Kamis, 27 September 2012

tugas 1-autobiografi


Lini masa kehidupan Azis Ridwansyah

 



jagoan kecil mama ngompol ya?

Nama saya adalah Muhammad Azis Ridwansyah, dimana Muhammad adalah nama dari nabi terakhir dalam agama islam, Azis yang berarti perkasa dan ridwan berarti malaikat penjaga surga, dan  Syah artinya adalah raja. Saya adalah anak dari seorang bapak pengaggum Manchester united dan ibu, yang sangat tidak mengerti teknologi. Saya di lahirkan 16 tahun yang lalu dari waktu tulisan ini di buat yaitu 24 maret 1996. Saya di lahirkan dari keluarga yang cukup mampu. 16 tahun dalam kehidupan seorang manusia bukanlah hal yang terlalu lama, atau dalam hal ini saya dapat dikatakan cukup muda dan belum merasakan asam manis kehidupan. Anak kemarin sore.
           
            Saya lahir di Jakarta kota penuh, sesak, macet dan tentu saja polusi yang menggelegar. Saat itu 16 tahun yang lalu kata orang-orang saya adalah anak baik yang cukup imut, lucu dan cukup besar,berat saya mungkin sekitar 3 kg.  tidak banyak atau mungkin tidak ada hal yang dapat saya ingat dalam kehidupan tahun pertama saya, kehidupan tahun kedua-ketiga juga saya tidak ingat, bagaimana saya tinggal, dapat makan pada waktu itu. Yang jelas pada waktu itu saya mendapat kehangatan seorang ibu, seorang ibu yang mencintai saya, menemani saya ketika saya tidur, melindungi saya ketika saya terjatuh.
    
liat kamera, senyum
            Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahunpun berganti, akhirnya saya tiba di usia dimana kalau kata orang usia dimana seorang anak sangat bandel, sulit untuk di jaga dan sangat pecicilan. Ya saya tiba di usia balita, tentu saja saat usia saya seperti ini saya sangat imut dan menggemaskan mengundang siapapun untuk mencium pipi saya atau sekedar untuk mencubitnya. ketika usia saya seperti ini adalah saya tinggal di bogor, yang berarti saya juga sekolah, taman kanak-kanak di bogor.  Samar-samar dalam ingatan bahwa dulu saya ketika balita saya sering menangis di pangkuan ibu saya, yang karena tindakan bodoh yang sebenarnya saya sendiri yang melakukannya. Saya punya banyak teman saat itu, saya mengenal banyak orang, saya berkelahi dengan teman saya, tertawa bersama, bahkan menagis bersama,. Saya juga mgningat bahwa ada teman saya dia adalah seorang idiot, atau keterbelakangan mental, ibu dia selalu menemani dia di dalam kelas, duduk di sebalah dia, dan yang menakutkan adalah dia kadang suka mengamuk. Sangat seram untuk seorang anak berumur kurang dari 5 tahun. 

kecil-kecil kok berkumis?
           
Periode sd
beragam foto


            Setalah taman kanak-kanak selesai kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke bandung, kota yang dimana kata orang banyak perempuan cantik disana.  Saya pun sekolah dasar di sana. Saat masuk sekolah dasar dengan seragam merah putihnya itu saya takut. Saya mempunyai kakak kelas, saya akan menghadapi ulangan, mempunyai pekerjaan rumah dan lain hal hal negative dalam pikiran saya. Alhasil saya pun masuk sekolah dasar hari pertama dengan mata merah dikarenakan saya menangis tidak mau masuk sekolah. Orang tua saya membujuk saya dengan segala tipu muslihat mereka seperti membelikan permen, di ajak berenang dan lain sebagainya, dan karena saat itu saya tidak mengerti akhirnya setelah segala tipu muslihat dan diiringi tangisan saya, saya pun akhirnya melangkahkan kaki dari rumah untuk menuju sekolah saya itu.  Setelah saya melihat keadaan sekitar saya pun akhirnya dengan mantap melangkahkan kaki ke sekolah itu untuk  beberapa tahun selanjutnya

            Kelas satu saya lewati. Tibalah saya di kelas dua. Ternyata di kelas dua ini sangat berbeda terutama dalam hal belajar matematika. Yap, betul di kelas ini saya belajar perkalian. Akhirnya ibu saya yang dengan segenap trik trik jitu berhasil mengajari saya perkalian. Kelas dua pun selesai, tapi ketika suatu masalah selesai itu sebenarnya bukan selesai tapi itu hanya sebuah permulaan dari masalah selanjutnya. Kelas tiga pun datang, kelas tiga sd saya selama di bandung tidak lebih dari 3 bulan. Kami sekeluarga pindah ke medan karena bapak saya harus bertugas memimpin cabang yang ada di medan, pergilah kami ke medan.  Awalnya saya senang karena akan ke Medan, menginap di hotel bernama grand angkasa selama 14 hari dan yang paling saya senang adalah saya naik pesawat. Maklum saat itu saya baru berumur sekitar 9 tahun. Setelah semua masalah selesai saya pun bersekolah di Medan, disini semua masalah bermulai. Teman saya kebanyakan orang batak. Mereka baru di sunat ketika mereka smp. Dan saya yang dulu tinggal di bandung dimana teman saya orang sunda, mereka di sunat ketika mereka kelas 2 sd, dimana akhirnya saya di sunat kelas 2 sd. Ketika di medan keadaan berubah, teman saya yang orang batak itu, mengintimidasi saya karena saya telah di sunat. Seperti yang bias di tebak saya pun menangis, saya memang cengeng waktu itu. Tapi karena akhirnya lama-lama sudah terbiasa mereka pun sudah tidak mengejek saya lagi, toh barang saya tidak ada yang melihat, dia aman berada pada sangkarnya. 
           
            Ketika di Medan kami memilih untuk menempati sebuah rumah yang cukup besar di sebuah komplek ternama dengan lokasi yang strategis di kota Medan. Mengapa kami memelih rumah itu? Selain karena lokasi yang strategis ternyata harganya juga cukup terjangkau. Sebenarnya ada hal yang aneh dengan rumah sebesar itu tetapi mengapa harganya bisa di bawah harga rata-rata rumah lainnya di daerah itu? Usut punya usut setelah kami sekeluarga pindah dari kota Medan 2 tahun 6 bulan kemudian kami di beritahu oleh sanak saudara yang kebetulan memang tinggal di dekat rumah kami yang ada di medan itu, dia memberitahu bahwa ternyata rumah itu bekas pembunuhan. Suasana pun sempat hening beberapa saat kemudian. Antara takut, seram, atau malah menahan tawa. Yang jelas suasana saat itu membuat jantung ini berdebar cukup kencang.

            Setelah kami pindah dari medan menuju Jakarta, orang tua saya sepakat untuk membangun sebuah rumah, dimana rumah yang nyaman dan cukup besar untuk mendukung kami, para anak mereka untuk tumbuh, berkembang, belajar serta bermain. Dalam 9 bulan pun rumah impian itu jadi. Sebuah rumah yang berada di Ibu Kota ini. 

            Awalnya ketika berada di Jakarta orang tua saya menghawatirkan bagaimana saya bisa beradaptasi ketika bersekolah di Jakarta. Karena kekhawatiran tersebut akhirnya saya di sekolahan di sebuah sekolah dasar bernama global Islamic school yang berada di condet, Jakarta Timur. Ya, sekolah ini adalah sekolah dengan cara belajar dan mengajar berbeda dari yang lain. Di sekolah ini satu kelas hanya di batasi 24 anak, dan faktanya kelas saya saat itu hanya berjumlah tidak lebih dari 20 anak saja. Disini kami belajar bagaimana kami harus berbicara kepada orang lain, menggunakan kosa kata yang benar, dan tentu saja belajar agama Islam, sesuai dengan nama sekolah ini. Kami belajar dengan cara duduk di karpet. Cukup aneh bukan? Tapi dengan cara seperti ini terbukti efektif, saya bergaul dengan banyak orang, berbicara saling menghargai, belajar saling berbagi tempat (pada waktu itu karpet tidak terlalu besar dan kami harus cermat dalam membagi tempat) dan yang paling penting kami di ajari tata cara berbicara yang baik, jelas, tapi juga sopan.

            Baru 3 bulan saya bersekolah di sana, saya  diikutkan untuk lomba puisi se-JABODETABEK. Mereka berasalan bahwa saya memliki suara yang bulat, lantang dan dengan semua itu saya dapat memadukannya dengan sebuah gaya. Akhirnya saya pun ikut lomba puisi itu. Latihan demi latihan saya lakukan, saya di asah agar menjadi lebih baik dalam setiap kesempatan latihan yang ada. Akhirnya hari lomba itu pun datang., dan ketika pagi hari sebelum lomba itu saya diberitahukan bahwa aka nada Gusdur untuk menonton lomba puisi ini. Pikiran saya adalah apakah saya bisa melakukan ini? Bagaimana jika saya gagal? Atau saya terpeleset kita saya hendak menaiki panggung, saya di lihat oleh mantan Presiden Indonesia itu. Akhirnya saya pun berpikir, gusdur itu sedikit susah dalam melihat, apakah benar dia akan menonton saya dengan penuh konsentrasi? Bahkan untuk  jalan saja beliau kesulitan. Dengan pikiran pikiran yang sedikit nyeleneh itulah saya memantapkan kaki naik ke atas panggung untuk membacakan sebuah puisi yang menggetarkan hati puisi itu berjudul Piagam Perdamaian.

            Ketika akan di umumkan pemenang lomba ini jantung saya berdegup sangat kencang seperti genderang mau perang, saya yakin saya menang karena saya telah melkukan apa yang saya bisa saat itu. Ternyata hasinya jauh dari harapan saya. Saya tidak memenangkan lomba itu. Juri memberi tahu saya akan menjadi juara jika saja saya dapat melafalkan huruf “R” dengan benar. Ya, saya cadel pada waktu itu. Nasi sudah menjadi bubur biarlah kegagalan saya pada waktu itu dapat di jadikan pelajaran di kemudian hari.

            Kegagalan itu seolah menjadi pecutan bagi diri saya. karena kegagalan di kelas 4 sd saya belajar lagi, bagaimana cara berbicara dengan lafal, tegas, dan luwes, akhirnya pada kelas 5 sd saya mengikuti lomba pidato dan akhirnya saya pun juara. Di kelas 5 sd ini saya meraih prestasi di dalam kelas, saya peringkat  ketiga di dalam kelas yang jumlah muridnya sekitar 21 orang. Saya ingat dulu ketika guru kami, Mr. Andri dengan logat jawanya dan berbicara bahasa inggris untuk memotivasi kami dalam belajar di dalam kelas, walaupun sebenarnya saya juga kurang mengerti apa yang ia ucapkan.

            Akhirnya saya pun naik ke kelas 6, senior year.  Pada kelas 6 sd tidak terlalu banyak yang dapat saya kenang, teteapi yang jelas dulu sana sempat panik karena akan di adakan UASBN atau seperti UAN. Ya tahun 2008 adalah tahun pertama dimana SD diberikan Ujian Akhir Sekolah Bertaraf  Nasional. Saya merasa seperti kelinci percobaan, di tambah lagi pikiran saya saat itu yang dapat di katakan bocah membuat saya sangat takut dalam menghadapi ujian tersebut.

            Ketika ujian saat itu tinggal sekitar 5 bulan lagi, saya jatuh sakit, sakit keras. Sempat membuat saya dalam keadaan kritis sehingga saya di rawat di rumah sakit sekitar 1 bulan. Ketika masa pemulihan yang menghabiskan waktu sekitar 3 bulan selesai, saya kembali bersekolah, menyelesaikan tugas yang luar biasa banyak. akhirnya hari ujian pun tiba, dengan persiapan sekitar 2 bulan untuk mempersiapka ujian itu, akhirnya siap atau tidak siap saya menghadapi ujian itu. Ajaib. Saya lulus dari UASBN dengan nilai rata-rata di atas 8. Ya, biasa saja, tapi untuk seorang yang telah sakit keras itu adalah hal yang sangat baik, ujar ayah saya sembari berusaha menghibur dengan air mata yang mulai jatuh dari pipinya, air mata bahagia karena anak pertamanya telah lulus dari sekolah ‘dengan seragam merah putih’ untuk naik ke jenjang pendidikan berikutnya, sekolah dengan ‘seragam putih-biru’ atau SMP.

wisuda sd
            Setelah sempat berputar putar untuk mencari smp yang cocok untuk saya, akhirnya kedua orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di sekolah yang sama ketika saya sd, saya pun kembali bersekolah di Gobal Islamic School.

            Saya memang hanya berpindah beberapa langkah dari sekolah saya ketika saya sd tapi apa yang saya rasakan adalah sebuah sekolah dengan atmosfer berbeda. Sekolah dengan peraturan yang berbeda pula. Yang paling mengejutkan adalah saya mempunyai kakak kelas, hal yang selama 2,5 tahun tidak pernah saya rasakan ketika saya SD. saya memang angkatan pertama di SD  saat itu.

Periode smp

            Sial, ketika saya kelas 7 saya satu kelas dengan anak yang terkenal luar biasa Bengal ketika di sd, sebut saja anak itu bernama Arga. Ya, anak pecinta berbagai kegiatan olahraga ini memang cukup sering bikin onar. Terakhir kali dia bikin onar adalah ketika dia membawa kabur semangkuk mie ayam dari kantin tanpa membayarnya, yang sampai orang tua dari anak itu di panggil kesekolah. Kelas 7 pun akhirnya terlewati begitu saja tanpa meninggalkan goresan di dalam hati ini. Kelaas 8, atau jika boleh saya katakan adalah kelas dengan berbagai kenangan yang ada terjadi pada masa itu. Saya saat kelas 8 tergabung dalam kelas 8c, yang isinya adalah anak-anak seru dan asik. Masih segar dalam ingatan saat saya kelas 8 di mana muka kami saat itu masih sangat lucu dan imut saling mengerjai satu sama lain, ada juga di antara teman saya yang mengalami cinta monyet.  Ketika dia di putusi oleh pacarnya ia pun menangis. Membuat saya ingin tertawa jika saya berusaha mengingat masa itu. Saya juga masih dapat mengingat betul bagaimana kami di hukum untuk menghormati bendera merah putih, seperti di sinetron siang hari ala SCTV karena kami mengobrol ketika pelajaran agama.
3 jagoan cilik, maju kalo berani

            Tanpa terasa waktu berjalan saya akhirnya naik ke kelas 9 dengan peringkat 3 di kelas saat itu. Karena itu saya di masukan kedalam kelas 9A yang menurut guru adalah kelas unggulan.disini terjadi persangingan antar invidu yang lebih ketat dimana saya terlibat langsung di dalamnya, saya masih ingat betul ketika kelas saya mengikuti lomba yang di adakan pada bulan pada waktu itu. Kelas saya menyapu bersih memengangkan 12 dari 15 lomba yang di adakan. Saya pun juga memengi lomba itu, saya lomba ceramah saat itu, ustad dadakan.
Waktu berlalu sangat cepat, tak terasa masa smp pun berakhir. Masa dimana saya yang saat baru masuk kelas 7 dulu terlihat sangat imut dan tanpa dosa, tapi ketika lulus sudah terlhat seperti berandal.  Saya pun masuk ke sma labschool kebayoran. Sekolah yang berada di jalan ahmad dahlan nomor 14 ini terlihat sangat baik. Ketika saya baru masuk, saya terlihat seperti orang asing saya tidak punya teman, maklum ketika baru masuk teman saya seolah cuma satu, yaitu teman dari smp saya yang kebetulan kami berdua masuk sma yang sama.

Periode sma

            Kelas 10 boleh di bilang adalah kelas yang berat dimana kegiatan sma labschool yang ternyata sangat banyak, dan masih proses adaptasi. Saat kelas 10 ada kegiatan seperti trip observasi dimana rambut harus di potong habis. Ketika saya ke mall saya di lihatin orang orang sekitar, mungkin saya di anggap biksu. Setelah trip observasi beberapa bulan kemudian ada kegiatan BINTAMA di kegiatan ini kami para siswa labsky membayar untuk didik. Atau kata siswa kala itu membayar untuk disiksa. Setelah kelas 10 yang lumayan berat akhirnya saya naik ke kelas 11 jurusan ips dan disinilah saya sekarang berada


pra-Trip Observasi

To be continued

            Ketika saya berpindah dari satu kota ke kota lainnya saya selalu ingin menjadi bagian dari daerah setempat, dimana saya yakin bahwa setiap pengalaman yang saya miliki akan menajdi bermanfaat di kemudian hari. Selama hidup ini masih bergulir, nafas ini masih terus berhembus huruf demi huruf yang ada di tulisan ini akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya waktu. Saya Muhammad Azis Ridwansyah Ridwansyah.
hayo, azis ngelirik siapa?
norak dulu ah


bahagia banget

mau foto, tapi malu
wow. jadi MC nih
wisuda smp
loh ini lagi pipis?



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar