Jumat, 21 September 2012

Tugas 2 - Plus Minus Labsky

Mereka yang Sudah Merasakannya

Sebagai salah satu SMA unggulan di Jakarta, SMA Labschool Kebayoran yang biasa disebut Labsky ini sudah meluluskan banyak siswa-siswi dengan prospek dan pengalaman yang matang. Begitu banyak alumni yang berhasil mewujudkan cita-cita mereka setelah lulus dari Labsky. Segelintir orang masih belum mengetahui apa yang menjadi rahasia Labsky sehingga dapat menciptakan generasi penerus Indonesia yang baik. Labsky membiasakan siswa-siswinya untuk menjunjung tinggi solidaritas, kebersamaan, kedisiplinan, pemikiran matang dan profesionalisme dalam bekerja.
Kami yang masih bersekolah di Labsky belum dapat merasakan manfaat dari rangkaian kegiatan yang ada di Labsky dalam dunia yang sebenarnya. Malah-malah tidak sedikit yang merasa capek, jenuh, atau galau karena hebohnya aktivitas yang ada. Termasuk saya. Karena itu saya mewawancarai 3 alumni labsky yang sudah merasakan langsung plus-minus SMA Labsky dan manfaatnya. Dengan mengerjakan tugas ini, saya juga bisa mencari motivasi dari alumni untuk selalu semangat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada di SMA Labsky.

1.       Tazkia Edelia


Kak Tazkia Edelia, yang dipanggil dengan sebutan akrab Kak Tazki, merupakan alumni SMA Labschool Kebayoran angkatan ke empat, Catur Tunggal Perkasa (CATRUKA). Lahir pada tanggal 16 Januari 1990, Kak Tazki sudah memupuk pengalaman selama 22 tahun yang sangat menarik. Terutama ketika ia bersekolah di Labsky.  Ia merupakan mantan pengurus OSIS Seksi Olahraga dan juga anggota ektrakurikuler PALABSKY dan Futsal Putri. Saat ini Kak Tazki masih menempun pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.
18 September 2012, saya menerima kabar kedatangan Kak Tazki ke sekolah pada esok hari. Dari awal saya memang ingin mewawancarai beliau namun tidak pada waktu dekat. Mengingat kesibukan kedua pihak, kapan lagi kira-kira saya bisa bertemu Kak Tazki? Sayapun memutuskan untuk mewawancarainya langsung dan membuat daftar pertanyaan yang cukup dadakan. Ternyata Kak Tazki sendiri langsung mengiyakan permintaan saya untuk mewawancara.
Angkatan Catur Tunggal Perkasa termasuk salah satu angkatan yang unik dan legendaris di Labsky, karena angkatan inilah yang pertama kali mengadakan program kerja OSIS terbesar saat ini yaitu Sky Avenue. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih Kak Tazki sebagai narasumber. Ia terlibat langsung dalam lika-liku perencanaan perdana Sky Avenue tersebut. Begitu pula dengan PALABSKY angkatan empat yang biasa disebut An Cleva Terra (AT), yang juga mengadakan program kerja Eksplorasi dengan tujuan ke Gunung Semeru untuk pertama kalinya. Kepala Sekolah saat itu, yaitu Bapak Anggoro, mengizinkan kedua program tersebut dengan catatan orang tua murid tidak keberatan. Seluruh halangan dapat diatasi karena maraknya dukungan dari pihak sekolah dan POMG akan keberanian untuk mencetuskan kedua proyek besar ini.
Dalam kehidupannya semasa SMA, kegiatan yang paling berkesan bagi Kak Tazki adalah ekstrakurikuler PALABSKY. Terasa efek dari organisasi PALABSKY, karena selain kita berorganisasi kita juga sudah pasti menjadi panitia dari rangkaian program kerja yang kita buat. Sementara di OSIS, kita menjadi pengurus namun belum tentu kita menjadi panitia dalam setiap proker. Pengalaman yang diterima menjadi lebih banyak dengan adanya rolling susunan kepanitian yang berbeda dalam setiap program kerja. Kemudian dalam dunia perkuliahan akan terlihat seberapa aktif seseorang pada masa SMA-nya dan seberapa banyak pengalamannya dari cara bicara, keberanian untuk mengungkapkan pendapat, serta inisiatif. Hal-hal tersebut selalu diperhatikan oleh lingkungan perkuliahan dan membuat orang sadar akan pribadi kita. Apalagi kalau ada orang atau senior yang mengenal kita, bisa saja mereka ingat kinerja kita dan keaktifan kita ketika SMA dan mereka dapat merekomendasikan kita untuk masuk kedalam kepanitiaan kampus atau semacamnya. Siklus ini akan berjalan terus dalam kehidupan dan menitik-beratkan koneksi yang di dapat dari partisipasi berbagai kegiatan. Seluruh pengalaman yang kita dapat dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat kita masukkan ke dalam Curriculum Vitae sehingga mempermudah kita dalam mencari pekerjaan.
Bagi Kak Tazki, Labsky memberi kesempatan dan kebebasan siswa-siswinya dalam berkreasi dengan organisasi. Namun memang masih ada saja masalah-masalah pribadi yang terselip, misalnya kecocokan guru dengan murid yang pada umumnya memang tidak jarang terjadi. Untuk fasilitas, jelas saat ini fasilitasnya sudah sangat berkembang di banding angkatan Catur Tunggal Perkasa. Dulu Labsky tidak menggunakan layanan wifii dan jika dibandingkan dengan angkatan pertama dulu (ketika itu Kak Tazki bersekolah di SMP Labschool Kebayoran) bisa dibayangkan rasanya bersekolah di dampingi ayam-ayam yang lucu. Sekolah hanya ada bagian depan, ruang tata usaha, ada ruang guru SMA di belakang, gedung berlantai 2 dan belum ada gedung SMA yang dibelakang dan masih penuh dengan terpal. “Sekarang ini fasilitasnya udah enak.” ujar Kak Tazki.
Salah satu kegiatan yang berpengaruh dalam pembentukan karakter adalan Trip Observasi. Dalam kegiatan ini, menurut Kak Tazki, manfaatnya lebih menitikberatkan ke sosialisasi dengan masyarakatnya karena rangkaian kegiatannya merupakan “social project”. Selanjutnya yang membedakan Labsky dengan sekolah unggulan lainnya adalah proses seleksi pengurus OSIS. Di tempat lain kita mendaftar untuk jadi OSIS kemudian diwawancara atau menjalani tes sederhana. Namun di Labsky hal ini memiliki proses dan dalam proses itu diisi dengan materi kepengurusan organisasi. Jadi andaikata ada peserta seleksi yang gagal, mereka tetap sudah menerima pengetahuan organisasi dari materi yang diberikan dalam Latihan Kepemimpinan Siswa dan juga praktek di Tes Potensi Organisasi. Ini sangat bermanfaat di perkuliahan karena Kak Tazki sendiri saat ini banyak sekali mengerjakan presentasi dan pembuatan proposal.
“Saya kurang tahu keadaan sekarang gimana, tapi dulu saya merasa siswa mendapat kebebasan berkreasi meski dalam pengawasan pihak sekolah. Saya harap ini tidak berubah dan jangan sampai sekarang jadi terlalu banyak peraturan sehingga siswa jadi takut atau malah tidak mau maju dan berhenti berkreasi.”
Mengakhiri wawancara dengan Kak Tazki, ia secara pribadi mengatakan bahwa ada baiknya kita banyak berlatih ketika SMA dan merasakan kegagalan agar kita bisa belajar dari sekarang. Dan ketika kita sudah terjun ke dunia bisnis nanti kita sudah mengerti betul apa-apa saja yang harus kita lakukan.

2.       Cahyo Tri Afianto
Jujur, ini adalah wawancara dengan narasumber yang paling tidak karuan bagi saya. Pada waktu itu komunitas Lamuru mengadakan buka puasa bersama.  Kak Cahyo sendiri merupakan anggota Lamuru dari angkatan Sembilan, Nawa Drastha Sandyadira yang kerap disebut angkatan Nawastra. Mulanya saya ingin mewawancarai beliau pada acara tersebut, namun ternyata tidak kondusif melihat betapa riuh suasananya. Akhirnya saya hanya foto dengan Kak Cahyo, kemudian melakukan wawancara melalui Blackberry Messenger.  Termasuk alumni baru lulusan 2012, saat ini Kak Cahyo tengah menempuh pendidikan Audio Engineering di SAE Institute Jakarta. Apa yang membuat saya memilihnya sebagai narasumber adalah karena Kak Cahyo terkenal dengan hobinya di bidang fotografi dan telah mendokumentasikan hampir seluruh acara Labsky semasa sekolahnya dulu. Ketika saya bertanya dengan serius, bagaimana pendapat Kak Cahyo tentang Labsky, ia menjawab “Seru kok, apalagi kalo ngegosipin orang.” Saya tau kemana arah pembicaraan ini, maka saya segera mengganti pertanyaan.
Banyak sekali kegiatan di SMA Labschool yang sangat berkesan bagi Kak Cahyo, seperti Trip Observasi misalnya. TO merupakan kegiatan yang selalu disebut ketika berbicara mengenai pengalaman di Labsky. 5 hari bersama teman-teman di daerah pedesaan menjadi pengalaman yang sangat berharga karena selain bersosialisasi dengan penduduk, Kak Cahyo menjadi kenal dan dekat dengan teman-teman sekelompoknya. Kemudian kegiatan Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa atau Bintama. Makan prasmanan, mandi balapan, wc duduk, dan mendayung perahu menjadi aktivitas yang tidak terlupakan dari Bintama. Apalagi Kak Cahyo bercerita tentang senior dari Nawa Drastha Sandyadira, yaitu Kak Diannisa, yang di kerjai beramai-ramai karena ulang tahun. “Bintama enak sih, kayak summer camp.” tambahnya.
“Kelebihan labsky menurut gue fasilitasnya oke, guru-gurunya friendly, terus ceweknya cantik-cantik.” Hampir saya menyerah mewawancarai beliau. Tetapi Alhamdulillah saya berhasil membuat Kak Cahyo menjabarkan pendapatnya itu. Menurutnya,  fasilitas di SMA Labschool lengkap dan sangat membantu dalam proses belajar dibandingkan dengan apa yang ada di sekolah lain. Memang saya sendiri banyak menemukan fasilitas di Labsky yang tidak ada di tempat lain. Tidak hanya fasilitas, Labsky juga menjunjung tinggi character building dan tidak hanya akademis saja. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kegiatan-kegiatan pembentukan karakter yang diwajibkan Labsky untuk siswa-siswinya. Selanjutnya tidak banyak pula sekolah yang memiliki pengajar berkualitas yang bisa akrab dengan siswa. Guru-guru di Labsky sangat memperhatikan murid dan selalu mendampingi dalam setiap kegiatan eksternal maupun internal. Juga kadang-kadang enak untuk diajak curhat. Namun tak ada gading yang tak retak. Serangkaian kegiatan di SMA Labsky juga membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga bagi siswa-siswinya. Tidak jarang Kak Cahyo dan teman-teman terpaksa pulang malam untuk mengurusi banyak hal yang berkaitan dengan kegiatan baik akademis maupun non-akademis, apalagi kegiatan tersebut dipungut biaya seperti iuran panitia. Ditambah lagi dengan selingan-selingan seperti seminar atau kumpul-kumpul komunitas. Ada baiknya jika kegiatan selingan itu di minimalisir mengingat sudah begitu banyaknya kegiatan yang ada, menurut Kak Cahyo.
Pengalaman apapun pasti ada manfaatnya. Seperti TO, kita jadi terbiasa untuk hidup susah tidak seperti dirumah yang sudah ada pembantu atau supir. Kegiatan rutin seperti Lari Pagi Jumat juga menjadi selingan yang baik dalam kegiatan belajar-mengajar, banyak sekali siswa-siswi cedas Indonesia yang kurang sehat atau tidak memiliki stamina. Kak Cahyo sendiri telah merasakan manfaat dari kegiatan Labsky, bahkan kegiatan-kegiatan yang sepertinya sepele itu. Mengakhiri wawancara ini, Kak Cahyo berpesan secara pribadi kepada saya untuk mencoba mengedit hasil wawancara ini, supaya terlihat lebih “manusiawi” katanya.

3.       Heza Failasuf Akbar
Narasumber saya yang terakhir adalah Kak Heza Failasuf Akbar yang biasa dipanggil Kak Heza. Seperti Kak Cahyo, Kak Heza adalah alumni SMA Labsky tahun 2011 angkatan Nawa Drastha Sandyadira. Ia merupakan mantan pengurus OSIS Dranadaraka Wirasaka, Seksi Dana dan Logistik. Saya kenal dengan Kak Heza juga melalui ekstrakurikuler PALABSKY. Selain anggota OSIS dan PALABSKY, Kak Heza juga merupakan anggota komunitas Pemeriah ketika SMA dulu. Saat ini Kak Heza merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung.
Menurut Kak Heza, banyak sekali  program-program non akademik yang sangat bagus di Labsky. Memang pada mulanya banyak siswa yang merasa jenuh dengan rangkaian kegiatan yang ada di Labsky, namun manfaat dari itu belum terlihat sampai waktunya tiba. Program-program di Labsky bertujuan untuk pengembangan softskill yang kedepannya sangat dibutuhkan terutama dalam dunia kerja. Dari sejak di Labsky, siswa dan siswi diberikan pengarahan sedemikian rupa sehingga memiliki kesigapan dan profesionalisme dalam bekerja. Jadi ketika kita lulus dari SMA, kita sudah siap dan matang untuk menghadapi masalah dunia yang sebenarnya. Hal inilah yang menjadi poin terkuat yang dimiliki oleh alumni-alumni SMA Labschool Kebayoran. Dan Labsky sendiri memiliki fasilitas yang mendukung untuk menunjang program-program tersebut.
Di sisi lain banyaknya program-program juga mempengaruhi kondisi mental siswa. Apalagi bagi siswa yang terdaftar sebagai anggota dalam suatu organisasi yang ada di Labsky, otomatis harus bekerja lebih keras lagi. Waktu efektif Kak Heza untuk belajarpun semakin sedikit. Belum lagi Kriteria Ketuntasan Minimal di Labsky sangat tinggi meskipun dengan soal yang lebih sulit di bandingkan sekolah-sekolah lain. Namun jika kita memiliki tanggung jawab dan manajemen waktu yang baik, masalah ketuntasan nilai tidak akan jadi masalah sekaligus tetap aktif dalam kegiatan organisasi.
Dari wawancara yang saya lakukan dengan ketiga alumni tersebut, saya dapat memahami bahwa saya tidak boleh merasa lelah dan jenuh dengan apa yang saya lakukan di Labsky ini. Tidak ada pengalaman yang tidak berharga dan manfaat dari seluruh pengalaman tersebut  akan terlihat setelah saya terjun ke dunia nanti. Akhir kata, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan hasil wawancara ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar