Kamis, 20 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Nadia Rahmadiani Nugrahadi


15 Tahun yang Tak Terlupakan

Masa Balita

            Nama saya Nadia Rahmadiani Nugrahadi. Saya lahir di Rumah Sakit Bunda di daerah Menteng, Jakarta, Indonesia, pada tanggal 28 Juni 1997. Saya adalah putri yang tertukar, dengan putra. Beginilah kisahnya, menurut cerita dari bapak dan ibu saya; Saat itu merupakan hari yang ke-2 setelah saya lahir di dunia. seperti bayi biasanya, saya disimpan bersama belasan bayi lainnya di sebuah kamar kaca dimana saya bisa beristirahat, namun masih bisa dilihat oleh pengunjung. Saat itu sudah masuk waktu dimana saya boleh dibawa ke kamar rawat inap ibu saya. Bapak saya pun pergi ke ruang kaca untuk membawa saya ke ruangan ibu. Namun saat melihat melalui kaca, hatinya berhenti. Saya tidak ada. Ia pun segera mendatangi suster yang sedang bertanggung jawab. Kebingungan, suster itu tidak bisa menjawab. Ia segera menanyakan kepada suster lain namun tidak ada yang bisa menjawab. Satu suster mengatakan bahwa satu-satunya bayi yang keluar dari kamar kaca tersebut adalah seorang laki-laki asal Makassar. Bapakku yang sudah mulai naik darah menyuruh suster untuk memeriksa lagi. Suster pun terus memeriksa dan ternyata anak laki-laki yang tadi dikatakan oleh suster satunya dibawa ke ibunya masih ada di kamar kaca. Lalu siapa tadi anak yang dibawa oleh suster ke kamar ibunya? Orangtua saya segera pergi ke kamar ibunya tersebut. Dan ternyata benar, saya sedang ditimang oleh ibu dari anak laki-laki tersebut. Kelegaan dirasakan oleh orangtua saya, namun hal itu juga membuat mereka tambah emosi. Mungkin dapat di maklumi apabila saya tertukar dengan perempuan lain (walaupun ini juga keterlaluan), tetapi dengan laki-laki? Selimut perempuan dan laki-laki saja jauh berbeda, perempuan berwarna merah muda sedangkan laki-laki berwarna biru. Dan bukankah di tempat tidur bayi terdapat nama bayinya? Bapak dari anak laki-laki tersebut pun ikut marah kepada suster dan isterinya, "Masa anak sendiri tidak kenal?". Bapak saya sangat marah kepada suster yang tadi salah membawa saya. Ia melaporkannya kepada kepala Rumah Sakit Bunda dan suster itu oleh ketuanya dipecat. Kalau dipikir-pikir sekarang, sangat klise dimana saat saya baru berusia 2 hari, saya telah membuat seseorang kehilangan pekerjaannya dan merusak reputasinya. Kini saya merasa bersalah. Tetapi saya juga tidak bisa membayangkan apabila bapak saya tidak menyadari saya hilang dan saya jadinya dibesarkan menjadi anak Makassar. 


Masa anak-anak saya penuh dengan tangisan. Saya selalu takut bertemu orang baru, dan saya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk merasa aman dan nyaman untuk berada di suatu tempat, sehingga hampir setiap pagi sebelum pergi ke playgroup saya, yaitu Cikal, saya selalu menangis. Saya adalah orang yang sangat terpengaruh dengan apa yang saya tonton. Dulu saya menonton E.T. Sebuah film tentang makhluk ekstraterestial. Sejak itu, saya selalu waswas dengan orang baru. Saya selalu berkata pada diri sendiri untuk berhati-hati karena mungkin saja itu E.T. yang sedang menyamar. Lalu saya diceritai mengenai iblis yang bisa merubah diri menjadi bentuk apapun. Dan sejak itu pula, ketika saya melihat orang baru, saya akan mengira mereka adalah jelmaan dari iblis. Saya ingat suatu hari saya sedang membantu ibu memasak di dapur tiba-tiba terlintas di pikiran saya akan kemungkinan bahwa ibu saya sendiri merupakan jelmaan dari iblis. Mengingatnya kembali sekarang, bisa dibilang saya merupakan anak kecil yang aneh, tetapi dulu saya benar-benar mempercayainya. Namun apabila sudah lama mengenal seseorang, saya akan melekat padanya bagaikan lem. Sahabat saya saat saya bersekolah di Cikal adalah Chacha. Sampai sekarang pun kita masih berteman baik. 

            Saat saya berumur 4 tahun, bapak saya melanjutkan kuliahnya ke Australia, sehingga kami sekeluarga pun pindak ke sana. Saya melanjutkan playgroup di Pooh! sedangkan kakak saya bersekolah di Rainbow Street Public School, sebuah sekolah yang terdapat didekat apartemen kami. Saay saya pindah kesana, saya sama sekali tidak mengeri bahasa Inggris, namun karena setiap hari berhadapan dengan orang yang berbicara inggris, saya pun terbiasa dan mulai mengertinya. Playgroup di Pooh! sangat menyenangkan. Kerja kami hanyalah bermain, makan, dan tidur. Saya ingat sekali kami selalu makan fish fingers, yaitu ikan yang di goreng dengan tepung sehingga menyerupai chicken nugget. Sifat saya yang suka menangis sampai saat itu masih belum berhenti, sehingga sebuah pagi tanpa tangisan selalu dipuji oleh guru-guru disana. Setelah lulus dari Pooh! saya mengikuti kakak saya untuk bersekolah di Rainbow Street Public School. Semacam TK tetapi disana disebutnya kindergarten, dan hanya berlangsung selama setahun. Pada hari pertama, saya sangat grogi karena orangtua tidak dipersilahkan masuk ke dalam. Keterbatasan bahasa saya membuat guru bingung ketika saya bilang saya menginginkan spidol. Karena guru tidak juga mengerti, saya akhirnya diam saja dan melanjutkan mewarnai dengan krayon. Mungkin itu yang membuat saya menjadi anak pendiam hingga sekarang. Saya dulu berusaha mengatakan apa yang saya inginkan tapi tidak ada yang mengerti. Namun seiring waktu berjalan, kemampuan bahasa inggris saya terus meningkat sehingga saya dapat mulai berteman dengan banyak orang. Kelas saya berisi anak-anak dari berbagai ras, dan latar belakang sehingga teman-teman saya pun berasal dari beragam tempat. Sahabat saya, Melissa merupakan keturunan dari keluarga Bangladesh. Saya juga berteman dengan Felicity, Caitlin, dan Siobhan. Mereka asli anak Australia. Lalu ada Amy, anak Australia yang merupakan keturunan dari keluarga Cina. Lalu Leslie, seorang anak Afrika-Australia. Ada pula anak dari Indonesia, namanya Laetitia, dipanggil Tisha. Ia juga sangat dekat dengan saya. Sampai saat ini kami masih saling berhubungan. 
            Disana, kakak kelas dan adik kelas tidak terlalu dibedakan, hanya dianggap seperti beda kelas saja, tidak beda angkatan. Jadi saya juga dekat dengan kakak kelas saya, namanya Cara. Kami sering bermain ke rumah masing.masing.
           Hidup saya di Sydney sangat menyenangkan. Untuk ke sekolah, saya hanya perlu berjalan 5 menit. Apartemen kami terdiri dari sebuah dapur, ruang makan yang bersambung dengan ruang TV, satu kamar mandi, dan dua buah kamar. Apartemen itu bisa dibilang kecil sehingga saya harus sekamar dengan kakak saya. Namun kami sangat senang tinggal disana. Balkin kecil kami digunakan untuk menumbuhkan mawar-mawar yang dibeli di Sunday Market, sebuah pasar yang diadakan setiap Minggu dimana dijual berbagai barang bekas. Karena berada di wilayah asing, sekalinya bertemu dengan sesama orang Indonesia dan sesama orang beragama islam, kita langsung menjadi teman baik. 
           Hal lain yang sangat saya ingat dari Australia adalah tahun barunya. Sore-sore, aku dan keluargaku bersama beribu orang lainnya akan berbondong-bondong ke Sydney Harbor, membawa tenda, tiker, dan makanan. Kami akan duduk disana sampai malam hari dimana ada pertunjukan kembang api yang sangat indah. 
           Saat saya berumur 6 tahun, orangtua saya mengatakan bahwa kita harus kembali ke Indonesia karena kuliah orangtua saya sudah selesai. Karena masih kecil, saya tidak mengerti bahwa kita akan kembali ke Indonesia selamanya, dan bukan hanya mengunjungi Indonesia. Tetapi perasaan sedih tetap saja muncul. Saya harus berpisah dengan banyak sekali teman-teman baik dari sekolah maupun dari tempat ngaji saya. Saya harus berpisah dengan Sydney dengan pantainya yang begitu indah. Kita pindah subuh-subuh. Udara masih sangat dingin. Namun teman-teman terdekat kami sudah berkumpul di apartemen untuk mengucapkan selamat tinggal. Saya diberi boneka oleh sahabat saya dan kami pun berangkat ke airport. Kuingat diriku membalas lambaian sahabatku, tanda perpisahan.
 Saya saat berumur 6 bulan
 Saya (kiri) bersama kakak saya (kanan) saat saya berumur 1 tahun.
 Saya di kamar saya di Australia saat berumur 4 tahun. Tempat tidur saya yang di bawah.
 Saya duduk di daerah Canberra, Australia saat berumur 5 tahun
 Saya bersama ibu, bapak, dan kakak di rumah kakek saya saat berusia 2 tahun
Bersama ibu saya di Australia saat umur saya 4 tahun

Masa SD
           
          Saat saya kembali ke Jakarta, sekolah masih libur. Saya bahkan belum mendapatkan sekolah. Saya pun ikut bersama bapak saya dan kakak saya untuk mencari sekolah. Kebetulan saudara saya bersekolah di Madania, dan ia berkata bahwa sekolah itu cocok bagi kita karena Madania bertaraf internasional sehingga menggunakan banyak bahasa inggris dalam proses pembelajarannya. Dengan itu, saya akan dengan mudah beradaptasi disana. Bapakku pun setuju dan saya serta kakakku dimasukkan kesana. Kakakku yang tadinya baru setengah tahun belajar di kelas empat langsung naik ke kelas lima. Namun karena saya (seperti biasa) menangis saat ‘kelas percobaan’ jadi saya harus mengulang kelas satu. Madania sangat jauh dari rumahku karena Madania berada di Parung, Bogor sedangkan rumah saya berada di Jakarta Selatan. Setiap pagi saya harus naik school bus selama satu setengah jam ke sekolah. Namun semuanya terbayarkan. Saya sangat bahagia di Madania, walaupun keahlian guru bahasa inggris disana tidak selihai guru di Australia (tentunya). Namun fasilitas disana sangat memadai. Ada dua lapangan bola, dua lapangan basket, satu area playground, satu lapangan baseball, MPH yang berisi tiga lapangan tenis, dan dua buah kolam renang; satu yang besar dan satu kolam yang cetek.
          Kelas tiga merupakan tahun dimana saya menjadi sangat tertarik dengan olahraga. Saya sangat senang berenang dan bermain bola sehingga dilibatkan dalam perlombaan berenang dan masuk ke tim bola. Namun seiring waktu saya mulai minder karena perempuan di tim bola kami hanya berdua sehingga saya pun akhirnya mengeluarkan diri.
          Saat kelas lima, saya melakukan hal yang tidak saya banggakan, yaitu membully seseorang. Tiap hari saya dan teman-teman saya meledeknya, mengucilkannya, dan menyembunyikan barang-barangnya. Sampa-sampai saya dipanggil oleh semacam guru BK dan di ajak berbicara. Saat itu saya belum menyadari kesalahan saya, sehingga saya belum meminta maaf kepada orang tersebut. Tapi kini saya menyadarinya, namun saying, saya sudah tidak tahu anak itu kemana.
          Kelas enam merupakan saat-saat dimana saya tidak takut untuk mengutarakan suara saya. Waktu itu saya membuat petisi untuk merubah makanan kantin yang ada di sekolah kami karena makanannya terlampau mahal dan tidak bersih. Sebuah masalah yang mungkin dianggap tidak terlalu penting sekarang. Namun petisi saya ditandatangani oleh dua ratusan orang, dan saat saya member petisi itu kepada kepala sekolah, petisi itu disetujui. Saya sangat senang karena suara kami bisa didengar, walaupun masalah sepele seperti itu.
 Saya membacakan hasil karya tulis saya di depan kelas saat berada di kelas 2 SD
 Saya sedang makan, umur saya saat itu 6 tahun
 Foto kelas saat saya berada di kelas 3 di SBI Madania
Masa SMP
          Setelah lulus SD saya memutuskan untuk mendaftar ke SMP Labschool Kebayoran. Alhamdulilah saya keterima dan mendapat undangan untuk masuk program akselerasi. Awalnya saya sangat ragu, malahan tidak mau karena saya tidak yakin saya mampu untuk menyempitkan 3 tahun pembelajaran menjadi 2 tahun. Dan dahulu saya membayangkan anak aksel hanya terdiri dari kutu buku yang tidak bisa bersosialisasi, dan saya tidak ingin mempunyai teman-teman seperti itu. Namun orangtua saya tetap memaksakan saya untuk ikut tes. Kalah argumen, saya pun mengikuti tes. Saat dikatakan lulus, saya disuruh masuk oleh orangtua saya, tetapi saya ingin menolak karena itu saya mendatangi guru BK. Ternyata, saat memasuki ruang BK untuk mengatakan keberatan untuk masuk akselerasi, sudah terdapat dua orang yang tengah menangis, Dita dan Erin, yang di kemudian harinya akan menjadi salah satu teman terbaik saya. Ternyata mereka merasakan hal yang sama, mereka sama sekali tidak ingin masuk akselerasi. Mendengar obrolan mereka, ternyata guru BK-nya menyatakan bahwa apabila anda keterima di aksel, anda tidak boleh menolaknya. Malas berargumen, akhirnya saya mencoba saja masuk ke kelas akselerasi. Saat saya memasuki ruang akselerasi, semuanya sudah berkumpul. Seorang guru memperkenalkan dirinya dan menyatakan bahwa dirinya yang akan membimbing kita selama satu tahun kedepan sebagai wali kelas. Selama guru tersebut berbicara, saya melihat ke sekeliling dan langsung murung. First impression saya adalah mereka semua merupakan anak-anak pintar dan kurang bergaul. Ternyata, setelah berminggu-minggu lewat dan saya mulai mengenal semuanya, kami menjadi seperti keluarga. Bukan berarti kami terhindar dari konflik. Hampir setiap hari ada ‘drama’ sampai-sampai saat kami mau lulus, saya menuliskan semua kejadian-kejadian atau konflik yang pernah kita lalui dan ternyata berjumlah lebih dari tujuh puluh. Mulai dari dituduh merusak barang, disuruh mengecat meja kelas karena banyak coretannya, memusuhi satu orang selama berminggu-minggu, dikatakan sebagai kelas terburuk sepanjang akselerasi hingga membuat guru menangis pernah kita lalui. Mungkin karena itulah kita menjadi sangat dekat, bagaikan adik kakak. Yang membuat saya sangat kaget adalah terkadang mereka berpikiran persis sama dengan pikiran saya. Orang-orang yang tadinya kukira akan membosankan ternyata menjadi teman-teman terbaik yang pernah saya miliki. Karena itu saat kami harus berpisah, kami sangat sedih.
Saya bersama kelas saya di SMP sedang berjalan-jalan ke Bandung
Masa SMA

          Masa SMA bisa dibilang masa yang sangat menyenangkan. Kebebasan yang telah diberi oleh orangtua merupakan faktor yang menunjang kesenangan kita. Kelas sepuluh saya, XE, merupakan kelas yang sangat saya sayangi. Kita yang awalnya tidak terlalu kompak menjadi kelas yang kompak sekali. Saya mendapatkan teman-teman yang sangat menyenangkan. Saya terpilih menjadi anggota OSIS Amarasandhya Batarasena, bidang kesenian. Saya baru menjalani setengah dari kehidupan di SMA namun dapat dikatakan masa-masa SMA merupakan masa yang tidak akan terlupakan. 
 Saya bersama teman-teman kelas 10 saya saat perpisahan di Tanjung Lesung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar