Senin, 17 September 2012

Tugas 2-Plus Minus Labsky


"Belajarlah dari pengalaman."

Begitu ujar pepatah, yang membuat kita bisa lebih baik lagi setelah berkaca dari pengalaman. Namun, tentu, sebagai murid SMA Labschool Kebayoran yang masih sibuk mengemban ilmu di sana, kita perlu mendengar pengalaman-pengalaman para senior atas kita. Seperti, "Apa yang bisa kita dapat dari Labschool?" atau "Apa yang bisa diperbaiki di Labschool ke depannya sebelum menyesal nantinya?", dan tentunya banyak pertanyaan-pertanyaan lain mengenai  dampak dari SMA Labschool Kebayoran ini kepada kakak-kakak kita yang telah lulus.
Saya pun mewawancarai tiga narasumber dari kalangan yang berbeda, yaitu Kak Ranadya Mayang Atsari dari angkatan 7 (Saptraka), Kak Ninggar dari angkatan 2 (Dwi Satria Mandala), dan Kak Kinanti Marta Nuraida dari angkatan 5 (Pancatra). Berikut hasil wawancaranya dengan narasumber dalam bentuk narasi.

1. Ranadya Mayang Atsari
Kak Ranadya Mayang Atsari ini, atau biasa dipanggil Kak Mayang, merupakan alumni dari angkatan Saptraka/angkatan ketujuh. Kak Mayang lulus di tahun 2010 dan masuk jurusan Perhotelan di STP Trisakti. Kak Mayang ini juga sempat aktif untuk mengajar ekstrakulikuler kuliner di Labschool Kebayoran ini.
Kata Kak Mayang, SMA Labschool Kebayoran jaman dahulu itu masih dikepalai oleh Pak Anggoro, dan menurutnya masih seru saat dulu. Senioritas di Labschool dari dulu memang ada, dan terbawa hingga sekarang. Guru-guru saat dulu juga berbeda dengan sekarang, karena sudah banyak yang pindah-pindah dan berganti.
SMA Labschool Kebayoran memang terkenal dengan kegiatan-kegiatannya yang banyak, sehingga membuat murid pun ikut aktif, seperti Trip Observasi dan BINTAMA yang dari dulu memang sudah ada.
Dari kegiatan-kegiatan tersebut, tumbuhlah mental yang kuat di diri murid sehingga di "dunia nyata" nanti, murid Labschool kebal dengan mentalnya yang telah dididik.
Di Labschool, diajarkan pula kedisiplinan yang tinggi dari berbagai kegiatan sekolah serta tugas-tugas dengan deadline bertumpuk, yang membuat kita harus tetap disiplin dengan tenggat waktu dan mengatur waktu sedemikian rupa agar bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang tersedia. Tentunya, hal ini sangat berguna dalam kegiatan-kegiatan di kuliah dan kerja, ujar Kak Mayang. Karena akan berpengaruh pada tugas-tugas kuliah yang menumpuk, dan sebagainya.
Keorganisasian di SMA juga sangat membantu untuk keaktifan nantinya. Karena di kuliah kita pasti akan dituntut lebih aktif dan mandiri, karena sudah dianggap dewasa.
Menurut Kak Mayang, SMA Labschool Kebayoran tidak punya sisi negatif, sehingga tidak berdampak setelah lulus nantinya.
Pesan Kak Mayang, senioritas yang berlebihan yang ada sekarang ini diusahakan untuk dihilangkan tetapi harus tetap sopan dan menghargai kepada yang lebih tua, karena rasa saling menghargai ini akan berguna di dunia kuliah dan kerja nantinya. Fasilitas di Labschool juga diperbagus dan ditambah lagi untuk mendukung aktivitas-aktivitas sekolah. Dan untuk murid-murid Labschool Kebayoran sekarang, jalanin semua kegiatan yang ada di SMA, memang walaupun banyak dan berat tapi suatu saat itu pasti akan berguna sekali.

2. Ninggar
Kak Ninggar merupakan alumni SMA Labschool Kebayoran angkatan 2 (Dwi Satria Mandala), namun karena mengikuti program akselerasi Kak Ninggar pun lulus di tahun 2004 ikut dengan angkatan pertama. Setelah lulus, ia masuk jurusan Psikologi Universitas Indonesia, dan mengambil S2 Psikologi: Profesi Psikologi. Dan sekarang, Kak Ninggar melakukan pekerjaan tetap pertamanya sebagai Personal Tutor di Wallstreet Insititute, Pondok Indah Mall. Diikuti dengan berbagai freelance lainnya.
Banyak cerita yang didapat dari Kak Ninggar. Dulu, air mancur di depan sekolah sempat mau dihilangkan, namun banyak murid-murid yang protes sehingga tidak jadi dihilangkan. Dulu juga, Labschool Kebayoran belum moving class, dan kelasnya cuma tiga yaitu A,B,C. Tapi, dulu sudah ada kegiatan-kegiatan yang diberikan Labschool Kebayoran seperti BINTAMA dan Trip Observasi.
Dari SMA Labschool Kebayoran, banyak hal yang didapat, ujar Kak Ninggar. Contohnya saja, misi pencarian tanda tangan saat MOS dan latihan baris berbaris. Mungkin perkiraan kita itu hanya untuk iseng belaka saja. Tapi ternyata, dari situlah kita bisa belajar berargumentasi. Untuk mendapat seusatu, tentu kita butuh memperjuangkannya dan membela hal tersebut, karena nggak segampang itu untuk mendapatkannya.
Trip Observasi Kak Ninggar saat itu bertempat di Desa Cihahanjawar selama 5 hari. Dari Trip Observasi (TO), Kak Ninggar punya pengalaman seru. Seperti yang murid SMA Labschool Kebayoran tahu, memakai nametag TO setiap saat adalah kewajiban. Dan sempat, suatu kali, Kak Ninggar keluar rumah tanpa nametag, tentunya panik setengah mati, untunglah temannya membawakan nametag tersebut sebelum ketahuan kakak-kakak OSIS. Di TO pula, diajarkan kerjasama dan mandiri. Kerjasama dengan kelompok agar bisa saling mengurus satu sama lain dalam hidup yang sederhana. Serta mandiri di desa dengan tuntutan memasak sendiri, mengurus rumah seperti mengepel, menyapu, dan sebagainya.
Sayangnya, Kak Ninggar tidak ikut kegiatan BINTAMA. Karena saat itu kelas akselerasi sedang mengejar banyaknya tugas dan ulangan. Dan bukan cuma karena itu, dulu, BINTAMA hanya diwajibkan bagi yang CAPSIS (Calon Pengurus OSIS) saja.
Dampak dari SMA Labschool Kebayoran ke kuliah dan kerja itu banyak banget, kata Kak Ninggar. Saat sidang di kuliah, para mahasiswa benar-benar dituntut untuk berpikir out of the box, dan Labschool Kebayoran melatih itu. Juga banyak tugas-tugas makalah bertumpuk, tapi itu sudah terlatih di Labschool. Bayangkan, di semester 1 kita disuruh berlatih makalah sangat banyak dan semester 5 adalah pembuatan makalah yang banyak dan kita harus mikir bertumpuk-tumpuk, ujar Kak Ninggar.
Dampak lain dari Labschool Kebayoran adalah murid-murid Labsky memang terbilang sangat disiplin, sehingga saat keluar ke "dunia nyata" pasti akan menemui hal yang berbeda 180 derajat. Di perguruan tinggi, banyak yang berbeda dengan kehidupan di Labsky seperti banyak yang tidak disiplin, tidak bisa argumen, ribut, dll., jelas Kak Ninggar.
Hal negatif yang ditangkap Kak Ninggar saat ini adalah sekarang, kelihatannya, murid-murid mulai agak seenaknya. Mereka mulai kurang respek dan nggak ada hormatnya.
Labsky merupakan sekolah berbasis militer, tapi itu bagus asal diseimbangkan dengan baik. Serta, BK-nya harus bisa memperkuat komunikasi antar orang tua dan guru, karena yang dilihat sekarang, sekolah cuma sebagai tempat penitipan anak.
Satu lagi pesan Kak Ninggar, hal yang paling mengenaskan adalah banyak orang yang berkata jika mendengar kata "Labsky" adalah "sekolah orang kaya". Dengan statement tersebut, murid-murid Labsky harus bisa membuktikan bahwa bukan itu yang diambil dari Labsky melainkan potensi-potensi besar di dalamnya. Banyak pula yang berkata bahwa Labsky adalah "senioritas". Dengan banyaknya statement-statement seperti itu, anak-anak Labsky harus bisa membuktikan bahwa itu salah dan anak Labsky individunya berkualitas.

3. Kinanti Marta Nuraida
Kak Kinanti ini merupakan angkatan ke 5 (Pancatra), namun karena ikut program akselerasi, ia ikut lulus dengan angkatan Catruka di tahun 2007.
Setelah lulus ia masuk jurusan Manajemen di School of Business and Management di ITB, Bandung. Dan sekarang bekerja sebgai Analyst di Divisi Investment Banking, PT Mandiri Sekuritas, yang bekerja di dunia pasar modal. Tempat dimana perusahaan-perusahaan lain yang butuh pendanaan, dll.
Saat dulu, Labsky kondisinya masih nggak jauh beda sama sekarang. Masih ada tradisi lari pagi tiap Jum'at, Lari Lintas Juang untuk OSIS/MPK, dan sebagainya. Kak Kinanti juga bilang bahwa BINTAMA saat dulu diwajibkan untuk yang OSIS saja, mulai dari angkatan Pancatra diwajibkanlah untuk 1 angkatan. Di angkatan Pancatra juga penambahan ekstrakurikuler Paskibra dan munculnya komunitas Lamuru. Dan dulu, Labsky belum moving class dan masih konvensional yaitu stay di kelasnya masing-masing.
Kata Kak Kinanti, banyak yang diambil setelah lulus dari Labsky. Pertama, disiplin, budaya disiplin untuk kuliah dan kerja sangat berpengaruh karena sejak SMA sudah terbiasa. Lalu, Labsky menuntut untuk membiasakan olahraga, lari pagi setiap Jum'at memberi efek stamina lebih sehat dan memberi energi positif untuk belajar dan kerja, sehingga setelah lulus pun olahraga menjadi kebiasaan yang baik dan terbawa.
Kemudian, Labsky menumbuhkan rasa cinta kita kepada Indonesia. Dari kegiatan TO dan Bintama membuat rasa cinta itu tumbuh. Jarang sekali sekolah yang menanamkan sifat tersebut ke murid-muridnya. Dari TO, kita bisa terjun langsung melihat warga desa di Indonesia dan kegiatan mereka. Dari Bintama, kita juga dilatih mental dan bertemu langsung dengan Kopassus. Secara keseluruhan, efeknya ke kuliah dan ke dunia kerja mungkin nggak terlalu kelihatan, tapi yang jelas mental kita diltaih untuk hal yang baik dan buruk di luar sana.
Lalu, budaya menyapa dan salaman. Budaya yang sederhana ini masih terbawa ke duina kuliah dan kerja, jika bertemu sesama Labsky, masih terbawa. Dan menunjukkan alumni Labsky di luar masih saling ramah-tamah satu sama lain. Tapi, hal ini juga diterapkan ke orang lain membuat orang lain dihargai dengan saling sapa tanpa memandang mereka siapa.
Serta, dibangunnya rasa kepemimpinan. Di Labsky, dilatih untuk memimpin diri sendiri dan orang lain dengan ikut berbagai kegiatan di Labsky, yang juga butuh sekali di dunia kuliah dan kerja.
Setelah banyak hal-hal positif yang diambil dari Labsky, apa hal negatifnya? Hampir tidak ada, ujar Kak Kinanti. Hanya dari segi cara pengajaran guru yang cocok-cocokan. Apalagi di akselerasi yang butuh guru mendukung sistem belajar cepat.
Secara keseluruhan, Kak Kinanti kaguman dengan sistem di Labsky. Sarannya, Labsky harus bisa tetap menjaga traisi positif yang ada di sana, karena itu bisa membedakan lulusan Labsky dan lulusan SMA lainnya. Kak Kinanti juga memberi indormasi bahwa Labsky itu sangat menonjol di ITB. Karena sudah beberapa kali alumni Labsky saat kuliah banyak yang menjadi Ketua Angkatan, Ketua Kegiatan, dll. dan hal ini perlu dijaga seterusnya. Dan diharapkan alumni Labsky juga menjaga nama baik Labsky walaupun sudah lulus karena memberi efek lulusan Labsky selanjutnya dimata universitas laind an dunia kerja.
Pesan untuk guru-guru, diharapkan untuk tetap menjaga kualitas pengajarannya dan tetap memberi energi positif ke anak muridnya sehingga lulusannya menjadi anak-anak yang baik dan sebagai contoh nantinya.

Dari berbagai pengalaman narasumber-narasumber tadi, dapat dilihat bahwa Labsky memberikan banyak dampak yang positif untuk kehidupan di dunia kuliah dan kerja nantinya. Semoga, para alumni-alumni Labschool Kebayoran juga merasakan hal positif yang sama. Dan yang terpenting, bagi kita sendiri (murid-murid Labsky sekarang) harus bisa sebagai penerus kakak-kakak senior yang sudah berhasil dalam bidang positif tentunya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar