Rabu, 26 September 2012

Tugas 2- Plus minus bersekolah di Labsky


 Wawancara yang pertama kali saya lakukan pada hari jumat minggu lalu saat saya sedang menhadiri ekstrakulikuler Skyblitz di ruang PKn lantai 2.  Beliau adalah Gusti Rainada Dipta Noor atau yang akrab disapa Kak Nada oleh anak-anak Skyblitz. Beliau meskipun sudah alumni sejak bertahun-tahun yang lalu tampak selalu aktif terlihat berada di sekitar Labschool Kebayoran.  Beliau sekarang menjadi pembimbing dari ekstra kulikuler Skyblitz yang diadakan setiap hari Jumat. Beliau adalah alumni Labschool Kebayoran Baru angkatan ketiga yang bernama Triseka atau Tri Setya Pamungkas.  Beliau pada saat bersekolah aktif dalam keanggotaan OSIS dari OSIS Antrama atau Anaya Catra Dharma. Beliau pernah mengatakan bahwa selain aktif dalam kegiatan OSIS, beliau juga aktif dalam ekstrakulikuler paduan suara.

 Kata beliau, kita mesti dapat membagi waktu dalam berbagai kegiatan sekolah yang kita ikuti jadi tidak ada acara untuk ‘cabut’ dari kegiatan.  Saat SMA, beliau mengambil jurusan ilmu pengetahuan sosial/ IPS. Saya kenal dengan beliau sejak setahun yang lalu saat masih mengikuti ekstrakulikuler Skyblitz.  Hasil wawancara yang telah saya lakukan menghasilkan pembicaraan tentang plus-minus bersekolah di Labsky. Menurut beliau, sekolah di labsky sangatlah nyaman sebab belia merasa SMA Labschool Kebayoran Baru ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap, mulai dari lab biologi, computer, kimia, dan fisika, juga sarana olah raga seperti hall dan konblok serta lapangan rumput yang luas. Menurut beliau, biaya untuk bersekolah di SMA Labschool Kebayoran tidak terlalu mahal atau cukuplah seperti standar biaya sekolah SMA swasta lainnya. Beliau juga mengatakan bahwa guru-guru yang mengajar di SMA Labschool Kebayoran ini cukup baik bahkan ada yang jenaka.

Namun ada beberapa hal yang beliau kritik dari SMA Labschool Kebayoran.  Beliau sangat menyukai kesenian begitu juga pelajaran kesenian.  Namun menurut beliau, jam pelajaran kesenian di SMA Labschool Kebayoran ini sangatlah kurang yaitu hanya 2 jam selama seminggu. Menurut beliau, SMA Labschool Kebayoran memang terkenal dengan segudang prestasi akademisnya, namun beliau juga menekankan apabila alangkah baiknya apabila tidak hanya nilai akademiknya yang ditonjolkan namun non-akademis pun juga harus ditonjolkan. Beliau juga salut terhadap SMA Labschool Kebayoran karena sekarang-sekarang ini, SMA Labschool Kebayoran mulai meningkatkan prestasi akademisnya seperti tari tradisional tari saman.  SMA Labschool Kebayoran terkenal juga dengan para penari samannya yang sering kali memenangkan beberapa kejuaran tari tradisional yang telah diadakan di beberepa sekolah di Jakarta.

Namun secara keseluruhan, menurut beliau semua yang diajarkan di SMA Labschool Kebayoran sangatlah berguna saat kuliah atau di dunia nyata. SMA Labschool Kebayoran selain mengajarkan nilai akademis juga mengajarkan nila-nilai humanis, solidaritas, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya yang sangat berguna di kehidupan yang sebenarnya nanti. Kehidupan dimana kita harus berjuang di tengah kerasnya kehidupan kota Jakarta.



Kemudian saya mewancarai 2 orang alumni sekaligus.  Mereka berdua sekarang ini sedang kuliah berbeasiswa di Jepang tepatnya di Asia Pasific University (APU). Namun kebetulan mereka sedang berlibur di Jakarta dan berkesempatan untuk mengunjung SMA Labschool Kebayoran saat pelajaran Bimbingan dan Konseling (BK). Mereka berdua bernama Gatti Setyorini dan Bentley Addisajjana. Mereka berdua adalah alumni SMA Labschool Kebayoran angkatan Hastara. Maksud dari kunjungan beliau sebenarnya adalah untuk menyampaikan tentang bagaimana kuliah di Jepang khususnya di Asia Pasific University ini. Mereka berkata bahwa sebenarnya kuliah di luar negeri itu tidak susah. Tidak terlalu sulit untuk beradaptasi disana. Selama disana mereka tinggal di asrama bersama dengan negara lain. Tidak hanya orang-orang Asia saja yang bersekolah disana, namun juga dari beberapa murid dari wilayah Eropa seperti dari Perancis dan juga ada yang berasal dari Amerika. Namun tentu saja didominasi oleh murid-murid Asia seperti dari Taiwan, Hongkong, Cina, dll.

Menurut hasil wawancara dengan beliau, beliau berkata bahwa bersekolah di SMA Labschool Kebayoran sangatlah nyaman karena SMA Labschool Kebayoran ini memiliki berbagai macam fasilitas yang mumpuni. Beliau juga berkata bahwa bersekolah SMA Labschool Kebayoran sangatlah menyenangkan karena guru-gurunya yan menurut mereka kocak atau memiliki karakteristik/sifat yang unik dan tidak monoton dalam hal mengajar. Setiap guru, menurut beliau memiliki sifat unik yang berbeda-beda. Itulah yang membuat beliau sangat senang bersekolah di SMA Labschool Kebayoran ini.

Berbagai kegiatan di SMA Labschool Kebayoran ini sangat memberikan sumbangan saat berada di dunia perkuliahan. SMA Labschool Kebayoran menurut beliau mengajarkan life skills yang dibutuhkan di masa yang akan mendatang dan juga menanamkan mental yang kuat kepada anak muridnya sehingga tahan terhadap segala cobaan dari kerasnya hidup. SMA Labschool Kebayoran juga mengajarkan sarana berorganisasi kepada para anak didiknya seperti dalam keanggotaan OSIS atau kegiatan-kegiatan yang diadakan seperti SkyAvenue, SkyLite, dsb. Dengan banyaknya kegiatan berorganisasi ini membuat para siswa-siswa didikan sudah mahir dan lihai dalam berorganisasi di dalam kehidupan luar yang akan datang.

Menurut beliau, SMA Labschool Kebayoran ini sudah semakin maju dengan fasilitas-fasilitas baru yang ada. Beliau juga mengatakan bahwa beliau mendapatkan pelajaran yang sangat berharaga saat bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Menurut beliau, SMA Labschool Kebayoran ini tidak hanya mengajarkan nilai-nilai akademis yang nota bene terkenal dengan kualitas pendidikan akademisnya, namun beliau juga berkata bahwa SMA Labschool Kebayoran mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat berguna di kehidupan yang nyata. Pelajaran itu sangat mereka rasakan hingga kini. Seperti contoh, dalam kegiatan Trip Observasi, kita diajarkan untuk hidup mandiri tanpa bantuan orang tua dan mengandalkan orang atau rekan yang ada disekitar kita. Dengan kenyataan bahwa selama lima hari tersebut, kita akan tinggal bersama rekan-rekan kita yang memiliki karakteristik yang berbeda. Kita diharuskan untuk mau tidak mau bekerja sama dengan mereka. Hal ini sama halnya bagi beliau yang kuliah di Jepang dimana mereka sangat jauh keberadaanya dengan orangtua mereka masing-masing




Seperti ambil contoh pula pada kegiatan BINTAMA.  Di kegiatan Bintama, menurut beliau kita diajarkan untuk hidup mandiri dan bertahan dari segala haling rintanagan yang ada.  Di Bintama menurut beliau kita diajarkan untuk hidup serba gesit dan tepat waktu, berhubung Jepang terkenal dengan ketepatan waktu dan disiplinnya sehingga membuat negaranya begitu makmur dan teratur. Hal itu membuat beliau tidak terlalu kaget saat menjalankan kehidupan di Jepang. Beliau juga berkata bahwa dari Bintama juga beliau mendapatkan pelajaran tentang solidaritas dan kesetiakawanan dari berbagai kelas dan kehidupannya sekarang serupa dengan keadaan saat Bintama.  Di Bintama, kita ditempatkan dalam barak dan bersama-sama tidur dengan siswa-siswa dari kelas lain dan hal ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan di Jepang yang tinggal berasrama yang bahkan ditempatkan dengan siswa dari negara lain yang sama sekali belum dikenal. Kemudian tambah beliau, kegiatan di Bintama juga mengajarkan untuk tidak pantang menyerah dalam mengahdapi berbagai masalah yang muncul setiap harinya. Kita juga kata beliau harus menghadapi kegiatan kapan pun dan apapun itu dengan semangat dan berpikir postif. Sama seperti saat di Jepang.
Namun ada beberapa hal yang dikritik oleh beliau tentang SMA Labschool Kebayoran ini. Antara lain adalah masalah kebersihan, khususnya toilet di SMA Labschool Kebayoran ini. Menurut beliau, pada masa saat beliau, kebersihan toilet di SMA Labschool Kebayoran ini tergolong kurang bersih. Entah karena pramu baktinya atau karena para siswa dari SMA Labschool Kebayoran itu sendir yang kurang memiliki kesadaran akan menjaga kebersihan toilet sekolah mereka. Menurut saya, hal ini bukan sepenuhnya kesalahan para pramu bakti, namun juga kesalahan para siswa-siswanya karena bagaimana pun juga yang menggunakan toilet tersebut didominasi oleh siswa-siswa SMA Labschool Kebayoran itu sendiri. Para pramu bakti yang menggunakan toilet itu pun sudahlah pasti akan membersihkan toilet tersebut karena itu sudah menjadi tanggung jawab dan pekerjaan mereka, namun para siswa sudah pasti kurang memiliki kesadaran dalam hal kebersihan toilet tersebut karena mereka akan berpikir bahwa itu bukanlah toilet mereka dan sudah pasti pramu bakti akan membersihkan toilet tersebut.

Kemudian yang beliau kritik dari SMA Labschool Kebayoran ini adalah masalah bel sekolah yang setiap hari berbunyi dikala masuk atau pulang sekolah. Menurut beliau suara bel tersebut sangat ‘annoying’ dengan lagu ‘gelang sipatu gelang’ atau apalah judul lagu tersebut. Setiap hari beliau harus mendengarkan lagu tersebut dan membuat beliau jenuh. Padahal menurut salah satu guru matematika di SMA Labschool Kebayoran yang bernama Pak Anto, beliau mengatakan bel tersebut merupakan salah satu suara dari surge yang ada di SMA Labschool Kebayoran ini. Ada-ada saja pak Anto ini.

Kemudian ada satu lagi yang beliau kritik dari SMA Labschool Kebayoran ini adalah adanya beberapa tugas yang menurut beliau tidak penting. Menurut beliau, tugas sejarah seperti ini tidaklah terlalu penting karena toh segala yang kita kerjakan pastilah tidak akan diujikan di dalam ulangan sejarah kapanpun itu. Menurut beliau, siswa sebaiknya dipersiapkan dengan UTS yang akan datang sehingga para siswa tidak akan terbebani dengan tugas ini-itu dan lebih fokus untuk mempersiapkan UTS yang akan datang.

Untuk diambil kesimpulannya,SMA Labschool Kebayoran sekarang memang sudah meningkatkan prestasi non-akademisnya sehingga SMA Labschool tidak hanya terkenal dengan prestasi akademisnya tapi juga non-akademisnya seperti olah raga dan prestasi dalam hal kesenian




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar