Kamis, 20 September 2012

Tugas-2 Plus Minus Sekolah di Labsky



Bekerja Di Bawah Tekanan Sudah Biasa di Labschool

SMA Labschool Kebayoran berdiri sejak 11 tahun yang lalu di Jl. K.H. Ahmad Dahlan No.14, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dengan motto “Iman, Ilmu, Amal”, Labschool berusaha membuat inovasi baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Labschool merupakan sekolah yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan akademik siswa-siswinya saja, namun Labschool juga sadar akan pentingnya pelajaran hidup dan kerasnya persaingan dalam dunia kerja, sehingga Labschool mempersiapkan siswa-siswinya dengan pembentukan karakter yang matang serta melatih fisik dan mental anak didiknya.

Oleh karena itu, Labschool membuat program-program yang wajib diikuti oleh murid-muridnya mulai dari MOS (Masa Orientasi Siswa) kegiatan yang ditujukan bagi siswa-siswi baru untuk mensosialisasikan budaya-budaya Labschool sebagai sekolah yang baru bagi mereka. Kemudian, ada kegiatan bernama PILAR (Pesantren Islam Ramadhan) yang bertujuan untuk memperkuat iman para siswa saat memasuki bulan Ramadhan. Setiap Oktober berlangsung kegiatan Pra TO (Pra Trip Observasi), yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan program TO (Trip Observasi). Pada kegiatan ini, siswa-siswi dibagi dalam beberapa kelompok, lalu melakukan pengecatan tongkat, pembuatan nametag, membuat pentas seni, melakukan simulasi memasak, dan kegiatan lainnya yang nantinya akan dibutuhkan saat TO. Setelah mengikuti Pra TO, barulah siswa-siswi siap untuk mengikuti TO. TO adalah kegiatan yang mengharuskan siswa-siswi untuk tinggal selama 5 hari di desa dan hidup berbaur dengan masyarakat disana. Selain itu, murid-murid juga ditugaskan untuk membuat penelitian tentang kehidupan warga desa dengan tema yang berbeda untuk setiap kelompoknya. Di semester 2 kelas X, murid-murid akan dilatih mental dan fisiknya oleh para KOPASSUS pada kegiatan BINTAMA (Bina Mental Siswa). BINTAMA merupakan kegiatan yang mempunyai visi membentuk mental siswa-siswi Labschool. Bagi para siswa yang berminat untuk menjadi pengurus OSIS maupun MPK, maka harus mengikuti kegiatan LAPINSI (Latihan Kepemimpinan Siswa) dan TPO (Tes Potensi Organisasi). Setelah lulus kedua tahap tersebut, mereka dapat mengikuti LALINJU (Lari Lintas Juang) dan Pelantikan OSIS-MPK.

Melihat kegiatan Labschool yang segudang, tentu akan memberi dampak bagi siswa-siswinya dan kesan bagi alumninya. Hingga tahun 2012, SMA Labschool Kebayoran telah berhasil meluluskan 9 angkatan, mulai dari Mitreka (Angkatan 1), DSM (Angkatan 2), Triseka (Angkatan 3), Catruka (Angkatan 4), Pancatra (Angkatan 5), Heksakra (Angkatan 6), Saptraka (Angkatan 7), Hastara (Angkatan 8), dan Nawastra (Angkatan 9. Masing-masing dari alumni pasti mempunyai kesan tersendiri terhadap SMA Labschool Kebayoran. Berikut ini adalah hasil wawancara saya dengan 3 orang alumni SMA Labschool Kebayoran, Kak Ardelia Djati Safira (Saptraka), Kak Hana Kamilia (Nawastra), dan Kak Nurul Parameswari (Saptraka)


 
Ardelia Djati Safira

Foto bersama Kak Fira

Beliau akrab disapa Kak Fira. Kak Fira adalah salah satu alumni dari Angkatan 7, Sapta Garuda Adikara (Saptraka). Saat ini, beliau sedang berkuliah di Prasetiya Mulya Business School mengambil jurusan finance dan telah memasuki semester 5.
Selama bersekolah di SMA Labschool Kebayoran, Kak Fira pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum OSIS Diwakara Balasena. Menjabat sebagai Sekretaris Umum memberikan banyak pelajaran bagi Kak Fira, karena posisi sekretaris merupakan jabatan yang sangat sibuk dan mengharuskan Kak Fira untuk mengurus semua surat dan proposal seksi-seksi di OSIS, Kak Fira harus pintar membagi waktu antara belajar dengan kegiatan berorganisasi. Selain itu, Kak Fira juga mendapat ilmu tentang administrasi serta cara menulis surat dan proposal dengan baik. Satu lagi pelajaran yang Kak Fira dapat ketika menjadi Sekretaris Umum, yaitu menjadi mediator. Sekretaris harus mampu bersikap netral ketika sedang terjadi masalah dalam organisasi, maka Kak Fira juga belajar menjadi mediator antara BPH (Badan Pengurus Harian) dan seksi-seksi di OSIS.

Aktif dalam berorganisasi, ternyata tidak mengganggu kegiatan akademik Kak Fira. Kak Fira sukses meraih prestasi-prestasi sejak kelas 1 SMA hingga kelas 3 SMA. Saat kelas 1 SMA, Kak Fira berhasil menyabet juara 2 dalam L’Oreal Girls Science Camp se-Indonesia dan meraih medali perak (Juara 2) dalam Olimpiade Kimia Al-Azhar. Menginjak kelas 2 SMA, Kak Fira menjadi Finalis Olimpiade Kimia hingga tingkat provinsi DKI Jakarta. Naik ke kelas 3 SMA, semakin banyak piala yang diraih olehnya, mulai dari menjadi Finalis Star Teen 2009, cover girl & boy High End Teen Magazine, Juara 2 “Comic Making Competition” tentang “ Solving Climate Change & MDGs Achievement in Daily Life” yang diadakan oleh UNDP, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI, menjadi UN Volunteers (PBB), Juara 3 (medali perunggu) Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) bidang Fisika, hingga meraih Best Performance Award bidang Basic Mathematic di “International Conference of Young Scientists 2010” di Bali. Dan yang lebih mengagumkannya lagi Kak Fira selalu meraih peringkat 1 dari kelas 1-3 SMA serta mendapat gelar siswa terbaik dalam jurusan IPA selama 3 tahun bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Hal ini membuktikan bahwa padatnya kegiatan sekolah tidak menghalangi Kak Fira untuk berprestasi.

Menurut Kak Fira, Labschool dapat memberi pengaruh baik untuknya, banyak pengalaman di bidang yang seharusnya jarang dirasakan oleh anak SMA, seperti Trip Observasi, BINTAMA, dll. Selain itu, siswa-siswi Labschool juga dibiasakan untuk bekerja dengan banyak tugas, sehingga harus pintar dalam mengatur waktu, jika tidak ingin tertinggal dengan yang lain. 

Namun, beberapa guru harus lebih memberi perhatian khusus terhadap materi yang diajarkan. Terkadang guru terburu-buru dalam mengejar suatu materi dan kurang peduli apakah muridnya telah mengerti materi tersebut secara jelas atau belum. Keuntungan yang dirasakan Kak Fira sebagai alumnus Labschool, yaitu beliau dapat melatih manajemen waktu dengan baik. Kemudian, beliau juga menyampaikan bahwa ketika memasuki kuliah, beliau menjadi tidak terlalu kaget dengan lingkungan baru. Selain itu, Labschool juga menguatkan fisik dan mental Kak Fira, sehingga terbiasa ketika menghadapi kegiatan yang segudang. Saran dari beliau, terkadang beberapa guru harus memperhatikan keadaan murid secara personal. Jangan bersikap subjektif, pandang semua murid itu sama dan jangan memanjakan mereka yang mungkin menurut guru berpotensi lebih dibanding yang lain.

Hana Kamilia

Foto bersama Kak Hana
 
Kak Hana adalah seorang alumni Labsky yang berasal dari angkatan 9, Nawa Drastha Sandhyadira (Nawastra). Beliau sempat menjabat sebagai Koordinator Komisi Kesenian MPK Bathara Satya Hayaskara. Saat ini, Kak Hana baru memasuki semester pertama di Prasetiya Mulya Business School jurusan bisnis. Sisi positif bersekolah di Labschool membuat Kak Hana menjadi terbiasa berorganisasi di tengah tumpukkan tugas sekolah. Selain itu, kegiatan sekolah mulai dari MOS hingga BINTAMA juga menambah panjang daftar pengalaman berharga Kak Hana. Namun, kesulitannya adalah membagi waktu belajar dengan kegiatan-kegiatan sekolah. Saran untuk Labschool Kebayoran dari Kak Hana adalah lebih mendukung ekskul-ekskul yang ada, serta lebih memperhatikan prestasi murid-murid di bidang akademik.

Nurul Parameswari

Foto bersama Kak Nuya
 
Biasanya saya dan teman-teman akrab memanggilnya Kak Nurul atau Kak Nuya. Kak Nuya merupakan alumni Sapta Garuda Adikara (Saptraka) yang sempat terlibat dalam keanggotaan OSIS Diwakara Balasena sebagai Sie. Bela Negara. Kini, beliau berkuliah di Universitas Indonesia jurusan komunikasi dan sedang menduduki semester ke 5.
Di tengah kesibukannya, Kak Nuya bisa dibilang cukup sering main ke Labsky. Beliau masih aktif keanggotaannya dalam LAMURU (Labsky Community Drum) sebagai LAMURU All Star bersama keempat rekannya dan akhir-akhir ini sedang sibuk mengurus acara pementasan drama Sky Lite 2012 sebagai director. Kak Nuya mendapat banyak pelajaran selama bersekolah di Labschool. Banyak kegiatan yang menyibukkan diri dalam hal positif yang berguna untuk kehidupan, seperti TO, BINTAMA, dll. Selain itu, menurut Kak Nuya, Labschool memiliki lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan kreatifitas siswa-siswinya, sehingga banyak bakat yang terasah. Sampai saat ini, Kak Nuya juga menjadi lebih terbiasa dengan bekerja dalam waktu singkat dan berada di bawah tekanan. Ketika memasuki universitas pun, Kak Nuya menjadi terbiasa dengan tugas yang banyak dan kepanitiaannya di organisasi kampus. Intinya, Labschool mampu membina karakter dengan baik. 

Di balik semua kelebihan Labschool, terdapat pula kekurangannya di mata Kak Nuya. Menurut Kak Nuya, Labschool harus lebih bisa menjaga kebersihan lingkungan sekolahnya, seperti kantin, toilet, dll. Pramubakti juga harus lebih menjaga sikap dengan siswa-siswi. Dalam mengatur jadwal kegiatan sekolah, seharusnya tidak dibuat berentetan, sehingga terkesan terburu-buru di suatu momen dan akhirnya akan keteteran. Setelah kegiatan berakhir, murid-murid pun menjadi tidak ada kerjaan sama sekali. Kekurangan berikutnya, ditujukan kepada guru-guru yang kurang mendukung program kerja OSIS. Terkadang OSIS sudah membuat program baru yang bersifat positif, namun sayangnya guru-guru tidak menyetujui dan kurang mendukung program tersebut. Kemudian, Kak Nuya menyampaikan keluhannya tentang pembayaran SPP. Murid-murid membayar dengan harga yang cukup mahal, namun sarana dan prasarana yang tersedia belum cukup memadai, seperti tempat parkir yang sempit dan koneksi internet (wifi) yang lemah.

Gambaran tentang Labschool dari ketiga narasumber ketika mereka masih menduduki bangku SMA kurang lebih sama dengan apa yang saya rasakan sekarang. Semoga adik-adik angkatan 12, 13, 14, 15, 20, 30, 50, dan seterusnya dapat membuat perubahan serta menghilangkan hal-hal negatif dan meneruskan hal-hal positif yang telah lahir sejak dulu, sehingga Labschool mampu menjadi sekolah yang bergerak ke arah yang lebih maju. Labschool, Jaya! Jaya! Jaya!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar