Minggu, 23 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky


Labschoolku Susah Dilupakan

Siapa yang bisa melupakan masa-masa SMA? Masa-masa dimana kita menjadi lebih dewasa, menambah ilmu, menambah pengalaman, serta tempat kita menentukan jalur yang akan kita pilih kedepannya. Tentu saja masa-masa SMA ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan. Semua akan membekas pada ingatan kita untuk selamanya.

SMA Labschool Kebayoran, atau yang lebih dikenal sebagai Labsky adalah sekolah yang dikenal dengan reputasi yang baik. Lulusannya banyak yang sukses, tersebar di berbagai benua mengejar mimpi-mimpi mereka. Hal ini membuat banyak orang berminat masuk ke SMA Labsky. Setiap tahun, kurang lebih seribu murid SMP mengikuti tes masuknya.

Dengan reputasi yang baik, murid yang pintar dan berbakat dengan fisik kuat, Labsky juga ikut menarik perhatian saya. Tidak bisa saya gambarkan bertapa senangnya saya saat dikabarkan lulus tes masuk. Setelah bersekolah di Labschool selama kurang lebih satu setengah tahun, saya mendapatkan banyak pengalaman baru yang akan terus diingat.

Disini, lebih dari enam ratus anak datang ke sekolah untuk menuntut ilmu. Dari pukul 7 pagi hingga pukul 15.30 sore, kita terus menambah ilmu. Bukan hanya itu, kita terus mengembangkan diri, menjadi lebih dewasa, serta bersosialisasi dengan teman-teman. Tentu saja, mengimbangi antara pelajaran dan kegiatannya berat.

Labsky terkenal dengan murid-muridnya yang pintar-pintar dan berbakat, dengan kemampuan memimpin serta bersosialisasi yang bagus, tidak dilupakan fisik dan mental yang kuat. Memang, saat kelas sepuluh, saya sempat kewalahan mengatur waktu untuk belajar dan mengikuti kegiatan. Rasanya bernapas saja sudah susah. Tapi guru-guru tidak pernah berhenti menyemangati kita, dengan kata-kata terkenal mereka, “Nanti kalian rasakan sendiri pada saat kuliah, pasti gampang”.

Hal ini tidak dibantah oleh tiga kakak-kakak alumni yang telah saya wawancara. Tiga alumni, dari tiga angkatan yang berbeda, yang sedang mencapai cita-cita mereka.

Pertama, Kakak Arum Kulscawati, dari angkatan kedelapan SMA Labschool Kebayoran, Hasta Praja Sanggakara atau biasanya disebut dengan Hastara. Saya bertemu Kak Arum tanpa sengaja, dimana dia adalah salah satu anggota dari sanggar tari yang saya ikuti, yaitu Gema Citra Nusantara.



Kedua, Kakak Karina Lakshminingrum. Kak Karina berasal dari angkatan kelima SMA Labschool Kebayoran, Panca Saka Atma Matra atau lebih dikenal sebagai Pancatra.  Kebetulan, Kak Karina adalah pelatih saya, Kak Arum, serta seluruh anggota sanggar tari Gema Citra Nusantara. Kemampuan tari dia memang sangat luar biasa. Dia juga adalah seorang pengajar yang baik.



Yang terakhir adalah Kakak Ranadya Mayang, dari angkatan ketujuh SMA Labschool Kebayoran, Sapta Garuda Adhikara atau atau bisanya disingkat dengan sebutan Saptraka . Kak Mayang dulu sempat melatih ekskul kuliner bersama Kak Pasha di SMA Labshool Kebayoran. Kak Mayang sekarang sudah berhenti mengajar, karena sibuk dengan kuliahnya.



Saya pertama kali mewawancarai Kak Arum. Kak Arum mengatakan bahwa Labsky itu tidak bisa dilupakan. Katanya “Bagaimana bisa kalau kegiatannya saja sudah begitu”. Menurutnya, SMA Labschool

Kebayoran berbeda dengan SMA-SMA lainnya, dimana sekolah ini tidak hanya mementingkan akademik siswa-siswanya, tapi juga mengembangkan seluruh bakat yang dimiliki siswanya, serta membentuk karakter siswa-siwanya menjadi orang-orang yang baik.

Kegiatannya juga tidak terlupakan. Dari Lalinju, SkyAve, BINTAMA, dan kegiatan-kegiatan lain di Labschool itu tidak bisa dilupakan. “Walaupun kita senang-senang, kita masih diajarkan untuk disiplin.” Ujarnya.

Tapi, dimana ada kebaikan pasti ada keburukannya. Menurut Kak Arum, “SMA Labschool Kebayoran itu sedikit ‘borju’, kan itu swasta jadi anak-anaknya menengah keatas semua. Jadi yang lingkungannya mewah gitu”.

Selain itu, Labschool Kebayoran juga memiliki banyak sekali kegiatan, dan pelajarannya susah. Jadi kalau sekolah disana harus pintar-pintar mengatur waktu, kalau gak bisa jatuh semua nilainya. Apalagi ketika kelas 10, dimana kebanyakan kegiatan berlangsung. Sedangkan saat kelas sepuluh, kita masih berada pada masa adaptasi, dan harus menjaga nilai untuk mendapatkan jurusan yang diinginkan saat  kelas sebelas.

“Apa ya.. kalo aku paling biologi ada, sosiologi ada, statistika ada. Udah sih pelajaran di psikologi gak banyak yang memakai pelajaran dari SMA” Kata Kak Arum ketika ditanyakan tentang pelajaran yang masih terus terpakai.

Mungkin ini salah satu kekurangan dari sekolah, bukan hanya Labsky, tapi sekolah-sekolah lain juga. Karena, kita dibuat belajar sesuatu yang mungkin tidak terpakai kedepannya, sehingga otak kita jadi penuh.
Pendapat Kak Karina tidak jauh dari pendapat Kak Arum. “Sekolah di Labschool capek ya? Tenang aja nanti juga lewat. Sesusah apapun kegiatannya tetep asik kok” Katanya saat saya wawancara.

Menurutnya, SMA Labschool Kebayoran mengajarkan kita untuk menjadi anak yang mandiri. Kepemimpinannya juga dilatih. Selaun itu murid-muridnya juga diajarkan untuk lebih tegas. Intinya, Labsky membentuk karakter siswanya menjadi jauh lebih baik.

Di SMA Labschool Kebayoran, angkatannya pasti solid-solid dan kompak karena kegiatan yang dijalaninya. Mulai dari MOS, Pilar, Pra TO, TO, BINTAMA; itu terus membentuk angkatan yang baik kalau menurut Kak Karina.

Untuk bidang akademik, Kak Karina berpendapat bahwa kita belajar untuk berpikiran dengan cara sistematis. Mulai dari harus mengerjakan apa hinggaa seterusnya kita bisa langsung tahu. Wawasan kita pasti luas. Kita tidak hanya diajarkan secara akademik, tapi kemampuan kita di bidang lainnya terus diasah.
Sehingga, hal yang dulunya tidak pernah kita lakukan atau jalani sebelumnya telah diketahui.  Kita juga sudah terbiasa sibuk, dan biasa membuat laporan dan karya tulis, sehingga nanti saat kuliah akan lebih mudah.

“Kuliah menjadi jauh lebih mudah!” Kata Kak Karina. Mungkin apa yang dikatakan guru-guru benar. Kita menjadi multi tasking dan jauh lebih bertanggung jawab. Kita bisa melakukan kegiatan A, sambil mengerjakan tugas B, dalam keadaan apapun itu. Kata Kak Karina, mau sesusah apapun tugasnya, pasti diselesaikan tepat waktu.

Menurut Kak Karina di SMA Labschool Kebayoran, kita sering keteteran. Hal ini dikarenakan tuntutan kegiatan-kegiatan sekolah, baik akademik maupun non-akademik, kegiatan-kegiatan diluar sekolah, dan kegiatan organisasi. Dengan pengalaman SMA selama 3 tahun, kita menjadi pintar membagi waktu. Dengan standar nilai seperti Labsky dan teman-teman seangkatan yang pintar-pintar, kita pasti terus terdorong untuk menjadi lebih baik.

Sayangnya kegiatan-kegiatan ini juga membuat kita kurang maksimal saat belajar. “Karena kecapekan, serta kegiatan yang memakan banyak waktu, kita menjadi susah belajar dengan maksimal” Komentar Kak Karina.

Saya harus setuju dengan hal ini, saat kelas sepuluh, saya dan teman-teman saya merasakan bertapa susahnya sekolah. Dulu saat SMP, saya masih bisa bersantai. Sekarang, 24 jam dalam sehari saja kurang. Sepertinya tugas-tugas dan lainnya tidak bisa terselesaikan di rumah. Bukan hanya saya, teman-teman saya juga begitu. Untung saja sekarang kita sudah terbiasa dengan hal ini dan tidak lagi keteteran oleh akademik dan non-akademik.

Kak Mayang memberi respon yang hampir sama dengan Kak Arum dan Kak Karina tetang kelebihan SMA Labschool Kebayoran. Menurut Kak Mayang, kita bisa belajar lebih mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu kita belajar untuk menjadi lebih disiplin. Kita belajar untuk tepat waktu, tertib, serta memberikan usaha yang maksimal dalam kegiatan apapun.

“Dengan kegiatan-kegiatan di Labsky, kita belajar untuk membentuk karakter yang lebih baik.” Komentar Kak Mayang.

Selain itu, menurut Kak Mayang, hal positif tentang SMA Labschool Kebayoran adalah pengalaman berorganisasinya. Di Labsky, kita diajarkan kepemimpinan dan organisasi. Selain itu menumbuhkan kebiasaan saling tolong-menolong, dan membentuk angkatan yang solid dan kompak. Bisa dibuktikan dengan para alumni Labsky yang sekarang terus berorganisasi di kuliahnya (menurut para guru).

Berbeda dengan Kak Arum dan Kak Karina, ketika ditanyakan tentang minusnya sekolah di SMA Labschool Kebayoran, Kak Mayang bingung sendiri.

“Gak ada sih kayaknya…….” Kata Kak Mayang setelah ditanyakan tentang negatifnya sekolah di Labsky.
Menurutnya, walupun mungkin ada sesuatu yang tidak menyenangkan ketika bersekolah di Labsky, hal ini tertutupi oleh hal-hal positifnya. Masih jauh lebih banyak hal positif dari Labsky daripada negatifnya. Lebih baik mengingat yang enaknya saja.

Dulu, ketika Kak Mayang masih mengajar ekskul kuliner di Labsky bersama Kak Pasha, dia sering bercerita tentang pengalamannya ketika masih SMA. Seperti ketika Kak Mayang menjalani BINTAMA, TO, dan lainnya. Kak Pasha dan Kak Mayang sering memberi tips-tips kepada murid-murid kuliner. Hal ini menunjukkan bertapa tidak terlupakannya kegiatan-kegiatan di Labsky. Untuk Kak Mayang, pengalaman yang peling tidak bisa dilupakan adalah pengalamannya ketika menjadi OSIS.

Saat di kuliah, Kak Mayang merasa bahwa semua yang dipelajari di SMA Labschool Kebayoran terpakai olehnya. Walaupun hanya sedikit, dan mungkin tanpa disadari, pelajaran-pelajaran di Labsky terus terpakai saat kuliah.

Dari wawancara ini, dapat saya simpulkan bahwa SMA Labschool Kebayoran memang sekolah yang bagus. Walaupun ada hal-hal negatifnya, masih jauh lebih banyak hal positifnya. Labsky bukan hanya membentuk murid-muridnya menjadi anak yang pintar-pintar dan berwawasan luas. Labsky juga membentuk karakter murid-muridnya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Walaupun kegiatan-kegiatannya menguras tenaga, dan kita harus mondar-mandir antar belajar, berorganisasi, dan kegiatan lainnya.

SMA Labschool Kebayoran menghasilkan murid-murid yang berkualitas di setiap tahunnya. Dengan wawasan luas, dan karakter yang sangat baik. Semoga hal ini bisa diteruskan kepada angkatan saya, dan angkatan-angkatan seterusnya. Terima kasih untuk Kak Arum, Kak Karina, serta Kak Mayang yang sudah meluangkan waktu  untuk wawancara ini. Semoga bisa terus sukses kedepannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar