Sabtu, 22 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Labsky

SMA Labschool Kebayoran di Mata Para Alumni SAPTRAKA

            Siapa sih yang tidak kenal dengan Labschool? Labschool merupakan salah satu sekolah swasta terbaik di Jakarta, bahkan di Indonesia. Dari awal berdirinya (pergantian nama secara resmi) di Rawamangun pada tahun 1999, sampai berdirinya di Kebayoran pada tahun 2001, Labschool selalu menjadi sekolah andalan bagi anak-anak remaja yang ingin menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh sampai cita-citanya tercapai, serta menjadi panutan bagi sekolah-sekolah lain. Namun apa yang membuat Labschool Kebayoran sangat 'spesial'?


            Labschool Kebayoran, khususnya SMA, memiliki berbagai kegiatan yang menyenangkan dan jarang ditemui di sekolah lain, seperti Trip Observasi (TO) dan Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa (BINTAMA). Selain itu, kegiatan-kegiatan sekolah yang sering kita temui di sekolah lain, seperti Masa Orientasi Siswa (MOS), Pesantren Kilat, dan Studi Lapangan, dibuat menjadi lebih menarik. Kegiatan-kegiatan tersebut memiliki 1 tujuan, yaitu memberi pembelajaran untuk membentuk kepribadian siswa serta membentuk sifat kepemimpinan yang baik. Selain itu, Labschool Kebayoran memiliki lokasi yang sangat strategis, tepatnya di Jalan K. H. Ahmad Dahlan No. 14, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sehingga banyak siswa yang ingin bersekolah di Labschool Kebayoran.

            Setiap sekolah tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan tersebut bisa dilihat dari fasilitas sekolah, metode pengajaran, metode pembelajaran, etika para siswa, keterlibatan siswa dalam lingkungan sekitar, nilai akademik, maupun non-akademik siswa, serta prestasi siwa di luar sekolah. Intinya adalah, baik atau tidaknya suatu sekolah, ditentukan oleh masyarakat-masyarakat sekolah tersebut, terutama siswa-siswinya.

           Untuk mengetahui lebih dalam mengenai kelebihan dan kekurangan dari SMA Labschool Kebayoran, saya memutuskan untuk mewawancarai 3 alumni yang cukup dekat dengan saya. Mereka bertiga adalah Kak Bagus Joko Puruitomo, Kak Denita Biyanda Utami, dan Kak Raihan Arlan Ananda dari angkatan ke-7, yaitu angkatan Sapta Garuda Adhikara, atau lebih dikenal dengan singkatan 'SAPTRAKA'.

Lambang angkatan SAPTRAKA

            Sapta Garuda Adhikara (SAPTRAKA) merupakan anagkatan ke-7 yang menempati SMA Labschool Kebayoran, dari tahun 2007 sampai tahun 2010. Sapta Garuda Adhikara sendiri memiliki arti garuda ketujuh yang menguasai langit. Namun, apakah yang membuat angkatan ini sangat berarti bagi SMA Labschool Kebayoran? Mengapa saya memilih 3 orang alumni dari SAPTRAKA untuk diwawancarai? SAPTRAKA adalah angkatan yang paling baik dalam sejarah SMA Labschool Kebayoran, karena angkatan mereka adalah angkatan pertama yang dapat mewujudkan anti-bullying. Oleh karena itu, mereka dapat bersatu, menurut ketiga ketua angkatan, Kak Dyo Aleathea, Kak Richie Lovino, dan Kak Eros Tjokro.

            Narasumber yang saya wawancarai pertama adalah Raihan Arlan Arnanda, yang dilakukan melalui blackberry messenger. Alasan yang membuat saya memilih untuk menanyakan mengenai kelebihan dan kekurangan SMA Labschool Kebayoran adalah karena saya sudah kenal dengan dia sejak saya masih SD. Kak Raihan memiliki persepsi yang berbeda dari ketiga alumni mengenai SMA Labschool Kebayoran. Namun, pendapatnya itulah yang membuat saya ingin menjadikan Kak Raihan sebagai salah satu narasumber untuk tugas ini.

Bukti wawancara dengan Kak Raihan melalui blackberry messenger

            Saat ditanya mengenai kelebihan dan kekurangan SMA Labschool Kebayoran, Kak Raihan menjawab kekurangannya terlebih dahulu dengan sangat antusias. Kak Raihan merasa bahwa ada beberapa mata pelajaran yang seharusnya ditiadakan atau dibuat menjadi pelajaran selektif. Sepertinya, yang Kak Raihan maksud adalah membuat mata pelajaran tersebut menjadi mata pelajaran yang dapat dipilih oleh siswa atau hanya dijadikan sekedar ekstrakurikuler. Mata pelajaran apakah yang dimaksud? Mata pelajaran yang dimaksud adalah bahasa Jepang. Ia menganggap bahwa pelajaran bahasa Jepang agak sulit untuk dimengerti, apalagi dengan banyaknya jumlah pelajaran yang sulit untuk dimengerti.

            Selain masalah mata pelajaran, Kak Raihan menganggap bahwa kegiatan-kegiatan sekolah seperti BINTAMA seharusnya juga menjadi kegiatan yang selektif. Ia lebih setuju apabila kegiatan tersebut hanya diikuti oleh siswa-siswi yang berminat menjadi calon pengurus OSIS dan calon pengurus MPK. Alasannya adalah, kegiatan tersebut terlalu merepotkan baginya. Banyak barang yang harus dibawa dan tidak boleh dibawa. Ia juga beranggapan bahwa belum tentu semua partisipan dari SMA Labschool Kebayoran senang dengan kegiatan tersebut, apalagi mengikutinya selama 5 hari (waktu tahun 2008). Namun, ia tidak mempunyai masalah dengan kegiatan TO.

            Pada awalnya, Kak Raihan berpikir bahwa kegiatan Trip Observasi terlalu memaksakan dan merepotkan siswa, karena banyak sekali yang harus dipersiapkan. Pakaian yang telah ditentukan, nametag yang telah dibuat, tongkat yang telah cat, dan sebagainya. Namun, setelah mengikuti kegiatan tersebut selama 5 hari, ia menjadi salut dengan SMA Labschool Kebayoran karena telah mengadakan kegiatan tersebut. Bahkan, ia juga beranggapan bahwa kegiatan TO merupakan salah satu kelebihan dari SMA Labschool Kebayoran.
"Ada manfaat 2 arah, siswa dan masyarakat desa," katanya.
Siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran dapat mengetahui kehidupan di daerah pedesaan dan masyarakat desa tersebut juga dapat mengetahui kehidupan dan kepribadian pelajar di daerah perkotaan.

            Mengenai para guru SMA Labschool Kebayoran, Kak Raihan berkata bahwa ada satu guru yang "oke banget", yaitu Bu Widya. Dari cara ia mengajar sampai cara ia berinteraksi dengan murid-muridnya. Guru-guru lainpun, selain Bu Widya, sangat akrab dengan murid-muridnya. Hal tersebut ditunjukkan dari keakraban antar guru dan angkatan dalam kegiatan seperti studi lapangan dan bahkan TO saat guru-guru mendampingi murid-muridnya.

            Narasumber berikutnya yang saya wawancarai adalah Bagus Joko Puruitomo. Kakak yang sering disapa 'Bajok' ini merupakan salah satu siswa yang meninggalkan kesan yang sangat baik terhadap SMA Labschool Kebayoran. Kontribusinya terhadap SMA Labschool Kebayoran sangat banyak, terutama di bidang non akademis. Skylite merupakan salah satu kegiatan yang diciptakannya bersama anggota OSIS kesenian lainnya. Selain itu, ia juga berpartisipasi dalam suatu komunitas yang paling diminati dan dikagumi siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran, yaitu LAMURU. Sampai hari inipun, Kak Bajok masih sering mengunjungi SMA Labschool Kebayoran untuk melihat latihan dan penampilan LAMURU.

Bersama narasumber, Kak Bagus Joko

            Menurut Kak Bajok, yang membuat SMA Labschool Kebayoran diminati oleh siswa-siswi seJabodetabek adalah kegiatan non akademisnya. Kegiatan non akademis, seperti TO dan BINTAMA, sebenarnya merupakan kegiatan yang seru. Banyak manfaat dan pelajaran yang bisa diambil. Namun, kegiatan tersebut tidak harus dalam bentuk acara. Berpartisipasi dalam OSIS dan atau LAMURU juga merupakan kegiatan non akademis yang menyenangkan.
"Lamurunya sabi gila. Organisasinya juga cakep," seperti yang dikatakan Kak Bajok.
Meskipun kegiatan-kegiatan tersebut masih kurang dalam memberikan pengetahuan serta pembelajaran, kegiatan tersebut sudah sangat cukup dalam memberikan pembekalan untuk masa depan, khususnya untuk di universitas.

            Lingkungan SMA Labschool Kebayoran ia anggap "sehat". Selain lingkungan dalam dan luar sekolah bersih dan hijau, lingkungannya secara moral juga sehat. Siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran tahu bagaimana bersikap yang baik dan sopan. Apalagi, antara junior dan senior. Sekolah lain yang terletak di sekitar SMA Labschool Kebayoran sering mengalami masalah dengan siswa-siswinya, terutama masalah dalam batasan antara senior dan junior. Siswa-siswi yang sudah dianggap senior seringkali melakukan tindakan yang tidak lazim kepada adik kelasnya. Dengan adanya 'anti-bullying' di SMA Labschool Kebayoran, hal itu tidak akan terjadi. Siswa-siswi yang sudah menjadi senior boleh dan sangat disarankan untuk menjadi akrab dengan para siswa baru.

            Saat ditanya mengenai kekurangan SMA Labschool Kebayoran, saya sempat bingung. Saya sempat bingung karena kekurangan yang disebutkannya terdengar seperti kelebihan. Kekurangan dari SMA Labschool Kebayoran bagi Kak Bajok adalah murid-muridnya, serta pergaulannya, yang bersifat homogenitas. Ia beranggapan bahwa sifat homogenitas tersebut membuat murid-murid SMA Labschool Kebayoran semakin sulit untuk move on dari SMA.
"Jadi pengen SMA terus," katanya.
Padahal, di dunia perkuliahan, banyak sekali aspek yang berbeda dengan yang ada di SMA Labschool Kebayoran. Oleh karena itu, masa-masa SMA di Labschool Kebayoran harus sangat dinikmati.

            Kak Bajok menyimpulkan semua jawabannya dalam bentuk saran. Ia menyarankan agar murid-murid SMA Labschool Kebayoran lebih dipersiapkan untuk dunia perkuliahan nanti. Pembentukan karakter di SMA sangat penting untuk menentukan kesiapan dalam menghadapi dunia perkuliahan. Menghadapinya juga harus dengan semangat. Masih menanamkan nilai Labschool, tetapi eksis di kalangan mahasiswa. Saran kedua darinya adalah pembentukan grup debat. Saya sangat setuju dengan sarannya yang satu ini. Menurutnya, banyak siswa SMA Labschool Kebayoran yang memiliki potensi untuk berdebat, bahkan bisa memenangkan lomba debat di sekolah manapun. Ia sangat menyayangkan hal tersebut, karena ada suatu acara yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yaitu 'ECOMP', di mana siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran berpotensi untuk memenangkan lomba debat di acara tersebut. 

            Narasumber yang terakhir saya wawancarai, lebih tepatnya yang terakhir kali ingin menjawab pertanyaan saya, adalah Denita Biyanda Utami. Kakak yang sering saya dan teman-temannya sapa 'Denden', tetapi lebih sering dikenal dengan nama panggilan 'Denita' di kalangan guru, merupakan salah satu murid yang dikenal oleh para guru SMA Labschool Kebayoran karena kepintaran dan kepandaiannya. Alasan yang membuat saya memilih untuk menanyakan mengenai kelebihan dan kekurangan SMA Labschool Kebayoran adalah karena partisipasinya dalam kegiatan-kegiatan di SMA Labschool Kebayoran dan karena dia adalah kakak saya sehingga mudah dihubungi. Saya juga sudah sering mendengar mengenai SMA Labschool Kebayoran waktu saya masih duduk di bangku SMP.

Bersama Denita setelah membicarakan mengenai plus-minus Labsky

           Denita awalnya memilih SMA Labschool Kebayoran karena ia ingin belajar di tempat yang nyaman dan terbukti prestasinya. Denita juga merasa bahwa lokasi SMA Labschool Kebayoran sangat strategis, sehingga ia tidak akan kesulitan dalam hal transportasi. Ia juga telah melakukan banyak hal di SMA Labschool Kebayoran, terutama hal-hal di luar bidang akademik. Ia terlibat dalam kepanitiaan kesekretariatan Sky Battle 2008 dan Sky Battle 2009, dipercaya menjadi ketua dalam kegiatan Jakarta in Global 2009, dan partisipasinya yang paling membanggakan, bagi saya sebagai adik, adalah menjadi koordinator bidang edukasi dalam OSIS Diwakara Balasena.

Denita saat menjabat sebagai OSIS edukasi (paling tengah)
Denita saat menjadi ketua JIG 2009

            Saat saya berbicara dengan Denita mengenai tugas sejarah yang harus saya lakukan dan selesaikan sebelum UHT, dia bersedia untuk menjawab pertanyaan saya. Sebenarnya, saya hanya menanyakan satu pertanyaan yang singkat dan sederhana,
"Menurut Denden, kelebihan dan kekurangan Labsky apa aja sih? Kalau ada saran juga boleh disampaikan."
Lalu, Denita menjawab pertanyaan tersebut dengan sejujur-jujurnya. Denita sangat detail dalam menjawab pertanyaan tersebut, walaupun kekurangan yang ia sebutkan hanya sedikit.

            Selama belajar di SMA Labschool Kebayoran, ia merasa bahwa kegiatan non akademisnya cukup banyak dan sangat bermanfaat untuk kuliah. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan seperti TO, BINTAMA, dan LAPINSI. Di kegiatan-kegiatan tersebut, yang alhamdulillah telah saya ikuti, kita diajarkan bagaimana mengatur waktu yang baik, bagaimana bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda dengan kita, bagaimana kita harus bersikap di masyarakat dan bagaimana caranya untuk memimpin orang-orang, terutama adik kelas, agar mereka mau bersikap dengan baik dan mau menghormati yang lebih tua. Kegiatan organisasi di SMA Labschool Kebayoran juga membuatnya semakin ingin berorganisasi. Sekarang, Denita menjabat sebagai sekretaris bidang 1 dalam suatu organisasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (kelas Internasional), yaitu STUNICA.

Denita bersama teman-teman kuliahnya (barisan paling belakang, paling tengah)

            Mengenai hal pembelajaran dan pengajaran, Denita merasa bahwa guru-guru Labschool Kebayoran sangat baik dalam memberikan materi. Guru-guru SMA Labschool Kebayoran juga sangat akrab dengan murid-muridnya, sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang efektif.
"Serius tapi tetap santai," seperti yang dikatakan Denita.
Denita juga tidak merasa tertekan belajar di SMA Labschool Kebayoran. Walaupun ia terlibat dalam OSIS, serta kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah, yang memungkinkan dirinya untuk tertinggal banyak pelajaran, dia tetap serius dan dibawa santai dalam menjalankan pendidikannya.

            Kekurangan yang dapat didentifikasi oleh Denita hanya 1, yaitu jam masuknya. Pada saat Denita masih duduk di bangku SMA Labschool Kebayoran, dia merasa bahwa jam masuknya terlalu pagi, yaitu pukul 06.30 WIB. Namun, setelah saya beri tahu bahwa jam masuk SMA Labschool Kebayoran untuk Senin sampai Rabu telah dimundurkan menjadi pukul 07.00 WIB, dia merasa lega. Waktu ia masih duduk di kelas 11, ia dan beberapa temannya, tepatnya hampir lebih dari setengah angkatan, pernah terlambat. Keterlambatan tersebut diakibatkan oleh kondisi Bintaro dan Serpong yang sedang banjir, sehingga jalanan menjadi padat dan susah untuk berkendara ke daerah Jakarta Selatan.

            Sama seperti Kak Bajok, Denita juga meninggalkan saran untuk SMA Labschool Kebayoran. Denita menyarankan agar kegiatan non akademis diperbanyak, apalagi kegiatanyang bermanfaat untuk dunia perkuliahan nanti. Sebagai mantan OSIS, Denita juga merasa bahwa para senior harus lebih giat dalam membimbing adik-adiknya dalam kegiatan non akademis. Selain itu, Denita juga menyarankan agar jumlah alumni yang diundang ke acara career day pada bulan Desember diperbanyak. Orang tua yang dijadikan pembimbing dalam career day lebih banyak memberikan pengetahuan tentang dunia pekerjaan, bukan dunia perkuliahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar