Rabu, 19 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky

Ilmu Kepemimpinan dari Labschool yang Berguna di Masa Depan


Berdiri di Jalan KH Ahmad Dahlan, SMA Labschool Kebayoran telah berhasil menjadi salah satu sekolah unggulan di Indonesia. SMA Labschool Kebayoran didirikan pada tahun 2001, menempati bekas gedung SGO (Sekolah Guru Olahraga). Dewasa ini, sekolah tersebut telah dikenal dengan keunggulannya dalam bidang akademik dan keaktifannya dalam berkegiatan.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini, begitu juga dengan SMA Labschool Kebayoran. Dengan segala kelebihannya, sekolah ini juga memiliki kekurangan. Dalam sebulan terakhir ini, saya telah mewawancarai beberapa alumni dari SMA Labschool Kebayoran guna mengetahui kelebihan dan kekurangan sekolah tersebut lebih lanjut, terutama yang berhubungan dengan kemanfaatan dalam perkuliahan dan dunia kerja. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjabarkan hasil wawancara saya.

Alumni pertama yang menjadi sumber saya adalah Kak Restaditya Harris. Ia merupakan alumni dari Sapta Garuda Adhikara (Saptraka), angkatan ketujuh SMA Labschool Kebayoran. Ia lulus SMA pada tahun 2010, dan melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Fakultas Teknik Sipil (FTS) sampai sekarang.

Di tengah kesibukan kuliahnya pada malam di hari Rabu, 29 Agustus 2012, saya berhasil meminta sedikit waktu dari Kak Resta untuk saya wawancara melalui jejaring sosial Twitter. Ia pun mulai menjabarkan jawabannya.
 
Profil Twitter Kak Resta

Dari pengalaman Kak Resta, ia tidak merasakan kelemahan dari bersekolah di SMA Labschool Kebayoran dalam perkuliahan. Paling tidak, itu yang ia katakan kepada saya; “Minusnya gue nggak ngerasa.” Setelah saya pikir-pikir, tidak mungkin dalam satu detik pun ia tidak merasakan minusnya bersekolah di lembaga pendidikan tesebut. Namun jika kelemahannya dalam perkuliahan, menurut saya itu logis saja. Bersekolah di SMA Labschool Kebayoran menurut saya merupakan perjalanan yang terdiri dari perjuangan panjang – dari mulai Masa Orientasi Siswa (MOS), pendidikan akademik, kegiatan sekolah, kegiatan OSIS, dan lain sebagainya yang tidak dapat saya jabarkan satu-satu. Bahkan, saya yang baru menjalaninya selama 1 tahun lebih saja sudah merasakan tekanannya. Tapi jika dilihat dalam jangka panjang, secara keseluruhan, semua perjuangan tersebut tidak sia-sia. Pada akhirnya, saya percaya jika menurut alumni yang saya wawancara kali ini, bersekolah di SMA Labschool Kebayoran tidak membawa kerugian apa pun di dunia perkuliahan.

Kemudian, Kak Resta mulai menyebutkan satu per satu kelebihan yang ia rasakan setelah bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Yang pertama adalah kemudahan untuk berorganisasi. Ketika ia sebutkan kelebihan tersebut, saya teringat bahwa Kak Resta merupakan mantan anggota Seksi Bela Negara pada OSIS Diwakara Balasena. Mungkin, ini salah satu kegiatan yang melatihnya berorganisasi di kemudian hari. Tentu saja, terdapat pula banyak organisasi lain di SMA Labschool Kebayoran yang dapat menambah ilmu. Sekolah ini memang dikenal umum dengan organisasinya yang sangat mendidik. Perhatikan saja, seperti ketika pejabat negara datang untuk menyaksikan Lari Lintas Juang (LALINJU) yang dilaksanakan oleh murid-murid Labschool. Hal tersebut membuktikan bahwa publik telah mengetahui kemampuan dan pendidikan Labschool dalam berorganisasi. Ini merupakan salah satu hal yang membanggakan dari Labschool.

 Kelebihan kedua yang disebutkan Kak Resta adalah pernyataan yang menjelaskan bahwa ia merasa berani berpendapat setelah lulus dari SMA Labschool Kebayoran. Berani berpendapat telah diajarkan sejak MOS, dilanjutkan juga ketika Trip Observasi (TO), Latihan Kepemimpinan Siswa (LAPINSI), dan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Selama bersekolah di instansi pendidikan tersebut hal ini turut diterapkan, sehingga pada akhirnya murid-murid menjadi berani berpendapat.

Kepemimpinan merupakan kelebihan berikutnya. Kak Resta mengaku bahwa sebagai lulusan SMA Labschool Kebayoran, ia merasa mudah memimpin orang, namun juga dapat dipimpin oleh orang lain. Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk memimpin, seseorang harus bisa dipimpin. Dengan kegiatan berorganisasi dan kegiatan sekolahnya, Labschool berhasil mendidik murid-muridnya ilmu kepemimpinan yang baik. Hal ini diajarkan baik secara teori, yang diajarkan di acara seperti LAPINSI, dan juga secara praktek, seperti pada setiap kegiatan sekolah, serta dalam organisasi dan komunitas Labschool.

Sebagian orang berpendapat bahwa murid-murid Labschool pastilah pintar. Saya setuju, namun Kak Resta tidak mengagungkan kelebihan yang satu ini dalam wawancaranya. Ia mengatakan bahwa kepintaran lulusan SMA Labschool Kebayoran merupakan rata-rata. Namun jika dilihat, Kak Resta bersama alumni-alumni Labschool lainnya berhasil memasuki ITB, yakni institut perguruan tinggi ternama di Indonesia. Menurut saya, yang dimaksud “rata-rata” kali ini merupakan rata-rata tingkat tinggi, atau kepintaran menengah ke atas. Karena sejujurnnya, menjadi pelajar di ITB tidaklah mudah.

Tetapi rupanya Kak Resta memiliki alasan untuk mereka yang berpendapat bahwa murid dan lulusan SMA Labschool Kebayoran itu pintar. Menurutnya, hal ini dapat terjadi karena pelajar dari sekolah tersebut pintar berbicara serta mengutarakan pendapatnya. Karena keberaniannya ini, mereka berhasil terlihat lebih pintar daripada mereka yang tidak berani berbicara. Namun, keberanian bicara merupakan kelebihan tersendiri yang tidak mudah dipelajari, dan itu merupakan salah satu kelebihan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran.
Wawancara saya bersama Kak Resta
 melalui Direct Message di Twitter

Pada kesempatan lain, saya berhasil mewawancara Kak Dio Aufa Handoyo yang merupakan lulusan dari Nawa Drastha Sandyadira (Nawastra), yakni angkatan kesembilan SMA Labschool Kebayoran. Ia mengikuti program akselerasi selama 2 tahun – memulai SMA pada tahun 2010, dan lulus pada tahun 2012. Sekarang, ia menempuh pendidikannya di Fakultas Teknik Industri Universitas Indonesia (FTIUI).

Hari wawancara saya bersama Kak Dio bertepatan pada hari Rabu, 5 September 2012. Ketika itu, saya baru saja akan memulai latihan SKYLITE 2012 di plaza. Namun sebelumnya, Kak Dio datang, dan kami pun berbincang-bincang di meja kantin depan SMA Labschool Kebayoran. Ia datang dengan pakaian santai namun rapi, bersama jaket angkatan Nawastra yang merupakan satu-satunya bawaan di tangan, menemani kunjungannya ke sekolah lama.

Kak Dio mulai menceritakan kisah sekolahnya di SMA Labschool Kebayoran. Dengan jujur, ia mengakui bahwa alasannya mengikuti program akselerasi adalah karena perintah orangtua. Namun ia tidak menyesal. Meskipun sedikit kecewa dengan kurangnya berhubungan dengan teman-teman di luar kelas akselerasinya, ia senang telah berhasil lulus SMA dalam 2 tahun. Dalam masa akselerasinya, ia juga merasa lebih fokus belajar. Memasuki akselerasi juga bukan berarti tidak berorganisasi. Kak Dio merupakan mantan anggota Seksi Rohani Islam pada OSIS Dranadaraka Wiraksaka.

Kelebihan SMA Labschool Kebayoran di mata Kak Dio adalah social skill yang diberikan kepada murid-murid sekolah tersebut. Kemampuan bersosialisasi sangatlah dibutuhkan di dunia luar, karena kita tidak mungkin hanya mengandalkan sekedar pendidikan akademik saja. Pendidikan akademik tersebut bahkan tidak dapat dipakai secara maksimal tanpa adanya social skill dalam diri kita.

Pada wawancara kali ini, Kak Dio mengucapkan terima kasihnya kepada SMA Labschool Kebayoran atas acara-acara sekolahnya yang membantu Kak Dio menjadi disiplin dan bertanggung jawab. Salah satu acara sekolah yang ia sebutkan adalah LAPINSI. Acara tersebut merupakan acara tentang kepemimpinan. “LAPINSI tuh bagus. Materinya masih kepake sampai sekarang.” Beberapa materi tersebut ialah cara membuat proposal, serta materi manajemen organisasi. Saya tidak menyangka bahwa materi seperti ini dapat bertahan dan berguna dalam jangka waktu yang begitu panjang. Namun kedisiplinan dan tanggung jawab yang dipelajari dari acara-acara Labschool sudah mulai saya rasakan sekarang, bahkan sebelum saya lulus. Kedua hal tersebut sangat membantu untuk membagi waktu, dan tentu berguna dalam hal lainnya juga.

Namun sayangnya, di mata umum, SMA Labschool Kebayoran terkesan elit. Mereka menganggap bahwa murid-murid sekolah tersebut merupakan orang kaya. Begitulah deskripsi Kak Dio, dan ia merasakannya saat masuk kuliah. Menurut saya, akan terasa perbedaan di kuliah, ketika teman-teman berpikir bahwa Anda merupakan orang kaya, karena Anda merupakan lulusan dari SMA Labschool Kebayoran.

Berkegiatan di SMA Labschool Kebayoran juga menggangu nilai Kak Dio ketika SMA dulu. Karena merupakan anggota OSIS dan juga penjurusan, nilainya sempat turun. Kak Dio menjelaskan, sebenarnya OSIS banyak memakan waktu. Namun asal bisa bagi waktu, semuanya akan baik-baik saja. Nilai dapat saja sempat turun karena OSIS, tapi hal tersebut dikarenakan gagalnya membagi waktu.

Mengenai pembagian waktu, ketika saya tanya bagaimana caranya, Kak Dio menjawab bahwa ia juga masih belajar sampai sekarang. Tentu saja, kemampuan membagi waktunya sudah meningkat jauh, namun ia mengaku masih perlu dipelajari lebih lanjut lagi. Sarannya dalam membagi waktu adalah membuat jadwal kegiatan, sehingga kita dapat mengetahui mana target yang tercapai dan tidak. Kemudian, membagi waktu juga membutuhkan tekad yang tinggi. Secara pribadi, saya mengalami bahwa pembagian waktu merupakan hal yang sulit. Sedikit terkejut, saya akhirnya menyadari bahwa belajar untuk membagi waktu mungkin tiada akhirnya.

Kak Dio kemudian bercerita sedikit tentang kehidupannya di kuliah. Seperti yang diketahui warga Labschool, ketika kelas X diadakan Bina Mental Kepemimpinan Siswa (BINTAMA). Saat kuliah, Kak Dio mengikuti kegiatan pelatihan militer. Karena pengalamannya dengan BINTAMA, ia mulai menyepelekan kegiatan militer tersebut. Saat ia jalani, rupanya kegiatan tersebut jauh lebih berat dari BINTAMA yang dialaminya. Dengan bukti tersebut, hal itu merupakan salah satu kekurangan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran, karena kesombongan yang menyesatkan.

Di akhir wawancara, Kak Dio akhirnya memberi saran agar pelajar angkatan sekarang ini dapat membawa nama SMA Labschool Kebayoran menjadi lebih baik. Saran beliau adalah, “SMA cuman 3 tahun, nikmatin aja.” Karena jika menjalankan kegiatan dengan stress tanpa kenikmatan, SMA akan menjadi siksaan batin yang rasanya lama sekali selesai. Artinya, kita perlu kebahagiaan dan semangat untuk mengerjakan soal dan tugas lainnya. Terakhir, saya dan Kak Dio pun berfoto sebagai bukti dari perbincangan kami.
 
Bersama Kak Dio di sekitar kantin depan Labschool Kebayoran

Alumni ketiga yang saya wawancara adalah Kak Filza Munir. Sama seperti Kak Dio, ia merupakan lulusan dari angkatan Nawastra, namun perbedaannya adalah Kak Filza mengikuti program reguler alih-alih program akselerasi. Sekarang, Kak Filza juga melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik Industri, namun ia memilih ITB untuk instansi perguruan tingginya.

Wawancara bersama Kak Filza merupakan wawancara yang memiliki proses paling panjang di antara wawancara saya yang lain. Saya melaksanakan wawancara tersebut pada hari Minggu, 16 September 2012. Hari tersebut merupakan hari berlangsungnya drama musikal SKYLITE 2012 yang sangatlah sibuk. Saya mulai menyapa sang alumni melalui Blackberry Messenger pukul 7.36 pagi ketika saya masih berada di dalam taksi sembari menempuh perjalanan ke Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki untuk berkumpul dan melaksanakan gladi resik. Awalnya saya izin wawancara, dan Kak Filza pun membalas dengan pernyataan boleh. Namun rupanya perbincangan kami ini terjadi ketika ia hendak menyetir di Bandung, kota tempat ia berkuliah. Akhirnya, juga karena kepadatan kegiatan SKYLITE 2012, perbincangan kami tertunda. Ketika itu, kami berbincang dari sekitar pukul setengah 1 siang sampai setengah 4 sore.

Setelah acara drama musikal yang dipersembahkan SMA Labschool Kebayoran akhirnya usai pada sekitar pukul 11 malam, saya mulai berpikir untuk melanjutkan wawancara di keesokan harinya saja. Namun rupanya Kak Filza menjawab pertanyaan wawancara saya pada pukul 11.40 malam. Ia pun mengaku bahwa dikeesokan harinya, ia memiliki jadwal untuk melaksanakan kuis di kuliah. Mungkin sampai jam tersebut ia masih belajar, sehingga ia masih bangun untuk saya wawancara.

Kak Filza memulai jawabannya dengan kelebihan dari bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Ia menjelaskan bahwa semasa bersekolah di lembaga pendidikan tersebut, ia diberi ilmu kepemimpinan. Hal ini membantunya untuk tidak perlu beradaptasi lagi dengan orang-orang baru serta lingkungan sekitar semasa kuliah. Kepemimpinan memang membantu untuk bersosialisasi, dan tentunya membantu beradaptasi. Orang yang berani memimpin akan lebih berani daripada mereka yang tidak mengerti kepemimpinan. Dan orang yang berani akan jauh lebih mudah beradaptasi dengan orang-orang yang baru dikenal serta lingkungan sekitar. Sehingga berdasarkan jawaban Kak Filza, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang diajarkan SMA Labschool Kebayoran juga membantu untuk beradaptasi dengan orang-orang baru dan lingkungan sekitar.
 
Kelebihan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran
menurut Kak Filza


Kemudian, Kak Filza menjelaskan kekurangan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Sekolah tersebut merupakan sekolah swasta. Secara umum, diketahui bahwa murid-murid sekolah swasta seperti ini memang akan lebih sulit untuk memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ini merupakan kekurangan yang Kak Filza sebutkan. Mungkin tak terdengar berlebihan, namun sangatlah merugikan. Bahkan, diperbincangan keluarga, seorang sepupu saya yang baru-baru ini mendapatkan gelar dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengakui bahwa “kalo dari Labschool, gue juga ngga tau pasti kenapa, tapi yang masuk FKUI tiap tahunnya hanya 1 atau 2, atau sekitarnya. Nggak pernah jauh lebih dari angka-angka itu.” 

Kekurangan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran
menurut Kak Filza

Namun tentunya sulit bukanlah tidak mungkin. Buktinya, tak terhitung alumni SMA Labschool Kebayoran yang memasuki PTN ternama, seperti ITB dan UI. Bahkan, Kak Filza sendiri berhasil memasuki ITB. Dengan usaha yang cukup serta tekad yang kuat, rintangan dapat dilewati, dan PTN dapat dicapai.

Mirip dengan akhir wawancara-wawancara saya yang sebelumnya, akhirnya wawancara saya dengan Kak Filza berakhir dengan ucapan terima kasih dan doa atas kesuksesan Kak Filza dalam kuis dan masa depannya. Tepatnya, wawancara saya berakhir ketika jam menunjukkan pukul 12.13 pagi di hari Senin, 17 September 2012. Jadi, perbincangan kami berlangsung dari pukul 7.36 pagi di hari Minggu, sampai pukul 12.13 pagi di hari Senin. Namun wawancara tersebut tetaplah menyenangkan dan berkesan untuk saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar