Sabtu, 01 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Di Indonesia, negara yang sedang berkembang saat ini, terdapat banyak sekali permasalahan yang harus diselesaikan baik oleh kita, aparat hukum, ataupun oleh penguasa di negeri ini. Masalah-masalah tersebut banyak ragamnya ada yang sangat serius dan harus sesegera mungkin diselesaikan seperti halnya kasus korupsi yang melanda negara ini, korupsi di negara ini sudah kian menjadi-jadi dan bahkan hukum di negara ini tidak berjalan dengan semestinya karena hukum di negara ini sangat gampang ditaklukan oleh kekuatan uang-uang dari pejabat serta penguasa di negeri ini. Dalam kasus korupsi seperti ini yang harus bertindak dengan tepat dan yang paling utama untuk menyelesaikannya adalah pihak hukum di negara ini namun lain halnya dengan permasalahan sampah yang ada di negara ini.
Sampah. Satu kata yang sangat umum untuk kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dan juga sangat sering kita temui. Namun ternyata permasalahan sampah di negara ini sudah menjadi hal yang cukup serius untuk kita tangani. Banyak diantara kita yang menganggap sepele masalah sampah ini, bahkan tanpa kita sadari kita sendiri lah yang menimbulkan permasalahan sampah di negara yang sedang berkembang ini. Di negara dunia ketiga, seperti Indonesia ini, pengurusan sampah sering mengalami masalah dan cukup sulit untuk menemukan solusinya. Pembuangan sampah yang tidak diurus  dengan baik dan juga cara pengelolaan sampah itu sendiri akan mengakibatkan masalah besar. Sampah telah menjadi masalah klasik bagi setiap negara dimanapun di dunia ini karena berkaitan dengan kondisi lingkungan negara itu sendiri. Tidak heran bila banyak negara-negara, terutama negara maju, yang mulai mengalakkan program reduce, reuse dan re-cycle atas sampah-sampah yang ada. Di Indonesia sendiri, masalah sampah juga merupakan masalah yang tidak mudah diselesaikan salah satu faktornya adalah kurangnya kesadaran akan masalah sampah dalam diri masyarakat Indonesia. Masalah sampah kota seringkali ingin diselesaikan cara mudah dengan membakarnya yang tanpa disadari, polutan yang timbul dari plastik dan bahan organik terbakar beresiko bagi menurunnya derajat kesehatan penduduk. Konsep penanganan sampah yang dikenal dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) menjadi rumit karena budaya masyarakat yang belum siap memilah sampah berdasar jenis organik, an-organik logam, plastik dan kaca.
Sampah bukan hanya masalah kota-kota besar di Indonesia, banyak kota-kota kecil di Indonesia yang mempunyai permasalahan sampah yang sama dengan kota besar seperti Jakarta maupun Bandung. Penumpukan pembuangan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga sampah-sampah yang sudah tertumpuk itu tidak terurus dan hanya dibiarkan begitu saja sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap serta menimbulkan banyak penyakit merupakan masalah bagi kita semua. Tidak hanya penumpukan sampah di TPA, penimbunan sampah di sungai-sungai juga menimbulkan banyak masalah, sampah yang mengendap dan didiamkan begitu saja di dasar sungai akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan juga membuat warna air sungai menjadi berubah juga, air sungai menjadi tidak sehat dan tidak dapat digunakan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari karena akan menyebabkan berbagai penyakit, air sungai yang sudah kotor pun menurunkan nilai keindahan dan juga menurunkan kegunaan air itu sendiri. Penumpukan sampah yang paling sering kita temui adalah penumpukan di lingkungan rumah kita atau jalan raya maupun di saluran air. Penumpukan sampah di saluran air terutama akan menghambat mengalirnya air sehingga saat terjadi hujan lebat air tidak dapat mengalir dengan semestinya dan mengakibatkan banjir di lingkungan kita.
Seperti yang sudah kita ketahui sampah merupakan sumberdari banyak sekali penyakit dan juga bencana alam. Namun coba kita tengok ke daerah Bantar Gebang, tempat pembuangan sampah terbesar di daerah Bekasi. Banyak orang yang mengais rezeki diantara tumpukan sampah yang sangat banyak dan tentu saja sangat tidak nyaman berada diantara tumpukan sampah sebanyak itu dengan bau yang tidak sedap pula. Anak-anak yang tinggal di sekitarnya mencari sepotong roti ataupun barang yang dapat mereka pakai untuk bermain di sana. Bagaimana keadaan mereka? Tak terlihat seperti sakit, bahkan mereka gembira, berlarian kesana-kemari, di antara gunungan sampah yang dijadikannya sebagai tempat bermain yang menyenangkan dan bahkan mereka tidak risih berada di antara sampah yang sangat banyak tersebut. Mereka tentunya tidak takut akan banyaknya kuman, entah bakteri pembawa penyakit apa yang masuk ke dalam tubuh mereka. Mereka sudah tak mengenal rasanya sakit perut akibat memakan makanan sisa yang mereka temukan diantara tumpukan sampah dan pastinya sudah bercampur bakteri dan kuman-kuman penyakit yang bersarang di tumpukan sampah itu. Ya, sampah, bukanlah sarang penyakit bagi mereka yang tinggal di sekitar TPA, sampah adalah ladang. Ladang bagi mereka untuk mencari pangan dan sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka, bahkan sampah dijadikan tempat bermain bagi anak-anak mereka. Itulah yang terjadi di negara kita ini, sampah yang menumpuk dibiarkan begitu saja sehingga tentu saja menimbulkan aroma yang tidak sedap dan menjadi sarang berbagai macam penyakit namun tetap saja dijadikan lahan untuk bermain dan parahnya lagi menjadi sebuah tempat untuk mencari makan.
Dampak dari sampah itu bermacam-macam baik dari segi kesehatan maupun dari segi lingkungan. Dari segi lingkungan, sampah yang masuk ke dalam drainase atau ke sungai akan menyebabkan pencemaran air. Berbagai makhluk hidup yang hidup di air tersebut akan mati dan dapat menyebabkan punahnya beberapa spesies, hal ini tentunya akan mengganggu keseimbangan kehidupan ekosistem nantinya, pencemaran air lainnya yaitu menyebabkan keluarnya aroma tidak sedap dari air tersebut dan juga menyebabkan berubahnya warna air. Dari segi kesehatan banyak sekali penyakit yang dapat timbul dari bahaya sampah itu seperti penyakit kolera, tifus, demam berdarah, diare penyakit-penyakit itu ditimbulkan karena pengelolaan sampah yang kurang memadai, penyakit tersebut dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di tumpukan sampah lalu pindah ke makanan yang akan kita makan sehingga menyebabkan penyakit tersebut. Adapula penyakit yang dibawa oleh cacing pita yang berada di tubuh babi (Taenia) jika kita makan cacing pita tersebut maka akan membawa penyakit karena pangan babi sendiri yaitu adalah makanan yang sudah tercampur oleh sampah maupun lumpur dan sebagainya. Dan adapula  sampah atau limbah yang dibuang ke laut, jika sampah tersebut dimakan oleh ikan yang berada dilaut ikan itu akan membawa penyakit ataupun racun dari sampah ataupun limbah tersebut sehingga jika kita memakan ikan tersebut kita akan tertular penyakit.
pembakaran sampah

timbunan sampah di Pontianak
timbunan sampah di jalan raya
SOLUSI
Dari permasalahan sampah tersebut alangkah baiknya jika pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk menghilangkan dampak negative dari sampah tersebut.
Memisahkan jenis sampah cukup menolong nantinya saat pengolahan sampah dilakukan, memisahkan sampah organic dan non-organic ke tempat sampah yang berbeda dan juga memisahkan sampah yang pecah-belah. Namun usaha ini kurang membuahkan hasil karena minimnya pengetahuan warga Indonesia tentang perbedaan sampah organic dan non-organik mungkin menjadi salah satu kendala dalam melakukan usaha yang satu ini, mungkin pemerintah sebaiknya membuat daftar jenis sampah organic maupun anorganik di setiap tempat sampah umum sehingga orang-orang dapat dengan mudah mengetahui jenis sampah apa yang mereka punyai untuk dibuang nantinya.
Sebenarnya sampah bisa digunakan untuk mengais rezeki juga salah satunya dengan mendaur ulang sampah menjadi barang-barang yang dapat diperjual-belikan dan dipakai. Saat ini di Indonesia masih sangat minim pengusaha daur ulang yang memanfaatkan sampah untuk dibuat suatu kerajinan padahal mendaur ulang sampah tersebut dapat meminimalisir penumpukan sampah yang terjadi saat ini, karena sampah yang menumpuk itu dapat kita gunakan kembali menjadi barang yang berguna dan tidak hanya tergeletak begitu saja menjadi setumpuk sampah yang tidak terurus dan malah menyebabkan sumber penyakit baru dan juga  usaha daur ulang ini menghasilkan untung. Lain halnya dengan sampah dapur atau sampah yang tidak dapat kita daur ulang, sampah-sampah tersebut dapat kita gunakan juga untuk dijadikan pupuk organik kompos, pupuk organik kompos sangat berguna bagi tanaman sangat bertolak belakang dengan apabila sampah-sampah itu hanya tergeletak saja di tanah dan menimbulkan pencemaran tanah dan berujung dengan tanaman yang di tanam di tanah yang sudah tercemar tersebut akan tumbuh secara tidak sehat karena kondisi tanah yang sudah tercemar. Kita memerlukan para pengusaha yang dapat mendaur ulang sampah-sampah yang menumpuk di Indonesia saat ini agar menjadi sesuatu yang berguna dan menimbulkan hal positif.
Yang ketiga, kita harus mengendalikan atau bahkan memberhentikan produksi sampah, kedengarannya agak mustahil ya tapi jika upaya mengendalikan produksi sampah ini berhasil alhasil tidak akan ada sampah yang menumpuk sangat banyak dan tidak menjadi apa-apa. Kita sendiri dapat memulai langkah ini dengan memakai prodk ramah lingkungan seperti tidak menggunakan kantong plastic melainkan memakai tas kain yang dapat dipakai berkali-kali, kemudian membawa tempat minum dan tempat makan sendiri sehingga tidak lagi memakai botol plastic sekali buang ataupun menggunakan plastic untuk membungkus makanan. Kemudian juga jika kita ingin memakai kertas usahakan memakai 2 (dua) sisi kertas dengan pemakaian maksimal sehingga kita lebih bisa menghemat pemakaian kertas. Dan banyak sekali produk-produk ramah lingkungan lainnya yang dapat kita pakai untuk meminimalisir sampah sehingga produksi sampah akan menurun secara signifikan jika kita melakukan langkah ini dengan mengajak keluarga, teman, serta kerabat terdekat kita untuk lebih memakai barang-barang yang ramah lingkungan.
Solusi paling sederhana dan hanya dapat dimulai dari diri kita sendiri adalah gotong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah. Jika kita rutin menjalankan tugas gotong royong dalam jangka waktu sebulan sekali maka lingkungan kita pun akan bersih dan nyaman untuk ditinggali, tidak aka nada sampah menumpuk di saluran air sehingga menyumbat jalannya air dan tidak akan terjadi banjir yang disebabkan oleh sampah yang menumpuk di saluran air. Tidak akan ada pula sampah-sampah yang berserakan di jalan raya dan dibiarkan begitu saja, jika kita melaksanakan gotong royong dengan benar lingkungan kita tentunya akan bersih dengan sendirinya dan warga sekitar menjadi lebih disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya.
Banyak orang yang salah langkah untuk membersihkan sampah-sampah yang ada terutama sampah dedaunan, mereka sering kali membakar sampah-sampah dedaunan tersebut padahal jika kita membakar sampah itu tidak akan menjadi hilang atau lenyap begitu saja melainkan menjadi sampah lain yaitu berupa abu hasil pembakaran dan juga kita turut menyumbang polusi udara lewat asap pembakaran itu sendiri. Nah kembali lagi kepada solusi yang telah saya tulis diatas, untuk mengatasi sampah-sampah seperti dedaunan kita bisa mengolahnya bersama sampah-sampah yang lain menjadi pupuk organic kompos yang tentunya sangat berguna bagi tanaman yang ada, atau bisa juga kita mengawetkan daun tersebut sehingga dapat menjadi suatu produk prakarya yang dapat dijual dan menghasilkan untung.
Itulah yang dapat saya sampaikan saat ini. Semoga, dari solusi yang telah saya jabarkan diatas dapat bermanfaat untuk mengelola permasalahan sampah yang ada di negeri kita tercinta ini. Baik pemerintah maupun diri kita sendiri harus membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan kita agar tidak tercemar oleh sampah, dimulai dari hari ini.
produk hasil daur ulang sampah berupa tempat tissue

produk hasil daur ulang sampah berupa tas

gotong royong membersihkan lingkungan





 sumber: 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar