung tanpa kalkulator memang berguna. Jika sudah terbiasa, menghitung akan lebih cepat, dan akan jauh lebih sulit untuk ditipu dalam berbagai transaksi. Namun apakah kelebihan ini patut diprioritaskan? Karena jika hal ini terlalu berat untuk sebagian murid sehingga mereka malas belajar dan kesulitan dengan hitungannya, padahal materi yang dibahas bukan sekedar mengenai hitungannya, kejadian ini dapat berakibat fatal. Murid-murid tersebut bisa-bisa tidak mengerti materinya sama sekali, hanya karena angka-angkanya yang terlalu sulit.

Kemudian ada pula masalah yang dijumpai banyak pelajar SMA di Indonesia; penjurusan. Bersekolah di lembaga pendidikan khas Indonesia, kami diberikan dua pilihan antara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Nampaknya, hal ini bertujuan agar siswa lebih berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaran yang akan digunakannya saat kuliah nanti. Namun menurut saya, penjurusan ini kurang rinci. Andai kata saya ingin memasuki fakultas ekonomi di masa yang akan datang, bahkan jika saya memasuki IPS, apakah saya perlu mempelajari ilmu geografi yang sangat rinci? Memang, saya mungkin perlu mempelajari ilmu geografi dasar. Tetapi seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, ilmu pada pendidikan dasar di Indonesia sangatlah rinci dan mendalam, sehingga patut dipertanyakan, apakah semua ini akan sepenuhnya berguna di masa depan?

Saya juga teringat pada suatu ketika saya sedang belajar di sekolah, salah satu guru saya menceritakan mengenai perkembangan pendidikan di Jepang. Di negeri sakura, peralatan percobaan terbaik yang dimiliki negara diserahkan kepada lembaga pendidikan, sehingga generasi pemuda Jepang dapat mempelajari tingkat tertinggi dari suatu cabang ilmu pengetahuan, serta memajukan pendidikan di negaranya, bahkan sampai pada tingkat dunia. Padahal, peralatan percobaan terbaik di Indonesia hanya akan diberikan kepada badan-badan penelitian pemerintah. Masalah lain dalam pendidikan di Indonesia adalah, pemerintah kurang mempercayai dan mengapresiasi pelajar nusantara dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.


Pelajar Jepang yang sedang bereksperimen
(dari Keio University Graduate School of Science and Technology)

 
 
SOLUSI

Kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Jika sejak kecil pelajar-pelajar di Indonesia sudah belajar dengan penuh kasih sayang, maka sejak kecil pula mereka semangat belajar, dan diarahkan ke pendidikan yang baik. Untuk memudahkan guru agar dapat menyayangi murid-muridnya dengan penuh keikhlasan, maka diperlukan gaji yang cukup. Dan akhirnya, gaji yang cukup mengarahkan ke masalah yang tak terdengar asing di tanah air; dana yang tidak seluruhnya dipergunakan untuk tujuan yang seharusnya.


Kasih sayang guru terhadap murid


Dana pemerintah Indonesia – bagi mereka yang terlalu sering mendengarkan berita buruk di media massa, cenderung KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) terbayang di kepala. Kemungkinannya ada dua; pertama, jika kepesimisan sebagian pihak benar, maka dana pendidikan yang dipegang pemerintah Indonesia tidak sampai ke sekolah-sekolah dan instansi pendidikan yang seharusnya menerima uang tersebut. Kemungkinan kedua, dengan persebaran dana yang bersih, pemerintah memang tak sanggup membiayai pendidikan negeri di nusantara. 


Sekolah di Indonesia dengan atap yang hampir hancur
Salah satu penyebabnya adalah kekurangan dana


Jika yang sebenarnya terjadi adalah kemungkinan pertama, pemerintah patut sadar untuk lebih mempedulikan pendidikan di Indonesia dan mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Selain dengan memberikan dana yang cukup untuk pendidikan di tanah air, pemerintah juga dapat berkontribusi dengan mempercayai pelajar-pelajar Indonesia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Misalnya, pemerintah dapat mengajak para pelajar untuk berpartisipasi dalam penelitian-penelitian bersama lembaga penelitian negara.

Pelajaran di pendidikan dasar Indonesia sudah terkenal rumit. Dikenal juga sebuah pendapat di negeri ini yang menyatakan bahwa Bimbingan Konseling lebih dibutuhkan ketika siswa terlibat dalam masalah. Padahal, untuk mempelajari pendidikan akademik, siswa membutuhkan semangat belajar. Untuk membantu siswa memiliki semangat tersebut, dibutuhkan pihak yang patut menyalurkannya kepada para pelajar. Kemudian ada juga etika, yang sangat dibutuhkan ketika siswa mulai berkarir di masa depan. Maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah Indonesia juga patut memprioritaskan pendidikan dalam tata krama dan etos kerja, agar di kemudian hari ketika mereka diajarkan pendidikan akademik, mereka sudah memiliki semangat dan etika yang cukup untuk belajar.
 
Indonesia memiliki kurikulum pelajaran dengan tingkatan yang cukup tinggi. Padahal, tidak semua dari ilmu tersebut akan digunakan para siswa di masa depan. Daripada memperumit materi yang tidak terlalu dibutuhkan siswa, perlu diadakan sistem di mana siswa dapat mempelajari apa yang akan diperlukannya di masa depan, sesuai dengan cita-citanya. Tentu saja, dalam sistem ini, pemilihan siswa atas pelajaran-pelajarannya tetap di bawah kontrol guru dan pihak lainnya yang berwajib. Dengan demikian, para pelajar sebisa mungkin hanya mempelajari ilmu yang akan berguna bagi mereka di masa depan. Solusi ini nampaknya lebih berhasil untuk membawa pemuda negeri menuju kesuksesan, dibandingkan dengan mempelajari seluruh ilmu dalam tingkat yang lumayan tinggi sebelum menginjak dunia perkuliahan.
 
Sekian solusi saya dari Labschool untuk Indonesia. Semoga karya ini dapat membantu Indonesia memajukan pendidikannya. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar