Kamis, 27 September 2012

Tugas 2 - Plus Minus Labsky


Labschool Kebayoran adalah salah satu sekolah menengah terbaik di Jakarta dan juga Indonesia. Setiap tahunnya, ribuan calon siswa mendaftarkan diri untuk mengikuti tes penerimaan. Dan mereka yang berhasil melewati fase penerimaan harus terus bersaing untuk menjadi yang terbaik diantara yang terbaik untuk mempertahankan eksistensi mereka di Labschool Kebayoran. Saya sendiri sudah cukup akrab dengan Labsky setelah kurang lebih lima tahun menjalani pendidikan di sekolah ini. Dua tahun di SMP, dan dua tahun di SMA.
Ketika saya masih berada di sekolah dasar, saya tidak pernah benar-benar tahu SMP mana yang saya inginkan untuk meneruskan pendidikan. Saya malah merasa heran karena seorang teman saya yang memiliki kakak yang bersekolah di SMP Labschool Kebayoran sudah sibuk mengumumkan pada semua orang bahwa kelak ia akan masuk ke sekolah yang sama dengan sekolah kakaknya, padahal saat itu kami masih duduk di kelas 3 SD.
Di masa-masa akhir kelas 6 SD, orang tua saya mendaftarkan saya untuk mengikuti tes penerimaan siswa di SMP Labschool Kebayoran. Saya yang saat itu masih buta informasi akan SMP yang bagus menurut saja. Saya belum berminat masuk ke Labschool karena saya tidak tahu apa-apa—saya dulu ingin masuk ke SMP 19 karena banyak teman-teman saya yang ingin masuk ke sekolah tersebut.
Ketika tes dilangsungkan, saya tidak terlalu mempersiapkan diri untuk kurikulum Labschool karena saya lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi tes di 19. Itu sebabnya saya sedikit kaget ketika orang tua saya mengabarkan kepada saya bahwa mereka mendapatkan surat dari SMP Labschool Kebayoran yang menyatakan bahwa saya termasuk dalam peringkat 50 besar dari seribu lebih calon siswa. Dari ribuan calon siswa, hanya sekitar 200 orang yang diterima menjadi siswa Labsky. Dan yang termasuk ke dalam peringkat 50 besar merupakan calon-calon kelas akselerasi.
Pada mulanya, saya sangat menentang rencana kedua orang tua saya untuk mengikutsertakan saya dalam kelanjutan prosedur penjaringan siswa kelas akselerasi. Ini dikarenakan informasi-informasi salah yang saya terima dari banyak sumber yang bukan berasal dari lingkungan akselerasi dan pengaruh-pengaruh lain seperti pendapat dari teman atau bahkan pembantu saya. Meskipun saya tidak setuju, orang tua saya tetap menyuruh saya untuk menjalani prosedur. Alasan mereka saat itu, untuk sekedar mengetahui sejauh mana saya bisa melangkah ke tahap-tahap berikutnya.
Kegiatan pertama yang saya jalani ketika masuk di SMP Labsky adalah Masa Orientasi Sekolah. Masa Orientasi Sekolah di Labschool Kebayoran sangatlah berbeda dengan MOS-MOS di sekolah lain. Saya bertukar kabar dengan teman-teman saya di sekolah lain saat itu, dan mereka semua bercerita bahwa mereka melalui proses MOS umum dimana mereka harus melakukan beberapa hal yang aneh-aneh, apalagi dibandingkan dengan Masa Orientasi Sekolah di SMP Labschool Kebayoran. Masa Orientasi Sekolah di SMP Labschool Kebayoran berupa sosialisasi budaya-budaya Labschool dan penanaman karakter serta 7 nilai dasar Labschool yang masih saya ingat sampai saat ini karena selalu dikumandangkan setiap sebelum pelajaran dimulai, yaitu bertakwa, berintegritas tinggi, berkepribadian yang utuh, berdaya juang yang kuat, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, dan berintelektualitas yang tinggi. Tentu saja ada kegiatan games-games di sela-sela orientasi sebagai salah satu arena perkenalan satu sama lain sesama siswa-siswi baru di SMP Labschool Kebayoran. Hal yang paling baru untuk saya di Labsky adalah adanya kebiasaan Lari Pagi setiap hari Jumat pada pukul 6 pagi.
Setelah Masa Orientasi Sekolah selesai, kelas pun dibagi-bagi. Saya mendapat tempat di kelas 7A dengan wali kelas Ibu Elin Herlina, guru Keterampilan Jasa. Saya sangat senang dengan kelas saya dan suasana baru di SMP Labschool Kebayoran sehingga rasanya berat jika saya harus pindah ke kelas akselerasi. Tetapi diam-diam, sebenarnya masih ada sisa rasa ambisi dalam sebagian diri saya yang menginginkan saya diterima dalam kelas akselerasi—hanya untuk membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu. Selama dua bulan lamanya para calon siswa akselerasi mendapat pengamatan khusus dari guru dan pada akhirnya akan diumumkan siapa saja yang diterima dalam kelas tersebut.
Ketika pengumuman diberikan, saya merasa senang sekaligus sedih saat nama saya tercantum dalam daftar berisi nama-nama penghuni kelas akselerasi. Senang karena dua teman baik saya dari kelas 7A diterima bersama saya, sedih karena saya tidak mau meninggalkan kelas 7A. Tetapi akhirnya saya masuk ke dalam kelas akselerasi.
Pada mulanya kelas akselerasi terasa sangat kontras dengan kelas 7A. Kelas itu masih dilingkupi dengan kesepian yang canggung. Namun perlahan-lahan kelas kami mulai menyatu dan pada akhirnya, kami tidak terpisahkan karena kami adalah teman seperjuangan dalam beradaptasi untuk bergabung dengan angkatan kakak kelas kami. Seharusnya kami berada di angkatan 9 SMP Labsky, tetapi karena akselerasi kami menjadi anggota angkatan 8 yang bernama Scavolendra Talvoreight.
Bersama-sama kami menjalani segala kegiatan khas Labschool seperti Bimensi dan lain-lain. Lagi-lagi, saya menemukan bahwa Labschool memiliki kegiatan-kegiatan yang sangat menunjang pembangunan karakter para siswanya yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah lain. Ini adalah salah satu poin penting yang membuat Labschool begitu hebat yaitu adanya keseimbangan antara pembangunan intelektualitas dan pembangunan karakter atau kualitas individu.
Kelebihan lain SMP Labschool yang tidak saya temukan di sekolah lain adalah kedisiplinan civitas akademikanya terhadap peraturan-peraturan yang ada. Nilai-nilai yang ditanamkan guru-guru SMP Labschool Kebayoran selalu dan masih membekas dalam benak saya, dan menjadi standar pembatas tersendiri bagi saya pribadi. Saya ingat, di SMP jarang sekali ada anak yang melawan peraturan—dan walaupun aturan yang mengikat kami memang sangat ketat—ini lebih disebabkan oleh kesadaran pribadi. Salah satu guru paling terkenal di SMP Labschool Kebayoran, yaitu Pak Muliadi Tarigan atau Pak Ucok, selalu menekankan, “Apa sih hebatnya jadi orang bandel, orang yang melawan aturan? Saya mau tanya deh. Kenapa sih? Mental orang Indonesia itu kenapa, bangga kalau melawan aturan? Kenapa emangnya, cupu kalau taat aturan? Gak gaul kalau gak taat aturan?” dan sindiran itu masih menjadi tali pembatas untuk saya. Setiap saya melanggar aturan, saya selalu berusaha menahan diri saya dengan mengingat kata-kata yang diberikan oleh Pak Ucok tersebut.
Di SMP Labschool Kebayoran juga selalu ditanamkan pentingnya memiliki mimpi, tujuan, dan determinasi. Guru-guru juga selalu mendorong kami untuk lebih mendekatkan diri dengan impian kami melalui pendekatan spiritual. Ini sesuai dengan nilai pertama dari 7 nilai dasar Labschool yaitu bertakwa. Saya menyadari, di tempat ini, 7 nilai dasar bukan sekedar omong kosong belaka melainkan sebuah harga yang dijunjung tinggi dan selalu diaplikasikan dalam setiap kegiatan sekolah.
Suasana belajar di SMP Labschool Kebayoran sangat kondusif, dukungan guru-guru amatlah kentara. Guru-guru sangat ramah dan mudah akrab dengan murid. Saya merasakan hal ini terutama di kelas akselerasi. Karena beratnya tugas kami sebagai siswa kelas akselerasi, kami difasilitasi dengan berbagai kemudahan dan privilege. Seperti misalnya setiap selesai ujian semester kami mendapat jatah moving class atau berlibur/menginap di luar kota dan berekreasi bersama.
Hal hebat lain adalah betapa didukungnya keberadaan Organisasi Siswa Intra Sekolah di Labschool Kebayoran. Sejak pertama kali saya mengikuti Masa Orientasi Sekolah di SMP, saya sudah terkagum-kagum dengan kakak-kakak OSIS dan MPK dengan jas-jas mereka yang terlihat begitu hebat, dan sejak awal saya sudah bertanya-tanya bagaimana caranya OSIS-OSIS dan MPK-MPK ini bisa memberikan orientasi pada kami sepenuhnya sendirian tanpa bantuan guru? Mungkin ada guru-guru yang mengawasi, tetapi selebihnya urusan-urusan dan kegiatan-kegiatan semacam MOS diurus oleh OSIS dan MPK secara penuh.
Fungsi OSIS dan MPK sangat dioptimalkan di Labschool, baik di SMP maupun di SMA-nya. Pemilihan ketua OSIS dan MPK dilaksanakan dengan demokratis, disertai tahap kampanye, debat, dan seterusnya.
Intinya, di SMP Labschool Kebayoran, saya banyak belajar tentang hidup—terutama kehidupan yang proporsional dan ideal. SMP Labschool Kebayoran telah membekali saya dengan pendidikan moral yang cukup untuk saya gunakan di masa mendatang. Saya tahu, dan saya telah dididik untuk peduli dan menggunakan modal yang saya punya—jadi ke depannya, itu terserah kepada saya untuk menjadi pribadi yang baik secara karakter yang telah ditanamkan oleh Labschool atau justru sebaliknya.
Lulus dari SMP Labschool Kebayoran, saya pun masuk ke SMA Labschool Kebayoran.
Banyak kabar miring yang terdengar tentang SMA Labschool Kebayoran. Orang bilang, walaupun SMA Labschool Kebayoran masih merupakan salah satu yang terbaik di Jakarta, SMA Labsky tidak sebagus SMP-nya. Saya terpengaruh sedikit karena kadang-kadang saya melihat kakak-kakak SMA yang berada diluar kelas di jam pelajaran semasa saya masih SMP. Sebagai siswa SMP Labsky yang dibentuk sebagai pribadi sangat taat dan penurut, melihat orang cabut rasanya sudah seperti dosa yang sangat besar.
Permulaan masuk di SMA Labschool Kebayoran tidak jauh berbeda dengan SMP-nya. Saya melalui kegiatan MOS yang kurang lebih memiliki sistem yang sama. Tetapi ketika pembelajaran dimulai saya mulai menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Saya sedikit kaget karena kami tidak diatur atau diarahkan seketat ketika di SMP. Guru-guru lebih santai dan cuek, kami lebih dilepas. Logis memang, karena kami sudah SMA, sudah lebih dewasa. Tapi tetap saja.
Setelah beberapa lama menjalani masa-masa kelas sepuluh, saya memutuskan bahwa desas-desus dan berita miring yang dikatakan orang-orang adalah salah. SMA Labschool memang punya cara-cara dan sistem yang berbeda dengan SMP-nya, tetapi SMA Labschool adalah sekolah yang sangat baik. SMP memang menanamkan pada diri kami semua bahwa inilah cerminan dari sebuah lingkungan yang proporsional dan bersih dari kesalahan, tetapi SMA mengajarkan kenyataan yang sebenarnya dalam hidup. Karena hidup itu tidak selalu teratur, hidup itu tidak selalu sesuai dengan proporsi. Tetapi saya bersyukur karena saya mendapatkan suatu ‘paket lengkap’. Setelah melalui pendidikan di SMP Labschool Kebayoran saya jadi bisa melihat kenyataan hidup lewat dua sisi, yaitu lewat sisi ‘SMP’ yang membuat saya tahu bagiamana seharusnya suatu keadaan dikendalikan dengan sebenar-benarnya dan selurus-lurusnya, juga sisi ‘SMA’ yang menunjukkan pada saya bahwa tikungan-tikungan dan ketidak sempurnaan dalam hidup membuat segalanya lebih dinamis.
Kelebihan SMA Labschool Kebayoran masih terletak pada kegiatan-kegiatannya. Bagi saya kegiatan-kegiatan di SMA jauh lebih efektif dan bermanfaat dibandingkan kegiatan-kegiatan di SMP. Trip Observasi, Bintama, semuanya memberikan efek yang konkrit kepada para siswa dan siswi. Lagi-lagi, ini tentang nilai hidup yang diajarkan oleh SMA Labschool Kebayoran secara tidak langsung.
Guru-guru di SMA juga lebih melepaskan kami dari pengawasan mereka yang ketat. Di kelas-kelas, metode mereka pun sangat berbeda-beda, ada yang mengajar dengan bahasa pengantar bahasa gaul, ada yang mengajar sambil mengizikan kami mendengarkan lagu, dan ada guru yang tidak peduli apa yang kami lakukan apakah kami mendengarkan atau tidak karena kami sendiri yang akan rugi kalau kami tidak mendengarkan. Bagaimanapun, walau caranya berbeda dengan SMP, guru-guru tetap mendukung, asal kami punya kemauan. Di SMA, guru-guru tidak pernah memaksa karena memang kami perlu belajar tentang risiko.
Kelebihan-kelebihan Labschool berikut kekurangan-kekurangannya juga dirasakan oleh beberapa alumni. Berikut adalah pendapat dari beberapa sumber yang merupakan alumni SMA Labsky yaitu Kak Rineke Rafelia, Kak Genta Athena Malibu, dan Kak Ananta Vania Iswardhani.


Kak Rineke Rafelia atau Kak Riri adalah lulusan dari angkatan 9, Nawa Drastha Sandyadira (Nawastra). Menurutnya, Labschool mendidik siswa-siswinya untuk menjadi aktif. Sehingga di dunia perkuliahan sangat berguna, terutama karena kita sudah dibiasakan untuk berorganisasi. Kegiatan semacam ekskul dan organisasi-organisasi lainnya juga sangat membantu dalam persiapan diri secara kualitas. Akan tetapi kegiatan yang sangat banyak mengurangi waktu luang. Kak Riri menyarankan Labschool untuk menambah variasi ekskul yang ada dan lebih memperhatikan detail-detail kecil masalah kebersihan di sekolah seperti misalnya kebersihan kantin.


Kak Genta merupakan alumni SMA Labsky yang lulus bersama angkatan 9 atau Nawastra. Sebenarnya ia masuk bersama angkatan 10 atau Daswira tetapi ia mengikuti program akselerasi. Menurutnya, kegiatan-kegiatan di Labschool sangat berguna untuk kuliah nantinya. Secara akademik, menurutnya, Labschool juga lebih baik daripada sekolah-sekolah yang lain. Tetapi karena kegiatannya sangat padat, ini bisa menjadi suatu kekurangan juga, maka siswa-siswinya harus pandai membagi waktu. Ia berharap Labsky bisa terus menghasilkan lulusan-lulusan yang berprestasi.


Kak Ananta Vania Iswardhani lulus bersama angkatan 8 atau Hastara. Sebenarnya ia masuk bersama Nawastra, tetapi ia mengikuti program akselerasi. Menurutnya, Labschool mendidik siswa-siswanya untuk bergerak cepat atau sigap karena sudah dibiasakan dari kegiatan-kegiatan seperti Bintama. Kemudian, Labschool juga mendorong siswa-siswinya untuk lebih aktif dan berani untuk bertanya. Kekurangan Labschool, menurutnya, adalah kegiatan sering dilaksanakan di jam sekolah. Ini bisa memberatkan siswa, apalagi yang duduk di kelas akselerasi, lebih susah lagi untuk membagi waktu karena waktu pelajaran terpotong oleh kegiatan.
Begitulah Labschool di mata saya, sebagai seorang pelajarnya, dan di mata alumni-alumninya. Pada akhirnya, Labschool adalah sekolah yang dicintai dan dibanggakan, dan telah berhasil membangunkan pemimpin-pemimpin masa depan yang ada dalam diri setiap siswa-siswinya. Semoga Labschool bisa terus maju dan semakin jaya dan terus bisa membantu pembangunan generasi masa depan selanjutnya di negara ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar