Rabu, 19 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Syifa Larasati


Karunia Tuhan Selama 14 Tahun Perjalanan Hidup Saya 

Tepat azan subuh berkumandang, saya dilahirkan di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta dengan berat badan 2,6 kg dan tinggi 50 cm. Hari itu Senin, 22 Desember 1997." Nama kamu tuh Yangkung yang bikin. Seharusnya itu buat mas Hasnan, tapi ternyata yang lahir laki-laki. Jadi nunggu dua tahun dulu deh, baru dikasih ke kamu" , begitulah cerita Ayah saya. Saya dilahirkan dari pasangan Herrianto Kardjono dan Tita Rista Tiana, anak ke-3 dari 3 bersaudara. Kakak saya yang pertama seorang laki-laki, bernama Haniff Ramadhan dan yang kedua juga seorang laki-laki, bernama Hasnan Mahardika Hamdhani.

MASA BALITA

                pada usia 3 tahun, saya memasuki sekolah pertama yaitu, Kelompok Bermain Bakti Mulya 400.  Saya mengikuti kelompok bermain hanya satu tahun, yang seharusnya 2 tahun karena pada saat itu saya merasa bosan dan akhirnya orang tua saya memutuskan untuk langsung memasukkan saya ke Taman Kanak- kanak, meski pada saat itu ditolak oleh kepala sekolah dengan alasan belum cukup umur.  Tetapi orang tua saya bersikeras untuk memohon agar saya bisa dimasukkan ke TK A tersebut.  Akhrinya dengan menyetujui persyaratan kepala sekolah  bahwa saya mampu mengikuti kegiatan belajar yang diberikan, saya diterima di TK A tersebut. " Butuh perjuangan untuk masukin kamu ke TK. Mulai dari ngajarin kamu membaca dalam waktu singkat, sampai mohon-mohon ke kepala sekolah nya. Tapi Alhamdulillah, akhrinya kamu diterima" , cerita Ibu saya.



Pada usia 4 tahun saya memasuki kelas TK A di TK Bakti Mulya 400, sampai dengan kelas TK B. Masa TK memberi saya banyak kenangan. Disana saya mempunyai banyak teman yang sangat menyenangkan. Di antara sekian banyak teman-teman, saya mempunyai 2 orang sahabat perempuan yang bernama Agia dan Indri.  Bahkan saya masih menjalin hubungan yang sangat baik dengan mereka hingga sekarang. Guru guru di TK Bakti Mulya 400 sangat menyenangkan dan membuat saya terkesan. Di antara sekian banyak guru-guru, saya mempunyai guru favorit yang saat itu juga menjabat sebagai kepala sekolah. Nama beliau adalah ibu Tari. Yang paling mengesankan dari beliau adalah, setiap saya menangis di kelas, Bu Tari selalu menghampiri dan menanyakan sebab saya menangis. Tak hanya itu, saya juga diajak berjalan keliling  taman sekolah untuk menenangkan saya. Ada lagi kegiatan yang tak terlupakan di TK  saya, yaitu setiap hari Senin, murid murid TK harus memeriksakan gigi nya di ruang klinik gigi yang berada di dalam sekolah tersebut. ada yang menangis karena ketakutan, ada juga yang ingin tahu. Satu lagi kegiatan di TK saya yang paling diingat, yaitu setiap hari selasa, murid2 diwajibkan untuk belajar berenang di kolam renang yang bagi saya pada saat itu kolamnya sangat dalam. Sehingga membuat saya merasa ketakutan dan selalu menangis pada saat belajar berenang. Namun dengan bimbingan guru-guru yang sabar, saya menjadi terbiasa dan tidak menangis lagi. Bahkan saya menjadi sangat menyukai olahraga renang tersebut.




MASA SD

                Pada usia 6 tahun, saya masuk kelas 1 sekolah dasar di SDI Al- Azhar Syifa Budi Jakarta. Saya masih ingat bagaimana saya masuk sekolah di hari pertama. Ini pertama kalinya saya memasuki lingkungan baru. Dengan tangan dipegang erat oleh ibu, kami melangkah menuju kelas, dan berkenalan dengan teman baru. Tepat jam 7, bel berbunyi. Saya kaget dan menangis karena mengetahui bahwa ibu saya harus keluar dari kelas, dan meninggalkan saya. Namun dengan bujuk rayu ibu, saya pun berhenti menangis dan mulai mengikuti kegiatan belajar. Banyak kenangan di kelas 1 ini. Saya masih ingat setiap jam 10 pagi, bel istirahat berbunyi. semua murid diharuskan mengeluarkan bekal masing-masing yang dibawa dari rumah, dan memakannya bersama dengan teman-teman dan guru. Kita juga diajarkan untuk berbagi pada teman yang tidak membawa makanan. Dari kegiatan ini lah, saya jadi kenal dan mempunyai banyak teman bermain. 


Tahun 2003, saya masuk kelas 2 SD. Saya memasuki kelas baru. Pembagian kelas secara acak membuat saya mulai berkenalan lagi dengan beberapa teman-teman baru. Ada kejadian yang tak terlupakan di kelas 2 ini. Saya pernah menangis karena dijaili teman sekelas saya. Karena ia seorang laki-laki, saya tidak berani melawannya, sehingga saya menangis sampai-sampai dibawa guru ke ruang bimbingan konseling. Saat SD, saya dan teman-teman menganggap ruang BK (bimbingan konseling) adalah sebuah ruangan yang sangat menakutkan, yang didalamnya berisi guru-guru galak yang akan memarahi kami, jika kami berbuat kesalahan.


Setahun sudah saya duduk di bangku kelas 2 SD. Saya pun melanjutkan pendidikan saya ke bangku Kelas 3 SD. Di kelas 3 SD ini, saya kembali berkenalan dengan teman baru. Di kelas 3 SD inilah, saya menemukan teman-teman yang sangat dekat dengan saya. Mereka bernama Lisha, Sarah, dan Arvi. Kami menjalani hari demi hari bersama. Tahun 2005, saya masuk kelas 4 SD. Kekecewaan timbul di hari pertama masuk sekolah, karena mengetahui saya tidak sekelas dengan Lisha, teman dekat saya. Tetapi setelah mengetahui bahwa saya sekelas dengan Arvi dan Sarah, kekecewaan itu sedikit teratasi. Di kelas 4 ini saya menemukan hobi saya, yaitu bernyanyi. Hobi itu muncul ketika pertama kali saya melihat seorang penyanyi remaja perempuan bernama Gita Gutawa sedang tampil di Televisi. Kekaguman saya dengan suara merdu nya, dengan wajah cantiknya, dan dengan prestasi-prestasi nya lah yang membuat saya ingin menjadi sepertinya. Saya mengembangkan hobi saya dengan mengikuti ekstrakulikuler bernyanyi di sekolah, dan mengikuti les olah vocal di Purwacaraka Music Studio. Karena hobi saya ini lah, saya mendapatkan pengalaman baru, yaitu mengikuti berbagai konser yang diadakan sekolah maupun tempat les. 


Di kelas 5, saya mempunyai semakin banyak teman. Dan di kelas 5 ini lah saya mengalami kejadian buruk. Karena suatu masalah, satu kelas saya masuk ke ruang BK, dan kami dimarahi habis-habisan oleh guru-guru. Namun, saya mengambil kejadian ini sebagai pelajaran, untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya. Tibalah saya pada tahun terakhir di sekolah dasar, yaitu kelas 6. Di kelas 6 ini saya mendapat banyak pengalaman baru. Bagaimana 103 anak dalam satu angkatan menjadi saling kenal satu sama lain, bersama-sama berjuang untuk mencapai nilai ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) yang memuaskan, hingga mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama. Dan tiba lah hari pengumuman kelulusan ujian.  Hari itu, kami duduk rapih di lapangan upacara. Seluruh siswa diberi amplop putih yang berisi daftar nama siswa yang lulus, tak berapa lama setelah kami mebuka amplop, satu persatu teman saya  tunduk sujud syukur karena telah mengetahui bahwa mereka lulus. saya pun semakin gugup mencari nama saya di daftar itu. Setelah mengetahui saya lulus, saya juga langsung sujud syukur. Saya sangat senang sekaligus sedih karena harus berpisah dengan teman-teman baik saya. Namun apadaya, semua pertemuan pasti akan ada akhirnya.

MASA SMP

                Saya masuk ke Sekolah menengah pertama yang sama dengan Sekolah dasar saya, yaitu SMPI Al-Azhar Syifa Budi Jakarta yang hanya berbeda gedung dengan SDi Al- azhar syifa budi jakarta. Di SMP, saya mengikuti program sekolah yang bernama sistem sistem kredit semester (SKS). Kebetulan, angkatan saya adalah angkatan pertama yang menerapkan sistem SKS ini. Sistem ini mirip seperti sistem belajar di perguruan tinggi, dimana siswa diperbolehkan mengambil sebanyak-banyaknya SKS yang menurut mereka mampu mereka  jalani. Semakin banyak pengambilan SKS, semakin cepat mereka lulus, dengan waktu lulus tercepat adalah 2 tahun dan selambat-lambatnya 4  tahun. Program ini mirip dengan program akselerasi, hanya saja program ini memberikan keleluasaan bagi siswa untuk belajar sesuai bakat, minat, dan kemampuannya. Teman-teman di SMP  kebanyakan berasal dari SD yang sama dengan saya, sehingga saya tidak perlu repot-repot beradaptasi dengan orang-orang baru. Namun, bukan berarti saya tidak bermain  dengan teman-teman baru yang berasal dari sekolah lain. 



            Tahun pertama di SMP, saya mendapatkan pengalaman baru yang tidak pernah ada sebelumnya di Sekolah dasar yaitu, senioritas. Tak bisa dipungkiri, senioritas pasti ada di setiap sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Namun, saya tidak melihat hanya dari sisi negatif nya saja, karena ternyata senioritas (asalkan tidak berlebihan) dapat menghasilkan dampak-dampak positif, seperti; akan saling mengenal antara kakak kelas dan adik kelas, dan akan saling menghormati dan menyayangi satu sama lain. Tahun pertama sekolah menengah pertama, saya dijejali dengan materi-materi yang menurut saya sulit.  Namun dengan dukungan orang tua dan teman-teman saya, saya berhasil mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Banyak hal yang tak terlupakan yang terjadi di masa sekolah menengah pertama, salah satunya adalah; pada bulan oktober 2010, saya dan teman-teman satu angkatan pergi ke Karawang untuk mengikuti kegiatan sekolah yang dinamakan Bela Negara. Kegiatan ini mewajibkan seluruh siswa kelas IX untuk menginap satu malam di sebuah markas Kostrad. Dengan rasa penuh penasaran saya dan teman-teman satu angkatan berangkat ke lokasi dengan menggunakan bus yang sempit dan panas yang sangat tidak nyaman. Tidak hanya itu, setelah sampai di lokasi, kami langsung dijemur di bawah sinar matahari sambil diberitahu peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta kegiatan. Ditambah lagi dengan sistem makan komando, setiap kali kami makan pagi, siang maupun malam. Namun kegiatan-kegiatan yang dilakukan sangat seru dan memberi pengalaman baru.  Dari sejumlah kegiatan yang dilakukan, kegiatan favorit saya adalah terjun dari helikopter.  Walaupun melelahkan, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dan tidak akan pernah terlupakan.  Ada lagi hal yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya di Sekolah dasar yaitu, saya dan teman-teman sekolah menengah pertama, berdebat tentang cita-cita masing-masing dari kami, dan bagaimana kami akan mewujudkannya. 


            Bulan april 2011,  siswa-siswi kelas IX menghadapi ujian nasional. Dengan persiapan dan usaha yang jauh-jauh hari telah saya lakukan, saya berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Sejauh ini, masa Sekolah Menengah Pertama  adalah masa yang menurut saya paling menyenangkan dan mengesankan. Saya dapat mengenali hal-hal baru, saya juga mulai belajar mengahadapi masalah-masalah dan ujian-ujian dengan tidak hanya mengandalkan orang tua dan orang sekitar. Saya juga dapat belajar bahwa hidup tidak selalu menyenangkan. Saya selalu ingat kata-kata Ibu saya: "Jalankan segala suatu hal dengan penuh keikhlasan, insya Allah kamu akan dapat imbalan yang setimpal."


Saya berhasil diterima di sekolah yang sejak lama saya impikan yaitu, SMA Labschool Kebayoran. Suasana di sekolah ini jauh berbeda dengan SMP saya. Saya masuk kelas X dan ditempatkan di kelas X-F. Awalnya saya merasa canggung karena saya belum kenal siapa-siapa waktu itu. Namun seiring berjalannya waktu, saya dan teman-teman XF semakin akrab dan kompak. Mereka selalu bersedia menemani dan mendengarkan segala cerita senang maupun cerita sedih saya. Kami selalu bersama-sama menghadapi suka dan duka tahun pertama di SMA yang katanya akan penuh cerita ini. Dan akhirnya seluruh kegiatan di tahun pertama telah berhasil kami lewati, mulai dari MOS hingga Bintama.

Tahun ini adalah tahun kedua saya belajar di SMA Labschool Kebayoran. Masih panjang perjalanan saya untuk menghadapi masa depan. Semakin banyak juga tantangan yang harus saya lewati. Saya memiliki serangkai mimpi yang harus diwujudkan, dan yang paling utama adalah mewujudkan mimpi saya untuk menjadi seorang dokter spesialis anak. Semoga saya masih diberikan umur dan kesempatan oleh Allah SWT untuk meraih mimpi-mimpi tersebut dan dapat membanggakan orang tua, keluarga, serta berguna bagi bangsa dan Negara.

“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” –John Lennon

Bersama Ibu, Hasnan & Haniff

Usia 5 tahun

Bermain bersama kakak-kakak

Lebaran 2011

Bela Negara, 2010

Makan malam bersama XF


Sie. Dana & Logistik 2012-2013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar