Minggu, 02 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Nadya Luthfiyah


"16 Tahun Kehidupan Penuh Makna"

Segala sesuatunya pasti memiliki permulaan. Sebuah bintang yang biasa kita lihat di langit malam awalnya terbentuk di dalam awan molekul yang kemudian mengalami beberapa proses hingga menjadi besar dan terang seperti sekarang. Binatang, tumbuhan, hal-hal lainnya, serta manusia pun juga mempunyai permulaan. Misalnya seorang pengusaha sukses di umur 25 tahun, ia pun mempunyai pengalaman dan kisah hidup—tahun-tahun yang ia lewati sedari kecil, segala sesuatu yang ia lakukan, usaha-usaha yang ia perbuat—semua itulah yang menjadikannya seperti sekarang. Saya pun tentunya juga melewati tahun-tahun dan tahapan-tahapan yang membentuk diri saya yang sekarang ini.

Saya ketika baru lahir 
Cukuran ketika Aqiqah

 Saya lahir ke dunia ini pada tanggal 25 April 1996 sebagai anak perempuan kedua dari ibu saya yang bernama Tati Febriyanti, dan bapak saya yang bernama Andiral Purnomo, dengan nama Nadya Luthfiyah. Saya lahir dengan selamat di Rumah Sakit Pondok dengan berat 3, 06 kg dan panjang 49 cm. “Nadya sejak kecil sudah sering sakit, bahkan waktu bayi pun Nadya sudah dirawat,” jelas Ibu saya tentang kondisi saya. Alhamdulillah saya masih merupakan bayi sehat yang normal dan memulai belajar berjalan seperti bayi-bayi lainnya, yaitu di umur  7 tahun.

Saya ketika berumur 9 bulan
Saat ulang tahun kakak saya yang ke tiga

Masa TK
Ketika kecil, saya tinggal di Cipulir dan bersekolah di TK Az-Zahra. Tidak seperti anak-anak lainnya, saya melewati masa KB saya karena saya sempat menangis ingin segera masuk TK. 

Saya bersama kakak saya
“Nadya sayang banget sama kak Putri waktu itu, jadi Nadya ngambek dan merengek minta untuk sekelas  dengan kak Putri yang waktu itu sudah TK duluan,” jelas Ibu saya sambil tertawa. Tetapi sayangnya, kakak saya saat itu sudah berada di TKB, sedangkan saya hanya berhasil meloncat satu kelas ke TKA. Tidak hanya itu, saya pun juga terpaksa harus mengulangi jenjang TKA agar setara dengan murid-murid lainnya.
Memang dari kecil saya sudah akrab dengan kakak perempuan saya yang bernama panjang Annisah Aninditya Rahma Putri ini. Umur kami hanya berbeda dua tahun sehingga kami dapat bermain seperti layaknya teman seumur. Seperti kakak beradik lainnya pun, kami juga sering bertengkar, bahkan kadang-kadang tetangga sebelah rumah kami harus ikut datang melerai bila Ibu dan Bapak saya sedang tidak ada di rumah.
“Pernah juga loh, aku masukin Aya ke dalam kardus sewaktu kecil,” ujar kakak saya. Menurut Ibu saya, walaupun kakak saya itu adalah anak yang tegar sedari kecil, begitu aku lahir, ia pun sempat merasa cemburu dan pada akhirnya memasukkanku yang masih kecil ke dalam kardus.
Di TK, saya mempunyai banyak sekali teman dekat, karena sewaktu kecil saya merupakan anak yang ceria dan berterus terang. Sahabat dekat saya saat itu bernama Faidzah yang merupakan anak yang pendiam tetapi baik hati dan menyenangkan. Entah kenapa, walaupun masa TK adalah masa yang kita alami terjauh dari sekarang, tetapi saya masih dapat mengingat banyak hal tentang diri saya ketika itu. Ketika teman laki-laki saya memakan mesis coklat di meja dan diteriaki satu kelas karena dikira kotoran cicak misalnya, ketika saya membawa minyak kayu putih dan menjatuhkan semua isinya ke lantai dan berakhir mengelap semuanya dengan rok saya karena takut, sehingga saya merasa kepanasan sampai pulang sekolah, semua kejadian yang aneh, memalukan, tetapi berkesan itu menempel lekat di otak saya. Bagi saya, masa TK merupakan salah satu masa yang berharga, karena masa kecil itulah yang membentuk karakter kita ketika besar.
Saat TK
Sewaktu kecil saya juga sempat ikut TPA Masjid bersama kakak saya di Masjid dekat rumah. Setiap hari, sehabis sepulang sekolah kami pergi ke TPA Masjid untuk belajar mengaji. Karena ada cukup banyak anak juga yang ikut TPA Masjid itu, saya menjadi mendapat teman-teman baru. Di halaman Masjid terdapat banyak pedagang yang berjualan berbagai makanan dan mainan untuk murid-murid TPA yang mau pulang. Kakak saya biasanya membelikan saya dan dirinya sendiri jajanan sebelum pulang ke rumah. TPA Masjid sangatlah menyenangkan, tetapi sebenarnya saya mempunyai kenangan buruk dengan salah satu pedagang di halaman Masjid, yang kejadiannya selalu saya ingat sampai sekarang.
 Ketika itu saya kira-kira masih berumur 4 atau 5 tahun, karena masih begitu kecil, semua uang jajan Ayah dan Ibu dititipkan ke kakak saya. Suatu hari, kami datang lebih awal dari biasanya. Saya dan kakak saya pun berpisah untuk melihat-lihat dagangan di halaman Masjid. Seluruh perhatian saya pun tertangkap oleh dagangan seorang pedagang yang tidak lain merupakan sebuah balon berisi sabun dan balon lainnya yang dapat bergerak naik dan turun—ya, seperti mainan yang biasa kita lihat di pinggir jalan saat ini—aku pun mengambil satu untuk dilihat, tetapi tidak sengaja saya memecahkannya hingga seluruh air sabunnya keluar. Sejak saat itu, setiap saya pergi ke TPA Masjid, saya tidak berani melirik  ke arah pedagang balon tersebut.

Masa SD
Pada tahun 2002 saya masuk ke SD yang sama dengan kakak saya yaitu SD An-Nisaa. Karena keluarga saya pindah rumah ke Bintaro sebelumnya, jarak antara rumah saya dengan sekolah saya ini tidaklah jauh, melainkan sangatlah dekat sehingga saya tidak harus bangun terlalu pagi. Setiap pagi saya dan kakak saya diantar ke sekolah dengan mobil oleh orang tua saya, dan pulangnya kami ikut antar jemput sekolah. Berbeda dengan ketika waktu TK, saya menjadi anak yang pemalu saat SD. Saya tidak banyak bicara ataupun bertanya kecuali jika dibutuhkan. Guru saya pun sering menulis di kolom komentar pada rapor tentang hal ini. 
Bersama kakak dan adik saya saat saya berumur 9 tahun
Bersama sepupu saya

Awalnya saya berteman akrab dengan Inta. Dia juga merupakan anak yang pendiam, tetapi bila ia sudah dekat dengan seseorang, maka ia akan sangat terbuka dengan orang itu. Biasanya saya dan Inta bermain dengan Thaya, seorang anak yang ceria, bersemangat, dan tomboy. Kami bertiga suka bermain di taman sekolah setiap waktu istirahat. Tetapi ketika kelas 3, Thaya berada di kelas yang berbeda dengan kita berdua dan mulai jarang bermain bersama. Saya bersahabat dengan Inta cukup lama, dari kelas satu hingga kelas empat kami terus bersama, hingga di kelas lima kita masuk ke kelas yang berbeda. Tentunya kami masih berteman, tetapi ketika itu saya lebih dekat dengan Uthie, karena kami sama-sama menyukai game. Di semester dua kelas lima, saya mulai dekat dengan teman sekelas saya Vania, yang kemudian hari menjadi sahabat terdekat saya sampai sekarang. 
Di kelas 6 saya juga mulai bersahabat dengan Nabilah atau yang saya dan Vania panggil “Kura”. Di kelas enam ini untuk pertama kalinya saya menganggap penting ujian. Selama ini, dari kelas satu hingga kelas lima, saya jarang sekali belajar untuk ujian. Tetapi karena di tahun itu guru-guru memberikan banyak penyuluhan, peringatan, dan motivasi terhadap kami, pada akhirnya saya mulai membuka mata saya untuk mulai belajar. Di kelas enam ini pula saya mulai merasa murid-murid semakin intensif dalam belajar, setiap harinya di semester dua kami mengikuti pengayaan yang dibagi di beberapa kelas. Kami mendapat kartu dukungan dari adik-adik kelas kami, dan kami pun mendapat banyak dukungan juga dari guru-guru dan orang tua kami. Pada saat itu pertama kalinya saya merasa ujian itu sedikit berat, karena di kelas enam, murid-murid harus melewati begitu banyak tes untuk lulus, termasuk ujian praktek. Waktu itu ketika saya sedang ujian praktek di hari kedua (kalau tidak salah), saya mendapat giliran ujian praktek sains yang terakhir, dan begitu saya selesai, saya langsung dipanggil teman saya untuk ujian praktek musik yang pertama, sehingga saya tidak mendapat waktu latihan tambahan. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang memuaskan. Saya pun masuk ke sepuluh besar nilai UN terbaik. Mulai dari saat itulah saya mulai menaruh perhatian kepada ujian dan nilai saya. 

Wisuda SD
Wisuda SD bersama kelas 6S

Masa SMP
Setelah itu saya pun melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu jenjang SMP. Saya meneruskan pendidikan saya ke sekolah menengah pertama An-Nisaa, yang merupakan SMP lanjutan dari SD saya sebelumnya. Sebagian besar dari murid SMP terdiri dari murid yang berasal dari SD An-Nisaa, tetapi ada juga murid-murid yang berasal dari sekolah luar. Kedua sahabat saya pun juga masuk SMP ini sehingga kita bertiga tetap bersama selama SMP.

Upacara bendera di kantor pemerintah Tangsel
Masa SMP ini adalah masa yang berharga. Di masa SMP lah kita mulai berubah dari seorang anak kecil menjadi seorang remaja. Di masa SMP pula kita mulai mempunyai banyak masalah karena ketidakstabilan emosi yang disebabkan karena diri kita yang masih berkembang menuju dewasa.
Di SMP, saya berteman dekat dengan Rina, Herfa, Rinda, dan sahabat-sahabat saya. Dari kelas satu SMP hingga kelas tiga SMP, saya selalu mendapat kelas yang sama dengan Rina. Kita berdua pun bersama-sama ikut OSIS, dan sering kali masuk ke kelompok yang sama ketika ada kegiatan. Inilah yang mendekatkan kami berdua hingga saat ini. Sedangkan untuk Rinda dan Herfa, pada awalnya mereka berdua adalah teman sekelas Vania di kelas tujuh. Setelah banyak mengobrol, kami pun menjadi dekat.
Di akhir-akhir masa SMP ini untuk pertama kalinya saya merasa kehilangan. Ketika perpisahan SD, saya tidak terlalu emosional karena saya tahu saya akan tetap pergi ke sekolah yang sama dengan teman-teman yang sebagiannya hampir sama pula. Tetapi dalam situasi ini berbeda, saya akan berpisah dengan teman-teman saya yang sudah sangat dekat dengan saya. Saya harus berpisah dengan sekolah tercinta yang sudah mendampingi saya selama 9 tahun hidup saya. Rasanya tidak ingin saya berpisah dengan semua itu.
Hari wisuda pun datang. Saya dan teman-teman saya masuk ke hall sekolah yang sudah dihias sedemikian rupa dengan wajah berseri-seri. Untuk yang perempuan menggunakan kebaya, sedangkan yang laki-laki menggunakan jas. Kami bersama-sama menjalani setiap kegiatannya hingga saat pengumuman kelulusan tiba. Ketika diumumkan bahwa semuanya lulus seratus persen, wajah kami terhiasi oleh senyum yang mengembang.
Saya pun lulus dari SMP An-nisaa, berpisah dengan teman-teman, berpisah dengan guru-guru-guru yang disayangi, berpisah dengan sekolah An-nisaa tercinta. Dan pada akhirnya saya pun masuk ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu SMA. 

Bersama Zevendeversa
Foto bersama sekolah An-Nisaa dengan JJS (Jakarta Japanese School)

Masa SMA
Untuk jenjang SMA, saya memilih untuk masuk ke SMA Labschool Kebayoran atau yang biasa disebut dengan Labsky. Karena jarak rumah saya dengan sekolah tergolong cukup jauh, setiap harinya saya harus bangun pagi agar tidak telat masuk sekolah. Karena jarak yang tidak terlalu efektif itu pula, saya setiap harinya sampai ke rumah  pada sore hari yang kadang menjelang maghrib atau lebih karena terjebak macet. Walaupun pada awalnya saya sempat kewalahan karena jadwal saya yang tiba-tiba memadat, Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa cukup beradaptasi dengan kehidupan di Labschool. Saya pun berharap agar saya dapat menjalani kehidupan saya di sini dengan lancar hingga saya lulus nanti.

Saat Umroh, di bandara      
Malam perpisahan XE
Lebaran 2012


1 komentar:

  1. "Segala sesuatu memiliki permulaan," Nadya menulis pada awal catatan. Dan tulisan ini pasti akan menjadi permulaan bagi kesuksesan-kesuksesan yang akan dicapai Nadya kelak.

    Meski sepertinya masa SD, SMP, dan SMA dilalui seperti air mengalir, tapi boleh jadi ini merupakan permulaan dari sesuatu yang besar kelak.
    Semoga....

    BalasHapus