Sabtu, 22 September 2012

Tugas 2 - Plus Minus Labsky

Labsky di Mata Para Alumni

SMA Labschool Kebayoran. Sebuah sekolah yang didirikan pada tahun 2001 dan berlokasi di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 14, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sekolah ini berdampingan dengan SMP Labschool Kebayoran. Labsky-begitu nama sekolah ini lebih sering dikenal, mempunyai kurang lebih 600-an murid, puluhan guru, dan beberapa staf dan karyawan lainnya.
 
Sekolah ini mempunyai begitu banyak kegiatan dalam rangka penyeimbangan antara akademik dan nonakademik. Ada Masa Orientasi Siswa (MOS) yaitu acara perkenalan dan pengadaptasian murid-murid baru SMA Labschool Kebayoran, Pesantren Kilat Ramadhan (PILAR) yaitu kegiatan keagamaan Islam saat bulan Ramadhan selama 3 hari 2 malam, Pra-Trip Observasi dan Trip Observasi (TO) yaitu tinggal di desa di daerah Purwakarta selama 5 hari di Bulan Oktober, Bina Mental Kepemimpinan Siswa (Bintama) yaitu pelatihan mental dan kedisplinan yang didapat langsung dari Kopassus selama 6 hari, Latihan Kepemimpinan Siswa (Lapinsi) yaitu kegiatan pelatihan kepemimpinan dan salah satu tahap yang harus diikuti untuk bisa menjadi calon pengurus OSIS, Tes Potensi Organisasi (TPO) yang tak lain adalah tes untuk menghasilkan calon pengurus OSIS, Studi Lapangan, dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan tersebut memang sangat menyita waktu dan tenaga. Hal tersebut terkadang pada awalnya membuat sebagian siswa-siswi tidak tertarik, namun tak jarang setelah acara-acara tersebut selesai, para siswa-siswi merasakan manfaat positif dari acara tersebut. Dan ada yang unik dari sekolah ini dalam menyikapi kegiatan-kegiatan tersebut. Karena beberapa kegiatan seperti Pilar, TO, dan Bintama adalah program yang sifatnya wajib, maka semua siswa-siswi kelas 10, mau ataupun tidak mau, suka ataupun tidak suka, harus mengikutinya. Konsekuensi jika siswa-siswi tidak mau mengikutinya di kelas 10, maka mereka harus mengikutinya di tahun berikutnya, berbarengan dengan adik kelas. Begitu juga mereka yang menjadi murid pindahan, mereka tetap memiliki kewajiban untuk mengikuti kegiatan-kegiatan ini.

Selain di bidang kesiswaan, di bidang akademik pun Labsky mempunyai program-program, yaitu kelas akselerasi, matrikulasi untuk kelas 10, pendalaman materi pelajaran penjurusan untuk kelas 11 dan 12, serta remedial.

Biasanya, sesuatu akan sangat berkesan ketika kita tak dapat merasakannya lagi untuk yang kedua kalinya. Apalagi jika sesuatu itu memberikan dampak positif yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dan semua orang pasti mempunyai kenangan-kenangan tentang baik buruknya sesuatu, termasuk almamater mereka sendiri. Untuk itu saya mewawancarai 3 orang alumni dari 3 angkatan yang berbeda untuk menanyakan baik buruknya Labschool Kebayoran di mata mereka.

Yang pertama adalah Kak Dio Aufa Handoyo. Seorang alumni dari angkatan Nawastra (angkatan 9) yang lulus setahun lebih cepat karena mengikuti program akselerasi. Sekarang ia sedang kuliah di jurusan teknik industri Universitas Indonesia.

Bagi Kak Dio-begitu ia biasa disapa, Labsky mempunyai kelebihan yang sangat ia rasakan manfaatnya. Yaitu pendidikan social skill. Menurutnya, Labsky tidak hanya mendidik murid-muridnya dari segi akademik, non-akademik nya pun akan terbentuk dengan baik. Kak Dio sendiri sangat berterimakasih pada Labsky karena sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat karena selalu menekankan kedisiplinan dan ketanggungjawaban. Salah satunya acara yang sangat ia rasakan manfaatnya adalah lapinsi. Materi-materi yang disampaikan pada saat lapinsi diakuinya masih terpakai sampai sekarang, seperti pembuatan proposal dan manajemen organisasi.

               Di tahun 2010, Kak Dio dilantik sebagai Rohani 2 OSIS Drakara. Menurutnya, dengan menjadi pengurus OSIS di SMA, ia belajar bagaimana berorganisasi dan membagi waktu antara belajar, bermain, dan bekerja. Tentu membagi waktu adalah hal yang tersulit, karena sampai sekarang ia masih terus belajar agar dapat membagi waktu dengan baik.
Bersama Kak Dio di SMA Labsky
Selain aktif di kepengurusan OSIS, Kak Dio juga tercatat sebagai salah satu siswa kelas percepatan atau akselerasi. Ia mengakui pada awalnya motivasi ia masuk aksel adalah atas suruhan orang tua, tapi di akhir, ia tidak pernah menyesal masuk aksel. Karena walaupun kelas aksel dirasa kurang berhubungan dengan anak-anak lainnya (dan lulus bersamaan dengan kakak kelas), bisa lulus lebih cepat setahun karena aksel adalah hal yang menyenangkan.

Di setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Kak Dio sendiri merasa bahwa Labsky tidak mempunyai kelemahan atau kekurangan. Namun, ada satu hal yang membuat Labsky terlihat tidak terlalu baik, yaitu ternyata di lingkungan kampusnya, ia mengetahui bahwa image Labsky di mata sebagian orang-orang adalah anak-anak yang borju. Tapi terlepas dari pandangan itu, Kak Dio menganggap bahwa Labsky tidak punya kekurangan. Pesan yang diberikan oleh Kak Dio untuk murid-murid Labsky adalah agar kita menikmati masa-masa SMA yang hanya 3 tahun, karena masa-masa SMA akan sangat dirindukan kelak.

Mewawancarai Kak Anin melalui BBM
Alumni kedua yang bersedia untuk diwawancarai adalah Kak Anindita Sekarsawitri atau yang biasa dipanggil Kak Anin. Alumni dari angkatan Hastara (angkatan 8) ini mengaku menjadi murid SMA Labschool Kebayoran dapat merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. ia menjadi lebih mandiri, karena acara-acara di Labsky, terutama TO, menuntut siswa-siswi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya tidak pernah dilakukan sendirian. Selain itu, biasanya setelah lulus, murid-murid Labsky menjadi lebih bisa berorganisasi. Kak Anin pun merasa demikian, walaupun ia bukan salah satu pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) ataupun MPK (Majelis Perwakilan Kelas) saat berada di SMA Labsky. Itu membuktikan bahwa belajar berorganisasi tidak hanya didapatkan oleh para pengurus OSIS/MPK, semua anak Labsky pun bisa berlajar bagaimana berorganisasi dengan baik, salah satunya karena Labsky mempunyai program Sky Battle dan Sky Ave yang kepanitiannya diambil dari satu angkatan. Hal positif lainnya yang diciptakan saat bersekolah di Labsky adalah pribadi yang kuat mentalnya, karena Labsky mempunyai kegiatan-kegiatan yang sangat banyak, tapi harus tetap mempedulikan akademis, sehingga melatih siswa-siswinya untuk bermental kuat, tidak mudah menyerah. Program Bintama juga menjadi salah satu program unggulan yang membuat mental anak-anak Labsky menjadi lebih kuat, karena dilatih oleh Kopassus selama 6 hari bukanlah hal yang mudah, mental dan tentu fisik siswa-siswi harus kuat. Kak Anin juga mengaku ia menjadi lebih santai dalam menghadapi sesuatu, dan bisa mengorganisir banyak acara.

Dari berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan Labsky, kegiatan yang paling berpengaruh baginya adalah Pra-TO, Bintama, dan kegiatan-kegiatan Palabsky (Pecinta Alam Labsky).

Namun di samping kelebihan, Labsky juga mempunyai kekurangan-kekurangan menurut Kak Anin. Yang pertama adalah acara dan kegiatan yang pelaksanaannya seringkali, bahkan hampir semuanya 'ngaret' atau tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Hal tersebut tentunya membuat murid-murid pun suka ngaret. Selain itu, karena Labsky membuat Kak Anin menjadi lebih santai dalam menghadapi sesuatu, hal itu terkadang membuat dirinya terlalu santai mengerjakan sesuatu (menunda mengerjakan tugas misalnya). Dan ada satu hal lagi yang menjadi kekurangan Labsky di mata Kak Anin, yaitu adanya kubu-kubu yang terbentuk, baik di lingkungan murid, bahkan guru-guru.

Pesan dari Kak Anin untuk murid-murid SMA Labsky hampir sama dengan apa yang diucapkan Kak Dio, yaitu gunakan dan nikmati waktu sebaik mungkin selama SMA untuk mencari pengalaman-pengalaman baru yang positif, selagi masih diawasi oleh guru dan sekolah. Di perkuliahan nanti, pengawasan dari orang lain cenderung lebih jarang. Selain itu, kita harus membiasakan menyeimbangkan antara akademik dan kegiatan non-akademik supaya ketika kuliah juga seimbang, lagi-lagi karena semasa SMA guru masih mengontrol nilai-nilai saat murid-murid sedang mengembangkan sisi non-akademiknya.
Tak lupa, Kak Anin juga memberikan saran untuk Labsky. Menurutnya, Labsky harus memperbaiki kebiasaan ngaretnya, karena bisa berdampak ke perilaku murid-murid. Contoh sederhananya, bagaimana mau mengharapkan murid tidak datang telat ke sekolah sedangkan sekolahnya sendiri suka ngaret? Selain itu Labsky sekarang harus mempunyai sosok yang disegani oleh guru dan murid supaya kualitas guru dan murid meningkat, bukan menurun. Kini Kak Anin sedang menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya semester 3.

 
Alumni terakhir yang bersedia menjadi narasumber adalah seseorang yang namanya mungkin tidak asing di telinga orang-orang Indonesia. Ia adalah Kak Marshanda yang merupakan alumni lulusan tahun 2007, yaitu angkatan Catruka (angkatan 4).
Wawancara melalui SMS dengan Kak Caca
Menurut Kak Marshanda, nilai yang penting yang bisa dibilang 'jempol banget' dari Labsky ada banyak. Contoh yang pertama adalah menjadi disiplin dan belajar melakukannya dengan senang hati. Kegiatan-kegiatan bahkan keseharian di Labsky membentuk pribadi murid-muridnya menjadi disiplin. Hal tersebut akan sangat terasa manfaatnya karena berpengaruh saat ia kuliah dan kerja. Kalau kata Kak Marshanda, atau yang biasa dipanggil Kak Caca, orang yang disiplin pasti akan berusaha meraih impian atau goals dengan lebih semangat, lebih cepat, dan hasilnya juga akan lebih baik dibandingkan dengan mereka yang malas dan tak punya motivasi.

Nilai plus lainnya dari Labsky di mata Kak Caca adalah pengajar atau pendidiknya yang jujur. Kak Caca mengatakan bahwa Labsky adalah salah satu sekolah yang guru-gurunya tidak mungkin disogok, dan hal tersebut sudah menjadi budaya yang menurun di sekolah ini. Semua guru menyikapi siswa-siswi dengan adil dan objektif, tanpa pernah membeda-bedakan. Hal ini tentu akan membuat siswa-siswi menjadi sadar, bahwa jika mereka rajin, menghargai guru, dan menjadi pelajar yang baik, itu yang akan menjadi nilai plus baginya di mata guru-guru. Pengajar-pengajar yang jujur ini yang menjadi kelebihan Labschool Kebayoran, karena di sekolah lain sangat banyak guru-guru yang tidak punya integritas seperti guru-guru Labsky.

Yang terakhir, nilai lebih dari Labsky adalah nilai membumi atau rendah hati. Nilai ini didapatkan Kak Caca dari kegiatan Trip Observasi. Kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang sangat ia cintai selama bersekolah di Labsky. Ia menilai program TO itu luar biasa, karena dapat mendidik siswa-siswi menjadi orang yang melihat ke bawah dan mau menjadi orang susah. Membuat siswa-siswi bisa merenungkan bahwa hidup itu seperti roda, terkadang bisa di atas, namun bisa juga di bawah. Bisa hidup enak, tapi bisa juga hidup susah.

Sama halnya seperti Kak Dio tadi, Kak Caca tidak melihat kekurangan-kekurangan dari Labsky. Kelebihan-kelebihan Labsky membuat kekurangannya menjadi tidak kentara.

 
Pesan dari Kak Caca untuk murid-murid Labsky adalah agar memanfaatkan nilai-nilai yang bagus yang didapatkan selama bersekolah di Labsky, yang bisa jadi ga akan didapatkan di sekolah lain. Selain itu Kak Caca berpesan agar siswa-siswi SMA Labsky menikmati masa-masa sekolahnya sekarang, karena masa-masa SMA itu sangat menyenangkan. Untuk Labsky sendiri, Kak Caca berpesan semoga sekolah ini semakin maju dan makin berhasil dalam menciptakan generasi penerus yang berkualitas.

                Begitulah kesan dan pesan dari 3 alumni yang bersedia saya wawancarai. Sama seperti mereka, saya merasakan hal-hal positif yang diberikan oleh Labsky, walaupun saya masih bersekolah di sekolah ini. Ke depannya, bersamaan dengan harapan-harapan kakak-kakak alumni, saya juga berharap Labsky akan terus membaik dan sukses menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan yang bertakwa, berintegritas tinggi, berdaya juang yang kuat, berkepribadian yang utuh, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, dan berintelektual yang tinggi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar