Jumat, 28 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Nabilla Khairunnisa Ishadi



16 Tahun: Dari Kakak Ena, Sampai Nadoa

Masa Kelahiran, Balita, dan TK
Saya adalah anak pertama bagi orang tua saya, juga merangkap sebagai cucu pertama bagi kakek dan nenek saya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Bisa dibayangkan betapa bersemangatnya mereka menunggu proses kelahiran saya ke dunia.
Usia 2 bulan
Bermain bersama Bunda
                Hari itu, Rabu, tanggal 5 Juni tahun 1996, ibu saya berhasil melahirkan saya ke dunia dengan persalinan normal, di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring. Saya diberikan nama Nabilla Khairunnisa Ishadi. Nabilla berarti cerdas, Khairunnisa berarti sebaik-baiknya wanita. Dua nama depan dari nama saya ini diambil dari bahasa Arab. Sementara Ishadi adalah gabungan dari kedua nama kecil ayah dan ibu.
Suatu saat ibu saya menceritakan, beliau hampir gagal membawa saya untuk melihat dunia. “Bunda deg-degan sekali ketika dokter memberikan bunda 2 pilihan, mau mempertahankan atau melepaskan kakak. Jelaslah, bunda pertahankan” Pada usia kehamilan sekitar 3 bulan, tali pusar yang menghubungkan saya dengan ibu saya sempat putus, sehingga dokter kandungan yang membantu ibu meninggalkan orang tua saya dengan 2 pilihan; melepaskan atau melanjutkan. Tentu saja ibu dan ayah saya mengambil pilihan kedua, dengan syarat ibu harus melakukan bed rest selama kurang lebih satu minggu.
                 Sedari kecil, saya menghabiskan waktu saya bersama kakek dan nenek. Saya sering ikut nenek kakek pergi ke suatu tempat, bahkan hingga ke luar kota. Sepertinya, sebagai cucu pertama, saya memberikan keistimewaan tersendiri bagi kakek-nenek saya. "Dadong Ah!" adalah kata-kata yang sangat sering saya ucapkan ketika kecil, yang kini dijadikan bahan ejekan oleh paman saya.
Bersama Adik
                Di usia yang ke 4, saya mulai masuk ke jenjang pendidikan sekolah, yaitu Taman Kanak-kanak atau TK. Saya dimasukkan ke TK Aisyiyah yang jaraknya dekat dari rumah saya. Sebelumnya, di bulan Maret tahun 2000, Tuhan memberikan saya seorang adik perempuan, yang diberi nama Nadhifa Khairunnisa Ishadi. Sejak saat itu, rutinitas saya pun bertambah, yaitu mengganggu adik saya. Mendengar tangisan karena terganggu adalah suatu kepuasan tersendiri bagi saya. Sejak saat itu, predikat sebagai "Kakak" pun diemban saya. Panggilan saya pun berubah, menjadi Kakak Ena.
                Di Taman Kanak-kanak, saya banyak bermain, mengenal teman-teman baru, dan melakukan banyak kegiatan. Guru pertama saya adalah ibu Puji, yang masih sering saya temui hingga kini.

Lomba Menari di Kebun Binatang Ragunan

Prakarya TK
Masa SD
Kesayangan Kakek
Saya melanjutkan sekolah di SD Muhamadiyah 5, Kebayoran Baru. Sekolah ini letaknya berdampingan dengan TK Aisyiyah. Ketika saya disuruh untuk memilih, jujur saya tidak banyak melakukan banyak pilihan ataupun memberikan pendapat, sebab saya belum terlalu memikirkan sekolah. Bulan Juli tahun 2002, saya resmi menjadi siswi Sekolah Dasar.
Saya masuk di kelas 1A, dengan wali kelas bernama ibu Esih Sukaesih. Dari pandangan saya, bu Esih adalah orang yang sangat sabar, sangat baik, sangat ramah, dan tidak pernah marah. Kini, bu Esih sudah pensiun dari pekerjaan gurunya. Di kelas 1A, tidak banyak yang perlu saya lakukan dalam hal bersosialisasi, sebab hampir seluruh teman-teman saya sudah saya kenal semenjak TK.
Pada bulan Ramadhan, saya diminta oleh sekolah mewakili sekolah saya untuk tampil dalam acara televisi yang berjudul “Dunia Anak” yang dahulu ditayangkan di Indosiar. Pembawa acaranya adalah Dewi Hughes kala itu. Saya hanya diminta menjawab pertanyaan “Hewan kurban apa saja sih?”. Di kelas 2, saya ingat bahwa saya diberikan wali kelas yang terkenal galak, jauh berbeda dengan bu Esih. Kalau bisa memilih, saya lebih menginginkan untuk diajar oleh bu Esih saja, tapi tentu itu tidak mungkin.
Selain sempat “masuk TV”, saya juga pernah mencoba untuk “siaran”. Ya, di kelas 3 kebetulan sekolah saya bekerja sama dengan Female Radio, kalau tidak salah di 103.8 FM. Saya bersama teman saya, Nadifa, mengobrol-ngobrol dengan penyiar yang suaranya diperdengarkan melalui radio. Pertanyaannya hanya seputar kegiatan sekolah saja memang.
Di SD pula, sekolah sering mengikutsertakan saya dalam pelbagai perlombaan. Mulai dari Olimpiade, hingga lomba-lomba yang sifatnya keagamaan, didukung oleh Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Saya mengikuti Lomba Keterampilan Agama (LOKETA) di kelas 5 hingga kelas 6. Saya pernah ikut di 2 kategori, yaitu lomba MTQ perorangan, dan cerdas cermat. Syukur, keduanya membuahkan hasil yang baik. Terakhir saya juara 3 untuk MTQ tingkat Kodya Jakarta Selatan, dan juara 3 cerdas cermat di tingkat Provinsi DKI Jakarta.
Sejak kelas 5 SD, saya mulai memikirkan apa yang akan saya lakukan di kelas 6, dan di mana saya akan melanjutkan sekolah saya. Pilihan itu jatuh kepada SMP Labschool Kebayoran, sekolah yang sudah saya targetkan semenjak saya duduk di kelas 2. Kebetulan, saya pernah mengikuti lomba di ajang Pekan Ilmiah Indonesia satu sekitar tahun 2003. Tidak banyak yang saya lakukan ketika kelas 6. Saya hanya banyak mengerjakan tryout yang diberikan sekolah. Tidak seperti kebanyakan teman-teman saya, saya memilih untuk tidak mengikuti program bimbingan belajar.
Di pengumuman kelulusan, saya sangat bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa-doa saya. Saya diberikan nilai-nilai yang terhitung sangat baik. Predikat sebagai lulusan terbaik juga diberikan kepada saya. Orang tua saya saat itu menyatakan rasa bangganya pada saya. Tidak terhitung betapa bahagianya.
Menutup masa SD sepertinya akan sangat sulit, pikir saya waktu itu.

Masa SMP
Saya lulus Sekolah Dasar tanggal 21 Juni tahun 2008, tepat enam tahun setelah saya mendaftar ke SD Muhammadiyah 5 di tahun 2002. Nilai UASBN saya dapat dikatakan baik, dengan saya meraih peringkat ketiga di angkatan saya. Saya juga berbangga pada diri saya sendiri, dengan meraih predikat sebagi Siswa Terbaik. Intinya, ketika lulus dari SD Muhammadiyah 5, rasa senang dan bangga menjalari tubuh saya. Ditambah, saya berhasil mewujudkan pilihan saya, yaitu masuk ke SMP Labschool Kebayoran, resolusi ketika kelas 2 SD.
Masa di SMP saya diawali dengan rasa sukacita, dengan memikirkan bahwa saya akan mengganti seragam saya menjadi dominan biru. Juga pada pikiran bahwa saya akan menyelesaikan tahap ini dalam waktu yang setengah kali lebih kecil dibanding saat sekolah dasar. Ditambah dengan kabar bahwa saya dapat mengikuti program akselerasi karena masuk dalam 50 besar ketika tes masuk. Memang saat itu masuk program akselerasi adalah tujuan saya. Kebetulan, salah seorang saudara saya ada yang mengikuti program akselerasi ketika ia SMA, di SMA Labschool Rawamangun.
Hari pertama masuk SMP Labschool Kebayoran, saya dihadapkan kepada pemandangan yang riuh, dengan total manusia yang banyak. Saya sempat berpikir, apa kemungkinan sejumlah populasi manusia di dunia berada di Labschool, saking banyaknya manusia di sekolah ini. Mungkin ucapan tersebut adalah bentuk kaget karena selama menjalani masa ketika SD, saya belum pernah melihat orang sebanyak ini.
Saya sudah mengantipasi beberapa kemungkinan terberat yang akan saya jalani selama Masa Orientasi berlangsung melalui berrita-berita yang terdengar. Benar saja, sebagai siswi baru, saya diminta untuk menguncir enam rambut pendek saya. Ditambah membuat name tag yang ukurannya besar dengan bentuk dan warna yang aneh, membawa perbekalan makanan yang banyak serta air minum dengan botol besar, serta membuat tas serut. Kala itu, saya hanya berpikir bahwa kehidupan saya akan sangat seru.
Saya merasa menjadi siswa SMP Labschool tepat pada hari terakhir Masa Orientasi Siswa, hari Jumat ketika lari pagi. Setelah hari Jumat itu, Bapak Masribi Ali, selaku kepala SMP Labschool Kebayoran, memberikan sedikit pesan kepada kami, para siswa baru, sekaligus menutup rangkaian Masa Orientasi Siswa yang diberi nama “Labs Fresh School Day”.
Saya masuk ke kelas saya, kelas 7A. Kelasnya sangat ramai. Kira-kira, ada lebih dari 30 anak di kelas saya. Banyak dari mereka yang sudah saling kenal, terkecuali saya. Saya hanya mengenal dua orang di kelas baru itu. Satu Irfan, yang kebetulan berasal dari SD yang sama seperti saya, yang satu lagi Niken, teman yang secara tidak sengaja membantu saya menutupi seragam saya yang terkena cat dari tas serut yang digendong ketika MOS berlangsung.
Di Labschool, sistem mengajarnya cukup jauh berbeda dengan SD saya dulu. Di Labschool, kami dituntut untuk lebih aktif, dan menganggap bahwasannya guru adalah kawan yang bisa diajak berdiskusi. Saya juga menemukan bahwa guru-guru saya selama di SMP ternyata jauh lebih muda. Kisaran umurnya sekitar 20 sampai dengan 40 tahun. Beda dengan guru SD saya yang bisa mencapai umur 60 tahun ketika mengajar.
Bulan Agustus bisa dikatakan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu di Labschool. Setiap tanggal 17, yakni pada hari kemerdekaan Indonesia, sekaligus sebagai pergantian masa jabatan bagi para pengurus OSIS. Petugas upacara peringatan kemerdeaan Republik Indonesia ini bergilir, dari SMP kemudian tahun berikutnya SMA, begitu seterusnya. Karena banyaknya siswa yang mengikuti ekskul paskibra yang juga sebagai pengurus OSIS atau calonnya, akhirnya dibukalah kesempatan bagi siswa/i kelas 7 yang berminat menjadi petugas upacara. Saya bukanlah orang yang bisa baris-berbaris dengan fasih, tetapi saya memaksakan diri untuk ikut, dengan pemikiran sebatas itung-itung pengalaman. Akhirnya, hampir setiap sore, saya berbaris di lapangan hijau, bersama belasan anak kelas 7 lainnya mengikuti pelajaran baris-berbaris. Saya tidak terpilih menjadi barisan pengibar bendera, tetapi saya tidak merasa sedih karena saya menyadari bahwa kemampuan saya belum maksimal dalam hal baris-berbaris.
Kira-kira satu minggu sebelum hari kemerdekaan Indonesia, sekolah mengadakan upacara mingguan, sebagai ajang gladi kotor sekaligus melihat apakah posisi kami sudah benar sebagai petugas upacara. Saya, didaulat sebagai pembaca doa, melaksanakan tugas saya semaksimal mungkin. Di akhir upacara, banyak yang menilai upacara ini berjalan sukses.
Yang mengejutkan, salah seorang teman sekelas saya, yang ketika itu minta dipanggil dengan nama “Sayuu” (bukan nama sebenarnya), datang menghampiri saya dan mengatakan suara saya terdengar lucu ketika membaca doa. Dia katakan, suara saya terdengar seperti suara salah seorang kakak kelas, yang merupakan Koordinator Bidang Rohani Islam saat itu, yang biasa ia panggil Kak Doa karena kebiasaannya membaca doa.
Karena nama saya Nabilla, akhirnya ditambah kata ‘Doa’ di belakangnya, jadilah nama “Nadoa”. Sejak saat itu, masing-masing dari teman-teman di angkatan saya memanggil saya dengan nama “Nadoa”. Hingga para guru juga ikut-ikut memanggil saya “Nadoa”. Aneh sekali rasanya waktu itu, terlebih ketika orang-orang mulai menanyakan apa maksud dari panggilan tersebut.
Setelah MOS, saya dihadapkan pada KALAM, Kajian Islam Ramadhan. Sama seperti MOS, kami juga diminta untuk membuat nametag sebagai alat pengenal dan sebuah persyaratan. Kembali pertanyaan muncul dalam benak saya Mengapa harus nametag? Mengapa bentuknya harus aneh? Masih segar dalam ingatan saya bentuk nametag saya adalah mata manusia. Ya, mata. Saat itu isu mengenai simbol mata belum terlalu terdengar, jadi bentuk mata belum dianggap terlalu kontroversial. Apalagi digunakan untuk bentu nametag sebuah acara yang berbau keagamaan.
Kegiatan KALAM jujur melelahkan bagi saya. Bulan Ramadhan yang semestinya dinikmati, injustru penuh dengan rasa tidak aman. Bangun tidur dengan pintu yang menggebrak adalah contoh dari rasa tidak aman. Belum lagi teriakan dan suara peluit yang memekakkan telinga. Tanpa diprediksi sama sekali, saya berhasil meraih predikat peserta terbaik KALAM.
Sie. Rohani Islam
OSIS Hasthaprawira Satya Mahadhika
Di kelas 8, kegiatan saya makin bertambah banyak yang membuat kedua orang tua saya keheranan. Tidak jarang saya baru sampai di rumah ketika azan Isya berkumandang. Terlebih ketika saya berhasil terpilih menjadi anggota OSIS, lengkaplah sudah ocehan orang tua dan kakek-nenek saya mengenai jam pulang saya yang terhitung terlalu malam.
Bisa dibilang, kelas 8 adalah masa-masa paling bebas di SMP. Salah satu target saya ketika kelas 8 adalah mengikuti kegiatan pertukaran pelajar, sehingga saya bisa merasakan bagaimana rasanya belajar di sekolah lain yang pastinya berbeda dengan Labschool.
Bersama Anita dan
keluarganya di Malang
Pertukaran pelajar pertama saya adalah ke SMPN 13 Jakarta, yang dilanjutkan ke SMPN 1 Malang. Di Malang, saya merasakan perbedaan yang cukup signifikan dalam hal pembelajaran. Suasana belajar di Malang sama sekali tidak menyita waktu, seperti halnya di Labschool. Di Malang juga saya mendapatkan teman-teman baru, salah satunya bernama Anita, yang bersedia “menampung” saya selama kegiatan di Malang.
Leontos Family, Melbourne
Di kelas 9, saya menargetkan untuk serius daam belajar. Selain masa kepengurusan OSIS yang sudah berakhir, juga karena kelas 9 ini adalah tahun terakhir saya di SMP, sebelum akhirnya melanjutkan ke SMA. Di awal semester, saya berhasil terpilih untuk mengikuti Homestay di Melbourne, Australia, tepatnya di Williamstown Highschool. Di sana, saya tinggal di rumah keluarga Leontos, di wilayah Yarra Ville selama kurang lebih 2 minggu. Teman saya bernama Evangeline Leontos, yang usianya terpaut 1 tahun lebih muda dari saya. Hingga kini, saya dan Evangeline masih sering berkomunikasi melalui fasilitas media sosial dari internet.
  Singkat kata, hari-hari saya langsung disibukkan dengan kegiatan pembelajaran, yang penuh dengan latihan-latihan dan pemantapan untuk Ujian Nasional. Kebetulan, tahun ketika saya akan lulus, format dari nilai akhir kelulusan siswa mengalami perubahan indikator. Tidak hanya dengan nilai Ujian Nasional saja, tapi juga dengan nilai Ujian Sekolah. Tentu saja hal ini awalnya mengkhawatirkan saya, dan kesannya menakutkan karena takut nilai saya tidak mencukupi untuk lulus.
Saya dan Mia (Lala Teletubbies)
Saya juga memikirkan SMA yang akan saya pilih nantinya. Jujur, saya mencanangkan untuk memilih sebuah sekolah negeri di Bandung, namun orang tua saya kurang setuju. “Bunda sama ayah belum mau pisah jauh sama kakak. Nanti saja ya, ke Bandungnya, pas kuliah” begitu ujar ibu saya ketika saya mengutarakan rencana tersebut. Akhirnya, pilihan saya pun jatuh ke SMA Labschool Kebayoran. Kebetulan saya memiliki kesempatan untuk mengikuti jalur khusus, yaitu jalur masuk tanpa tes. Singkatnya, saya berhasil diterima.
Bulan April seakan-akan adalah bulan yang penuh duri. Begitu banyaknya ujian yang harus dilaksanakan, sampai-sampai orientasi kegiatan saya sehari-hari hanya seputar belajar saja. Tanggal 25-28 April bisa dibilang adalah tanggal-tanggal yang mementukan. Ujian Nasional dilaksanakan. Bagi saya, dengan selesainya ujian-ujian tersebut, akan datang juga libur yang panjang dengan waktu istirahat yang tak terbatas.
Dua bulan setelahnya, tanggal 4 Juni 2011, saya dan teman-teman menerima hasil ujian. Saya cukup puas dengan hasil yang saya dapatkan, meskipun belum sampai pada targetnya.

Masa SMA
Di pertengahan tahun 2011, saya menggeser dunia sekolah saya ke “teritorial” SMA. Saya melanjutkan ke SMA Labschool Kebayoran. Bisa dikatakan, saya memang hanya menggeser posisi saya. Karena, letak SMA Labschool Kebayoran yang hanya berbeda bangunan dari SMP Labschool Kebayoran. Jujur, yang saya rasakan pada waktu itu adalah kurang berminatnya saya terhadap dunia SMA. Entah karena saya merasa terlalu nyaman, atau bahkan disebabkan oleh faktor lain, yang mungkin saya tidak sadari itu terjadi. Saya mengawali hari Pra-MOS saya dengan datang terlambat waktu itu. Para siswa Saya mendapati teman-teman saya sedang membuat lingkaran di hall basket. Untung saja saya tidak sendirian.
XD
Saya masuk ke kelompok 8. MOS SMA ini berlangsung selama 3 hari. Beda dengan MOS SMP yang berlangsung selama 5 hari. Agaknya, MOS SMA ini kebih santai ketimbang MOS yang saya jalani 3 tahun lalu. Selesai MOS, saya memulai kegiatan saya sebagai siswi resmi SMA Labschool Kebayoran di kelas XD, dengan wali kelas Pak Tanto.
Tahun pertama di SMA Labschool Kebayoran adalah tahun yang terhitung berat. Di tahun pertama ini, nilai-nilai saya turun. Dikatakan drastis, tidak begitu. Sejujurnya, pola pembelajaran SMA Labschool Kebayoran tidak jauh berbeda dengan SMP. Namun, tanpa disadari, kegiatan belajar kini lebih padat dan seolah tanpa mengenal kata istirahat.
Kelompok 22
Angin Mamiri
Sebagai siswi baru, saya dihadapkan kepada kewajiban untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah di luar kegiatan belajar-mengajar. Belum terhitung 3 bulan setelah Masa Orientasi, program Trip Observasi berlangsung. Kali ini, Trip Obsevasi dilaksanakan di Kampung Parakanceuri, Purwakarta. Saya berada di kelompok 22, Angin Mamiri, dengan Pak Afdar sebagai guru pembimbing beserta Kak Valdi dan Kak Karina sebagai OSIS pembimbing.
Trip Observasi adalah kegiatan yang menyenangkan. Jujur, saya merasakan bahwa kegiatan sekolah seperti ini adalah kegiatan tambahan yang ditujukan untuk membuang rasa penat belajar di sekolah. Selama 5 hari kegiatan ini berlangsung. Di hari terakhir, saya dan teman-teman merasakan bahwa kehidupan kami selama Trip Observasi lebih enak untuk dijalani, tanpa beban mengerjakan tugas dan hal-hal sekolah lainnya. Tidak diduga-duga, kelompok sayalah yang terpilih menjadi kelompok terbaik.
Komunitas Rohis #11
Sebagai calon pengurus Rohis kala itu, saya mengikuti kegiatan LAMPION. Pada kegiatan tersebut, saya beserta teman-teman saya yang juga calon Rohis, mengikuti kegiatan pelatihan untuk menjadi pengurus Rohis. Kegiatannya menyenangkan, jauh dari kesan kerohanian yang terkadang membosankan. Kini, setelah dilantik saya menjabat sebagai Sekertaris Umum Komunitas Rohis Angkatan 11.
Di bulan April, saya menjalani kegiatan wajib non-akademik saya yang terakhir, yaitu BINTAMA. BINTAMA juga merupakan kegiatan yang berkesan. Kami melaksanakan kegiatan ini di Grup 1 Kopassus, Serang, Banten. Hampir seperti Pra TO, hanya saja disini tidak ada nametag dan tongkat, dan yang mengendalikan acara bukanlah OSIS melainkan para tentara Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Tanpa perlu basa-basi kami pun belajar patuh dan disiplin pada aturan.  Guru-guru mengatakan, BINTAMA angkatan saya adalah BINTAMA yang terberat dibanding para senior sebelumnya. Di BINTAMA, saya belajar kedisiplinan dan bagaimana mengatur dan mengendalikan situasi.
Sie Rohani
OSIS Amarasandhya Batarasena
Selesai BINTAMA, selesai kewajiban program sekolah non-akademik yang harus saya jalani. Menyisakan satu program pilihan, yaitu LAPINSI atau Latihan Kepemimpinan Siswa. Kegiatan ini dikatakan pilihan sebab, kegiatan ini tidak diwajibkanbagi setiap siswa, tapi hanya kepada mereka yang berminat saja. Kegiatan ini dikhususkan untuk para calon pengurus OSIS maupun MPK. Awalnya, saya ragu untuk ikut LAPINSI sebab waktunya yang berdekatan dengan Ulangan Tengah Semester 2. Tapi, dengan dukungan orang tua dan teman-teman, saya ikut LAPINSI. Sekarang, saya resmi dilantik sebagai pengurus OSIS Amarasandhya Batarasena periode 2012/2013, setelah mengikuti LALINJU pada tanggal 9 September 2012.
Kelas 10 ini, saya mantap dengan tujuan utama saya untuk naik kelas dengan nilai baik, dan masuk program penjurusan IPA. Saya bersyukur karena salah satu tujuan saya di SMA bisa tercapai.
Kini, saya memasuki tahun kedua saya di SMA Labschool Kebayoran, di kelas XI IPA 1. Pada tahun kedua ini, saya berharap bahwa semuanya akan terasa lebih baik dan bermakna, untuk kehidupan saya ke depan yang saya harapkan sesuai dengan apa yang saya cita-citakan.
"Yay, saya lebih tinggi!"
Tamasya ke Puncak


Kini

1 komentar:

  1. Terimah kasih yang amat dalam kami ucapkan kepada MBAH SELONG yang
    telah memberikan kebahagian bagi keluarga kami…berkat Beliau saya
    sekarang udah hidup tenang karena orang tuaku udah buka usaha dan
    punya modal untuk buka bengkel skrang pun orang tuaku tidak di
    kejar-kejar hutang lagi…dan keluarga Kami di berikan Angka
    Ritual/Goib Dari mbah yg sangat Jitu 100%dijamin
    tembus…hingga keluarga kami sekarang merasa tenang
    lagi…terimah kasih mbah…Jika Anda ada yg merasa kesulitan
    masalah Nomer ToGEL silahkan hbg Aja MBAH SELONG
    dinmr hp beliau (081-322-565-355) atau klik http://prediksiangkahoki88.blogspot.com/
    dan saya sudah membuktikan 3kali berturut2 tembus terimah kasih

    BalasHapus