Senin, 17 September 2012

Tugas 2- Plus Minus Labsky


SMA Labschool Kebayoran merupakan salah satu dari cabang Labschool yang awalnya bernama IKIP. Labschool Kebayoran biasa dipanggil dengan sebutan labsky didirikan pada tahun 2001 berdiri pada tahun 2001 dan menempati bekas gedung SGO (Sekolah Guru Olahraga). Pendirian sekolah ini didasarkan pada peminat SMA Labschool Jakarta yang cukup banyak berdomisili di sekitar Jakarta Selatan, untuk memudahkan mereka, maka dibangunlah sekolah ini pada tahun 2001. Selama kurang lebih 11 tahun sekolah ini berdiri, SMA Labschool Kebayoran telah menanamkan benih-benih kepemimpinan, kesolideritasan, dan kadadarisasi yang tinggi kepada alumni dan siswa-siswi yang masih bersekolah.
Dalam rangka mengerjakan tugas sejarah yang bertopik nilai positif dan negatif sekolah di Labsky dan hubungannya dengan kemanfaatannya dalam perkuliahan dan/atau dunia kerja saya mewawancarai tiga alumni yaitu Eka Hastari, Mirza Malik, dan Nabiella Dessiany Wibisono Tentunya mereka memeliki pengalaman yang beda dengan satu antar lain.
Hasil wawancara telah saya paparkan dalam bentuk narasi sebagai berikut.

Eka Hastari


Pada kesempatan yang lalu saya mewawancara kak Eka Hastari dari angkatan 9 Nawastra. Berhubung dengan rutinitas kak Eka yang cukup padat, kami tidak berskesempatan untuk bertemu. Berkat teknologi yang canggih saya melaksanakan interview melalui video call via Skype.
Kak Eka yang sudah bersekolah di Labschool Kebayoran selama tiga tahun sewaktu smp, membuatnya ingin mencoba melanjutkan studi nya di sekolah yang berbeda dengan suasana yang berbeda juga. Bisa dibilang Labschool bukan lah pilihan sekolah pertama kak Eka, namun kegagalan nya masuk SMA Taruna Nusantara membuat kak Eka berniat masuk ke Labsky.
Pandangan pertama kak Eka mengenai Labschool adalah kegiatan organisasi nya. Dengan tekad bulat ia ingin menjabat sebagai ketua bidang disingkat kabid dari hari pertama menginjakan kaki di Labshcool Kebayoran.
Perjuangan menggapai posisi tersebut tentu tidak mudah. Pertama-tama harus mencalonkan diri menjadi ketua umum, walaupun sebenarnya ingin menjadi kabid. Calon-calon ketum kemudian di wawancara dan disaring menjadi 5 calon. Pemilihan ketua osis bersifat umum, rahasia, dan demokratif yang berarti seluruh siswa dan siswi wajib dan berhak untuk memilih.  Dengan vote lebih dari 50% Nabel Ihsan Muhammad terpilih sebagai Ketua umum dan memilih kak eka untuk mengkoordinir Bidang 2 osis Dranadaraka Wiraksaka. Bidang dua mencakup seksi Dana dan Logistik (danlog), Kesenian (seksen), Kesehatan dan kemasyarakatan (kesmas). Posisi nya ini tentu tidaklah mudah, disamping mengurus kegiatan osis, Kak Eka harus beradaptasi dengan rutinitas nya yang baru berhubung ia memilih jurusan IPA. Maka dari itu, dibutuhkan pengaturan waktu yang efektif.
Selama setahun menjadi pengurus osis, merupakan tahun yang sibuk tetapi dalam kesibukan nya itu terselip kesenangan dan banyak pelajaran yang berharga. Menjalankan program kerja merupakan sesuatu yang menantang.
“Aku paling suka Skylite, soalnya skylite bener-bener dari kreativitas anak Labschool nya sendiri, paling ada campur tangan dari alumni aja buat bantu bikin lagu, koreo dan gak foya-foya”
Kak Eka menjelaskan maksud foya-foya disini tidak seperti pensi, menurutnya pensi saat ini sudah melenceng dari tujuan utama nya, karena sekarang pensi kurang menunjukan kreativitas dari murid nya sendiri. Patokan sukses nya pensi hanya dilihat dari banyak nya penonton dan total keuntungan.
Sayangnya, karena terlalu banyak kegiatan di Labschool, kak Eka merasa menjadi terlalu terikat dengan lingkup yang sama dan pergaulan nya hanya  tidak seluas jika ia bersekolah di sekolah lain. Hal tersebut berpengaruh juga dengan faktor banyak nya murid SMP labsky yang sekolah di Labsky lagi.
Menurut nya bersekolah di Labschool sangat berpengaruh positif bukan hanya di bidang akademik, tetapi pada bidang lain nya juga. Ilmu-ilmu baru yang didapatnya diambil dari program seperti Bintama, TO, Lapinsi, dan program lain nya.
Trip Observasi (TO) merupakan program favorit kak Eka. Dengan adanya TO, murid Labschool yang tinggal di perkotaan dapat merasakan bagaimana tinggal di pedesaan dan lebih memperluas pengetahuan tentang kehidupan luar. Lima hari bersama-sama di pur wakarta benar-benar mendekatkan diri tidak hanya angkatan sendiri juga dengan angkatan diatasnya selaku pendamping.
Kemudian ada Bina Mental Kepemimpinan Siswa (Bintama). Sesuai dengan nama, disini murid dilatih mental dan fisik dengan kopassus. Seperti murid lain nya kak Eka tidak terlalu gemar dengan program ini, tetapi ia mengakui bintama sangat melatih kadarisasi, dan kekompakan dengan angkatan nya sendiri sehingga angkatan nya makin solid.
Di setiap sisi positif pasti ada hal negatif nya juga. “Aku suka ngerasa guru-guru nya kurang disiplin, jadi suka banyak yang gak masuk jadi nya aku suka gak ngerti pelajaran” ujar kak Eka. Dalam menghadapi ini, kak Eka memberi saran untuk sering-sering bertanya ke guru jika ada masalah karena guru-guru di Labschool itu sangat peduli dengan murid nya dan juga harus tetap aktif. Masalah ini sangat terasa di kuliah. Banyak dosen yang tidak peduli apakah murid nya mengerti atau tidak, jadi kita nya sendiri yang harus aktif.
Setelah lulus dari Labsky, kak Eka Hastari melanjutkan studi nya  di Institut Teknologi Bandung.  

Mirza Malik

Beberapa minggu yang lalu, saya mewawancara kak Mirza Malik di universitas nya sekarang yaitu ITB, Bandung. Kak Mirza lulus dari SMA Labschool Kebayoran pada tahun 2010 dari angkatan Saptraka.
Kak Mirza bercerita bahwa pada awalnya ia ingin masuk ke 70 tetapi kedua orangtuanya tidak mengizinkan nya, sehingga berujung di SMA Labschool Kebayoran karena diantara sekolah swasta lain nya ia merasa Labschool yang paling bagus. Memilih masuk Labschool sama sekali tidak disesali karena di sekolah ini beliau mendapatkan pengalaman yang luar biasa bukan hanya dengan program sekolah tetapi dengan pertemanan yang dibangun.
Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah “Apa hal positif yang dirasakan sekolah di Labshcool?” tanpa berfikir kak mirza langsung menjawab “Guru-guru nya sangat perhatian dan care dengan murid nya, dan gue ngerasa seperti punya mama kedua. Apalagi peran wali kelas yang sangat membantu”. Namun, kak Mirza merasa peran orang tua kedua guru dilabschool terlalu menginterfere kehidupan personal nya. Banyak tanggung jawab yang seharus nya menjadi urusan sendiri, terlalu di urusin dengan guru. Mungkin tujuan nya bagus untuk membimbing muridnya agar berperilaku baik tapi cukup dilungkup sekolah saja.
“TO itu pertama kali gue bertemu dengan masyarakat yang jauh lebih membutuhkan dari gue, kalo gue mikir sekarang seharusnya gue bisa memberi lebih dari itu. Bukan masalah sumbangan nya, tetapi waktu itu kan gue TO cuman dating, tinggal disitu, tapi gak begitu dekat dengan orang tuanya. Jadi seharusnya gue bisa memberi lebih” jawab kak Mirza ketika ditanya mengenai Trip Observasi.
“Gue gatau ada apa dengan Labschool, cuman di beberapa universitas seperti ITB, UI, Prasetya Mulya, Trisakti, itu banyak alumni yang menjadi leader”. Kak Mirza Malik sendiri merupakan ketua Himpunan (kahim) di Sekolah Business Management (SBM) di ITB. Di SBM banyak sekali leader dari alumni Labschool Kebayoran, seperti tahun lalu acara “Golf Turnament” dipegang oleh alumni. Hal ini dibantu oleh  sikap kepemimpinan, kepercayaan diri, dan kedisiplinan yang dibentuk di Labschool.
Menurut beliau, pemimpin itu harus bisa mengambil keputusan yang benar, baik maupun buruk. Selain itu harus bisa efektif dan juga efesien.
Beliau bermotivasi ingin mengubah sistem himpunan di SBM ITB menjadi lebih sehat. Dimulai dari partisipasi masa, keaktifan dari organisasi tersebut, manfaat/dampak yang bisa diberikan. 3 hal tersebut merupakan hal yang ia rasa kurang di himpunan SBM ini.
Sebagai kahim, tugas tugas nya sangat banyak dan rutinitas sehari-hari nya menjadi hectic. Untungnya kak Mirza sudah terbiasa dengan kesibukan, bagaimana menanggapi masalah dengan cepat dari Labschool. “Di Labschool itu pokok nya kebiasa capek deh” ujar nya.
Ketertarikan nya ia dengan dunia politik, membuat kak Mirza bercita-cita menjadi mentri keuangan dengan harapan menaikan ekonomi Indonesia suatu saat nanti.
Saran dari kak Mirza untuk siswa-siswi Labschool adalah untuk mencari kegiatan diluar Labschool, karena link itu sangat penting di dunia perkuliahan dan juga mempererat ikatan dengan alumni.

Nabiella Dessiany Wibisono

Pada acara Skylite’12 yang di gelar di Taman Ismail Marzuki, saya dan beberapa teman saya menginterview  kak Nabiella Dessiany Wibisono. Kak Nabiella Dessiany Wibisono biasa dipanggil dengan panggilan Bibil adalah alumni SMA Labschool Kebayoran dari angkatan Nawastra yang baru lulus tahun ini.
Menurut beliau, tahun pertama adalah tahun adaptasi dan tahun paling banyak kegiatan nya. Karena, ditahun ini semua program benar-benar dijalani. Mulai dari Pilar, Trip Observasi, dan Bintama. Belum lagi tugas-tugas yang banyak karena belum penjurusan. Dari ketiga program itu, yang paling tidak berkesan adalah Pilar, karena biasanya kurang ada partisipasi dari muridnya dan pilar juga tidak dikemas dengan bagus jadinya murid kurang tertarik.
“Labschool gak cuman di akademik atau program TO dkk nya tetapi kegiatan lain nya seperti ekskul, soalnya ekskul nya itu berjalan banget. Apalagi waktu itu aku ikut ekskul tari tradisional dan bisa ikut misi budaya”. Kak Bibil cerita bahwa ikut serta misi budaya itu seru sekali, bisa melihat bagaimana budaya dari berbagai negara. 3 minggu jauh dari rumah juga membuat beliau lebih mandiri. 
Lain lagi di tahun kedua, ditahun ini lebih menekankan kepada kegiatan berorganisasi. Organisasi di Labschool itu beda dengan sekolah yang lain nya, untuk menjadi pengurus dibutuhkan perjuangan yang berat, ada lalinju juga dan fisik harus siap. Kak Bibil merupakan salah satu anggota osis Dranadaraka Wiraksaka seksi Dana dan Logistik.
Tugas nya di seksi Dana dan logistik yaitu mencari uang, menjadi pelajaran yang berharga. Untuk membuat acara dibutuhkan dana yang besar, dan pada realita dana ini tidaklah mudah untuk dicari. Harus memberi proposal ke banyak perusahaan untuk menjadi sponsor. Belum tentu semua proposal diterima dengan baik. Disini kak Bibil belajar untuk tidak gampang menyerah.
Sementara itu, kegiatan berorganisasi sudah tidak dialami lagi di tahun ketiga. “waktu kelas 3 itu bener-bener harus fokus dengan pelajaran, kecuali kalau mau undangan harus dimulai dari semester 3”  katanya.
Setelah lulus dari Labsky, kak Bibil sekarang kuliah di Universitas Atmajaya mengambil jurusan kedokteran. Kesuksesan nya lulus dari SMA dengan nilai yang memuaskan tentu didapat dari Labsky.  
Saran terakhir dari kak bibil adalah pintar-pintar membagi waktu untuk bersosialisasi dan belajar karena saat kuliah akan lebih sibuk dan waktu belajar nya juga harus terorganisir dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar