Jumat, 28 September 2012

Tugas 3 - Plus Minus Labsky

Wawancara Alumni

SMA Labschool Kebayoran atau biasa disebut “Labsky” adalah tempat dimana saya bersekolah sekarang. Sekolah ini termasuk sekolah yang banyak diminati oleh siswa-siswi di Jakarta. Dikarena kan segi akademis nya yang lumayan bagus dan banyak sekali program-program non akademis nya yang terkenal.  Labschool sendiri sebenarnya ada tiga yaitu, Labschool Jakarta yang berada di Rawamangun, Labschool Cibubur di Cibubur, dan Labschool Kebayoran dimana sekarang saya bersekolah. Ketiga-tiganya bisa dibilang cukup terkenal dan banyak anak yang ingin bersekolah di Labschool.
Banyak kelebihan yang saya dapat dengan bersekolah disini, wawasan akademik nya yang susah serta pengalaman berorganisasi nya yang serius sangat terasa berbeda dengan sekolah saya saat SMP. Sekarang waktu saya banyak terpakai untuk hal-hal yang positive, kalau dulu saya banyak membaca komik, sekarang saya sibuk mengerjakan tugas. Kalau dulu saya sibuk menonton v dan ppunya waktu luang banyak, sekarang waktu luang itu terisi dengan kesibukan mengurusi suatu kegiatan. Walaupun banyak kelebihan karena bersekolah disini, dimana ada kelebihan pasti ada kekurangan. Di post kali ini saya akan memaparkan hasil wawancara saya kepada 3 (tiga) orang alumni SMA Labschool Kebayoran tentang kekurangan di Labschool dan bagaimana cara untuk mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut.
Wawancara yang pertama saya lakukan adalah wawancara dengan kak Azrina Nadira, ia kebetulan adalah saudara saya dan ia berasal dari angkatan 9, Nawastra. Alasan kenapa beliau masuk ke sekolah ini adalah dikarenakan kakaknya yang bernama Ayesha Nevita (yang saya wawancarai juga ;p) bersekolah di Labschool Kebayoran. Selain itu, kak Nana (nama panggilan) juga bersekolah di Labschool saat SMP sehingga ia sudah mengetahui dan terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan di Labschool. Kak Nana masuk ke jurusan IPS dan sekarang berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Sastra Jepang.
Menurut kak Nana, guru-guru di Labsky termasuk guru-guru yang asik-asik dan sangat membantu saat proses belajar. Akan tetapi ada beberapa guru yang menurutnya kurang memperhatikan muridnya dan terkesan seperti malas mengajar. Seperti contoh, saat pelajaran ada murid yang tidak mengerti dan guru tersebut hanya menyuruh murid itu untuk bertanya ke temannya yang lain dan menyuruh anak yang sudah mengerti menjelaskan kembali ke temannya yang belum mengerti. Untuk pelajarannya menurut kak Nana, sangat susah mendapatkan nilai bagus dan pelajarannya sulit sekali. Apalagi dengan banyak kegiatan diluar kegiatan akademis sehingga harus pintar-pintar membagi waktu antara belajar dan kegiatan di luar belajar.
Kalau masalah lingkungan pertemanan kak Nana bilang, “kalo menurut aku masih ada gap2an main disetiap angkatan yang bikin kurang nyampur gitu anak-anaknya”. Jadi menurutnya, di lingkungan pertemanan Labsky di setiap angkatannya itu terdapat kelompok-kelompok yang terlalu keliatan dan membuat angkatan tidak terlalu menyampur dan menyatu semua. Jadi misalnya saat sedang kumpul-kumpul, terlihat jelas perbedaan kelompoknya dan sesama satu angkatan bisa tidak saling mengenal satu sama lain.
Kak Nana sangat menyetujui adanya program-program seperti BINTAMA, TO, dan lain lain karena menurutnya kegiatan tersebut selain bermanfaat untuk diri kita sendiri juga dapat menyatukan antar satu angkatan dan juga lebih mengenal guru-guru. Dan pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi pengalaman unik yang dapat diceritakan karena tidak semua orang berkesempatan  mengalami nya. Biaya di Labsky sendiri menurut kak Nana tidak terlalu mahal karena apa yang kita keluarkan dan apa yang kita dapat dinilai seimbang oleh kak Nana. Jadi bayaran di Labsky tidak kemahalan atau terlalu murah.
Solusi dari Kak Nana untuk Labsky, yang pertama guru-gurunya tolong lebih memperhatikan murid saat proses belajar. Jika ada anak yang tidak mengerti jangan disuruh tanya ke teman nya tapi tolong dijelaskan lagi.  Lalu buat anak-anaknya sebaiknya jangan terlalu berkelompok mainnya karena itu akan menyebabkan jarak antara angkatan seharusnya satu angkatan itu akan bagus jika semuanya kompak. Untuk guru juga agar membantu muridnya supaya tidak main berkelompok dan agar tidak ada anak yang merasa dikucilkan atau terpinggirkan.