Selasa, 25 September 2012

TUGAS 3 - LABSKY UNTUK KEMANUSIAAN

RASISME DI DUNIA SEPAK BOLA INGGRIS

Masalah

Sepak bola, sudah tidak asing di telinga kita. Sepak bola adalah suatu olahraga yang dimainkan oleh dua kesebelasan (negara ataupun klub) yang waktunya adalah 90 menit. Salah satunya adalah sepak bola di benua Eropa. Sepak bola di Eropa merupakan sepak bola yang paling bergengsi serta memiliki pemain pemain dengan skill tinggi dibanding sepak bola di benua lainnya seperti Afrika, Asia, dan Amerika.

Union of Europian Football Associantions, atau yang lebih dikenal dengan singkatan UEFA, adalah komite resmi penyelenggaraan sepak bola di Benua Eropa. Sepak bola bukan hanya sebagai olahraga, tapi juga sebagai tempat untuk semua talenta talenta dari Eropa maupun dari luar Eropa untuk berkiprah juga sebagai pertukuran budaya dari setiap pemainnya.

Beberapa contoh talenta eropa adalah Lionel Andres Messi. Walaupun dia berkebangsaan Argentina, tetapi dia dinobatkan sebagai pemain terbaik Eropa tahun 2009, 2010, dan 2011. Juga ada Ricardo Izecson dos Santos Leite atau yang dikenal sebagai Kaka' yang berkebangsaan Brazil, dinobatkan sebagai pemain terbaik tahun 2007.

Rasisme merupakan suatu kepercayaan yang menyatakan bahwa perbedaan biologis pada manusia itu menentukan pencapaian yang dapat diraih oleh suatu individu, bahwa suatu ras tertentu lebih kuat atau superior dibandingkan dengan ras yang lain
Perbedaan kulit ras Hitam dan ras Putih


Suarez (kanan) yang menolah untuk berjabat tangan dengan Evra (tengah)
Isu rasisme pada sepakbola khususnya di Inggris kembali marak akhir-akhir ini. Kejadian ini seakan kembali mengorek ‘luka lama’ tentang rasisme pada sepakbola di Inggris, yang juga sempat naik ke permukaan di tahun 90an. Kampanye anti-rasisme yang dikumandangkan Football Association (FA) bekerjasama dengan Kick It Out, suatu organisasi yang dibentuk khusus dalam rangka mengkampanyekan anti-rasisme pada sepakbola, beserta dengan para pemain yang bermain di Premier League, pun seakan runtuh setelah isu rasisme justru terjadi dan dilakukan oleh beberapa pemain besar. Kasus antara Luis Suarez - Patrice Evra dan John Terry - Anton Ferdinand menjadi dua kasus terakhir yang menjadi fenomenal. Sebenarnya bagaimana awalnya isu rasisme ini bisa muncul pada sepakbola di Inggris? Isu rasisme di Inggris sebenarnya sudah mengakar di berbagai bidang dan pada akhirnya masuk ke sepakbola.
Kasus rasisme di Inggris berawal dari datangnya para imigran kulit hitam yang berasal dari Karibia dan Afrika dipertengahan antara tahun 1950-1960, dan diawal tahun 1970an yang berasal dari Asia. Inggris merupakan negara yang pluralis memiliki masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam etnis, agama, atau ras. Sehingga Inggris disebut juga sebagai negara yang pluralistik. Orang-orang dari Afrika, Karibia dan Asia tadi datang ke Inggris dengan berbagai tujuan. Mulai dari yang ingin terbebas dari permasalahan yang melanda negara mereka berasal, ingin memperoleh pekerjaan yang layak, sampai kepada ingin memperoleh pendidikan yang layak di tanah Inggris. Mereka juga terlibat dalam berbagai bidang kehidupan di Inggris, seperti bidang olahraga. Terutama adalah sepakbola. Orang-orang Afrika dan Asia gemar bermain sepakbola dan kegemaran mereka akan olahraga sepakbola ini tersalurkan dan berkembang di Inggris, mengingat Inggris memiliki kompetisi sepakbola yang baik dan terkenal di dunia, yaitu kompetisi sepakbola liga Inggris atau Premiership League. Inggris juga merupakan negara asal muasal sepakbola modern di dunia.
Di setiap akhir pekan, mereka selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan pertandingan sepakbola liga Inggris pada Divisi Utama, Divisi I ataupun Divisi II, khususnya pertandingan yang menyangkut daerah dimana mereka tinggal. Para pendukung masing-masing klub di Inggris sangatlah fanatik terhadap klub asal mereka. Fanatisme masyarakat Inggris dalam mendukung kesebelasan kesayangan mereka terutama yang berasal dari daerah mereka justru melahirkan bumerang terhadap mereka sendiri. Mereka yang dulu dikenal sebagai masyarakat yang hidup bermasyarakat, tidak terpengaruh dengan masalah perbedaan agama, ras, suku, ataupun etnik, justru sangat berbanding terbalik situasinya pada saat mereka menyaksikan pertandingan sepakbola. Orang-orang kulit hitam dan berwarna, baik pendukung kesebelasan maupun pemain, kini dihadapkan pada permasalahan yang sangat krusial sekali dan menakutkan. Mereka seakan-akan menjadi tidak tenang dalam menyaksikan sepakbola bagi para pendukung dan bagi para pemain, mereka dihantui oleh adanya cacian, hinaan terhadap dirinya, sehingga mempengaruhi permainan dirinya dan klub yang dibelanya. Bahkan seorang pemain sepakbola berkulit hitam dan berwarna kerap kali mendapat perlakuan rasisme dari pendukung tim mereka sendiri, apabila mereka gagal memberikan kemenangan bagi tim yang dibelanya ataupun bila seorang pemain itu melakukan suatu kesalahan, misalnya pemain berkulit hitam atau berwarna itu terkena kartu merah atau pemain itu melakukan gol bunuh diri. Dan yang diherankan adalah pendukung suatu kesebelasan ini melakukan aksi rasisme ini hanya terhadap pemain berkulit hitam atau berwarna saja, tidak kepada pemain berkulit putih. Maka disini dapat kita lihat adanya rasa sentimentil orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan berwarna. Ini mungkin diakibatkan oleh masyarakat Inggris yang sangat beragam, sehingga masalah rasisme ini berkembang luas. Karena hampir setiap negara yang memiliki masyarakat yang beragam etnis, agama, sosial, kultur, selalu dihadapkan pada adanya konflik atau masalah rasisme, seperti contohnya Amerika Serikat dan Inggris ini.
Data dari Kick it Out di era 90an menyatakan bahwa 15 % dari pemain sepakbola profesional yang bermain di liga Inggris adalah pemain berkulit hitam. Pada awal musim 2000-2001, tidak seorangpun dari pemain keturunan Asia yang masuk dalam pemain inti dalam suatu tim, hanya seorang pelatih berkulit hitam yang memegang suatu tim, hanya sedikit orang berkulit hitam atau keturunan yang bekerja pada klub sepakbola professional, tidak ada seorang kulit hitam atau berwarnapun yang bekerja pada Football Association atau federasi sepakbola Inggris (FA). Kick It Out Organization juga mencatat bahwa kurang dari 1 % tiket pertandingan pada musim 2000-2001 yang dibeli oleh orang kulit hitam atau berwarna, hanya 2 orang wasit berkulit hitam dan berwarna yang bertugas menjadi wasit pada pertandingan di musim ini, kurang dari 40 orang setahun yang berani menuntut apabila mereka terkena perlakuan rasisme baik terkena secara langsung ataupun hanya melihat atau mendengar dan pemain-pemain berkulit hitam atau berwarna di liga-liga kecil atau semi-profesional selalu terkena perlakuan rasisme secara fisik.
Sementara itu, survey rasisme pada sepakbola amatir di West Yorkshire juga menemukan bahwa hanya 14 % dari liga mendapatkan komite manajemen mereka berasal dari etnik minoritas, 11 % sekretaris liga domestik merasa bahwa rasisme berada pada seluruh akar sepakbola Inggris, seorang wasit kulit putih mengatakan bahwa beberapa etnik minoritas memiliki perasaan mudah tersinggung dan mereka berpikir mereka akan diperlakukan secara langsung oleh orang lain, 94 % sekretaris klub adalah kulit putih dan laki-laki, hanya 3 klub yang berkata bahwa mereka melakukan segalanya untuk membesarkan hati orang kulit hitam, semua pemain Asia, Afrika dan Karibia yang diwawancarai telah mendapat pengalaman rasisme secara fisik atau verbal dan 44 % penonton mendengar langsung kekerasan rasisme dari orang kulit hitam dan berwarna.
Jika kita perhatikan bahwa perilaku rasisme terhadap orang kulit hitam atau berwarna di Inggris ternyata tidak hanya pada pemain sepakbola atau para suporter sepakbola saja, melainkan juga pada orang-orang yang bekerja di suatu badan atau organisasi. Sehubungan dengan perlakuan rasisme yang selalu terjadi pada sepakbola di liga Inggris, ada sekelompok orang yang sangat fanatik terhadap timnya, yang kerap kali berulah dan menimbulkan kekerasan dan kekacauan bahkan menimbulkan perlakuan rasisme terhadap pendukung tim lain. Mereka menamakan diri mereka sebagai "Hooliganisme".  Berbicara tentang sepakbola Inggris, pastilah orang membicarakan ulah para hooliganisme yang selalu membuat keresahan masyarakat. Hubungan antara rasisme dengan hooliganisme sejauh ini merupakan ekspresi rasisme dan prasangka rasis menjadi bahasa bersama hooligan, terutama bagi suporter Inggris bila bertanding keluar Inggris.
Hooliganisme di Inggris tumbuh sangat cepat. Sejak tahun 1970an sampai dengan sekarang, tim nasional Inggris khususnya sangat erat sekali dengan kehadiran para hooligan. Pperilaku para hooligan ini sangatlah meresahkan. Mereka selalu melakukan kekerasan dan kekacauan. Mereka selalu melakukan teror terhadap tim lawan dan suporter tim lawan. Mereka melakukan kekerasan dan kekacauan ini pada sebelum atau setelah pertandingan. Contohnya adalah ketika berlangsung pertandingan pada Piala Eropa 2000 lalu di Belgia-Belanda. Ketika itu, pertandingan antara Inggris melawan Jerman di kota Charleroi, Belgia. Para hooligan melakukan aksi kekerasan terhadap penduduk setempat dan pendukung tim Jerman. Mereka melakukan pengrusakan di hampir seluruh kota Charleroi. Isu ini muncul dan memberi derajat keadaan yang berbeda. Yang mempengaruhi para hooligan ini berbuat kekerasan dan kekacauan adalah:  sejarah, pola mengkonsumsi alkohol, faktor sosial-ekonomi, “The Buzz” (diartikan sebagai sekumpulan hooligan oportunis, menakutkan, selalu ikut serta secara spontan dalam setiap kejadian kekerasan yang terjadi), dan perasaan untuk mewakilkan Inggris.   Pada saat ini, hooliganisme merupakan satu-satunya bentuk dan bagian dari rasisme dalam sepakbola di Inggris. Dan persoalan rasisme ini berpengaruh buruk terhadap citra persepakbolaan Inggris.


Bek Manchester United, Rio Ferdinand berkomentar di akun twitternya @riofredy5. Omelannya ini terkait dengan pernyataan dari Presiden FIFA Sepp Bleter mengenai masalah rasisme didalam dunia sepak bola. Bleter menyatakan jika permasalahan rasisme belum sepenuhnya hilang dalam dunia sepak bola, persoalan ini akan selesai jika pemain sudah berjabat tangan, meskipun akan selalu ada pertandingan sepak bola yang bertensi tinggi. Intinya menurut Bleter ini, masalah rasisme yang terjadi di lapangan akan selesai hanya dengan berjabat tangan.
Penyataan ini tentu saja membuat Ferdinand tidak sependapat dengan apa yang telah dikatakannya. “Tolong beritahu saya, kalau pernyataan Sepp Bleter itu salah, bila tidak saya sangat terkejut” ujar Ferdinand lewat akun twitternya. “Saya merasa bodoh kalau sepak bola menjadi ajang untuk melawan rasisme....” lanjutnya. “..... Jika seseorang berdebat dengan wasit, apakah persoalan selesai hanya dengan berjabat tangan, apakah masalah rasisme juga demikian?”
ferdy
Komentar Rio Ferdinand atas pernyataan Sepp Blatter


SOLUSI

Isu rasisme ini bukanlah berarti tanpa jalan keluar untuk menanggulanginya. Menurut saya,  FA selaku otoritas persepakbolaan Inggris harus mengeluarkan aturan yang pasti dan ketat untuk masalah rasisme ini. Pemberlakuan hukuman seberat-beratnya baik bagi pemain atau pendukung yang melakukan rasisme merupakan hal yang  patut diberlakukan. Sejauh ini menurut saya, FA sudah bertindak benar dengan memberikan sanksi berat kepada pemain yang melakukan rasisme, tapi belum untuk para suporter tim. Padahal, perlakuan rasisme lebih banyak dilakukan oleh pendukung suatu tim khususnya dalam mengintimidasi pemain / tim lain.


sumber :
 http://www.viralitas.com/2011/11/18/ini-dia-kata-rio-ferdinand-tentang-rasisme-di-dunia-sepak-bola/
http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Sepak_Bola_Eropa
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemain_Terbaik_Dunia_FIFA
http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/02/21/bagaimana-rasisme-pada-sepak-bola-di-inggris-tercipta/
http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2012/09/120919_footballracism.shtml

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar