Minggu, 23 September 2012

Tugas-1: Autobiografi Amyra Putri Larasati



16 Tahun yang masih berlanjut

Saya lahir 16 tahun yang lalu, tepatnya hari Jum’at tanggal 15 Maret tahun 1996, di rumah sakit pondok indah pada sore hari,sekitar jam 18.00 WIB. “Kamu lahirnya bukan 40 minggu mengandung, tapi 38 minggu”kata ayah saya.  Kedua orang tua saya memberi saya nama “Amyra Putri Larasati” dengan harapan agar saya menjadi seorang pemimpin perempuan yang lurus hatinya, sesuai arti nama saya. Saya lahir dari pasangan Ibu Yasmini Shita Dewi dan Bapak Nilwan. Saya anak kedua dari dua bersaudara, dimana kakak laki-laki saya, Andhika Tangguh Pradana, lebih tua dari saya 2 tahun.

MASA BALITA
    Menurut ibu saya, saat saya balita saya lebih pemberani daripada sekarang, karena saya lebih terbuka pada orang-orang lain dan tidak malu untuk tampil dihadapan orang banyak. Dan saya bukan termasuk balita yang mudah menangis dan rewel saat dibawa jalan-jalan, sehingga orang tua saya nyaman saat membawa saya pergi kemana-mana, dari mall sampai luar kota. Ibu saya juga bilang bahwa wajah saya dari dulu bertampang galak, sedangkan makin dewasa berubah jadi jutek.
Saat saya berumur 3 tahun,kepala saya sempat bocor karena jatuh dan terbentur lantai dengan keras. Tetapi ibu saya heran, karena setelah itu saya tidak menangis, padahal hal seperti itu pasti sangat menyakitkan. “Mama sempat bingung liat kamu diem aja kayak gitu” kata ibu saya. Walau begitu tetap saja ibu saya tetap membawa saya kerumah sakit agar ditangani dokter.
Kelompok bermain saya adalah di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Auliya yang letaknya sangat dekat dengan rumah saya, hanya berjalan beberapa meter pun sampai. Saat itu saya termasuk kedalam Kelompok Matahari. Saya mempunyai banyak teman disana, dan guru-guru saya sering menyebut saya ‘anak belanda’ karena saya sangat suka makan keju dan karena kulit saya putih. Saya juga disebut seperti pemain telenovela di tv karena dulu setiap saya berjalan kesekolah saya selalu memetik bunga kembang sepatu dan menyisipkannya ditelinga kanan. Kata guru KB saya, “kamu dulu dipanggil Rosalinda sama anak-anak dan guru-guru gara-gara kebiasaan kamu”sambil tertawa. Disana saya diajarkan dasar-dasar islam seperti surat-surat pendek dan doa-doa harian. Yang paling saya ingat adalah ketika diajarkan doa sebelum tidur dan ayat kursi, sambil disimulasikan dengan telentang diatas karpet dan memejamkan mata berpura-pura tidur. Banyak yang benar-benar tertidur setelah pelajaran selesai, termasuk saya. Guru-guru kami pun kesusahan membangunkan kami. Saat jam bebas biasanya saya bermain masak-masakan bersama teman-teman saya yang perempuan, atau membaca di perpustakaan kecil disana. Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan guru-guru saya di kelompok bermain. Sekarang, sekolah itu berganti nama menjadi Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Amelia.
Tetapi, saya tidak melanjutkan masa taman kanak-kanak saya disana, melainkan saya pindah ke Taman Kanak-kanak Islam Al-Azhar 17 Bintaro. Saat saya pertama kali disana saya merasa sedikit canggung karena saya berada di lingkungan baru dengan banyak sekali orang-orang yang saya tidak kenal, juga karena kebanyakan siswa-siswi yang bersekolah disana adalah murid-murid kelompok bermain islam al-azhar 17 bintaro yang sudah kenal satu sama lain, walaupun beberapa teman kelompok bermain saya ada yang melanjutkan di sini juga. Tetapi perasaan itu langsung hilang saat baris-berbaris saat upacara penyambutan murid baru, karena saya langsung berkenalan dengan anak-anak disekitar saya, sebagian dari kelompok bermain al-azhar bintaro dan sebagian lainnya dari kelompok bermain yg berbeda. Saya ditempatkan di kelas A-1 bersama beberapa murid lainnya. Pada hari pertama hanya perkenalan saja dengan guru kelas dan teman sekelas masing-masing. Sekali lagi saya merasa agak canggung saat memperkenalkan diri, tetapi perasan itu cepat hilang. Saat itu kami hanya belajar membaca iqra, menggambar, baca-tulis, dan hal-hal standar.Saya merasa senang saat TK A, tetapi tidak semenyenangkan TK B. Di TK B saya ditempatkan di kelas B-2, dan di TK B kami sudah mulai belajar matematik dan ipa sedikit-sedikit. Saat TK B di satu sudut kelas saya dibuat simulasi ruang angkasa, dengan menutupi sudut itu dengan kain hitam, dan menempelkan kertas-kertas emas dan perak berbentuk bintang dan bulan, juga gambar-gambar planet. Di akhir tahun ajaran, akan diadakan pertunjukkan untuk orang tua, yaitu sebuah drama tentang seorang anak perempuan bernama Kejora yang bermimpi bertemu planet dan bintang-bintang. Saat itu dikelas saya diadakan pemilihan peran, dan saya mengajukan diri menjadi Kejora. Saya juga terpilih menjadi MC untuk acara itu. Saya pun bekerja keras untuk menyukseskan acara tersebut, mengingat bahwa tanggung jawab yang berada pada saya cukup berat. Dulu saya sering ikut penampilan-penampilan saat TK dengan menyanyi atau menari tarian tradisional, tetapi tidak pernah seserius drama ini. Alhamdulillah, penampilan kelas saya sukses dan disambut dengan baik, walaupun saya sempat lupa bagian saya dalam drama itu, tetapi untungnya tidak terlalu menonjol. Saya merasa senang bisa mengakhiri masa Taman kanak-kanak saya dengan penampilan yang sukses.

MASA SD
    Saya melanjutkan masa-masa Sekolah Dasar saya di Sekolah Dasar Islam Al-Azhar 17 Bintaro bersama beberapa teman TK saya.  Masa-masa SD saya selama kelas satu sampai kelas lima tidak terlalu berkesan, hanya bahwa saya mendapat banyak teman disana dan saya sering tampil untuk acara akhirussanah. Juga bahwa rata-rata saat SD saya ranking tiga besar dan yang terendah itu saat kelas dua, saya ranking enam. Saat saya SD saya selalu berganti-ganti ekskul, karena alasan tidak cocok dan karena saya ingin mencoba hal-hal baru. Seperti saat kelas tiga SD saya mengikuti eksul science club, tetapi saat diganti menjadi ekskul berkebun saya pindah-pindah ke ekskul memasak, ekskul musik, dan ekskul melukis. Saat kelas tiga itu saya juga mengikuti ekskul tetap yaitu ekskul silat. Saya mengikuti ekskul silat dari kelas tiga sampai kelas lima SD, dari saya sabuk putih hingga saya sabuk biru satu. Saya keluar ekskul itu saat kaki saya tertiban dan bengkak selama sekitar tiga minggu. Selama saya ekskul silat saya dilatih cara bela diri yang benar dan sebaiknya bela diri itu sesuai namanya, digunakan untuk membeli diri, bukan untuk menyerang orang lain. Saya juga pernah memenangkan lomba fight silat, yaitu lomba satu lawan satu saat saya kelas empat SD. Saat itu saya masih sabuk hijau dan mendapat peringkat kedua. Sebenarnya saya bisa saja meraih peringkat pertama, tetapi lawan saya di babak terakhir 2 tahun lebih tua dari saya dan dia sudah mencapai sabuk biru. Tetapi saya sudah bersyukur mendapat peringkat kedua.
    Saat saya kelas 5 SD saya juga sempat mengikuti olimpiade IPA, yang jika lolos tahap-tahap provinsi dan lain-lain bisa mengikuti IMSO(International Mathematics and Science Olimpiade). Saat itu saya menjadi perwakilan sekolah saya,bersama beberapa teman saya yang terpilih. Saya sangat bersemangat melakukannya karena saya ingin seperti kakak saya yang mengikuti olimpiade internasional itu dan memenangkan medali perak di bidang IPA. Tetapi sayangnya saya hanya lolos sampai Provinsi. Saya masih mengikuti lomba-lomba mata pelajaran lagi, diantaranya lomba di al-azhar pamulang, dimana saya mendapat juara satu. Saat kelas enam saya juga mendapat juara satu saat lomba IPA di SD Pembangunan Jaya dan juara tiga mata pelajaran IPA di Lomba Mata Pelajaran seluruh Al-Azhar.
    Kelas enam adalah saat-saat paling berkesan saat saya berada di Sekolah Dasar, karena saya merasa sangat menyatu dengan angkatan saya. Saat itu saya ditempatkan dikelas Mina 6 atau 6C karena mulai saya kelas dua SD urutannya diganti dari ABCD menjadi Makkah,Madinah,Mina, dan Arafah. Kelas saya bersebelahan dengan ruang komputer sekolah, jadi kami sering kesana dan memasang video happy tree friends yang ada di flash disk saya. Kami juga sering bermain di koridor. Di kelas enam saya pertama kali mendapatkan pelajaran bahasa sunda karena akan dimasukkan ke nilai UASBN sekolah. Saat kelas enam saya sudah tidak mengikuti ekskul apa-apa karena waktu ekskul akan digunakan untuk belajar dan tambahan materi. Alhamdulillah saat Ujian Nasional tiba saya bisa mengerjakan soal-soalnya dengan baik sehingga angkatan saya lulus 100% dan saya  mendapatkan NEM yang cukup memuaskan yaitu 26.95. walaupun sebenarnya sangat disayangkan karena sedikit lagi bisa mencapai 27.00, tetapi alhamdulillah saya mendapatkan peringkat 10 besar nilai ujian sekolah diangkatan saya. Setelah nilai-nilai selesai, sekarang yang dipikirkan  adalah SMP yang dituju. Saya memang sudah berniat meneruskan SMP di Sekolah Menengah Pertama Islam Al-Azhar 3 Bintaro, yang persis diseberang gedung SD saya, karena alasan dekat dengan rumah dan teman-teman saya banyak yang disana. Saya pun diterima tanpa tes dan tidak mencoba mendaftar SMP lain.

MASA SMP
    Saat Pra Masa Orientasi Murid, semua anak memakai seragam SD asal masing-masing. Saya melihat banyak murid SMP saya sebagian besar di isi oleh teman-teman SD saya. Saat itu kami dibagi-bagi menjadi 4 gugus, dan diberi tahu cara membuat nametag dan kode-kode makanan untuk dibawa saat MOS nanti. Saat itu dikatakan bahwa MOS angkatan saya, angkatan 17, dimudahkan, karena anak dari kepala sekolah SMP bersekolah disana juga. MOS SMP berjalan selama sekitar 5 hari. Di 5 hari itu kami dikenalkan ke budaya SMP yang tidak jauh dari budaya SD dan ditunjukkan ruang-ruang kelas serta kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan selama 3 tahun bersekolah disana. Di hari terakhir MOS tiap gugus diwajibkan membuat penampilan untuk penutupan MOS. Tetapi sebelumnya diadakan tes penempatan kelas, dan juga diberitahukan bahwa beberapa murid yang nilainya dipaling atas dan berminat bisa masuk kelas bilingual. Saya tertarik untuk mencoba dan diterima masuk ke kelas bilingual yang murid-muridnya tidak berganti selama 3 tahun penuh. Persaingan di kelas bilingual sangat ketat, sehingga nilai saya termasuk ‘lumayan’ disana dan saya mendapat peringkat ditengah-tengah. Dan juga pelajarn SMP lebih sulit daripada pelajaran SD.
    Saat saya kelas 7, kami mengadakan kunjungan ke kedutaan besar Kanada. Disana kami diberi tahu bagaimana pendidikan di kanada dan juga ditunjukkan video tentang keadaan alam Kanada dan lain lain. Lalu kami juga sering mendapatkan native speaker yang biasanya berasal dari Australia atau Inggris. Biasanya native speaker-nya mengisi acara untuk anak-anak kelas bilingual kelas 7 dan 8, karena kelas 9 saat itu tidak ada kelas bilingual. Tidak jarang juga native speakernya datang khusus untuk kelas 7 saja.
    Dibandingkan kelas 7, kelas saya lebih kompak saat kelas 8. Ada beberapa orang dari kelas reguler yang pindah ke kelas bilingual. Saat kelas 8 diadakan studi wisata ke Bandung untuk seangkatan. Kegiatan itu sangat menyenangkan karena membuat angkatan saya semakin kompak dan dekat. Kegiatannya pun juga sangat menyenangkan. Lalu di saat kelas 8, karena OSIS angkatan saya sangat kekurangan, hanya sekitar 3 orang yang ikut LDKS, maka ketua osis dari angkatan saya meminta izin kepada pembina OSIS untuk mengambil beberapa anak untuk di wawancara. Saya termasuk orang yang dipilih untuk diwawancara. Setelah saya dan beberapa teman saya diwawancara, kami terpilih menjadi OSIS, dan mulai merencanakan program besar yang setahun sebelumnya tidak terwujudkan yaitu Albin Cup. OSIS kami bekerja keras untuk mewujudkan acara ini dan alhamdulillah berhasil dikabulkan sekolah. Akhirnya albin cup diadakan pada bulan April, dengan lomba-lomba seperti futsal, saman, dan vocal untuk SD. Sebagai OSIS dan panitia, saya saat itu menjadi seksi dokumentasi. OSIS juga sempat mengadakan kunjungan ke gedung MPR DPR. Lalu di akhir kelas 8 saya dan beberapa teman saya mengikuti debat dengan murid-murid British International School. Dan karena itu hanya acara persahabatan maka tidak ada yang menang atau kalah.
    Saat-saat kelas 9 bisa dibilang masa paling menyenangkan dan juga melelahkan sepanjang saya di SMP. Menyenangkan karena akhirnya menjadi senior, dan melelahkan karena akan menghadapi UN. Liburan kenaikan kelas juga tidak bisa sepenuhnya dijalankan karena harus mengurus keperluan untuk MOS kelas 7, seperti menentukan makanan, nama gugus, design nametag, dan lain-lain. Awalnya saya hanya sebgai seksi dokumentasi dan tidak menjadi mentor untuk gugus-gugus angkatan 19. Tapi pada hari terakhir saya merasakan menjadi mentor gugus, dan mengawasi jalannya tes penempatan kelas. MOS adalah program terakhir OSIS angkatan saya. Di kelas 9 kami mulai ditekankan untuk belajar lebih giat dan mulai mengadakan PM yang berlangsung sampai jam 5 sore. Di papan pengumuman ditulis macam-macam motivasi dan countdown menuju UN, yang menurut beberapa teman saya memberi pressure lebih kepada mereka.
    Memasuki semester 2 beberapa pendaftaran SMA sudah dibuka. Saat itu target pertama saya untuk SMA adalah Binus Serpong. Saya menjalani tes gelombang pertama, lalu dilanjutkan dengan wawancara. Saya lolos wawancara tetapi harus mengulang tes pelajaran matematika saja karena nilai bahasa inggris saja sudah cukup. Sambil menunggu hasil re-test, saya menjalankan hari-hari sekolah seperti biasa. Suatu hari teman saya yang mengikuti tes bersama saya bercerita bahwa dia diterima di Binus. Saya belum mendapat kabar apa-apa dari ibu saya, jadi saya sms. Lalu ibu saya memberitahu bahwa saya tidak diterima. Saya merasa sedih tidak bisa masuk disana dan saya benar-benar menangis ditempat. Lalu saya akhirnya merelakan karena masih ada beberapa pilihan. Ibu saya menyarankan saya masuk SMA Pembangunan Jaya, tetapi saya tidak terlalu tertarik untuk masuk disana. Saya lulus tes penerimaannya tetapi saya ragu dan menunggu sampai saya tes sekolah-sekolah lain. Saat itu saya juga sudah mendaftar untuk Al-Azhar Pusat 1 dan Labschool Kebayoran. Saat saya mengerjakan tes masuk Labschool saya sedikit pesimis akan diterima karena saya merasa soalnya sulit, dan saya menebak jawaban beberapa soal. Jadi saat saya tau saya diterima saya kaget dan sangat senang. Beberapa hari kemudian datang pengumuman Al-Azhar Pusat 1 tanpa tes dan saya diterima. Saya sempat bingung menentukan pilihan karena menurut saya sulit memilih diantara dua sekolah yang saya inginkan. Akhirnya saya memilih masuk Labschool dan disinilah saya sekarang.
    Karena urusan SMA saya sudah beres, jadi sekarang saya bisa lebih fokus untuk persiapan UN, karena saya juga termasuk panitia buku tahunan jadi pikiran saya terbagi-bagi. Syukurlah ditengah-tengah persiapan UN pembuatan buku tahunan bisa berjalan dengan cukup lancar dan hasilnya pun cukup memuaskan.
    Saat UN dan ujian-ujian lain tiba, alhamdulillah saya tidak terlalu tegang saat mengerjakannya karena persiapan yang matang dari sekolah. Beberapa saat setelah UN saya dan teman-teman saya dikumpulkan disekolah untuk diberi pengumuman kelulusan, dan angkatan saya TEVERALTI lulus 100%. Tetapi saat itu NEM murid belum diberitahu, kecuali yang akan mendaftar SMA negri dan haru menyerahkan berkas-berkas, selebihnya diberitahu waktu wisuda. NEM saya bisa dibilang memuaskan, 36.00. walaupun sebenarnya kalau saya lebih rajin dirumah saya mungkin bisa mendapatkan lebih. Tetapi saya tetap mensyukurinya karena saya sudah diberi NEM yang bagus dan sudah mendapat SMA, juga bisa membanggakan orang tua saya.

MASA SMA
            Sekarang saya berada di tahun kedua SMA saya. Untuk kelas sebelas ini, saya memilih untuk masuk jurusan sosial, berhubung saya ingin melanjutkan pendidikan di jurusan sosial. Di kelas sepuluh saya sudah melewati banyak sekali kegiatan-kegiatan di Labschool Kebayoran ini. Pertama adalah MOS atau Masa Orientasi Murid, yang berlangsung selama 3 hari. Saya sempat merasa tertekan saat menghadapi MOS, dikarenakan saya belum beradaptasi dengan baik di sekolah baru ini. Lalu saya ditempatkan di kelas XE, dimana saya mulai merasa nyaman dan bertemu dengan teman-teman yang sangat menyenangkan.
            Tidak lama setelah Ujian Tengah Semester, saya mengikuti Pra-TO selama 2 hari. Pra-TO yang disebut-sebut sebagai kegiatan paling menyiksa itu alhamdulillah terlewati dengan lancar, yang membawa saya ke kegiatan selanjutnya : Trip Observasi.
            Trip Observasi diadakan di desa Parakan Ceuri, dimana kami ditempatkan di rumah penduduk bersama kelompok dan pdp kami. Trip Observasi sangatlah menyenangkan, karena saya melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan juga merasakan bagaimana tinggal di desa. Kegiatan ini berlangsung selama 5 hari di bulan Oktober.
            Di semester dua, kegiatan-kegiatan yang terjadi cukup banyak, yaitu studi wisata ke bandung dan bintama. Bagi yang ingin menjadi pengurus OSIS atau MPK harus mengikuti lapinsi dan TPO. Bintama terlaksana selama 6 hari, tetapi saya hanya mengikuti kegiatan sampai hari kedua. Selebihnya saya berada di KSA karena saya sakit. Saya juga mengikuti Lapinsi dan TPO, tetapi saya tidak diterima untuk menjadi calon pengurus OSIS.
            Walaupun begitu, saat saya naik kelas sebelas, saya berhasil mendapat jabatan sebagai pengurus MPK komisi Publikasi dan Dokumentasi. Tetapi sayang, saya tidak mengikuti lalinju karena usus buntu saya belum juga dioperasi.
            Setelah Lalinju, ada lagi acara menarik yang saya ikuti, yaitu drama musikal Skylite 2012 dimana saya mendapat peran sebagai Babi Hutan.
            Pada tahun kedua saya di Labschool ini, saya ditempatkan di kelas XI IPS 3. saya berharap setelah lulus dari sini saya mendapatkan jalur undangan untuk masuk Universitas Indonesia fakultas Budaya dengan nilai memuaskan. Saya berharap di masa depan nanti saya bisa meraih cita-cita saya.

Bersama Nenek
Bersama Kakak
Balita
Ayah, Kakak, Ibu, dan saya
Panitia AlbinCup2010
Bukber 9A
Perpisahan 9A Di Anyer
OSIS SMP
Bersama XE
Trip Observasi kelompok 6
Perpisahan XE
Bukber XE
Babi Hutan Skylite2012

MPK Komisi Publikasi dan Dokumentasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar