Kamis, 20 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di SMA Labsky

Labschool Sebagai Keluarga


Sebagai siswi kelas sebelas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam dari Sekolah Menengah Atas Labschool Kebayoran, saya belum tahu banyak mengenai seluk beluk SMA Labschool Kebayoran. Lain halnya dengan alumni dari SMA Labschool Kebayoran yang telah merasakan tiga tahun naik turun di SMA yang saya jalani sekarang ini. Saya telah mewawancarai tiga alumni SMA Labschool Kebayoran, yang tidak lain merupakan siswa dan siswi berpengaruh pada SMA Labschool Kebayoran. Saya mewawancarai ketiga-tiga alumni, kak Nurul Parameswari dari angkatan 8, yaitu Hastara , kak Adila Nathania dari angkatan 9, yaitu Nawastra, dan kak Ganis Syahputra dari angkatan 8, angkatan yang sama dengan kak Nurul Parameswari, yaitu Hastara, melalui teknologi Blackberry Messenger, sebuah aplikasi chatting untuk Blackberry.

Kak Nurul Parameswari (Hastara)

Contact Profile Blackberry Messenger Kak Nuya
Kak Nurul Parameswari, atau akrabnya dipanggil dengan nama panggilan kak Nuya,menjelaskan bahwa dibalik semua kemegahan dan keunggulan Labschool, SMA Labschool Kebayoranpun memiliki kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut meliputi dari segi fasilitas, sampai segi pembelajaran.

Dari segala segi fasilitas yang seluruh sekolah di Indonesia miliki, tentunya ada fasilitas yang dilirik dari pertama kali oleh orang-orang. Hal tersebut tidak lain dari toilet. Kebersihan toilet sangat mempengaruhi penilaian orang terhadap suatu tempat, apalagi dalam kasus ini, sekolah. SMA Labschool Kebayoran memiliki total 6 pasang toilet yang terinstalasi di bagian SMA, maupun SMP. Ditambah dengan toilet umum di dekat ruang guru SMA, serta toilet yang terdapat pada tempat wudhu di masjid milik Labschool Kebayoran. 6 pasang toilet masing-masih terlatak di lantai 1, 2, 3, dan 4. Di lantai 1, satu pasang toilet terletak di depan, kemudian satu pasang lagi di bagian SMP, serta satu pasang lainnya di bagian SMA, dekat kantin belakang. Pada lantai 2, hanya terdapat satu pasang toilet yang terletak di sebelah tangga, pertemuan bagian SMP dan SMA. Kemudian, di lantai 3, toilet berada pada bagian SMA, sedangkan di lantai 4, terletak di sebelah pintu masuk aula lantai 4. Kak Nurul Parameswari mengatakan bahwa kebersihan toilet Labschool Kebayoran cukup bersih, tetapi tidak cukup bersih untuk dikatakan bersih. Dalam artian, sebenarnya wangi yang kurang sedap dapat tercium. Selain kebersihan toilet, kebersihan kantin juga kurang. Kantin merupakan tempat dimana anak-anak didik SMA dan SMP membeli dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mereka beli atau bawa. Seringkali, kesadaran murid-murid akan kebijakan membuang sampah pada tempatnya kurang. Sehingga menyebabkan sampah dan bekas makanan dimana-mana, walaupun petugas kantin seringkali membereskan.

Sekolah memiliki staf yang juga merupakan anggota dari keluarga besar sekolah tersebut. Seperti halnya Labschool Kebayoran. SMA Labschool Kebayoran juga memiliki pramubakti yang membantu membersihkan dan merapikan sekolah kita yang tercinta, sehari-harinya. Salah satu kekurangan dari Labschool Kebayoran menurut kak Nurup Parameswari adalah pramubakti yang kurang ramah. Padahal, pramubakti juga merupakan anggota keluarga besar Labschool.

Pembukaan Wawancara dengan Kak Nuya
Dapat diakui bahwa bayaran SMA Labschool Kebayoran tidaklah murah. Dengan bayaran yang tidak murah tersebut, seharusnya diharapkan segala fasilitas yang kita butuhkan dapat memuaskan kita, sehingga kita, sebagai murid-murid SMA Labschool Kebayoran tidak sia-sia membayar mahal, asalkan fasilitas yang kita dapatkan sepadan dengan apa yang kita bayar. Ternyata, kak Nurul Parameswari berkata lain, kak Nurul mengatakan bahwa fasilitas yang diberikan Labschool kurang sepadan dengan tagihan pembayaran sekolah. Terdapat fasilitas yang kurang maksimal, sehingga tidak terlalu sukses. Seperti halnya WiFi. SMA Labschool Kebayoran memiliki jaringan WiFi untuk memenuhi kebutuhan siswa-siswinya yang membutuhkan untuk tersambung ke internet. Internet sangatlah membantu dalam penyelesaian tugas siswa-siswi. Akan tetapi, WiFi yang terdapat di SMA Labschool Kebayoran sangatlah tidak memenuhi kriteria WiFi yang dapat digunakan setiap murid. Ironisnya, lebih cepat mencari jawaban pada buku di perpustakaan, daripada menunggu hasil pencarian di internet melalui WiFi SMA Labschool Kebayoran, saking lamanya internet berjalan. Dengan hal ini pun saya setuju dan juga merasakan hal yang sama.

Dengan bangunan yang memiliki lokasi yang sama dengan bangunan SMP, seharusnya lapangan parkir lebih diperbesar, karena dapat dilihat sekarang, dengan banyak mobil yang parkir di pinggir jalan sekitar Labschool Kebayoran, dikarenakan oleh terbatasnya lahan parkir di dalam Labschool Kebayoran.
Jika dilihat dari segi akademis, kak Nurul Parameswari mengatakan bahwa terdapat suatu waktu ketika murid-murid mengejar pelajaran dengan diadakannya ulangan ini, ulangan itu, tugas ini, maupun tugas itu, di satu waktu yang bersamaan. Hal tersebut menyebabkan banyak murid-murid yang ‘keteteran’ oleh banyaknya tugas dan ulangan yang menumpuk di satu waktu, seolah-olah tidak ada waktu lagi. Padahal, kemudian seringkali setelah masa-masa sibuk mengejar tersebut berlalu, tidak ada lagi sisa pekerjaan yang harus dikerjakan oleh murid-muridnya, sehingga menyebabkan ‘pengangguran’ sementara dari tugas dan ulangan. Selain penugasan dan ulangan yang berkumpul dalam satu waktu, kak Nurul Parameswari merasa bahwa ketika ada suatu program kerja yang diselenggarakan oleh OSIS, guru-guru kurang mendukung program kerja tersebut.

Dibalik ‘kecuekan’ guru dalam menanggapi program kerja oleh OSIS tersebut, ternyata banyak juga dampak positif yang diakibatkan oleh SMA Labschool Kebayoran terhadap diri kita sendiri. Dengan banyaknya kegiatan dan kepanitiaan yang ada pada SMA Labschool Kebayoran, kak Nurul Parameswari mengaku menjadi lebih terbiasa dengan menghadapi stress dan kesibukan, manajemen waktu, serta menjadi lebih terbiasa dengan adanya banyak tugas dan kepanitiaan di kuliahnya.

SMA Labschool Kebayoran memiliki lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan kreatifitas, sehingga banyak bakat yang terasah pula. Selain itu, kegiatan yang kita jalani seperti TO, Bintama, dan sebagainya, ternyata merupakan kegiatan yang positif dan terasa manfaatnya oleh kak Nurul Parameswari bagi kehidupan. Karakter masing-masing diripun terbina dengan baik, sehingga di masa depan dapat menjadi orang yang lebih baik lagi.

Kak Adila Nathania (Nawastra)

Contact Profile Blackberry Messenger Kak Tanya
Kak Adila Nathania, atau akrabnya dipanggil dengan nama panggilan kak Tanya, lebih menekankan pada persatuan dan keakraban yang didapat melalui bersekolah di SMA Labschool Kebayoran.

Kak Adila Nathania mengaku bahwa selama 3 tahun bersekolah di SMA Labschool Kebayoran benar-benar pengalaman yang sangat berkesan, dan hampir tidak ada negatifnya dalam bersekolah di  SMA Labschool Kebayoran, hanya saja kak Adila Nathania setuju dengan kak Nurul Parameswari mengenai kebersihan toilet yang harus ditingkatkan. Kak Adila Nathania mengaku, memang pada awalnya sangat melelahkan, dengan segala kegiatan seperti Trip Observasi, Bintama, dan lain-lain, tetapi akan disadari ketika semua itu sudah lewat, akan timbul perasaan rindu.

Kelas 11 merupakan masa-masa yang paling dirindukan oleh kak Adila Nathania, dengan segala macam kegiatannya, dari kelas yang tidak ada gurunya, bersama teman, lebih sering mengurus kepanitiaan seperti Sky Avenue, Skylite, dan Skybattle, apalagi jika merupakan pengurus OSIS/MPK.

Kelas 12 merupakan masa-masa sedih ketika saatnya berpisah dengan teman-teman. Perjuangan  menuju pencapaian di kuliah nanti, dari mengikuti bimbingan belajar di sana dan di sini, kemudian tanpa sadar, tiba-tiba sudah waktunya Ujian Nasional. Tiba-tiba, sudah selesai masa SMA kita. Kak Adila Nathania menyarankan bahwa ketika duduk di kelas 11, lebih baik menyatu dengan angkatan, karena menyatu dan berkumpul bersama teman merupakan hal yang akan sangat dirindukan nanti.

Pembukaan Wawancara dengan Kak Tanya
Dengan segudang program yang SMA Labschool miliki, tentunya setiap orang memiliki pendapat apa yang paling berpengaruh terhadap dirinya sendiri. Menurut kak Adila Nathania, program SMA Labschool Kebayoran yang paling berpengaruh terhadap dirinya di kuliah sekarang ini merupakan Bintama serta kepanitiaan-kepanitiaan, seperti kepanitiaan Sky Avenue, Sky Battle, dan lain-lain. Program tersebut berpengaruh terhadap kak Adila Nathania karena pada saat itu kita diajarkan untuk memanajemen waktu kita, dan bagaimana caranya supaya tidak telat, sehingga menjadi orang yang tepat waktu. Sopan santun adalah hal yang sangat penting dalam dunia pekerjaan. Pada program-program itulah kita juga diajarkan sopan santun, serta hal positif lainnya, karena kak Adila Nathania mengatakan bahwa di kuliah kita akan bertemu dengan orang dari berbagai daerah, kalangan, dan pergaulan. Karakter orang jauh lebih beraneka ragam, dibanding dengan lingkup lingkungan SMA Labschool Kebayoran saja. 

Perbedaan kuliah dengan SMA terletak pada kepedulian guru terhadap murid-muridnya, jelas kak Adila Nathania pada wawancaranya mengenai plus-minus Labschool Kebayoran. Jika terdapat murid yang telat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, ataupun absen, dosen di kuliah sudah tidak ada yang peduli. Mereka hanya peduli pada nilai akhir, yang menentukan lulus atau tidaknya muridnya pada mata kuliahnya. Berbeda dengan di sekolah, jika murid-muridnya ada yang remedial, susulan, ataupun izin sakit, wali kelas atau guru bidang studi yang bersangkutan peduli dengan mencari murid-murid tersebut.

Kak Adila Nathania menambahkan, bahwa kita tidak akan bisa menemukan teman-teman dekat seperti layaknya yang kita temukan di Labschool, karena Labschool membuat kita dan angkatan sangat menyatu di setiap kegiatannya.

Kak Ganis Syahputra (Hastara)
Contact Profile Blackberry Messenger Kak Ganis
Dahulu ketika kak Ganis Syahputra masih duduk di kelas 11, kak Ganis juga mengalami kebimbangan yang dialami hampir semua murid-murid SMA Labschool Kebayoran. Kebimbangan tersebut tidak lain dari pemilihan jurusan IPA, atau IPS. Kak Ganis mengaku bahwa dulu mengambil jurusan IPA karena masih belum tahu ingin memilih fakultas apa nantinya di kuliah, sehingga mencari aman dulu dengan memilih jurusan IPA, dikarenakan pilihan fakultas yang lebih banyak. Pada akhirnya, sekarang ini kak Ganis Syahputra sedang menjalani kuliah pada fakultas hukum Universitas Indonesia.
Tanggapan kak Ganis Syahputra mengenai mata pelajaran sejarah adalah penting. Setiap belajar hukum, selalu dimulai dengan sejarah hukum tersebut. Maka dari itu, kak Ganis Syahputra menegaskan bahwa sejarah adalah mata pelajaran yang penting. Walaupun, kak Ganis mengaku bahwa tidak semua pelajar terpakai pada kuliah, tergantung fakultas yang diambil.
Pembukaan Wawancara dengan Kak Ganis
Masalah kebersihan menjadi isu yang harus dipertimbangkan, karena setelah pernyataan dari kak Nuya dan kak Tanya, kak Ganis mengatakan hal yang sama, yaitu kebersihan harus lebih ditingkatkan. Selain masalah kebersihan, kak Ganis menyayangkan satu hal tentang Labschool, yaitu Labschool terdiri dari orang-orang yang seragam dari golongan menengah atas, dikarenakan biaya sekolah yang mahal. Dengan program Trip Observasi, murid-murid dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, dan sulitnya kehidupan, serta kedisiplinan dengan program Bintama. Kak Ganis mengatakan bahwa ketika kuliah, kita akan sadar ternyata Labschool itu high class, kesadaran tersebut dikarenakan ketika kuliah dapat bertemu dengan berbagai orang dari berbagai kalangan.
Anak Labschool menonjol dalam bidang organisasi di kuliah, cerita kak Ganis.  OSIS ketika SMA di Labschool Kebayorang merupakan organisasi yang paling mendekati seperti apa organisasi pada kuliah dan pekerjaan. Kak Ganis juga setuju, dengan padatnya kegiatan-kegiatan Labschool menyebabkan pengaturan waktu anak Labschool lebih bagus daripada yang lain. Selain itu, kak Ganis juga memuji timeline pengajaran guru Labschool, yang menurutnya sangat bagus.
Agar dapat meningkatkan kualitas SMA Labschool Kebayoran, kak Ganis Syahputra memiliki beberapa saran yang ditujukan untuk guru, murid, dan Labschool itu sendiri. Kak Ganis berharap agar guru-guru dapat lebih transparan dalam membantu siswa-siswi Labschool, serta untuk siswa-siswi Labschool, kak Ganis menyarankan untuk dengarkan saja apa kata sang guru. Dan untuk Labschool itu sendiri, kak Ganis berharap agar Labschool lebih mendukung organisasi yang ada, khususnya Lamuru.
Kak Ganis Syahputra bersyukur telah bersekolah di SMA Labschool Kebayoran, tetapi juga menambahkan bahwa pada dasarnya semua sekolah itu sama, hanya bagaimana siswa mengembangkan dirinya, dan kebetulan sekali Labschool memberikan banyak ruang untuk anak didiknya mengembangkan diri. Kak Ganis pun berterima kasih kepada Labschool. 
Satu kata dari kak Ganis Syahputra untuk Labschool: family (keluarga).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar