Sabtu, 15 September 2012

Tugas 2- Plus Minus Labsky



Pelajaran Berharga dari Labsky, untuk Indonesia
Di Tugas Catatan Sejarah plus dan minus bersekolah di Labschool Kebayoran, saya mewawancarai beberapa narasumber yang kebetulan angkatannya semuanya berbeda. Ada yang baru lulus hingga  ada juga yang sedang sibuk dengan tahun ke tiga nya. Di tugas ini saya mewawancarai Kak Rafenska Vania dari angkatan tujuh atau Saptraka, lalu Kak Aulia Iqbal M dari angkatan delapan atau Hastara, dan kak Adila Nathania dari angkatan sembilan atau Nawastra. Lalu berikut ini adalah wawancara yang sudah saya jadikan narasi.

1. Rafenska Vania (Saptraka)
 Rafenska Vania atau akrab di panggil Fenska oleh teman-temannya, adalah sepupu saya yang juga merupakan alumni Labschool Kebayoran. Beliau sekarang sedang melanjutkan kuliahnya di Universitas Indonesia jurusan Psikologi. Di sela kesibukannya, Fenska menyempatkan waktunya untuk menjawab pertanyaan dari saya “Apa kesan dan pesan anda selama di labschool kebayoran? Kelebihan dan Kekurangan nya apa saja?” walaupun tanya jawab ini di laksanakan via Blackberry Massanger.

Fenska menjawabnya dengan antusias serta terdapat juga unsur psikologi nya. Ia menjawab bahwa kesannya secara umum, menyenangkan. Lebih rincinya, kelebihan nya dari segi fasilitas bisa dibilang lumayan lengkap. Dari segi ekstrakulikuler juga bagus, memfasilitasi siswa agar bisa berkembang. Keorganisasiannya juga oke punya dan memang dapat menjadi wadah buat mengembangkan soft skill. Pokoknya pembentukan kepribadian, soft skill, labsky oke banget.

Kekurangannya, walaupun ia sedikit bingung dalam menjawabnya, ia beropini agar dari sisi psikologi pendidikan, sisi SDM atau Sumber Daya Manusia-nya lebih dikembangin lagi, entah ada yang harus ditambah atau dikurangi, tetapi menurut dia overall sudah cukup oke, tapi akan lebih baik lagi jika ada psikolog pendidikan. Apa itu Psikolog Pendidikan? Psikolog pendidikan itu sistem reward dan punishment menggunakan pendekatan personal yang dapat dilakukan oleh psikolog atau terapis pendidikan, jadi tidak semata-mata langsung diberi reward atau punishment oleh guru Bimbingan Konseling (BK) atau guru apapun. Jadi, pertama-tama harus dikatahui dulu kenapa anak itu berperilaku seperti itu, bagaimana keadaan orang tua, teman bermainnya dan lingkungannya, jadi tidak asal judging, atau ambil keputusan harus di beri reward atau punishment. Guru-guru juga bisa belajar langsung dengan psikolog, bagaimana menerapkan psikolog pendidikan di sekolah. Jadi dapat disimpulkan, kekurangannya adalah peran psikolog yang bisa ditemui setiap saat di sekolah.

Setelah menjawab pertanyaan saya yang pertama, Fenska langsung menawarkan saya untuk bertanya kembali mumpung dia masih  mempunyai waktu luang untuk menjawab. Karena pada saat itu saya masih sedikit penasaran dengan Psikolog Pendidikan, saya mencoba untuk menggali lagi dengan memberikan pertanyaan yang menekankan ke psikolog pendidikan, “Apakah psikolog pendidikan itu bermanfaat untuk reward dan punishment saja? Psikolog pendidikan itu manfaatnya apa saja Fens?”

Ia menjawab, bahwa Psikolog Pendidikan itu bukan untuk reward-punishment saja, sebenernya fungsinya luas. Jika dilihat di masa-masa sekarang, banyak siswa/i SMA Labschool Kebayoran kalau tertimpa masalah akademik, pertemanan atau masalah lainnya akan selalu ingin curhat atau cerita kepada guru BK.

Psikolog Pendidikan itu banyak macam nya, bisa memberi terapi atau konseling ke siswa-siswa menggunakan pendekatan dan prinsip psikologi (untuk tau penyebab anak kenapa bisa seperti itu, potensi-potensi anak dsb), membantu anak untuk mengembangkan diri, memberi tes-tes yang valid  sama reliable mengenai kemampian anak, dan lain-lain.

Mungkin, untuk mengurus administratif pemberian reward dan punishment bisa di lakukan oleh guru BK. Tetapi untuk tahu reward dan punishment apa yang cocok untuk diberikan kepada siswa, psikolog pendidikan yang tahu. Karena setiap individu itu berbeda satu sama lain. Jadi penanganannya berbeda.

Karena ia sudah duduk di kuliah selama kurang lebih 3 tahun di jurusan Psikologi, ia sudah dapat melihat kekurangan serta kelebihan di Labschool Kebayoran dari aspek psikologi menggunakan pengetahuan yang dia miliki sekarang. Mudah-mudahan kedepannya, Labschool Kebayoran dapat menghadiri sistem Psikolog Pendidikan agar keadilan dalam pemberian reward serta punishment dapat di tekankan lagi. Serta, mudah-mudahan, Fenska dapat gelar psikolog serta dapat memberikan saran lebih banyak lagi untuk kekurangan yang di miliki Labsky dalam aspek psikologis, agar sekolah SMA Labschool ini bisa lebih baik lagi dan lebih cocok lagi untuk calon-calon pemimpin masa depan. Amiin.

2. Aulia Iqbal M (Hastara)
Kak Aulia Iqbal M atau lebih akrab di panggil Kak Abal adalah alumni SMA Labschool Kebayoran angkatan ke 8.  Dia dulu pernah menjabat menjadi OSIS periode 2009-2010 sebagai seksi olah raga.

Di suatu minggu siang, saya mewawancarai kak Abal yang pada awalnya lewat Blackberry Messanger.  Tetapi, saat saya tanya “kak saya boleh gak wawancara kakak kalo kakak ada waktu?” dia langsung menjawab “boleh, kapan?” lalu saya bilang “Kalo bisa sih sekarang, maksudnya lewat BBM aja kak” lalu dia bilang “Bolehboleh, apa ngga skype deh biar ngetiknya gampang gimana?” akhirnya saya melanjutkan sesi wawancara lewat skype.

Sesi tanya jawab pun mulai saat saya menyapa kak Abal kembali saat di skype, dan ia menjawabnya dengan sangat ramah dan baik hati. Saya menanyakan “apa kesan dan pesan kakak selama sekolah di Labschool Kebayoran? Kekurangan serta kelebihannya apa saja?” Lalu dia menjawabnya dengan seketika. Dia bilang bahwa dia sangat bersyukur pernah sekolah di Labschool Kebayoran, dia juga menjelaskan bahwa di Labsky itu banyak teman-teman yang asyik dan guru-gurunya juga bersahabat kepada murid-muridnya. Disaat muridnya lagi kesulitan sama nilai atau apapun, guru dan terutama walikelas selalu ada untuk mendampingi muridnya. Teman-teman nya pun juga seperti itu, karena Trip Observasi dan kegiatan Labschool lainnya, angkatannya dapat lebih kompak dan mendukung satu sama lain. Di Labsky, kak Abal juga mendapatkan pengalaman berorganisasi karena dia sempat menjabat menjadi OSIS di seksi olah raga.

Lalu banyak sekali plus dan minus bersekolah di Labsky menurut kak Abal, terutama plusnya. Menurut kak Abal, guru-guru di labsky itu asyik-asyik bisa diajak bercanda dan santai, lalu dia bilang “meskipun ada guru yang nyebelin juga, tapi senyebelinnya guru di labsky, tetep asik untuk diajak bercanda kok”. Manfaat yang dia dapat setelah bersekolah di Labsky juga banyak, contohnya, dia merasa lebih mandiri, lalu dia juga merasa lebih sehat karena setiap hari jumat dia selalu lari pagi, dia juga merasa dapat lebih mengatur waktunya sehingga dia menjadi lebih disiplin dan rajin belajar. Dia bilang, dia rajin belajar karena memang di kelas ada persaingan dalam hal nilai.

Minusnya di Labsky, menurut dia sebetulnya tidak ada kekurangannya sama sekali, tetapi dia berkritik dan dia bercerita saat kepala sekolah pada jaman dia berganti menjadi yang baru, dia merasa bahwa teman-temannya sangat dimanjakan sehingga kak Abal merasa teman-temannya berlaku seenaknya saja.

Saat mewawancarai kak Abal, saya merasa cukup senang karena dia sangat antusias sekali dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya tanyakan. Mudah-mudahan kedepannya Labschool dapat menjadi lebih baik lagi, dan kak Abal bisa sukses di kuliahnya. Amin.

3. Adila Nathania (Nawastra)
Kak Adila Nathania atau akrab dipanggil kak Thania, adalah alumni sekaligus mantan ketua umum MPK di SMA Labschool Kebayoran periode 2010-2011. Kak Thania ini baru saja lulus dari SMA Labschool Kebayoran dan melanjutkannya ke kuliah. Ia adalah senior 2 tahun di atas saya. Bisa dibilang, OSIS dan MPK angkatan beliau adalah pendamping angkatan saya saat MOS dan Pilar.

Di sela kesibukannya di tahun pertama kuliah, melalu Blackberry Messanger, ia dengan senang hati menjawab pertanyaan saya yang sama pada saat saya menanyakan ke Fenska, yaitu “Apa kesan dan pesan kakak selama di Labschool Kebayoran? Kelebihan dan Kekurangan nya apa saja?”, setelah tidak terlalu lama menunggu akhirnya kak Thania pun menjawab.

Ia menjawab bahwa, selama Ia di Labschool Kebayoran hampir tidak ada kesan buruk. Karena selama 3 tahun Ia di Labschool merupakan pengalaman berkesan baginya. Memang pada awalnya ia merasa tertekan, lelah dikarenakan aktivitas yang banyak seperti Trip Observasi, Bintama, dan lain-lain, tapi tanpa di sadari jika semua itu sudah terlewati, rasanya hal-hal itu membuat kita rindu pada sekolah. Kelas 11 adalah masa yang paling berkesan untuk kak Thania, dikarenakan banyak waktu luang dan banyak juga liburannya, lalu ia juga pada saat itu sibuk mengurus kepanitiaan, seperti Sky Avenue, Sky Lite dan Sky Battle. Hal utama yang membuat kelas 11 adalah masa yang berkesan untuk kak Thania adalah, ia berhasil meraih cita-citanya menjadi Ketua Umum MPK di angkatannya.

Lalu ia beralih membahas kelas 12 yang menurut dia campur aduk. Karena ia merasakan sedihnya akan berpisah dengan teman-temannya, serta perjuangan untuk masuk ke perguruan tinggi yang ia inginkan dan berjuang juga untuk ujian nasional. Di kelas 12, ia juga harus sibuk membagi waktu dikarenakan tugas non akademis ataupun akademis sangat banyak serta bimbingan belajar pun harus di lakukannya.  Seiring kita melakukan tanya jawab, dapat terlihat bahwa kak Thanya adalah orang yang semangat dan rajin. Setelah sampai di penghujung jawaban, ia memberikan saran kepada saya “kalau aku saranin, kelas 11 bener-bener nyatu aja sama angkatan kamu karena pasti bakal ngangenin banget loh sekolah”.

Setelah itu, karena saya mewawancarai kak Adila Nathania ini dengan seorang teman, yaitu Niken, Niken pun terpikirkan akan satu hal. Mungkinkah SMA Labschool Kebayoran tidak membuahkan suatu manfaat di kuliah? Lalu Ia menanyakan hal itu kepada kak Thania “Menurut kakak, kegiatan-kegiatan di Labsky yang berpengaruh/membantu kakak selama masa kuliah apa saja kak?Lalu, adakah kegiatan Labsky yang kurang berperan dalam masa kuliah kakak sekarang ini”

Kak Thania pun menjawab bahwa, kegiatan yang paling berperan dalam masa kuliah itu adalah Bintama dan Kepanitiaan (di Sky Avenue, Sky Battle dan lain-lain) karena ia dapat belajar tentang manajemen waktu, bagaimana caranya supaya tidak ngaret atau jadi orang yang on time, lalu menjadi dan mengerti akan hal sopan santun, dan hal-hal positif lainnya, karena ia mengatakan bahwa di kuliah, ia bertemu banyak orang dari berbagai daerah. Sedangkan orang yang dari berbagai daerah itu memiliki karakter nya masing-masing. Menurutnya, tidak ada kegiatan Labschool yang tidak penting, karena Labschool itu kegiatannya berkesan dan sangat berguna untuk kedepannya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar