Sabtu, 22 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Nabil Argya Yusuf

Ringkasan 16 Tahun Kehidupan 
  
Pada tanggal 17 Desember 1995, tepatnya hari Minggu, pukul 17.45 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Seorang ibu yang kebetulan pada hari itu juga bertambah usia menjadi 32, dikaruniai ‘hadiah’ ulang tahun yang amat istimewa: seorang bayi laki-laki yang terlahir sehat dengan berat 3,3 kg dan panjang 49 cm. Saya adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, kakak perempuan saya bernama Marsha Anggita Yusuf, lahir 21 November, 1991. Kami dibesarkan oleh orang tua kami. Ketika saya lahir ayah saya, Lutfi Yusuf berkerja sebagai manajer keuangan, ibu saya, Reny Destri juga karyawan di perusahaan keuangan yang berbeda. Keduanya berasal dari keluarga berketurunan Minang.
Keluarga dari pihak ayah

Selama 40 hari saya tidak memiliki panggilan, itu dikarenakan orang tua saya terlalu labil dalam menentukan nama. Banyak sekali masukan-masukan yang beragam dari keluarga saya. Kakek dari ayah saya mengusulkan nama Argya, orang tua saya sangat menyukainya, tetapi mereka tidak kalah senang dengan usulan oleh kakek dari ibu saya. Sayangnya, beliau meninggal tak lama setelah saya lahir, oleh karena itu orang tua saya memutuskan untuk memakai nama yang beliau usulkan sebagai nama pertama. Akhirnya, saya mempunyai nama. Nama yang memiliki arti sederhana, yaitu orang berbudi baik. Nama saya adalah Nabil Argya Yusuf. 

Keluarga dari pihak ibu
“Uwo sanang bana katiko Nabil lahir, karano anak Uwo limo perempuan sadonyo. Alhamdulillah kini dapet cucu laki-laki”
-          Sufni, nenek

Masa Balita-TK
Ketika saya baru lahir keluarga kami tinggal di Pamulang, Tanggerang Selatan. Namun saya hanya beberapa bulan menetap disitu. Keluarga saya pindah ke Depok. Tidak banyak yang saya ingat dalam masa ini, yang masih ada di kepala saya adalah bahwa dulu saya sering sekali dititipkan di rumah nenek dari pihak ayah, dan kebetulan om saya dan istrinya masih tinggal disitu. Maklum, pada masa itu kedua orang tua saya sangat sibuk. Saya senang sekali setiap bersama Om saya, yang lebih akrab saya panggil Pa’dang. Dulu berjam-jam saya bermain dengan Pa’dang, dia juga banyak mengasah rasa ingin tahu saya. Saya juga dekat dengan istrinya Pa'dang yang saya panggil tante Wis. Bahkan, saking seringnya saya ikut ke kantornya tante Wis, banyak yang menyangka saya anaknya sendiri. Saya bahagia sekali pada masa itu. Terutama karena saya belum mengenal yang namanya sekolah.

“Nabil waktu kecil selalu diem aja. Ga pernah nangis. Jarang bermain dengan anak-anak lain, tapi nurut, dan rajin bertanya”
-          Reny Destri, ibu

Kedua orang tua saya mengenang bahwa saya dulu sangat berbeda dengan kakak saya yang lincah dan cerewet. Dulu saya adalah bocah yang sangat tenang dan pendiem, saya jarang bergaul dengan anak-anak lain. Saya paling suka menghabiskan waktu sendiri dengan menggambar atau bermain game.

Ibu saya pernah bercerita bahwa dulu saya tidak bisa dibilang bandel, tapi sering seenaknya jalan sendiri. Pernah ketika kami sedang menetap di sebuah hotel saat berlibur. Ibu saya panik karena pada jam 10 malam, saya yang umurnya baru 4 tahun tiba-tiba menghilang dari kamar hotel kami.  Sekeluarga pun lekas mencari-cari saya di semua sudut hotel, mereka pun sempat melaporkan ke petugas-petugas di hotel tersebut. Anehnya, saya ditermukan oleh seorang satpam di mall yang terletak disebelah hotel kami.
Ultah ke 4

Dulu saya sangat gemar menggambar. Saya bisa menghambiskan puluhan kertas hanya dalam satu hari hanya untuk menggambar. Saya juga sangat senang bermain game dan berenang. Saya dulu sempat rajin les berenang, ayah saya sangat gigih melatih saya agar mahir berenang seperti dia dulu.

Ketika saya berumur 5 tahun, orang tua saya mendaftarkan saya di TK Mini Pak Kasur. Disanalah saya mulai belajar membaca dan menulis. Saya masih sedikit ingat dengan tempat ini. Dulu tempatnya sangat luas tapi tidak banyak mainan, hanya ada satu jungkat jungkit dan perosotan. Saya ingat dulu seragamnya, baju kuning dan celana coklat. Saya juga inget bahwa dulu ada 3 tahap atau kelas di TK Mini: Parkit, Ketilang, dan yang terakhir, Cendrawasih. 

Satu pengalaman yang paling saya ingat di masa ini adalah ketika saya mengikuti sebuah lomba memakai pakaian adat yang diadakan dalam rangka memperingati hari Kartini. Saya memakai baju tradisional dari Sumatra Barat, sesuai dengan keturunan saya. Pada awalnya saya sangat gugup ketika harus memperlihatkan bajunya didepan juri dan orang banyak, tetapi akhirnya saya berhasil mendapat juara 4.

Bersama sepupu-sepupu
Sepertinya dari kecil saya sudah kurang senang dengan sekolah. Ibu saya berkenan bahwa dulu saya susah sekali dibangunin pagi buat sekolah. Memang saya dulu merasa tidak nyaman dengan anak-anak lain. Saya lebih suka dirumah, atau bermain di rumah Pa’dang. Saya inget waktu TK saya paling akrab dengan teman sekelas bernama Vino. Saya tidak ingat persis apa saja yang kita lakukan dulu, yang jelas Vino adalah teman pertama saya diluar sepupu-sepupu. Dulu saudara-saudara saya adalah juga sahabat saya. Hampir setiap hari saya bermain ke rumah nenek dari ibu saya di jalan Siaga Raya untuk bermain dengan sepupu-sepupu saya Ayul, Naufal, Kamil, Agra dan lain-lain. Kami dulu sangat dekat. Bahkan mereka sering ikut dengan keluarga saya berlibur keluar kota.

Masa SD

Pada tahun 2001, kami sekeluarga pindah ke rumah yang sampai sekarang kami menetap. Tepatnya di Pejaten, Jakarta Selatan. Saya baru lulus TK, dan karena itu tante Wis memberikan hadiah, seekor bayi anjing jantan yang saya namakan Bravo. Alhamdullilah masih sehat sampai sekarang.

Orang tua saya mendaftarkan saya di sekolah yang sama dengan kakak saya: Al-Azhar Syifa Budi di Kemang, Jakarta Selatan. Saya pada awalnya sangat kagum dengan sekolah ini, terutama karena ukurannya yang jauh lebih besar dari TK saya. Al-Azhar Syifa Budi Kemang, yang juga sering disebut "Azka" memiliki 2 gedung yang masing-masing memiliki 4 lantai, kedua gedung ini dihubungkan dengan jembatan. Satu gedung buat murid-murid SMP dan SMA, yang satu lagi buat SD. Disana ada 2 lapangan, satu berada di lantai paling atas gedung SMP/SMA yang digunakan untuk basket dan futsal. Satu lagi ada dibawah didekat gerbang masuk sekolah, terletak persis dibawah jembatan. Kita juga melaksanakan upacara dan pensi di lapangan tersebut. 

Kelas 6D
Periode SD pada awalnya bagi saya tidak jauh berbeda dengan TK. Saya tetap banyak bermain. Banyak santai, banyak tidur. Saya tidak kaget sama sekali dengan yang namanya PR dan tugas, karena saya dulu adalah anak yang pintar. Namun sama seperti TK, saya merasa tidak nyaman bersama anak-anak lain, pada awalnya saya sering menyendiri. Beruntung pada akhirnya saya berhasil memiliki teman-teman yang lucu, baik dan menyenangkan. Banyak dari mereka seperti Dhanez, Reanu, Amir, Wicak, Aa, Rean dan banyak lagi menjadi sahabat dekat saya sampai sekarang.

Pada masa ini rasa ingin tahu saya memuncak, karena itu saya sangat dekat dengan kakek dari ayah saya. Beliau bagi saya adalah orang yang saya kagumi. Dulu dari SD saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam berbicara dengan beliau. Beliau adalah orang yang pengetahuannya sangat luas, maklum, beliau dulu adalah wartawan serta pimpinan redaksi di sebuah surat kabar ternama di tahun 1960an. Hal yang saya paling kagumi dari nya adalah keahliannya dalam menuturkan kata ketika membahas hal serumit apapun agar saya dapat mencernanya. Serta dalam usia tuanya, rasa ingin tahunya tetap ada dan otaknya tetap tajam, tidak pikun. Beliau adalah panutan saya dan orang yang paling membentuk karakter, pandangan, serta cara berpikir saya.

 Ketika saya berumur 8 tahun. Saya bersama ibu, kakak, dan tante dari pihak ibu berkunjung ke kampung saya di Payakumbuh, Sumatra barat. Kami mengunjungi rumah nenek kita dulu dan menginap disana. Disana ada sebuah kejadian yang tidak enak untuk dikenang, ketika saya sedang berenang di kolam hotel tempat kita meninap, saya tidak sengaja menelan air dan itu membuat saya panik. Saya kehilangan fokus dan menjadi susah menjaga keseimbangan. Saya nyaris tenggelam tetapi untungnya ada petugas hotel yang menolong saya. Saya menjadi trauma berenang, dan saya diberhentikan les oleh orang tua.

Di sekolah dasar saya baru mengenal dengan pelajaran. Walaupun saya tidak pernah juara kelas tetapi alhamdullilah nilai-nilai saya cukup baik.  Saya ingat dulu saya paling suka dengan pelajaraan bahasa Inggris dan IPA, terutama ketika membahas dunia fauna. Saya sangat tertarik dengan dunia fauna dulu, saya sering menonton program TV yang membahas hewan-hewan dan orang tua memberi saya banyak buku-buku mengenai dunia fauna.

Saat kelas 6 SD, saya melewati UASBN dengan nilai yang lumayan bagus. Saya mencoba mendaftarkan diri ke SMP idaman saya yaitu Labschool Kebayoran, tetapi gagal. Saya sedikit kecewa tetapi tidak terlalu sedih karena saya tau masih ada kesempatan lagi di SMA, dan sebenarnya saya juga belum siap meninggalkan sekolah saya.

Perpisahan SD
Masa SMP

Setelah kegagalan saya untuk mencapai sekolah idaman, saya kembali meneruskan pendidikan saya di sekolah yang sama yaitu Al-Azhar Syifa Budi Kemang. Saya menjadi anggota angkatan Azka 23. Masa SMP bagi saya adalah masa  paling menyenangkan, serta puncak kemalasan saya. Memang, menurut saya kedua hal itu berbanding lurus.

Bersama teman-teman SMP
Saya tidak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri sama sekali di SMP. Apalagi karena semua sahabat-sahabat saya masih tetap di Azka. Yang berbeda adalah saya harus pindah ke gedung SMP, meskipun sedikit lebih kecil dan agak gelap, tidak apa-apa. Saya ditempatkan di kelas 7.1 bersama beberapa sahabat saya dari SD  dan ada juga anak baru yang sekarang menjadi sahabat dekat bernama Farhan.

Pada awal kelas 7 saya sempat menjadi anggota OSIS. Namun karena saya kurang aktif, jabatan saya hanya beberapa bulan saja. Kadang saya suka menyesali sikap saya yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah, dan saya bertekat untuk berubah di SMA. Tidak banyak hal yang terjadi di kelas 7, maklum kita masih mencoba menyesuaikan diri dengan pelajaraan yang sedikit lebih berat. 

Saat liburan kenaikan kelas, kami sekeluarga dapat berlibur ke Eropa selama sebulan, akhirnya. Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang paling melekat di kepala saya adalah di kota mana pun, pasti ditata dengan baik. Transportasi sangat mudah. Metropolitan seperti London meskipun padat tetapi teratur dan bersih. Warganya juga sangat ramah. Pernah ada satu pria yang mau membantu kita ketika kami kebingungan mencari jalan, padahal kami tidak minta pertolongannya.  Saya juga kagum bahwa kota seperti Paris dapat merpertahankan unsur seni dan budayanya, tetapi tetap tidak kalah dalam modernisasi global.

Pada tahun 2009, banyak sekali perubahan yang terjadi di hidup saya. Om saya, Pa'dang bersama keluarganya pindah ke Jeddah. Kakak saya juga setelah lulus dari Labschool Kebayoraan meneruskan pendidikannya di Melbourne, Australia.  Saya akui rumah agak sepi sejak dia pergi, sudah tidak ada yang  berantem sama saya. Kakek saya juga, di umur 81 meninggal dunia. Keluarga tentu sangat sedih dengan kepergiannya terutama saya dan kakak saya. Sejak dia meninggal, kami mulai lebih sering menggunakan ejaan nama belakang kami seperti nama almarhum, yaitu Joesoef.


Saya bersama keluarga Vlasveld
Bulan Oktober 2009, saya alhamdulilah dipilih oleh sekolah untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Kilmore, sebuah kota kecil tidak jauh dari Melbourne, Australia. Saya berangkat kesana bersama 12 orang lain termasuk teman dekat saya Wicak, kita juga ditemani dengan guru georgrafi saya yaitu Bu Djum. Disana saya bersama adek kelas bernama Bowo tinggal dengan keluarga angkat atau host family yang terdiri dari Andrew Vlasveld, istrinya Elise, dan 4 anaknya. Pada awalnya saya tentunya sangat canggung, saya merasa gugup dan grogi ketika mencoba berkomunikasi dengan mereka. Namun semua dicairkan dengan keramahtamahan mereka. Kepala keluarganya Andrew, sangat sabar dengan bahasa Inggris saya yang kurang lancar, sehingga saya nyaman berbincang dengannya.
(ki-ka) Bowo, Saya, Lachlan, Millie, Hannah, James

Istrinya Elise rela menyiapkan nasi untuk kita. Saya juga senang dengan anak-anaknya. Mereka sangat baik dalam menerima saya. Saya suka berbicara dengan anak sulungnya yang sebaya dengan saya yaitu James Vlasveld, ia memiliki selera humor yang unik. Kedua anaknya yang masih SD, Lachlan dan Hannah juga menyenangkan untuk diajak bermain, saya ingat lucunya waktu mereka mencoba belajar bahasa Indonesia dengan saya. Anak bungsunya bernama Millie masih berumur 3 tahun ketika saya disana karena itu saya kurang akrab. Saya sangat senang bila kami membahas tentang perbedaan negara kami dengan negara mereka. Ketika disana kami setiap hari mengunjungi Kilmore International School, disanalah saya bisa ngerasakan lingkungan sekolah diluar negri. Disana juga ada estrakurikuler bahasa Indonesia, pengalaman yang menarik ketika saya membantu murid-murid Australia belajar bahasa saya. Selain itu kami juga mengunjungi tempat-tempat menarik seperti Victoria Zoo, Rocky Mountain,Victoria Market, sungai Yarra dan Melbourne Musum.
Belanegara 2010
Oktober 2010, sekolah mewajibkan kami untuk menginap dua malam di markas Kostrad, Karawang. Hal-hal yang kami lalui disana pada dasarnya tidak beda jauh dengan Bintama.

Bali
Sejak hari pertama di kelas 9, ada satu hal yang saya tekadkan ke diri saya, yaitu mendapat SMA idaman saya, dan alhamdullilah usaha saya terbayar: Saya menjadi murid Labschool Kebayoran. Saya juga lulus UAN dengan nilai yang saya tidak duga-duga. Saya berhasil mendapat urutan 12 tertinggi di sekolah. Saya sangat senang dengan dua pencapaian ini namun kelas 9 buat saya juga ada sedihnya karena saya harus meninggalkan teman-teman saya di Azka. 

Setelah UAN, teman-teman saya mengadakan dua acara sebagai tanda perpisahan. Pertama, saya dan sekitar 15 orang lainnya berkunjung ke Bali. Kami mengindap 5 hari, 4 malam disana. Setelah itu ada acara Prom Night yang diikuti oleh seangkatan Azka 2011. Wisuda dilaksanakan pada bulan Mei 2011, yang diikuti oleh acara pentas seni yang dilaksanakan oleh kami sendiri. Pada saat wisuda saya sedih karena harus berpisah tapi saya juga senang karena setelah itu saya bebas selama 3 bulan.
(ki-ka) Hasya, Dhanez, Amir, saya, Marvel, Ayip, Reanu

Masa SMA

Bila masa SMP monoton dan santai, masa SMA persis sebaliknya. Sama seperti murid lain, saya sangat kaget dengan kesibukan Labsky. 3 bulan pertama saya di SMA saya terpaksa remed lebih banyak dari 9 tahun di sekolah saya yang dulu. Belum lagi dengan kegiatan-kegiatannya seperti Mos, TO, Bintama yang sepertinya saya tidak perlu ceritakan lagi. 

Pada awalnya saya sangat menyesali dengan pilihan saya untuk bersekolah di Labsky, saya merasa sangat tidak cocok disana. Tetapi semua perasaan ini hilang ketika saya mulai akrab dengan kelas saya yaitu XA. Di kelas tersebut orang-orangnya sangat menyenangkan dan baik.

XA bersama Pak Yusuf
 "Kelak kamu harus memilih jalan yang kamu tempuh dalam hidup. Tidak masalah apapun jadinya kamu di masa depan nanti. Tetapi jangan lupa, berusahalah untuk menolong sesama, dan jangan pernah puas dengan ilmu mu"

- Joesoef Isak, kakek



Meskipun saya sering mengucapkan hal-hal yang negatif tentang sekolah, saya harus mengakui bahwa sekolah ini berpengaruh dalam pembentukan karakter saya. Saya juga menyadari bahwa santai-santai mungkin enak, tapi justru hal-hal yang menantang seperti apa yang saya lalui akhir-akhir ini lah yang dapat membawa saya selangkah lebih dekat untuk menjadi orang yang membanggakan keluarga, dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya percaya, kelak saya akan menuai apa yang saya tanam.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar