Kamis, 27 September 2012

Tugas 2- Plus Minus Bersekolah di SMA Labsky


11 Tahun Berdiri Memberikan Pendidikan

            Ya benar saja. SMA Labschool Kebayoran yang lebih akrab disebut Labsky ini sudah 11 tahun berdiri di suatu wilayah yang ramai di datangi orang. 11 tahun berdiri dengan 9tahun melepas kepergian siswa siswi yang meninggalkan kisah manis didalamnya. Kisah manis yang dimulai di Jl. K.H. Ahmad Dahlan No. 14, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan kisah ini masih terus berlanjut sampai sekarang. Memulai tahun ke-12nya Labsky membuat kisah-kisah yang akan selalu dikenang kepada 9 angkatan yang telah lulus dari SMA Labsky ini. Labschool Kebayoran yang selalu membanggakan mottonya yaitu “Iman, Ilmu, Amal” ini membuat inovasi baru dalam bidang pendidikan di Indonesia. SMA Labschool Kebayoran tidak hanya memberi kecerdasan bidang pendidikan kepada para muridnya saja. Tetapi SMA Labschool Kebayoran memberi pelajar kehidupan social dan kesadaran akan pentingnya pelajaran hidup akan kerasnya persaingan di dunia luar. Sehingga, SMA Labschool Kebayoran mempersiapkan murid-muridnya dengan pembelajaran pembentuukan karakter dan pelatihan mental.
            Tidak mudah bersekolah di SMA Labschool Kebayoran ini. Jungkir balik perjuangan yang akan dilakukan selama 3 tahun bersekolah di sekolah swasta ini. SMA Labschool Kebayoran merupakan salah satu SMA swasta terfavorit di DKI Jakarta. Kakak-kakak alumni yang berjumlah 9 angkatan itu telah membawa SMA Labschool Kebayoran menjadi sekolah yang harum namanya. 11 tahun SMA Labschool Kebayoran berdiri bukannya tidak membuahkan hasil apa-apa. SMA Labschool Kebayoran ini telah menciptakan alumni-alumni yang cerdas dan siap dengan dunia luar. Terbukti dari alumni-alumni SMA Labschool Kebayoran adalah orang-orang yang sukses dengan banyaknya jumlah siswanya yang diterima di perguruan tinggi negeri/swasta favorit di Indonesia maupun luar negeri.
SMA Labschool Kebayoran mempersiapkan siswanya tidak hanya di bidang akademik, namun juga di bidang pembentukan karate dan pembelajaran hidup. SMA Labschool Kebayoran mempunyai program-program favorit yang tidak dimiliki oleh sekolah lain. Dimulai dari Pra TO dan TO. TO atau trip Observasi adalah kegiatan dimana kami siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran diberikan pelajaran hidup. Kami akan pergi ke sebuah desa dan menjalani kehidupan disana selama kurang lebih 6-7 hari. Pembelajaran yang kami dapat dari program ini adalah pembelajaran hidup, bahwa hidup itu pasti ada kalanya di atas dan di bawah dan kita menjalani roda kehidupan itu. Kami belajar bagaimana hidup di desa yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan di kota yang cenderung bersifat borjuis. Setelah itu ada program BINTAMA atau Bina Mental Siswa. Di program ini kami akan dilatih mental dan fisiknya bersama dengan KOPASSUS atau tentara. Yang kehidupannya sangat jauh berbeda dengan kehidupan di rumah. Kami dilatih agar tidak manja dan tidak cepat putus asa. Kami dilatih dengan keras agar kami memiliki mental yang kuat dengan kekuatan fisik yang hebat pula. Bagi siswa yang berminat menjadi OSIS harus mengikuti program LAPINSI(Latihan Kepemimpinan Siswa) dan TPO(Tes Potensi Organisasi). Setelah lulus dari kegiatan tersebut maka para OSIS dan MPK melakukan kegiatan LALINJU(Lari Lintas Juang) yaitu berlari dari Museum Satria Mandala sampai ke SMA Labschool Kebayoran yang berjarak 17km.
11tahun SMA Labschool Kebayoran berdiri tentu akan memberikan beberapa pandangan berbeda dari setiap orang yang berbeda. 9 angkatan sudah di lepas oleh SMA Labschool Kebayoran ini. Dimulai dari Mitreka (Angkatan 1), DSM (Angkatan 2), Triseka (Angkatan 3), Catruka (Angkatan 4), Pancatra (Angkatan 5), Heksakra (Angkatan 6), Saptraka (Angkatan 7), Hastara (Angkatan 8), dan Nawastra (Angkatan 9). Setiap alumni dari masing-masing angkatan pasti memiliki pandangan sendiri yang berbeda-beda tentang SMA Labschool Kebayoran ini. Plus-minus bersekolah SMA Labschool Kebayoran pasti juga berbeda-beda menurut pandangan setiap kakak-kakak alumni tersebut. Saya mewawancarai 3 narasumber dari setiap angkatan yang berbeda untuk mengetahui sedikit tentang Plus-minus bersekolah di SMA Labschool Kebayoran ini. 3 narasumber tersebut adalah kak Sheila Amalia Saleh (Hastara), kak Erik Ekawijaya (Catruka), dan kak Vanya Edria (Nawastra)

1.   Kak Sheila Amalia Saleh
kak Sheila dan saya

Narasumber pertama saya adalah kak Sheila Amalia Saleh yang berasal dari angkatan 8 yaitu Hastha Praja Sanggakara (HASTARA).  Kebetulan kak Sheila Amalia ini merupakan kakak saya sehingga saya dapat menanyakan beberapa pendapat tentang pandangannya tentang SMA Labschool Kebayoran. Selama di SMA Labschool Kebayoran presasti kak Sheila cukup membanggakan dan memuaskan. Kak Sheila ini merupakan pengurus osis angkatan 8 saat itu di sesksi kesenian. Saat ini kak Sheila melanjutkan kuliahnya di UNPAR(Universitas Pahrayangan) Bandung.
Tetapi kak Sheila tidak lulus bersama teman-temannya di angkatan Hastara, dia lulus bersama adik-adik kelasnya di angkatan Nawastra. Bukan berarti dia mengulang setahun masa SMA nya karena dia tidak cerdas. Kak Sheila terpaksa mengulang masa SMAnya setahun lagi karena dia mengikuti program AFS Bina Antarbudaya Chapter Jakarta di Prancis. Program tersebut merupakan program yang mebuat kak Sheila tinggal dan bersekolah selama setahun di luar negeri, dan saat itu kak Sheila beruntung mendapatkan negara Prancis.
Menurut kak Sheila sekolah di SMA Labschool Kebayoran mempunyai beberapa sisi positif. Yang pertama adalah disini sangat dijunjung kebersamaan dan kekompakkan dengan satu sama lain, khususnya dengan satu angkatan. Mulai dari kegiatan Masa Orientasi Siswa, Trip Observasi, Bintama dan semua kegiatan Labschool dilakukan bersama-sama dan dari situlah muncul kebersamaan dan keloyalitasan satu sama lain. Labschool juga mengajarkan murid-muridnya bukan dalam hal belajar-mengajar saja, tetapi juga mengajarkan moral dalam kehidupan kita. Jadi sewaktu-waktu nanti lulus dari Labschool, kita bisa menjadi lulusan yang telah matang. Dengan gambaran, Labschool itu seperti memiliki ‘benteng’ sendiri, yang mengayomi kita untuk mengetahui batas-batas hal-hal dan kita tahu kita tidak akan melewati batas itu. Selain itu, lingkungan sekolahnya juga enak dan membuat kita nyaman sama sekolah kita sendiri. “Labschool itu sudah seperti rumah kedua,” ujarnya.
Selanjutnya Labshool juga memberikan kesibukan dalam menuntaskan semua tugas yang diberikan dari masing-masing mata pelajaran. Menurut kak Sheila tugas-tugas tersebut secara tidak langsung menumbuhkan sifat rajin, tekun, serta ulet pada diri kita. Hampir setiap hari kita diberikan paling tidak 1 Pekerjaan Rumah (PR) oleh guru. Apabila kita tidak mengerjakan, kita tidak akan mendapatkan nilai. Dan hal itu mempengaruhi rapot kita dan akan berujung ke masalah SNMPTN Undangan. Jadi, mau tidak mau kita harus menyelesaikan tugas itu tepat waktu.
Intinya Labschool dapat memberi pengaruh baik untuknya, banyak pengalaman di bidang yang seharusnya jarang dirasakan oleh anak SMA, seperti Trip Observasi, BINTAMA, dll. Selain itu, siswa-siswi Labschool juga dibiasakan untuk bekerja dengan banyak tugas, sehingga harus pintar dalam mengatur waktu, jika tidak ingin tertinggal dengan yang lain. 
Di sisi lain Labschool juga memiliki beberapa sisi negatif. Yang pertama adalah Labshool memiliki terlalu banyak kegiatan akademis yang sangat menyita waktu. Sehingga membuat kak Sheila merasa sedikit keteteran dalam bidang akademisnya karena tidak fokus. Selain itu kak Sheila juga membahas sedikit hal negatif dari guru Labschool. “Gurunya tug sebenernya asik tapi suka gabut gitu, sebenernya seneng sih tapi kadang juga enggak, soalnya kadang bikin kitasnya keteteran sendiri,” ujarnya.
3tahun bersekolah di SMA Labschool Kebayoran tentu membawa beberapa keuntungan untuk kak Sheila. Dengan adanya program Bintama membuat kak Sheila terbiasa hidup keras dan sudah terlatih mentalnya sehingga dia tidak terlalu kaget dengan kehidupan yang keras saat kuliah. Saat kuliah kak Sheila menemui teman-teman baru yang tidak semuanya berasal dari kalangan yang sama dengannya. Dari pembelajaran di TO membuat kak Sheila lebih cepat bergaul dan menyatu dengan teman-teman baru dari kalangan yang berbeda-beda.
Pesan terakhir dari kak Sheila adalah: “Udah, Labsky mah udah bagus, terus lakuin yang terbaik aja buat murid-muridnya, terus gurunya kalau mau gabut sesuain sama muridnya lagi merluin gurunya apa enggak”.

2.   Kak Erik Ekawijaya
email dari kak Erik

Narasumber kedua adalah kak Erik Ekawijaya yang berasal dari angkatan 4 yang bernama Catur Tunggal Perkasa(Catruka). Saat ini kak Erik melanjutkan pendidikannya di UNPAD(Universitas Padjajaran) jurusan Hukum di Bandung, Jawa Barat. Saya mewawancari kak Erik melalui E-mail.
Bersekolah di SMA Labsky selama 3tahun membuatnya sudah dapat memberikan pandangan. Labsky memiliki beberapa sisi positif. Yang pertama adalah guru-gurunya sangat kompeten dan memiliki variasi cara mengajar yang sangat beragam. Lalu Labsky memiliki Sarana infrastruktur yang cukup lengkap, gedung yang sudah bagus, dan memiliki lokasi yang strategis. Kegiatan non akademis seperti bintama dan TO memperkuat mental dan juga fisik, dan melatih jiwa kepemimpinan dan percaya diri dan juga Ekstrakulikulernya yang sangat beragam, menunjang saat masih bingung dalam mencari tahu minat di kegiatan non akademis.
            Tetapi Labsky juga memiliki beberapa sisi negatifnya. Menurut kak Erik, Kebanyakan siswanya bergaya hidup mewah dan eksklusif, dan dia merasa tidak terlalu cocok dengan kak Erik. Masalah yang menurutnya paling menyedihkan adalah di Labsky itu lahan parkirnya sangat kurang. Lalu sisi negative yang terakhir adalah karena sistem kedekatan antaraa guru dan murid yang lebih banyak daripada di sekolah lain, mungkin bisa timbul kurang hormat kepada guru yang dilakukan oleh murid yang tidak memiliki mental bagus.
            Pesan terakhir dari kak Erik untuk Labsky yang lebih baik adalah, “Ekslusifitas untuk siswa Osis harus dikurangi, dan meningkatkan transparansi uang yang di gunakan dalam kegiatan-kegiatan yang terbilang cukup mahal,”.

3.     Kak Vanya Edria
wawancara via BBM

Narasumber terkahir saya adalah kak Vanya Edria Rahmani yang berasal dari angkatan 9 yang bernama Nawa Drastha Sandyadira (Nawastra).  Sekarang ini kak Vanya melanjutkan studinya ke FHUI(Faculties Hukum Universitas Indonesia) di Depok. Saya mewawancarai kak Vanya melalui media Blcakberry Messenger.
Memberi pandangan untuk SMA Labsky bukanlah hal yang sulit baginya. Menurutnya hal-hal positif dan negative bersekolah di Labsky dapat terlihat jelas. Hal positif pertama adalah menambah pengalaman-pengalaman baru dan yang tidak biasa atau bahkan tidak ada di sekolah lain. Program-program seperti TO dan Bintama adalah salah satunya. Lalu yang kedua adalah bersekolah di labsky dapat memiliki dan berteman dengan teman-teman yang menyenangkan. Saat masih SMA kak Vanya merasa tidak terganggu pergaulannya dan pertemanannya. Hal ini karena siswa-siswi di SMA Labsky semuanya asik dan seru.
Hal negatifnya adalah bersekolah di SMA Labsky terlalu banyak kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan. Sehingga membuat kak Vanya sempat tidak fokus belajar dan berpengaruh terhadap nilai akademisnya. Lalu di SMA Labsky ini terlalu banyak peraturan.  Menurut kak Vanya, peraturan-peraturannya terkadang suka tidak logis. Yang terakhir adalah SMA Labsky baru mengadakan penjurusan di kelas 11. Sehingga membebani saat masih kelas 10 karena terlalu banyaknya pelajaran yang harus dipelajari.
3tahun bersekolah di SMA Labschool Kebayoran mebuahkan beberapa keuntungan bagi kak Vanya. “Aku kan di FH jadi kayak sering ditugasin bikin essay-essay gitu, nah di Labsky kan pas kelas 3 disuruh bikin kartul tuh jadi aku udah rada terbiasa gitu,”ujarnya. Itulah salah satu keuntungan yang diraskan kak Vanya.
Pesan terakhir dari kak Vanya adalah: : “semoga SMA Labsky menjadi sekolah yang lebih bagus lagi dan semoga lulusan-lulusannya kelak menjadi orang yang sukses semua.”

Begitulah wawancara saya dengan 3 alumni SMA Labschool Kebayoran. Saya dapat menyimpulkan bahwa “tidak peduli apa itu plus-minus bersekolah disini yang penting jalani saja, pasti nanti akan membuahkan hasil”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar