Sabtu, 22 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Tasya Bellinda Permatasari


15 Tahun Penuh Cerita.


Di suatu pagi pada tanggal 4 Juni 1997, seorang anak perempuan dilahirkan secara caesar di Rumah Sakit Anugerah Semarang. Anak itu diberi nama Tasya Bellinda Permatasari oleh orangtuanya yang bernama Syafran Sofyan dan Diah Sulistyani Ratna Sediati. Nama depannya diambil dari bahasa Arab, nama tengahnya diambil dari bahasa Spanyol yang berarti “indah sekali”, nama akhirannya merupakan gabungan dari kata “Permata” dan “Sari” yang artinya batu perhiasan berharga; memiliki sifat menarik dan setia.

Saya sewaku baru lahir.

Dilahirkan dari keluarga yang percaya dengan aturan primbon jawa, maka jumlah huruf pada nama panjang saya harus sesuai dengan aturan penamaan berdasarkan jari tangan. Setiap huruf dihitung dari jempol tangan kiri hingga kelinking, lalu balik ke jempol lagi hingga selesai. Huruf terakhir yang jatuh pada sebuah jari, menunjukkan karakter berdasarkan nama tersebut. Tiap jari tangan memiliki arti; jari kelingking artinya memiliki sifat kerdil, jari manis artinya mudah disenangi orang lain dan berhati lembut, jari tengah artinya memiliki sifat arogan, jari telunjuk artinya memiliki sifat keras kepala dan mempunyai kepercayaan diri sangat tinggi, dan jempol artinya memiliki sifat fleksibel dan bijaksana. Orangtua saya pun memutuskan ketiga anaknya harus memiliki jumlah nama yang jatuh di jari manis, karena diharapkan kelak anak-anaknya akan mudah disenangi orang lain.

Aturan Penamaan berdasarkan Jari Tangan.

Sebenarnya kelahiran saya di luar rencana orangtua saya. Karena pada saat itu, kedua orangtua saya sedang sibuk-sibuknya bekerja memulai karir. Kelahiran saya pun dijadwalkan lebih cepat dari seharusnya, karena pada bulan Juli 1997 (sebulan setelah saya dilahirkan) mama saya akan menghadiri wisudanya. Oleh karena itu, saya lahir di usia kehamilan 8 bulan dan terlahir sebagai bayi prematur. Namun saya terlahir sehat walafiat dengan berat badan 3,6 kilogram.

MASA BALITA




foto-foto sewaktu bayi.

Masa kecil saya dimulai di sebuah rumah sederhana, di daerah Banyumanik Semarang. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakak saya bernama Bella Ratna Syafierra, yang umurnya satu tahun lebih tua dari saya. Saya tinggal bersama mama, papa, kakak, ditambah nenek saya. Papa dan mama saya bekerja sebagai notaris PPAT di Semarang. Karena mama dan papa saya bekerja dari pagi hari hingga larut malam, maka masa kecil saya banyak dilewati bersama nenek saya.

(saya berumur 1 tahun) Berkuda bersama papa dan kakak di Bandungan.
Saya dipangku mama dan kakak dipangku papa.
Merayakan ultah ke-2 bersama kakak.

Pada umur 3 tahun, saya masuk ke sekolah playgroup di daerah Bukitsari Semarang. Saya tumbuh menjadi anak yang pemberani, dan terbilang memiliki kreatifitas tinggi. Saat playgroup, saya pernah menjadi juara 1 lomba menyusun lesi (permainan menyusun balok semacam lego) se-Semarang. Selain itu, saya juga pernah menjadi juara 2 lomba mewarnai di Ulangtahun Bank Mandiri ketika TK Besar. Tak banyak yang saya ingat dari masa balita, namun mama saya pernah bercerita: 

“Dulu, kamu itu anaknya pemberani, beda banget sama mbak Bella. Kalo mbak Bella selalu takut masuk sekolah dan harus ditemani nenek, kamu malah yang paling semangat masuk sekolah. Tapi kalo disuruh makan itu susahnya minta ampun, makanya badan kamu paling kecil deh di keluarga ini.”


MASA TK

(saya berumur 4 tahun) sedang photoshoot bersama kakak.

Ketika berumur 4 tahun, saya masuk ke sekolah TK H. Isriati di daerah Simpang Lima Semarang. Dulu saya sangat gemar menggambar, melukis, mewarnai, dan menyusun lego. Karena hobi tersebut, saya memiliki cita-cita menjadi arsitek. Selain bercita-cita menjadi arsitek, saya juga ingin mempunyai pekerjaan di bidang hukum dan mendirikan partai sendiri kelak dewasa nanti. Keinginan saya yang jarang terpikirkan oleh anak seumuran saya itu, dikarenakan keluarga besar saya yang seluruhnya bekerja dalam bidang hukum dan politik. Saya pun sudah sangat terbiasa mendengarkan topik hukum ataupun politik setiap hari, bahkan pernah ikut-ikutan kampanye bersama partai Golkar sewaktu berumur 5 tahun.

Selain itu, saya sudah mulai bisa berenang dan bermain sepeda roda dua saat berusia 5 tahun. Semua itu berkat papa saya, yang sudah membiasakan anak-anaknya mengenal bersepeda ataupun berenang dari sejak kecil. Waktu TK, mainan favorit saya adalah Barbie, polly pocket, dan berbagai macam boneka. Sangatlah berbeda dari kakak saya yang malah menyukai tamia, hot wheels, dan robot-robotan.

(saya berumur 5 tahun) bersama kakak.

Saya dan kakak saya memiliki pengalaman buruk sewaktu kami kecil. Pengalaman tersebut terjadi ketika saya berumur 5 tahun, dan kakak saya berumur 6 tahun. Waktu itu, kami memiliki amandel yang besar sehingga mengharuskan kami menjalankan operasi pengambilan amandel. Kemudian, papa menemukan dokter THT dari rekomendasi temannya. Kami berdua sangatlah takut ketika detik-detik operasi akan dilakukan. Sebelum memasuki ruang operasi, sebuah tablet dimasukkan ke dalam pantat kami, yang katanya merupakan obat bius. 

Kemudian, tiba-tiba dua orang suster menggendong kami menuju ruang operasi. Kami berdua langsung menangis meronta-ronta karena kaget dan ketakutan, karena saya dan kakak saya terpisah ruangannya. Saya didudukkan di kursi operasi, lalu kedua kaki dan tangan saya diikat menggunakan tali. Mata saya ditutup dengan kain, dan mulut saya dipaksa untuk selalu terbuka. Dari sela-sela kain, saya bisa melihat dokter memasukkan semacam gunting operasi ke dalam mulut saya. Saya pun terus menangis ketakutan selama operasi dilakukan, karena saya bisa secara sadar melihat proses operasi, dan merasakan sakit yang teramat sangat. Setelah kira-kira setengah jam, operasi selesai dan saya kembali ke ruangan pertama. Dokter langsung memberikan amandel yang telah diambil kepada saya, dan meminta saya berfoto dengan amandel tersebut. 

Operasi tersebut meninggalkan trauma yang dalam kepada saya dan kakak saya. Mendengar cerita yang kami sampaikan tentang proses operasi, papa saya langsung menuntut dokter THT tersebut karena ternyata ia memberikan bius yang salah. Seharusnya, kami diberikan bius yang bisa membuat kami tidak sadar selama proses operasi dilakukan. Sisi baiknya, kami diizinkan tidak masuk sekolah selama 2 minggu dan diminta untuk memakan es krim sebanyak-banyaknya untuk proses penyembuhan. Pengalaman buruk tersebut sampai saat ini sangat membekas di benak saya.


MASA SD

Merayakan ultah ke-7 bersama keluarga.

Mama dan papa saya memutuskan untuk memasukkan saya ke SD H. Isriati, sekolah yang sama sewaktu saya TK sebelumnya. Saat SD, saya merupakkan anak yang pintar dan mudah belajar. Oleh karena itu, peringkat saya dari tahun ke tahun selalu meningkat dan selalu masuk 10 besar di kelas. Saya mengikuti ekskul menggambar, sehingga sering mengikuti lomba-lomba menggambar atau melukis. Sewaktu kecil, saya juga termasuk anak yang sangat feminim. Seluruh barang-barang di kamar, peralatan sekolah, bahkan pakaian sehari-hari didominasi oleh warna merah muda. Selain itu, saya terbiasa menguncir atau mengepang rambut saya dengan kunciran dan jepitan warna-warni sebelum berangkat sekolah. Lagi-lagi sangat berbeda dengan kakak saya, yang lebih menyukai aksesoris atau pakaian yang terkesan tomboy dan membiarkan rambutnya terurai begitu saja.


video


Ini video yang diambil pada akhir tahun 2004 saat sedang berlibur ke Singapura bersama keluarga besar. Pada saat itu, saya berumur 7 tahun dan masih memiliki aksen medhok bawaan dari Semarang.


Bulan September 2005, adik laki-laki saya lahir. Ia bernama Sandy Sarif Saputra Perkasa, biasa dipanggil Sandy. Perbedaan umurnya dengan saya cukup jauh, yakni 8 tahun. Tidak lama setelah Sandy lahir, ketika saya kelas 3 SD semester satu, tiba-tiba papa mama saya memberitahu bahwa kami akan pindah ke Jakarta tidak lama lagi. Setelah diberitahu hal tersebut, saya merasa sedih karena harus meninggalkan teman-teman dan segala kebiasaan sehari-hari di Semarang yang sudah saya anggap nyaman. Namun di sisi lain, saya juga merasa senang dan tidak sabar ingin pindah ke Jakarta dan merasakan kehidupan yang “baru”. Untuk persiapan pindah ke Jakarta, saya mengikuti banyak les tambahan agar bisa mengejar pelajaran di Jakarta yang mungkin berbeda dengan Semarang. Selain itu, saya juga mengadakan pesta perpisahan yang cukup meriah untuk mengobati rasa sedih ketika hendak pindah.

(saya berumur 8 tahun) bersama mama, papa, adik dan kakak.
(saya berumur 9 tahun) berenang bersama kakak, papa dan adik.
(saya berumur 10 tahun) bersama kakak di Bandara Ahmad Yani Semarang.

Pada akhir tahun 2005, saya sekeluarga pindah ke Jakarta. Pada awalnya, keluarga kecil saya tinggal sementara di rumah papi dan mami (kakek dan nenek dari mama) hingga pembangunan rumah baru saya selesai. Saya dan kakak pun pindah sekolah ke SD Al Azhar Syifa Budi di daerah Kemang. Pada awalnya, cukup sulit untuk beradaptasi dengan lingkukan yang sangat berbeda. Hal lucu yang masih saya ingat, adalah aksen saya yang medhok bawaan dari Semarang yang dianggap tidak biasa oleh teman-teman baru saya di Jakarta. Selain aksen yang masih medhok, saya cukup menonjol karena dianggap murid terpintar di kelas dan selalu mengerjakan tugas dengan kreatif. Hal ini membuat saya bisa menjadi ketua kelas walaupun saya adalah murid pindahan. Saya juga berhasil mengejar ketinggalan-ketinggalan dan meraih peringkat pertama di kelas 3 semester dua ini.

saya bersama teman-teman SD. (atas-bawah dan kiri-kanan; azza, kalista, tasya, ayu, katya.)

Di azka (Al-Azhar Kemang), saya juga mengikuti tes akselerasi yang didadakan ketika kenaikan kelas 4 SD. Ternyata, hasil tes menunjukkan saya memiliki IQ jauh diatas rata-rata, dan akhirnya memasukkan saya ke kelas akselerasi atau kelas percepatan. Di kelas akselerasi, saya selalu berhasil meraih peringkat pertama dari kelas 4 semester satu hingga kelas 6 semester dua. Sekolah dasar yang seharusnya diselesaikan 6 tahun pun, saya selesaikan dalam waktu 5 tahun. Setelah itu saya memutuskan untuk mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran, yang sama dengan sekolah kakak saya pada saat itu. Beruntung, saya diterima di labsky dengan menduduki peringkat 50 besar dari dua ratus-an peserta yang diterima.

MASA SMP

Pertengahan tahun 2008, saya resmi menjadi siswi SMP Labschool Kebayoran. Sebelum memulai pembelajaran biasa, siswa-siswi kelas 7 wajib mengikuti Lab Fresh School Day atau MOS (Masa Orientasi Siswa). Kabar bahwa labschool merupakan sekolah yang tidak biasa, terbukti ketika saya mengikuti kegiatan Lab Fresh School Day ini. Dari perlakuan tegas kakak-kakak OSIS/MPK, kewajiban peserta membuat nametag yang sulit, foto nametag yang unik, bekal makanan yang ditentukan, tas serut yang harus dibuat sendiri untuk tempat bekal, ketentuan dan peraturan yang sangat banyak, sampai ketentuan yang mengharuskan siswa dicukur botak dan siswi dikuncir depalan (karena kami waktu itu adalah angkatan delapan) dengan pita berwarna sesuai dengan kelompok, merupakan hal yang sangatlah baru bagi saya. Saya sendiri sangat menikmati hal-hal baru tersebut, walaupun sedikit kewalahan melewatinya.

au7oBots!

Setelah MOS, saya masuk di kelas 7B (au7oBots) dengan wali kelasnya miss Tamy. Dibutuhkan adaptasi yang cukup lama, terutama dalam pelajaran karena pelajarannya cukup sulit untuk diikuti. Selain itu, program-program sekolahnya yang sangat banyak membutuhkan energi ekstra untuk melewatinya. Salah satu program di awal kelas 7 adalah LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa), yaitu program kepemimpinan sekaligus tahap awal untuk mengikuti serangkaian tes OSIS/MPK. Semua murid kelas 7 wajib mengikuti, dan di akhir program ini akan dipilih satu siswa dan satu siswi terbaik selama mengikuti kegiatan LDKS. Alhamdulillah, waktu itu saya berhasil meraih The Best Participant LDKS putri bersama Fachrizal Arsya Saleh yang menjadi The Best Participant LDKS putranya. 

Setelah LDKS, saya bersama murid-murid yang berhasil lolos LDKS melanjutkan tahap-tahap selanjutnya yaitu tes bakat, pra-TO, TO, dll hingga akhirnya dilantik. Selain LDKS, ada program Kalam yang merupakan pesantren kilat selama bulan Ramadhan, ACEX yang merupakan program budaya sekaligus pensi labschool, studi lapangan (AKTUAL) di Pasir Mukti, SSN (Showing Sympathy for The Needy) di panti asuhan, dan masih banyak lagi. Selama di labschool, kebiasaan yang baru dan unik ialah lari pagi bersama setiap hari Jumat. Di akhir tahun, biasanya ditentukan tema kostum lari pagi. Sewaktu akhir pembelajaran kelas 7, kelas 7B mendapatkan kostum lari pagi bertema Disney dan saya pun menggunakan kostum Stitch. Untuk perpisahan kelas, au7oBots mengadakan perpisahan atau refleksi di rumah Ari dengan tema kostum “childhood”.

au7oBots girls!
Refleksi 7B! (ki-ka dan atas-bawah: tasya, nadhira, ristya, khansa, gia, indri, gianty, inaz.)

Setelah kenaikan kelas, saya masuk ke kelas 8A (mys8Ace) dengan wali kelas Pak Bambang (dipanggil Pak Bembi). Di kelas 8 ini, saya memiliki teman-teman yang lebih banyak. Perlahan, akhirnya saya bisa cukup mengenal teman-teman satu angkatan. Sewaktu kelas 8, teman-teman angkatan 8 mulai memanggil saya dengan 'tasbel' yaitu kepanjangan dari tasya-bellinda. Kelas 8 juga merupakan masa pertengahan di SMP. Masa itu sangatlah menyenangkan karena memiliki adik sekaligus kakak kelas. Banyak hal mengesankan yang terjadi di kelas 8. Setelah mengikuti tahap-tahap menjadi OSIS sebelumnya, saya pun terpilih menjadi OSIS Koordinator bidang Kesenian, bersama Camilia Adianti yang menjadi Seksi Kesenian 1 dan Yealinzka Tinnovia Kurrota Aini yang menjadi Seksi Kesenian 2. OSIS/MPK angkatan delapan bernama Hasthaprawira Satya Mahadhika, yang memiliki arti “Prajurit Angkatan Delapan yang Jujur dan Istimewa”. OSIS/MPK Hastha dilantik tanggal 17 Agustus 2009 setelah menjalani LALINJU (Lari lintas juang) sejauh 8 KM. Menjadi OSIS sangatlah menyenangkan sekaligus melelahkan, namun dibutuhkan sedikit adaptasi terutama dalam mengejar pelajaran yang banyak tertinggal dikarenakan kesibukan OSIS.

Hasthaprawira Satya Mahadhika!
Saat pelantikan OSIS 2009
LALINJU! (ki-ka: tasbel, dhirkan, camil, via, anne.)
New Year's Eve 2010 at Pattaya!

lari pagi terakhir mys8Ace!
karaoke bersama mys8Ace!

Pada saat kelas 8, mys8Ace bisa dibilang merupakan kelas korea. Karena hampir semua anak 8A terkena virus korea dan sangat menyukai kpop.  Kenangan yang masih terigat salah satunya, saya dan teman-teman di kelas 8A  jarang membawa buku-buku pelajaran. Kami malah  membawa kumpulan lyrics lagu-lagu korea, bantal kecil untuk tidur, dan laptop untuk menonton dvd konser atau drama korea bersama-sama. Tidak jarang, saya dan teman-teman pergi ke tempat karaoke bersama, entah sewaktu pulang sekolah, atau ketika weekend.  Karena korea juga, kelas 8A akhirnya bisa menjadi kelas yang sangat kompak, lebih mengenal satu sama lain dan menjadi kelas yang sangat solid. Bersama 8A juga saya mengikuti kegiatan EXASKY (Ekspresi Siswa Labsky) yang merupakan drama per kelas yang diadakan di hall lantai empat. EXASKY 8A berjudul “My Name is P” yang bertemakan kehidupan di Cina. Ketika EXASKY 8A, saya bukan termasuk cast EXASKY, tapi saya dan beberapa orang lainnya adalah stage crew, yang membantu dalam persiapan properti drama, dekorasi, musik, kostum, dan lain-lain.  Alhamdulillah, EXASKY 8A sukses dan semua usaha yang dilakukan juga terbayar. Selain EXASKY, ada juga kegiatan yang cukup berkesan sewaktu kelas 8, yaitu BIMENSI (Bina Mental Siswa) yang diadakan di SPN LIDO. Kegiatan BIMENSI ini adalah versi SMP dari kegiatan BINTAMA di SMA Labschool.

Masa kelas 8 terlewati, masuk tahun terakhir di SMP. Saya masuk ke kelas 9D (empire of mon9Dolia) dengan wali kelas Pak Armat. Pada kelas 9 ini, kondisi serius mulai dibiasakan. OSIS/MPK Hastha sudah turun jabatan, dan kelas 9 fokus untuk persiapan mengahadapi Ujian Nasional. Di kelas 9 juga, nama angkatan dipilih. Dari beberapa nominasi nama, akhirnya terpilih nama Scavolendra Talvoreight, yang artinya eight is a typical entity which figure never ending story, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti angkatan delapan adalah kesatuan yang ceritanya tidak akan pernah berakhir, dengan Adhitya Bayu sebagai ketua angkatannya.

Turun Jabatan OSIS HASTHA :'(
Lari pagi menggunakan kostum bersama Tasya Anggita.
Lari pagi terakhir bersama Naila dan Farissa.

Bersama Empire of Mon9Dolia dan Scavoreight, saya menjalani masa-masa kelas 9 yang penuh warna, suka maupun duka. Dari paket (Pemantapan Materi) dan try out yang kami ikuti bersama, TO-UAN di Puncak untuk menenangkan diri sebelum UAN, sampai akhirnya kita lulus dan mengadakan farewell party di Crowne Plaza. Saya sangat puas dengan hasil belajar semasa SMP di labsky ini, dan sangat bangga memiliki angkatan yang sangat kompak dan ceritanya tidak akan pernah berakhir, sesuai namanya; Scavolendra Talvoreight.

with mon9Dolian girls at Anyer!
with Empire of Mon9Dolia at farewell party!
Farewell Party Scavolendra Talvoreight!

MASA SMA

Saya memutuskan untuk melanjutkan jenjang SMA di sekolah yang sama sewaktu SMP, yaitu Labschool Kebayoran. Bersekolah di sini rasanya seperti mengulang kembali masa SMP dulu, namun dengan pengalaman dan tantangan yang sedikit berbeda. Dimulai dari Masa Orientasi Siswa (MOS), kemudian masuk ke kelas XA dengan wali kelas Pak Yusuf. XA adalah kelas yang sangat menyenangkan dan penuh cerita. Walaupun di awal terpecah menjadi dua kelompok, namun di akhir bersatu menjadi kelas yang solid, yang mampu melewati masalah bersama-sama.

Bukber XA 2011! (ki-ka: ridha, tasbel, kanya, rani, kujp.)

Di kelas X banyak kegiatan yang dilewati bersama yaitu di antaranya; PILAR (pesantren kilat) di bulan Ramadhan, PRA-TO (persiapan Trip Observasi), merasakan kehidupan di desa melalui Trib Observasi (TO) di desa Parakan Ceuri; yang bersamaan dengan lahirnya nama angkatan DASECAKRA (Dasa Eka Cakra Bayangkara), Study Tour ke Bandung, dan yang paling berkesan adalah program asah mental melalui BINTAMA di group-1 Kopassus Serang. Semua program sekolah yang telah saya lewati bersama Dasecakra meninggalkan kenangan indah, sekaligus pengalaman terbaik yang pernah saya dapatkan selama 15 tahun hidup di dunia ini.


Nametag Trip Observasi 2011, kelompok kabile-bile.
Surat Cinta di Trip Observasi :)
BINTAMA 2012! (kelas XA dan pelatih Agus Salim.)
bersama pelatih BINTAMA! (ki-ka: Pelatih Amril, Pelatih Ribut dan Pelatih Agus Salim.)
Bukber XA 2012! (ki-ka: farissa, tasbel, dahlia, luna dan kanya.)
with XA at Taman Safari!

Pada saat ini, saya belajar bersama XI IPS-3, saat sebelumnya pernah berada di kelas XI IPA-3 selama 2 minggu. Saya pindah ke IPS karena pada akhirnya saya bisa memutuskan, jalan mana yang akan saya ambil untuk meneruskan tujuan saya di masa depan nanti.

SIPIL! \m/ 
XI IPS-3!!

Sekian “15 Tahun Penuh Cerita” yang saya alami, mudah-mudahan cerita baru yang akan mengisi lembar-lembar kehidupan saya kelak tidak kalah bermakna dibandingkan kisah 15 tahun hidup saya ini. Terima kasih!





1 komentar:

  1. Tugas-tugas saya yang lainnya:

    http://labsky2012b.blogspot.com/search/label/XI%20IPS%203%20-%20Tasya%20Bellinda%20Permatasari

    -tasyabellinda

    BalasHapus