Minggu, 23 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Putri Naura A.


I5 TAHUN PENUH CERITA
Saya dilahirkan dengan nama lengkap Putri Naura Assyifa. Naura berasal dari kata “Nur” yang berarti cahaya, dan Assyifa artinya penyembuh. Di Rumah Sakit Santo Borromeuslah tangisan saya pertama kali terdengar.
Masa kecil saya lewatkan di Bandung. Kota Kembang tersebut sudah ditinggali kedua orang tua saya sejak kuliah. Juga kakak laki-laki saya yang umurnya lebih tua 2 tahun dari saya. Perjalanan keluarga kecil ini dimulai dari sebuah rumah di jalan Haurmekar yang dekat dengan lapangan Sabuga. Setiap sore papa saya sering mengajak kami jalan-jalan naik kuda atau sekadar membeli roti. Tak lupa setiap pagi saya dan kakak saya dijemur agar tulang kami kuat.
Saya dan kakak

Kira-kira ketika saya sudah berumur 3 tahun, papa saya memboyong kami untuk pindah ke Jakarta. Kebetulan disana beliau mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik. Rumah pertama kami di Jakarta tidak terlalu besar, sangat berbeda dengan rumah yang kami tempati sekarang. Mungkin karena waktu itu masih terlalu kecil, saya tidak ingat apa-apa tentang rumah pertama kami. Saya baru berkesempatan melihatnya lagi ketika saya sudah besar.
Rumah kedua kami Alhamdulillah sudah lebih besar daripada yang pertama. Saya ingat waktu itu halaman belakang kami luas walaupun tidak berumput. Di perumahan yang baru juga, saya mendapat banyak teman sepermainan. Seperti anak perempuan lainnya, saya senang main masak-masakan. Namun dulu saya sangat nakal dan kreatif serta tomboy. Jadinya saya tidak mau main masak-masakn dengan biasa. Saya dan teman saya curi-curi mengambil handuk yang sudah tidak terpakai lagi dari rumah kami masing-masing serta mengeluarkan isi bantal kapuk. Handuk lama kami gunting kecil-kecil dan kotak-kotak dan pura-puranya itu sebagai babat sedangkan isi bantal kapuk pura-puranya lemak atau jeroan lainnya. Jadilah soto jeroan kami buat.
di rumah lama
Di rumah itu pula, kami pertama kali punya mobil. Saya masih ingat varian dan warnanya, yaitu Baleno silver. Alangkah senang saya dan kakak saya. Kami diantar pulang-pergi sekolah dengan mobil itu.
Masa SD
Saya masuk Sekolah Dasar umur 5 tahun. Lebih cepat 1 tahun memang, karena saya sengaja ingin satu angkatan dengan kakak saya yang waktu itu sudah berumur 7 tahun. Saya memang sangat akrab dengan kakak saya. Sampai-sampai ketika kakak saya potong rambut, saya juga ingin dibotakin.
mau berangkat sekolah
Saya masuk sekolah swasta, yaitu SD Muhammadiyah 28 yang terletak dekat dengan rumah saya. Tidak banyak yang berkesan selama saya bersekolah di sini. Tapi yang saya ingat, cowok-cowok yang sekelas dengan saya sangat cengeng karena beberapa kali saya pernah membuat mereka menangis. Padahal saya hanya menjepret karet ke muka mereka, dan itu pun tidak sengaja, tapi anak cowok itu menangis dengan lebay.
Saat kelas 5, saya pindah ke SDN Gunung 05 atau yang lebih dikenal dengan SD Mexico. Di SD ini saya ikut ekskul drum band dan menjadi colorguard. Tim kami banyak mengikuti kejuaraan-kejuaraan tingkat nasiional dan Alhamdulillah selalu menang. Seingat saya ketika kelas 6 saya lumayan berjaya dalam urusan akademis. Try out se-Jakarta waktu itu pernah juga peringkat 4. Hubungan dengan teman-teman serta orang tua juga harmonis. Sangat menyenangkan,
Masa SMP
kelas 9A


Lulus dari SD, saya masuk ke SMP Labschool Kebayoran. Sekolah ini memang pilihan utama saya, awal-awal masuk sekolah ini perasaan saya senang sekaligus bingung. Senang karena tak henti-hentinya ketika MOS kami diingatkan bahwa masuk Labschool merupakan kesempatan langka. Dari 900-an pendaftar hanya 200 yang berhasil lolos. Namun saya juga bingung dengan budaya Labschool yang baru saja saya ketahui seperti makan komando, sedikit-sedikit teriak Labschool, dst. 
Hari-hari berlalu dan tibalah saya di kelas 9. Di tahun terakhir ini saya sudah bertekad untuk masuk ke SMAN . Saya belajar sangat keras dan rajin. Apalagi menjelang tes masuk dan UAN. Angkatan saya yang bernama Scavolendra Talvoreight sangat kompak di hari-hari terakhir kami bersama di SMP. Farewell party dan wisuda pun berjalan sukses.
bersama teman-teman SMP

Masa SMA
Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sangat ingin melanjutkan pendidikan saya ke SMAN 8. Tetapi ternyata Allah menakdirkan saya untuk kembali sekolah di Jl. Ahmad Dahlan no. 14 ini. Sebelumnya saya memang sudah diterima di SMA ini lewat jalur khusus.
Saat MOS saya mengira akan lumayan lancar karena waktu SMP saya sudah lumayan kenal dengan budaya Labschool. Namun ternyata saya salah besar karena di SMA kakak kelasnya lebih galak dan tidak ragu untuk teriak-teriak menyeramkan. Kegiatannya juga lebih banyak menguras fisik dan rute lari paginya lebih jauh.

Kelas pertama yang saya tempati sebagai warga SMA Labsky adalah kelas 10 E.kelas ini sangat seru karena saya mendapat banyak teman baru, cewek maupun cowok. Di kelas ini saya menjadi sangat berbeda dengan sifat saya sebelumnya yang pendiam. Kelas ini amat ramai dan kompak, bisa dibilang kelas terbaik yang pernah saya tempati. Di akhir tahun ajaran kami sekelas berlibur ke Tanjung Lesung. Alhamdulillah juga saya bisa menutup kelas 10 ini dengan menepati janji saya kepada papa untuk berada di rangking 10 besar. Akhirnya saya pun masuk IPA, dan masuk ke kelas 11 IPA 2.
Lalinju

Lalinju



Papa saya
Mungkin aneh jika saya menyertakan kisah tentang papa saya kedalam autobiografi ini. Tapi, beliau adalah bagian besar dari hidup saya 15 tahun ini. Jadi saya merasa perlu menceritakannya.
Papa saya dilahirkan dengan nama lengkap Azhary Moedjitaba. Masa kecil dia habiskan di Palembang. Saya sangat senang mendengar cerita-cerita papa saya yang sewaktu kecil sangat nakal. Dahulu papa saya sangat jago memasang bubu dan memancing ikan di Sungai Musi yang airnya masih jernih itu. Dulu juga dia pernah tinggal di rumah panggung. Tempat tinggal beliau banyak berpindah-pindah karena ayah beliau adalah seorang polisi.
Ketika tiba waktunya untuk masuk SMA, papa saya pindah ke Bandung sendirian. Dia masuk ke SMA 1 Dago. Beliau memang harus mandiri karena orangtuanya hanya bisa dating ke Bandung pada hari-hari yang penting saja, seperti hari pengambilan rapor. Papa saya anak ke 3 dari 7 bersaudara, maka itu adik-adiknya masih banyak dan masih terlalu kecil untuk ditinggal lama.
Papa saya mengambil Strata 1 di Universitas Padjajaran jurusan Ekonomi Akuntansi dan ITB jurusan Teknik Kimia. Kuliah beliau dua-duanya diselesaikan dengan tepat waktu. Jadilah beliau mendapat gelar Insinyur dan Sarjana Ekonomi&Akuntansi.
Papa saya bertemu dengan ibu saya yang juga kuliah di Unpad. Papa dan mama saya berbeda umur 8 tahun.
Sedari kecil saya dan kakak saya memang lebih suka dengan papa. Mama saya dari kecil sudah aktif dalam kegiatan partai dan sosial. Ketika papa ke luar negeri untuk bekerja, saya dan abang saya suka menangis. Saya, seperti biasa menangis diam-diam. Sedangkan abang saya menangis sampai kedengaran tetangga.
Papa saya sangat baik dan perhatian. Dan hal itu tidak pernah berubah sampai sekarang. Tutur kata papa saya dalam memanggil anak-anaknya kadang membuat saya terharu. Contohnya ketika membangunkan saya, beliau akan berkata, “Raaa, bangun dong anak papa, ayo minum susu dulu sayang.” Yah, mungkin bagi sebagian orang ucapan tersebut terdengar sangat childish tetapi kendati saya sudah sebesar ini saya tetap sangat manja dengan papa saya. Kalau malam hari mau ke toilet saja saya masih membangunkan papa.
Ucapan “sayang”, “nak”, “anak papa” yang terselip dalam kata-katanya sangat natural dan tidak dibuat-buat. Seakan sudah refleks begitu saja.
Papa dan Mama waktu naik haji
Papa saya sangat pintar, tidak hanya pintar dalam bidang yang khusus dia pelajari saja. Tetapi juga hal-hal lain. Wawasannya yang luas membuat saya senang berbincang dengan papa. Momen-momen berdua di mobil ketika papa menyetir sangat lambat sangat saya nikmati karena pada saat-saat itulah kami biasa ngobrol hal-hal seperti politik, dll yang ada di surat kabar. Saya juga suka bertanya secara random kepada papa saya tentang apa saja. Tentang  universitas, tentang kedokteran, tentang agama, apa itu valas, sukuk, dll. Dan beliau pasti punya jawaban yang lengkap.
Semua kegiatan yang saya ikuti selalu papa dukung, mulai dari Lamuru, les musik, ekskul, dst. Setiap saya ada PR atau ulangan papa selalu berusaha mengakomodasi dengan membelikan makanan yang saya mau agar saya semangat belajar. Kadang walaupun capek sepulang kantor, beliau masih menyempatkan diri mengajarkan saya, dan jika saya begadang sampai dini hari, papa rela tidur di sofa yang lebih kecil dari tubuhnya yang tinggi besar sambil digigiti nyamuk dan kedinginan karena AC ruang keluarga.
Papa adalah orang yang perhatian, walaupun kadang berlebihan dan menyebalkan, saya tetap suka dan menerima. Tidak risih sama sekali. Sebenci-bencinya saya kepada papa, pada akhirnya saya pasti melupakannya dengan cepat dan kembali menjadi anak papa yang setiap mau pergi sekolah pasti cipika-cipiki dulu. Semakin SMA semakin saya sadar, semua ucapan papa sebagian besar benar, mulai dari yang remeh temeh atau bercanda sampai ucapan-ucapan yang serius. Saya suka kagum dengan kemampuan papa saya memprediksi sesuatu. Bukan dalam arti mistis tentunya. Memprediksi disini maksudnya berpikir panjang dangan presisi.
Menurut saya sendiri saya mendapat sifat hardworker dari papa saya. Walaupun umur beliau sudah 53, beliau tetap bekerja seperti muda dulu. Habis shalat Subuh berangkat, dan setiap hari pasti pulang malam, diatas jam 10. Itu karena biasanya dari pagi sampai sore beliau tidak di kantornya, melainkan meeting di tempat-tempat yang lumayan jauh dan macet. Alhasil dia baru bisa benar-benar bekerja di kantor setelah Maghrib. Saya dan abang saya sejak kecil selalu menunggu-nunggu momen ketika pagar rumah kami berbunyi karena didorong. Itu artinya papa telah pulang. Biasanya papa pulang membawakan makanan dan sarapan untuk anaknya esok pagi. Walaupun sudah jam 12 malam dan saya sudah mengantuk, tapi sampai sekarang saya tetap berusaha menunggu papa pulang. Kalau belum ada papa, saya belum merasa aman. Mungkin dari situlah saya jadi terbiasa begadang. Pernah juga ketika kelas 10, saya menginap di rumah saudara saya di Bandung, saya tidak bisa tidur karena sebelumnya saya dan saudara saudara saya menonton film horror Thailand yang sangat menyeramkan. Sambil menangis saya telepon papa saya sambil minta didoakan. Seperti biasa beliau hanya tertawa dan meledek saya. Tapi dengan begitu, saya menjadi lumayan tenang.
Menurut saya, papa adalah aset terbesar dan orang andalan saya. Senang mengetahui bahwa saya juga seperti itu di mata papa. Ketika saya tes seksi kesenian, saya mintai tolong papa untuk mencari payung Tasikmalaya yang sudah langka dan mahal. Seharian beliau mencari keliling Jakarta. Ketika saya cemas dan terus-terusan menelepon beliau, beliau hanya bilang “tenang aja, rara belajar aja. Entar kalo udah nyampe rumah langsung bikin yang bagus ya, nak.” Bukan cuma itu, ketika saya membuat nametag dan membutuhkan kertas kado batik, saya menelepon papa pukul 10 malam dengan panik. Papa pun langsung naik motor biar cepat dan mencari kebutuhan saya. Juga ketika saya membutuhkan kardus bekas yang besar dan tinggi, papa langsung menemani saya ke daerah Tanah Abang. Sungguh, ketika saya tahu saya tidak lolos tes, saya menangis karena lagi-lagi saya mengecewakan papa saya. Saya tahu beliau tidak akan marah, malah ketika saya bilang saya menjadi seksi Edukasi, beliau berkata sambil tertawa, “gakpapa ra, tandanya kamu pinter. Mulai sekarang jangan telat-telat lagi ya,”
Senang rasanya melihat papa saya menemani serta memotret-motret saya ketika Lalinju. Ternyata beliau sudah bangun tidur sejak pukul setengah 4 dan sudah standby di TMP Kalibata. Padahal saya tidak minta sama sekali bahkan kalau bisa papa tidak usah datang karena saya malu tidak menjadi bagian dari seksi yang saya inginkan. Tetapi papa saya pastilah tetap datang dan memakaikan saya jas OSIS. Sambil mencium saya beliau berkata, “selamat ya ra,” saya sangat senang mendengar ucapan itu keluar dari mulut seseorang yang sangat saya teladani dan cintai.
Papa juga pribadi yang tidak pernah lupa akan asal-usulnya. Pernah papa mengajak saya dan abang saya melihat rumah kontrakan kami yang lama, baik di Jakarta maupun Bandung sambil menasihati, “Tuh, ra, awal mula kita dari sini. Jadi jangan pernah sombong ya, nak.” Begitu juga saat kami pergi ke Palembang, papa mengajak kami menelusuri gang-gang tempat ia dibesarkan di Sepuluh Hulu yang sekarang sudah susah dicari. Yang ia ingat hanya sebuah langgar tempat mainnya dulu,
Papa saya adalah hal terbaik yang diberikan Allah kepada saya. Semoga papa saya juga menganggap saya begitu. Apapun yang saya lakukan semata-mata hanya bermuara pada satu tujuan, yaitu membanggakan beliau. Sekarang  target saya adalah untuk membuat papa saya berhenti merokok.  Semoga Allah memberikan kedua orangtua saya umur yang panjang agar mereka bisa melihat saya  mengenakan yellow jacket yang saya dapatkan dari hasil usaha sendiri dan menjadi dokter di masa depan. Amin.

Scavolendra Talvoreight

Reuni SMP

Drink Pray Love (haha)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar