Kamis, 27 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Muhammad Arkandiptyo (Bag. 4/9)



"16 Tahun Kehidupan Yang Menumbuhkan Harapan (Bag. 4/9)"


Rasa Kehidupan di antara Anak 40 Bangsa
(2006-2008)
-Masa SD Kelas IV-VI di Pakistan Embassy-International School, Menteng-
Part I/II


Tidak pernah ada yang akan mengira, kalau sebuah rumah sederhana di pojok tikungan Jalan Jambu, didekat Masjid Cut Mutia dan Gedung Pos yang kini menjadi tempat bagi Buddha Bar Jakarta, sejak tahun 2000 menjadi sebuah sekolah untuk segelintir anak-anak; mayoritas diantaranya anak-anak para duta besar dan kanselir dari berbagai negara dunia ketiga, beberapa diantaranya penduduk sekitar rumah itu, dan sisanya orang yang mengetahui tempat itu dari orang yang pernah bersekolah didalamnya.

Institusi itu sendiri telah berdiri untuk lebih dari 40 tahun, sejak tahun 1961. Berpindah beberapa kali sebelum akhirnya berada tepat di seberang Kantor Kelurahan Gondangdia itu.

Cerita bagaimana aku akhirnya terdampar selama dua tahun lebih di sekolah yang jarang terdengar itu namun seakan-akan memiliki pamor karena sandingan nama akhir ‘International School’ alias Sekolah Internasional itu juga membelit.

Setelah ke-pensiun-an ibu dari dunia kerjanya di Cibinong dan berpindahnya latihan caturku dari rumah Pakdhe Yuli nun jauh di Gunung Putri sana sudah tidak ada lagi nampaknya alasan logis mempertahankan menyekolahkan aku di Cibubur nun jauh dari rumah di Pasar Minggu ; belum lagi adanya kenaikan harga & biaya sekolah yang semakin hari semakin membuat ayah dan ibuku, meski tidak keder, selalu terpikir karena standar penghematan mereka yang tinggi.

Di pertengahan Semester I Tahun ajaran 2005/2006 Mas mengatakan kalau saya harus pindah semester depan.
Berbagai nama menjadi bahan masukan teman-teman Mas dan ibu; mulai dari Global Jaya, Al-Izhar, Al-Azhar Pusat / Alpus, Al-Azhar Syifa Budi Kemang, dan masih banyak lagi.

Namun hanya sebab sebuah bisikan kecil dari teman SMA ibu, entah kenapa yang kami serius kejar hanya satu nama itu –
Pakistan Embassy International School Jakarta

Nama yang jauh kalah terkenal dibanding sekolah Internasional rintisan negara tetangganya India yaitu Gandhi Memorial School.

Bahkan dengan nama Al-Falah maupun TK Ar-Rahman masih juga tak tergaungkan namanya ke penjuru Jakarta; orang-orang Indonesia yang sekolah disana juga mayoritas, kalau bukan penduduk daerah Menteng atau diplomat Departemen Luar Negeri yang mendengar nama itu dari teman seperjuangan karirnya, hanyalah segelintir orang yang masih memiliki pertalian darah dengan imigran-imigran India-Pakistan awal tahun 1960an yang menyekolahkan anaknya disana kala itu.

Semua diawali satu pagi cerah ditengah bulan Desember yang harusnya kelabu itu.

Mobil Innova krem pinjaman itu berselancar diatas lautan aspal kokoh jalan-jalan utama kota Jakarta ; tidak seperti apa yang sering aku lakukan 3 tahun sebelumnya, kali ini kami menjelajah menuju Utara, menuju jantung kota Jakarta – kembali persis seperti yang kami sering lakukan ketika masih berumah di Manggarai ; melewati Manggarai membelah Banjir Kanal Barat memasuki daerah Menteng lewat Masjid Sunda Kelapa dan daerah Menteng yang seringkali digaungkan oleh para penggemar teori konspirasi sebagai ‘Jalanan Pentagram Baphomet Batavia’ yang walaupun jalanannya tertata rapi bentuknya namun katanya mengandung unsur-unsur konspiratif-okkultis tentang penyembahan setan & Baphomet; maklum, gedung Bappenas yang berada ditengahnya dahulu kala pada masa penjajahan Belanda sempat menjadi sebuah sinagog besar Yahudi yang bernama “Bintang Timur”.

Melewati Taman Suropati yang rindang dan pagar-pagar tinggi kediaman staf kedutaan berbagai negara dimulai dengan Amerika Serikat persis didepan Taman Suropati jalanan yang tertata rapi itu kemudian mengalami sebuah desendansi, penurunan ketinggian, hingga bertemu saluran air lainnya yang juga merupakan peninggalan kolonial belanda, satu lampu merah dilewati melintasi saluran air itu dan bertemulah kami dengan sebuah putaran air mancur didekat jalan yang menjadi tuan rumah bagi kediaman mantan perempuan RI-1, Megawati Soekarnoputri & juga kediaman duta besar Vietnam.

Di antara rumah-rumah tua yang telah berdiri sejak sekian puluh tahun yang lalu ada sebuah gang kecil yang insignifikan; penuh daun berserakan dan trotoarnya tak terawat, bahkan tanah-tanah yang berada disamping kanan-kirinya hanya dipagari oleh tripleks yang sudah rapuh. Pertanda adanya sepetak tanah liar yang bertuankan sosok-sosok yang tiada lagi menjadi tuan di bidang tanah lainnya; para korban urbanisasi liar Jakarta yang terus dipercepat.

Memasuki gang itu lalu putaran roda dengan sudut -90 derajat itu kembali mengembalikan kami menuju arah Utara, kali ini jalanan yang lebih besar dari gang tadi namun tidak sebesar arteri-arteri Menteng yang kami lewati adalah suguhan bagi gumpalan karet bundar yang berputar menggerakkan mobil ini.

Penuh pohon-pohon rindang yang telah tua; sensitif dengan kehadiran kami yang ditandai oleh terbelahnya udara disekitar menyebabkan daun-daun yang paling tua seketika turun ke tanah perlahan seakan menjadi sebuah ucapan salam dari alam sekitar daerah itu kepada setiap mobil yang melintas cepat.

Pemandangan yang indah.

Dua ratus meter dari belokan tadi, seiring jalanan yang semakin menanjak dengan elevasi yang tidak menyakitkan mesin mobil maka tercapailah ujung jalan itu yang bernama Jalan Jambu. Dari ujung jalan itu kami bisa melihat beton-beton yang terpaku menjadi pasak agar kereta api dapat melintas diatasnya; Stasiun Cikini tak jauh dari tempat kami berada kala itu.

Dan diantara pepohonan yang rindang itu, persis didepan kantor kelurahan Gondangdia yang sederhana, terpatri sebuah gerbang yang dicat hijau dan mengemban sebuah emblem bertuliskan “PEIS”. Dijaga oleh seorang satpam tak berambut, saya dan Mas menapak masuk kedalamnya – ruang kecil tempat para orang tua dapat men-drop anaknya ketika mereka akan memasuki ataupun menyelesaikan satu hari sekolah.

Tempatnya sederhana, seperti rumah dengan kamar & jendela besar yang banyak – melewati daerah depan kami masuk ketengah, bagian Lobby/menunggu kepala sekolah. Disini ada orang lain yang bertemu dengan kami; penjaga sekolah tersebut.

Dengan pakaian coklat selayaknya pegawai negeri ia bertanya kami ingin bertemu dengan siapa.
Mas mengisyaratkan tentang ia ingin bertemu kepala sekolah dan menegosiasikan apakah anaknya dapat menjadi murid baru yang masuk di pertengahan tahun ajaran.
Kamipun diarahkan masuk menuju ruangan sang kepala sekolah; terpampang didalamnya foto-foto tua dengan muka-muka Asia Selatan yang khas; percampuran bangsa Arya & Dravida yang sesungguhnya.

Sebuah meja kerja tua, atau Bureau kata orang-orang Prancis menjadi sebuah alat yang tinggal memisahkan jarak antara kami dan sosok mapan yang aku percaya sudah berkepala lima kala itu.
Namanya Syed Ahmed, kepala sekolah tempat itu.

Setelah beberapa kalimat dan menunjukan fotokopi arsip-arsip semester terakhir di Al-Falah sebuah persetujuan terjadi, aku pun resmi menjadi calon murid di sekolah tersebut. Tak sampai satu jam kami ada disana, hanya sedikit yang dipertanyakan oleh sang kepala sekolah selain profisiensiku dalam bahasa Inggris yang ditandas oleh Mas bahwa aku tentunya sampai tingkatan tertentu pasti bisa berinteraksi lewat bahasa Inggris; dan perkembangannya akan terus belajar dan berkembang….

Setelah itu aku dan Mas menuju ke Soto Betawi di belakang mesjid Cut Nyak Din, menikmati siang yang mendung namun sejuk di tengah belantara Menteng itu dengan dua mangkok hangat campuran daging sapi berbagai bentuk yang direndam dengan kuah santan & susu yang hangat itu.

Hari senin kembali aku mengarah ke selatan, menuju ke Al-Falah untuk menjalani minggu-minggu terakhir disana; entah mengapa sejak saat itu aku melihat keidupan di Al-Falah dengan berbeda, semakin memikirkan tentang teman-temanku dan guru-guruku.

Betapa indahnya kehidupan sederhana di pojok Cibubur itu, mulai dari matahari yang menyambut di kala pagi hingga cangkir-cangkir teh hangat seusai sholat Ashar sebelum kaki menapak keluar gerbang menaiki mobil masing-masing.
Pertama kali aku merasa terlambat mensyukuri sebuah masa.

Aku memang biasanya merasa bahagia di Al-Falah, namun tidak pernah benar-benar merasa mensyukuri dan merasa dapat menggenggam pelajaran positif dibalik kejadian, mulai dari pelajaran yang mulai agak sulit hingga kadang-kadang ada teman yang ngambek.

Mengapa aku baru bisa merasakan dapat melihat arti positif dibalik setiap sesuatu dipenghujung waktu aku berada ditempat itu, di Al-Falah ?
Di hari terakhir setelah berputar seluruh sekolah hingga ujung lapangan bola aku berniat, sejak saat itu untuk terus mencari sebuah sisi positif dibalik segala sesuatu yang datang.

Hanya dua minggu liburan di penghujung tahun, lalu datanglah sebuah semester baru di sekolah baru itu.
Berjalan menuju ruang kelas yang berada diarea tengah, melewati Lobby depan & air mancur ditengah, hingga akhirnya tercapai pula, pintu kayu bercat hijau tua yang bertuliskan “Grade IV” tersebut menyapa mataku.

Dan dibukanya knop pintu tua berwarna hitam logam itu menjadi awal kisahku ditempat itu.

Pengabdian Lima Windu
Menyambut di ruang kelas itu ialah jajaran anak-anak berseragam putih & biru tua panjang selayaknya anak SMP Negeri di Indonesia dan seorang guru berkaca mata yang telah menjadi tua.

Tubuhnya pendek, namun dari raut mukanya ada garis muka dan mata keturunan Tiongkok yang amat tampak jelas, citra keibuan Tiongkok tradisional yang amat sayang dan perhatian kepada anaknya namun penuh dengan disiplin dan padanan nilai yang tidak boleh dilanggar sudah terasa sejak pertama aku melihatnya.
Namanya Mrs. Regina, Maria Regina nama panjangnya.

Persis benar seperti dugaanku, selama semester berikutnya sebagai wali kelas / class teacher kami, ia aku kenal sebagai sesosok tokoh yang memiliki integritas tinggi; penyayang dan penyabar dalam menerangkan pelajaran, namun memiliki rasa disiplin tinggi; keterlambatan adalah intoleransi baginya. Tidak hanya itu saja, masih banyak hal lain yang ia tidak tolerir, mulai dari kejujuran dan tanggung jawab akan tugas… Dan ketika hal itu dilanggar oleh anak-anak didiknya sendiri, tidak segan ia bertindak keras dan langsung seperti ketika aku menyanyi bersama temanku ketika kelas dimulai, langsung kami dikeluarkan.

Pernah suatu ketika temanku bernama Dino, waktu itu rambutnya telah teramat panjang, langsung saja guru kami itu mengambil gunting dan memotongnya setengah, membuat ia sorenya harus memotong rapih rambutnya. Atau ketika temanku Shahab terlambat langsung disuruh berdiri didepan kelas, menunggu hingga ia selesai.
Sebuah rasa disiplin yang tinggi, itulah yang aku pelajari dari beliau.

Kepadaku sendiri awalnya aku sempat takut dan segan padanya, namun ketika ia melihat bakatku dalam menulis & berhitung di kelas Bahasa Inggris & Matematika ia mulai mendekati dan memberi perhatian kepadaku.

Kemudian aku menyadari sisi keibuannya yang penuh kasih sayang, ia ternyata seseorang yang amat bersahaja, bahkan bisa mengajak muridnya sendiri makan dan mengobrol ketika belum dijemput.
Bahkan yang aku salut, ialah orang pertama yang lebih tua dan mengizinkanku berbicara Boso Ngoko, diluar hitungan Ibu & Mas.


Suatu ketika kami bertukar cerita tentang mudik, dan ia mengetahui bahwa aku sering pulang ke Temanggung & Kebumen, ia pun mengajakku berbicara bahasa Jawa saja, namun aku menolak dengan alasan aku baru bisa berbicara Boso Ngoko & Medyo.
“Rapopo…. Kan Arkan masih belajar.”

Dalam selang waktu kurang dari 2 bulan aku telah membangun sebuah hubungan yang penuh respek dan keseganan namun juga memiliki sebuah tingkat keakraban dengannya.

Puncaknya adalah ketika di bulan April Speech Competition/Kompetisi Pidato tahunan sekolah, ia terus  mencoba melihat kemampuanku dan membimbingnya. Diantara beberapa calon lain dari kelasku, akulah yang ia latih tiap pulang sekolah selama 3 hari sebelum kompetisi itu.

Aku mengangkat tema Peranan Guru dalam Pendidikan, karena topiknya adalah mengenai Pendidikan.
Hari Kamis, kompetisi itu berjalanlah, aku mengambil urutan dan mendapat urutan terakhir setelah teman Yamanku, Manil.

Hanya bersenjatakan notes kecil, seperti yang diamanatkan Mrs. Regina, “Don’t bring a speech text, cukup catatan saja for the important points.”
Menuju ke mimbar di tengah aula yang menjadi titik terlihat dari seluruh bagian aula yang lain aku menapak dengan menutup mata sesaat, mencoba untuk mendatangkan hawa kesejukan untuk seluruh bagian tubuh yang akan menunjang performa baikku kali ini.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh.
Honored Principal and staffs, Beloved Teachers and My Dear Friends… Good Morning.
In this great occasion today I would like to remind you all about the important position, our beloved teachers have in educating students like me….”

Pembukaan yang sangat lancar itu seakan menjadi pemicu efek domino hingga akhir, penempatan intonasi dan permainan bahasa tubuh dan mata terus sesuai rencana hingga selesai – walaupun aku lupa sebuah poin yang kemudian aku pikirkan terus ketika berlepas tangan dari mikrofon itu.

Namun itu ternyata bukan sesuatu yang mengganjal; semua bukan sebuah usaha sia-sia setelah tiga hari bersama Mrs. Regina.

Juara pertama dan sebuah medali pembuktiannya, menjadi hasil yang layak dikukuhkan.

Aku meraihnya. Ya. Juara pertama.

Sejak saat itu aku & Mrs. Regina semakin dekat, kadang bahkan diberi kesempatan untuk menjelaskan didepan kelas apalagi tentang soal-soal matematika, ketika beberapa temanku tidak bisa; pengalaman pertamaku mengajar yang kemudian semakin membuatku ingin mengajar – betapa senangnya ketika melihat teman kita menjadi bisa menyimpulkan dan mengerjakan sebuah soal, meskipun kadang harus menghadapi kebawelan mereka.

Aku semakin mengenali juga tentang Mrs. Regina, rupanya ia memang berasal dari sebuah keluarga Tiongkok imigran yang keras, kampungnya ada di Ungaran selatan Semarang, ia pindah ke Jakarta tahun 1950an akhir, menantang kondisi dimana waktu itu sentimen terhadap imigran Cina sangatlah tinggi negativismenya.

Sempat berpindah-pindah pekerjaan sebelum akhirnya menemukan lowongan yang tepat; menjadi guru matematika di sebuah sekolah yang baru dirintis bernama Pakistan Embassy International School itu.
Ya, dia adalah guru yang sejak dulu kala berada disana, hampir 40 tahun kala aku masuk sudah pengabdiannya.

Dia pernah melihat masa-masa baik dibawah seorang kepala sekolah yang merupakan diplomat karir Pakistan yang sempat menjadi ekspatriat di AS sebelum ditugaskan ke Indonesia; itu terjadi di tahun 80an akhir-90an akhir.

Dia terus berniat untuk menjadi guru hingga akhir hidupnya.
Itulah pertama kali aku lihat dedikasi yang tinggi oleh seorang guru; di Al-Falah memang aku sudah mengenal beberapa figur hebat seperti Bu Ratih, Pak Joko & Pak Uri – namun mereka masih sering diserang oleh kondisi keuangan, berbeda, Mrs. Regina walau ternyata sering mengeluh tentang kondisi yang sama dibelakang orang banyak, ketika muridnya telah datang dan ia telah berada didepan papan tulis, semua idealisme nilainya dicurahkan dalam mengajar.

Kini ia telah pensiun dan kembali ke rumah keluarganya di Ungaran.
Namun itulah yang aku terakhir kali dengar tentangnya dua tahun yang lalu.
Semoga aku masih bisa bertemu dengan dia lagi kelak jika aku menjadi pribadi yang sukses suatu saat nanti.


Ramazanovic, Faridz
Nama yang tampaknya berasal dari negara-negara Balkanoslavik, bekas-bekas negara Yugoslavia.
Memang benar, yang menyandang nama tersebut adalah seorang laki-laki seumuranku yang selalu menjaga rambutnya tetap pendek. Padahal dengan muka putih dan rambut pirangnya seperti definisi  konsep Hitler terhadap Ras Arya yang asli, akan menjadi terlihat keren ketika rambutnya menjadi memanjang.

Penyandang nama Faridz Ramazanovic itu berasal dari sebuah negara yang telah tercabik-cabik sejak dahulu kala; berada di perpotongan peperangan dan penjarahan bangsa Ottoman & Hungaria sejak abad-abad renaisans hingga di masa modern tercabik oleh penjajahan etnis tetangga & saudaranya yang memiliki kepercayaan Ortodox sementara bangsa ini memiliki kepercayaan Islam; Bosnia. 

Faridz Ramazanovic, anak seorang staf asisten duta besar Konfederasi Bosnia & Herzegovina untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun dimataku ia adalah seorang teman yang sangat baik hati.
Masih berkelanjutan cerita awal aku membuka pintu hijau tua itu;
kelas yang hanya berkisi kira-kira paling banyak 20 teman didalamnya.

Lebih sedikit, bahkan dari Al-Falah yang satu angkatannya hanya terdiri dari paling banyak 35-40 anak.
Duduklah aku disebelah sosok itu. Kami berkenalan, tanpa tahu perkenalan itu akan membekas seterusnya; aksen bicaranya amat khas, seperti layaknya orang-orang Rusia di film-film Hollywood dengan sebuah suara berat dan mendesis di huruf-huruf c, v, z, dan s – ia juga orang yang pintar dan sering membantu, apalagi dalam pelajaran bahasa Inggris.

Aku tahu ia sebelumnya pernah tinggal beberapa tahun di Singapura, namun itu juga bukan sebuah penjelasan yang bermakna mengapa bahasa Inggris & tulisan-tulisannya amat sangat bagus. Pertama kali aku temukan teman satu angkatan yang menulisnya jauh lebih bagus daripadaku sendiri; bukan hanya soal esensi dan gaya bahasa, tulisannya sendiri pun amat rapih, berbeda dengan tulisan anak laki-laki lainnya; terdekorasi sedikit sambungan di beberapa titik layaknya tulisan orang dewasa mapan macam ibuku, namun ia tetap bisa mempertahankan garis tulisnya, rapih, tidak pernah ada kosa kata bernama tulisan di atas kertas yang makin lama makin miring ke bawah, ke atas, atau pun bergelombang layaknya gelombang suara; tulisannya selalu tertata seakan-akan ada garis-garis bantu yang selalu membuat tulisannya paralel. Jujur aku sendiri amat terbantu dalam menyesuaikan interaksi dalam bahasa Inggris dan menulis dengan baik akrena dia.

Walaupun sebelumnya di rumah aku juga sudah sering berbicara dan berlatih bahasa Inggris dengan Mas, tapi tidak pernah dalam taraf intens; hanya sekali-kali, tidak lebih tidak kurang. Dan kini di dalam sebuah lingkungan sekolah yang memiliki anak didik dari lebih dari 40 negara yang berbeda, bahasa Inggris yang baik adalah keharusan.

Fariz & Aku juga saling berbagi satu kesamaan; sepak bola dan Juventus – dari dulu hingga sekarang aku selalu menyukai dua klub; Bayern Munchen & Juventus. Ia sendiri menyukai Juventus karena kala itu ada seorang bek sayap gaek legenda Bosnia yang bermain di Juventus, sebelumnya juga jebolan dari Bayern; Hasan Salihamidzic. Tidak hanya soal berbicara bola, kami juga sama-sama senang bermain bola kala istirahat, walau hanya tempat seluas 5 x 10 meter di daerah paling depan sekolah yang menjadi tempat bermain kami itu tidak apa-apa. Selama bola masih ada, bahkan sepatu kamipun akan menjadi tanda pembatas gawang demi bermain.

Sayang pertemanan itu hanya berlangsung selama 1 semester, di ujung kelas 4 ia pergi mengikuti ayahnya yang juga ditugaskan kembali, kali ini ditarik ke negaranya kembali.
Aku ingat saat terakhir itu, ia mengalahkanku dalam persaingan nilai Matematika ; jarang-jarang, lalu Mrs. Regina menghadiahinya sekotak biskuit coklat yang aku sudah lupa merknya, ia memberikan kepadaku lebih. ‘What I can give you are only these and photos, haha’ katanya sambil tertawa. Aku melahap biskuit itu sambil tertawa pula.

Tidak apa-apa Fariz, yang penting kau telah membantuku selama ini….

Menaikkan Piano
On a monte le piano, kami telah menaikkan pianonya. Menaikkan ? Ya, menaikkannya ke lantai 2.
Aku lupa bercerita bahwa pada kelas 3 akhirnya aku dibelikan piano, sebuah piano sekon tua yang kami beli dari toko piano di Fatmawati, Petrov namanya; ia dikelola kakak-beradik Cina.

Tokonya kala itu sudah tua dan gelap, namun tidak menakutkan ketika aku memasukinya, malah justru tampak menggugah pikiran karena berkesan klasik – di kanan dan kiri jari kita menyentuh ada piano tua lain yang seakan tinggal menunggu panggilan tentang pemiliknya yang selanjutnya.

Aku, Mas & Ibu pergi bersama Tante Wieke mencari piano yang harganya bersahabat namun tetap bagus suaranya.

Mulailah perjalanan kami meninggalkan deretan Yamaha, Steinway & Kawai yang elit menuju deretan-deretan yang lebih tua dengan ukiran plat oktaf tengah yang menjabarkan huruf-huruf yang membentuk nama-nama merek manufaktur piano yang aku tiada pernah mendengarnya.

Tibalah kami di suatu piano upright tua yang berdasar kayu yang tidak dicat; warnanya warna kayu asli.

Didalamnya terinskripsikan plat oktaf tengah dengan tulisan: Youngchang.

Mendengar permainan sang empunya toko tersebut Tante Wieke langsung berkata kepada Mas.

“Ini, Gul (panggilan akrab, dari nama pertama Mas; Unggul). Ini”

Memang suaranya sangat antik, tidak lembut namun tidak pula menyentak, seakan biasa, namun ada sebuah nuansa suara piano yang telah dewasa, bukan sentuhan piano Yamaha yang memproduksi pukulan senar yang berbunyi lembut.

Enam belas juta adalah harga yang tertera untuk piano tua itu.
Mas memilihnya, dan sejak saat itu, kertas yang bercetakkan tuts-tuts piano aku tinggalkan. Segera saja rumah kami berubah menjadi sebuah pabrik bunyi akustik setiap harinya.

Sayangnya piano itu diletakkan dibawah, sehingga kadang mengganggu jika ada tamu atau orang lain yang datang, atau bahkan ketika Mas malas untuk naik ke atas sementara harus langsung lanjut mengerjakan pekerjaannya di laptop. Aku tidak leluasa berlatih, walaupun kadang ada momen-momen yang baik, seperti ketika di hari-hari Minggu pagi.

Akhirnya di kelas 4 ini aku meminta agar Piano dinaikkan, dan hal itu terjadi.
Piano Youngchang asal Negeri Ginseng itu pun dinaikkan dengan usaha 4 orang, Mas, Mas Eko, Om Jiung & Om Anto, empat setengah sebenarnya, karena aku juga ikut-ikutan, walaupun aku yakin kekuatanku tidak seberapa berpengaruhnya dalam mengangkat alat indah tersebut.

Menaikkan Piano ke lantai dua membawa efek yang jauh lebih indah; permainan yang lebih tidak terdengar oleh orang-orang serta tidak terlihat, dan dengan posisinya dibawah lampu spotlight yang kecil namun terang, membawakan sebuah suasana seakan-akan aku sedang membawakan sebuah penampilan untuk khalayak banyak – selain itu, cukup dengan satu kali balikan badan aku langsung menghadap ‘spot segitiga’ tempat matahari bisa melewati jendela dengan sinar-sinarnya dan mencatatkan sebuah pemandangan indah untuk masa awal dan akhir hari.

Namun ada juga beberapa kelemahan, kini, petisi untuk tidak memainkannya dilayangkan ketika Mas & Ibu ingin beristirahat, karena letak penempatannya pula yang tepat berada didepan kamarku dengan disekatkan tembok, yang berarti juga tepat disebelah ruang tidur Mas & Ibu.
Setelah kami naikkan dirinya, kami sampirkan bagian atasnya dengan kain tenun Sumba untuk melindungi dari debu dan alas untuk menaruh buku piano.

Kini aku bermain piano layaknya seorang penghibur professional.

Kelas V –
The Eight People
Kelas lima ditapaki, kini Fariz sudah pergi, dan aku memiliki teman dekat yang baru – mereka bernama Zainab, Shahab (tapi aku sering memanggilnya Ca’ap), Esam (Isom), Dino, Naufal (Bang No’), Roshni (Ocha), dan Rafi anak yang baru masuk kelas lima itu, mereka adalah yang paling dekat diantara yang lain sekelas.

Kalau boleh dibilang analoginya, diantara geng ini, Zainab adalah sosok yang paling bawel namun juga paling perhatian, Ca’ap yang paling keren namun sering kali polos dan gampang dibodohin, Isom paling tidak bisa diam namun paling mudah diajak bermain, Dino paling bisa melakukan aksi usil namun paling gampang berbagi, Bang No paling sering bergaya gaul, Roshni paling bergaya western dengan obsesi mengikuti socialite Beverly Hills macam Paris Hilton, dan Rafi, teman paling dekatku kini, sosok yang…

Yang….Hm

Bagaimana mendefinisikan seorang Rafi?

Ah, susah. Dia punya banyak titik baik dan buruk memang.

Orangnya cerdik dan tidak pantang menyerah, pembawaannya sangat santai (easy-going) dan asik diajak berbicara, meskipun kadang-kadang dia mudah mengambek dan menjadi amat keras kepala, selain itu, aku diajari tentang hal-hal yang seharusnya aku baru sadari ketika nanti umurku menjadi umur yang bisa menanggung hukum, tentang apa yang terjadi ketika selangkangan lawan jenis bertemu.

Dan lalu diantara orang-orang aneh macam itu hinggap sesosok orang yang dianggap paling pintar dan baik, namun memegang kunci di gerombolan ini karena dengan dialah gerombolan ini menjadi satu, tidak terpecah – tidak ada peranan apa-apa, namun itu terjadi sendiri, tanpa sosok ini gerombolan ini asik sendiri-sendiri, tidak berbarengan.

Seakan-akan orang yang sangat bijak dalam mengolah kelompok gila itu, namun sebenarnya, hampir seluruh langkah-langkah usil awal mulanya justru lahir dari diri orang ini.
Namanya Muhammad Arkandiptyo.
Ya, aku.

Pertemanan kami semua awalnya hanya terlahir karena kami tidak memiliki kelompok, tidak seperti anak-anak para staff kedutaan besar yang hanya sering bermain dengan sesama satu negara atau sesama berdekatan tempat tinggalnya.

Itu sebuah kenyataan; primordialitas etnis masih menjadi pertimbangan bahkan bagi seorang anak kecil dalam memilih teman-temannya, di kelasku sendiri contohnya jelas terlihat, mulai dari gerombolan anak-anak negara tuan sekolah, Pakistan; Maneef & Zafar, Aiman & Numan. Bukan hanya negara, tapi etnis pula. Zoya & Khatija, sama-sama dari Pakistan juga seperti empat nama sebelumnya tapi mereka memiliki keturunan Hazara & Baluchi, dua etnis Turkik dari Sekitar Afghanistan & Persia, mereka justru lebih dekat dengan Masi, dari Afghanistan.

Kami adalah yang tersisa dari yang tersisih, yang tidak memiliki sekat itu, sehingga justru membaur menjadi satu, dan terlihat bahwa akhirnya, jumlah kami menjadi yang paling banyak.
Delapan. Ya, dari pecahan-pecahan yang kecil dan menyendiri itu ketika disatukan menjadi berjumlah delapan – banyak jumlahnya untuk sebuah kelas yang hanya berisikan delapan belas orang kala itu.
Dari delapan orang dan seluruh otak dan badannya kala itu banyak ide usil dimulai, mulai dari melempari adik kelas yang lewat dengan pesawat-pesawatan, lalu membunyikan mesin ketik tua ketika kelas kosong untuk menakut-nakuti orang yang pertama masuk, bersembunyi dari guru-guru yang paling ditakuti di atap kantin, adu penalti namun hingga membuat patah pipa yang membuang air hujan, menyembunyikan dasi teman di genteng ketika guru yang gila rapi datang…

Tampaknya amat sangat alay, dalam kacamata bahasa muda dewasa ini, jika aku melihat kembali semua perbuatanku kala itu. Namun kami semua menikmatinya.

Kelas 5 bahkan adalah satu-satunya waktu semenjak kelas 3 aku dapat berpuasa penuh sepanjang hari, kala itu aku batal puasa dengan sengaja tanpa desakan kondisi. Hingga kini satu-satunya tahun aku melakukan hal itu hanyalah di kelas 5 itu.

Keusilan itu kadang berbuah masalah, yang paling aku ingat tentunya, ketika gerombolan kami ribut ketika guru Inggris Ms. Fitri datang.
Ms. Fitri tidak mengusik siapapun di gerombolan itu selain dalang ketidak-bisa-diaman itu, yang tidak lain tidak bukan adalah aku sendiri.

Sejak saat itu ia berjanji tidak ingin mengajar kelas dimana aku berada, sebuah pukulan besar bagiku, namun walaupun hal itu terjadi, tidak sampai 2 minggu setelah kejadian itu aku & dia keadaannya sudah lebih baik. Namun tetap ia tidak ingin mengajar kelas ketika aku ada disitu – rupanya ia memang berkarakter seperti itu; saking memegang teguh kata-katanya demi menjadikannya pelajaran, tidak ingin menarik kembali ucapannya... Walaupun sebenarnya kami sudah baikan kembali.
Bahkan harus diakui, ketika buka puasa bersama kelas kami dikemudian hari dimana kami mengundang guru, guru yang paling banyak aku berbicara dengan di waktu-waktu seperti itu adalah dia.

Tidak hanya keusilan, persahabatan delapan orang ini juga memanjang ke hal yang lebih dalam; dari delapan orang yang memiliki latar belakang berbeda dan permasalahan di rumah yang berbeda-beda, kami sering sekali membantu sama lain.

Mulai dari Zainab yang paling sering curhat karena sebuah masalah kecil, memang orangnya sensitif, dan disana ada aku & Rafi menyediakan telinga dan waktu untuk diam sesaat dan mendengar. Di sisi lain Ca’ap yang ayahnya sering pergi keluar untuk urusan bisnis dan ia sering diajak ikut, memang ia berasal dari keluarga blasteran India-Indonesia pebisnis karpet dari daerah Utara, kami membantu untuk menambal tugas-tugas sekolahnya.

Di bilangan lain orang dengan rumah yang paling besar, Dino, sebenarnya berada diantara sebuah perang besar antara kedua orang tuanya yang ingin bercerai karena alasan-alasan sederhana; gaya hidup mewah yang mengakibatkan banyak efek-efek negatif. Darinya kami sering menyediakan waktu untuk menunggu atau memberikan dia tempat menginap, sementara kadang kami juga sering meminta dia untuk menraktir kami. Karena diantara delapan orang itu pulalah ia yang paling memiliki banyak lembaran rupiah di kantongnya. Lalu Isom yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik juga kami bantu, dan untukku ia kadang menjadi sesosok pelatih, karena ialah yang paling jago memainkan bola dikakinya diantara kami berdelapan. Setelah itu, Rafi yang anak baru, walaupun ia pintar namun nampaknya kaget melihat kompleksitas PEIS yang berbeda, dan kami menuntunnya untuk beradaptasi, apalagi dengan guru-guru Pakistan yang mantan tentara yang seringkali memiliki nilai disiplin yang amat tinggi untuk diterapkan pada murid-muridnya. Dan Aku? Ya Aku kadang merasa sendirian saja di rumah, jadi mereka sering datang ke rumah dan kami bermain bersama.

Mengapa tiba-tiba aku menjadi tidak sibuk setelah di Al-Falah begitu sibuk dengan catur dan piano dan segala minatku yang lainnya?

Tidakkah ingat tentang aku akhirnya mengakhiri hubunganku dengan Catur? Ya itu salah satu faktornya.

Selain itu piano, aku tidak lagi les dengan tante Wieke karena ia ingin pindah ke Belanda mengikuti pekerjaan suaminya – Yamaha Gatot Subroto menjadi tempat bernaungku.

Kelas 5 & Kelas 6 di PEIS adalah waktu-waktu yang paling senggang dalam hidupku.
Betapa aku mengingat masa-masa itu sangat gila. Dan lebih gila lagi masa kelas limaku, karena dipertemukan dan diajari oleh orang-orang paling disegani dan ditakuti satu sekolah…

Lieutenant Colonel (Retired)
Bagaimana guru-guru yang paling ganas turun mengajar kelas lima terjadi karena adanya pergeseran kepemimpinan, dimana kepala sekolah Syed Ahmed yang dulu menerimaku menjadi murid pensiun, dan dikerahkanlah penggantinya. Seorang Letkol purnawirawan jebolan angkatan udara Pakistan bernama Khaled Iqbal.

Perawakannya pendek dan tambun, bagi teman-teman di Labschool sekilas akan teringat dengan Pak Eris jika melihatnya, ya, bayangkan fisik persis Pak Eris dengan kumis-kumisnya, namun dengan muka dan aksen berbahasa khas India.

Boleh dibilang kepemimpinannya membawa banyak perubahan, sayangnya tidak dalam arah yang baik.
Dalam usaha menyelamatkan sekolah yang walau masih dibiayai kedutaan besar Pakistan namun tidak sanggup untuk memperpanjang kontrak tempat yang akan habis dalam beberapa tahun ia boleh dibilang cukup seronoh dan gegabah, untuk sesosok mantan perwira. Ia dan kebijakannya, mulai dari untuk menggusur tempat kelas O-Level (9) demi ruangan Tata Usaha hingga usaha untuk menenangkan warga sekolah tentang rumor bahwa sekolah akan ditutup, justru menciptakan sebuah jarak, jarak yang lagi-lagi berdasar primordialitas di kalangan guru dan karyawan.

Guru dan karyawan kala itu terpisah menjadi tiga golongan ; golongan Staff Pantry atau guru dari India, Pakistan dan luar negeri yang sering nongkrong di Pantry Karyawan, lalu golongan CompLab atau guru-guru muda Indonesia yang memilih untuk berbicara dan mengkritik saja kebijakan-kebijakan sang kepala sekolah, sering berkumpul di Lab. Komputer, persis diseberang Pantry Karyawan. dan terakhir, golongan Library/Perpustakaan, terdiri dari guru-guru tua Indonesia seperti Mrs. Regina yang mencoba untuk tidak ikut campur dalam masalah-masalah itu. Itu baru dari guru, dari karyawan (termasuk TU, pramubakti & satpam) ada dua kelompok, kelompok Lobby yang loyal kepada kepala sekolah dan kelompok Kantin yang tidak suka kepada kebijakan-kebijakannya.

Namun keterpecahan pihak-pihak guru dan karyawan itu tidak berdampak kepada murid, karena hampir seluruh dari kami para siswa kala itu, mendaulat sebuah perasaan enggan terhadap peraturan-peraturan aneh yang dibuatnya.
Pernah suatu ketika, aku ingat sekali kala itu Hari Libur Waisak, namun ia menyuruh kami masuk karena ‘tidak ada orang buddha atau kelompok yang merayakannya disini’. Walhasil, sebuah surat teguran dari Depdiknas lah yang didapat.

Dari hasil keputusan-keputusannya, banyak guru dirotasi tanpa pertimbangan baik-baik, Mrs. Samina, ibu Zaenab, yang awalnya guru bahasa Inggris menjadi guru Social Studies / IPS, lalu Sir Javed yang juga jebolan militer Pakistan, tadinya sebagai guru Fisika dipindah menjadi guru Matematika, dan masih banyak lagi pertukaran aneh tersebut. Bahkan sempat untuk mengisi kekosongan, sang kepala sekolah itu menjadi guru Matematika kami (baca : Anak-anak kelas 5).

Untungnya, kini aku merasa, betapa itu adalah sebuah cerminan bagiamana pimpinan yang tidak bertanggung jawab dapat merusak sebuah sistem, dan kadang aku merasa hal yang sama kini, di SMA. Tapi aku terus bersyukur dan berkata, ‘ini belum separah PEIS di masa si Kolonel’ namun disaat yang bersamaan juga mengerang ‘Apakah harus menunggu sampai keadaan seperti PEIS untuk jajaran sistem SMA ini agar berubah ?’

Diantara semua kegilaan itu untungnya datang sebuah jelita yang menghadirkan kesejukan di hati.

Guru pianoku yang baru, bernama Kak Felita.


Berlanjut di Part II/II....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar