Minggu, 23 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Ravinda Putri Kusumaningtyas Wibowo



16 Tahun Penuh Suka Cita
MASA BALITA

Pada tanggal 24 Agustus 2012, Ravinda Putri Kusumaningtyas Wibowo atau yang sering dipanggil Dinda lahir di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dinda lahir secara normal dan sehat dengan berat 2.85 kg dan panjang 48 cm.

Pada hari kelahiran Dinda, ayahnya, Ricky Adi Wibowo sudah meninggalkan tanah air untuk kuliah di Colorado School of Mines, Colorado, USA. Ayah dari Dinda ini meninggalkan NKRI untuk kuliah S3 meraih gelar doktor dalam bidang Geologi. Beliau terlanjur berangkat ke Amerika Serikat meninggalkan istrinya, Sari Saraswati Wibowo yang sudah hamil besar dan sudah tidak diperbolehkan melakukan perjalanan  jauh jalur udara karena takut akan bahaya yang akan dialami Dinda di dalam kandungan.

Kelahiran Dinda ditemani oleh kakeknya, Hutomo Amaroen yaitu ayah dari ibunya, dan juga oleh tantenya Meiwaty Basudewa, kakak ipar ibunya. Dimana saat kelahiran, kakaknya, Raditya Pradesha Wibowo menunggu dengan penuh semangat di rumah dengan neneknya dan tante yang merupakan adik dari ibunya.

Raditya Pradesha Wibowo atau lebih dikenal dengan panggilan Dito lahir pada tanggal 15 November 1991 di Palembang. Dito berusia 4 tahun 9 bulan saat Dinda lahir.

Setelah kira-kira 2 bulan kelahirannya, Dinda beserta ibu dan kakak dan neneknya berangkat pada akhir tahun 1996 meninggalkan tanah air untuk menyusul ayahnya di Colorado, Amerika Serikat. Setelah lamanya perjalanan, Dinda dan keluarganya mendarat di LAX airport, Los Angeles, Amerika Serikat dan bertemu ayahnya untuk pertama kali. Setelah kelahiran Dinda, ayahnya tidak diberi tahu akan jenis kelamin anaknya sendiri, terkejutnya saat bertemu dengan Dinda, ia sudah membelikan berbagai baju berwarna biru untuk laki-laki.

Dinda, ibu, kakak, nenek, dan ayahnya melanjutkan perjalanan ke Golden, Colorado. Keluarga Dinda tinggal di Golden selama 5½ tahun dimana Dinda belajar berjalan.

MASA TK

Untuk keperluan sekolah KB/TK, Dinda menjalankan pendidikannya di Golden’s Mitchell Kindergarten. Pada hari pertama, Dinda mendapat banyak sekali teman baru, ia bertemu dengan Heather dan Sydney yang menjadi sahabat-sahabat terdekatnya. Wali kelasnya bernama Mrs. Smith, beliau sering membacakan buku cerita sambil memperagakan perilaku tokoh di dalam cerita. Pada hari-hari tertentu seperti ulang tahun, dan lain sebagainya, Mrs. Smith akan membacakan cerita dari buku yang baru dan seluruh muridnya menyimak dengan tenang.

Orang tua Dinda mempunyai hobi melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru yang belum pernah mereka kunjungi. Dinda dan keluarganya pernah mengunjungi taman nasional Yellowstone di Wyoming, Amerika Serikat. Setelah berapa lama mereka kembali mengunjungi kota Los Angeles dimana Dinda dan kakaknya sudah cukup besar untuk anak-anak mengerti dan menaiki wahana-wahana menarik di taman bermain yang sangat terkenal di California, seperti Disneyland dan Universal Studios.

Selain di sekolah, Dinda memiliki banyak teman dekat di lingkungan tempat tinggalnya yang banyak juga merupakan orang Indonesia. Hobi Dinda sewaktu kecil adalah menggambar, menciptakan arts & crafts, bermain dengan teman-temannya, dan menonton kakaknya bermain videogame. Sering kali teman-teman kakaknya datang untuk bermain game bersama kakaknya, maka Dinda akan duduk manis dan menonton. Dito (kakak dari Dinda) juga sering melakukan aktivitas di luar rumah dengan teman-temannya, seperti berenang, dll. Adiknya (Dinda) pun sering ikut melakukan aktivitas yang dilakukan kakaknya di luar rumah.

Saat kecil Dinda mengikuti les berenang. Pada saat itu, Dinda belajar melompat dari papan loncat yang tinggi dan menyelam ke kolam renang. Dinda sangat takut akan ketinggian, sehingga ia terhambat saat belajar melompat dari papan loncat. Guru les Dinda, meyakinkan Dinda untuk tenang dan pada akhirnya, Dinda meluncur dari papan loncat. Guru les renang Dinda juga mengajar renang kakaknya pada waktu yang berdekatan di tempat yang sama. Dito sudah belajar sekian banyak gaya sedangkan Dinda masih pada gaya-gaya renang standar.

Selagi tidak berkuliah, ayah Dinda melakukan newspaper delivery dari kaca mobilnya sebagai kerja sampingan. Kegiatan ini dilakukan dini hari. Ibu Dinda ikut membantu dan membawa anak-anaknya di mobil. Dinda dan kakaknya sering kali tidur karena pengantaran dilakukan pagi sekali.

Dinda bersama kakak dan ibunya juga pernah ikut menonton pertandingan baseball di stadium.

Pada akhir tahun 2001 Dinda berpulang ke tanah air. Sebelum berangkat, kelas TK Dinda mengadakan perpisahan padanya. Mrs. Smith membacakan buku cerita baru berjudul “Dream Snow”. Setelah dibacakan buku, setiap murid menyampaikan kesan & pesan pada Dinda. Dinda duduk ditengah karpet kelas dengan teman-teman yang melingkarinya. Heather (sahabat dekat Dinda) menangis sambil memeluk Dinda saat menyampaikan kesan & pesan di tengah kelas.

~

Pada tanggal 21 Desember 2001, Dinda dan keluarganya kembali ke tanah air tercinta Indonesia. Ayah Dinda sudah lulus dan sudah wisuda dari program studinya di Colorado School of Mines. Pada saat kembali dari Amerika Serikat, paman Dinda yang merupakan saudara dari ayahnya telah mengurus administrasi membeli rumah di daerah Pamulang, Tangerang Selatan.

Saat Dinda dan keluarganya kembali, mereka menginap di rumah nenek dan kakeknya di Cilandak, Jakarta Selatan. Mereka menginap di kamar kosong selama beberapa minggu menunggu barang disiapkan dan dipindahkan ke rumah baru di Pamulang.

Dinda melanjutkan pendidikan setengah tahun terakhir TK-nya di Taman Kanak-Kanak Kak Seto, Si Komo di Pamulang.

Setelah perpidahan ke kembali ke Indonesia, Dinda mulai mengalami masalah pada hidungnya yang drastis menjadi sensitif dan mudah terluka (mimisan).

MASA SD

Tahun pertama SD, Dinda melanjutkan pendidikannya di SD Katholik Mater Dei Pamulang. Masalah hidungnya tidak muncul pada tahun ini.

SD tahun kedua, Dinda pindah ke SD Islam Al-Azhar 15 Pamulang yang terletak tidak jauh dari SD pertama yang dijalankannya. Selama SD, peringkat Dinda di kelas tidak pernah dibawah peringkat 4.

Pada tahun ini, masalah hidung yang dialami Dinda kembali kambuh. Dinda sering mengalami mimisan di sekolah, di rumah, dan dimana saja kapan saja. Dinda mengetahui bahwa ia mempunyai kondisi sinusitis dimana Dinda akhirnya diberikan terapi penyinaran sinar UV dan inhalasi. Dinda datang ke rumah sakit setiap 3-5 hari per minggunya untuk menjalankan terapi-terapi tersebut. Ia menjalankan terapi sepulang sekolah, dimana ia diminta tiduran dengan matanya ditutup dan seluruh wajahnya disinari sinar UV, dan terapi inhalasi dimana ia diminta duduk dengan santai dan hidungnya di-uapkan dengan alat khusus. Setelah berapa lamanya, masalah sinusitis Dinda mulai membaik namun tidak menghilang. Dinda mengambil sampel darahnya setiap minggunya untuk melihat hasil dari terapi-terapi yang dijalankan.

Di kelas 4, Dinda diminta guru untuk mengikuti Lomba Mata Pelajaran SD Al-Azhar se-Indonesia dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Lomba tahun itu diadakan di SDI Al-Azhar Bintaro. Lomba yang diadakan adalah storytelling, namun setelah jerih payah dan usahanya, Dinda belum beruntung untuk menang.

Di tahun keempat SD ini, Dinda menjadi anggota paskibra. Dinda menjalankan tugasnya saat upacara dalam mengibarkan bendera.

Di kelas 5, Dinda sekali lagi diminta mengikuti Lomba MaPel SDI Al-Azhar lagi-lagi dalam bidang Bahasa Inggris. Kali ini, lomba diadakan di SDI Al-Azhar Semarang. Rombongan peserta dan keluarganya berangkat ke Semarang. Namun setelah tahun kedua Dinda mengikutI lomba ini, ia masih belum beruntung untuk menang dan pulang dengan tangan kosong.

Selain mengikuti Lomba MaPel, Dinda mengikuti kegiatan Jambore bersama temannya yang juga bernama Dinda dan adik-adik kelasnya yang pramuka. Dinda dan kelompok dari sekolahnya berkemah di lapangan. Kegiatan ini sangat seru menurut Dinda dan sangat melelahkan. Dinda dan kelompoknya menang dalam berbagai lomba.

Kelas 6, Dinda sudah tidak mengikuti Lomba MaPel karena akan fokus belajar untuk Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dan tes masuk SMP. Di awal tahun, Dinda tetap mengikuti lomba membaca berita dalam Bahasa Inggris di SMP BM400.

Pada awal tahun 2008 Dinda mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran dimana kakaknya bersekolah setelah SD sebelum meneruskan sekolahnya ke SMA Negeri 3 Bandung. Dinda menjalankan tes masuk Labsky dengan kondisi tidak sehat. Ia muntah sesaat sebelum turun dari mobilnya sebelum tes dan menyebabkan ia masuk ke kelas sedikit terlambat. Dinda turun dari mobil ditemani ibunya dengan memakai jaket merah yang hangat dan dengan tegang memasuki area Labschool Kebayoran.

Setelah tes pertama yaitu tes psikotes, Dinda kembali merasa mual dengan badannya yang sudah payah. Ibu Dinda berkata bahwa  Dinda tidak harus meneruskan tes dan tidak harus masuk SMP ini dengan menjanjikan sekolah lain. Namun, Dinda bersikeras untuk melanjutkan tes.

Setelah akhirnya tes akademik selesai, Dinda sudah lemas dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, rumah sakit dimana ia dilahirkan dan tidak jauh dari SMP Labsky. Ternyata diagnosis menunjukan Dinda terjangkit virus demam berdarah & thypus dan dirawat selama 2 minggu.

Pengumuman keluar dan dengan terkejutnya, Dinda lulus tes seleksi  SMP Labsky.
MASA SMP

Total teman Dinda dari SD yang juga lulus seleksi SMP Labsky ada 6 anak termasuk dirinya sendiri. Dinda ditempatkan di kelas 7D dimana Dinda tidak mengenal satu anak pun. Lalu, Dinda berkenalan dengan Ella yang menjadi teman duduk sebangku pertamanya di SMP.

Di tahun kedua SMP, Dinda ditempatkan di kelas 8B dimana ia menjadi teman dekat Anty. Di tahun ini Dinda menjadi teknisi suara dalam kegiatan EXASKY. Pada tahun ini, Dinda juga mengikuti lomba desain internasional poster dengan tema HIV/AIDS dalam Bahasa Inggris yang diadakan UNESCO. Dinda tidak menang namun mendapat sertifikat resmi dari UNESCO sebagai kandidat SMP Labschool Kebayoran dan sebagai duta internasional dalam menghimbau atau mencegah tersebarnya virus HIV/AIDS terutama pada generasi muda.

Tahun terakhir SMP, Dinda belajar di kelas 9E dimana ia semakin dekat dengan banyak orang, belajar menghargai ragam orang, dan belajar bekerjasama agar tetap kompak. Di tahun ini Dinda bersama seluruh teman-teman angkatannya belajar untuk menghadapi Ujian Nasional (UN).

Pada UN, Dinda meraih penghargaan atas nilai 10,00 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Dan juga, lulus tes Jalur Khusus masuk SMA Labschool  Kebayoran yang dimulai dari tes berkas lalu wawancara. Dinda tidak tes ke satu pun sekolah lain selain SMA Labsky.

MASA SMA

Selama kelas 10, Dinda mulai belajar berorganisasi. Ia dilibatkan dalam pekan olahraga tahunan sekolahnya yang bernama SKYBATTLE sebagai panitia dalam bidang design. Dinda bersama dengan angkatannya menempuh berbagai kegiatan yang melatih fisik dan mental seperti: MOS, Pilar, Pra TO, TO, BINTAMA, dan studi lapangan ke kota Bandung.

Saat ini, Dinda masih menjalankan pendidikan di kelas 11 SMA Labschool Kebayoran melanjutkan pendidikan untuk meraih cita-cita yang diinginkannya dalam bidang seni.

Foto-foto:
 Dinda bersama ayahnya
Dinda bersama kakaknya di taman bermain
Dinda saat bayi bersama kakak dan ibunya, bertamasya ke gunung
Dinda bersama temannya (Bias) semasa kecil
Dinda sewaktu bayi
Dinda saat belajar jalan
Dinda sedang bermain di pantai
Dinda bersama kakaknya di pantai
Dinda bersama kakaknya dan neneknya
Dinda bersama ibunya
Dinda dalam kostum Barney saat halloween
Dinda bersama kakak dan teman-teman kakaknya bermain game
Dinda bersama kakaknya
Sketsa Dinda saat kelas 10 yang terobsesi dengan serial tv Doctor Who
Sketsa Dinda di kelas 10
Dinda (kiri) tahun 2012 bersama temannya Divia (kanan)

1 komentar: