Senin, 24 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Sarah


16 Tahun Hidup Yang Masih Terus Berjalan

Hari demi hari dilalui seorang ibu bernama Nizmah yang telah mengandung anak pertamanya selama Sembilan bulan. Pagi cerah di hari Minggu tanggal 30 Juni 1996, hembusan nafas pertama, tanda perjalanan hidup dimulai. Bertempat di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center Jakarta, saya dilahirkan secara spontan (tidak melalui operasi) dengan berat badan 3300 gram dan panjang 48 cm. Setelah lahir dan dibersihkan, sosok ayah pun datang dan mengumandangkan Adzan di telinga kecil saya. Beliau bernama Djabir. Sebelum cerita ini berlanjut, perkenankan saya memperkenalkan diri. Sarah, itulah nama saya. Singkat dan padat. Dua hari kemudian, saya dibawa pulang ke rumah nenek saya. Kira-kira satu bulan saya dan orangtua saya tinggal disana, setelah itu kami pindah ke Bogor karena orangtua saya sedang bertugas di sana. Setahun sudah kami tinggal di Bogor lalu kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah kami yang baru, bertempat di Villa Pejaten Mas Raya blok A 20. Hampir semua keluarga besar dari ibu saya tinggal di perumahan yang sama. Oleh karena itu kami semua sangat dekat.
Saya sering bertanya-tanya seperti apa saya sewaktu kecil. Yang aneh dari saya adalah ketika balita saya tidak melawati fase merangkak, melainkan langsung berjalan sambil berlari. Dahulu kata orang-orang, saya bawel dan tomboy. Karena ketika itu saya cucu pertama yang perempuan. Jadi saya selalu bermain dengan sepupu-sepupu saya yang semuanya laki-laki. Sampai-sampai pembantu saya tidak menyangka saya berumur dua tahun karena saya bebicara terus menerus dan lancar. Kalau sedang diperjalanan saya terdiam berrti hanya ada dua kemungkinan, minum susu atau tidur. Sisanya hanya ngoceh dan bernyanyi. Tidak lama kemudian lahirlah sepupu saya yang perempuan bernama Farisa. Jarak kami hanya satu tahun setengah. Karena saya tomboy, dulu Farisa sering nangis karena saya bermain seperti anak laki-laki. Ibu saya terus membelikan saya banyak mainan perempuan agar saya tidak tomboy. Pertama kali saya dibelikan boneka barbie, saya tidak menyisirkan rambutnya tetapi malah memberantakinya. Lama-lama ketomboy-an saya berkurang walaupun masih ada. Satu kejadian yang saya selalu ingat, yaitu saat saya pergi dari rumah dan menginap di rumah sepupu saya, Fadil, Ali, dan Akmal, sampai berhari-hari hanya untuk bermain. Suatu ketika, ibu saya ingin menggantikan anting saya. Setelah dilepas sebelah, saya tidak mau. Alhasil dulu saya sempat memakai anting sebelah telinga. Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya tidak tomboy lagi. Saya dan farisa sering bermain masak-masakan dengan menggunakan kue kering, setelah itu kami buang. Sampai sekarang saya dan Farisa sangat dekat. Saya sering melakukan jalan-jalan sore mengelilingi kompleks dengan saudara-saudara saya. Suatu ketika saat kami sedang berjalan, ada anjing tetangga yang sangat agresif. Anjing itu mengejar kami dan saya sudah hampir digigit. Mungkin itu sebabnya saya sangat takut dengan anjing.
Saat saya berumur tiga tahun, adik laki-laki saya lahir. Namanya iqbal. Saya senang sekali manjadi seorang kakak. Akhirnya saya memulai sekolah pertama saya di Preschool Taman Kanak-Kanak Kembang yang terletak di daerah Kemang. Indahnya hidup saat masih balita. Tidak ada beban apapun. Tidak ada PR. Datang siang tidak apa-apa. Setiap kali disana saya hanya bermain, menggambar, melukis, dan membuat kue. Tempat favorit saya adalah tree house. Kue yang sering dibuat sebelum pulang sekolah sangat enak, yang paling sering adalah chocolate chip cookies. Saya tidak pernah menangis apabila telat dijemput karena fasilitas di sekolah sangat banyak untuk dimainkan dan guru-gurunya senantiasa menemani.
Setelah itu saya melanjutkan pendidikan di TK Islam Al Ikhlas, Cipete. Pertama saya di kelas A2 lalu B5. Sejak kecil saya sudah hobi menggambar dan melukis, karena itu saya dimasukkan ke tempat kursus menggambar di Kemang. Dulu saya pernah mengikuti lomba menggambar saat TK dan semua yang mengikuti lomba menggambar hanya mendapatkan piala partisipasi. Yang saya ingat diwaktu TK adalah saat latihan manasik haji yang bertempat di SD Islam Al Ikhlas dan saya terpisah dari rombongan kelas. Untungnya masih bersama rombongan murid kelas lain. Saat hampir lulus TK, adik kedua saya lahir, perempuan bernama Nahda.  Setelah itu kami pindah rumah tetapi masih di kompleks yang sama.

SD
                Selama dua tahun saya mengenyam pendidikan di SD Islam Al Ikhlas. Ya, tepat di sebrang TK saya. Setiap pagi saya berangkat ke sekolah dengan tiga sepupu saya karena rumah kami berdekatan dan bersekolah di tempat yang sama. “Rame banget ya berangkatnya”, tanggapan seperti itu sering kami dapat saat turun dari mobil. Tapi begitulah kenyataannya. Hari pertama masuk Sekolah Dasar sangat berkesan. Perasaan bangga telah lulus TK tentu saja ada. Banyak kesan pesan walaupun hanya dua tahun. Tetapi karena hal tertentu, orangtua saya memutuskan saya untuk pindah sekolah ke SD Dwi Matra.
Awal tahun ajaran baru, tepatnya saat saya kelas tiga, saya memulai hari saya di kelas 3A dan wali kelasnya adalah Ibu Latifah. Di hari pertama masuk sekolah baru sudah sewajarnya seorang anak baru memperkenalkan diri di depan kelas. Dan itu yang saya lakukan. Sistem duduk di sekolah ini adalah berkelopok kecuali saat ulangan, meja dipisah-pisah kembali. Setiap beberapa mingggu kelompok duduk diacak. Hal itu sangat membantu saya beradaptasi dengan cepat dan dapat dengan mudah merasa nyaman dengan lingkungan sekolah. Kelas selanjutnya adalah 4B dan 5B dengan wali kelas Bapak Doni. Kebiasaan yang sering saya dan teman-teman lakukan adalah main benteng sampai lupa waktu. Sering sekali kami bermain benteng bersama satu angkatan. Waktu SD saya mengikuti ekskul yang bervariasi. Ekskul yang pernah saya ikuti adalah basket, art, cooking, dan broadcasting. Ketika SD, untuk pertama kalinya saya merasakan camping.
Pada saat kelas lima, saya mengikuti Olipiade Sains. Waktu kelulusan angkatan 16 yaitu angkatan yang satu tahun diatas angkatan saya, saya berkesempatan menjadi pembawa acaranya. Kegiatan-kegiatan positif di Dwi Matra sangat mendidik dan menyenangkan. Bahkan ujian praktik saat kelas enam juga sangat menyenangkan. Ujian praktik bahasa indonesia ada dua, yaitu berpidato dan menceritakan ulang cerita yang sudah kita baca. Saya sangat menikmati saat bercerita sampai-sampai saya membuat beberapa puppet agar penggambaran karakter lebih jelas. Saat ujian praktik bahasa ingris, murid-murid dibagi jadi beberapa kelompok dan menampilkan drama. Drama kelompok saya berjudul Pirate’s Adventure. Waktu terus berjalan. Hari kelulusan pun tiba. Suka duka telah dijalani selama empat tahun. Empat tahun yang sangat berharga. Rasanya ingin sekali mengulang masa-masa itu.

SMP
                Jujur, setelah lulus SD saya tidak memikirkan untuk bersekolah dimana. Saat pendaftaran semua sekolah hampir tutup, orang tua saya mendaftarkan saya ke SMP Islam Al Azhar 2 di Pejaten. Alhamdulillah saya diterima di sana tanpa test. Bisa dibilang hanya di masa SMP ini saya tidak pindah sekolah. Saudara saya yang seumur, Akmal, juga diterima disana. Kami selalu satu sekolah semenjak preschool , ketika saya pindah sewaktu SD, Akmal juga ikut pindah. Saya cukup senang bisa diterima disana karena sangat dekat dengan rumah sehingga tidak perlu terburu-buru. Saat MOS saya ditempatkan di kelas 7C. Satu kata yang ketika itu saya ucapkan. Capek. Karena kelas itu terletak di lantai empat dan ketika itu kami semua harus membawa barang-barang untuk MOS. Waktu itu, foto di nametag anak perempuan harus berukuran 4R dengan ekspresi bangun tidur sambil memegang boneka dan botol kecap. Dihari terakhir MOS, semua siswa wajib mengerjakan soal bahasa inggris. Awalnya kami tidak tahu untuk apa itu, ternyata untuk penempatan anak-anak di kelas bilingual tetapi kami tetap boleh memilih kelas reguler atau bilingual. Ternyata saya dimasukkan ke kelas bilingual di 7D.
7D bisa dibilang kelas yang terpencil dan berbeda karena satu-satunya kelas tujuh yang berada di lantai tiga dan muridnya tetap sama sampai kelas sembilan. Kadang saya berangkat ke sekolah sendiri, kadang juga saya berangkat bersama Fadil, Ali, dan Akmal seperti waktu SD di Al Ikhlas. Ketika itu Ali kelas sembilan dan Fadil baru masuk kelas sepuluh di SMA-nya. Walaupun dekat, kami tetap menggunakan mobil karena kondisi jalanan yang kurang aman untuk berjalan kaki. Di kelas 7D saya tidak kenal siapa-siapa, kecuali beberapa orang yang sebelumnya sekelas saat MOS. Tidak lama kemudian akhirnya kami semua saling mengenal dan akrab. Bahkan saya tidak tahu ternyata teman saya yang bernama Dhira tinggal di kompleks yang sama. Karena di kelas ini ada yang bernama Sarah Juwita, tiba-tiba teman saya, Alya, membuat nama panggilan untuk kami. Saya, Sarja, dan satu lagi Sarju. Dan ternyata panggilan itu terus terbawa sampai sekarang.
Saat kelas delapan, kami semua di kelas 8A dengan wali kelas Bapak Burhanudin yang kerap di panggil Pak Hans. Beliau menjadi wali kelas kami sampai kelas sembilan. Dari awal tahun pelajaran baru kelas kami sudah ramai karena kami semua sudah dekat. Pada bulan puasa, kelas kami kedatangan dua siswa baru yaitu Dina dan Ulfa. Kelas delapan adalah masa yang paling menyenangkan dan santai. Pada saat kenaikan kelas, kami kehilangan dua anggota kelas dan ada satu anggota baru. Kami tetap bergaul dengan anak-anak kelas reguler, angkatan 23 tetap kompak. 9A adalah kelas terakhir kami. Tiga tahun bersama berbuah jutaan memori indah. Rahasia setiap orang sudah menjadi rahasia kelas. Perbedaan-perbedaan yang ada membuat kami semakin kuat. I love each and everyone of them. Itulah kata-kata yang tepat untuk mereka.

SMA
                Masa SMA saya dimuali di SMA Islam Al Azhar 1. Di sana, kela saat MOS masih belum yang sebenarnya. Pada saat itu saya ditempatkan di kelas X2. Setelah 3 hari MOS selesai, kami semua baru ditempatkan di kelas yang sebenarnya. X4 adalah kelas tempat saya memulai pendidikan di SMA. Saya sekelas dengan beberapa teman saya sewaktu SMP. Saya ingat betul atmosfir kelas X4 yang nyaman dan teman-teman angkatan 36 yang sangat kompak. Tapi takdir kembali menghantarkan saya untuk pindah sekolah di semester 2. Awalnya memang berat untuk meninggalkan teman-teman, tetapi saya mencoba untuk ikhlas mengawali semester 2 di sekolah saya yang sekarang ini, SMA Labschool Kebayoran. Di hari pertama masuk, saya diberitahukan bahwa wali kelas saya adalah Ibu Wulan dan kelasnya adalah XF. Saya duduk sebelahan dengan Fira dan dibelakannya ada Bila, Ghina, Ella, dan Nindya. First impression mereka terhadap saya adalah saya itu pendiam. Memang awalnya saya pendiam karena masih menyesuaikan diri dengan lingkungan. Setelah itu saya sudah terbiasa dan nyaman. Saat saya sudah pindah, teman-teman Alpus angkatan 36 tetap mengajak saya pergi ke dufan. Senang rasanya masih dianggap bagian dari mereka.
 Homebase XF di ruang bahasa indonesia lantai tiga. Dan hombase terakhir kami di ruang ekonomi lantai dua. Waktu lati pagi terakhir kami semua menjadi fans persija. Anak-anak di XF semuanya down to earth dan membuat saya rindu masa kelas sepuluh. Karena saya belum mengikuti beberapa kegiatan wajib Labsky, maka saya harus melaksanakannya dengan angkatan bawah. Sebelum penjurusan, saya sangat bingung memilih IPA atau IPS. Seiring waktu berjalan, saya menjadi lebih berminat untuk masuk jurusan IPS. Alhamdulillah kedua orang tua saya mendukung keputusan saya. Saat kenaikan kelas dan penjurusan, saya masuk ke jurusan IPS dan itu cukup membuat saya puas dan senang karena berpisah dengan mata pelajaran IPA. Sekarang saya menjadi bagian dari XI IPS 1. Walaupun murid di kelas hanya 28 orang, saya berharap XI IPS 1 bisa selalu kompak.

Perjalanan di dunia ini masih terus berjalan. Semoga saya bisa belajar dari pengalaman hidup ini, selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. 

























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar