Jumat, 21 September 2012

Tugas-2 Plus-Minus Bersekolah di Labsky


Kegiatan Wajib Labsky itu Bukan Omong Kosong


Ngapain sih ada acara kayak gini? Pake bayar lagi, emang kita minta? Kita juga ga butuh kayak gini, kan?” Kata-kata itu yang berulang kali saya dengar pada hari-hari menjelang Pra TO, Bintama, dan kegiatan wajib Labschool Kebayoran lainnya, ketika masih di kelas 10. Saya sendiri pun merasa pernah mengatakan hal serupa bersama teman-teman saya.
        Labschool memang memiliki berbagai kegiatan wajib, seperti Bintama, Pra TO, MOS, dan sebagainya. Kadang, kegiatan-kegiatan ini terdengar agak menyeramkan. Mengingat kakak-kakak OSIS yang tegas dan selalu mengawasi, kegiatan apapun yang dipaksa untuk dilakukan dengan cepat, dan yang biasanya paling ditakuti, makan komando. Selain itu Labschool juga mewajibkan muridnya untuk masuk sekolah jam 5.30 WIB setiap Jumat pagi untuk melakukan lari pagi. Pasti hampir semua anak malas untuk melakukannya.
        Selain kegiatan-kegiatan wajib seperti itu, mayoritas siswa-siswi Laschool Kebayoran pasti lelah dengan banyaknya tugas dan sulitnya ulangan yang harus dilalui. Belum lagi jika nilai ulangannya tidak mencapai KKM dan harus mengulang lagi. Tentu hal ini sangat menjengkelkan dan menyita waktu. Belum lagi jam pulang sekolah yang terbilang sore,  jam 3.30 WIB, dan setelah sampai rumah masih banyak tugas yang menunggu.
Saya sering membicarakan hal-hal seperti ini dengan teman-teman. Bagi kami hal ini hanya sebuah beban. Kerap kali kami mengeluh tentang jegiatan-kegiatan di Labschool ini. Sebuah kegiatan yang hanya akan merugikan kami semua dan memberatkan fisik dan mental kami. Namun, sehubung dengan diberikannya tugas mengenai Plus-Minus Labschool, terbersit dalam benak saya, “Apakah pada akhirnya hal seperti ini memang berguna?
Pada hari Kamis, 20 September 2012 lalu, saya mengirim e-mail kepada 3 orang alumni SMA Labschool Kebayoran. Mereka adalah Kak Kasandika Ganiarsa, Kak Felani Dwijayanti, dan Kak Aufa Putri Suryanto. Ketiganya adalah alumni angkatan Nawastra, namun Kak Aufa dan Kak Ani dulu ada di kelas akselerasi sehingga lulus satu tahun sebelumnya.
Hal-hal yang saya tanyakan berkisar seputar kegiatan-kegiatan di Labschool dan manfaatnya untuk mereka. Saya bertanya mengenai kesan mereka selama bersekolah di Labschool. Lalu, kegiatan apa saja yang tidak begitu mereka sukai atau membebani mereka dulu, dan apakah kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi mereka sekarang. Selanjutnya adalah pertanyaan mengenai kegiatan yang mereka sukai dan hanya ada di Labschool. Saya juga bertanya mengenai pelajaran apa yang masih mereka pakai hingga sekarang, dan pelajaran apa yang justru tidak mereka dapatkan di Labshool. Pertanyaan terakhir saya mengengai kegiatan yang seharusnya tetap ada, dihilangkan, atau ditambah, dan pesan mereka untuk Labschool Kebayoran.
E-mail jawaban dari kak Aufa Putri
Jawaban ketiganya berbeda, namun terdapat beberapa hal serupa. Ketiganya mengatakan bahwa kesan mereka bersekolah di Labschool adalah capek, tetapi penuh kenangan dan sangat menyenangkan. Kak Ani juga menambahkan bahwa bersekolah di Labschool itu penuh tantangan, karena ia banyak menemukan dan diajarkan hal-hal baru melalui semua kegiatannya, terutama karena mereka ada di kelas aksel yang membuat mereka dipicu agar dapat memanajemen waktu dengan lebih baik dan tidak mudah menyerah. Bisa dibilang, sudah wajar bagi semua siswa Labsky untuk merasa lelah, namun kenangan dan pelajaran yang diberikan setimpal.
Mereka juga berpendapat bahwa lingkungan Labsky sangat menyenangkan, terutama teman-teman yang mereka dapat, membuat mereka bersyukur sudah masuk ke SMA Labschool. Memang guru-guru di Labschool memiliki karakter berbeda, dan banyak soal-soal yang diberikan tergolong sulit. Tapi, hal-hal seperti ini membuat mereka belajar untuk beradaptasi dan hal itu ternyata sangat berguna.
Ketika ditanya mengenai kegiatan yang terasa berat bagi mereka, ketiganya memiliki jawaban masing-masing. Kak Aufa mengatakan bahwa kegiatan yang paling berat baginya adalah Pra-TO dan Bintama. Keduanya terasa berat untuk dijalani, namu ternyata memberikan cukup banyak manfaat, misalnya untuk melatih fisik dan mentalnya menghadapi tugas yang jauh lebih banyak lagi sekarang. Bahkan makan komando juga berguna menurut Kak Aufa, “Ngelatih makan cepet juga, kalo telat atau ada kelas mepet gitu
Menurut Kak Arsa, yang salah satu kegiatan yang berat baginya dulu adalah lari pagi hari Jumat. Dulu ia sering merasa malas untuk bangun sangat pagi dan berada di sekolah sejak jam setengah enam kurang. Tetapi, ia justru merasakan bahwa hal itu justru dulu sangat bermanfaat, mengingat sekarang sulit untuk mencari waktu berolah raga. Selain lari pagi, ia juga mengatakan bahwa TO dan Bintama terasa berat waktu belum dijalani, namun ketika dijalankan sebenarnya menyenangkan. Saya akui, saya dan teman-teman juga merasakan hal yang sama. Rasa takut dan cemas menjelang kegiatan itu. Namun ketika sudah dijalani, ternyata tidak terlalu buruk.
E-mail jawaban Kak Arsa
Kak Ani juga merasa bahwa kegiatan seperti pesantren kilat, TO, dan Bintama cukup sulit untuk dijalani karena dulu sangat berat baginya untuk meninggalkan rumah berhari-hari. Hal itu membuanya harus meninggalkan zona nyamannya dan tinggal di suatu tempat yang asing untuknya. Tapi menurutnya hal itu membuatnya sadar dan melatihnya untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungan dan orang-orang baru di sekelilingnya. Selain kesulitan untuk meninggalkan rumah, dulu Kak Ani sangat tidak suka dibentak-bentak, sedangkan hampir semua kegiatan Labsky melibatkan bentakan. Tapi sekarang ia merasa bahwa melalui itu semua berguna untuk menguatkan mental kita agar kita tidak mudah menyerah pada kerasnya hidup nanti.
Pra-TO, TO, dan Bintama mungkin adalah kegiatan yang paling berat untuk dijalani, namun kegiatan itu juga biasanya menjadi kegiatan favorit karena sangat memorable dan hanya ditemukan di Labschool. Mungkin di sekolah lain juga ada kegiatan sejenis TO, seperti live-in dan sebagainya, tetapi tetap saja program TO dari Labschool memberikan kesan berbeda.
Setau gue jarang juga ka nada sekolah yang buat program kaya TO? Apalagi yang bawa-bawa tongkat, nametag dan botak” jelas Kak Arsa. Selain bisa belajar mengenai kehidupan di daerah, kegiatan Pra-TO dan TO juga membuat anggota kelompok kompak satu sama lain. Selain TO, bintama juga pasti memberikan banyak pelajaran terutama yang berhubungan dengan manajemen waktu. Siswa-siswi Labschool jadi lebih fleksibel, lebih disiplin waktu, tidak manja dan kuat mental.
Kak Ani, yang sekarang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, bercerita mengenai kehidupan kampus yang dipenuhi mahasiswa dengan beragam background. Ketika disatukan di suatu tempat, akan terlihat bahwa alumni Labschool dapat memimpin dan lebih menyatukan disbanding alumni lainnya. Alumni Labschool terlihat lebih maju dan sigap dibanding yang lainnya akibat berbagai macam pelatihan yang didapat di SMA Labschool Kebayoran.
E-mail jawaban Kak Ani
“Alumni Labschool itu lebih berkualitas, karena kita memang lebih pengalaman dibanding yang lain. Yang mereka belum dapat, kita sudah merasakannya lebih dulu di Labschool,” lanjut Kak Ani. Katanya, yang lain biasanya Cuma kagum karena baru pertama kali merasakan.
 “Di Labsky diajarin anatomi dasar banget pake Latin dan itu ngebantu banget kalo buat aku" jawab Kak Aufa, sebagai mahasiswi Psikologi Universitas Padjadjaran, ketika ditanya mengenai pelajaran yang masih ia pakai sampai sekarang. Tetapi, ia merasa bahwa di Labschool, ia merasa kurang mendapatkan pelajaran mengenai kerja kelompok. Ia mengatakan bahwa ketika dulu kerja kelompok, ia hanya bekerja dalam kelompok kecil yang orang-orangnya dekat dengannya. Jadi, sebaiknya Labschool menambah kegiatan kerja kelompok dalam kapasitas kelompok yang lebih besar untuk mempersiapkan siswanya ketika di universitas nanti.
Lain halnya dengan Kak Arsa, yang sekarang kuliah di jurusan teknologi bioproses, departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia. Ia merasa bahwa pelajaran dari Labschool yang sangat ia pakai sekarang ini adalah tentang time management dan menguatkan fisik serta mental. Ia merasa awal-awal kuliah seperti ini ia sering harus datang ke kampus pagi dan pulang malam. Setelah itu masih ada tugas-tugas yang harus dikerjakan. Karena itu, ia harus pintar-pintar mengatur waktu dan tidak mudah sakit. Seperti yang kita tahu, di Labschool sekolah mulai pukul 7.00 WIB dan selesai pukul 3.30 WIB, sampai rumah kita masih harus belajar dan mengerjakan tugas. Ternyata hal ini sangat membantu melihat kegiatan kuliah yang bahkan sampai malam hari. Bisa kita bayangkan bagaimana dengan alumni sekolah lain yang terbiasa pulang jam 2 siang setelah itu masih bisa bermain lama, tentu akan “kaget” dengan kehidupan kuliah.
Ketiga alumni ini juga menyebutkan bahwa kegiatan Labschool dan kebiasaan di Labschool sangat berguna sebagai persiapan mereka. Efeknya terutama pada mental mereka yang lebih terlatih. Mereka mengaku lebih bisa mengendalikan emosi dan tidak mudah menyerah.
Dari penjelasan ketiga alumni ini, dapat kita lihat bahwa sebenarnya, kegiatan Labschool yang terlihat hanya memberatkan dan buang-buang waktu ini sebenarnya berguna. Seandainya kita tidak terbiasa untuk disiplin dan mengatur waktu dengan baik, kita akan merasa kesulitan ketika memasuki dunia kuliah dan kerja nanti.
Jawaban Kak Ani
Bayangkan jika Labschool tidak memiliki kegiatan wajib seperti TO dan Bintama, atau jika Labschool tidak membiasakan muridnya untuk mandiri dan mendapat tugas yang banyak, SMA Labschool Kebayoran tidak akan memiliki perbedaan dengan SMA-SMA lainnya. Alumni Labschool juga tidak akan sesiap itu untuk memasuki tahap selanjutnya setelah lulus SMA, kuliah dan kerja.
Terjawab sudah pertanyaan di atas mengenai guna dari kegiatan-kegiatan Labschool yang cenderung keras. Keras namun mendidik. Seperti itulah gambaran dari kegiatan-kegiatan wajib di Labschool. Kita bisa menemukan berbagai kekerasan di sekolah lain, namun hanya di Labschool kita bisa dididik untuk menjadi orang yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan itu juga tidak pernah melewati batas kewajaran dan selalu mendapat control dari guru-guru sehingga dapat dipastikan aman.
Mungkin siswa siswi Labschool tidak merasakan pengaruhnya saat ini, tapi alumni-alumni Labschool sudah memberikan penjelasan dan bukti bahwa kata-kata guru-guru Labschool mengenai pentingnya kegiatan-kegiatan yang beragam ini bukan omong kosong. Bahwa hal-hal ini memang bermanfaat.
Dalam setiap kegiatan yang kita lakukan tentu memang perlu evaluasi. Setiap hal pasti memiliki sisi positif dan negatif. Namun, pasti akan selalu ada hikmah dibalik setiap hal negatif itu, seperti kegiatan Labschool yang melelahkan dan membuat stress, namun memberikan pelajaran. Tetapi, selalu ada hal yang harus dilakukan bersama untuk membuat Labschool lebih baik lagi dari setiap segi.
Alumni yang saya wawancarai juga berpesan bahwa kegiatan-kegiatan khas Labschool dan kebiasaan di sekolah ini harus tetap ada. Sejauh ini tidak ada yang perlu dikurangi atau ditambah, namun akan lebih baik jika dapat disempurnakan lagi.
"Semoga Labschool terus mencetak orang-orang yang berkualitas.."
"Semoga terus menjadi lebih baik dan tetap jaya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar