Kamis, 20 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky untuk Indonesia

Alternatif Untuk Tawuran


Permasalahan:

Usia remaja mungkin bisa dibilang sebagai usia dimana kita amat penasaran dengan sesuatu yang baru, amat labil dan mudah dipengaruhi. Masa remaja juga adalah masa dimana kita mencari tahu “siapa kita sebenarnya?” atau jati diri. Sebagai seorang remaja, saya juga bisa dibilang merasakan betapa mudahnya emosi itu bergejolak saat di masa tersebut. Masa remaja juga masa dimana kita mudah mengimitasi sebuah perbuatan, berbagai pengaruh darimana saja bisa dengan mudah masuk ke kepala kita dan menjadi sebuah kebiasaan baik maupun buruk. Saat menjadi anak muda bisa dibilang itulah masa dimana kita kelebihan energi dan masih amat sehat, serta masa dimana kita berlomba-lomba menunjukan kelebihan dalam berbagai bidang entah itu olahraga, cara berpakaian, “keren-kerenan”, musik, mencari keeksisan, pelajaran, ataupun berkelahi dll.

Karena masa remaja adalah masa yang bisa dibilang labil dan penasaran akan sesuatu, maka remaja-remaja khususnya di Indonesia mencari suatu budaya dan mencoba mengikutinya apalagi jika budaya itu sedang nge-trend.  Karena masa remaja juga masa dimana kita memiliki kelebihan energi dan berusaha mencari tahu siapa yang terbaik, itulah yang menjadi  pertanyaan - pertanyaan antara lain, kemanakah kelebihan energi itu kita alihkan? Bidang apa yang dipilih untuk berkompetisi? Budaya apakah yang akan kita resapi dan ikuti?, sayang sekali bahwa kenyataannya anak-anak di Indonesia berusaha mencari keeksisan atau bahasa mudahnya “mencoba gaul” dengan cara-cara negatif seperti mengikuti budaya merokok, minum-minuman keras, obat-obatan terlarang.

 Mereka malah mencari keeksisan dengan mencoba menjadi preman atau lebih tepatnya berandalan. Karena mencoba mengubah diri menjadi berandalan, tentu saja perilakunya tak jauh-jauh dari kekerasan, sudah tentu mereka mulai berkelahi dan yang menjadi masalah besar di Indonesia adalah tawuran antar pelajar. Pelajar-pelajar karena memiliki “darah panas”, mudah tertantang dan juga selalu penasaran akan siapa yang terbaik atau dalam konteks ini terkuat. Sangat mirisnya di Indonesia ini, kesalahan pengalihan semangat-semangat dan energi para pemuda ini malah menjadi masalah besar di Indonesia. Indonesia yang mengaku bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika”  atau berbeda-beda tapi tetap satu ini  malah  saling bertarung dan melukai bahkan sampai tak sedikit ada yang tewas akibat perbuatan konyol ini.

Yang miris dari hal ini juga adalah bahwa bukan hanya pelajar yang sering melakukan tawuran, bahkan sampai orang dewasa pun ada juga yang melakukan tawuran. Jika kita lihat orang dewasanya saja konyol begini, bagaimana bisa menjadi contoh baik bagi generasi muda bangsa ini. Bagaimana bisa kekerasan menjadi pilihan utama penyelesaian sebuah konflik? Bahkan hanya untuk masalah sepele yang tidak seharusnya dipermasalahkan dan menunjukan siapa yang terbaik. Hanya karena wajah seseorang dianggap tidak mengenakkan, bisa berbuntut menjadi masalah antar individu dan lama-lama menyebar menjadi masalah kelompok, lalu terjadilah bentrok dan tawuran pun dimulai.
hajar sana-sini

Tawuran menjadi berita yang sering muncul. Tawuran antarmahasiswa/pelajar atau tawuran antarkampung sering diekspose. Mahasiswa yang dikatakan makhluk intelek pun masih saja menggunakan jalan kekerasan ini sebagai solusi pertamanya. Sebuah pandangan dari Ilmu Sosiologi mengatakan bahwa tawuran kerap terjadi antarkelompok sosial dalam masyarakat. Biasanya pemicunya dari gesekan-gesekan antarindividu yang berkembang menjadi konflik kelompok. Karena adanya rasa saling memiliki dan rasa kesadaran sebagai bagian dari kelompoknya maka individu-individu yang tergabung dalam kelompok tersebut rela mengorbankan diri demi nama baik kelompoknya. Lihatlah bagaimana puluhan remaja rela berdarah-darah demi menjaga nama baik kampungnya. Atau beberapa mahasiswa rela terkena parang demi nama baik fakultasnya. Bukankah ini termasuk dalam teori ini.

Benar-benar edan orang-orang  zaman sekarang, membesar-besarkan masalah dan menggunakan kekerasan sebagai penyelesaian. Yang paling membingungkan adalah tawuran antar pelajar pun memakai senjata-senjata seperti batu,kayu, bambu atau bahkan menggunakan senjata tajam seperti pedang,celurit,golok, dan gear yang diikatkan tali. Mungkin ada yang menganggap tawuran itu hanya “have fun” tetapi bagaimana bisa tawuran hanya untuk bersenang-senang memakai senjata tajam, senjata tajam yang bisa melukai orang dengan mudah.

 Melukai parah seseorang dengan senjata tajam itukah sikap seorang pelajar? Rasanya  lebih pantas disebut sikap seorang penjahat. Herannya banyak pelajar-pelajar yang sudah mengalami luka parah akibat terkena senjata saat tawuran, tetapi mereka tidak jera dan tetap saja mengikuti tawuran. Apakah mereka tidak menyadari bahwa senjata tajam itu dapat membunuh seseorang? Mungkin mereka menganggap enteng tawuran dengan senjata, tetapi bagaimana jika mereka sedang tidak beruntung dan menjadi orang yang harus kehilangan nyawanya? Banyak sekali kasus dimana pelajar-pelajar terbunuh dalam tawuran, dan jika melihat kutipan dari berita dibawah ini maka bisa dilihat betapa mirisnya Indonesia ini.

Jakarta (ANTARA News) - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran antarpelajar pada semester pertama tahun 2012 meningkat dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu.
Saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Senin, Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus.
Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian.

Betapa besarnya jumlah tawuran antarpelajar tingkat SMP dan SMA dalam satu semester ini benar-benar membuat kita geleng-geleng kepala, apalagi ini hanya jumlah yang tercatat di Komnas Anak. Jumlah yang sebetulnya mungkin saja lebih besar dari jumlah yang tercatat di Komnas Anak. Tercatat  di 12 kasus tawuran menyebabkan anak kehilangan nyawa , bayangkan tawuran menyebabkan nyawa harus hilang sia-sia akibat hal yang tak seharunys dilakukan. Penggunaan senjata tajam secara sembarangan ini harus diakui salah satu faktor besarnya angka kematian akibat tawuran.

Jika hanya untuk menunjukkan siapa yang terkuat bukankah tak logis jika mereka menggunakan senjata?  Apa yang bisa dibanggakan jika mereka menggunakan senjata?  Kalau memakai senjata semua orang pun bisa mengambil senjata dan bertarung ramai-ramai seperti yang dilakukan para pelajar saat tawuran. Mungkin bisa dibilang inti tawuran zaman sekarang hanya untuk unjuk besar-besaran nyali dan sangat tidak sesuai jika seseorang terluka parah atau bahkan kehilangan nyawanya karena hal ini.
lempar-lemparan

Kembali kepada garis besar tawuran, jika kita berkaca dari kasus-kasus tawuran di negeri ini, sepertinya kita harus memikirkan kembali, vaksin apa yang cocok untuk mengatasi budaya kekerasan di negara kita ini. Ketika tindakan represif aparat penegak hukum, justru menjadikan budaya kekerasan semakin tidak terkontrol, tentu harus kita temukan pendekatan lain yang lebih tepat dalam mengatasi persoalan ini. Saya sepakat dengan bahasa Goenawan Muhammad- yang sering menyebut bangsa kita ini bangsa yang sensitif. Atau mungkin lebih mendekati bangsa yang labil. Lebih dari 60 tahun merdeka ternyata tak membuat jiwa-jiwa nasionalisme warga negaranya semakin bertambah, yang muncul justru Cauvinisme yang semakin kental. Pada saat terjadi persoalan, bukan berfikir jauh soal bangsa dan negara, tapi kelompok dan individu. Sehingga ketika terjadi persoalan, sangat gampang untuk diprovokasi pihak-pihak lain yang tak bertanggung jawab.

Keroyokan atau tawuran dipicu juga dari sifat agresif,mungkin salah satu dari faktor “darah panas” para anak muda. Jadi jika timbul masalah maka solusinya adalah membalas dan meminta bantuan teman-temannya. Tawuran juga disebabkan karena persepsi bahwa tawuran itu permainan saja. Jadi mereka tidak menganggap tawuran sebagai masalah yang harus didamaikan. Bagi mereka tawuran yah tawuran, kalau diserang ya balas menyerang. Itu sebabnya beberapa tawuran terus berlangsung bertahun-tahun berulang-ulang turun temurun ke generasi berikutnya. Kalau sudah begini, mindset bahwa tawuran hanyalah permainan saja harus dihapuskan. Nah itu yang paling susah. Pokoknya tindakan tawuran itu tindakan serius dan ada konsekuensinya yang berat.


Dalam hal ini, pihak yang sangat dirugikan adalah masyarakat yang tidak tahu apa-apa. Bisa kita liat, betapa banyak kerugian materi yang disebabkan oleh sikap remaja Indonesia yang tidak terpuji ini. Dapat disimpulkan, bagi sebagian kelompok pemuda atau komunitas, jalan keluar dari masalah yang terjadi antara kelompok satu dengan yang lainnya adalah tawuran. Tentunya hal ini sangat merugikan orang banyak dan juga bisa menyebabkan kerugian seperti infrastruktur yang rusak bahkan ada yang kehilangan nyawa.

Konon katanya tawuran ini disebabkan dendam turun temurun yang berasal dari nenek moyangnya murid sekolah atau universitas dari zaman dulunya, yang akhirnya diturunkan kepada junior-junior atau adik-adik kelasnya. Ya, budaya turun temurun ini tidak memandang sebab, hal sepele bisa jadi pemicu atau bahkan tidak ada pemicu pun bisa menyebabkan terjadinya tawuran.

SOLUSI


Solusi-solusi yang terpikirkan oleh saya saat melihat dari berbagai sudut tentang tawuran adalah:

1. Memberikan sanksi yang benar-benar keras dan tegas kepada murid-murid yang tawuran. Saat ini banyak sekolah yang guru-gurunya masih lembek dan menganggap wajar tawuran. Seharusnya mereka memberikan sanksi tegas mau sebanyak apapun murid yang tawuran harus dihukum, pihak sekolah juga harus memantau dengan berbagai cara. Polisi juga harus berpartisipasi dalam hal ini.

2. Membatasi perjualbelian senjata khususnya senjata tajam karena murid-murid zaman sekarang sudah memakai berbagai senjata. Razia terhadap pelajar juga harus rutin dilakukan agar mereka jera membawa senjata juga, warga-warga sekitar sekolah juga harus tanggap jika ada senjata tergeletak harus dibuang agar tidak dipakai tawuran. Pemakaian senjata harus dihilangkan terlebih dahulu untuk mengurangi luka dan korban jiwa, lagipula pelajar-pelajar yang tawuran harusnya berpikir bahwa memakai senjata hanya seperti pengecut, untuk bertarung secara jantan tidak diperlukan senjata.
razia senjata

3. Jika ingin menyelesaikan masalah, gunakan cara yang layak. Selesaikan masalah individu dengan individu. Jika masalah kelompok diskusikan dengan bertemu dengan jumlah yang sedikit atau malah cukup seorang perwakilan.

4. Ini  adalah cara paling tepat menurut saya karena tawuran sudah menjadi sebuah budaya yang amat sulit dihilangkan. Harus ada sebuah turnamen atau sarana berkelahi resmi untuk menyalurkan darah panas para anak muda ini. Yang dimaksud turnamen berkelahi itu bukan turnamen beladiri, tetapi benar-benar turnamen berkelahi bebas yang difokuskan pada anak sekolah. Harus ada juga sarana berkelahi dimana jika konflik sudah tidak bisa diredam lagi bisa disalurkan di sarana itu dan bertarung layaknya pria satu lawan satu.
contoh sarana

Jika ingin menyelesaikan masalah kelompok juga bisa dengan bertarung di turnamen atau sarana itu dengan bermain skor, setiap kelompok mengeluarkan perwakilan dengan jumlah tertentu misalnya dan bertarung satu lawan satu dengan lawannya di kelompok lain dan menghitung banyaknya kemenangan, harus disertai wasit juga agar bisa ada yang menghentikan juga sudah kelewatan batas. Dengan cara ini korban jiwa pun bisa dihapus serta mereka tidak menggunakan senjata dan penyelesaian konflik bisa disalurkan dengan cara yang lebih beradab karena cara ini tidak ada bedanya dengan turnamen tinju dan beladiri lainnya.



referensi:

http://afdhalrizqi.wordpress.com/2011/04/21/budaya-tawuran-di-indonesia/
http://www.antaranews.com/berita/322987/tawuran-pelajar-meningkat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar