Kamis, 20 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky

Seimbang Antara Akademik dan Non-Akademik


Dalam mengambil keputusan, hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran manusia pada umumnya adalah keuntungan dan kerugian. Sejujurnya, saya memutuskan untuk bersekolah di Labschool Kebayoran tanpa banyak pikir, karena reputasinya memang sudah baik dan beberapa teman saya bersekolah disana.                                                                                        
SMA Labschool Kebayoran, tempat dimana sekitar 600 murid menghabiskan 10 jam setiap harinya dari Senin sampai Jum’at untuk menempa ilmu tanpa lemah. Disinilah terjadi suka duka dalam belajar dan bersosialisasi. Di sekolah ini pula tempat kepribadian para  murid dibentuk untuk menjadi manusia yang bermental kuat dan mampu bersaing di dunia luar. Setiap murid yang bersekolah di SMA Labschool Kebayoran atau lebih dikenal dengan Labsky ini pasti memiliki kesan terhadap Labsky yang berbeda-beda satu sama lain.                                                                 
Jika bertanya pendapat saya tentang bersekolah di Labsky,  sudah hampir pasti saya akan lebih banyak mengungkapkan sisi minus nya. Labschool pada umumnya terkenal karena berbagai macam kegiatan yang diadakan sekolah untuk para muridnya, seperti Bintama, Trip Observasi, Pilar, dan sebagainya. Organisasi di Labschool juga mempunyai nama yang baik diluar. Sebagai murid yang masih menjalankan masa SMA mungkin saya kurang merasakan sisi plus dari bersekolah di sini, lelah dan sibuk adalah perasaan yang lebih sering saya rasakan akibat harus mengatur waktu dengan baik dan benar. Tetapi para guru yang mengajar tanpa lelah di sekolahku ini selalu mengucapkan hal yang sama ketika mendengar keluh kesah muridnya: “Kamu baru akan merasakan manfaat bersekolah disini setelah sudah lulus.” Nah, apakah benar?                                                                 
“Menurut gue sih sekolah di Labsky tuh menguntungkan, karena di Labschool antara akademik dan non akademik seimbang,” ungkap salah satu alumni Labschool Kebayoran, Dio. Kak Dio adalah bagian dari angkatan 9 atau Nawastra. Alumni yang memiliki nama lengkap Dio Aufa Handoyo ini dulunya adalah seorang siswa akselerasi, sehingga kegiatan di Labsky yang sudah cukup kacau balau untuk murid regular lebih kacau lagi untuk Kak Dio. Kak Dio tetap menyempatkan waktu berorganisasi sebagai pengurus OSIS seksi Rohani ditengah padatnya kegiatan.                                  
Pendapat Kak Dio tidak jauh berbeda dengan pendapat Kak Tika. Kak Tika yang bernama lengkap Kartika Dwi Baswara ini juga berpendapat bahwa Labsky mendidik siswa-siswinya dengan baik dan seimbang.
“Salah satu kelebihan yang dimiliki Labschool Kebayoran adalah kegiatan-kegiatannya yang sangat mendidik siswa-siswinya agar menjadi lulusan dengan soft skill yang sangat baik,” kata Kak Tika. “Contohnya adalah kemampuan untuk bersosialisasi yang dilatih dengan kegiatan Trip Observasi, melatih mental dengan kegiatan Bintama, dan kegiatan-kegiatan penunjang minat seperti ekskul yang sangat bervariasi sehingga menunjang bakat yang dimiliki dan ingin dikembangkan siswa.”
Wawancara saya dengan Kak Tika via BBM

                Kak Tika yang sekarang mengambil jurusan Computer Science di Universitas Gadjah Mada ini juga berpendapat bahwa Labsky tidak hanya mengembangkan soft skill siswa saja. “Selain kegiatan yang dapat mengembangkan soft skill siswa, Labsky juga memiliki kegiatan yang berkaitan dengan kerohanian dan kesehatan. Contohnya adalah Pesantren Ramadhan yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan, dan kegiatan lari pagi yang diadakan setiap Jum’at pagi.” Kata Kak Tika.
                Seperti yang dikatakan Kak Tika, Labsky memiliki ekskul yang sangat bervariasi untuk menunjang bakat siswa. Beberapa pilihan ekskul yang tersedia di Labsky bahkan sudah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih kompleks, bukan hanya sekedar ekskul lagi. Ekskul tersebut sudah berubah menjadi organisasi. Salah satu contoh ekskul tersebut adalah Palabsky, atau Pecinta Alam Labschool Kebayoran.
                “Menurut gue, Palabsky itu salah satu keunggulan Labsky banget deh!” kata Kak Armal dengan entusias. “Palabsky tuh bukan cuman ekskul lagi, udah jadi organisasi sendiri lah. Palabsky udah melatih gue biar bisa berorganisasi.”
                Palabsky memang sudah eksis sejak pertama kali berdiri. Ekskul ini sudah berbentuk organisasi, dengan Ketua Palabsky serta Ketua Angkatan Palabsky. Palabsky sudah memiliki lebih dari 120 anggota. Ikatan antar pengurus dan alumni juga sangat kuat. Saya sendiri adalah seorang anggota Palabsky, walaupun bukan pengurus. Saya masih berstatus CAM, atau Calon Anggota Muda. Selama menjadi Calon Anggota Muda ini saya akan diberi pelatihan dalam bentuk ilmu maupun fisik tentang cara-cara survival saat berada di alam. Namun saat sudah menjadi pengurus, Palabsky sudah seperti OSIS, mempunyai bendahara, sekretaris, dan anggota dari seksi masing-masing.
                “Malah menurut gue Palabsky itu lebih bagus dari OSIS, soalnya kebersamaan dan kekompakannya bener-bener kerasa banget deh,” tambah Kak Armal.
                Pengurus Palabsky dituntut untuk membimbing adek kelasnya, atau CAM, selama satu tahun dan mempersiapkan mereka untuk melaksanakan Pendidikan Dasar Palabsky agar dapat menggantikan para pengurus itu sendiri. Selama masa satu tahun itu Pengurus dan CAM akan menjalin hubungan yang baik dan menjadi sangat akrab. Bagi saya sendiri, Palabsky bukan ekskul, bukan organisasi, tetapi Palabsky adalah keluarga.
Kalau di bidang akademik, menurut Kak Dio di Labsky ini kualitas evaluasi pengajarannya bagus. “Jadi plus nya bersekolah di Labsky itu, siswa bener-bener mengerti apa yang diajarkan.”
Kalau untuk sisi minusnya, Kak Dio harus sedikit berpikir. Setelah berpikir sedikit, Kak Dio akhirnya terpikir satu sisi minus bersekolah di Labsky. “Susahnya sih sebenernya kalo nggak bisa bagi waktu aja,” ungkapnya. “Pasti bakal repot.”
Menurut saya yang dikatakan Kak Dio ada benarnya. Padatnya kegiatan di Labsky menuntut para muridnya untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Saya sendiri masih belum terlalu bisa mengatur waktu—kadang kalau sudah sampai rumah seharusnya masih mengerjakan PR, tapi karena terlalu lelah saya langsung bablas saja tidur. Namun jika siswa bisa mengatur waktunya dengan baik, ia akan terbiasa sehingga kemampuan time management nya meningkat.
Sedangkan menurut Kak Tika, minusnya Labsky adalah mereka kurang memfasilitasi siswa siswinya yang memiliki kegiatan diluar proker yang sudah disiapkan oleh Labsky sendiri. “Contoh pribadi, waktu itu aku pernah mau ikut lomba di luar negeri yang butuh waktu lama untuk penelitian dan pengerjaan. Tapi Labsky sama sekali nggak ngasih aku keringanan untuk cabut jam pelajaran…”
                Hal itu masih berlaku, sampai sekarang. Beberapa teman saya yang ingin izin jam pelajaran untuk mengurus proker tertentu masih sangat susah mendapat izin. Kadang ketika mereka sudah dapat izin, masih tetap di alfa oleh guru tersebut. Hal ini juga merupakan sisi minus berskeolah di Labsky menurut saya.
                Sisi minus dari Labsky yang dirasakan oleh Kak Armal cukup berbeda dengan Kak Tika dan Kak Dio. Kak Armal merasa bahwa di Labsky, guru guru kadang terlalu subjektif. “Terus, selain subjektif, kadang-kadang para murid nggak dikasih kesempatan untuk membela diri. Maksud gue disini adalah saat terjadi sebuah kasus, menurut guru-guru kita salah. Yaudah, selesai kasusnya, kita salah. Nggak bisa membela diri.”
                Itulah plus dan minus bersekolah di Labsky menurut para alumni. Kak Tika dan Kak Dio adalah alumni Nawastra atau angkatan 9. Sedangkan Kak Armal adalah alumni angkatan 5, atau Pancatra. Masing-masing memiliki kesan tertentu terhadap Labsky. Untuk sisi plus, ketiga alumni Labsky ini setuju bahwa Labsky memiliki banyak program dan variasi kegiatan untuk siswanya. Untuk sisi minus, ketiga alumni yang saya wawancarai memiliki pendapat yang cukup berbeda satu sama lain.
                Menurut saya, setiap sekolah pasti memiliki sisi plus dan minus masing-masing. Labsky memang sudah terkenal diluar dengan berbagai kegiatannya. Namun saya sebagai siswa kadang suka kerepotan menyeimbangkan banyaknya kegiatan dari sekolah dan beratnya pelajaran. Namun itu mungkin sudah menjadi tanggungan dari setiap siswa karena memilih Labsky sebagai tempat mereka bersekolah.
                Hal yang sangat saya sukai dari Labsky adalah kegiatan lari pagi yang diadakan setiap hari Jum’at pagi. Saya tidak tahu sekolah lain yang melaksanakan kegiatan serupa. Dengan adanya kegiatan  tersebut, semua siswa didorong untuk tetap fit dan berolahraga diluar mata pelajaran olahraga, minimal seminggu sekali. Menurut saya setiap sekolah seharusnya ada kegiatan seperti itu.
                Hal yang saya kurang sukai dari bersekolah di Labsky, adalah banyaknya iuran yang dikenakan kepada siswa! Saya akan jujur saja. Contohnya adalah iuran untuk program BINTAMA. Program tersebut diadakan oleh sekolah, dan merupakan program wajib. Bahkan katanya kalau belum ikut Bintama, kita tidak diluluskan. Iuran untuk Bintama hampir mencapai satu juta rupiah! Padahal agenda dari bintama tersbut tidak bisa dibilang ‘menyenangkan’, haha. Kita membayar satu juta untuk ‘disiksa’ oleh kopassus selama enam hari……bagi saya itu kurang logis.
                Dengan segala plus dan minus yang dimiliki Labsky, kadang terlintas di pikiran saya jika saya bersekolah di sekolah lain, bukan di Labsky. Jadi saya bertanya pada Kak Tika, apakah Kak Tika pernah menyesal memilih Labsky sebagai tempat bersekolah?
                “Pernah sih, tapi gak sampe serius gitu kok nyeselnya,” Kak Tika mengaku. “Paling kalau lagi bete sama jadwal ujian yang padat.”
                Terakhir adalah sedikit saran untuk Labsky dari Kak Tika. “Saran buat Labsky, jangan jadi lembek! Beberapa angkatan terkahir MOS dan Pra TO lembek.  Seharusnya jangan terlalu lembek, agar angkatannya bisa solid karena pernah merasakan susah bareng bareng.”
                Begitulah plus dan minus dari Labsky menurut Dio Aufa Handoyo, Kartika Dwi Baswara dan Armal Ramadhan, serta beberapa pendapat dari saya sendiri. Setiap sekolah pasti ada plus dan minusnya. Saya sendiri yang memilih bersekolah di Labsky, maka saya akan menikmati waktu saya selama bersekolah disini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar