Sabtu, 15 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Muhammad Arkandiptyo (Bag. 2/8)


"16 Tahun Kehidupan Yang Menumbuhkan Harapan (Bag. 2/8)"


Gang Lontar yang Legawa & Saharjo nan Sederhana
(1996-2001)
-Masa Balita di Daerah Gg. Lontar, Saharjo, Manggarai

*bagian ini lebih seperti kumpulan cerita-cerita catatan pendek daripada sebuah cerita autobiografi yang kronologis karena sumber yang tidak selalu bersambung/kontinu, tapi semoga anda tetap bisa menikmatinya!*


Sebelum kisah masa balita ini aku tuturkan, ada satu elemen penting yang menjadi pusat kisah-kisahku dulu kala: Rumah sederhana bewarna kuning di Gang Lontar. Aku ingin memberikan gambaran pada kalian terlebih dahulu tentang rumah itu –

         Rumah Kuning Gang Lontar 
Masa balitaku aku habiskan di sebuah rumah tua dan kecil di Gang Lontar, sebuah gang kecil anak jalan dari Jalan Saharjo, sebuah jalan besar/arteri yang menghubungkan antara daerah Tebet dan Manggarai. Rumah ini bukan rumah sembarang rumah, ini adalah rumah hadiah dari ayah bapakku (kakek/Mbah Kung) untuk bapakku yang baru menikah. Dahulu kala tahun 1950an pertama kali Kakek membawa keluarganya ke Jakarta hingga Orde Baru tiba tahun 1970an dan para pegawai negeri mendapat jatah perumahan sendiri dibawah administrasi Soeharto, rumah ini merupakan rumah keluarga ayahku dan keenam saudaranya, rumah pertama mereka di Jakarta, ayahku juga mengalami 7 tahun pertama kehidupannya (1965-1972) di tempat ini.

Dibanding rumah tua kala itu, ayahku mengingat, rumah yang aku tempati di penghujung abad ke-20 itu tidak jauh berbeda dengan rumah yang ia tempati 30 tahun sebelumnya, “hanya beda perabot-catnya saja….” Katanya, “...juga luasan dapur yang mas rancang buat kita (aku, ibu dan ayahku)” [sic] tuturnya sambil mengingat-ingat.

Aku ingat, rumah itu catnya bewarna kuning, dibagian depan jika anda membuka pintu utama yang kecil akan didapati jajaran sofa tua panjang yang didepannya berdiri meja hitam kecil. Disebelah kirinya adalah sekumpulan benda-benda bersejarah bagi ayahku; fossil telur & kerang laut dari Pegunungan Lorentz di Papua serta replika burung cenderawasih asli buatan para suku Komoro (pesisir Timika) & kalung kerang dari sekitar Danau Sentani. Semua mengingatkannya kepada periode tahun 1990-1992 kala ia bekerja di Irian.

Melewati ruang tamu sederhana itu ada dua kamar di kiri dan kanan; dikiri ialah kamar untuk nenek (ibu dari ibuku) dan di kanan adalah kamar aku, ibu, dan ayahku. Tidak seperti sekarang, dulu kami bersusah payah disana – tidak ada dipan/ranjang dasar, hanya ada kasur terlentang di lantai. Berbaring disitu, engkau temui atap kami tidak tinggi, mungkin hanya sekitar 2,5 meter saja tingginya. Dan yang pastinya, selalu terjadi bocor ketika musim hujan datang – aku ingat satu kali ketika umurku tiga setengah tahun kira-kira, aku & ayah-ibuku tidur bersama lima belas ember dan baskom disekitarku untuk menadahi hujan Januari yang deras itu.

Jika dikamar ayah, ibu dan aku hanya ada kasur dan lemari baju, di kamar nenekku lebih lengkap, ada TV dan komputer. Sebenarnya penempatan ini hanya karena tempat ibu, ayah dan aku tidur lebih kecil. Ya, ibuku sengaja mengalah agar ibunya (nenekku) mendapat ruangan yang lebih besar, demi kenyamanan saja. Ditempat itu, sama juga, sering bocor, namun sering menjadi tempatku menonton TV. Karena aku tidak mengerti apa-apa ketika itu, aku hanya disetir saja oleh nenekku yang doyan menonton Telenovela impor dari Meksiko yang sangat terkenal waktu itu disiarkan di SCTV – Rosalinda (yang terkenal dengan lagu pembukanya – Rosalinda… Ay Amore!) dan ketika sore-malam, menonton sinetron yang aku lupa judulnya, tapi ingat jelas tokoh utamanya diperankan oleh Desi Ratnasari.

Setelah dua kamar itu adalah ruang makan kami, hanya ada tiga hal yang ku ingat jelas dari tempat itu sampai aku masih ingat hingga sekarang – satu; tutup makanan yang terbuat dari kayu yang selalu ada ditengah meja sampai kami semua duduk untuk makan, ia sempat masih kami gunakan ketika pindah di Pejaten, namun karena sudah tua akhirnya dibuang & diganti ketika aku kelas tiga SD. Dua; taplak meja bercorak garis-garis merah & hijau yang mengkotak-kotakkan latar belakang putihnya yang selalu ada di atas meja – yang diganti hanyalah plastik pelindung diatasnya, bukan taplaknya. Sekarang taplak itu menjadi lap kering di dapur yang sering aku dan ibuku gunakan ketika harus menadahi makanan panas (karena kami tidak punya sarung tangan memasak) seperti setelah memasak opor untuk lebaran, mengangkat kue untuk puasa, atau memanggang steak untuk tahun baru. Dan yang terakhir namun selalu menjadi favoritku adalah kulkas Mitsubishi abu-abu yang setia menemani hingga sekarang, dulu ia menampung seluruh kebutuhan yang harus didinginkan, sekarang di Pejaten ia menjadi kulkas di lantai dua yang selalu menampung makanan dan minuman kecil, jadi ketika malam-malam terbangun dengan perut lapar tidak perlu lagi turun ke lantai satu tapi cukup berlari kearah kulkas tua itu.

Disekitar ruang makan itu, ada satu kamar untuk pembantu, satu dapur dibelakangnya, dan satu kamar mandi. Yang aku paling ingat adalah kamar mandi, berbeda dari seluruh bagian rumah yang lainnya, kamar mandi itu seluruhnya bewarna biru muda – ubinnya, klosetnya, dindingnya, dan bak airnya juga. Tidak ada shower atau wastafel seperti yang kami punya sekarang, hanya satu bak air panjang dan kloset jongkok beserta dua gayung, satu besar dan satu kecil dan satu ember. Aku baru tahu belakangan bahwa bak panjang itu adalah peninggalan pula dari sejak ayahku kecil, mengingat dari ketujuh bersaudara itu enam diantaranya adalah laki-laki… ya, untuk keperluan mandi bebarengan maksudnya.

Terakhir, dibagian depan, dipojok kiri adalah garasi kami. Garasi itu pernah menjadi rumah untuk beberapa mobil notabene kami dulu sering berganti mobil – bukan lewat jual beli, tapi lewat pinjam meminjam, uniknya dibanding rumah kami hari ini, tutup garasi itu bukanlah pintu kayu ataupun pintu besi, namun adalah korden besi seperti yang sering orang-orang pakai untuk membuka-tutup sebuah kios dipinggir jalan. Ya, aku ingat sekali. Itu membekas sangat kuat didalam pikiranku, ibu mengingat satu ketika aku bahkan pernah, ketika diajak jalan ke daerah Pasar Baru yang banyak kiosnya aku berbicara “Mi-rip Gara-si ya!”

Kesederhanaan rumah ini sangat berperan penting dalam kisah masa balitaku….

Sketch reka ulang tentang rumah Gang Lontar dulu kala... (karena minimnya dokumentasi foto) Karya penulis dengan sumber cerita dari ibu dan Mas, September 2012
*Setelah kami pindah ke Pejaten, rumah itu berpindah tangan beberapa kali disewakan untuk berbagai macam keperluan, namun dua tahun lalu, semua ketidakpastian itu berubah. Rumah yang tadinya pendek dan mungil itu perlahan disulap menjadi bangunan putih bertingkat tiga. Aku akan ceritakan apa yang terjadi nanti.

....dan transformasi rumah no. 22 itu hari ini. Dok. Penulis April 2012

                Masa-masa yang Tidak Aku Ingat (1996-1998)
*catatan : tentang kisah di rentang waktu tahun 1996-1998 ini hampir seluruhnya bersumber dari apa yang diceritakan ayah, ibu dan orang-orang disekitarku yang berperan pada waktu itu, sehingga sangat memiliki kaitan erat dengan hal-hal yang terjadi di masyarakat tempat mereka berada. Sehingga kalimat-kalimat yang menggambarkan kehidupanku dan keadaan pada waktu itu dikait-kaitkan akan sangat sering ditemui di beberapa paragraf dibawah ini

Bulan-Bulan Awal : Tentang Syukur
Akekahan ketika umurku 3 minggu. Berdiri, Kiri-kanan: Pakdhe Toro (kakak ayahku) - Ibu menggendongku - Mbah Ti - Mbah Putri (Nenek dari keluarga ayahku)
Selama akhir Mei, ayahku masih menemani ibuku di Jakarta sebelum akhirnya ia harus meneruskan kembali persiapan akhirnya sebelum Defense (Sidang) Thesisnya di Manila.

Dari Juni hingga Juli 1996, ibuku harus bersiap bertahan sendirian dirumah terlebih dahulu sebelum ayahku pulang dari Filipina dengan gelar MBA yang baru ia didapatnya. Untungnya bagi ibuku, perusahaannya, Nestle, memakai standar kerja internasional sehingga menawarkan cuti bersalin selama 4 bulan yang membuat ia tidak harus terburu-buru kembali bekerja, belum ditambah keputusan Mbah Ti (nenekku) untuk tinggal bersama keluarga kami di Saharjo kala itu untuk membantu ibuku.

Karir ibu dan ayahku tak lama setelah aku lahir (berumur 2-3 bulan) ternyata menanjak cukup signifikan, berkah anak pertama katanya; ibu berhasil mendapatkan posisi Supplies Manager (Manager inventaris pabrik) di PT. Van Melle Indonesia, perusahaan permen terkenal Belanda di Indonesia sementara, ayahku, bersenjatakan gelar paskasarjana barunya, berhasil mendapat posisi di bagian Finance / keuangan di World Bank (Bank Dunia) Indonesia. Meskipun pergi ke kantor yang jauh berbeda jaraknya, ibuku di Cibinong sementara ayahku di Sudirman, itu tidak membuahkan masalah.

Ibuku dulu sangat ingin memberikan aku ASI Eksklusif, yaitu selama 6 bulan pertama hanya diberi makan berupa ASI / air susu ibu. Ibuku mengingat, betapa perjuangannya sangat besar untuk mempertahankan rencananya itu, apalagi setelah ia mendapat jabatan baru di Van Melle, yang membuat ia harus menguras dan menyimpan belasan botol susu seharinya untuk disimpan ketika meninggalkan aku di rumah bersama nenekku -dan mbakku (keluarga kami mulai memakai pembantu ketika aku berumur 3-4 bulan)
Beberapa alasan sederhana mengapa ibuku mengikuti & tetap mempertahankan program ASI Eksklusif itu, "kamu lebih sehat dan tidak gampang sakit selama masih ASI Eksklusif, selain itu tambah panjang & beratnya tetap normal dan proporsional." Ibuku memberi contoh "Pas akhir-akhir masa ASI Eksklusifnya itu, satu rumah lagi pilek semua - tapi kamu gapapa. Begitu selesai dan susunya mulai dicampur sama susu bubuk, padahal tinggal si Mbak yang pilek, kamu ikutan meler."

Ternyata efek ASI Eksklusif sebesar itu.

Menelusuri kisahku ketika masih dibawah 1 tahun, aku mendapati ibuku lebih banyak mengingat tentang penyakit yang aku derita – mulai dari pertama kali aku sakit yaitu pilek selepas selesai ASI Eksklusif, Kejang-kejang ditengah malam sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit, Diare tanpa henti selama 2 minggu dan batuk-batuk karena debu di rumah Mbah Kung (kakek dari ayah).

Kata ibuku, itu memang faktor bawaan genetika, pertama kali diketahui saat aku dibawa ke Mak Encang, seorang perempuan tua tukang pijat balita asli Betawi di Kalibata yang terus menjadi langganan hingga berumur tiga-empat tahun, kata ibuku, setelah melihat dan memijat-mijat telapak kakiku ia menuturkan bahwa fisikku secara umum tidak terlalu baik dan rentan sakit, namun ada potensi yang sangat baik tentang kemampuan intelektual otakku.

Bagusnya, ibuku tidak menceritakan itu hingga baru akhir-akhir ini; untuk membebaskan aku dari label dan beban yang dibawa pikiran olehny, jika dipikir lagi, memang masa kecilku hingga tahun-tahun awal SD penuh dengan waktu-waktu dimana aku gampang sekali jatuh sakit, namun seiring waktu berjalan ayahku kelak mengenalkan lebih banyak kegiatan dan olahraga, sehingga aku juga senang untuk pergi keluar dan berolahraga, meskipun aku tidak pernah menjadi jago kelak.

Ibuku memang pintar dan baik.

".....fisikku secara umum tidak terlalu baik dan rentan sakit, namun ada potensi yang sangat baik tentang kemampuan intelektual otakku.
Bagusnya, ibuku tidak menceritakan itu hingga baru akhir-akhir ini; untuk membebaskan aku dari label dan beban yang dibawa pikiran olehnya...."
Namun soal semua penyakitku itu juga mengundang pertanyaan dariku; mengapa ibuku lebih ingat tentang detil cerita-cerita aku dan penyakitku ketika aku bayi dibanding cerita-cerita lucu dan menyenangkan, ia lebih bisa menceritakan cerita bagaimana aku harus diinfus dirumah sakit daripada bagaimana ketika aku pertama kali bisa berjalan dari merangkak.

Memang harus dipikir juga tentang rasa sayang seorang ibu kepada anaknya, tentang bagaimana mungkin pada saat itu terpintas pada benak ibuku tentang kemungkinan akan kehilangan bayi pertamanya ini; ya, rasa takut kehilangan itu kelak aku juga rasakan melalui beberapa serangkaian pengalaman. Tapi yang aku tidak habis pikir ialah betapa kadang, manusia kurang bersyukur dengan yang dialaminya dan orang disekitarnya. Hingga kini jelas, seluruh sakitku ketika bayi ibuku lebih ingat dibanding bagaimana aku bisa berjalan pertama kali, bagaimana pertama kali gigiku tumbuh, pertama kali berbicara kalimat penuh…

Pemikiran itu kelak menjadi satu tonggak dalam hidupku, betapa kita harus mensyukuri dan menikmati setiap milestone atau titik pencapaian yang baik dalam hidup kita dan menjadikannya sebuah motivasi untuk merengkuh kebaikan-kebaikan di waktu berikutnya…

Hati yang Berbicara dengan Mukjizat
Rangkaian cerita hidupku yang kali ini juga merupakan bagian penting dalam hidupku. Ini tentang bagaimana seorang bayi 14 bulan atau 1 tahun lebih, yang awalnya sudah mulai bisa berbicara, dapat kehilangan kemampuannya lagi lewat sebuah kejadian yang bisa dibilang merupakan efek dari otak bawah sadarnya….
Kata ibu, pertumbuhanku seperti bayi normal biasa, hingga momen itu…

Momen itu ialah bulan Juli 1997, kakekku, Samsudin Martoyo, ayah dari ibuku yang aku lebih kenal sebagai Mbah Kung Depok (karena rumahnya di Depok) atau yang orang-orang lain kenal sebagai Mbah Sam, yang sudah lama menderita kanker paru-paru karena kebiasaannya merokok berat, akhirnya meninggal. Kakekku meninggal di Depok namun dimakamkan di sebuah bukit kuburan keluarga besar sederhana di tengah sawah di desanya, Kedu, di Temanggung.

Aku hanya masih mengingat ia sepintas di kepala, dengan pose tegak seperti di fotonya saat pernikahan ayah dan ibuku. Perbedaannya hanya di baju; yang aku ingat ia berbaju koko putih sederhana dan bersarung, sementara di foto itu ia hadir dengan kostum beskap lengkap layaknya Priyayi Jawa.

Ibuku mengenang, kalau aku dulu senang sekali setiap kali diajak ke Depok dan bertemu dia sang mendiang. Frase-frase sederhana seperti “Asayamuayaikum Bah!” aku dapat lafalkan dengan lancarnya, itu tutur ibuku.
Namun sepeninggal Mbah Kung Depok, aku seakan bisu – tidak bisa berbicara, dan sering sakit pula. 

Kata Nenekku, mungkin itu adalah peninggalan bawah sadar dan kesamaan dengan mendiang kakekku; karena sebuah kejadian yang menggoncang perasaan hati, baik mental maupun fisiknya dapat terpengaruhi secara besar, negatif maupun positif, tergantung cara ia memandang kejadian tersebut - bahkan efek itulah yang mengakibatkan ia meninggal; kata nenek & ibuku, kanker itu sudah diderita Mbah Kung Depok sejak tahun 80-an akhir, namun ia besikeras tidak ingin melakukan pengobatan & diagnosa lebih lanjut karena takut akan membebani pikirannya sendiri. Satu ketika tahun 1997 itu, ia jatuh sakit parah & akhirnya berhasil dipaksa oleh nenek & ibuku serta saudara-saudara ibuku untuk berobat, ketika vonis dokter dijatuhkan dan banyak obat-obatan dan moda pengobatan harus dijalankan, ia merasa terbebani dan terkekang...

"Mungkin itu adalah peninggalan bawah sadar dan kesamaan dengan mendiang kakekku; karena sebuah kejadian yang menggoncang perasaan hati, baik mental maupun fisiknya dapat terpengaruhi secara besar, negatif maupun positif, tergantung cara ia memandang kejadian tersebut
bahkan efek kesatuan tubuh dan pikiran itulah yang mengakibatkan ia meninggal ..."

Vonis dokter yang berkata beliau masih sanggup bertahan hingga 5 tahun, justru membebani pikirannya, dan tidak sampai 4 bulan sejak vonis itu dinyatakan, di akhir Juli 1997, ia justru meninggal....

Aku tidak ingat apa-apa ketika saat itu, tapi mungkin saja itu benar adanya, karena kelak bahkan hingga sekarang aku sering masih memiliki sifat itu yang, walau kadang memberi arahan positif dan membuat diri ini menjadi produktif, kadang kala membuat diri ini merasa terjepit sendiri tanpa ada orang untuk membantu keluar dari banyaknya cobaan sehari-hari.
"....Mungkin saja itu benar adanya......
Bahkan hingga sekarang aku sering masih memiliki sifat itu yang, walau kadang memberi arahan positif......
....Kadang kala membuat diri ini merasa terjepit sendiri"
Hingga 2 bulan kemudian, aku bahkan belum berbicara sepatah katapun. Hanya mengangguk dan menggeleng serta menangis lewat rengekan dan gerakan.

Seperti kata ayahku, kondisi itu menjadi perbincangan hangat di keluarga ibu maupun ayahku, bahkan kakekku dari ayahku (Mbah Kung) hingga pergi mencari pencerahan/tapa, melakukan beberapa ritual Kejawen yang bahkan ayahku yang pintar tidak mengerti maksudnya, namun semuanya belum berhasil.

Dibalik itu semua, ibu dan ayahku memiliki keyakinan optimisme tipis bahwa kebisuan itu bukan sebuah sesuatu yang tidak bisa diobati – karena aku tetap merespon ketika ada sesuatu. Seperti contohnya ketika aku mau disuapi, jika itu makanan yang tidak aku suka aku akan menggeleng dan mengibas-ibaskan tangan seakan ingin menolak dorongan sendok yang disodorkan ibu ataupun mbakku itu. Dan ketika sendok yang disodorkan itu menjadi tempat bagi makanan kesukaanku seperti bubur ayam Taman Lembang atau Nasi Ayam GM (Nasi tim ayam jamur dari bakmi Gajah Mada ™; red) aku langsung mengangguk, tersenyum serta membuka lebar mulutku.

Umurku beranjak menjadi 17 bulan, akhirnya orang tuaku mengambil sebuah tindakan; “menyekolahkan”ku di Yayasan Terapi Wicara yang biasa memberikan terapi jangka panjang bagi anak-anak yang terlambat berbicara.

Pertama-tama, kata ibuku, aku diajari oleh seorang psikiater perempuan biasa yang ia telah lupa namanya. Baik dan jelas orangnya, namun karena ia mengira kasusku adalah kasus yang ia biasa terima yaitu anak yang tunarungu/tuli, maka ia mengajarkanku dengan suara keras karena mengira syaraf pendengaranku tidak sebaik orang biasa.

Kata ibuku aku terteror karena itu, dimalam hari aku tidak bisa tidur nyenyak, selalu meringkuh dan bergerak ke kanan-kiri layaknya orang yang mempunyai mimpi yang sangat buruk namun tidak bisa terbangun. Setelah ibuku mengetahui masalah itu, ia meminta agar dicarikan ‘guru’ (terapis, sic) lainnya yang lebih baik. Dan aku mendapatnya, namanya Ibu Dewi.

Dengan terapinya, aku mampu secara bertahap berbicara dengan baik. Sebuah mukjizat besar kata anggota keluarga ayahku yang mayoritas masih berada di Kebumen, sementara untuk adik-adik ibuku yang masih kuliah menjadi sangat tertarik dengan kelucuan keponakan pertama mereka yang kini sudah mulai berbicara.
Setelah sekitar 1 tahun disana, aku telah lancar berbicara seperti halnya anak berumur 2 tahun lainnya. Namun kini aku berbicara dengan ejaan yang sangat baik, bahasa Indonesia textbook kalau kata ayahku, atau sangat EYD kata ibuku.

Seperti halnya anak balita yang memiliki keingintahuan besar terhadap hal-hal baru, aku menggunakan ‘kemampuan baruku’ dengan sangat sering. Aku mulai tumbuh sebagai anak lelaki kecil yang bawel dan banyak omongan namun tertata alias dalam bahasa yang baik dan benar.

Dan semua itu berbuah hingga sekarang, aku memang seseorang yang besar omongan dan sering saja melempar omongan.
"Ibuku bahkan melemparkan sebuah sindiran candaan yang bisa menyimpulkan certita ini, kalau kebawelanku merupakan hasil dari sebuah “Rangkaian Doa yang Overdosis”
"kalau doa kebanyakan ya dilebihkan juga hasilnya hahaha” katanya"

Ibuku bahkan melemparkan sebuah sindiran candaan yang bisa menyimpulkan certita ini, kalau kebawelanku merupakan hasil dari sebuah “Rangkaian Doa yang Overdosis” dari kedua belah pihak keluarga besar. “kalau doa kebanyakan ya dilebihkan juga hasilnya hahaha” katanya. Bukan hanya itu ‘efek samping’nya, karena kala dulu sebagai balita yang senang meniru orang tua, aku memanggil ayahku “Mas” karena itulah panggilan ibuku terhadap ayah. Dan sampai sekarang aku tidak bisa melepaskan panggilan itu, anehnya, ia kepadaku pun memanggil “Adek”, dan kini terlihat bahwa kami lebih mirip sebagai adik dan kakak dibanding ayah dan anak.
"...aku memanggil ayahku “Mas”
ia kepadaku pun memanggil “Adek”.
(setelah sekian lama) kini terlihat bahwa kami lebih mirip sebagai adik dan kakak dibanding ayah dan anak."

Yang merupakan sebuah mukjizat kala itu sebenarnya adalah keadaan ekonomi keluargaku saat itu, yang notabene rangkaian waktu ketika aku harus menjalankan terapi yang terbilang mahal pada saat itu bertepatan dengan seluruh rangkaian awal hingga puncak kekacauan krisis moneter dan kejatuhan Orde Baru di Indonesia, ternyata sehat-sehat saja. Padahal ibu dan ayahku sama-sama terbilang sebagai karyawan swasta baru.

Ketika banyak anggota keluarga ayah maupun ibuku yang harus berganti-ganti mencari pekerjaan baru setelah di PHK, keluarga kecil kami mampu bertahan dalam keadaan saat itu, itu juga berhasil karena kesederhanaan ayah dan ibuku dalam menjalani hidup dan kemampuan mereka yang sama-sama gemar menghemat demi tabungan sejak kecil. Namun ketidakgegeran itu bukan berarti krismon tidak memberikan efek apapun pada keluarga kami saat itu

Ketika kerusuhan Mei 98, baik ayah dan ibuku sama-sama hanya pulang beberapa hari sekali, rela menginap di kantor masing-masing untuk menghindari kerusuhan terjadi. Dan aku ditinggal bersama Mbah Ti dan mbakku… karena efek inflasi pula, di tahun 98 pula orang tuaku melepaskan tren pengobatan dan suplemen-suplemen vitamin yang mahal untukku, beralih kepada alternatif jamu tradisional yang murah…

Mukjizat lainnya adalah aku sendiri mulai memiliki sebuah memori, aku mampu melihat dan mengingat dengan penuh sadar – dan Allah SWT seakan-akan melimpahkan berkah itu di momen yang paling tepat; kegiatan satu hari penuh yang aku ingat pertama kalinya hingga sekarang, ialah hari terakhirku di Terapi Wicara ketika aku ditemani ibu dan Mbah Ti mengucapkan terima kasih sambil memberi sebuah bingkisan untuk ibu Dewi sang terapisku dan pulang dengan Bajaj, sambil ditengah jalan membeli Chiki dan Teh Botol yang enak sekali ditengah hari yang amat panas itu.

Tuhan memang sesosok sutradara yang tiada tandingan-Nya.
"...Bayangkan keluar dari masa-masa sulit itu di akhir 98 dengan aku kini mampu berbicara, 
dan ayah maupun ibuku mendapatkan promosi ditengah kekosongan dan seringnya mutasi diantara teman-teman kantornya,
seakan keluarga kami mampu keluar dari badai nasional saat itu justru dengan keadaan yang lebih baik…."
Bayangkan keluar dari masa-masa sulit itu di akhir 98 dengan aku kini mampu berbicara, dan ayah maupun ibuku mendapatkan promosi ditengah kekosongan dan seringnya mutasi diantara teman-teman kantornya, seakan keluarga kami mampu keluar dari badai nasional saat itu justru dengan keadaan yang lebih baik….
Hati itu telah ditenangkan dan mampu berbicara untuk dirinya sendiri, dibantu berbagai mukjizat.

Ya, Hati keluarga kecil kami, sepasang ayah-ibu mapan dan bayi kecilnya, bersama ibunda sang ibu dan pembantu yang notabene masih sepupu jauh sang ibu… Di sebuah gang yang terselip di tengah kota Jakarta.

Masa-Masa Dimana Aku Mulai Mengingat (1998-2001)

“Selulus”nya aku dari Terapi Wicara aku mulai mengikuti sekolah biasa, pada awalnya mengikuti Play Group di Sekolah Kembang di Kemang, yang kini tempatnya telah menjadi deretan Café Shisha & Café-café lainnya tepat diseberang hotel Grand Flora. Masa-masa TK aku jabani kali ini lebih mendekati rumahku di Saharjo, yakni di Ar-Rahman Motik di daerah Setiabudi, tak jauh dari patung berbentuk angka 66 dan jembatan yang menghubungkan Kuningan dan Menteng.

Seusai pementasan akhir tahun, TK-B Ar-Rahman Motik. Arsip keluarga penulis.
Jujur, masih belum banyak yang aku ingat pada masa-masa itu tentang dunia sekolahku, aku hanya mengingat tentang beberapa acara yang besar, seperti contohnya saat hari Kartini aku menjadi model memakai baju Beskap Jawa yang anehnya, berwarna coklat terang, lalu saat refleksi akhir tahun aku memerankan peran salah satu saudara Nabi Yusuf dalam sebuah pementasan drama tentang kisah Nabi Yusuf. Kelak ketika masuk SMP Labschool Kebayoran, aku bertemu lagi dengan beberapa temanku yang aku sudah tidak mengenal, bahkan hanya satu orang yang mengingatku, namanya Rasya, "Lo dulu TK di Artik (Ar-Rahman, red) juga kan?"
Wah, bahkan aku pun hampir tidak mengingat apapun tentang masa TK ku.

Aku justru lebih mengingat tentang perjalanan-perjalananku masa itu; perjalanan-perjalanan awalku yang mulai memupuk rasa ingin berjalan-jalan dan berkelana seperti halnya ayahku.

Perjalanan Awal si Kecil
Semua dimulai dengan perjalanan kereta yang pertama kali aku ingat; ternyata pada saat bayi aku sudah pernah naik kereta eksekutif menuju Jogjakarta untuk kawinan seorang sepupu dekat dari ibu, namun kala itu aku tidak mengingat setitik apapun bahkan tentang suara cakram besi roda kereta yang beradu dengan lempengan besi yang memanjang.

Kala itu bukan musim Lebaran, sebuah November yang ceria, tiga tiket bisnis menaiki KA Sawunggalih gerbong Bisnis tujuan Purworejo, namun kami turun tidak di Purworejo, lebih tepatnya di stasiun Karanganyar; bukan Karanganyar dekat Solo, namun Karanganyar, suatu kota kecamatan kecil 9 kilometer sebelum kota Kebumen.

Aku ingat benar kursi berwarna merah yang bisa di dorong kedepan dan belakang serta angin bersih yang bersemilir di luar namun terhempas masuk dengan cepat dan ademnya berkat kecepatan kereta yang kencang itu. Tidak lupa ialah gerbong makan yang menyediakan susu hangat serta tiga pilihan utama masakan PT. KAI yang aku masih ingat hingga sekarang; Bistik Jawa, Nasi Goreng atau Nasi Liwet. Mas memilih Nasi Goreng kala itu dan aku jatuh cinta dengan makanan itu.

Pertama kali itulah aku ingat aku menjejakkan kaki di daerah kampung keluargaku; Karanganyar, Kebumen.

Saat itu Mbah Kung (kakek dari ayahku) belum tinggal kembali disana, karena beliau sedang menyelesaikan tahun-tahun akhir sebelum pensiun dari masa baktinya sebagai Pegawai Negeri di Lemigas. Kamipun menginap di rumah Mbah Sastro (saudara dari nenekku), rumahnya seperti layaknya rumah Jawa yang mumpuni namun tetap berasa ndhesa pada umumnya; pekarangan  yang dihiasi pohon-pohon besar, lalu disambut oleh pintu yang rendah dan atap limas, tidak seperti di Jakarta, dan ruangan utama yang besar dengan adanya dipan sederhana. Melewati ruang utama itu barulah kamar-kamar para penghuni berada, dan dibelakangnya adalah kamar mandi dan dapur serta gudang yang berisi karung-karung besar, akupun belajar itu adalah lumbung padi dan kelapa karena mereka memiliki lahan sawah dan lahan kelapa. Kami bertiga tidur di dipan sederhana di ruang depan itu. Aku dulu sempat takut karena adanya dua ukiran kepala rusa besar yang terpampang di ruang depan. Matanya seakan menyampirkan sebuah pandangan tajam kepada siapapun yang memasuki rumah itu, namun Mas meyakinkanku, “dia mati, gak gerak, gak bisa ngapa-ngapain kan sama kamu?”

Diperjalanan itulah ingatanku pertama kali tergambar tentang kehidupan di kampung yang masih sederhana dan menyegarkan, aku sudah sempat pernah memiliki ingatan tentang pergi keluar Jakarta, namun kala itu baru sampai Bandung dan villa Puncak yang notabene tidak memberikan atmosfer pedesaan yang sepenuhnya kala itu.

Dari perjalanan itu pula aku mendapatkan luka dari patokan ayam disebelah rumah Mbah Sastro & mendapati keseraman gelapnya lumbung kosong disebelah rumah Mbah Sastro yang ternyata merupakan rumah Mbah Kerti (kakek canggahku).

Sepulang dari sana, ketika kereta api menjejakkan besinya di Stasiun Jatinegara, itulah pertama kali aku merasa ingin kembali pulang ke kampung.
Ya, berada di kampung memang berbeda. Bisik benakku

Selain perjalanan ke kampung dengan kereta aku juga merasakan perjalanan pertamaku dengan pesawat terbang yaitu ke Lombok. Aku masih mengingat suasana Bandara Cengkareng yang penuh AC; belum pernah aku merasa sedingin itu sebelumnya, lalu suasana antrian imigrasi dengan berbagai orang-orang penuh gaya yang berbeda-beda, tidak lupa atmosfir dan perasaan terbang untuk pertama kali yang agak menakutkan untukku awalnya, hanya karena suara roda dan mesin ketika taxi dan take-off seakan-akan ingin menyergapku. Namun ketika kumparan logam itu telah terbang di udara, keasyikan melihat melewati jendela bagaimana mesin itu menembus awan dan dibantu dengan udara sejuk dari AC pesawat, aku menikmati penerbangan itu.
Sukses itu membuat aku juga suka terbang dengan pesawat hingga sekarang

Masih banyak lagi perjalanan-perjalanan yang lainnya, tidak lepas pula dari rangkaian perjalanan itu aku masih ingat kebiasaan keluarga kecil kami untuk berjalan-jalan di hari minggu pagi ketika Jakarta suasananya masih sangat bersahabat...

Biasanya jika tidak menemani ibu berbelanja di Pasar sebelah kuburan Belanda tua dibelakang kompleks Apartemen Rasuna Said, kami pergi menikmati pemandangan di taman Lembang atau taman Suropati di Menteng sambil merasakan lezatnya bubur ayam dan es teh disana... Kadang pula kami berjalan-jalan mencari makan pagi yang enak disekitar Tebet, Senayan dan menjelajah terus ke Utara mendekati jantung tua kota Jakarta hingga Pasar Baru dan Kota.

Keadaan itu berbeda sekali dengan kehidupanku sekarang di SMA yang memiliki tren untuk menjelajah terus ke Selatan, menjauhi jantung kota Jakarta, karena teman-temanku yang notabene rumahnya berada dikota-kota satelit dari daerah metropolitan Jabodetabek...

Disemua perjalanan itu, sebenarnya walaupun berbeda-beda ayahku telah memiliki agenda tersendiri; mewariskan pada anaknya sifatnya yang sering berpetualang dan berjalan-jalan, melihat dunia di luar dan sekitarnya dengan seluruh cara yang berbeda; perjalanan minggu pagi yang sederhana hingga terbang antar pulau ke Lombok, dengan Kereta Api bisnis menuju ke kampung halaman sendiri atau sekedar jalan kaki di Taman-taman di Menteng, ayahku ingin agar aku juga suka berjalan-jalan dan melihat dunia, dan bisa beradaptasi dengan kondisinya walau apapun yang terjadi, sederhana seperti ketika berjalan kaki di Karanganyar kampungku, maupun mewah seperti ketika menikmati kenyamanan villa di pantai Senggigi, susah seperti ketika harus berdesak-desakan naik kereta ekonomi ke Cirebon, maupun mudah ketika menikmati perjalanan minibus ke Sukabumi...

walaupun berbeda-beda ayahku telah memiliki agenda tersendiri; mewariskan pada anaknya sifatnya yang sering berpetualang dan berjalan-jalan.....
dan bisa beradaptasi dengan kondisinya walau apapun yang terjadi, sederhana seperti ketika berjalan kaki di Karanganyar kampungku, maupun mewah seperti ketika menikmati kenyamanan villa di pantai Senggigi, susah seperti ketika harus berdesak-desakan naik kereta ekonomi ke Cirebon, maupun mudah ketika menikmati perjalanan minibus ke Sukabumi...

Dan aku akui, dari perjalanan-perjalanan awalku ketika aku balita itulah, rasa keingintahuan dan ingin jalan-jalan itu tumbuh.


Foto-foto perjalanan, atas-bawah: Bersama Mbah Ti, Mbah Du, Ibu, Om Anto, Pakdhe Zaenal Mahali & Lik Arif di Temanggung - Sepulang dari menjelajahi Sukabumi Selatan dengan mobil Baleno bersama Mas - Sejenak berpose setelah menikmati jalan kaki pagi hari Minggu di Taman Lembang, Menteng

Tentang Radio dan Musicality, dengan Buku dan minat baca
Radio merupakan bagian integral masa balitaku, ini lagi berkat ayahku yang sedang menurunkan kegemarannya mendengarkan dan menikmati musik.
Pada awalnya, aku baru mengerti lagu-lagu dari penyanyi anak-anak masa itu seperti Sherina dan Joshua, dengan lagu favoritku dulu adalah "Dingin dingin, dimandiin, nanti masuk angin...." Namun seiring waktu berjalan aku mendengarkan lagu yang sama dengan ayah dan ibuku

Dahulu kami punya dua radio - satu di rumah, dan satu lagi di mobil. Keduanya sama-sama bisa memutar kaset dan CD pula, Mas ku memang sangat senang mendengarkan berbagai macam genre lagu; namun yang paling ia senangi dan aku sering dengar saat itu adalah suatu kumpulan lagu yang dikemudian hari akan aku kenali sebagai genre Jazz dan R&B dari tahun 1980-1990an, mulai dari Earth, Wind and Fire, Manhattan Transfer dan George Benson untuk nama-nama dari luar negeri, hingga Chaseiro, kegemaran ayahku sejak SMA karena sosok Chandra Darusman yang memimpinnya. Dengan lagu Rio De Janeiro menjadi favorit terbesar ayahku. Namun ada nama yang mengalahkan seluruh nama-nama diatas, dialah Chrisye, yang koleksi albumnya penuh dan komplit, bisa dibilang, lagu seperti Cintaku, Semusim, Andai aku Bisa dan Kangen adalah lagu-lagu keseharianku ketika ada Mas menyetir di mobil.  

Cintaku dan Kangen aku yakin generasiku yang lahir tahun 95-96 sangat mengenalnya, karena pada awal tahun 2000 dibuat remake video clipnya yang sangat terkenal dan catchy, aku ingat video clip Cintaku yang menampilkan banyak sekali selebritis mulai dari Titiek Puspa, Project Pop, hingga Guruh Soekarnoputra...Dan Kangen yang menampilkan salah satu artis tercantik saat itu, Sophia Latjuba.

Cintaku, lagu Chrisye paling populer saat itu
Dok. YouTube

Namun yang paling aku suka musiknya adalah Kala Cinta Menggoda karena nuansa Fusion-Jawanya yang easy-listening dan ringan, dan juga aransemen lagu Serasa yang sangat mencampur adukkan banyak gaya musik. Dari dulu aku paling suka dua lagu itu, pokoknya rasanya berbeda dari lagu-lagu yang lain...
Aku selalu ingat radio yang disetel ketika kami berada di mobil - 99.1 Delta FM dan lagu-lagunya yang selalu membuat seluruh isi mobil bernyanyi riang gembira; dulu aku semacam 'dibodohi', aku tidak tahu itu semua merupakan lagu lama tahun 80-90an, namun seiring waktu aku menjadi mengenal bahwa itu semua adalah lagu jaman dahulu (atau jaman baheula seperti Masku sering bilang), namun itu tidak mengurangi rasa sukaku kepada lagu-lagu itu.
Tidak hanya musikalitas dan rasa terbuka terhadap semua genre lagu, ada suatu yang ayahku tidak punya namun sangat aku gemari sejak masa kecil karena mendengar lagu-lagu yang ceria dan upbeat, berawal dari gerakan-gerakan sederhana aku kemudian suka sekali menari mengikuti irama dan lirik sebuah lagu.
Dan lagu pertama yang aku mulai membuat gerakan untuk mengikuti iramanya dan aku kembangkan hingga sekarang, adalah lagu Kungfu Fighting dari Carl Douglas yang sering diputar di Delta FM. Ibuku sangat suka lagu tersebut, dan selalu memanggil "Gagandip, Gandip! Kungfu Fighting!"
Kalau ada waktu akan aku upload video tentang 'evolusi' dance ku terhadap lagu Kungfu Fighting....
(Omong-omong, kenapa aku dipanggil Gandip? Karena itu dari arKANDIPtyo, namun Mas bilang Awalan K kurang enak, jadi diganti menjadi Gandip. Panggilan itu juga mirip sahabat dekatnya ketika kuliah S2 yang juga teman kos-kosannya dari India, Gaghandeev)
Namun musikalitas itu bukan sebuah kebanggaan besar bagi Mas dan ibuku.
Yang mereka bangga, adalah bagaimana, setelah aku baru bisa lancar berbicara pada umur 2 tahun lebih, mereka langsung mengajarkan aku membaca, dan sebelum aku masuk SD aku sudah bisa membaca dengan lancar dan sangat suka sekali membaca...
Pintarnya ibu dan Masku dulu, buku-buku pertama yang mereka belikan padaku adalah buku-buku cerita tentang kartun-kartun kesukaanku saat itu; Lion King, Mickey Mouse, Donal Bebek, Mulan dan Winnie The Pooh; aku tentunya langsung pernasaran dengan cerita-ceritanya, setiap malam sebelum tidur aku akan diceritakan dan ikut membaca 1-2 halaman. Itu mulai ketika aku berumur 3 tahun.
Dari awalnya buku-buku yang hampir seluruhnya gambar, aku amati semakin lama mereka membeli yang gambarnya semakin sedikit hingga pada aku umur 5 tahun aku dibelikan buku Peter Rabbit yang tidak ada gambar selain covernya, menyenangkan juga membaca ternyata....
 Jujur, aku tidak terlalu mengerti metode mereka untuk yang satu ini, sehingga aku tidak dapat bercerita banyak...
Namun musikalitas dan minat baca itu, keduanya merupakan kebanggaan Mas dan ibuku, bagaimana mereka bisa mewariskannya di usiaku yang saat itu masih seumur jagung.
Antara Manggarai dan Margonda
Manggarai dan Margonda, meskipun sama-sama diawali oleh suku kata yang sama, merupakan dua daerah yang berbeda jauh daerahnya, yang pertama jatuh di salah satu jantung kota Jakarta, sementara yang lainnya terletak di pinggir ibu kota.

Persamaannya; kedua-duanya menjadi tempat aku seringkali ada.
Manggarai adalah daerah aku tinggal, di rumah kuning Gang Lontar yang aku telah paparkan sebelumnya.
Namun Margonda.... Salah satu nadi inti Depok tersebut yang berkilo-kilometer selatan jauhnya dari Manggarai? Aku juga sering ada disana.
Rumah sang mendiang Mbah Kung Depok itu, menjadi rumah untuk adik-adik ibuku yang waktu itu masih kuliah dan belum menikah, dulu aku sering diajak ke sana oleh nenek dan ibuku.
Sebuah rumah yang bersahabat - halaman luar kecil yang hanya berisikan satu kolam ikan, dan bangunan yang tak kalah kecil dan sempit dengan rumah Saharjo, hanya terdiri dari satu ruang tamu sedang yang terpadati sofa, bingkai foto tua, dan televisi gembung kala itu, dengan tiga ruang tidur dengan kasur tua seadanya persis disebelahnya. Dibelakang, persis seperti di rumah Manggarai, adalah dapur dan kamar mandi, yang berbeda, disini masih ada sumur yang masih dipakai....
Sumur itu menjadi saksi sejarah yang merakyat, karena kini air tanah di sumur itu sudah tidak bisa dipakai... Sebuah bukti bahwa kompleksitas problematika Jakarta terutama persoalan air bersih kian kentara, bahkan dalam rentang waktu hanya satu dasawarsa.

Sama seperti Manggarai pula, bocor dan banjir adalah dua kata berawalan B yang sama-sama menjadi teman setiap bulan Januari datang menjelang. Tak pelak, daerah kampung itu juga yang sesak dan juga dipadati oleh penduduk asli Betawi sama pula dengan Manggarai.

Bahkan tetangga kami seperti di Manggarai pula, juga adalah pemilik toko warung sederhana, sama-sama menjual minuman dingin, sembako dan makanan-makanan kecil. Saking-saking miripnya, ketika aku bayi aku juga bahkan pernah mengompol di kedua toko tersebut karena ditinggal di tempat yang dingin - di Manggarai, aku ditaruh diatas tempat es krim sementara ibuku asyik berbelanja, sementara di Margonda aku ditaruh diatas kulkas penyimpan teh botol sementara Mbah Ti/nenekku sedang berbincang santai dengan Ibu Adi penjaga toko itu.

Perbedaannya, tiap kali bangun dan diajak keluar rumah di Margonda, udaranya sangat bersih dan bersahabat - dan di Depok lah, aku lupa persisnya kapan, aku menyaksikan pelangi pertama kali dengan mataku sendiri; ya, memang persis sama dengan apa yang AT Mahmud lukiskan dalam lagunya. Dengan didekat sebuah tepi kali yang kala itu masih bersih, namun kini sudah sangat jauh berbeda - kalinya mendangkal dan menjadi kotor...

Perbedaan tempat itu antara yang ku ingat dahulu kala dan sekarang benar-benar menjadi sebuah saksi dan tolak ukur betapa kritisnya kondisi lingkungan telah merembet dari hanya kota Jakarta itu sendiri menuju radius keseluruhan daerah metropolitan Jabodetabek, dan hebatnya itu semua terjadi seiring aku tumbuh, tidak lebih dari satu setengah dekade.

"Perbedaan tempat itu (Sekitar rumah di Margonda)...
Antara yang ku ingat dahulu dan sekarang
menjadi tolak ukur betapa kritisnya kondisi lingkungan telah merembet dari hanya kota Jakarta itu sendiri menuju radius keseluruhan daerah metropolitan Jabodetabek
Dan hebatnya itu semua terjadi seiring aku tumbuh, tidak lebih dari satu setengah dekade."

Tapi tidak setiap hari juga aku berada di satu sudut terpencil di Margonda itu.
Namun....
Hari-hari di Margonda sama-sama membentuk hidupku dulu seperti Manggarai.

Selingan - Aku dan Rambutku
Sebuah selingan sebentar namun cukup integral dalam pertumbuhan, sebuah cerita kecil tentang aku dan rambutku.

Bagaimana jika aku beritahukan kepada kalian, hingga aku berumur 2 tahun, rambutku seperti dua foto ini?



Hampir pasti sekitar 80% orang yang mengenalku tidak percaya itu adalah rambutku dulu kala. Dan bagaimana caranya sehingga rambut yang seperti itu kemudian menjadi seperti foto yang ini? (Hingga sekarang)

Ceritanya ringan dan sederhana.
Semua karena tukang es cendol.
Ya, satu Minggu pagi, kami (aku, ibu dan Mas) pulang dari pasar di Manggarai berjalan kaki seperti biasa. Ketika telah melewati gang sebelah Martabak Kubang yaitu Gang Subur, sedang mangkal sesosok tukang es cendol, dia pun nyeletuk saat melihat kami bertiga "Si Abah ama Ibu.... Sama si Teteh geulis na! (Cantiknya)"
 
Kuping Mas ku konon panas katanya mendengar perkataan itu, tidak terima anak laki-laki kebanggaannya dianggap perempuan.
Malamnya aku langsung dipotong botak habis, dan sejak saat itu rambutku selalu dirapikan dan dijaga agar terus lurus, walau hanya dengan cara-cara sederhana seperti membasuh dengan air lalu disisir secara sering.
Entah dari mana genetika rambut bergelombang-keriting itu berasal, kini rambutku lebih tertata, namun ketika dibiarkan memanjang, pola tidak teratur itu akan segera terlihat pula, seperti ketika aku tidak memotong rambut selama 6 bulan mulai dari sebelum libur kelulusan SMP.

Ya, hanya ingin menghibur sesaat....

Kehidupan... Dinamis, Terus Berganti
Pelajaran hidup yang satu itu tentang bagaimana kehidupan itu bagai roda, terus berputar, aku awalnya rasakan di tahun-tahun terakhirku di Manggarai. Memang aku hanya merasakannya dulu, namun setelah mengetahui alasan dan cerita dibalik yang terjadi itu kini selama menyusun tulisan ini, aku dapat melihat nilai yang terkandung didalamnya.

Karena memang ketika tahun-tahun terakhirku di Manggarai banyak perubahan terjadi.

Yang paling jelas terlihat adalah keluar masuknya pembantu di rumahku. Dalam sejarahnya keluargaku telah memekerjakan lima orang perempuan muda yang masih memiliki pertalian saudara jauh di rumahku. Dua pertama diantaranya aku belum kenal karena masih bayi. Yang pertama hanya bertahan sebentar karena tidak betah dengan gaji, dan yang kedua karena merasa sakit hati tidak dibolehkan oleh ibuku menggendong aku. Yang ketiga bernama Mbak Yati, aku tidak terlalu kenal dan juga tidak terlalu ingat, ia pergi karena setelah kembali ke kampung di Kalikele menikah.... Yang ke empat, aku selalu lupa nama aslinya, tapi aku selalu memanggilnya Mbak Timon, karena saat itu aku sedang senang-senangnya dengan Film Lion King, dan mengingat Mbak yang satu ini sangat kurus, aku segera menyamakannya dengan karakter meerkat di Lion King, Timon, yang memang sangat kurus dan suaranya juga cukup cempreng. Namun dengan dia, aku mengalami masa-masa yang menyenangkan, hebatnya, tidak seperti Mbak Yati yang sebelumnya, ia mudah akur dengan ibu, Mas, dan Mbah Ti. Sayang ia harus pergi meninggalkan rumah karena alasan yang sama dengan Mbak Yati; menikah.

Yang terakhir adalah Mbak Yanti.... hanya beberapa bulan ada di Manggarai. Awalnya mungkin tidak terlalu spesial hubunganku dengannya, tapi nanti ketika kami pindah rumah ke Pejaten, kami berdua menjadi teman main yang sangat dekat dan seru (intip ceritanya dibagian 3/8)

Kedua yang paling aku ingat; bergonta-ganti mobil; tapi itu semua bukan hasil jual beli tapi pinjam-meminjam dan hibah dari kantor. Aku ingat mobil pertama yang keluarga kami punya adalah Daihatsu Feroza yang dari bodi tinggi dan mirip mobil Jeep, itu adalah pinjaman dari Pakdheku (kakak pertama ayahku), lalu kemudian ada Suzuki Baleno silver ini pinjaman pula dan kemudian diganti oleh Suzuki Baleno hitam dari kantor ibuku. Terakhir yang aku alami di Manggarai adalah mobil Honda Civic, juga pemberian dari kantor ibuku.
Pemberian dua mobil terakhir tersebut juga sebuah indikator tentang siklus perubahan berikutnya yaitu kenaikan jabatan ibu dan ayahku.

Hanya dalam sekitar waktu 3-4 tahun, ibu dan ayahku sama-sama mendobrak jajaran jabatan di kantor masing-masing, ayahku di tahun 2000 akhirnya menjadi Financial Manager OSU (Operational System Unit) sementara ibuku menjadi Accounting Manager. Keduanya sama-sama memiliki efek baik yaitu gaji yang lebih baik namun juga sisi lainnya; sama-sama lebih sering pulang malam dan dinas keluar kota...

Dan Alhamdulillah berkat perubahan tersebut dan kebiasaan menabung ayah dan ibuku - rencana untuk berpindah rumahpun dapat dilaksanakan....

....Sebuah petak tanah tak lebih dari 190 meter persegi di antara sekelompok rumah pribadi yang tidak menjadi kompleks dan diapit oleh perkampungan sederhana yang bangga akan budaya Betawinya, kira-kira 10 kilometer ke Selatan dari rumah pertama kami, menjadi pilihan utama ibu dan ayahku.

Petakan tanah yang berada di jalan Amil 2, tepat di daerah Siaga, bilangan Pejaten, itulah posisinya.


(Berikutnya:
Bag 3/8: empat puluh menit ke sekolah, 
empat belas langkah ke tempat tidur~ 
SD Kelas I-IV di SDI Al-Falah Cibubur, 2001-2005)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar