Kamis, 20 September 2012

Tugas 2 - Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky



 Labsky dari Berbagai Sudut Pandang

Sebuah sekolah pasti memiliki sisi positif dan negatif selama sekolah itu menjalani proses belajar mengajar. Kali ini saya berkesempatan untuk membahas sisi positif dan negatif yang dimiliki oleh SMA Labschool Kebayoran. Saya mewawancarai 3 orang narasumber yang merupakan alumni dari SMA Labschool Kebayoran. Setiap narasumber memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap SMA Labschool Kebayoran. Mereka juga memiliki pengalaman-pengalaman menarik masing-masing selama menjalani studi di SMA Labschool Kebayoran. Berikut akan saya jelaskan Plus Minus SMA Labschool Kebayoran menurut ke tiga narasumber tersebut.

Himmawati Zahara Gani
Kak Zahara Himmawati atau yang biasa dipanggil Kak Zahara sekarang sedang menjalani kuliah tahun ke-3 nya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Akuntansi. Dia merupakan siswi SMA Labsky pada tahun 2007 – 2010. Dia merupakan siswi di angkatan 7 dengan nama angkatan SAPTRAKA(Sapta Garuda Adhikara). Sisi positif dari SMA Labsky menurut Kak Zahara adalah guru di SMA Labsky merupakan guru-guru yang kompeten di bidangnya, dan dalam proses belajar mengajar selalu memberikan hal-hal yang baru sehingga murid tidak merasa bosan dengan cara mengajar yang monoton. Guru juga memberikan pelajaran dengan cara yang ringan dan mudah dimengerti oleh murid. Sehingga dengan begitu guru dan murid bisa menjalin hubungan yang harmonis, dan apabila terdapat masalah dalam hal akademik, guru dapat memberikan bantuan secara adil kepada murid seperti kesempatan remedial, agar murid dapat meningkatkan nilainya kembali. Guru pun bersikap seperti layaknya teman sebaya terhadap murid-murid. Sehingga guru dapat lebih mudah memberikan pelajaran moral kepada murid dengan cara memberikan contoh bersikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kak Zahara, SMA Labsky mengajarkan banyak hal tentang bagaimana bersikap dalam kehidupan sebenarnya. Labsky berhasil mendidik murid-muridnya dengan 7 nilai dasar Labschool yang dimilikinya. 7 nilai dasar tersebut terdiri dari “Bertaqwa, berintegritas tinggi, berdaya juang kuat, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi”. 7 nilai dasar yang diajarkan ini sangat dirasakan manfaatnya oleh Kak Zahra ketika berada di bangku kuliah. Dan menurutnya karena nilai-nilai inilah ia dapat bertahan selama kuliah. Namun, di balik sisi positif yang dipaparkan beliau, masih ada beberapa sisi negatif yang menurutnya masih ada sampai sekarang di SMA Labsky. Menurut Kak Zahara, di Labsky ada banyak sekali peer group dalam hal pertemenan. Yang dimaksud disini adalah banyak sekali kelompok pertemanan yang membedakan antara anak-anak yang cantik, gaul, cupu dan lain-lain. Sebenarnya adanya kelompok ini bukan merupakan masalah yang besar, dan pasti di setiap sekolah terdapat hal-hal yang serupa. Yang menjadi masalah adalah ketika kelompok itu tidak mau bergaul atau berbaur dengan kelompok lain dan bermain dengan teman-teman yang lain. Contohnya ketika seorang siswa mulai bersekolah di SMA Labsky, dan dia menemukan teman-teman yang menurutnya memiliki jalan pikiran yang sama dan selalu nyambung ketika berbicara, dia hanya akan bermain dengan temannya itu terus hingga dia lulus dari SMA Labsky. Seperti adanya tembok besar yang membatasi antara 1 kelompok dengan kelompok yang lain. Padahal di Labsky sudah diajarkan bagaimana bertoleransi dengan semua orang terutama sesama teman. Menurut kak Zahara, bermain dengan semua orang akan lebih baik daripada bermain hanya dengan teman yang itu-itu saja, karena masa SMA merupakan masa dimana kita bisa mengenal banyak sekali jenis kepribadian masing-masing orang dan bisa menyesuaikan bagaimana kita bersikap terhadap orang yang berbeda. Sisi negatif yang kedua menurut kak Zahara adalah terlalu banyak biaya yang keluar selama bersekolah di SMA Labsky. Biaya yang dimaksud disini bukan biaya pokok pembayaran sekolah, namun yang dimaksud adalah pembayaran untuk kegiatan-kegitan tambahan lainnya. Dengan menyampaikan ini, beliau tidak bermaksud menyindir pihak manapun, beliau hanya ingin menyampaikan pendapat pribadinya saja. Ia memberikan contoh ketika ia akan mengikuti kegiatan studi tour ke Jogja, dan biaya yang harus dikeluarkan sebesar 3 juta rupiah. Orang tua beliau sangat kaget ketika mengetahui bahwa biaya yang dikeluarkan sangatlah besar dan seharusnya bisa saja di tekan sebesar mungkin karena biaya hidup di Jogja bisa dibilang cukup murah. Dan satu contoh lagi, menurut narasumber, ketika Bintama, beliau harus membayar biaya yang cukup tinggi, padahal pertimbangannya, selama Bintama semua serba dibatasi dan pastinya tidak enak karena harus menjalani kehidupan seperti layaknya seorang Kopassus. Beliau memberi saran, kalau bisa biaya untuk kegiatan sekolah seperti itu harus ditekan semaksimal mungkin, karena banyak biaya yang tidak terlalu penting dan biasanya itu lebih mahal dari biaya pokok yang lebih penting. Satu lagi sisi negative di SMA Labsky menurut Kak Zahara adalah tempat parkirnya yang kecil. Hal ini juga masih dikeluhkan sampai sekarang. Rata-rata murid Labsky berangkat sekolah menggunakan mobil pribadi, tidak sedikit yang ditunggu oleh supir atau membawa kendaraan sendiri. Menurutnya, lahan parkir di Labsky sangat minim dan tidak bisa memenuhi kebutuhan murid-murid. Tidak jarang Labsky mendapat teguran dari lingkungan sekitarnya karena membuat kemacetan yang diakibatkan oleh mobil-mobil tersebut.

Pratiwi Purworini
Kak Pratiwi Purworini atau yang biasa dipanggil Kak Tiwi merupakan alumni SMA Labsky pada angkatan yang sama dengan Kak Zahara, yaitu Saptraka. Sekarang Kak Tiwi sedang menjalani kuliah tahun ke-3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Komunikasi Universitas Indonesia. Ia memiliki pendapat yang berbeda dengan Kak Zahara. Menurutnya sisi positif dari SMA Labsky adalah dengan diadakannya Bintama, murid SMA Labsky dididik untuk menjadi siswa-siswi yang disiplin dan memiliki mental yang kuat untuk menghadapi persaingan di dunia luar yang sebenarnya yang lebih kompleks daripada sekedar persaingan di sekolah. Ia merasakan bahwa apa yang dipelajarinya di Bintama sangat berguna bagi dirinya untuk menjalani kehidupan semasa kuliahnya. Menurutnya, Labsky mengajarkan murid-muridnya untuk selalu berbuat jujur. Ini merupakan cerminan dari sekolah itu sendiri. Apabila sekolah selalu berbuat jujur dan terbuka terhadap murid-muridnya, murid pun akan segan dan malu apabila mereka tidak berbuat jujur. Inilah salah satu cara Labsky mendidik moral anak-anaknya. Labsky juga menanamkan nilai-nilai agama yang kental, sehingga murid-murid Labsky menjadi anak-anak yang bertaqwa dan InsyaAllah berakhlak mulia. Banyak cara yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai agama tersebut. Setiap siang pasti semua murid diwajibkan untuk Sholat Dzuhur berjamaah sehingga selain dapat menambah pahala yang lebih dengan sholat berjamaah, guru-guru dapat menggunakan kesempatan ini untuk memberikan informasi-informasi penting. Untuk mendidik murid-muridnya, tidak sedikit murid yang mendapat hukuman apabila tidak mengikuti Sholat berjamaah. Namun, dibalik sisi positif yang dipaparkan Kak Tiwi, ada juga sisi negative yang dinyatakannya. Menurut beliau, kegiatan-kegiatan di Labsky terlalu padat, sehingga kadang menguras stamina dan energy, dan apabila tidak diimbangi dengan asupan yang cukup, anak Labsky pasti mudah sekali untuk sakit. Banyak pengalaman menarik yang dialamin Kak Tiwi selama bersekolah di SMA Labsky. Pertama, Kak Tiwi sangat bangga pernah mengikuti pelatihan dan pendidikan di Kopasus dalam kegiatan Bintama, karena ini membuat ia memiliki nilai tambah dan kebanggaan tersendiri yang berbeda dengan anak SMA lain pada umumnya. Labsky memiliki cara yang unik dalam pemilihan OSIS baik ketua maupun anggotanya. Banyak sekali tahap-tahap yang harus dilewati untuk menjadi pengurus OSIS di SMA Labsky. Ini membuktikan bahwa yang menjadi pengurus OSIS di SMA Labsky bukanlah orang yang asal-asalan dipilih, namun orang-orang yang pastinya sangat kompeten. Dalam pemilihan ketua umum OSIS, Labsky sangat mengajarkan cara berdemokrasi. Calon ketua umum harus berkampanye agar murid Labsky tertarik akan visi misi yang diberikan dan memilihnya ketika pemilihan ketua umum OSIS berlangsung. Pemilihannya pun berlangsung seperti Pemilu atau Pilkada di Indonesia, dan ketika penghitungan semua murid menyaksikan agar tidak terjadi kecurangan dalam hal apapun. Pengalaman menarik Kak Tiwi berikutnya adalah lari pagi setiap Jumat yang dilaksanakan di SMA Labsky. Lari pagi ini terkadang mengambil tema tersendiri dan murid-murid harus menggunakan atribut atau kostum yang berbeda-beda sehingga lari pagi ini tidak sekedar olahraga saja namun sebagai ajang unjuk kreativitas setiap murid. Terakhir, Kak Tiwi juga sangat senang ketika bisa menjadi panitia di acara pentas seni tahunan SMA Labsky yaitu SKY AVENUE. Ia menyatakan bahwa dengan adanya kegiatan ini ia dapat mempelajari hal-hal kepanitiaan dan belajar mengkoordinasikan satu bagian dengan bagian yang lain agar acara yang ditampilkan menjadi kebanggaan bersama.

Dila Amalia
Kak Dila Amalia atau yang biasa dipanggil Kak Dila, juga merupakan alumni SMA Labsky pada angkatan Saptraka. Sekarang Kak Dila sedang menjalani kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Komunikasi di Universitas Indonesia. Jenjang pendidikan yang ia jalani mulai dari SD hingga SMP adalah sekolah negri. Sehingga ketika ia masuk dan menjadi siswi di SMA Labsky, ia merasakan banyak sekali hal berbeda yang dibandingkan dengan sekolah negri pada umumnya. Memang, Labsky merupakan sekolah swasta umum yang pasti berbeda dengan sekolah negri pada umumnya. Alasan mengapa Kak Dila ingin bersekolah di Labsky karena kakak dari Kak Dila merupakan alumni dari SMP Labsky, dan dengan mendengar semua cerita menarik yang diceritakan oleh kakak beliau, ia sangat tertarik untuk bersekolah di Labsky. Benar saja, apa yang di dengarnya itu bukanlah omongan belaka, namun memang begitulah adanya Labsky. Menurutnya Labschool sangat berbeda dengan sekolah swasta pada umumnya. Walaupun anak-anak di Labschool termasuk anak yang keadaan ekonominya lebih dari cukup, murid Labschool selalu diajarkan bagaimana hidup dengan sederhana. Labschool selalu mengajarkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin masa depan, penerus bangsa yang taat beragama dan mandiri. Sehingga secara langsung atau pun tidak langsung, hal ini membentuk kepribadian murid-murid Labchool. Apalagi, hal-hal ini diajarkan melalui berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan Labschool untuk murid-muridnya, seperti MOS, kegiatan agama, TO, Bintama, lari pagi Jumat, dan lain-lain. Menurut Kak Dila, anak Labschool memiliki jenis pergaulan yang berbeda dengan murid SMA pada umumnya. Anak Labschool bergaul dengan baik dan penuh tanggung jawab. Maksudnya, mereka membedakan mana hal-hal yang seharusnya ada dalam pergaulan dan mana hal-hal yang tidak seharusnya ada bahkan harus dibuang jauh-jauh untuk menghindari dari pergaulan yang tidak baik. Ini merupakan salah satu nilai plus yang dimiliki murid-murid SMA Labsky. Hal positif lain yang terdapat di Labsky menurut Kak Dila adalah guru-guru pengajar yang peduli dengan murid-muridnya. Guru tidak memandang sebuah kelas hanya dari satu sisi saja, namun guru memperhatikan mana siswa yang bisa menerima pelajaran dengan cepat dan baik dan mana siswa yang perlu perhatian khusus. Guru pun tidak bosan dan segan untuk memberikan perhatian khusus tersebut demi kelancaran proses belajar mengajar dan penambahan ilmu pengetahuan siswa. Guru itu pun selalu memperhatikan perkembangan yang terjadi pada setiap murid. Hal ini yang menurut Kak Dila sangat jarang ditemui di sekolah negri. Namun, masih ada beberapa hal negative yang dimiliki SMA Labsky. Salah satunya adalah murid-muridnya susah bergaul dengan pelajar dari sekolah lain. Mungkin karena mereka merasa dididik dengan cara yang berbeda, mereka merasa aneh jika bertemu dengan orang lain yang berbeda sikap dan cara bergaulnya. Tetapi Kak Dila menyatakan bahwa lebih banyak sisi positif yang dimiliki SMA Labsky daripada sisi negatifnya. Sebenarnya ini terlihat bias, namun memang beginilah kenyataan yang ia rasakan selama bersekolah di SMA Labsky. Pengalaman menarik yang pernah dialami Kak Dila banyak sekali, bahkan menurutnya, selama 3 tahun ia bersekolah di SMA Labsky, semua itulah pengalaman menarik yang pernah dirasakannya.



Kesimpulannya, setiap sekolah pasti memiliki sisi positif dan negatif. Hal-hal positif yang dimiliki SMA Labschool Kebayoran harus dipertahankan bahkan harus di tingkatkan agar Labschool tetap jaya. Apabila ada hal-hal negatif yang di tuturkan oleh narasumber tentang Labschool Kebayoran, itu bukanlah untuk menyindir pihak-pihak tertentu, namun untuk menjadi pelajaran bagi Labschool untuk meningkatkan kinerjanya di masa-masa mendatang. Semoga Labschool tetap jaya!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar