Kamis, 20 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Nadhira Melati Putri

15 Tahun Hidup Bersama Dunia dan Seisinya

          Semuanya berawal pada hari Minggu, tanggal 13 Oktober, tahun 1996. Saya lahir dengan keadaan sehat dan normal,di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Saya pun diberi nama Nadhira Melati Putri, dan memiliki nama panggilan ACI. Untuk nama panjang saya,  “Nadhira” berasal dari bahasa arab yang artinya “yang selalu memperhatikan”, “Melati” berasal dari bunga melati karena kebetulan sudah merupakan bagian dari kebiasaan atau tradisi keluarga saya untuk menamai nama anak perempuan dengan nama bunga, dan terakhir “Putri” karena diharapkan saya dapat bersikap layaknya seorang putri yang cerdas, bijaksana, dan sopan serta memiliki budi pekerti luhur. Orang tua saya sangat senang saat saya lahir, karena mereka harus menunggu 5 tahun setelah menikah baru akhirnya diizinkan Tuhan untuk mendapatkan anak. Ibu saya, Fiera Devie Riza, berhenti bekerja setelah melahirkan saya, dan sampai sekarang pun akhirnya masih tetap menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan ayah saya, Aviandy Sukarto, beliau adalah seorang dokter spesialis penerbangan tetapi sekarang praktek menjadi dokter umum. Tetapi ternyata saya bukanlah tipe anak yang mudah diurus, saya sakit-sakitan, paling sering adalah infeksi saluran pencernaan karena memang dari dulu saya sangat susah makan. Saya memang jarang menangis, tetapi jika disuruh untuk makan sangat jarang saya tidak menangis. Itulah mengapa saya sangat sering sakit.
          Seiring dengan berjalannya waktu saya pun masuk sekolah. Pada tahun 1999, untuk pertama kalinya saya bergabung di kelompok bermain kecil / KB kecil di “Tumble Tots”. Karena saya sangan introvert dan sangat pendiam, saya sempat diduga memiliki keterbelakangan mental oleh guru saya. Orangtua saya pun marah besar mendengar hal tersebut, dan langsung membawa saya ke psikolog untuk memastikan apakah yang dikatakan guru saya benar atau tidak. Untungnya kebenaran dapat ditegakkan, saya sama sekali tidak memiliki hal semacam “keterbelakangan mental” tersebut. Tetapi di "tumble tots" saya berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Raihan (panggilannya sekarang adalah "peci", yang sampai sekarang menjadi sahabat saya. Kemudian, pada tahun 2000 saya melanjutkan ke tingkat kelompok bermain besar / KB besar di    An-Nisaa’ Bintaro Jaya. Saya masih ingat waktu itu saya berada di kelas “KB-5”. Peristiwa yang paling saya ingat adalah, jadi di An-Nisaa’ setiap pulang sekolah, setiap tangan anak akan dicap dengan tulisan seperti  “subhanallah” “alhamdulillah” “astaghfirullah” sesuai dengan perilaku anak tersebut dikelas selama satu hari tersebut, agar orangtua juga bisa memantau kondisi anaknya. Dan saya merupakan tipe anak ambisius dari kecil, saya selalu diam di kelas dan menyelesaikan tugas saya dengan baik agar mendapat cap “subhanallah” setiap pulang, pernah sekali waktu guru saya mengerjai saya, saya diberi cap “astaghfirullah” dan saya pun ketakutan untuk pulang karena takut dimarahi dan berakhir dengan tidak mau keluar kelas sampai akhirnya guru saya menelfon orangtua saya untuk menjelaskan semuanya dan meminta maaf. Oiya, di tahun ini juga saya sempat mengalami trauma bila ada yang mau menggandong,jadi ceritanya begini... Saat saya sedang di anyer bersama mama dan papa, karena saya mengantuk ya namanya juga anak kecil, saya minta digendong oleh ayah saya, jadi saat saya sudah bersiap siap loncat ke pundak ayah saya, tiba tiba ayah saya dipanggil ibu saya dan refleksnya mau menghampiri ibu saya dan langsung berjalan meninggalkan mobil tetapi dia lupa bahwa saya saat itu mau loncat ke punggungnya, saya yang sudah terlanjur lompat pun tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah, saya pun terjun bebas dari mobil dan jatuh ke aspal yang waktu itu sedang panas panasnya terkena terik matahari. Yang membuat saya kesal adalah ayah saya sama sekali tidak merasa bersalah dan malah mentertawakan saya, ibu saya pun bersikap sama, saya pun hanya bisa diam meratapi rasa sakit dan kemudian menangis sekencang-kencangnya karena kesakitan, kesal, dan malu. Sejak kecil saya memang sudah punya rasa gengsi yang cukup tinggi untuk ukuran anak kecil. Saya ingat dihari itu saya memakai topi pantai yang dirajut berwarna putih, karena sampai sekarang saya masih menyimpan topi itu untuk kengang-kenangan dan mengingat kejadian tersebut yang kata ibu saya merupakan kompilasi kebodohan saya dan ayah saya. Kemudian berlanjut pada tahun 2001, saya pun memasuki kelas TKA dan pada tahun 2002 memasuki TKB. Di tahun tahun ini saya mulai aktif di bidang ekstrakulikuler. Saya mengikuti 2 ekskul, modern dance dan paduan suara. Waktu itu tarian yang paling saya suka adalah tarian yang bertemakan “Batman”, karena bajunya dan gerakannya sama sama keren menurut saya waktu itu, bajunya hitam dengan sayap seperti burung berwarna silver ditambah dengan topeng setengah muka berwarna silver juga, dan saya selalu berkhayal menjadi “Batgirl” saat sedang memakai baju itu. Sedangkan untuk tempat kursus, pada masa itu saya baru mengikuti les “kumon” yang merupakan tempat les matematika sekaligus tempat les yang paling saya sukai karena dulu matematika merupakan pelajaran yang paling sangat saya sukai. Setiap tahunnya saya selalu menjadi siswi teladan di angkatan dan bila ada acara acara seperti pesantren saya selalu menjadi siswi terbaik.                                                                                                                                
                                                                                                                                                                                             
          Pada tahun 2003, saya kembali memasuki tahap kehidupan baru yang selanjutnya, yaitu saya masuk sekolah dasar (An-Nisaa’ Bintaro Jaya). Saya waktu itu belajar di kelas 1-F, seingat saya nama wali kelasnya bu Faras Mentari. Pada tahun itu, ada semacam festival budaya internasional di sekolah saya, kelas saya kedapatan negara Filipina. Saya ingat sekali waktu itu saya tampil menari tarian filipina, dengan baju gaya khas filipina berwarna kuning dan pasangan menari saya bernama Keith Adebamas Nasution. Lalu tahun depannya saya naik ke kelas 2, tepatnya kelas 2-D, di kelas 2 saya punya pengalaman menarik dengan teman saya dari sekolah Jakarta Japanese School / JJS. Jadi begini ceritanya, sekolah an-nisaa’ setiap tahunnya pasti melakukan kunjungan ke sekolah jakarta japanese school dan bahkan terkadang mereka juga mengunjungi an-nisaa. Kejadiannya adalah, saat itu saya punya sahabat bernama Hanna, saat kami sedang berkunjung ke JJS dia bilang dia “naksir” sama seseorang tapi dia tidak tau namanya, yasudah saya hanya bisa “ciee ciee”. Lalu saat di akhir kunjungan, acara terakhirnya adalah bertukar surat kepada teman yang menurut kita berkesan, saya mendapat surat dari salah seorang murid JJS yang menurut saya ganteng bernama Sohei, ya saya sangat ingat namanya. Dan ternyata di dalam surat itu dia menulis “saya suka dengan kamu” yang belakangan waktu (setelah kejadian ini) setelah saya pikir-pikir saya tau maksudnya “saya suka berteman dengan kamu” ya karena semua surat isinya sama, mereka hanya menyalin apa yang ada di papan tulisnya mungkin dia lupa kalau ada yang belum tertulis.Ya karena saya senang saya teriak teriak waktu di bis menuju jalan pulang ke an-nisaa’, tapi ada yang aneh, saat saya liat ke hanna dia malah jutek ke arah saya. Dan ternyata saat saya tanya kenapa dia marah, masalahnya adalah orang yang dia suka adalah orang yang memberi surat ke saya. Ya ampun ternya se simpel itu masalahnya, tapi buat hanna itu tidak simpel karena dia benar benar suka sama sohei si orang jepang itu, tapi setelah beberapa hari dia berhenti marah karena akhirnya dia malu sendiri. Masalah pun selesai. Cerita tersebut tidak hanya sekedar cerita, mulai dari saat itu saya jadi mengerti dengan apa yang biasa disebut “Suka suka-an”. Saya yang tadinya polos pun mulai tercemar dengan hal “cinta” dan “perasaan”. Dan yang tidak terlupa pula, di kelas 2 ini saya memulai “karier” saya di bidang kursus tambahan / les. Setiap harinya saya selalu les, senin saya les matematika kumon, selasa saya les mengaji, rabu saya les kumon matematika plus bahasa inggris, kamis saya les piano di yamaha, jumat saya les bahasa inggris, sabtu saya les berenang. Lalu pada tahun 2005, saya pun naik ke kelas 3, yaitu di kelas 3-A. Tahun ini merupakan tahun terberat saya di SD selain dikelas 6. Pada tahun ini, hari-hari saya penuh dengan masalah pertemanan,saya dapat dikatakan bermusuhan dengan seorang teman saya selama 1 setengah semester, ya memang itu bukan waktu yang sebentar, tapi harus dijalani kan tentunya. Dulu saya pendiam dan sekalinya saya sudah tidak sabar saya dapat mengeluarkan kata-kata yang kata orang “pelan tapi menusuk”. Hal itu dibuktikan dengan saya beberapa kali membuat teman saya yang saya musuhi itu menangis, sedangkan saya tidak pernah 1 kali pun dibuat nangis oleh dia. Di kelas 3 juga, saya untuk pertama kalinya merasakan mendapat nilai 7 di ulangan IPA, tepatnya 76. Rasanya saya mau menangis karena merasa gagal dan kesal dengan diri sendiri. Dan saya pun sangat takut untuk pulang karena takut dimarahi, padahal kenyataannya tidak ada yang memarahi saya sama sekali. Hal tersebut membuat saya terpacu untuk semakin berprestasi, sehingga rangking 1 dari kelas 1 sampai kelas 3 pun saya raih per tahunnya. Tahun selanjutnya, tahun 2006, saya naik kelas 4, ke kelas 4-A. Di kelas 4 saya tidak punya pengalaman yang sangat berkesan, tapi menurut saya kelaas 4 adalah tahun dimana saya merasa bahwa hidup saya sangat mudah di tahun itu, baik secara akademis maupun secara pertemanan, tahun itu saya bebas dari pertengkaran atau permusuhan dengan teman, sungguh tahun yang menyenangkan bagi saya. Lalu saya kembali naik kelas pada tahun 2007, saya naik ke kelas 5, tepatnya di kelas 5-Y. Tahun itu saya mulai mengikuti konser / recital piano. Mengikuti recital piano merupakan pengalaman yang menarik untuk saya, karena selain harus menghafal lagu yang panjang, saya juga merasa senang karena sejak saat itu setiap tahunnya saya harus membuat baju untuk konser dan saya sangat senang jika saya mempunyai baju keren yang hanya ada 1 di dunia karena memang dari mulai bahannya, desainnya, ukurannya semua saya yang menentukan dan memilih, karena itulah recital piano setiap tahunnya selalu saya tunggu-tunggu. Karena, semenjak saat itu, setiap recital piano saya selalu mendapat penghargaan best performance, dan selain saya mendapat piala saya juga mendapatkan kenang kenangan berupa baju konser yang lucu-lucu. Dan masa masa akhir di sekolah dasar pun tiba, saya akhirnya naik ke kelas 6 pada tahun 2008. Satu tahun di kelas 6 penuh dengan belajar, belajar dan belajar. Dari mulai les tambahan hingga pengayaan tambahan di sekolah saya jalani hampir setiap harinya. Sampai tiba saatnya dimana saya jatuh sakit yang menyebabkan saya harus meninggalkan hal yang paling saya sukai pada saat itu, yaitu berenang. Saya pun gagal mengikuti kompetisi renang yang rencananya akan saya ikuti, padahal dari kelas 2 sampai saat itu saya berlatih keras tiap minggunya agar bisa ikut perlombaan tersebut, tapi tuhan berkata lain, apa boleh buat saya vacuum berenang untuk sementara waktu dan pada akhirnya diperbolehkan berenang kembali tetapi tetap tidak bisa sesering sebelumnya. Hal tersebut saya jadikan pacuan untuk berprestasi di bidang lain, yaitu bidang akademis, dengan usaha dan kerja keras saya, gelar “lulusan terbaik putri” dan rangking 1 pun kembali saya raih. Nilai ujian nasional saya pun cukup baik, nilai sempurna untuk pelajaran matematika, 9,75 untuk ipa, dan 92 untuk bahasa indonesia. Semua rasa letih atas jerih payah selama setahun pun terbayar sudah. Ditambah lagi dengan saya berhasil masuk ke sekolah yang saya inginkan dengan peringkat yang baik, saat tes masuk smp labschool kebayoran, berdasarkan informasi yang saya dengar, saya mendapat peringkat ke-2.

          Pada tahun 2009 saya memasuki masa SMP. Kebetulan saya bersekolah di SMP Labschool Kebayoran yang memiliki program akselerasi dan saya pun masuk di program tersebut. Awalnya saya masuk di kelas reguler selama kurang lebih satu bulan, tepatnya di kelas 7C. Saya berkenalan dengan banyak teman baru dari berbagai sekolah, dan sejak itu saya mulai berubah, dari yang tadinya sangat pendiam menjadi sangat berisik. Saat sedang seru-serunya memiliki teman baru saya harus pindah ke kelas akselerasi, awalnya saya ragu-ragu, tetapi setelah berdiskusi dengan orangtua akhirnya saya mengambil undangan akselerasi tersebut. Saat di akselerasi, saya sempat khawatir tidak akan memiliki teman karena harus bergabung dengan kakak kelas, dan ternyata kondisinya sangat jauh dari yang saya bayangkan. Secara akademis tidak sesulit yang dibayangkan dan secara pertemanan angkatan diatas saya sangat terbuka dan mau menerima kami (kelas akselerasi) dengan baik. Namun selama di akselerasi saya mendapat hadiah baru daru Tuhan, akibat beban akademis yang berat, saya pun menjadi terlalu banyak pikiran dan akhirnya hal tersebut menyebabkan saya mengidap penyakit epilepsi. Hari itu sangat tidak terlupakan bagi saya, banyak hal yang berubah sejak saat itu, saya tidak bisa beraktivitas seaktif biasanya. Saya tidak boleh terlalu letih, tidak boleh terlalu tegang, dan banyak hal yang biasanya saya lakukan tetapi menjadi tidak boleh karena hal tersebut dapat membuat saya kambuh dan akhirnya kembali jatuh sakit. Sejak saat itu orangtua saya sangat berhati-hati terhadap semua ktivitas yang saya lakukan, karena saat SMP saya 2 kali terkena serangan epilepsi yang menyebabkan saya tidak bisa sekolah selama beberapa hari dan akhirnya mengganggu prestasi akademis saya. Tapi, hal tersebut tidak saya jadikan alasan untuk bersantai-santai dan tidak bekerja keras, buktinya adalah saya tetap dapat berada di program akselerasi sampai lulus dan lulus dengan hasil memuaskan serta menghasilkan karya tulis yang berkualitas yang telah diuji dan dikoreksi oleh ahlinya. Saya juga dapat masuk ke SMA Labschool Kebayoran dengan jalur khusus, yaitu jalur tanpa tes. Dengan nilai yang memasuki kriteria saya berhasil menembus tes seleksi/screening jalur undangan dengan mudah. Dan sekarang saya pun berada di SMA setelah berhasil lulus dengan baik dari SMP Labschool Kebayoran bersama angkatan Scavolendra Talvoreight.

          Sekarang saya belajar di SMA Labschool Kebayoran, bersama angkatan saya Dasa Eka Cakra Bhayangkara / Dasecakra. Berhubung limit karakter maksimal telah saya capai, saya hanya bisa bercerita singkat bahwa selama di SMA saya sudah melewati banyak program, dari mulai MOS, Pilar, Pra TO, Trip Observasi, Lapinsi, hingga penjurusan. Sekian cerita saya, seorang murid kelas 11 jurusan IPS, kelas 11 IPS 3, yang berumur 15 tahun, Nadhira Melati Putri. Dibawah akan saya lampirkan foto foto saya..

                                                Masih bayi... (maaf foto terlalu terang)


                                                              Umur 2 tahun setengah

                                                                Ulang tahun yang ke-3


                                                                Ulang tahun yang ke-4


                                        KB Besar (sedang field trip, Kanan : Adry, Kiri : Lupa)


                                           Masih TKA (tk kecil) sudah punya mobil, hehehe...


                                        Masa-masa TKB (tk besar) bersama Daka (adik)


                                                                  Baru masuk kelas 1


                                               Kelas 2 (Baju garis-garis paling depan)


                                                Kelas 3(kerudung putih, baris pertama)


                                        Recital tahun 2007 (kerudung pink paling depan)
                              

                                                    Kelas 5 (kerudung putih baris kedua)


                                                      Kelas 6 (kiri : Ify, tengah : Dinda)


                                             Farewell Party SMP (kiri : nadia, kanan : ghina k.)


                             Kelas 10 (bersama tasbel,kujp,zaren,rani,zayyan,ridha,kanya,ajeng,dahlia)


                                            Kelas 11 (kiri ke kanan : emil, kanya, aci, bianca)






 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar