Senin, 24 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Muhammad Arkandiptyo (Bag. 3/8)

"16 Tahun Kehidupan Yang Menumbuhkan Harapan (Bag. 3/8)"

Empat Puluh Menit berangkat ke Sekolah,
Empat Belas Anak Tangga ke Tempat Tidur
(2002-2006)
-Masa SD Kelas I-IV di SDI Al-Falah Cibubur, dan 4 tahun pertama di rumah baru di Pejaten-

Karya di atas Lahan Bernomor 11
Keputusan Mas untuk pindah dari Gang Lontar bukanlah semata-mata demi mencari sebuah rumah yang lebih baik.
Tapi katanya, demi mencari sebuah lingkungan yang lebih baik untukku, dan untuk melepaskan dirinya dari tanggung jawab moral mengingat rumah di Saharjo hanya merupakan sebuah hibah sementara dari Mbah Kung (ayahnya/kakekku) untuk pasangan baru itu.
Baginya Manggarai, meskipun untukku sebuah daerah / hood yang menyenangkan, ia telah melihat potensi buruk yang disimpan dari adanya berbagai "oknum-oknum" yang menurutnya berpotensi buruk untuk pertumbuhan anaknya ini; mulai dari premanisme, pemabuk, gelandangan, ormas-ormas yang sering mengatasnamakan SARA dan menggerakkan massa demi keonaran dan kepentingan kelompok belaka (salah satu diantaranya memiliki basis kuat di Manggarai, dewasa kini dalam masa aku menyusun tulisan ini sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan pasangan petahana dalam Pilkada DKI).

Mengapa Pejaten yang dipilih pula juga bukan sembarangan alasan....

Mobil Baleno hitam itu sempat dipacu mengelilingi sekitaran Jakarta yang menjadi lirikan sebagai tempat hunian kala itu; mulai dari pinggiran kota seperti Bintaro, Cibubur, Depok, bahkan hingga Rancamaya didekat exit toll Jagorawi tak terlupa untuk dijamah ibu dan Mas dalam pencarian lahan rumah barunya itu.

Namun walhasil mengingat kegiatan keluarga kami yang masih berada di dalam ibu kota negara itu, kami memilih tempat yang masih berada dalam kota tersebut....

Pejaten yang sempat namanya diumbarkan untuk menjadi sebuah daerah hunian yang nyaman pada tahun 80an (menurut Mbah Kung) namun pamornya semakin menurun menuju akhir tahun 90an, itulah pilihannya.

Kelak seiring berjalannya waktu aku akan mengetahui betapa daerah kami sangat nyaman dibandingkan orang-orang lain yang aku tahu di kehidupan di luar keluargaku. Praktikalitasnya, betapa semua fasilitas ada dan terjangkau dengan dekat dan murah, dan keramah tamahan lingkungannya... Baik yang berada dalam "kompleks"/deretan rumah-rumah bagus maupun dengan daerah perkampungan Betawinya.

Dalam proses pembangunan selama 1 tahun lebih sejak pertengahan tahun 2000, usaha Mas dan ibu tidak kalah sibuknya - mulai dari Mas yang pergi langsung ke Bandung demi mencari teman lamanya yang sudah sukses dan lulus dari Fakultas Arsitektur ITB dan saat itu sudah memiliki nama dan ikut serta dalam pembangunan banyak kluster/kompleks perumahan di Bandung, Bogor dan sekitarnya...

Kemudian Ibu yang membuka peluang kepada sepupu-sepupu jauhnya di Temanggung & Banyumas yang belum seberuntung kami, dan mengajak mereka menjadi bagian dari tim tukang pembangun, mulai dari mandornya, Pakdhe Zaenal Mahali, asistennya Mas Eko, hingga beberapa sopir antar materialnya juga masih berhubungan darah dengan keluarga kami.
Tidak lupa juga perjuangan Mas bersama dengan temannya tersebut Tante Tini untuk bersama membangun konsep rumah idamannya; dari lahan yang tidak terlalu besar, ingin dibuat interior yang memberikan kesan lapang namun tetap bisa dijejali berbagai barang. Dengan memiliki teras untung kolam ikan yang dikelilingi oleh kebun kecil tempat Masku bisa melampiaskan hobi turunan keluarganya dalam berkebun...
Bukan hanya membuat konsep bersama namun juga mencari bahan bersama, mulai dari mencari Kayu Jati terbaik dari sekitar Sumedang, kayu kelapa dari Bayah, Banten.... hingga bertanya kepada sepupu jauh lainnya di dekat Kebumen tentang genteng kenamaan Kebumen yaitu genteng Sokka...

Hingga akhirnya semua perjuangan itu berakhir pada bulan November 2001 dengan polesan batu terakhir untuk kolam ikan kesayangan Mas, dan tumpengan yang dibagi ruah melimpah untuk seluruh pribadi yang telah berkecimpung dalam proyek besar tersebut.

Rumah di Jl. Amil 2 bernomor urut 11 itu adalah sebuah mahakarya rintisan Ibu, Mas, Tante Tini, Pakdhe Zaenal Mahali dan Mas Eko.
Rumah itu juga merupakan sebuah prasasti yang berdiri diatas potongan-potongan kecil karya agung alam dan budaya Nusantara khususnya pulau Jawa.

Di rumah inilah aku mulai belajar untuk tidur sendiri

Kamar tidurku dibuat sendiri sebagai "lantai ke-2,5" dari rumah ini, sebuah platform kayu tepat diatas meja belajarku, dihubungkan oleh empat belas anak tangga, dan dijejalkan sebuah kasur sederhana menjadi tempat tidurku selama kurang lebih enam tahun.

Pada hari-hari awal tidur sendirian, aku tidak tahan dengan gelapnya kamar tidurku yang langsung menghadap langit-langit atap yang berkayu itu, meski seakan terlihat besar, namun justru besarnya ruangan itulah yang membuatku takut, membuatku merasa kecil, merasa aneh - karena dahulu di Manggarai aku selalu tidur bersama Mas dan ibu di ruangan yang langit-langitnya tidak tinggi, tidak besar....

Kamar belajar & tidurku itu diapit oleh kamar Mbah Ti dan kamar tidur Mas & ibu, aku selalu turun untuk tidur di kamar mereka bila mereka sedang pergi, entah kenapa aku selalu merasa tidur di kamar mereka jauh lebih nyaman dan pastinya, kasurnya lebih besar untukku bisa berguling-guling lebih leluasa.

Akhir-akhir ini aku mengetahui alasannya; kasur di kamar mereka adalah kasur Dunlopillo mahal, sementara dikamarku hanyalah kasur murah.

Didepan ketiga kamar di lantai dua itu adalah sebuah ruangan besar yang awalnya hanya dihuni oleh sebuah TV, DVD Player & sejejeran rak buku besar yang aku sempat menghitungnya, menjadi rumah untuk lebih dari 500 buku.

Seiring perkembangan dan tahun bertambah, ruang itu semakin sempit karena semakin banyak barang yang masuk dan ditaruh di ruang besar itu, namun itu tidak mengurangi kesan ruangan yang lega itu.

Diatas deretan rak buku yang juga menjadi perpustakaan keluarga itu berjejer foto-foto yang mengingatkan perjalanan kehidupan keluarga kami dan khususnya juga perjalanan-perjalanan Masku; salah satunya adalah foto dari temannya yang waktu itu bersama-sama tugas dinas ke pelosok Kalimantan Tengah, dan menemui rumah panjang khas Dayak yang terpanjang kala itu; mencapai 80 meter dan menampung lebih dari 15 keluarga, tepat di tepi sebuah Sungai....

Ruang besar itu akan menajdi sangat indah kala pagi  dan sore hari, karena diujung ruang itu adalah sebuah ruang kecil yang bentuknya menjurus keluar membentuk sebuah segitiga dan dibatasi oleh jendela-jendela kaca yang tinggi; ketika matahari baru bangun atau hendak turun dan tiada awan yang menghalanginya, rembetan sinarnya akan meretas melalui jendela-jendela itu, menjanjikan sebuah pemandangan yang sangat apik dari dalam rumah.

Disebelah ruang besar itu, berbatas sebuah tembok, adalah ruang tempat mencuci & menjemur baju yang terbuka, dan terhubungkan dengan atap lewat sebuah tangga sederhana.

Dahulu kadang kala aku menghabiskan waktu diujung atap, menaiki genteng-genteng itu hingga sampai di titik tertinggi dan terujung, sambil melihat matahari turun dari singgasananya yang agung, menikmati sore sambil merenung...

Namun aku semakin jarang naik ke atap sejak jatuh cinta dengan Piano Young Changku, kini aku ke atap untuk menikmati saat-saat sendiri atau untuk mencari foto-foto sunset dan sunrise yang bagus ketika cuaca baik, dan untuk menikmati waktu otp / telefonan dengan orang-orang tertentu yang aku tidak ingin ada orang lain yang menggangguku...

Menuruni tangga yang sepenuhnya terbuat dari kayu menuju lantai pertama, kita akan dikawal oleh lukisan besar penari Bali di sebelah kiri dinding dan disambut oleh sampiran kain batik Kebumenan yang beralaskan kain tenun ikat khas Flores yang membentang panjang dari langit-langit hingga menyentuh jangkauan tangan kita di lantai satu, tepatnya didekat empat kursi yang tersusun mengelilingi sebuah meja marmer kecil; ruang tamu & pintu masuk sederhana di rumah ini.

Tanpa dibatasi sekat apapun, dari ujung tangga yang berada di ruang tamu itu kita dapat melihat luas keatas, menuju langit-langit dan lantai dua, serta tajam menembus menuju ruang makan dan keluarga serta teras di lantai pertama, ruang makan itu terdiri dari sebuah meja marmer bundar yang lebih besar, dan dikelilingi oleh enam kursi kayu. Diujung ruang itu terdapat televisi yang berada diatas lemari kecil yang jika isi dalamnya ditarik akan menjadi sebuah mesin jahit tua. Disebelahnya ada peti-peti kayu yang berisi foto dan arsip-arsip dari zaman Mas dan ibu masih muda yang bisa diduduki, seandainya kami kedatangan tamu namun kursi tidak mencukupi...

Persis disebelah ruang makan itu adalah teras kayu kami, yang dibawahnya adalah kolam ikan kesayangan Masku yang dikelilingi berbagai tumbuhan yang ia rawat sendiri, mulai dari Zodia tanaman kecil pengusir nyamuk, pohon-pohon Bonsai, hingga pohon-pohon Pisang & Jambu. Sebuah tanda jejak warisan budaya agraris dari keluarga Jawanya yang Abangan....

Dapat dilihat dari meja makan kami namun dipisahkan oleh sekat kayu dari ruang tamu adalah dapur kami yang unik; bernuansa kayu namun tetap memiliki sebuah atmosfir yang cukup modernis namun tidak minimalis. Dihubungkan dengan sebuah sliding door adalah gudang tempat kami menyimpan banyak alat-alat memasak yang jarang digunakan selain untuk waktu tertentu (seperti panci besar untuk membuat opor ayam kala Lebaran menjelang) serta material-material esensial untuk dapur kami, seperti Gas LPG, galon air, dan tentunya beras.
Jika kita masuk kedalamnya, persis dibelakangnya adalah kamar Mbak Yanti / pembantu kami, namun karena kini ia telah pergi tempat itu menjadi kosong dan sekadar menjadi tempat menyimpan koran-koran bekas.

Di pojok lantai satu juga terdapat toilet dan ruang tidur untuk tamu yang berdekatan dengan garasi kami...

Kini rumah itu telah berdiri hampir selama 11 tahun, dan tidak jauh perbedaan yang terjadi didalamnya.
Rumah ini menjadi tempat untuk melepaskan seluruh perasaan dan cerita yang terbawa selama aku berada diluar rumah, untuk sekolah ataupun berjalan-jalan....
Tidak hanya itu,
Rumah ini hingga kini menjadi sebuah titik yang selalu menyatukan aku, ibu, dan Mas, tiap kali masing-masing dari kami pergi sejenak...

      Sekolahan Didepan Sawah
Kepindahan menuju Pejaten itu juga berbarengan dengan akhir jenjang pendidikanku di TK, maka mencari SD yang baik untuk kelanjutan pendidikanku yang baik pula...

Kini suatu suara mengalir dari teman ibuku, memberikan sebuah nama sekolah Al-Falah nun jauh di Cibubur, sekitar 10 menitan dari exit toll dekat Taman Mini.

Seragamnya yang khas terdiri dari kemeja kotak-kotak bermotif putih dan hijau-turqoise tua, seragam putih-putih serta seragam batik dengan warna dasar putih bercorakkan garis-garis dalam warna hijau-turqoise tua tersebut. Saking banyaknya seragam aku sampai lupa kini urutan hari-hari aku memakainya, yang aku ingat tentunya hanya seragam olahraga yang dipakai pada saat olahraga.

Banyak hal yang diingat mulai terjadi selama aku sekolah disana; yang paling aku ingat pertama kali tentunya adalah lapangan bola dibelakang sekolah yang dari situ kami dapat melihat sawah yang masih asri dibelakang sekolah, dibatasi oleh pagar-pagar. Terkadang aku berfikir kami tidak bersekolah di Jakarta - walaupun secara administratif semua daerah sekolah itu masih ebrada dalam ranah Jakarta Timur.

Al-Falah adalah sebuah sekolah yang menerapkan kurikulum standar namun memiliki corak sekolah islam yang khas; belajar bahasa Arab, lalu sesi-sesi baca Qur'an/Tadarus serta kegiatan solat berjamaah yang rutin, selain itu karena memang dimaksudkan menjadi Sekolah satu hari yang komplit, kami mendapat makan setiap jam 9 dan jam 12. Kegiatan makan itu dilangsungkan bersama satu kelas. Menunya selalu variatif dan enak, yang aku selalu ingat adalah Malbi atau semacam rendang tidak pedas yang seringkali dipadankan dengan Sayur Bayam bersama dengan sambal uleg untuk sayur bayemnya, betapa enaknya....

Di Al-Falah pula aku memecah dan justru menumbuhkan rasa kesukaanku kepada pelengkap makanan khas Nusantara; Sambal. Dahulu aku tidak suka kepada sambal, namun suatu ketika aku mencoba sambal itu dengan ayam goreng, saking semangatnya hingga terlalu banyak sambal yang keluar dari botol hingga muncrat ke tanganku pula - mau apalagi, sambal harus dilahap hingga habis, dan ternyata, ia sangat enak. Enak sekali, walaupun awalnya aku memang tidak tahan namun karena kebiasaan lama-kelamaan semakin tahan dengan berbagai macam sambal mulai dari yang botolang sampai sambal uleg yang masih mentah/tidak digoreng.

Aku bertemu banyak teman-teman hebat; mulai dari Alda pemain golf kecil yang wajahnya amat sangat bule, kadang aneh namun seringkali kreatif. Lalu ada Shannaz perempuan tomboy yang sangat obsesi dengan anime-anime jepang terutama Hikaru no Go dan mempunyai obsesi terhadap catur Jepang/Igo, disisi lain ada dua sepupu Hugo & Gaga yang asik diajak bermain Lego, lalu ada Aya cewek yang kurus namun cantik, tidak lupa Vina yang bawel tapi sering maag, Edwin & Fadhil anak bandel yang sangat senang bermain bola, Atika & Danti saingan beratku untuk mendapat nilai-nilai bagus di kelas, Afi cowok gendut pemakan kelas kakap yang suka menyanyi yang pertama kali mengajak untuk bermain ke rumahnya, dan adapula teman-teman yang 'berbeda' yang aku pertama kali baru bertemu dengan orang-orang seperti mereka; Thariq & Adikki, dua teman yang menderita autisme & hiperaktifisme dan punya 'diet' / pantangan makanan yang sangat ketat. Awalnya aku agak aneh melihat mereka berdua - namun justru akhirnya aku sadari orang-orang seperti merekalah yang butuh bantuan, butuh dorongan dalam menjalankan hidup.

Tidak lupa sesosok Febrian Vedaxena atau Ian yang merupakan teman terbaikku; my first best-friend I ever have in my life. Sahabat pertamaku; kami sama-sama memiliki obsesi menjadi pemain Piano Klasik yang bagus dan terinspirasi oleh permainan Orchestra ternama di Dunia saat itu seperti Vienna Philharmonic & London Philharmonic, walaupun kami berdua kira-kira sama mood-moodan nya dalam bermain piano dulu, berbeda dengan para perempuan yang amat tekun dalam latihan.
Selain itu Ian dan aku sama-sama mempunyai kesamaan untuk mencoba-coba makanan-makanan baru yang enak, lalu mengomentarinya dan me-reviewnya, selayaknya sesosok Bondan Winarno di TV! Ian memperkenalkanku pada dunia mobil yang ia sangat gemari, mulai dari Alfa-Romeo hingga Lamborghini ia hafal dan ketahui spekulasi beserta harga dan keunggulannya. Akupun kepada dia, memperkenalkan tentang sepak bola, mulai dari kedigdayaan Total Voetbal ala Ronald Koeman dkk. hingga era-era para individual Brazil luar biasa saat itu; Ronaldo, Roberto Carlos, Cafu, dan Dida. Untuk mobil dia lebih sering bertukar ide dengan Hugo, Gaga & Arba sementara untuk sepakbola aku lebih sering berbicara bersama Alda & Edwin.

Di Al-Falah entah mengapa, mungkin karena kepolosanku pula, aku tumbuh menjadi sesosok yang memiliki jiwa keislaman yang baik dibanding teman-temanku; gemar membaca Qur'an dan mengartikannya serta masih banyak lagi, sayangnya kini nilai-nilai itu sudah terusik.

Walaupun begitu aku tidak pernah berhasil melakukan sesuatu yaitu menghafalkan Asma'ul Husna, entah kenapa untuk itu amat susah sekali; walaupun memang, aku bukanlah anak yang mudah menghafal. Kalau pada saat pelajaran menghafal seperti Sejarah & PPKN aku jarang bisa mengerjakan pilihan ganda yang harus menghafal isi buku dengan benar, tapi untuk essaynya aku sering kali mendapat nilai bagus karena aku menjawab dengan logika, bukan secara yang aku coba hafal dibuku, tapi apa yang tersangkut dalam pengertian logisku.

Tentang pelajaran di Al-Falah sangatlah beragam, mulai dari pelajaran standar seperti Bahasa Indonesia, Inggris, matematika, IPA, PPKN hingga ada pula pelajaran yang unik seperti Berenang; berenang mempunyai jam tersendiri beda dengan Olahraga, lalu adapula musik dan Drama. Selain itu ada waktu dimana kami sering bermain namun sebenarnya ditulis sebagai "waktu membaca", waktu kami bisa membaca dari puluhan buku yang ada.

Pelajaran di Al-Falah standar saja, tidak susah, dan tidak ada PR sama sekali (benar, tidak ada PR), dan datang dengan format yang mengasyikkan; semua berkat guru-guru yang hebat yang mengajar kami dengan sabar; ada bu Sarah guru Bahasa Indonesia yang selalu murah senyum, bu Robi guru PPKN yang kritis namun kritikannya lembut dan tidak menyakiti, justru memotivasi untuk menjadi lebih bagus, bu Ratih guru Matematika dan IPA yang sudah tua dan sering bercerita tentang pengalamannya, pak Joko guru bahasa Indonesia yang puitis dan sering  mengajak kita untuk mengajukan pertanyaan balik yang memacu ide untuk keluar, bukan hanya sekadar menjawab pertanyaan kita. Namun yang paling aku ingat tentu adalah Almarhum Pak Uri - guru Matematika dan Komputer yang satu ini memiliki kesabaran dan keramahan yang paling besar diantara guru lainnya namun juga gaya mengajar yang paling kreatif - sering kali memakai media lain, ia keluar saat aku keluar pula di kelas 4 demi meraih pendidikan S2. Namun sayangnya 2 tahun lalu baru aku ketahui dia telah tiada.

Guru-guru Al-Falah adalah guru-guru pertama dalam hidupku yang aku benar-benar hormati seluruhnya karena kehebatan mereka dalam mengajar. Mereka juga mengajariku seperangkat nilai-nilai yang hingga kini tetap bertahan dalam diri; antara lain rasa kepercayaan yang tinggi kepada teman-teman disekitar dan sedikitnya rasa su'udzon/prasangka buruk pada mereka; sesuatu yang sempat hilang ketika aku mengalami berbagai cobaan di kelas 8, namun berkat beberapa orang hebat aku dapat menemukan nilai itu kembali dan menjalani hidup dengan rasa positif lagi tiap harinya. Mereka adalah orang-orang hebat.

Jadi mari kita intip perjalanan dari kelas 1....

KELAS 1
Bangun pagi, bangun pagi.
Kata itu terus terngiang dipikiranku karena harus bangun pagi agar bisa sampai di sekolah tepat waktunya; maklum perjalanan melintasi tol itu akan memakan waktu 40 menit katanya.
Entah mengapa Mas ku berhasil menanamkan kebiasaan itu - ia membangunkanku tiap pagi hari ketika Subuh datang menjelang, mengajakku untuk Sholat di Masjid Al-Barkah dibelakang rumah. Entah mungkin karena udara pagi yang masih sejuk dan pemandangan menikmati matahari terbit yang amat indah, dan juga karena aku tidur selalu jam dari jam 7.30 malam, aku telah memiliki kebiasaan bangun pagi itu hingga kini.
Pagi memang sebuah waktu magis untuk kita semua - menyegarkan dan indah.

Maka pagi hari ketika aku tahu aku akan masuk sekolah kala itu tidak menjadi sebuah halangan. Dan aku sikapi perjalanan jauh itu dengan sebuah rasa ketertarikan yang amat besar.

Menuju ke Timur roda mobil Civic (mobil baru dari kantor ibu, lagi-lagi) itu berputar hingga mencapai titik kelajuan 100 kilometer per jam, matahari ada didepan kami sepanjang jalur tol dari Mampang hingga Taman Mini, seakan-akan kami mengejar terus menuju cakrawala pagi hari yang begitu asrinya, menapak di atas bantalan aspal kokoh tanpa henti hingga gedung keong mas terlihat, jalan mulai menyempit, dan perjalanan melewati rentetan rumah yang berada dibawah naungan pepohonan rimbun dimulai.
Belokan demi belokan dilewati hingga sampai di sebuah tempat yang didepannya adalah lahan terbuka luas, dengan gerbang yang menyambut kedatangan kami bertuliskan "TK-SD-SMP AL-FALAH" beserta alamat lengkapnya.
Bangunan bertingkat dengan warna dominan putih yang seringkali diselingi oleh tiang-tiang batu dan warna turqoise tua, khas Al-Falah mewarnai pemandangan mataku.

Melewati pintu utama dan menaiki tangga menuju lantai dua sasaran kami, dan disuguhkanlah mata ini dengan lanskap sebuah ruang yang amat besar dengan banyak sekat. Aku pun mencari ruang yang bertuliskan "kelas I" dan duduk di bangku yang tersusun melingkar menghadap satu papan tulis ditengah.
Teman-teman yang aku kenal paling pertama adalah yang duduk disebelah kanan-kiriku; Gaga & Vina.

Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia, yang diajari oleh Bu Sarah.

Itu baru sebuah permulaan...
Didalam lingkungan yang berjalan mulai dari jam 7.30 hingga jam 14.00 setiap harinya dari Senin sampai Jum'at, tentunya aku yang masih kecil sering merasa lelah apalagi karena perjalanan pulang-pergi yang jauh.
Tapi keasyikan bercanda dan belajar bersama teman-temanku menghilangkan semua hal itu - istirahat kala jam 9 yang ditambah makan snack dan ketika tengah hari tiba makan siang yang dibarengi dengan solat jamaah juga menjadi rutinitas melepas sejenak capeknya belajar.
Kelas 1-4 semuanya belajar di lantai 2, namun kadang kala kami akan menuju tempat-tempat lain; seperti ketika berenang kami berjalan melewati dapur menuju kolam renang. Lalu untuk pelajaran IPA yang sering kali berpraktik kami akan berjalan-jalan melewati lapangan belakang, melihat tumbuhan dan hewan langsung sebagai penampakan apa yang seharusnya hanya dilihat lewat contoh-contoh di buku.

Jika kelas 1-4 belajar di lantai 2, di lantai 1 belajar anak-anak Play Group & TK, dan dibangunan lain adalah untuk kelas 5-9: Kami pergi ke bangunan kelas 5-9 untuk Sholat dan praktik memasak, namun ada suatu ruangan spesial aula tempat kami menghabiskan waktu untuk pelajaran Musik, Seni & Drama. Tempat itulah yang membuahkan cinta pertamaku disitu; cinta kepada sebuah benda kayu hitam yang menghasilkan suara-suara magis.
Cinta pertamaku itu bernama Piano.

Piano Diatas Kertas, Dentingan Didalam Kepala
 Ketika aku pertama kali melihat dan mendengar permainan teman perempuanku, Shannaz. Aku langsung tercengang dengan bunyi itu - sudah sering aku dengar bunyinya di lagu-lagu yang sering Mas putar, baru kini aku tahu alat besar itulah yang menghasilkan bunyi-bunyi indah itu.

Tak lama pulang dari sekolah suatu hari, aku bertanya kepada Masku dimana aku bisa bermain alat itu.
Ia mengajakku ke sebuah rumah tua di bilangan Darmawangsa.
Itulah rumah Tante Wieke, teman baik Mas sejak SMA bersama di SMAN 70 (Awalnya bersama dari SMA 11 sebelum 11 & 9 disatukan)
Rumah itu benar-benar khalayaknya sebuah rumah tua yang bagus ada; guci di kanan-kiri, aquarium kotak tua namun terjaga, dan bau kayu serta karpet yang sudah buluk. Benar-benar sebuah rumah tua yang bagus.
Setelah beberapa kata pembuka perbincangan Masku mengungkapkan maksudnya
"Anakku ini, pengen main piano. Betul kan, dek?"
Aku hanya mengangguk saja ketika ia menunjuk benda hitam yang sama persis dengan yang aku lihat di sekolah.

Tante Wieke pun mengajakku duduk disebelahnya sambil mendengarkannya bermain.
Lagu yang dimainkan tak asing ditelingaku - lagu-lagu Chrisye yang seling terdengar di mobil ketika Mas menyetelnya.

Aku hanya bisa menikmati permainan itu hingga habis.
Dan ketika lagu itu telah mencapai tenggat waktunya, ia menantang aku untuk bermain.
Aku menjawab "Aku belum tau apa-apa"
Crash course pun diberikan, kedatangan satu jam selanjutnya diisi dengan bermain bersama dengan Mas mengamati sambil menikmati teh dan kue-kue kering tua yang aku juga mencomotnya sesekali.
Sejak saat itu, setiap Sabtu jam 9 hingga 11 siang adalah jam aku bermain bersama Tante Wieke.

Tidak lupa setelah pengajaran pertamaku itu, dia memberikanku sebuah lembaran.
Lembaran itu adalah sebuah salinan dari tuts itu, tuts diatas kertas yang bersifat dua dimensional. Untuk apa? Tanyaku, ia menjawab "Untuk latihan, kamu kan belum punya piano di rumah"

Sejak saat itu kertas itu aku sayang dan aku berlatih di rumah lewat kertas itu.
Aneh memang rasanya, mengingat adanya dimensi ketiga yang tidak dapat dijamah melalui kertas - perasaan tekanan (touch) nya pastinya berbeda, antara kertas yang datar, dan tuts piano sungguhan yang akan naik dan turun seirama dengan tekanan yang kita beri padanya. Selain itu yang paling penting; suaranya tidak ada. Aku hanya bisa membayangkan diriku bermain di piano sesungguhnya, namun momen itu hanya terjadi minimal seminggu sekali di rumah Tante Wieke, atau jika aku menyempatkan diri iseng menuju ke aula di sekolah itu dan bermain Piano tersebut.
Aku dapat belajar cepat, semua buku berasal dari Tante Wieke, hingga suatu ketika aku melihat sebuah lembaran not tua.
Aku memainkan tangan kanannya saja mengingat tangan kirinya sangat susah.
Lagunya mistis.

Aku memainkannya pula disekolah dan ternyata banyak teman-temanku yang salut.
Aku tidak mengerti kenapa.
Ternyata lagu yang aku mainkan tangan kanannya itu adalah mahakarya angker nan terkenal dari maestro asal Jerman Ludwig van Beethoven; Fur Elise.
Dari permainan sederhana 3 bait pertama Fur Elise itu aku melihat banyak teman-temanku yang menjadi akrab karena kita semakin gemar berbicara tentang permainan piano klasik lainnya.
Perbedaannya; mereka semua seringkali sangat rajin dan tekun, sudah mencapai buku-buku yang notnya ketika aku lihat, amatlah keriting baik kanan dan kirinya.
Sementara untukku baru keriting dan berdempetan not-not di tangan kanannya.

Disitulah aku menemui Ian teman baikku, sama-sama mood-mood an dalam latihan, sama-sama di level yang sama. Pikiran dan imajinasi kami sama - menjadi pemain klasik yang bagus, kala itu.

Piano memang mengubah hidupku.

90? Yang 100 siapa?
Selain piano, fenomena yang aku temui di tahun pertama aku menginjakkan kaki di jenjang SD itu adalah persaingan nilai.
Ya, nilai yang bagus ketika ulangan.
Pelajaran yang kami temui kala itu, walau aku tidak menggampangkannya, aku pikir sebagai masih rileks, tidak membutuhkan kerja otak yang banyak. Mungkin karena kemampuanku yang cepat menyerap dan terlatih membaca pula aku dapat meraih perspektif macam itu.
Aku seringkali menjadi laki-laki dengan nilai terbaik; mendapat angka 80 kebawah adalah fenomena yang amat langka.

Namun kadangkala aku melihat ada rasa iri dari para teman-teman perempuanku. Mereka adalah Atika & Danti. Keduanya pendek dan tembem; cukup gemuk tapi belum bisa dibilang gendut. Mereka adalah pesaing beratku dikelas.

Pernah suatu ketika setelah rapot semester I keluar dan semester ke-2 datang menjelang, mereka membuat semacam 'kompetisi' untuk menentukan siapa yang paling pintar.
Kompetisi itu terdiri dari menggambar, hitung cepat dan menulis.

Tapi disetiap akhir bagian kompetisi itu walaupun teman-temanku menilai bagus, kedua perempuan itu pasti membuat bantahan yang aku tidak bisa bantah dan menganggap mereka adalah pemenangnya.
Aku semakin lama semakin capek dengan mereka, akhirnya aku agak kesal dan berfikir "sudahlah, yang penting nilai ulangan masih diatas mereka". Sejak saat itu aku mulai menumbuhkan sesuatu yang terbawa hingga sekarang; padahal awalnya hanya untuk mendapat nilai yang terbaik, dan selalu terbaik - namun prosesnya menghasilkan sebuah nilai pada diriku; ketika suatu niat sudah ada, pasti niat itu akan kukejar dan terus kukejar tak peduli bahaya yang menghadang.

Aku kejar dan akan aku kejar terus sampai dapat.

Harus aku akui, nilai itu juga kadang terbawa oleh rasa dendam dan sebal, seperti kala itu; aku akui kejadian itu memang agak sempat membuat kami sebal, namun akhirnya berakhir juga.

Aku ingat proses berakhirnya masa sebal itu - kami bertiga kala itu menjadi orang terakhir yang belum pulang karena belum dijemput: Padahal awalnya hanya berdiam, untuk memecah kesunyian, Atika mengajakku bermain.
Hanya dengan manik-manik biru dan merah sederhana, ia mengajari kami berdua (aku & Danti) tentang Cublak-Cublak Suweng dan beberapa permainan yang nantinya aku kenali sebagai Dolanan / permainan anak-anak khas Jawa. Permainan 15 menit  sebelum Mas Fauz datang dan menjemputku itu mendatangkan keceriaan, dan sejak saat itu persaingan ketat kami perlahan berubah jadi saling membantu ketika yang lain memiliki kesulitan.
 
2:183
Coba intip angka itu dalam kitab suci Umat Islam, kebanyakan orang pasti tahu ayat itu berbunyi apa.
Ayat itu berbicara tentang puasa.

Dan di Al-Falah pula mulai dari kelas 1 aku mulai berpuasa.

Metode yang diajarkan Mas & ibu cukup efektif ternyata; selama aku kelas 1 & kelas 2 aku ikut Sahur setiap hari dan berpuasa 'selama yang aku bisa'.
Pada hari yang paling pertama aku ingat aku sudah tidak tahan dengan lapar hingga sesampainya dirumah aku langsung minta beberapa makanan kepada ibu.
Ibu hanya tersenyum dan memberikannya sambil berkata, "besok coba lebih lama ya"
Ia tidak memberikan tekanan apapun padaku, hanya kata-kata sederhana seperti itu saja.
Lama kelamaan aku bisa puasa. 7 Hari terakhir di tahun pertamaku itu aku tidak bolong sama sekali.
Kelak kebiasaan itu semakin mudah dilaksanakan, dibantu dengan sesendok madu dan sepotong telor rebus matang ketika Sahur, akhirnya di kelas 3 SD aku berhasil puasa full 1 bulan.
Sayangnya di kelas 5 aku bolong 1x, dan sejak kelas 8 hingga kini aku belum berhasil puasa 1 bulan full lagi, pasti selalu sakit di hari-hari akhir.

Masku ketika sudah mengambil cuti di minggu terakhir juga membuat puasa itu semakin menarik; mengajakku i'tikaf (solat & membaca Qur'an) di masjid-masjid tertentu sambil berjalan-jalan menikmati daerah sekitar mesjid itu.
Kami telah pergi ke berbagai Mesjid yang arsitekturnya luar biasa seperti Mesjid Istiklal, Dian Al-Mahri dan At-Tin, maupun tipe mesjid lain yang jadi sasaran kami yaitu Masjid yang memiliki nilai sejarah, seperti Masjid Cut Mutia, Masjid Luar Batang & Masjid Si Pitung.

Semua I'tikaf dan jalan-jalan itu diakhiri dengan berbuka puasa sederhana di pinggir jalan di tempat jajanan jalanan yang enak. Kesederhanaan jalan-jalan Ramadhan itu masih kami berdua lakukan hingga sekarang....

-Ng, Ng-

Dua bahasa yang sering sekali memakai dua huruf itu secara berdampingan bersamaan sebagai imbuhan juga aku mulai pelajari ketika berada di kelas 1. Uniknya bahasa itu lebih sering aku pelajari lewat Mas & ibu daripada di Sekolah yang hanya terbatas mengajarkan salah satu dari dua bahasa itu.

Dua bahasa itu berasal dari belahan dunia yang berbeda; yang satu merepresentasikan asal-usulku dan yang lain mendelegasikan keadaan globalitas dunia saat ini.
Dua bahasa itu adalah English dan Boso Jowo.

Namun cerita bagaimana keduanya itu tumbuh dalam diri ini berbeda; di sisi globalitas yang diwakili Bahasa Inggris, semua berawal dari Mas yang semakin hari semakin lihat keinginanku dan kegemaranku untuk membaca semakin luas; setelah dahulu kala TK baru buku-buku bergambar Disney sebangsa Winney The Pooh ataupun Mulan kini aku mulai meremas-remas (membaca) koran, terutama berita olahraga bola diharian ternama Kompas yang selalu hadir di halaman-halaman belakang dari bagian koran yang halaman pertamanya menyimak tentang Bisnis, investasi & kurs tukar rupiah-dollar.
Dan Mas pun datang dengan buku-buku cerita sederhana, kini dengan bahasa yang berbeda.

Ia mengajariku halaman per halaman tiap malamnya, setelah makan malam. Hebatnya ia memiliki kesabaran tinggi dalam melatihku secara konstan jika ia ketika makan malam sudah bisa berada di rumah.
Mas ku juga tidak memaksakan aku untuk berbicara bahasa Inggris dengan aksen tertentu; alami saja, keluarlah aksen Indonesia yang jelas (high clarity) dalam berbicara bahasa Inggris, walaupun Grammar masih berantakan karena hakikatnya padanan tata bahasa Inggris & Indonesia jauh berbeda....

Ketika aku mulai bisa membaca satu buku penuh, ia membawakan buku-buku berbahasa Inggris lainnya. Terus dan terus, sama seperti ketika dulu melatihku membaca Bahasa Indonesia.
Hingga akhirnya bahkan tanpa les apapun, aku menjadi lancar berbahasa Inggris.

Jarang-jarang memang ada seorang sosok ayah yang begitu berdedikasi dalam mengajari anaknya.
Aku salut kepada Mas.

Berkenaan dengan bahasa yang merupakan bahasa para pendahuluku, diajari oleh Ibu; dulu memang aku sering mendengar dan mengulang kata-kata sederhana seperti Papat, Siji, Setunggal, Boten, Inggih, Suwun, Nuwun, Sewu, Seket, Sugeng Riyadi dan mengerti arti kata-kata tersebut.
Namun bagaimana kata-kata tersebut dapat menjadi sebuah kalimat padu, aku masih sama sekali buta dulu kala - ibuku mengajariku dengan metode yang cukup berbeda, tidak setiap hari aku diajarinya; namun sesekali tapi seringkali membuat aku langsung ingat. Ibu bisa menangkap ketika aku sedang amat fokus, seperti suatu ketika saat membantunya memasak sayur; dia langsung berkata, "kalau bahasa Jawanya, "Jangan". "

Tentunya dengan cara seperti itu, ia menangkap fokusku untuk belajar kata-kata dan kalimat bahasa Jawa, paling lengkap ketika musim lebaran tiba dan mudikpun dijalani.
Kemampuan bahasa Jawa ketika mudik itu entah kenapa seakan-akan naik 200%, malah mungkin lebih. Dan dikampungkulah aku bermain dengan teman-teman yang masih sepupu jauh sambil mencoba sepatah-dua patah kalimat menggunakan bahasa tersebut.

Sayangnya Ibu walaupun sangat baik mengajariku ia aku anggap sendiri gagal dalam mengajariku sebuah padanan kritis dalam bahasa Jawa; Boso Kromo atau tingkatan kesopanan tinggi kepada bahasa Jawa. Memang Boso Kromo itu seringkali memang susah dimengerti, untungnya ia berhasil mengajariku pengetahuan 'sadar diri' dimana dan kepada siapa kita bisa berbicara Ngoko, dimana kita dapat berbicara Boso Medyo dan kapan berbicara Boso Kromo; walau awalnya susah dan sempat dicap 'kurang sopan' namun akhirnya aku mengerti kesadaran tersebut - ternyata esensi nya sama saja dengan bahasa Indonesia, antara 'Anda', 'Bapak/Ibu', 'Kamu' dan 'Lo', yang tempat pemakaiannya berbeda-beda namun dalam sebuah sistem yang lebih tertata.

Dulu aku agak gatal memang setelah mengetahuinya, ingin melatih bahasa Jawaku dengan pakdhe dan budhe lainnya, namun takut melanggar Boso Kromo yang benar; namun sekarang keadaan mulai membaik seiring berjalannya waktu - semakin sedikit orang yang aku harus berbicara Kromo, sehingga ekspresi dalam Boso Ngoko dan Medyo dapat dikeluarkan lancar. Walaupun begitu aku masih punya keinginan suatu saat kelak belajar Boso Kromo dan baca-tulis aksara Hanacaraka dengan benar. Meskipun aku bisa membaca Hanacaraka standar dengan kemampuan yang tidak buruk-buruk amat, menulisnya selalu membuat aku keder apalagi dengan adanya sambungan-sambungan.

Berbahasa Jawa yang baik dan benar memang sebuah seni tersendiri rupanya.

"Knight to F4!"

Adegan dengan kuotasi itu aku pertama kali perhatikan di film pertama dari rentetan seri film Harry Potter yang aku tonton di penghujung kelas satu; ketika trio Harry Ron & Hermione itu harus berhadapan dengan sebuah permainan raksasa nan mematikan.

Aku pernasaran dengan permainan itu yang sudah sebelumnya ditampilkan di awal-awal film ketika seluruh murid sedang berkumpul makan di aula besar Hogwarts.
"Catur", begitulah definisi yang aku tangkap dari deretan huruf yang membentang menjadi subtitle yang nyempil di bagian bawah layar lebar itu. Yang aku tahu, Catur berarti 4 dalam bahasa Sansekerta.

Sepulangnya dari bioskop Pondok Indah Mall yang dahulu memang sering aku kunjungi, aku bertanya pada Mas apa gerangan permainan tadi yang dimainkan.
"Catur" ia menjawab.
Mungkin kala itu ia mampu menangkap mataku yang pernasaran
"Adek mau Mas ajarin?"
Ia pun merogoh kedalam salah satu peti kayu tua tempat ia menyimpan barang-barang tuanya.
Dan dikeluarkan sebuah kotak kayu kusam dengan corak hitam-putih, walaupun warnanya sudah pudar namun ia dan bidak-bidaknya mirip dengan yang aku lihat di film tadi.
Pelajaran sederhana tentang penempatan awal dan bagaimana mereka melangkah mengisi sore hari sabtu itu.
Karena sudah capek, aku tidak sempat memainkan permainan pertamaku.

Namun esoknya aku mulai bermain, kalah memang, tapi aku tidak berhenti disitu - aku semakin ingin tahu tentang permainan itu, target awalnya sederhana; mengalahkan Masku sendiri.

Kota Singa
Aku kira perkenalan dengan catur adalah kejutan terakhir di masa kelas 1 ku.
Tidak.
Liburan tiba, saatnya jalan-jalan. Namun kali ini Mas menawarkan sebuah destinasi yang belum pernah aku capai.

"Ke luar negeri"

Bahkan dari tiga kata sederhana itu saja, aku sudah langsung mengatakan mau walaupun definisi luar negeri itu hanya satu jam terbang ke arah barat laut dari Jakarta yaitu persisnya Singapura.

Singapura adalah perjalanan pertamaku keluar negeri; tidak tanggung-tanggung aku terbang dengan operator pesawat bagus; Emirates - semua berkat kantor ayahku yang ingin membayarinya karena perjalanan itu juga sekalian tugas bagi Mas ku.

Di kemudian hari akan lebih sering lagi Mas ku mengajak pergi ketika liburan seiring dia harus bertugas keluar kota dan keluar negeri.

Perjalanan 5 hari itu membuka mata tentang kondisi di luar Indonesia; enak, bersih, segar, adem, namun kehilangan suasana merakyat dan bersahabat yang aku sering temui meskipun di beberapa titik seperti di tempat-tempat makan kaki limanya tempat kami menyantap Mi Kepiting, suasana bersahabat seperti di Indonesia itu tetap hadir.

Selama 5 hari kota kecil itu kami telusuri, mulai dari Pulau Sentosa, Orchard Road, Jurong Bird Park, Science Museum, taman-taman di jantung kota, dan yang pastinya seperti yang telah aku paparkan; titik-titik jajanan murah enak dan khas yang tidak pernah luput dari perhatian lidah dan perut.

Aku kini sudah tidak terlalu ingat tentang perjalananku yang satu ini, namun yang pasti dari perjalanan itu aku mulai ingin untuk jalan-jalan lebih jauh lagi, lebih ke berbagai tempat lagi...

Seperti kata Mas waktu itu; "jalan-jalan itu membaca dunia".
Memang benar adanya, dan itu aku buktikan rasanya di 5 hari itu.

KELAS 2

Kelas 2 merupakan suatu tahun yang didalamnya terjadi banyak tahapan perubahan; akhirnya keluarga kami berhasil membeli sebuah mobil yang benar-benar sepenuhnya milik kami, bukan pinjaman dari saudara atau pemberian dari kantor - sebuah CRV, yang entah mengapa menurut Mas sangatlah enak untuk diajak jalan-jalan keluar kota, ia sangat menyukai mobil tersebut. Bahkan hingga sekarang ia masih menganggap mobil itu sebagai mobil yang terbaik yang pernah ia miliki; ketika ia harus membantu beberapa saudara keluarga untuk keluar dari jebakan hutang yang besar dan ia harus menjual beberapa barang mahal, mobil tersebutlah yang paling ia sayangkan untuk jual.

Selain mobil, masih ada banyak hal lain - mulai dari aku kedatangan saudara yang bernama sepupu dari garis ibuku; di kelas 2 & 3 lahir dua adik sepupuku namanya Akash & Ardra, kedatangan mereka ke rumah kadang mengangguku; aku dulu merasa anak-anak kecil sebagai gangguan karena sering nangis, namun seiring perkembangan ternyata aku justru merasa ingin punya adik seperti mereka.

Bukan hanya itu, kelas 2 juga merupakan tahun pertama Mbak/pembantu ku yang pernah aku sebut sekali dulu di bagian 2 yaitu Mbak Yanti meneruskan sekolah; awalnya hanya tamatan SMP, Ibu berbaik hati untuk menawarkannya kesempatan sekolah kembali, sempat minder awalnya Mbak Yanti dengan umurnya namun melihat ada peluang untuk penyetaraan/kejar paket C ia belajar sungguh-sungguh dan akhirnya dapat meraih ijazah SMA. Ia menyatakan ingin melanjutkan terus, dan akhirnya ia mulai kuliah, mengambil jurusan D3 Tata Boga di UNJ, tepat ketika aku kelas 2.

Di sekolah pun, banyak terjadi perubahan; lantai atas yang tadinya bersekat-sekat ketika kami masuk sekolah kembali di hari pertama kelas 2 berubah total; semuanya hilang, ruang demi ruang sekarang hanya berbatas rak-rak buku. Dari ujung yang menghadap jalan raya kami bisa melihat ujung lantai 2 yang lain. Rasanya sangat lapang - seakan-akan kami belajar di satu ruang yang amat besar dan luas.

Sekolah juga merenovasi beberapa bagian, contohnya bagian lab yang dulunya terkesan tua dan berdebu sekarang menjadi nyaman dan ber-AC, lalu bagian lapangan bola yang tadinya masih sering tumbuh tanaman liar kini menjadi jauh lebih tertata rapi; tempat kami sholat didekat gedung kelas 5 keatas juga diperbaiki; hanya satu titik di sekolah yang tidak terasa lebih bagus; pojok ujung kebun sekolah, tempat tumbuh pohon kapuk menjulang tinggi. Pojok yang terbengkalai di ujung lapangan bola itu sama sekali tiada nampak berubah.

Perubahan lainnya yang terjadi hanya di kelas 2 adalah sebuah fakta bahwa aku paling banyak sakit di kelas 2; mulai dari demam biasa hingga thyphus parah yang membuat aku tidak masuk sekolah selama 3 minggu juga terjadi di kelas 2.

Namun diantara sekian banyak hal itu, ada sebuah serangkaian perubahan yang ketika aku sebutkan menimbulkan berbagai rasa dalam diri; kadang aku merasa malu dan menyesal aku tidak melanjutkan semua minatku itu, kadang pula aku merasa bersyukur tentangnya karena jika tidak mungkin aku bukanlah aku yang sekarang....

Bagian serangkaian perubahan itupun aku berikan sebuah tempat khusus di autobiografi ini,
Selamat membacanya....

Seribu Cita-cita 
Tidak salah lagi, seperti judulnya, kelas 2 merupakan waktu minatku terhadap berbagai macam bidang tumbuh, mulai dari bermimpi menjadi Arsitek, Programmer Komputer, Pemain Biola Orkestra, Penulis, Penyanyi, dan tidak lupa cinta dan ambisi dari Catur & Piano yang aku telah temui lebih awal di kelas 1.

Arsitek? Ya, awalnya juga semuanya sederhana - alih sebab Mas mengundang Tante Tini dari Bandung untuk melihat rumah kami lagi; perbicaraan mereka di ruang tamu itu menumbuhkan imaji didalam pikiran ini tentang membangun rumah, karena sejak saat itu juga aku lebih memperhatikan setiap sisi di rumahku; dari mana bahannya datang, bagaimana membuatnya... Aku juga sempat melihat denah-denah rancangan Tante Tini yang dia juga bahas dengan Mas ketika berkunjung tentang proyek-proyeknya yang sedang berjalan. Cukup dengan beberapa kali melihat aku langsung ingin membuat rancangan seperti itu.

Imajinasi liar nan spesifik pun mulai berkeliaran; aku tidak ingin membuat gedung-gedung tinggi, namun rumah-rumah/ruang apartemen sederhana saja.
Banyak kertas di rumah pun habis oleh denah-denah yang aku gambar; mulai dari skema rumah di desa tepatnya dipinggir sawah hingga denah satu flat apartemen yang berada di lantai teratas suatu bangunan.

Namun semua itu hanya berhenti di kertas sesekali saja; ketika selesai satu denah yang tampaknya memuaskan, lembaran kertas yang masih kosong seakan menjadi incaran yang paling berharga; lalu kemudian grafir pensil kembali merusak kebersihan kertas kosong, sementara kertas yang tadi telah terbubuhkan serpihan grafit yang membentuk denah rumah yang baik itu hilang diantara tumpukan kertas dan buku,

Menginjak Oktober-November, aku mulai tertarik dengan Biola; kali ini memang agak dipanas-panasi oleh Ibu yang ternyata zaman dulu ingin sekali bermain biola namun karena kondisi ekonomi saat ia masih kecil tidak memungkinkan ia diam-diam menurunkan keinginan tersebut kepadaku.
Aku belajar biola selama kurang lebih 3 bulan, awalnya memang mengasyikkan namun lama-lama juga susah; menjadi satu-satunya laki-laki di kelas, dan agak frustasi dengan bow/busur gesekan yang sering kendor. Walaupun perasaan bermain biola memang menyenangkan akhirnya aku meninggalkannya, tapi aku simpan biola itu hingga sekarang, kalau-kalau suatu saat aku ingin memainkan not sederhana atau ingin belajar kembali.

Menulis. Yang satu ini untungnya dapat bertahan hingga sekarang, walaupun kini tidak sesering dulu aku menulis, semua berawal dari membaca sebuah novel yang telah diangkat menjadi film kala itu; Harry Potter. Aku bermimpi betapa hebatnya seseorang dapat menulis sesuatu yang kemudian diangkat menjadi film yang amat terkenal; berawal dari mencoba meniru gaya-gaya bahasa dari buku-buku yang bagus, lama kelamaan aku bisa mendapatkan ritme menulis sendiri, namun sayangnya selalu, aku tidak tahan menulis sebuah cerita yang berkelanjutan; semua berhenti di satu titik. Namun titik itu juga, sudah tidak cukup dianggap sebagai cerita pendek pula. Sehingga untuk menjadikannya sebuah karya yang teridentifikasi agak aneh; terlalu panjang untuks sebuah cerpen; namun masih terlalu pendek untuk sebuah cerber atau buku.
Hingga sekarang itu masih menjadi kelemahanku dalam menulis aku akui.

Januari; semester baru datang dan Mas mendapat hadiah dari Tante Via; teman kantornya yaitu CD kumpulan 200 lagu mulai dari lagu Indoensia hingga luar. CD itu, bersama dengan kenalnya aku dengan Fira, anak dari tante Via yang sudah belajar menyanyi, aku juga semakin senang bernyanyi sesuai dengan suasana. Dan kami berdua pun menjadi senang sekali kalau bernyanyi bersama ketika bertemu; mulai dari di bus ketika acara Outing kantor hingga ketika pergi ke Bali bersama.

Sayang semenjak kelas 6 aku mengalami perubahan suara, suaraku menjadi tidak terkendali; kadang cempreng, kadang dalam, hingga sekarang perubahan itu masih terjadi. Sehingga aku tidak bisa meneruskan menyanyi dengan baik, walaupun aku masih sering menyanyi untuk mengekspresikan apa yang sedang aku rasakan, tak peduli meski kadang beberapa teman mengkritik saja suaraku yang fals.

Ketika kelas 2 itu, Mas mendapat laptop dari kantor dan sering membawanya pulang ke rumah, kami berdua sering bermain catur disana dengan salah satu platform game catur paling terkenal hingga sekarang; Chessmaster keluaran Ubisoft Kanada.
Kadang aku asyik karena set-set caturnya yang kreatif, dan bagaimana terdapat banyak sekali 'tokoh virtual' catur yang ada disitu, aku tidak hanya menjadi semakin tertarik terhadap catur itu sendiri namun juga terhadap Programming.

Sayangnya Chessmaster kami adalah versi original, sehingga untuk belajar mengotak-atik filenya, seperti yang Om Donny (teman Ibu) katakan, beresiko.

Walau berhenti langsung ditempat, ketika kelas 5 datang dan aku mendapat PC sendiri dan membeli beberapa game, aku langsung mengotak-atik file-filenya, berencana membuat sebuah mod/modifikasi game original, namun ternyata animasi tidak semudah yang kukira, dan programming ternyata menyita banyak waktu sehingga ketika diteruskan ke masa SMP yang aku semakin sibuk, akhirnya cita-cita itu juga terabaikan.

Soal catur sendiri berkat Chessmaster itu aku lebih sering bermain dan berlatih, tidak hanya itu, dengan teman-teman lama Mas & Ibu yang sering berkunjung dan menginap di rumah kami setelah datang dari daerah, Mas sendiri sering menawarkan aku untuk bermain lawan mereka.

Salah satu yang paling aku sering bermain adalah dengan Om Isnan, teman SMA Ibuku dari Jogja, yang aku lebih senang memanggilnya dengan nama "Pakdhe Gedhe" karena memang figur badannya yang sangat tinggi besar dan gemuk. Permainan dengannya selalu seru dan ia membuatnya tidak serius dengan selalu mengajakku berbicara. Hingga sekarangpun walau aku sudah tidak aktif lagi permainan dengan Pakdhe Gedhe adalah permainan yang paling menyenangkan setelah melawan Mas tentunya.

Berkat cepatnya progressku hingga sempat menahan remis Mas, Mas mencoba mencarikan tempat agar aku dapat lebih besar lagi menyalurkan hobi itu - datanglah ia kepada teman lamanya, teman lama sekali yang kini telah menjadi pecatur professional; Utut Adianto. Kata Om Utut belajar di tempat yang ia punya, SCUA/Sekolah Catur Utut Adianto pastinya akan bagus hasilnya; mengingat yang mengajar adalah teman-teman Om Utut yang juga sudah menyandang gelar di kancah internasional, walhasil akupun mulai belajar, walaupun harus belajar jauh tepatnya di Kelapa Gading, karena saat itu SCUA hanya ada di Kelapa Gading dan Bekasi Timur.

Disana aku belajar dengan IM/International Master Danny Juswanto yang aku panggil Pak Deni sebagai guru pertamaku; sosoknya seorang Tiongkok tua yang ramah namun analitik dan kritis. Di suatu kelas yang berisi enam belas anak setiap sabtu pagi itu, pesaing terbesarku adalah anak perempuan dari sekitar Kelapa Gading situ bernama Francisca Jessica. Pintar & agresif permainannya, namun seringkali jatuh ke tangan permainanku yang lebih sabar, seakan-akan defensif namun menyimpan jebakan. Adapun kalau aku kalah karena dia seringkali karena salah perhitungan dalam menyimpan jebakan tersebut.

Perjalanan jauh itu aku tempuh setiap hari sabtu, dari Pasar Minggu menuju Kelapa Gading, walaupun panas khas Jakarta Utara sering menyengat, namun itu semua terbayar karena ketika pulang, banyak tempat-tempat makanan yang belum atau aku sudah pernah makan kami jamahi kembali; mulai dari sekitaran Mal Kelapa Gading ataupun turun menuju daerah Pasar Baru, Menteng, Manggarai, Tebet....

Adanya les catur itu juga membuatku harus mengubah waktu les piano ke hari Minggu.

Tiap hari kala itu seakan-akan tidak pernah berhenti dari aktifitas; sejak saat itu aku dilatih untuk selalu aktif setiap hari, dan memanfaatkan waktu luang dengan sebaik mungkin ketika dapat satu hari libur...

Perjalananku di Catur bertahan cukup lama hingga kelas 5, dan perjalananku di Piano hampir pupus ketika kelas 7, namun akhirnya bertahan hingga sekarang. Dan kedua perjalanan itulah yang paling membentuk hidupku selain dari pengalaman-pengalaman di Sekolah sendiri.

Di kelas 2 awal pula, ada sebuah perubahan dari diri Mas & Ibu; mereka naik Haji.

Ditinggal 40 hari ke Tanah Suci menyisakan hanya aku, Mbah Ti, dan Mbak Yanti di rumah kami itu; Mbah Ti sudah tua dan walau bisa melakukan beberapa hal seperti memasak namun sudah tidak bisa melakukan banyak hal yang menguras tenaga. Disisi lain Mbak Yanti yang mulai kuliah di Rawamangun juga tidak selalu bisa menjaga rumah, untuk itu Mas & Ibu mengamanatkan rumah sepenuhnya kepada Tante Wulan, adik bungsu Ibu & Om Jiung suaminya untuk menjaga kami yang ditinggal dirumah.

Karena 40 hari sederhana itu, hingga kini diantara seluruh Tante/Om/Pakdhe/Budhe (saudara ayah/ibu) aku selalu merasa paling dekat dan nyaman dengan Tante Wulan & Om Jiung.

Diantara begitu banyaknya perubahan yang terjadi di kelas 2, aku tidak lupa untuk menyisakan waktu di sore hari untuk mengikuti sebuah demam yang juga terjadi dengan teman-temanku; kartun Jepang.

Dragon Screamer

"Ukirkan dalam hati kapten masa depan
Lebih tangguh daripada yang kita duga
Daripada terbawa hati yang gelisah -
Cobalah tuk menangis saja

Demi meraih... Masa depan gemilang
Tak perlu ragu jadilah diri yang baru
Bukan demi... tuk siapapun juga
Cukup mencoba 'tuk jadi lebih hebat...."

2 Bait itu cukuplah sekiranya untuk membangkitkan memori masa kecil terutama bagi anak-anak laki-laki yang lahir di tahun 95-97an.
Lagu yang menghiasi tahun-tahun awal SD kami, keluar dari saluran TV yang kini telah diakuisisi oleh Mogul Media Indonesia Transcorp; TV7 - walaupun sebagian orang lebih mengenal lagu awalan pertamanya ("Lari lari lari tendang dan berlari.... Berjuanglah Tsubasa Pahlawan Kita") Namun diantara sekian lagu yang paling aku ingat adalah lagu ini.

Demam Tsubasa memang sudah dimulai sejak kelas 1, namun kelas 2 adalah puncaknya; bahkan ia berhasil menghasilkan sesuatu disekolah; terbentuknnya klub/ekskul sepakbola yang latihan setiap sabtu pagi karena makin banyaknya teman-teman yang tertarik pada sepakbola. Aku pribadi sudah senang dengan dunia sepakbola sebelum ada Kapten Tsubasa, namun semakin tertarik dengan hadirnya serial tersebut. Walaupun tetap aku ternyata memang tidak jago dalam bermain bola...

Perlu dicatat, Kapten Tsubasa hanyalah satu dari sekian banyak anime yang kala itu hadir di TV lokal (dan sudah di-translate) dan juga hadir di daftar wajib-di-tonton oleh kami satu kelas, beberapa anime lain kala itu, beberapa yang lain yang mendapat perhatian dari teman-temanku antara lain, Detective Conan di Indosiar, lalu dari TV7 juga masih ada Slam Dunk, Nube, Hikaru no Go, dan Pinky Momo. Masih ada pula yang menyukai menonton Doraemon dan Crayon Shinchan di RCTI namun sudah berkurang, tidak lupa di kelas 2 akhir sudah mulai ada alternatif lain seperti One Piece dan Speed Racer dan tentunya, Hachi Bee. Ada pula satu anime yang aku lupa namanya tapi menghadirkan cerita tentang kompetisi dunia masak-memasak tapi dipack dengan aksi yang seru...Mungkin ada yang ingat?

Aku sendiri jika memilih tiga anime favorit kala itu adalah Kapten Tsubasa, Slam Dunk dan Hikaru no Go. Namun ada juga anime yang penggemarnya kala itu hanya aku sendiri yaitu Makibao, tentang kuda kecil mirip sapi yang ikut dalam ajang balapan kuda... aku paling ingat lagu openingnya, Hasire Hashire Makibao, yang sangat unik dan nyangkut dikepala. Justru lagu itulah lagu kedua yang paling aku ingat setelah lagu Dragon Screamer nya Kapten Tsubasa.

Anehnya kala itu, berbeda dengan yang lain, aku tidak membarengkan kesukaan menonton itu dengan membaca Manga, hanya ada satu serial Manga yang aku ikuti dan baca terus, dan itu pun setahu ku tidak pernah ada versi anime nya di TV lokal kala itu; Kungfu Boy.

Perkenalan aku dengan teman-temanku dengan anime memang banyak memberikan kesan dan peninggalan; mulai dari teman-teman yang jadi ikut belajar Manga, atau mayoritas teman-teman laki-laki yang jadi suka bermain bola karena Kapten Tsubasa, namun yang paling aku ingat tentu adalah Shannaz teman perempuanku yang menjadi suka bermain Igo/Catur Jepang setelah menonton Hikaru no Go.

Aku sempat berfikir kenapa tidak ada kartun tentang Catur biasa ya?

"106.2 Bens Radio
Betawi Punye Gaye!"

"97.1 Radio Dangdut TPI
Asik Musiknya, Asik Goyangnya"


Bagi para pecinta musik dangdut, dua stasiun berfrekuensi FM itu mungkin bukanlah sebuah nama yang asing lagi.
Namun darimana seorang Muhammad Arkandiptyo yang tumbuh di lingkungan menengah yang baru mengenal satu budaya asli Indonesia yakni Jawa yang masih merupakan asal usulnya, mengenal dengan sangat frekuensi-frekuensi ternama radio di Jakarta yang menyuguhkan lagu Dangdut diluar ranah Campur Sari seperti lagu Cucak Rowo & Prahu Layar berikut dengan catchphrase andalannya?
Jawabannya ada pada Supir keluarga kami.
Namanya Bang Fauzi.
Bang? Ya, ia memang asli Betawi Pejaten, rumahnya tak jauh dari rumah kami, masih berada di perkampungan Betawi tepat dibelakang kompleks Polisi yang masih berada dibilangan Samali.

Ia sudah menjadi supir kami sejak kami pindah ke Pejaten, namun ternyata watak aslinya baru terlihat ketika aku Kelas 2; ketika hanya ada aku & dia di mobil, Frekuensi Delta FM kesukaan Mas & Ibu langsung diganti menjadi salah satu dari dua radio tersebut, kadang pula ia pindah ke frekuensi Radio Kayu Manis, radio dangdut lainnya yang aku sudah lupa frekuensi dan catchphrase-nya.

Tak pelak radio itu menjadi bagian yang harus aku nikmati pula; aku tidak mengerti apa-apa kala itu soal jenis lagu yang aku baru dengar kala itu, jadi aku ikut mendengarkannya saja.

Tidak hanya dangdut, kadang ada pula sesi-sesi talk-show agama; suatu fakta yang aku ketahui bahwa Radio Dangdut mayoritas juga pada waktu-waktu tertentu menjadi Radio yang bisa jadi sangat Islami, dengan menghadirkan berbagai Ustadz/Ustadzah sebagai narasumber dan Tilawatil Qur'an yang kualitasnya bersaing.

Selain itu, terutama untuk Bens Radio sering juga menjadi ajang pertunjukan budaya Betawi, mulai dari lomba balas pantun kilat lewat telfon yang berhadiah sampai sandiwara-sandiwara humor Betawi yang kadang berkesan amat menyindir dan bergenre Slapstick jika dikelompokkan dalam humor barat - hal tersebut sama juga dengan apa yang aku amati di radio-radio di Jawa; ketika sore dan malam hari ketika mudik, radio-radio yang berorientasikan amat Jawa sering mendalang tentang kisah-kisah Babad seperti cerita Babad Menoreh ataupun Wiracarita Mahabharata. Dan pernah sekali pula aku mengamati sebuah Radio di frekuensi AM yang merupakan radio etnis Melayu, juga melakukan hal yang sama terhadap pantun, gurindam dan puisi-puisi format kuno lainnya yang dimiliki budaya Melayu. Sempat juga mengamati radio Hokkian di Banten, namun aku tidak dapat menyimpulkan hal yang sama karena bahasa yang dipakai bercampur-campur dan tidak bisa ku mengerti seluruhnya

Pelajaran hidup betapa radio adalah sebuah media yang walaupun tergeser oleh Internet dan Televisi, tetap terus bersinar dengan segala idealismenya dikalangannya sendiri.

Itulah segelintir perubahan yang begitu banyak di kelas 2, namun seperti halnya ketika kelas 1, liburan akhir tahun ajaran di Musim Kemarau selalu menjanjikan sebuah perjalanan yang mengubah pandangan...

Ya, Bali adalah destinasi kami kali ini.
Kami yang dimaksud? Aku, Ibu & Mas? Tidak.
Kali ini kami kedatangan keluarga dengan anak tunggal lainnya yang ingin berjalan-jalan. Ingat sebelumnya tentang Fira anak Tante Via ? Ya, Tante Via, Om Rendra & Fira ingin ikut berlibur bersama kami ke Bali.

Di Bali kami menginap di Novotel Nusa Dua dan Rumah Boss Tante Via & Mas (Mr. Scott) di luar kota Ubud. Masing-masing 3 hari lamanya.
Kami mengunjungi banyak tempat, mulai dari Nusa Dua, Jimbaran, Sanur, Denpasar, Kuta, Ubud, hingga Tampaksiring, Gianyar & tentunya Pura Besakih dan suatu Pura yang banyak monyetnya, aku lupa dimana, tapi tak jauh dari Ubud.
Sayang seribu sayang, kami tidak pergi ke Uluwatu.

Yang paling aku ingat adalah memberi makan para monyet di Pura itu bersama Fira, dan juga berlomba mendaki Pura Besakih bersama Mas hingga titik tertingginya, dimana jalan terusnya berarti akan mulai mendaki Gunung Agung.

Kebersamaan bersama Fira & keluarga mereka mengajarkan betapa diluar keluarga kita sendiripun kita dapat membuat diri kita merasa seakan satu keluarga.

KELAS 3
Kelas 3 adalah waktu dimana kesibukan mulai terasa, karena aku sejak saat itu pulang dari sekolah setelah ashar yaitu jam 3.30. Apalagi dengan pelajaran-pelajaran yang jamnya ditambah, walhasil pulang meskipun merasa masih sanggup, jam tidurku tidak berubah dari sebelumnya - tetap jam 8.00-9.00 malam.

Di kelas 3 ini pelajaran dan sekolah tidak terlalu signifikan perubahannya, tapi aku memulai sebuah hubungan yang spesial dengan 2 orang yang amat berpengaruh dalam hidupku; sesosok Waryanti dan di ujung lainnya, sesosok Edhi Handoko.

Ba Yan
Nama itu tampaknya seperti sebuah nama Cina, namun tidak; itu adalah panggilan ku kepada Mbak Yanti. Yang nama aslinya ialah Waryanti.

Mbak Yanti kini menapaki tahun ke-2 nya di UNJ, dan aku menapaki tahun ke-3 ku di SD; aku berumur 8 tahun dan ia berumur 20 tahun. Aku adalah bagian dari keluarga dan dia adalah pembantu rumah tangga kami yang masih sepupu jauh satu Mbah Canggah dari sisi Ibu.

Dulu ia hanya anak lulusan SMP yang tidak punya pikiran akan kemana-mana sehingga terus membantu ibunya bertani & menjaga warteg, tepatnya di Kalikele, sebuah desa di tepi sungai Serayu, yang untuk mencapainya harus melewati sebuah desa lainnya di pinggir Jalan Utama Pantai Selatan yang bernama Margasana yang masuk di daerah Wangon, Banyumas.

Kalikele itu juga merupakan salah satu kampungku; tempat dimana Mbah Canggah (Kakek dari nenek dari ibu) lahir dan meninggal. Konon katanya aku pernah mudik ke sana, mudik pertama ku ketika aku bayi, namun aku sama sekali tidak mengingat apa-apa ketika itu. Hanya sebuah ingatan samar tentang nisan kecil berlatar hutan pohon pisang ditepi sungai yang besar yang aku tidak yakin itu apa, namun Ibuku sering membenarkan gambaran yang aku ingat itu sebagai makam keluarga di Kalikele.

Ya, awalnya Waryanti itu hanyalah seorang anak kampung di Jawa Tengah yang biasa-biasa saja.
Hingga suatu ketika Ibu yang sedang mencari Pembantu menelpon ibunya dan iapun pergi dan tinggal bersama keluarga kami di Jakarta.

Kami berdua seakan-akan adalah teman & adik-kakak.

Tiap Sabtu-Minggu ia tidak memiliki kerjaan dan aku ada di rumah kala sore harinya, kami sering bercerita dan bermain HPnya di kamarnya; berhubung HPnya kala itu sangat banyak permainannya, sementara HP Mas & Ibu sama-sama HP sederhana - belum pernah berganti sejak dulu; masih memakai sebuah variasi Nokia 3200, yang jika kini teman-temanku mengenalnya lewat 9Gag sebagai "HP Nokia yang tidak bisa dihancurkan". Selain itu karena ia sering mencoba-coba membuat makanan  baru lewat teknik yang ia pelajari di kuliah, aku juga sering membantunya; aku paling ingat kreasi terenaknya kala itu ialah Kepiting Lada Hitam yang pedas, hitam seakan dibakar, namun tepat karena walaupun hanya menggunakan Rajungan Murahan tapi rasanya tetap menyerap kedalam. Namun aku paling ingat dia paling sebal ketika berhadapan dengan mata kuliah Pastry & Bakery, karena harus selalu menggunakan takaran yang pas, jika tidak - adonannya bisa jadi lembek atau terlalu keras, mengembang terlalu besar atau bahkan tidak mengembang sama sekali.

Kadang-kadang ia bercerita kepadaku tentang perasaannya menghadapi teman-teman dan tugas kuliah yang sulit, aku hanya mengiyakan dan ikut bersimpati saja.

Ternyata kini aku juga melakukan hal yang sama kepada teman-temanku, dan aku sadar bahwa hal yang dulu ia lakukan itu bernama curhat.

Kami benar-benar seperti kakak dan adik. Sama-sama membantu, kadang pula sama-sama sebal karena diisengin oleh satu sama lain.

Hal itu terus berlangsung hingga suatu ketika kelak di kelas 5 setelah ia lulus dari UNJ, ia memutuskan untuk pergi.
Memang sudah tiada lagi alasan logis, bagaimana mungkin kita dapat menahan seseorang yang sudah mendapat gelar berpendidikan lanjut, walau bukan sarjana, sebagai seorang pembantu rumah tangga.

Tidak muluk-muluk ia memilih Dubai sebagai tempatnya bekerja.
Dan ia cukup berhasil disana.

Kini ia telah menjadi Sous-Assistante-Chef (Asisten Sous-Chef/Chef ke-2) di salah satu bagian restoran di hotel Burj 'Al-Arab, ya, Burj yang terkenal sebagai hotel tertinggi itu.

Sudah jarang aku berbicara dengan dia secara online, apalagi dengan perbedaan jam yang ada.
Namun sekali ia pulang ia selalu menyempatkan waktu untuk datang kerumah kami; dan ketika ia datang, rutinitas tua memasak dan bercerita bersama, selalu datang kembali.

Ya, Mbak Yanti hebat - namun tak kalah hebat, Ibu, yang berani mengajukan ide dan mendukung ia untuk terus naik menuju pendidikan lanjutan...

Dua perempuan hebat di hidupku.

Itu adalah kisahku & Mbak Yanti, tentang orang hebat lain yang aku temui ketika aku kelas 3 ialah  mendiang Alm. Edhi Handoko

Sang Harimau Tua

 Suatu ketika aku berhasil melewati Tes Level Intermediate II di sekolah catur.
Tingkatku pun naik menjadi Intermediate III.
Ucapkan selamat tinggal kepada Pak Denny - seorang guru baru akan menjadi pembimbing aku dan ke-4 kawanku yang lulus Intermediate II dan merupakan angkatan pertama SCUA Kelapa Gading kala itu.

Guru baru itu tampak lebih tua dan tambun dengan sebuah tahi lalat khas di bagian bawah mukanya; dan dengan perlakuan Pak Denny kepadanya, ia nampak sebagai seseorang senior dikalangan para pecatur profesional itu. Ia memang sudah menyandang gelar tertinggi dalam catur: IGM / International Grand Master.
Namanya Edhi Handoko.

Entah kenapa ia tampak menyukai gaya permainanku; kala itu aku memiliki impuls untuk memakai pembukaan yang agresif dan pertukaran bidak yang cepat, lalu menjadi normal/mengikuti lawan dipertengahan sebelum akhirnya memakai trik jebakan yang tidak terlihat. Sebuah perkembangan dari gayaku dulu ketika dibawah bimbingan Pak Denny.

Ia menyarankan "kamu sekali-kali main ke Bekasi coba, tiap 2 minggu mereka ada turnamen berhadiah kecil-kecilan."

Dan pergilah aku, mencoba bermain disana.
Walaupun tempatnya tidak sebagus Kelapa Gading, lebih seperti sebuah ruang kelas SD Negeri yang besar; namun permainan para anak didiknya menyeramkan, di turnamen pertamaku dari 5 kali bermain aku hanya menang 2x, bertengger di posisi ke 14 dari 23.

Setelah aku lapor kembali ke Pak Edhi, ia menawarkan ku sesuatu, aku lupa persisnya kata-kata dia, tapi kurang lebih seperti ini;
"Bapak bisa ajarin kamu biar menang disana, mau?"

Dan mulai kala itu, aku mengambil kelas tambahan privat dengan Pak Edhi, setiap setelah hari Selasa & Rabu, di rumah Pakdhe Yuli (sepupu jauh Mas) yang tinggal di Gunung Putri, sebelum Cibinong.
Pelajarannya lengkap menyeluruh - mulai dari membedah permainan para Grand Master dunia seperti Garry Kasparov dan Anatoly Karpov dari Rusia, ataupun membedah chess-problems atau puzzle klasik 3-langkah-skakmat buatan pionir-pionir catur Eropa seperti G. Fianchetto dari Italia abad ke-17 ataupun kontemporer buatan pelatih-pelatih catur Internasional seperti IGM Visnawathan Anand & Hindi Konery dari India, dan juga berlatih bermain melawannya dan lalu meng-analisisnya kembali.
Itu dilakukan dari jam 5 terus hingga jam 7 ketika Ibu datang pulang kerja dari Cibinong.

Seiring berjalannya waktu aku dapat memenangi hadiah kecil-kecilan Rp 20,000 menjadi juara I divisi II turnamen dwimingguan di Bekasi. Lalu promosi ke divisi I lah yang aku dapat, dimana para pemain profesional kadang-kadang ikut turun ke hadapan papan catur ketika sedang tidak berlatih/berkompetisi.
Dari situlah aku mengenal 5 teman baikku dalam mengarungi dunia percaturan; Aston Taminsyah, FIDE Master kecil inilah yang lebih dikenal orang kala itu karena menjadi bintang iklan Susu Bendera, lalu kakak-beradik Benhart & Jessica Pasaribu yang gaya bermain dan level permainannya tidak jauh berbeda dariku, ada pula Master Nasional Farid Firmansyah, anak dari tukang penjual Nasi Goreng tepat disebelah gedung SCUA Bekasi. Dan sesosok 'kakak', FIDE Master yang kini telah menjadi WGM/Woman Grand Master pertama Indonesia; kami berempat memanggilnya Kak Iren, namun orang lain lebih mengenalnya lewat koran sebagai Irene Kharisma Sukandar.

Masih bingung dengan gelar-gelar catur? Ada penjelasan singkatnya - semuanya seperti tingkatan "Dan" di Karate dan beladiri Jepang lainnya sebenarnya.

Paling rendah adalah Master Asosiasi/Federasi Catur setempat, kalau di Indonesia karena Asosiasi Catur Indonesia namanya adalah Percasi, sehingga gelar tersebut namanya Master Percasi. Bisa diraih lewat memenangkan kejuaraan yang dilisensi oleh Percasi/Federasi Catur nasional

Selanjutnya adalah Master Nasional, didapat dengan memenangkan/mencatat performa bagus dalam kejuaraan nasional.

Diatas itu adalah CM/Candidate Master, didapat lewat mengikuti kejuaraan Internasional tingkat Regional (ASEAN, Eropa Barat...)

Setelah CM adalah FM atau FIDE Master, gelar diakui oleh FIDE/Federasi Catur Internasional lewat mencapai & mempertahankan Rating sistem Elo/Internasional sebesar 2000 (naik-turun sesuai kalah-menang) atau dengan mendapat norma/gelar juara/penghargaan individu di kejuaran Internasional tingkat Regional

Setelah FM ialah IM atau International Master, dengan mencapai Rating 2200 & 2 norma Internasional

Lalu ada GM/Grand Master atau WGM/Woman Grand Master untuk perempuan, dengan mencapai rating 2400 & 3 Norma Internasional.

Dan terakhir yang tertinggi, IGM/International Grand Master, mencapai rating 2500 atau 4 norma Internasional.

Ada pula sebuah gelar informal yang disandangkan para pemerhati catur kepada para Juara Dunia, ialah SGM/Super Grand Master, bagi mereka Juara-juara kompetisi Dunia (Open Grand Prix) & memiliki rating lebih dari 2600.

Sebagai patokan, rating tertinggi dalam sejarah catur adalah 2851 oleh Garry Kasparov di akhir tahun 1990an. Di tahun 2010an ini rating tertinggi hanya menembus angka 2750-2770 saja. Sementara rating tertinggi pecatur Indoneia diraih Om Utut Adianto juga diakhir tahun 1990an dengan angka 2615.
Jadi pasti mulai dari angka rating 2600 mereka sudah sangat lihai.

Kembali ke sekolah catur, kami ber enam kala itu terus berlatih dan diikutkan dalam berbagai kejuaraan junior di tingkat Jakarta & sekitarnya oleh Pak Edhi dan Pak Jamal, wasit/arbiter catur internasional pertama dari Indonesia.

Puncaknya kelak ketika aku kelas 4, meraih juara 4 di Kejurda DKI U-10, sementara Aston juara 3 dan Benhart juara 6. Kala itu juara 1-4 diberikan kesempatan untuk ikut Kejurnas di Batam, namun Ulangan Akhir Tahun menjelang dan aku melewatkan kesempatan itu.
Sempat juga kami ikut salah satu kejuaraan terbuka paling prestis di Indonesia; Japfa Jakarta Open lalu juga Kejurda Terbuka (non-umur) DKI, namun tentunya tidak mendapat hasil yang begitu baik dibanding senior-senior seperti Kak Iren.

Namun sayang ketika kelas 5 aku diharuskan untuk memilih antara sekolah dan catur.
Padahal sudah ada undangan untuk ikut dalam Kejuaraan Dunia Pecatur Muda di Thessaloniki, Yunani dan Kejuaraan Pecatur Muda Asia di Guangzhou, Cina. Pak Edhi sangat antusias kala menunjukan undangan tersebut ke aku.

Dan aku memilih mengedepankan sekolah.
Hubungan aktifku dengan catur putus semenjak itu.

 Hingga sekarang aku & catur seakan teman lama yang bisa diajak bermain ketika waktu senggang datang, namun tidak pernah sejago dulu kala.

Ya, catur....

Bagaimana dengan Pak Edhi? Jujur aku tidak pernah melihat dia merasa kecewa dan down seperti ketika aku memilih untuk memutus hubungan serius dalam dunia catur.

Aku tahu dia memiliki agenda tersendiri untuk membentukku secara pribadi, ia pernah bilang bahwa ia merasa sakit hati, oleh para kritik catur muda di Indonesia dan Asean, kalau dia yang dulu kala tahun 90an sempat digadang sebagai bagian dari tim "Para Harimau Catur Indonesia" telah disindir sebagai "Harimau Ompong", sudah tidak lagi memiliki taring untuk menggigit.

Ia ingin membuktikan mereka salah, dengan membentuk seorang grand master muda.
Ya, Grand master muda yang dimaksudnya adalah aku, dan kak Iren.

Ia melihat aku bisa belajar dan menyerap cepat, serta juga analitis dibanding murid-muridnya yang lain. Yang kurang hanya pengalaman melawan berbagai jenis lawan saja; karena lawanku seringkali masih berada di naungan SCUA yang sama didikannya.

Karena itu, diantara sekian banyak bidang yang aku telah tumbuhkan minat didalamnya, kepergianku dari catur aku memiliki rasa berat hati kepadanya.
Lebih lagi kepada Pak Edhi, mengingat murid yang benar-benar ia bimbing pribadi tidak ada selain aku dan Kak Iren saat itu. Aku yang juga percaya kalau ingin membuktikan atau meraih sesuatu harus dikejar juga merasa bersalah, telah menghalangi Pak Edhi dari membuktikan hal tersebut.

Itulah pertama kali dalam hidupku aku benar-benar merasa berat hati dan merasa bersalah, bahkan hingga kini.
Lebih lagi sekitar 1 bulan ketika di penghujung semester I kelas 8, tahun 2009 lalu, aku mengetahui beliau telah tiada - jatuh terserang sakit jantung secara mendadak. Ada perasaan bersalah yang menyangkut di hati. Meskipun ia berhasil mencetak Kak Iren sebagai WGM pertama Indonesia pada akhirnya, ada perasaan tanggung jawab yang dilepaskan dari tangan ini.

Namun aku percaya beliau di atas sana pun tetap, ketika melepasku, berharap kehidupanku kelak akan lebih baik.
Suatu saat aku ingin mengunjungi makamnya di Solo.
KELAS 4 SEMESTER I

Kelas 4 seakan mengulang kelas 2, banyak perubahan kembali terjadi; namun perubahan-perubahan ini kali ini datang dengan perlahan-lahan, sebagai bagian dari sebuah efek domino, bukan sebuah hujan meteorit yang menghujani langsung, tapi datang satu demi satu....

Angin Perubahan bernama Pensiun
Faktor terbesar yang membuahkan perubahan yang terjadi kala aku kelas 4 adalah keputusan Ibu untuk penisun; ia merasa sudah capek untuk pulang-pergi dari Jakarta ke Cibinong dan kadang kala ke Cikampek. Walaupun kala itu, Ibu mengaku sempat ditawari bayaran lebih mahal sebagai kenaikan gaji dan jabatan, namun Ibu menolak - ia lebih memilih untuk pensiun dini dan mengalihkan pikirannya ke bidang-bidang yang ia ingin tekuni.

Pesta perpisahan Ibuku berlangsung cukup meriah di kantor, aku pun ikut dan mengucapkan juga sampai jumpa kepada teman-teman sekantor yang paling dekat seperti Tante Nenny dan Om Donny.

Perubahan itu memastikan Mas sebagai satu-satunya penghasil lembaran rupiah bagi keberlangsungan keluarga kecil kami, sehingga akhirnya ia memutuskan menjadi dosen part-time akuntansi di Universitas Bina Nusantara/Binus setiap Jumat Malam & Sabtu Pagi.

Pensiun itu juga memastikan aku harus pindah sekolah; karena tidak ada lagi orang yang akan berangkat keluar Jakarta melewati Cibubur, maka aku harus mencari tempat yang lebih rasional untuk sekolah, walaupun tidak dekat tapi setidaknya tidak sejauh Cibubur.

Itu berarti juga kala itu, latihan caturku berpindah dari Gunung Putri menuju ke Kelapa Gading lagi.

Namun yang paling penting adalah perubahan sekolah.
Ya, karena sekolahku berikutnya adalah salah satu yang paling berperan penting dalam membentuk siapa diriku sekarang.

PEIS. Pakistan Embassy International School. Sebuah sekolah di bilangan Menteng menjadi tujuan ku selanjutnya.


(Berikutnya:
Bagian 4/8
Dinamika Kehidupan di Antara Anak 40 Bangsa
-Kelas IV-VI SD di Pakistan Embassy International School-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar