Sabtu, 22 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Pritamara Wahyuningtyas


Selangkah Menuju 17 Tahun Kehidupan Saya

Saya baru lahir
16 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 18 Oktober 1995, saya Pritamara Wahyuningtyas, dilahirkan secara normal dan selamat di RS YPK Theresia Menteng pada pukul 09.15 WIB dengan berat 3,3 kg dan panjang 48 cm. Saya merupakan anak pertama dari pasangan Wahju Prijambodo dan Ria Susilawati. Sebelum nama lengkap saya ada, ibu saya sudah menyiapkan nama panggilan untuk saya yaitu “Tara”. Sementara itu nama lengkap saya ‘Pri’ melambangkan saya sebagai anak pertama dan diambil pula dari nama belakang ayah saya ‘Prijambodo’. Saat saya tanya apa arti ‘Tamara’ ibu saya sendiri mengaku tidak tahu apa artinya. Tetapi Ibu saya berkata “Ibu kasih kamu nama Tamara karena ibu ngefans sama Tamara Geraldine & Tamara Bleszynski. Jadi siapa tau kamu bisa cantik kayak mereka”. ‘Wahyu’ lagi-lagi diambil dari nama ayah saya, namun secara keseluruhan ‘Wahyuningtyas’ berarti wahyu atau pesan di hati. Dari nama itulah saya diharapkan menjadi seorang yang bisa membaca dan menyampaikan pesan-pesan dari hati serta menjadi orang yang peka.

Masa Masih Kecil 

Mulai merangkak!
Saya tumbuh sebagai bayi yang bisa dibilang berbeda. “Ngurusin Tara tuh enak, jarang nangis atau rewel dan kerjanya tidur terus. Ngompol pun tetep tidur.” begitu kata ibu dan nenek saya. Saat saya bayi kedua orangtua saya sangat sibuk bekerja, ayah saya bekerja di bidang offshore yang mengharuskan beliau sering pegi jauh sementara ibu saya pekerja di bidang perbankan. Karena itulah saya lebih sering dirawat oleh babysitter. Namun ditangani  babysitter ternyata membawa petaka bagi saya. Akibat kelalaian babysitter saya ,saat berusia 8 bulan saya jatuh dari kereta bayi dan kepala saya terbentur barbel yang menyebabkan kepala saya bocor. Kata dokter pertama yang memeriksa saya, kepala saya harus dibelah untuk membetulkan posisi organ didalamnya. Ayah saya tidak setuju dengan dokter tersebut dan memilih untuk mencari second opinion dari dokter lain karena takut akan resiko yang diambil unuk bayi 8 bulan. Tindakan tersebut ternyata tepat karena ternyata kepala saya dapat disembuhkan tanpa dibelah, melainkan hanya diobati secara eksternal oleh Prof. Dr. Satyanegara. Setelah operasi tersebut saya pun sembuh dan tumbuh menjadi bayi yang ceria.

Masih akur sama Dio kecil
Sekitar 3 tahun setelah kelahiran saya akhirnya saya dikaruniai seorang adik bernama Ferdio Giffary. Kata ibu saya, saya memang sangat mengharapkan seorang adik laki-laki dan saya ingin adik saya kelak bernama ‘Dio’. Pada akhirnya keinginan saya terkabul karena adik saya tersebut nama panggilannya adalah ‘Dio’. Setelah kelahiran Dio ibu saya pun memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada kedua anaknya, apalagi mengingat musibah yang dulu menimpa saya.Di samping itu, adik saya ini memiliki masalah kejiwaan,bukan sesuatu yang berbahaya, hanya saja ia tergolong ‘hiperaktif’ dimana pertumbuhan sebagian sel di tubuh nya berjalan terlalu cepat dibanding sel yang lain sehingga berdampak pada emosi nya sangat tidak stabil. Disinilah saya dan keluarga saya diharuskan sabar dan bersikap tenang untuk meredam emosi dan tingkah nya. Disamping itu, Dio diberi penanganan dari pskiater atau dokter kejiwaan anak serta diberi obat stabilitatornya sehingga perlahan bisa mencapai keadaan normal.

Saya bersama sepupu dan eyang 

Bu guru bersama murid-murid boneka
Saya tumbuh sebagai anak yang semangat dan tidak bisa diam. Saya suka sekali bermain dokter-dokteran dan sekolah-sekolahan. “Kamu sering banget main jadi gurunya boneka-bonekamu. Tapi kamu jadi gurunya galak, bawa tongkat terus ngetok-ngetok papan tulis sambil marah-marah” ujar ibu saya. Selain itu sejak kecil saya memang memiliki percaya diri yang tinggi. Saya selalu maju kedepan setiap ada kesempatan, “Dulu pernah lagi jalan-jalan di mall,ada pertanyaan tentang cita-cita. Kamu dengan pedenya maju dan jawab kamu pengen jadi petinju.” begitulah kenang ibu saya. Saya juga bingung kenapa dulu saya bisa berpikir aneh begitu. Saya memang terbilang agak unik, karena selain terobsesi jadi petinju, saya juga terobsesi untuk cepat sekolah dan menjadi superhero batman. Sempat ada masanya dimana saya tidak mau pakai baju lain selain seragam SD dan baju batman.

Batman <3 

Masa Playgroup- TK

Saya dan seragam Tyala
Saat sudah cukup usia,saya pun bersekolah di Playgroup Internasional Tyala yang letaknya tak jauh dari rumah saya dibilangan Green Ville, Jakarta Barat. Menurut saya bersekolah disana sangat menyenangkan karena banyak acaranya seperti pesta kostum Halloween, meskipun saat itu saya salah kostum.

Kostum saya ke pesta Halloween

Tiup lilin ulangtahun ke-4
Pada tahun 1999 keluarga saya pindah ke daerah Bumi Serpong Damai (BSD),Tangerang Selatan, dan saya pun melanjutkan sekolah saya di Kelompok Bermain Islam Cikal Harapan BSD. Seharusnya saya sudah lulus playgroup dan naik ke jenjang taman kanak-kanak (TK), tapi pihak sekolah tidak mengizinkan karena saya lahir bulan Oktober sementara batas usia nya di bulan Juli. Jadilah saya mengulang playgroup baru melanjutkan ke TK Islam Cikal Harapan BSD.

Di masa TK ini saya mulai menyalurkan energi saya yang ‘berlebih’ dengan mengikuti banyak lomba dan ekstrakulikuler (ekskul) yaitu menari,mewarnai, dan marching band. Saya pun sering menjadi petugas upacara dan karena suara saya yang lantang saya sering dipilih jadi pemimpin upacara. Selain itu saya mulai diikutkan les Bahasa Inggris karena ayah saya senang melihat anak kecil yang lancar berbahasa Inggris. Dulu saya malas sekali les Bahasa Inggris karena teman-teman sekelas saya sudah SD semua sementara saya menulis pun masih belajar. Jadi saya sering pura-pura tidur atau sakit supaya tidak les, tetapi dengan sabar nya ayah dan ibu saya selalu membujuk saya agar mau les. Di tahun 2001 ayah saya menderita penyakit gangguan pernafasan. Diagnosa awalnya adalah penyakit TBC, tetapi setelah pemeriksaan lebih lanjut ternyata penyakit yang diderita ayah saya adalah kanker paru-paru. Penyakit itu timbul bukan karena ayah saya seorang perokok, melainkan karena beliau bukan perokok atau disebut perokok pasif yang sering menghirup asap nya.

Masa SD

Pada tahun 2002, saat saya baru menjadi siswi SDI Cikal Harapan BSD dan setelah setahun ayah saya mengidap penyakit tersebut, ayah saya meninggal dunia di usia 34 karena kanker tersebut sudah terlalu menjalar di seluruh tubuhnya. Saya merasa sangat kehilangan karena saya sangat dekat dengan ayah saya dan merasa memiliki kurang waktu bersama beliau. Tetapi saya sekeluarga tetap menjalani hidup kami, karena begitulah pesan almarhum ayah saya. “Tara yang akur ya sama Dio, ajarin biar dia gak manja sama ibu. Terus belajar yang pinter sama tulisannya dibagusin, jangan kayak Bapak.” Sayapun selalu berpegang pada nasihat tersebut meskipun saya masih sering tidak akur dengan adik saya dan sampai sekarang pun tulisan saya masih jelek.
Kelas 6A
Masa SD saya bisa dikatakan gemilang, karena Alhamdulillah saya bisa selalu berada di peringkat teratas kelas saya dan saya mulai mengikuti berbagai lomba, terutama lomba matematika meskipun saya tidak pernah menang. Pada kelas 4 SD ternyata saya sadar minat saya bukan di bidang matematika saat saya diikutsertakan lomba kreativitas hasta karya. Saya mendapat juara 1 di tingkat kecamatan dan juara 3 di tingkat kabupaten. Dari situlah saya mulai menemukan minat baru saya,di bidang seni terutama menyanyi, dan dibidang kepemimpinan. Bermula dari menjadi ketua kelas berkali-kali, saya berkesempatan mencoba menjadi ketua panitia art exhibition saat kelas 6 SD. Disamping bidang akademis, SD merupakan masa yang menyenangkan karena saya mendapatkan teman-teman yang baik dan asyik,salah satunya Moza Ayudina, teman saya yang merupakan anak pindahan dari luar kota tapi masih dekat hingga sekarang ini. Pengalaman mengesankan lainnya di masa SD adalah saya bersama teman ‘geng’ saya pernah dipanggil wakil kepala sekolah karena sering ‘ribut’ apalagi di kantin. Kejadiannya sangat menegangkan tapi keadaan mencair dan lucu pada akhirnya, tak kan terlupakan. Di akhir masa SD saya, ibu saya pun menemukan pendamping hidup lagi. Meskipun awalnya saya tidak setuju dengan keputusan ibu saya, pada akhirnya saya mulai mengerti dan menerima keputusannya karena memang tidak mudah menjalani hidup ibu saya selama ini. Saya pun mulai menyayangi susunan keluarga baru saya. 

Masa SMP

Saya pun berhasil menyelesaikan SD dengan baik meskipun sempat bingung akan melanjutkan ke SMP mana. Saat itu saya sudah tes dan diterima di program RSBI SMPN 19 Jakarta, tetapi saya juga tes di SMPN 4 Tangerang Selatan. Akhirnya saya tidak mengambil SMPN 19 dan melanjutkan di program RSBI SMPN 4 Tangsel dengan pertimbangan jarak sekolah dengan rumah. Awalnya saya pun tidak ingin bersekolah di kedua SMP tersebut karena faktor ‘teman’.  Hanya 4 orang teman sesama SD saya yang melanjutkan ke SMP 4, beruntunglah saya karena salah satunya adalah Annisa Rahma Putriana, teman dekat saya sejak SD. Masa awal SMP saya terbilang berat karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat baru. Hal yang paling saya ingat adalah saya hampir dilabrak kakak kelas saya karena jarang senyum dan muka saya judes. Tetapi saya tidak jadi dilabrak karena alasannya tidak jelas dan malah berkenalan dengan kakak-kakak tersebut, bahkan menjadi dekat hingga sekarang. Di masa SMP saya aktif menjadi pengurus OSIS yang pernah menjabat sebagai bendahara II dan sekretaris umum. Disamping itu sepanjang SMP saya masih sering mengikuti lomba,bahkan lebih sering dibanding SD, karena saya memang menyukainya. Meskipun begitu lomba yang saya ikuti berbeda dari SD. Saya pernah menjadi juara 1 english debate,speech, dan berapa lomba lainnya.
Science Camp 2009 di Surabaya
Saat kelas 8 saya terlalu asyik dengan teman-teman saya, lomba,kegiatan non akademik, serta banyak mencoba hal baru seperti les biola.  Keasyikan tersebut mengakibatkan prestasi akademik saya di kelas menurun untuk pertama kalinya sejak SD. Akhirnya saya kembali fokus dan memperbaiki nilai-nilai saya tanpa meninggalkan keasyikan saya tersebut. Usaha saya akhirnya terbayar dan sayapun berhasil juara 1 siswa berprestasi putri tingkat kabupaten dan provinsi. Tetapi saya tidak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya karena sudah duduk di bangku kelas 9. Saya pun berhasil lulus SMP dengan nilai dan NEM yang cukup memuaskan yaitu 37,80. Sangat berat rasanya meninggalkan SMP karena sudah terlanjur dekat dengan teman-teman yang sangat klop dengan saya,apalagi SMA yang saya tuju bukanlah SMA tujuan mayoritas teman-teman saya.


Setelah Syuting Short Movie
Teman sekelas bertahun-tahun
Saat buka bersama Secration26 
Wisuda Kelulusan

Masa SMA

Lari pagi terakhir kls X bersama Ozzy dan Dissa
Lagi-lagi saya bingung harus melanjutkan sekolah dimana. Awalnya saya berencana untuk bersekolah di SMAN 28 Jakarta atau di SMAN 2 Tangerang Selatan bersama teman-teman saya lainnya, tetapi orang tua saya menyarankan saya untuk tes di SMA Labschool Kebayoran terlebih dahulu. Saya sama sekali tidak berniat untuk tes disana karena saya sudah memiliki SMA tujuan. Namun berkat beberapa teman dekat saya, saya pun mendaftarkan diri di SMA Labschool Kebayoran pada hari terakhir pendaftaran. Saya memang tidak berniat masuk SMA Labschool tetapi saat saya dinyatakan diterima saya menjadi bimbang mau bersekolah disitu atau tidak, padahal orangtua saya sangat mendukung. Pada akhirnya atas bujukan orangtua dan teman terdekat, saya memutuskan untuk bersekolah di SMA Labschool Kebayoran dan kembali memasuki lingkungan yang sangat baru. 

Sarcil, teman pertama MOS :')
Masa awal SMA sangatlah berat karena saya harus bangun sangat pagi, menghadapi kegiatan ala Labschool yang sangat baru bagi saya dan harus menjadi orang baru di sekeliling orang yang mayoritas sudah saling mengenal. Kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang saya hadapi sangatlah mengejutkan. Peraturannya,lari pagi, kakak-kakak OSIS yang sangat tegas dan hukuman-hukuman yang berlaku membuat saya shock dan sempat menyesal bersekolah disini. Namun perlahan penyesalan dan ketakutan itupun hilang.

Galavia,Avi, Farina dan saya
Pada awalnya saya hanya mengenal Maulana Ainul Yaqin, teman dekat saya dari awal SMP dan Dissa Cahya Setyati, teman yang saya kenal karena sama-sama bertempat tinggal di BSD dan bernasib sama dengan saya di SMA baru ini. Saya pun mecoba berbaur dan ternyata teman-teman baru disini tidak kalah asyik nya dengan teman-teman saya sebelumnya. Saya merasa beruntung masuk di kelas XD, karena teman-teman nya sangat membantu saya beradaptasi dengan budaya Labschool meskipun jujur saya sangat kaget dengan program akademiknya.  Saya harus sering sekali mengikuti remedial untuk menuntaskan nilai-nilai saya yang berantakan padahal kegiatan non akademiknya pun berentet, namun saya pun jadi menikmatinya.

Kelompok TO; Akang, Helmi, Niken, Annisa, Farah, Nadhiv, dan Bagus
Kegiatan di SMA Labschool sangatlah beragam,seru, dan bermakna.Setelah MOS ada kegiatan pesantren kilat ramadhan (PILAR), dimana seluruh siswa diberi masukan mengenai Agama Islam, selanjunya ada Pra Trip Observasi (Pra TO) dan Trip Observasi (TO) . Di pra TO angkatan saya yaitu angkatan 11 akhirnya memiliki nama Dasa Eka Cakra Bhayangkara atau Dasecakra yang berarti angkatan 11 yang menjadi roda penyeimbang dan dipilih pula ketua angkatan yaitu Bayu, Maga, dan Abon. Setelah pra TO saya dan Dasecakra menjalani TO, kegiatan dimana kami tinggal dan hidup di desa, dirumah penduduk Desa Parakan Ceuri dan menjalani kehidupan layaknya penduduk setempat disana. Selain belajar menjalani kehidupan mereka kami pun membuat penelitian tentang warga Parakan Ceuri, menampilkan pentas seni, menjaga vendel dan menjalani kegiatan-kegiatan seru lainnya.

Setelah TO ada pula kegiatan Bina Mental dan Kepemimpinan siswa atau disebut BINTAMA dimana seluruh siswa kelas X harus menjalani keseharian layaknya KOPASSUS selama 6 hari di grup 1 KOPASSUS yang terletak di Serang,Banten. Kami dituntut untuk disiplin, kompak, berani, dan mampu mempertahankan diri.

Skylite 2012

Selain itu di sepanjang kelas X saya mulai belajar dan terlibat dalam acara-acara SMA Labschool Kebayoran sebagai panitia,misalnya pada acara Skybattle dan Skyavenue. Saya juga mendapat kesempatan menjadi pemain di Skylite, sebuah drama musikal yang melibatkan seluruh siswa SMA Labschool Kebayoran.

Cinta Skylite


& partner(s) & kakak-kakak
Setelah melihat kinerja kakak-kakak OSIS dan mulai belajar terlibat di kepanitiaan, saya terdorong untuk menjadi pengurus OSIS di SMA Labschool Kebayoran. Mulanya saya sangat tertarik menjadi seksi kesenian karena pekerjaannya mengasyikan dan bidang yang ditangani sangat dekat dengan saya. Sampai BINTAMA, saya masih bertekad menjadi seksi kesenian, namun seiring waktu saya merasa ada posisi lain yang sebenarnya saya lebih inginkan dan sukai yaitu ketua bidang. Setelah menjalani LAPINSI yaitu latihan kepemimpinan siswa dan Tes Potensi Organisasi (TPO) alhamdulillah saya berhasil lolos menjadi calon pengurus OSIS (CAPSIS) dan Alhamdulillah dipercaya menjadi ketua bidang 2 di OSIS.Untuk pelantikannya, seluruh CAPSIS harus mengikuti LALINJU, yaitu lari sejauh kurang lebih 17 km sebelum serah terima jabatan.

Baru sampai Lalinju & Ninis



Lalinju 2012 & anak-anak


Kedepannya, saya berharap bisa menjalankan semua tugas saya dengan baik, secara akademik maupun non akademik, sehingga dapat membanggakan orangtua saya. Di perjalanan menuju 17 tahun kehidupan, saya sudah menyusun berbagai impian untuk masa depan saya dan saya harap Allah dapat menunjukkan jalan yang terbaik jadi saya.

<3 Moza Denis Ales

Tiga generasi :)
Mulai akur lagi sama Dio 0:)



1 komentar:

  1. Sebenernya............ Aku tiap malem Kesini...... Kenapa ga ada foto aku...... jadi aku tu sebenernya apa..... Jujur.... Aku masi sayang kamuu #np semua tentang kita - peterpan -Anonymous (vito)

    BalasHapus