Kamis, 13 September 2012

TUGAS 1 - Soraya Kamila Fithrie

15 TAHUN HIDUP PENUH PENGALAMAN



Rumah sakit bisa menjadi awal maupun akhir bagi perjalanan hidup seseorang. Hari itu, hari Selasa pon 26 Februari 1997, terdengar tangisan seorang bayi perempuan tanda awal perjalanan hidup seseorang dimulai. Tepat pada pukul 08.00 pagi saya dilahirkan. Saya merupakan anak pertama dari pasangan Iftita Ida Syofia dan M. Ali Afthan Azzuhdi. Mereka memberi nama saya dengan nama yang cukup panjang, Soraya Kamila Fithrie, sebenarnya nama saya ini merupakan sumbangan dari sanak keluarga sya yang lain seperti kakek, nenek, om, dan tante. Saya lahir dengan menggunakan cara caesar dan alhamdulillah saya lahir dengan selamat dan sehat. Sebenarnya usia saya saat itu telah berumur satu bulan, ya, ibu saya pernah berkata, “...sebenarnya dulu itu kamu lahir tiba – tiba sudah umur satu bulan saja lho ...”. Memang benar kata ibu saya, ternyata saya berada di perut ibu saya selama 10 bulan, hal itu dikarenakan belum ada tanda – tanda yang cukup pada saat usia kandungan ibu saya sembilan bulan, berbeda dengan anak – anak lain yang biasanya hanya sembilan bulan.
MASA BALITA
Masa kecil saya tidak jauh berbeda dari balita yang lainnya. Masa – masa itu saya habiskan untuk bermain dengan bahagia. Rumah pertama saya berada di daerah Klender, Jakarta. Dirumah ini banyak sekali memori yang tidak dapat dilupakan. Pada tahun 1998 adik pertama saya lahir. Ia merupakan anak laki – laki pertama di dalam keluarga saya. Pada tahun itu pula krisis ekonomi di Indonesia sedang terjadi, banyak kericuhan dan demo dimana – mana. Ibu saya yang baru memiliki bayi tidak mau pergi kemana – mana karena ia tidak ingin terjadi apa – apa pada kami. Jadi disaat masa liburan sekolah tiba, saat itu saya masih berusia dua tahun, kakak sepupu saya yang tinggal di Surabayalah yang harus datang ke Jakarta untuk berlibur. Mbak Fira namanya, tapi ia lebih sering dipanggil Aya. Akibat namanya ini nama saya harus diubah, memang dulu sebenarnya nama panggilan saya adalah Aya tetapi karena nama itu sudah terlanjur dipakai oleh kakak sepupu saya ini, Ibu saya terpaksa harus menggantinya dengan nama  Oya. Pada waktu itu saya dan mbak Fira menjadi duo yang jahilnya minta ampun, saudaraku pernah berkata, “... dulu itu kamu jahilnya minta ampun deh..”, saya juga bingung saat saudara saya berkata demikian. Kemudian saudara saya itu bercerita, bahwa dulu itu saya dan mbak Fira pernah memasukkan sambal  ke dalam teh yang akan diminum oleh kakek saya, menaburkan garam ke seluruh rumah dan masih banyak lagi kenakalan  - kenakalan saya di masa itu.Pada usia empat tahun, saya dan keluarga saya menjual rumah pertama kami dan pindah ke rumah yang kami beli di daerah Bintaro. Pada waktu itu usia saya sudah mencukupi untuk masuk ke tingkat pendidikan pertama saya. Maka dari itu saya di daftarkan bersekolah di  KB / TK Al – Azhar 17 Bintaro. Disini akau menempuh pendidikan pertama ku. Disini aku diajarkan membaca, menulis dan lain sebagainya. Aku mulai bisa melatih kemampuan berbicaraku. Pada saat aku berada di Kelompok Bermain, aku mulai mengenal bermacam – macam benda dan bentuknya. Aku juga sudah dapat mengenal teman – teman sebaya ku bahkan berteman baik dengannya. Satu orang yang tak pernah ku lupa, Bu Wati, guruku sendiri. Ia adalah guru pertama yang mengajarku. Aku tidak akan pernah lupa wajahnya saat itu, saat hari penerimaan siswa baru. Waktu itu ia orang pertama yang kutemui disekolahku, ia langsung mengajakku ke arah lapangan, karena disana sudah banyak sekali balon yang siap dilepaskan dan saat pembagian balon kepada anak – anak semua, ia tak segan memberiku dua balon sekaligus dan akhirnya senyum sumringah pun terlukis di wajahku. Setelah itu tidak kusangka – sangka ialah yang akan menjadi wali kelas ku selama satu tahun ini, yang akan selalu menemaniku dalam bermain dan belajar.Usiaku terus bertambah, jenjang pendidikan ku pun terus meningkat. Dari playgroup, kini aku berada di Taman Kanak – Kanak Al – Azhar Bintaro. Aku menempuh pendidi kan TK ku selama dua tahun. Tahun pertama aku berada di TKA dan tahun  kedua aku berada di TKB. Pada tahun pertama aku berada di kelas TKA 1, aku diajar oleh dua orang wali kelas. Di satu kelas, waktu itu ada 30 orang anak. Saat itu merupakan pengalaman pertamaku merasakan keadaan benar – benar belajar. Memang benar karena waktu itu aku baru pertama kali diberi pelajaran yang sesungguhnya oleh guru – guru ku. Sebenarnya sih lebih banyak bermainnya dari pada belajarnya, tetapi momen – momen bermainku selalu diselipi oleh pembelajaran. Saat TKA dulu aku memiliki banyak sekali teman, itu sedikit mengobati perasaanku waktu kenaikan ke kelas TKA. Jadi saat aku KB itu aku memiliki seorang teman, namanya Fanisa, dia seorang teman yang paling aku ingat dulu. Saat kami masih di KB kami sering bermain bersama, bermain ayunan, jungkat – jungkit dan permainan lainnya. Namun, di akhir kelas KB ku dia memutuskan untuk pergi ke Jepang. Dia pergi karena mengikuti pekerjaan ayahnya. Sejak itulah aku merasa sedih, karena aku merasa teman terbaikku sudah hilang. Namun, akhirnya pada TKA aku berhasil menemukan banyak teman yang ternyata baik juga. Di TKA ini aku juga mulai mengikuti berbagai jenis ekstrakurikuler. Salah satu yang aku ikuti adalah ekskul tari. Di ekskul tari ini aku sering mengikuti berbagai jenis kegiatan dari situ juga aku mulai belajar bagaimana cara bergaul dengan teman – teman lainnya. Mulaii dari kelas TKA inilah aku sudah disuruh mengikuti berbagai jenis les  - les mulai dari les menggambar, KUMON, les bahasa inggris, dan masih banyak lagi. Namun les yang paling lama kuikuti adalah KUMON. KUMON merupakan salah satu les berhitung atau bisa disebut juga les matematika yang diikuti oleh perseorangan. Metode Kumon adalah metode belajar perseorangan. Level awal untuk setiap siswa Kumon ditentukan secara perseorangan. Siswa – siswanya mulai dari level yang dapat dikerjakannya sendiri dengan mudah, tanpa kesalahan. Lembar kerjanya telah didesain sedemikian rupa sehingga siswa – siswanya dapat memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Jika siswa – siswanya terus belajar dengan kemampuannya sendiri, ia akan mengejar bahan pelajaran yang setara dengan tingkatan kelasnya dan bahkan maju melampauinya. Seperti itulah kegiatan yang ku ikuti selama aku belajar di KUMON.Setelah selama satu tahun aku belajar di TKA akhirnya kini aku naik ke kelas TKB. Aku mendapatkan kelas di kelas TKB 1. Sama halnya seperti kelas TKA, di kelas TKB ini aku diajar oleh 2 orang guru. Guru yang sampai sekarang masih kuingat adalah Bu Ifah, selama setahun itu ia mengajariku dengan penuh kesabaran. Aku yang belum mengerti apa – apa selalu diajarinya dengan baik. Pada TKB ini aku sudah lebih banyak belajarnya daripada bermainnya. Aku mulai diajarkan pelajaran – pelajaran IPA dasar dan lain sebagainya. Salah satu pelajaran yang diajarkan waktu itu dan masih ku ingat sampai sekarang adalah saat bu Ifah mengajariku tentang penyerbukan pada bunga. Saat itu ia mengajarkan dengan begitu detail dan mudah dipahami. Kami ber 30 disuruh menggambar bunga dan bagian – bagiannya. Saat kami mendengar kata menggambar kami ber 30 langsung berteriak kegirangan. Ya, memang dulu kelasku merupakan kelas yang sangat suka menggambar dan mewarnai. Sampai – sampai saat ada waktu luang, kami gunakan untuk menggambar.Walaupun gambar kami tidak sebaagus gambar – gambar pelukis handal tapi dengan kami menggambar kami dapat merasa senang dan bahagia. Selain itu saat akumasih TKB , aku memiliki seorang teman baik yang sampai sekarang tidak pernah kulupakan, bella namanya, kami dulu sering sekali bermain bersama, menggambar, bermain pelosotan, bermain ayunan dan masih banyak lagi. Aku juga sering berbagi cerita padanya begitu juga dia, kami sering sekali menghabiskan waktu bersama. Namun, saat pelulusan TK ia memutuskan untuk pindah sekolah dan tidak melanjutkan di SD Al – Azhar 17 Bintaro, dan sejak itulah hubungan kami terputus, aku tidak tahu kemana ia pindah, dan sampai sekarang pun aku tidak tahu ia dimana, sejak itulah aku merasa kehilangan teman terbaikku. Saat aku TKB aku juga mulai berani tampil – tampil ke depan, saat itu aku ditawari untuk memerankan salah satu peran saat drama pelulusan kami. Langsung saja ku iyakan tawaran tersebut. Di drama tersebut aku berperan sebagai angin utara, memang, judul dari drama tersebut adalah angin utara dan matahari. Saat itu aku mulai berani tampil ke depan. Aku dan teman – teman yang lainnya berlatih dengan susah payah untuk drama musikal ini. Dari sini pula aku mengenal arti perjuangan dalam setiap usaha kita. Setelah beberpa bulan berlatih, sampailah aku pada hari H. Aku begitu takut, aku takut akan mengalami kesalahan pada saat aku tampil di panggung, aku juga takut mengacaukan semuanya. Tapi dengan kuawali oleh doa aku menjadi siap untuk maju ke panggung. Saat aku maju ke panggung dengan menggunakan baju atau kostum biru yang menggambarkan angin aku maju dengan percaya diri. Aku mulai beraksi dengan begitu percaya diri. Dan hasilnya drama kami pun diapresiasikan dengan baik. Dari drama ini pula aku mengenal Dhiya Ulhaq Santoso, yang akan ku ceritakan nanti. Selain momen – momenku selama disekolah, aku juga sering menemukan momen bersama keluargaku yang tidak pernah kulupakan dulu. Selain itu masa TKB adalah masa dimana aku dibelikan sepeda oleh orangtuaku. Sepeda pertama yang kudapatkan dari orangtuaku berjenis bmx yang memiliki roda empat. Memang, dulu aku belum bisa mengendarai sepeda roda dua, jadi aku dibelikan sepeda roda empat oleh orangtuaku. Coraknya hitam putih. Saat sepeda itu datang ke rumahku, aku begitu senang , sampai  sampai aku teriak – teriak kegirangan di depan rumah. Masa TKB ku berakhir pada saat aku pelulusan TK. Pada saat itu aku senang sekaligus sedih. Aku senang karena aku akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, tetapi aku juga sedih karena akan meninggalkan seluruh kehidupan di masa TK ku.Namun mau tidak mau aku harus melanjutkan pendidikan ku, aku tidak boleh putus sekolah karena hanya aku tidak ingin meninggalkan masa TK ku, akhirnya hari itu, di hari terkhir TK ku aku pergi dengan hati lega dan bahagia.

oya ulang tahun 1 tahun

oya manasik haji kelas TKB

MASA SD
Dari masa TK ke SD merupakan masa transisi dimana banyak hal yang baru, mulai dari lingkunagn baru, suasana baru, ada yang menyenangkan, menyedihkan. Dimulai dari guru yang mulai disiplin dan tegas, teman – teman dari sekolah lain yang berbeda karakter. Tapi dari sekian banyak hal baru itu, aku mulai belajar mencari jati diri ku sendiri. Dimulai dengan disiplin yang diajarkan disekolah yang berdampak pada kehidupan sehari – hari. Contohnya tentang sholat dan kebiasaan belajar. Pencarian jati diri itu dirasakan juga oleh guru – guru ku yang menurut ku dirasakan ada hasilnya. Terbukti dengan dipercayainya aku menjadi ketua kelas. Pada acara – acar tertentu aku sering dipercaya untuk menjadi salah satu tokoh dalam pementasan drama sekolah, seperti waktu itu aku pernah berperan menjadi ibu dari timun mas. Begitu juga steterusnya, setiap ada perlombaan mata pelajaran, setidaknya aku selalu diikutsertakan dalam lomba mata pelajaran tersebut. Contohnya pada kelas empat aku ikut lomba mata pelajaran IPS di Semarang aku bersyukur karena pada saat itu aku berhasil memperoleh juara ke 3. Ketika itu tidak hanya juara yang aku dapat, yang paling penting aku mendapat teman dan sahabat – sahabat baru dari seluruh Indonesia, yang pada tahun berikutnya dipertemukan kembali pada acara yang sama yaitu pada lomba mata pelajaran Al – Azhar se – Indonesia. Persahabatan itu berlanjut hingga saat ini. Pada kelas lima aku kembali dipercaya mata pelajaran yang sama seperti pada waktu kelas empat yaitu IPS di Kemang Pratama. Dan alhamdulillah saat itu aku menjadi juara pertama. Dukungan dari orang – orang sekitar yang aku cintai inilah yang menjadikanku berhasil dalam lomba tersebut. Terutama kedua orang tuanku yang selain mendukung  dengan  hal yang bersifat materiil , kedua orang tuaku juga tidak henti-hentinya berdoa buat keberhasilanku dalam segala hal. kKeberhasilan-keberhasilan itu  terus terjadi hingga aku klas 6, dimana aku meraih peringkat  terbaik kedua Hasil UAN dan hasil UAS disekolah, kembali aku bersujud syukur ke hadirat Illahi Robbi, yang telah banyak memberi nikmat yang banyak kepadaku. Namun selain  keberhasilan-keberhasilanku, saat di Sekolah Dasar banyak kenangan-kenangan lain yang aku alami, mulai dari persahabatan dengan  teman-teman Sekolah Dasarku, ..cowok...cewek...yang sangat berkesan hingga aku SMA ku ini, dan hingga saat ini kebiasaan bersilaturrahmi itu tetap berjalan , misalnya pada saat ada yang ber Ulang Tahun, kami selalu mengundang temam-teman kami saat Sekolah Dasar tersebut, kadang kami merayakannnya di Mall, atau di rumah-rumah salah satu dari kami.

oya bersama adik, saat kelas 1 SD


MASA  SMP
Setelah  aku lulus SD aku melanjutkan sekolah ku di SMP Labschool Kebayoran, aku menjalani pendidikan SMP ku hanya selama dua tahun, karena pada waktu itu aku mengikuti program akselerasi. Di SMP inilah aku lebih banyak belajar tentang kehidupan, khususnya persahabatan. Aku memiliki banyak sekali teman disini hampir dua angkatan. Pertemanan kami juga begitu dekat, maklum saja aku dan kelas akselerasi ku selama dua tahun bersama – sama terus. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi justru semakin merekatkan hubungan kami, kami bersaing secara sehat, saling mendukung. Dalam setiap kegiatan selalu diputuskan bersama.  Semasa SMP ini mungkin aku baru mengenal apa arti persahabatan sebenarnya. H ampir semua teman di kelasku adalah teman baikku. Ada satu orang temanku yang begitu dekat sekali dengan ku, namanya Ulaa, dia sudah seperti saudaraku sendiri kami selalu bersama –sama selama kami di sekolah. Tapi kini ia berbeda sekolah denganku, namun walaupun begitu kami masih sering bertemu dan mengobrol. Di masa SMP ini aku juga sudah mulai mengenal arti kebersamaan bersama sahabat – sahabatku, contohnya pada saat salah satu temanku menjadi kandidat calon ketua umum MPK kami satu kelas membantunya untuk berkampanye, selain itu saat ada salah satu teman kami yang sakit, kami juga datang untuk menjenguknya. Selain itu saat ada acara ACEX LABSPART 2010 kami juga bersama – sama membangun stand kami walaupun harus memakan banyak tenaga, namun dari situlah kami belajar arti gototng royong dan bertangung jawab. Dan itu terus kami lakukan hingga saat – saat akhir kami di SMP, kami terus saling mendukung satu sama lain. Dan tibalah waktu akhir kami di SMP, pelulusan. Di momen itu kami senang sekaligus sedih. Kami senang karena kami berhasil melanjutkan ke SMA. Namun kami juga sedih, karena tidak semua dari kelas kami elanjutkan di SMA Labschool Kebayoran seperti kebanyakan dari kelas ku. Dengan berat hati kami harus meninggalkan momen – momen kami selama kami SMP, suka duka yang telah ku lewati bersama dengan kelas akselerasi . Namun temanku pernah berkata, “... life must go on...”. Mendengar kalimat itu aku menjadi bersemangat kembali hingga aku berhasil melanjutkan kehidupanku di SMA kini.
MASA SMA
Ketika semua orang berkata bahwa masa SMA merupakan masa – masa yang paling indah, menurutku itu seratus persen benar. Pertama kali aku masuk di kelas 10 aku masih merasa begitu canggung berkmpul bersama angkatan yang dahulu merupakan angkatan dari seniorku. Proses sosialisasi yang terjadi diantara aku dan angkatan Scavolendra Talvoreight harus dengan sabar dan perlahan kujalani. Minggu pertama aku di SMA Labschool Kebayoran, aku ditempatkan di kelas XC. Kelas ini beranggotakan 38 orang dan seorang wali kelas. Di minggu pertama itu, kami memang sudah mengenal satu sama lain karena kami sekelas ditempatkan sekelompok pada saat masa orientasi siswa. Perlahan tapi pasti kami sekelas sudah dapat merasakan kebersamaan di dalam kelas. Namun, baru beberapa minggu aku masuk di kelas tersebut, aku sudah harus pindah ke kelas akselerasi, aku yang mulai sudah dapat merasakan kebersamaan di kelas XC harus berpisah meski hanya untuk sementara. Kenapa aku bilang sementara, karena di kelas akselerasipun aku hanya beberapa bulan saja karena aku harus turun kembali lagi kelas awalku, XC. Mulai dari kembalinya aku kelas XC inilah aku merasakan adanya perubahan pada diriku dan kelas XC. Dari yang awalnya masih pendiam, tetapi berubah menjadi lebih ”berwarna”. Pada semester dua banyak sekali kejadian yang terjadi dan mungkin tidak bisa kulupakan di kelas XC. Kelas XC merupakan kelas pertama ku di masa SMA, hingga pada akhirnya aku naik ke kelas XI IPS 2, yang kini aku tempati.Semoga semua yang saya rencanakan dari sekarang akan dapat terwujud di keesokan hari nanti amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar