Rabu, 26 September 2012

Tugas - 1 Autobiografi Muhammad Zaki Zahirsyah


"Menjelajahi pahit-manis dunia selama 16 tahun"

Saya bersama Keluarga saya
Di hari itu, bertepatan pada tanggal 10 April 1996, lahirlah seorang insan berjenis kelamin Laki-Laki yang bernama Muhammad Zaki Zahirsyah. Tangisan terus terdengar dari mulut kecil saya, dan dalam pangkuan ibu saya, jari kecil dan mungil terus dipegang erat hanya untuk menenangkan saya. Kata beliau, dulu banyak sekali usul berbagai nama bayi yang diberikan oleh saudara-saudara saya. Namun pada akhirnya, orang tua saya memilih kata “Zaki” dan “Zahirsyah” yang diberikan oleh Almarhum Kakek saya, Opa Zulkarnain Ali.

Saya dilahirkan di Rumah Sakit Asih, Jakarta selatan. Saya merupakan anak ke-dua dari tiga bersaudara, Kakak saya seorang perempuan yang bernama Nabila Azmilla Zahra, dan Adik saya seorang laki-laki yang diberi nama Muhammad Zaldi Zulfansyah oleh ayah-ibuku yang menikah pada tanggal 17 agustus 1991. Dengak kakak saya, kelahiran saya berjarak 4 tahun dengannya. Berbeda dengan adik saya, umur saya dengannya hanya berbeda satu tahun.

Bersama Kakak (tengah) dan Adik (kiri)
Perjalanan hidup saya berawal di rumah kecil berpagar hijau, yang berlokasi di Rempoa, tangerang selatan. Rumah ini merupakan rumah kenangan bagi saya, dan merupakan tempat tinggal ketiga bagi orang tua saya setelah mereka menetap di Bintaro Jaya sektor 1, yaitu rumah Nenekku, dan di Pulau Bali. Masa kecil saya dihabiskan di dataran Rempoa ini, bersama kakak adik saya, dan baby sitter yang setia menemani sejak kelahiran kakak saya hingga saya tumbuh besar. Di usia saya yang menginjak bulan ke-8, hari-hari saya diisi dengan latihan berjalan yang dibantu olah Bibi (baby sitter) saya dan ibu saya. Kata ibu saya, dulu saya sangat lucu ketika berlatih jalan di kamar. Berawal dari samping kasur, saya mencoba berjalan hingga menabarak tembok kamar. Setelah saya busa berjalan dan berlari, saya sangat gemar berlarian dihalaman rumah, tanpa merasa letih saya akan tetap semangat memainkan ayunan besar di halaman rumah saya. Dikala matahari bersinar terik sekitar pukul 12.00, Ibu saya sering menelpon ke rumah hanya untuk menanyakan keadaan saya, dan untuk terus melarang saya bermain ke luar rumah.

            “Jangan keluar rumah dong Nak, kan kamu bisa main dirumah sama bibi dan kakak. Nggak harus lari-lari diluar panas-panasan kan?” cetus ibu saya melalui telepon.

 

Masa kecil saya diwarnai dengan berbagai macam es krim dan makanan kecil lainnya yang selalu saya beli di warung dekat rumah. Sepulangnya, tak jarang saya berkunjung ke rumah sebelah untuk bermain dengan tetangga yang selalu mengajak saya bermain di sore hari. Berbagai mainan-mainan jalanan seperti baling-baling dan mobil-mobilan, juga saya koleksi di rumah. Canda tawa dirumah bersama keluarga saya sering diselingi dengan ulah adik yang selalu membuat saya bertengkar dengannya. Bagi orang rumah, mungkin itu sudah biasa. Tapi tak jarang juga tetangga sebelah terkaget-kaget hanya mendengar teriakan adik saya saat kita sedang bertengkar. Walaupun hanya karena mainan atau rebutan snack,  tetap saja saya bertengkar dengannya.

Bercana-tawa di rumah bersama mama, kakak, dan adik
Dulu, susu putih merupakan temanku sebelum tidur. Tanpa dot berwarna biru muda dan gelas mungil yang diberikan kakek saya, saya akan susah untuk disuruh menghabiskan susu. Tiap malam saya ditemani guling kesayangan yang masih ada sampai sekarang. Walaupun keadaan guling tersebut sekarang sudah tidak sehat, dimana bagian tengah guling itu sudah habis busanya, guling itu masih setia menjadi guling yang menemaniku tiap malam.
           
Masa Taman Kanak-Kanak
Saat usia saya menginjak tahun ke-4, saya mulai disekolahkan di Taman Kanak-Kanak yang bernama TK Kartini. Sekolah saya ini berlokasi 1 km dari rumah, 10 menit menggunakan motor. Dari Senin sampai jumat, tak pernah saya  bolos sekolah kecuali karena sakit. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan di TK Kartini ini, saya belajar menulis, membaca, mewarnai, dan lain lain. Saya ditemani oleh bibi saya yang tak pernah lelah menemani saya di sekolah maupun dirumah.


pas foto ketika masih Taman Kanak-Kanak
Hari-hari ku dipenuhi oleh krayon, buku gambar, serta uang receh untuk dibelikan kue-kue dikala jam istirahat. Dengan seragam yang agak sedikit kegedean pada badan saya, saya ber lari-lari kecil dengan riang menuju ruangan kelas. Tak lupa saya menyalami guru sebelum duduk pada kursi yang telah tersedia. Saya punya banyak teman dikala TK, ada yang laki-laki maupun perempuan. Banyak permainan yang ada di TK Kartini, ada perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, dan lain lain. Yang paling saya sukai adalah perosotannya, karena perosotan ini sangat besar dan muat untuk saya dan beberapa teman saya untuk menaikinya.

Menginjak kelas baru, yaitu pada saat TK B, saya mulai mengikuti lomba-lomba saat 17 agustus di TK saya. Pada saat TK A saya sangat malu untuk mengekspresikan keahlian saya jikalau mengikuti lomba. Saya hanya menonton dan terdiam di sudut lapangan. Namun saya merasakan perubahan saat umur saya menginjak tahun ke 5 (saat itu saya TK B). mendengar dari cerita ayah saya, kata beliau dulu saya sangat gemar mengikuti lomba menaruh bendera didalam botol dan memasukkan pensil ke botol. Seperti inilah kisah hidup saya ketika saya masih sekolah taman kanak-kanak


Masa Sekolah Dasar
6 Tahun masa sekolah dasar saya dihabiskan hanya di 1 sekolah, yaitu SD Islam Harapan Ibu. Sekolah bernuansa hijau islami ini terletak di sudut jalan tanjakan Deplu, Pondok Pinang. Ketika itu saya masih sangat tidak nyaman dalam menerima kondisi kelas baru saya, yaitu kelas 1D. kelas ini dipenuhi oleh teman-teman saya yang kurang lebih berjumlah 28 orang. Wali kelas pertama saya adalah seorang wanita, beliau bernama ibu Ira. 

Piala yang saya terima ketika SD
Saya senang bersekolah di SDI Harapan Ibu, fasilitas yang disediakan sudah cukup. Disana tersedia musholla, kantin, dan ruang-ruang kelas yang luas serta nyaman untuk kondisi pembelajaran. Saya memiliki banyak teman disana, teman-teman saya banyak yang tinggal di daerah Bintaro. Dengan rajinnya saya menempuh perjalanan satu tahun melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di kelas 1, Alhamdulillah saya berhasil menduduki peringkat ke-4 dikelas. Di tahun-tahun berikutnya, saya juga memiliki prestasi yang tak kalah bagusnya dengan tahun pertama saya disekolah. Saya pernah menduduki peringkat 2 dikelas. Walaupun di tahun berikutnya prestasi saya sempat menurun, saya tidak patah semangat dan terus mencoba memperbaiki nilai saya. Dengan semangat yang tinggi saya untungya dapat menstabilkan prestasi saya selama saya ber sekolah di SDI Harapan Ibu.

Foto Buku Kenangan bersama cowok-cowok 6D
 Saya merupakan salah satu siswa angkatan 22 di sana, dimana angkatan saya merupakan angkatan yang cukup kompak menurut pendapat saya dan juga beberapa guru. Saat saya kelas 2, saya ditempatkan di kelas 2A, Kemudian saya naik ke kelas 3B. Saya sangat senang dan merasa beruntung ditempatkan di kelas-kelas tersebut. Disana banyak sekali teman saya dan guru-guru yang sangat membantu kegiatan belajar saya, sehingga dalam mencapai prestasi yang tinggi saya tidak merasa kesulitan. Selama saya menjalani masa-masa Sekolah Dasar, saya merasakan bagaimana yang dimaksut dengan persaingan sehat. Dimana saya dan teman-teman saya saling bersaing untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa harus menjatuhkan yang lain. Disinilah awal mulainya usaha saya dalam meningkatkan prestasi menjadi lebih baik, yaitu di kelas 4.

Bersama Adan (teman SD) saat Buka Bersama

Saya duduk di bangku kelas 4A, dimana kelas ini berisi anak-anak yang seru untuk bermain.  Wali kelas saya bernama pak Udi, beliau berbadan kurus, tinggi, dan cukup tegas dalam membimbing siswa-siswi 4A. di pertengahan semester dua, sekolah mengeluarkan gagasan untuk mengadakan program kelas unggulan. Kelas ini adalah kumpulan anak-anak yang berprestasi di tiap kelas. Saya sangat tertantang dan tertarik untuk bisa berada di kelas itu. Setelah saya menjalankan tes nya, untungnya saya diterima di program kelas unggulan tersebut. Saya sangat bahagia, karena berada dikelas itu merupakan salah satu impian saya di kelas 4. Kelas unggulan akan mulai diadakan di tahun berikutnya, saat saya naik ke kelas 5. Menjalani pembelajaran di kelas unggulan sangatlah berkesan, saya menjadi semakin termotivasi untuk menjadi yang terbaik diantara teman-teman saya. Naik ke kelas 6, kelas unggulan memiliki anggota yang tidak berubah, jadi hubungan antar siswa-siswi akan terbentuk semakin erat. Saya dan teman-teman kelas 6D mengadakan perpisahan di daerah Lembang Jawa Barat, sehabis kita menuntaskan semua ujian mulai dari Ujian sekolah, hingga ujian nasional.


saat kelulusan SD Harapan Ibu angkatan 22

Di hari terakhir saya sekolah, yaitu saat hari kelulusan, saya sangat bangga pada diri saya sendiri. Saya merasa berhasil dan cukup sukses dalam menempuh sekolah dasar. Beberapa piagam penghargaan saya terima dengan sangat bangga. Orang tua saya pun turut senang, melihat anak ke-duanya ini telah mencapai prestasi yang gemilang. Masa-masa sekolah dasar sangat mengesankan.

Masa Sekolah Menengah Pertama
 Menaiki jenjang pendidikan selanjutnya, saya cukup merasa tertarik. Banyak teman-teman sd saya yang melanjutkan sekolahnya ke sekolah-sekolah unggulan di Jakarta, seperti SMP Negeri 19 dan SMP Labschool kebayoran. Namun, saya tidak mencoba untuk mendaftar di sekolah tersebut. Saya mempertimbangkan  jarak dan waktu yang ditempuh apabila bersekolah di Jakarta karena rumah saya berada di kawasan tangerang selatan.
Saat Buka Puasa bersama teman-teman SMP

Saya sempat merasa bingung dalam memilih sekolah, kemudian ibu saya menawarkan sekolah islam yang bernama SMP Islam Cikal Harapan kepada saya. Mendengar kata sekolah islam, saya cukup senang. Karena memang saya sudah terbiasa dengan apa yang ada di sekolah islam, dan apabila saya melanjutkannya lagi, saya tidak perlu ber adaptasi dengan nuansa baru.

Kemudian saya mengikuti tes nya yang bertempatan di sector 1.5 BSD. Akhirnya, setelah menunggu 1 minggu pengumuman, saya mendapatkan kabar baik dari hasil tes tersebut. Saya diterima. Perasaan senang langsung timbul di hati saya, karena saya merasa lega akibat tidak perlu lagi repot-repot memilih sekolah.

Bersama Icha, Raisa, Nadhiv di magelang
Saya ditempatkan di kelas 7B, kelas ini sangat seru dan nyaman bagi saya. Saat saya kelas 7, saya pergi ke bandung dalam rangka studi wisata. Tahun berikutnya, saya masuk ke kelas 8A. Kelas ini dapat terkategorikan kelas yang sangat nakal, dan susah diatur oleh guru. Saya dan teman-teman saya sering keluar kelas setiap pagi, tanpa izin ke wali kelas terlebih dahulu. Ini merupakan salah satu hal yang tak terlupakan bagi saya. Kelas 9, saya masuk ke kelas 9c. kelas yang terisi oleh beragam jenis anak-anak. Ada yang jail, kocak, pendiam, gaul, dan sebagainya. Saya sangat cinta dan bahagia bisa menjadi bagian dari kelas 9c. kelas ini kompak, dan kita semua saling membantu satu sama lain dalam bidang pelajaran.

bersama teman-teman SMP saat ulang tahun raisa
2,5 tahun mencerna ilmu-ilmu di SMP telah saya lalui, tinggal setengah tahun lagi. Setengah tahun itu diisi oleh pemantapan untuk persiapan ujian nasional dan ujian sekolah. Saya berlatih cukup keras, dalam hal ini saya dibantu oleh les bunda aini dan teman-teman saya yaitu Icha, Raisa, dan Nadhiv. Kami ber-4 selalu datang ke tempat les sepulang sekolah hingga matahari terbenam. Setelah 6 bulan lamanya, akhirnya saya dan teman-teman se-angkatan saya bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Teman-teman saya banyak yang melanjutkan ke SMA-SMA negeri di tangerang selatan, dan beberapa menjejakkan kaki di sekolah swasta daerah Jakarta maupun serpong. Sementar itu, hanya saya dan Nadhiv yang melanjutkan pendidikan ke SMA Labschool Kebayoran.

Masa Sekolah Menengah Atas
SMA Labschool kebayoran adalah sekolah saya. Sekolah dimana saya menimba ilmu, mengukir prestasi, dan mencari jati diri. SMA Labschool kebayoran atau yang biasa disebut labsky ini terletak di kebayoran baru, Jakarta. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah swasta unggulan, dan merupakan sekolah impian saya sejak SMP.

Bersama Alissa dan Pakin

Bersama teman-teman XC di Jambuluwuk, Bogor.
Masa-masa awal tahun ajaran baru di SMA Labsky sangat menyenangkan. Saya menjalankan satu tahun bersama keluarga baru, kelas sepuluh C. Teman-teman saya di sepuluh C sangatlah baik, ramah, dan asyik untuk diajak belajar dan bermain. Saya menjalin hubungan yang begitu erat satu-sama lain. Satu tahun pertama di SMA sangatlah penuh perjuangan, dimana saya dan teman-teman saya ditantang dan dihadapkan oleh berbagai macam rintangan. Naik turunnya cobaan telah saya lalui. Asam manis masa SMA telah saya cicipi. Saya mengikuti seluruh kegiatan sekolah. Mulai dari Trip observasi, Bintama, Pilar, dan lain lain.

Lari Pagi Terakhir XC
Trip Observasi atau yang biasa disingkat T.O adalah kegiatan tahunan SMA Labschool Kebayoran yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan peduli lingkungan para siswa-siswi SMA Labsky. Kegiatan ini diadakan di Purwakarta, desa Parakan Ceuri, selama 5 hari menginap di rumah para penduduk. Selain T.O, bintama adalah kegiatan lainnya yang melatih kemandirian siswa-siwi SMA Labsky. Bintama merupakan kependekan dari Bina Mental Kepemimpinan Siswa. Acara utama dari bintama adalah mengasah kepemimpinan dengan sarana dan pelatihan yang diberikan oleh kopasus. Kegiatan ini sangat menantang, dan menyenangkan. Banyak hal-hal yang mengesankan ketika saya menjalani Bintama.


Bersama teman-teman SD saat ulang tahun saya


Pleton 3 Kompi 1, Bintama.
Seperti inilah 16 tahun kehidupan saya. Masa-masa indah, sedih, pahit dan manis telah saya lalui. Hidup saya baru sebentar, ibaratnya, saya baru saja melangkahkan kaki di tangga yang ke-16, dari puluhan tangga yang ada. Semoga Autobiografi saya dapat menginspirasikan siapa saja yang membacanya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar