Rabu, 19 September 2012

Tugas 2 - Wawancara Plus Minus Labsky


DARI TAHUN KE TAHUN

               Sudah dua belas tahun sejak SMA Labschool Kebayoran berdiri. Sudah dua belas tahun sejak SMA Labschool mendidik anak-anaknya menjadi siswa-siswa yang sesuai dengan standar mereka. Sudah dua belas tahun sejak orang-orang pertama kali mendatangi SMA Labschool Kebayoran dan berkutat memasukkan anak-anaknya di bawah naungan nama sebuah sekolah yang kini bisa dibilang tergolong elite tersebut.
                Menurut orang-orang, masa SMA adalah masa yang tidak terlupakan. Masa yang seharusnya diisi dengan kesenangan-kesenangan. Saya pribadi, sebagai seorang siswa di SMA Labschool Kebayoran merasakan hal yang sebaliknya. Kesenangan-kesenangan yang saya dapat di SMA Labschool Kebayoran berbeda dari kesenangan yang saya dengar dari teman-teman saya di SMA-SMA lain. Tidak ada yang namanya huru-hara disini. Dan sebagian besar waktu di SMA Labschool Kebayoran dihabiskan entah untuk program akademik, atau mengejar nilai akademik. Perbedaan ini berkaitan dengan tugas sejarah yang sewaktu itu diberikan kepada saya—apa saja kelebihan dan kekurangan SMA Labschool Kebayoran dari pandangan para alumni?

1. Ganis Syahputra
                Kak Ganis Syahputra, atau yang kerap sekali dipanggil Ganis, merupakan alumni SMA Labschool Kebayoran yang masih tergolong baru, dikarenakan ia merupakan lulusan angkatan delapan atau Hastara. Ia merupakan anggota dari OSIS sebagai koordinator seksi dana dan logistik, serta merupakan kapten dari LAMURU Percussion angkatan delapan SMA Labschool Kebayoran. Kini beliau melanjutkan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
                Di suatu malam, saya mewawancarainya secara langsung dan tatap muka. Saya langsung bertanya pendapatnya tentang kelebihan dan kekurangan SMA Labschool Kebayoran. Mulanya, ia menjawab, “Ah, Labsky (Labschool Kebayoran) banyak kelebihannya; panjang.” Tapi, karena saya berkeras memintanya untuk mendefinisikan kata banyak di dalam konteks ini, iapun akhirnya menjabarkannya satu perseatu.
                Menurutnya, kelebihan dari SMA Labschool Kebayoran adalah poin dimana ketika SMA-SMA lain sibuk mengejar bidang akademik, SMA Labschool Kebayoran berusaha mendidik siswa-siswanya menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya pintar, tapi juga memiliki mental yang tidak mudah goyah. Dimana ketika meskipun dibandingkan dengan SMA-SMA lain SMA Labschool Kebaypran pada masa dia merupakan SMA dengan KKM (Kriteria Kelulusan Minimum) yang biasa saja, malah tergolong agak rendah dibandingkan dengan sekolah-sekolah bergengsi lainnya, SMA Labschool Kebayoran menjaga agar kualitasnya tidak kalah. “Ya kalau disini, angka 6-nya kadang-kadang sama kayak angka 8 SMA lain,” ujarnya.
                Tak kalah dengan bidang akademiknya, SMA Labschool Kebayoran sendiri memiliki kegiatan-kegiatan unik lainnya. Bagi Ganis, kegiatan-kegiatan tersebut sekilas terlihat biasa saja, bahkan terkadang merepotkan. Tapi, setelah melaluinya, ia berkata bahwa semua kegiatan itu sangat membantu untuk survive di dunia nyata ketika sudah lulus dari SMA Labschool itu sendiri. “Anak Labschool kalo di UI (Universitas Indonesia) itu dicari,” ujarnya. “Entah karena emang kita punya faktor kepribadian yang bagus atau karena pendidikan mental dulu—atau karena kita emang udah dilabel anak-anak pinter.”  Memang, menurut ia pribadi, perbedaan antara anak-anak Labschool dengan anak-anak non-Labschool terlihat cukup jelas di jenjang pendidikan yang lebih tinggi nanti. Menurutnya, anak-anak Labschool biasanya lebih mandiri dan punya inisiatif tinggi. Ia juga mengatakan, bahwa bila dosen sudah menyuruh untuk membuat makalah atau paper, anak-anak Labschool merupakan golongan anak-anak yang handal dalam menangani hal seperti itu. Hal ini dibantu oleh salah satu syarat kelulusan, yaitu karya tulis yang bukan sekedar karya tulis basa-basi.  Karya tulis murid-murid SMA Labschool merupakan karya tulis yang bukan karya tulis setengah-setengah, melainkan diwajibkan untuk melakukan penelitian yang sedalam-dalamnya.
                Menurut Ganis, rangkaian kegiatan-kegiatan wajib di SMA Labschool Kebayoran memang melelahkan, tapi diperlukan untuk pendidikan. Misalnya adalah kegiatan TO (Trip Observasi). Menurutnya, kegiatan TO, berikut dengan Pra-TO merupakan sebuah kegiatan yang sangat menjalin solidaritas di angkatan. Kegiatan ini sekilas melelahkan, tapi sebenarnya mengasyikkan dan membantu memperkuat angkatan itu sendiri. “Gue jadi kenal angkatan gue lebih jauh itu di Pra-TO dan TO,” ujarnya, ketika saya melakukan wawancara. BINTAMA, yang dari tahun ke tahun selalu dilaksanakan bekerja sama dengan KOPASSUS, menurutnya adalah kegiatan yang sangat melelahkan, tetapi membangun pribadi disiplin tingkat tinggi. Kedisiplinan itu sangat membantu ketika akhirnya ia memutuskan untuk mengambil andil dalam organisasi tertinggi di SMA Labschool Kebayoran, OSIS; ketika ia harus bisa mengatur waktunya antara tugas OSIS dan kewajibannya sebagai pelajar. Selain itu, karena ia merupakan anggota sekaligus kapten dari LAMURU Percussion angkatan Hastara, ia mengatakan bahwa LAMURU Percussion bisa meningkatkan kedekatan antar angkatan kakak kelas ataupun angkata di bawahnya.
                Mengenai OSIS, ia hanya berkomentar, “OSIS SMA Labschool Kebayoran itu top banget.” Ia merasa bahwa menjadi OSIS di SMA Labschool Kebayoran benar- benar terasa perjuangannya dari tahap ke tahap, hingga akhirnya melaksanakan pergantian jabatan di LALINJU (Lari Lintas Juang). Ia sendiri mengatakan bahwa pelajaran paling besar yang bisa ia petik dari menjadi seorang anggota OSIS adalah, bagaimana mengatur waktu dengan baik dan bekerja di bawah tekanan.
                Ganis sendiri mengatakan, bahwa kegiatan yang paling menguras tenaga tetapi menyenangkan adalah SkyAvenue. Selain memakan waktu yang besar—berhubung ia merupakan koordinator OSIS seksi dana dan logistik, yang sangat berperan penting dalam pengumpulan dana—tenaga yang dibutuhkan juga besar. “Capek, cuma itu yang paling asik.”
                Menurut Ganis sendiri, ia tidak bisa berkomentar untuk kekurangan Labschool. Ia sendiri mengatakan bahwa SMA Labschool Kebayoran merupakan salah satu sekolah terbaik, dan ia bangga pernah menjadi salah satu siswanya. Ia hanya bisa memberi saran agar SMA Labschool semakin baik ke depannya, dan mempertahankan apa yang sudah baik.

2. Nadhila Nuhanisa
                Nadhila Nuhanisa, atau yang kerap dipanggil sebagai Hani atau Nadhila, merupakan alumni SMA Labschool Kebayoran angkatan tujuh, atau Saptraka (Sapta Garuda Adhikara). Ia sekaligus merangkap kakak saya. Kini ia melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia Fakultas Psikologi, angkatan 2010.
                 Kalimat pertama yang ia katakan ketika saya menanyakan pendapatnya tentang SMA Labschool Kebayoran adalah, kita merupakan sekolah yang well-prepared. Well-prepared disini, menurutnya, merupakan satu kelebihan yang tidak dimiliki sekolah lain. Contohnya adalah ketika kita melaksanakan Try Out, katanya. “Labschool kalo ngasih soal Try Out susah-susah. Jadinya pas Hari-H ujiannya kita udah prepared sama soal yang susah, meskipun soalnya sebenernya nggak sesusah itu.” Selain itu, menurutnya, SMA Labschool Kebayoran merupakan sebuah sekolah yang cukup fleksibel. Salah satu faktornya adalah, karena kita bukan sekolah yang memiliki sengketa dengan sekolah lain. Kita fleksibel, dikarenakan kita termasuk sekolah yang bisa berinteraksi dengan sekolah manapun, tanpa takut terjadi adanya perselisihan besar-besaran.
                Menurut Nadhila pribadi, SMA Labschool Kebayoran adalah sekolah yang menyenangkan. Terutama adalah ketika kegiatan SkyAvenue, dimana hampir satu sekolah berpartisipasi. Nadhila bukan merupakan OSIS periode itu, tapi ia mengikuti kepanitiaan SkyAvenue bagian ticketing. Selain itu, menurutnya, Labschool adalah sebuah sekolah yang secara garis besar, bila kita menggalang sebuah acara, kemungkinan kita untuk berhasil di acara itu cukup besar.
                Nadhila, hampir sama seperti Ganis, juga berpendapat bahwa kegiatan TO (Trip Observasi) dan Pra-TO merupakan kegiatan yang cukup penting. Kegiatan ini membuatnya mengenal teman-teman seangkatannya secara lebih pribadi, dan pengalaman-pengalaman yang ia lalui di kegiatan ini merupakan pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan. “Ya kayak di lagunya aja,” ujarnya. “Semua orang mau kok disuruh ngulang TO lagi.”  
                Berbeda dengan Ganis, Nadhila sendiri berpendapat bahwa Labschool masih banyak kekurangannya. Salah satunya adalah banyaknya kegiatan yang dipadatkan di kelas X, yang memakan waktu sementara anak-anak kelas X masih harus fokus dengan penjurusannya masing-masing. Menurutnya juga, sekarang Labschool menarik bayaran yang terlalu tinggi untuk tiap kegiatannya. “Dulu pas kepsek gue masih Pak Anggoro, gaada bayar-bayar gitu,” ujarnya. “Ya ada sih, tapi ga semahal sekarang.”  Menurutnya juga, beberapa standar pendidikan di SMA Labschool Kebayoran sudah mulai bergeser, dikarenakan banyak guru yang pindah dan diganti dengan guru-guru baru.

3. Rafenska Vania
                Kak Ravenska Vania, atau yang kerap disapa dengan nama Fenska, merupakan alumni SMA Labschool Kebayoran angkatan tujuh, atau Saptraka. Kebetulan, ia juga merupakan salah satu teman dekat kakak saya, dan kini sama-sama menempuh pendidikan di Universitas Indonesia Fakultas Psikologi.
                Ketika saya mewawancarainya lewat direct message twitter, ia menjawabnya dengan singkat, padat, dan jelas. Menurutnya, Labschool Kebayoran adalah sebuah sekolah yang bagus; baik bidang akademiknya ataupun bidang non-akademik, seperti organisasi atau yang lainnya. SMA Labschool Kebayoran merupakan sebuah sekolah yang mendukung kemampuan murid-muridnya, dan memberi fasilitas yang cukup lengkap. SMA Labschool Kebayoran juga merupakan sebuah sekolah yang sangat mendukung adanya soft skill serta pembinaan mental yang kuat. Menurutnya, SMA Labschool Kebayoran sangat memfasilitasi murid-muridnya dalam mengembangkan dirinya sendiri ke arah yang positif.
                Menurutnya, kegiatan yang sudah dirancang di SMA Labschool Kebayoran juga sangat menyenangkan. Baginya, kegiatan-kegiatan tersebut memberi pelajaran serta bekal tersendiri bagi anak-anak SMA Labschool Kebayoran untuk ke depannya.
                Ketika saya bertanya akan kekurangan dari SMA Labschool Kebayoran, Fenska, yang memang memilih bidang psikologi sebagai kelanjutan pendidikannya, menjawab pertanyaan saya dari sisi psikologi. Menurutnya, di SMA Labschool Kebayoran, masih sangat kurang akan tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) akan bidang psikologi pendidikan, atau secara kasarnya, guru-guru BK (Bimbingan Konseling). Baginya, tenaga psikologi sangat dibutuhkan agar bisa lebih mengenali murid-murid dari luar maupun dalam. Ia juga mengatakan, sebaiknya, bila sudah disediakan tenaga psikologi pendidikan, mereka juga harus bisa memberikan solusi yang konkrit kepada murid-muridnya, karena, menurut cerita Fenska, pada tahun-tahun ia bersekolah di sana, banyak sekali murid-murid yang curhat ke guru BK.
                Pengalaman-pengalaman para alumni di atas seharusnya dapat memberi refleksi serta motivasi bagi kita, generasi penerus, agar bisa berusaha lebih baik dari yang mereka telah lakukan. Dari tahun ke tahun, Labschool Kebayoran masih berusaha mendidik murid-muridnya. Dari tahun ke tahun, perubahan-perubahan telah dilakukan untuk menuju yang lebih baik. Dan dari tahun ke tahun, setiap orang berhasil memetik pelajaran-pelajaran yang tersirat di SMA Labschool Kebayoran.


Jakarta, 17 September 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar