Senin, 24 September 2012

Tugas-2 Plus Minus Labsky


Plus Minus SMA Labschool Kebayoran

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” –Pembukaan UUD 1945


Pendidikan merupakan salah satu Hak Asasi Manusia dan dalam pelaksanaannya di Indonesia telah ditetapkan program wajib belajar 9 tahun; dari jenjang sekolah dasar(SD) hingga sekolah menengah pertama(SMP). Pendidikan ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan dari masyarakat Indonesia sehingga masa depan negara dan masyarakat sendiri akan menjadi lebih baik. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, maka diperlukan juga pelatihan atau pembelajaran yang berkualitas. SMA Labschool Kebayoran, yang merupakan sekolah swasta dengan jenjang setelah SMP, telah menghasilkan SDM selama sembilan tahun dengan tahun ini. Di sini saya akan memaparkan tentang pendapat dari para alumni yang dulunya belajar di SMA Labschool Kebayoran dan pengalaman mereka sehingga dapat menjadi pelajaran atau acuan bagi kita semua.

Hanifah Ramadhani


Kak Hanifah Ramadhani atau biasa dipanggil Hanif merupakan alumni Labschool Kebayoran 2005-2007, masuk sebagai angkatan lima atau Pancatra namun karena ia mengikuti program akselarasi ia lulus bersama angkatan empat atau Caturka. Setelah lulus dari jenjang pendidikan SMA, ia mengikuti program S1 di Fakultas Farmasi UI dan baru saja lulus tahun lalu. Saat ini ia sedang mengikuti program S2 di bidang manajemen UI.

Saya mendapat kesempatan untuk mewawancarainya saar saya pulang kampung ke Jawa, lebih tepatnya Trenggalek. Ia merupakan saudara saya dari keluarga ayah saya dan kebetulan pada tahun yang sama kami menjenguk nenek di Jawa sehingga terbukalah kesempatan ini.

Menurut kak Hanif, saat ia bersekolah di Labschool dahulu, terdapat banyak acara, tugas, dan ulangan. Hal-hal tersebut merupakan salah satu hal yang positif baginya, karena dengan adanya beban tugas itu ia dapat berlatih untuk mengatur waktu sejak dini. Di kuliah, terutama di UI, beban ulangannya sangat banyak. Setiap minggu mungkin ada ulangan tanpa ada jeda seperti saat kita UTS saat ini dan ada juga konsultasi setiap mata kuliah. Dengan berlatih sejak SMA, ia dapat lebih beradaptasi dengan beban yang ia dapatkan di kuliah karena telah terbiasa dengan tuntutan tugas yang banyak sehingga tidak terlalu ‘kagok’ lagi. Walaupun saat menjalaninya menyebalkan, hal-hal tersebut dapat membangun karakter untuk lebih rajin dan tangguh, sehingga ia dapat mendapatkan keuntungan. Acara-acara yang diadakan pun membangun karakter walaupun untuk sekarang belum dapat terlihat dan kita tidak hanya sekolah saja, namun mendapat pengalaman juga.

Salahsatu sisi negatifnya adalah banyak acara. Dengan banyaknya acara yang tidak terlalu penting, waktu untuk belajar pun berkurang, menghabiskan waktu, dan untuk melaksanakannya ribet. Seperti Trip Observasi dengan nametagnya, apalagi MOS nya. Selain itu, beban pelajarannya terlalu banyak. Walaupun beberapa akan terpakai di kuliah(seperti matematika dasar, dll), cara penjelasan dosen dengan guru pun berbeda sehingga dapat dikatakan itu merupakan pelajaran yang berbeda, karena yang difokuskan pada SMA dan kuliah pun berbeda.

Bagus Joko Puruitomo (Bajoked)


Kak Bagus atau biasa dipanggil Bajoked merupakan alumni Labschool tahun 2010 yaitu angkatan 7 atau Saptraka. Saat ini ia sedang mengikuti Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Saya mendapat kesempatan mewawancarainya saat mengikuti latihan LAMURU saat itu. Bersama saya, beberapa teman saya juga ikut mewawancarainya.

Menurut kak Bajoked, plusnya pertama organisasi. Jadi waktu nanti lulus dari Labschool akan menjadi terlatih di bidang ini. Selain itu, lingkungan di sekitar Labsky juga sudah baik, yaitu dapat dilihat tidak ada senioritas yang buruk, ramah tamah antara teman, juga menjaga hubungan baik dengan alumni. Pertemanan antara murid juga sangatlah kuat dan pergaulannya sehat sehingga membawa pengaruh baik, namun terkadang karena saking eratnya hubungan ini, dapat menjadi minus pula di kemudian hari. Kita dapat menjadi terlalu terikat sehingga di kuliah nanti tidak bisa lepas dari pergaulan SMA nya dan tidak bergerak maju. Padahal, seharusnya orang-orang disiapkan agar bersemangat di kuliah nanti untuk menuju pada dunia yang lebih nyata daripada stuck di SMA terus.

Akademik plus, non akademik juga plus” Kata kak Bajoked.

Jadi, menurut dia, dalam urusan akademik Labschool tidak kalah dengan sekolah unggulan lain di Indonesia. Materi-materi yang diberikan termasuk bagus dan soal yang diberikan pun melatih kita untuk berpikir. Selain itu, dalam bidang non akademik kita dapat dibilang unggul dari sekolah lain. Karena point yang pertama; yaitu organisasinya. Kesibukan yang dialaminya di Labschool, baik yang akademik maupun nonakademik, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hidupnya. Untuk positifnya, banyak yang dapat ia pelajari dan latih di Labschool; seperti interaksi dengan orang lain yang akan banyak diterapkan di kuliah sehingga nanti di kuliah hasilnya dapat menjadi memuaskan. Walaupun begitu, karena fakultas yang ia tekuni adalah hukum, pelajaran akademik yang terpakai dari SMA hanyalah kewarganegaraan dan sedikit sejarah sedangkan yang lainnya tidak terpakai. Segi non akademik lebih berperan dalam hidup kak Bajoked sendiri.

Menurutnya, kegiatan seperti Bintama dan TO itu perlu karena ia mendapatkan banyak pengalaman dan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Selain itu, kegiatan-kegiatan tersebut juga menyenangkan. Inti utama dari diadakannya Bintama adalah untuk melatih, sehingga saat kuliah nanti ospek-ospeknya sudah tidak ada apa-apanya dibanding Bintama, TO, dan lain-lain. Kegiatan ini juga menanamkan kedisiplinan dalam benak murid, sehingga kebiasaan untuk disiplin seperti menjadi lebih gesit, dll, mudah-mudahan dapat terbawa hingga dewasa nanti. Ia pribadi, kegiatan favoritnya selama bersekolah di Labsky adalah Lamuru dan OSIS. Kebiasaan untuk berorganisasi di Labschool itu pengaruhnya sangat banyak untuknya. Saat di SMA, untuk berpartisipasi di OSIS harus mengikuti seleksi sehingga tidak semua anak mendapatkan kesempatan. Namun lain halnya di kuliah, organisasinya relatif bebas. Sehingga siapapun—walaupun tidak kompeten—dapat menjadi organisatorik. Jadi, orang-orang yang terlatih—misalnya anak Labschool—biasanya lebih terlihat di kuliah nanti. Hal ini disebabkan karena skill-nya, anak Labschool biasanya—walaupun tidak semuanya—udah paham organisasi, udah paham cara kerja yang profesional seperti apa, juga mengerti bagaimana cara bergaul dengan teman seangkatan, senior, ataupun junior; berdasarkan yang ia perhatikan dari fakultasnya, biasanya anak Labschool sudah ketahuan karena memang sudah ada skill tersendiri.

“Saran untuk Labschoolnya, mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi dunia luar karena walaupun Labschool sangat menyenangkan dan menjadi rumah bagi anak Labschool, Labschool itu cuma tiga tahun. Setelah lo keluar dari Labschool, kalian akan lebih menghadapi dunia yang nyata, jadi jangan stuck di SMA terus tapi justru harus berkembang dan siap menghadapi apa yang di luar sana setelah lulus dari Labschool,” Kak Bajoked menjawab sesaat pertanyaan dilontarkan.

“Selain itu, untuk bidang akademik—terutama PPkn, walaupun menurut kalian semua pelajaran PPkn adalah pelajaran paling ga penting yang ada di dunia, tapi justru pelajaran PPkn yang akhirnya gue tahu itu adalah pelajaran paling penting karena, ya, ini contohnya, waktu kalian udah 17 tahun kan lo bikin KTP, cara lo buat KTP itu kan ada prosedur administrasi negaralah, kecamatan, segala macem. Itu bisa dipelajari dari segi kewarganegaraan, bukan dari fisika, bukan dari agama, atau apapun. Makanya, gue ingin pelajaran seperti ini untuk ditingkatkan, pokoknya jangan dianggap pelajaran jelek, dan gurunya sendiri—nah, nih. Biasanya, kita menganggap pelajaran ini ga penting karena gurunya sendiri males-malesan. Jadi pokoknya tidak memposisikan bahwa pelajaran ini penting. Itu yang kenapa, murid-murid berpikir pelajaran PPkn itu ga penting, padahal itu penting.” Kak Bajoked menambahkan dengan diiringi gurauan dan tawa dari kami.

Jodhi Adhikaprana Sardjono


Kak Jodhi adalah alumni Labschool Kebayoran angkatan Hastara yang saat ini kuliah di fakultas Teknik Komputer di Universitas Indonesia. Sama dengan kak Bajoked, saya mendapat kesempatan untuk mewawancarainya di salah satu latihan Lamuru.

“Pertama-tama,” kata kak Jodhi, “kalo lo masuk Labsky, lo mesti bangga karena mulai belakangan ini, itu Labsky udah mulai makin susah masuknya. Tes masuk Labsky itu udah susah. Jadi itu plusnya Labsky, jadi orang-orang itu udah enggak menganggap Labsky itu sebelah mata, jadi udah bener-bener tahu kualitas Labsky secara akademis. Kan memang tujuan sekolah itu. Namun gak cuma itu yang Labsky punya, tapi juga non akademis.”

Sama seperti kak Bajoked, kak Jodhi berpendapat bahwa banyak kegiatan dan acara yang diadakan Labschool ditujukan untuk perkembangan diri sehingga untuk ia sendiri, kualitas Labsky lebih didapat dari sisi non akademisnya karena walaupun akademis juga penting tapi untuk dunia kerja nanti, non akademis itu jauh lebih penting. Seperti perkembangan diri, dan segala macamnya. Menurutnya, organisasi di Labsky sangat melatih kita murid Labsky untuk dapat berpikir dewasa, menentukan integritas, mendengarkan orang-orang, sehingga juga mendapatkan banyak link dari Labsky.

Di sisi yang lain, kak Jodhi berpendapat kualitas Labschool kian menurun tiap tahunnya. Mungkin karena ada beberapa pihak yang entah mungkin bosan atau terlalu lama di Labsky, akhirnya tidak all out di Labsky. Makin lama, guru-gurunya makin kehilangan inti dari sebuah pengajaran dan menjadi guru. Bukan berarti kualitas guru menjadi buruk dan guru menjadi tidak memperhatikan siswa lagi, hanya saja dibanding tahun-tahun pertama dapat dibilang menurun. Dan memang sejak dulu, semakin tinggi jenjang kelas, jam kosong atau gabut semakin banyak. Ia merasa kelas X nya jauh lebih baik daripada kelas XII nya, dan berpendapat itu merupakan salah satu contoh degradasi nilai yang ia sebutkan sebelumnya. Selain itu, sisi negatif yang paling penting adalah kurangnya lahan parkir. Ia pun mengusulkan untuk membangun basement untuk memenuhi kebutuhan parkir di area sekolah ini.

Kembali tentang kegiatan sekolah, sejak dulu, ia berkata banyak kegiatan sekolah yang diadakan Labsky itu sangatlah membangun, sampai-sampai Labschool ini sempat dijuluki sekolah militer. Namun, sekarang-sekarang ini, kegiatan ini makin soft dalam pelaksanaannya dan sedikit kehilangan sisi militernya. Walaupun begitu, banyaknya kegiatan seperti TO, Bintama, OSIS dan lain-lain, merupakan faktor utama tingginya tingkat kedisiplinan di Labschool seperti belajar untuk menghargai ketepatan waktu dan sadar akan habitat kita semua, atau dapat dikatakan sadar diri. Intinya, manfaat yang didapatkan dari kegiatan ini sangatlah banyak dan ia menganjurkan kita semua untuk jangan sampai melewatkan kesempatan-kesempatan tersebut karena itu semua merupakan sarana perkembangan diri kita sendiri.

Yang jelas, menurutnya, jika kita dapat all out di sekolah atau menyeimbangkan antara akademis dan non akademis, ia yakin masa depan kita semua akan sukses. Kalau bisa menyeimbangkan keduanya, dunia kerja tidak semata-semata tentang akademik sehingga akan menjadi lebih mudah nantinya dan menantang diri sendiri. Dirinya pribadi, dulu ia menantang dirinya sendiri untuk bisa melakukan lebih dari apa yang ia sendiri bisa lakukan daripada hanya dipikirkan. Jadi visi dan misi itu sangatlah penting dan harus dijadikan target hidup yang bisa dicapai satu demi satu lewat fasilitas organisasi-organisasi di Labschool. “Karena pasti—dan gue udah ngerasain manfaatnya, kalo gue enggak masuk Labschool, gue enggak mungkin bisa stand out di kuliah. Kalo gue enggak masuk Labschool, mungkin, gue akan jadi orang yang cuma bisa bagus di atas kertas tanpa bisa mengimplementasikan semua ilmu yang udah gue dapet. Jadi jangan lupa untuk selalu—yah, gitulah. Ikutin semuanya. Kayak gitu.” Kak Jodhi menambahkan.

Mengenai jurusan, kak Jodhi pun berkata bahwa penjurusan itu sangatlah berpengaruh di Indonesia. Karena di Indonesia itu—entah kenapa, terdapat stereotypical bahwa jurusan IPA mendapat lebih banyak kesempatan dibanding IPS. Namun ternyata, memang benar adanya begitu, setuju kak Jodhi. Orang di jurusan IPA cenderung lebih mudah untuk masuk ke fakultas IPS dimana yang sebaliknya tidak berlaku. Pendidikan Indonesia seperti ini yang menurutnya harus segera diperbaiki. Ia pribadi menyarankan, untuk masuk IPA dalam penjurusan walaupun nantinya mau masuk IPS, misalnya ekonomi, finance, dan lain-lain karena di IPA dapat mempertajam kemampuan analisis diri.

“Menurut gue, lo harus, pertama—ini pelajaran hidup juga, lo harus segera menemukan passion hidup lo semua. Kedua, pertahankan dan perjuangkan passion lo. Karena pekerjaan terenak yang lo bisa lakukan adalah ketika lo bisa melakukan hal-hal yang yang menurut orang lain lo enggak bisa lakukan.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar