Jumat, 21 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Muhammad Alen Irnawan B.

15 Tahun Saya Hidup



11 Maret 1997 di Rumah Sakit Bunda, lahir seorang anak secara normal dari pasangan Idwan Abrino dan Ratna Yulfianti.  Anak ini diberi nama Muhammad Alen Irnawan Badruddin.  Benar, anak itu adalah saya.  Nama Muhammad diberikan agar saya dapan meneladani sifat Rasul.  Alen adalah nama panggilan saya.  Irnawan merupakan singkatan dari Ir. Ratna dan Idwan.  Dan Badruddin adalah nama keluarga saya. 

Saat baru lahir
Balita
Balita
Saat Balita bersama ibu saya
Masa Playgroup & TK
Pada masa balita, saya dimasukkan ke playgroup di Taman Kanak-kanak Ikal II di Pos Pengumben, Jakarta Selatan.  Saat playgroup, saya lebih sering bermain bersama teman-teman saya daripada belajar.  Ya namanya juga playgroup atau kelompok bermain, disitulah tempat kita bermain saat balita.  Kalau belajar juga paling diajari bernyanyi lagu-lagu anak-anak.  Mainan yang paling saya senangi di playgroup adalah bermain balok, ada salah satu teman saya yang bukan menggunakan balok itu untuk membuat bangunan atau apapun melainkan dia menggunakan balok tersebut untuk memukuli teman-temannya.  Ya namanya juga anak-anak, belum mengerti yang baik dan yang tidak baik. 
Beranjak dari playgroup, saya mulai memasuki TK, tentunya tetap di Taman Kanak-kanak Ikal II.  Di sini saya mulai belajar membaca, menulis, dan bersosialisasi.  Ya memang itu fungsi sebenarnya dari Taman Kanak-kanak selain tempat bermain bersama teman-teman tentunya.  Saat TK, saya dan teman-teman memiliki kegiatan yang berbeda-beda setiap harinya.  Pada hari Senin, kami upacara.  Hari Senin merupakan salah satu hari yang paling saya tidak sukai saat TK.  Hari Selasa, kami belajar dikelas seperti biasa.  Hari Rabu, kami menggambar.  Saat TK, saya tidak bisa menggambar.  Mungkin bukan tidak bisa, tapi saya takut mencoba karena takut hasilnya jelek.  Sehingga setiap hari Rabu saya menangis karena disuruh menggambar.  Hari Kamis, kami belajar dikelas.  Dan hari Jumat, kami berjalan-jalan berkeliling komplek tempat dimana Taman Kanak-kanak saya berada.  Hari Jumat adalah hari favorit saya, karena setelah berjalan-jalan kami tidak masuk kelas tetapi belajar di luar sekolah yaitu di Taman Bermain.  Setiap harinya tentu saya dan teman-teman mendapat waktu istirahat.  Saat istirahat, kami makan bersama dengan makanan yang sudah disiapkan oleh sekolah.  Tentunya, kami memiliki makanan yang berbeda-beda setiap harinya.  Makanan yang paling saya tidak sukai adalah bubur kacang hijau.  Saya tidak pernah memakan makanan saya ketika yang diberikan adalah bubur kacang hijau.
Saat itu tanggal 7 November 2000, saya menunggu di rumah bersama nenek saya.  Sementara Ibu dan Ayah saya berada di rumah sakit.  Keesokkan harinya, 8 November 2000 lahirlah anak bernama Muhammad Daril Nofriansyah Badruddin.  Yang tak lain adalah adik saya.

Hari pertama TK

Setelah sholat Ied
Wisuda TK
Masa SD
            Pada usia 5,5 tahun saya bersekolah di Sekolah Dasar Bhakti YKKP di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat.  Pada hari pertama sekolah, saya tidak mau masuk ke kelas tetapi akhirnya saya ditarik oleh ayah saya sampai ke dalam kelas.  Setelah itu wali kelas saya menenangkan saya.  Sahabat saya saat TK, Gusti Haryo Bismo Prakoso atau biasa dipanggil Imo bersekolah di sekolah yang sama dengan saya yaitu SD Bhakti YKKP.  Saya mendapat kelas 1C sedangkan Imo mendapat kelas 1A.  Di kelas 1 ini, terjadi sebuah insiden yang membuat panik kelas saya.  Teman saya, Rama atau kami lebih sering memanggilnya Kusut terjatuh ke dalam selokan di lapangan sekolah karena ingin mengambil koin 500-an miliknya.  Kepalanya terbentur batu di dalam selokan dan akhirnya bocor.  Segera pihak UKS memberikan pertolongan pertama sementara wali kelas saya, Bu Hafia sibuk menelpon Rumah Sakit serta orang tua Rama. 
Naik ke kelas 2, saya mendapat kelas 2B dengan wali kelas Pak Totok.  Saat kelas 2, saya mulai menyukai menggambar sehingga saya mengambil ekstrakurikuler melukis.  Awalnya saya sedikit kesulitan untuk melukis.  Di sini saya berkenalan dengan seorang teman saya yaitu M. Kahfi Ramadhan yang nantinya satu sekolah lagi dengan saya saat SMP dan SMA.  Saat itu saya melihat hasil lukisannya sangat bagus.  Saya pun bertanya bagaimana bisa sebagus itu.  Ternyata dia mengikuti les privat melukis di rumahnya.  Akhirnya setiap ekskul melukis saya duduk dengan Kahfi dan dia mengajari saya bagaimana melukis yang benar.
Kelas 3, saya menempati salah satu bangku di kelas 3C dengan wali kelasnya yaitu Pak Edi yang sekarang menjadi wakil kepala sekolah di SD Bhakti.  Saat kelas 3 ini,  sebuah kejadian yang membuat satu kelas tertawa tapi juga jijik terjadi.  Yaitu teman salah satu teman saya buang air besar di celana saat sedang mengantri untuk mengumpulkan tugas.  Dia hanya tersenyum dan akhirnya menangis karena menahan malu.  Di kelas 3 ini pula, saya sekelas dengan seorang teman yang sepertinya memiliki kelainan.  Dia gampang sekali marah.  Sekalinya marah dia bisa sampai membating meja dan membuat kelas berantakan.  Dia bahkan berani melawan guru.  Tapi sebenarnya dia orang yang baik.  Suatu hari, saya pernah hapir membuatnya mengamuk karena saya berkata bahwa mukanya seperti orang yang sudah tua.  Untungnya saya berhasil membuatnya tenang kembali.
Seusai kelas 3, saya ditempatkan di kelas 4C bersama wali kelasnya Bu Sukis.  Bu Sukis adalah orang yang tegas dan agak galak.  Tetapi anehnya kelas saya sangat sering membuatnya menangis.  Mungkin karena dia tidak kuat menahan amarahnya.  Di kelas 4 ini, saya menjadi ketua kelas. Saya paling tidak senang diajar oleh salah satu guru yang ketika mengajar dia hanya menyalin catatan dari bukunya ke papan tulis tanpa menerangkannya.   Itupun bukan dia yang menyalin melainkan menyuruh salah satu anak perempuan.  Pelajarannya sangat membosankan pula.  Begitu pula yang dikatakan teman-teman saya.  Di akhir semester 2, orang tua mengambil rapor sementara anak-anak dikumpulkan di lapangan untuk mendengarkan pengumuman juara umum.  Yang memberikan pengumuman adalah Pak Edi, wali kelas saya saat kelas 3.  Dimulai dari kelas 1, 2, 3, dan seterusnya.  Ketika giliran kelas 4 dibacakan, Pak Edi membacakan dari urutan ke 3 kemudian 2.  Saat urutan pertama dibacakan, saya kaget karena nama yang dibacakan adalah nama saya.  Saya pun maju ke depan dan menerima piagam serta hadiah.  Saya sangat tidak mengira akan mendapat juara umum 1.
Di kelas 5, saya berada di kelas 5C dengan wali kelas Bu Melly.  Bu Melly bisa dibilang guru yang sangat galak.  Ketika marah matanya melotot dan nada suaranya meninggi seperti orang teriak.  Ia adalah guru matematika.  Pengalaman saya saat kelas 5 yaitu mendapat nilai 0 ulangan matematika karena saat ulangan saya menahan untuk ke toilet.  Akhirnya saat bel berbunyi saya tidak mengerjakan apa-apa dan langsung ke toilet.
Kelas 6 adalah kelas paling sibuk.  Saya mendapat kelas 6B dengan wali kelas Pak Burhan.  Tiga kali seminggu kami mendapat Pendalaman Materi sepulang sekolah.  Kelas-kelas Pendalaman Materi dibagi berdasarkan peringkat angkatan.  Selain Pendalaman Materi, saya juga mengikuti bimbingan belajar bersama teman saya Fachrie, Kahfi, dan Rifqi.  Setiap ingin bimbel, saat pulang sekolah kami selalu main di rumah salah satu dari kami secara bergantian.  Di kelas 6 ini, saya sering sekali bermain ke rumah Kahfi untuk berjalan ke rumah salah satu teman saya Bhaskara yang letaknya tidak jauh dari rumah Kahfi.  Biasanya kami main ber-5 yaitu saya, Kahfi, Bhaskara, Fadel, dan Iqbal.  Biasanya kami main dari pagi hingga sore.  Selesai bermain saya kembali ke rumah Kahfi dan dijemput di sana.  Semester ke-2 hampir berakhir.  Tinggal penutupannya yaitu Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional.  Saya melewati ketiga hari ujian tersebut dan akhirnya mendapat NEM 27,21.  Setelah ujian nasional, saya dan teman-teman mengikuti acara perpisahan di Situ Gintung.

Kiri ke kanan : Rahman, Yahda, Saya, Kahfi
Perpisahan SD
Masa SMP
            Saya berhasil lulus dari tes Penerimaan Siswa Baru di SMP Labschool Kebayoran.  Lima hari pertama, yaitu Masa Orientasi Sekolah (MOS) saya jalani dengan sedikit terpaksa.  Saya harus datang ke sekolah pagi-pagi sekali.  Saat itu, setiap pagi saya menumpang berangkat ke sekolah dengan teman saya, Parusa Seno Adirespati atau Seno yang sekarang sudah pindah ke Perancis.  Seno juga salah satu sahabat saya sejak SD.  Setiap pagi mobil Honda Stream datang menjemput saya di rumah.  Itu adalah mobil Seno.  Lima hari berlalu, saya sudah mendapat kelas.  Saya mendapat kelas 7C dengan wali kelas Bu Elin.  Ternyata saya satu kelas dengan Kahfi dan Rafi teman SD saya.  Saat itu, teman bermain saya adalah Kahfi, Alif, dan Ega. 
            Naik ke kelas 8, kelas yang bisa dibilang tempat bersantai-santai.  8C adalah kelas saya.  Wali kelas saya adalah Alm. Pak Hasyim.  Beliau meninggal karena penyakit ginjal.  Beliau orang yang baik dan peduli terhadap anak-anak muridnya.  Di kelas 8 ini, saya kembali sekelas dengan Kahfi dan Alif.  Ega terpisah ke kelas 8E.  Saya juga tetap sekelas dengan Rafi teman SD saya.  Di kelas 8 ini, saya bertemu dengan teman baru yaitu Ridhoutomo Putra S.  Saat kelas 7, saya tidak kenal dengan Ridho.  Saat semester 2, kelas saya kedatangan murid baru yang bernama Ramzy Rayhan atau biasa dipanggil Kentang.  Kentang dan Ridho sering sekali membicarakan tentang game perang sedangkan saya tidak mengerti karena tidak menyukai permainan seperti itu.  Di akhir semester 2, saya dan teman-teman mengadakan refleksi kelas di rumah teman saya Adli Farhan N. di daerah Pondok Indah.  Rumahnya sangat besar dan didalamnya terdapat kolam renang, meja billiard, tenis meja, banyak komputer, PS3, Wii, dan masih banyak lagi.  Saya sebenarnya sudah sering main ke rumah Adli, tapi sampai sekarang tidak pernah bosan karena di rumahnya terdapat fasilitas yang sangat lengkap.
            Kelas 9A, dengan wali kelas Bu Ruslinawati.  Kelas 9 adalah kelas yang seru tapi juga sangat sibuk dikarenakan ujian nasional yang sudah menanti di akhir semester 2.  Di semester pertama, saya belum terlalu sibuk belajar.  Saya hanya sedikit-sedikit mengerjakan soal.  Satu semester berlalu dengat cepat.  Sekitar akhir semester pertama, diadakan lari pagi Jumat terakhir bagi kelas 9.  Kami semua mengenakan kostum yang berbeda-beda dengan tema sesuai warna kelas masing-masing.  Kelas saya mendapat warna biru.  Saya disuruh menjadi Kazao dari serial Sinchan.  Karena banyak yang memakai kostum yang kira-kira dapat mengganggu saat lari, akhirnya kami semua tidak lari melainkan hanya jalan pagi.  Semester 1 selesai, semester 2 pun datang.  Setiap Selasa, Rabu, Jumat, dan terkadang Sabtu saya mengikuti pendalaman materi atau biasa disebut Paket.  Begitu juga dengan murid lainnya.  Memang melelahkan tapi ya memang semakin banyak berlatih semakin bagus.  Satu semester atau sekitar 3 bulanan berlalu.  Ujian nasional pun datang.  Empat hari saya jalani dengan berusaha untuk tenang.  Dan hasilnya, saya mendapat nilai yang cukup menurut saya.  Di akhir semester ini, saya tidak lagi sibuk mencari sekolah karena sudah diterima di SMA Labschool Kebayoran melalui Jalur Khusus.

Bersama kelas 7C
Bersama sepupu-sepupu
Refleksi kelas 9A
Masa SMA
Alhamdulillah saya diterima di SMA Labschool Kebayoran.  Tak jauh berbeda dari SMP, ketika pertama masuk ada yang namanya MOS.  Saya mengikuti 3 hari siksaan dan cobaan dengan terpaksa bersama kelompok saya.  Dan ternyata kelompok tersebut merupakan kelas saya nantinya yaitu XA.  Awalnya kelas ini terpisah menjadi beberapa kelompok.  Tetapi lama kelamaan semakin membaur.  Tidak terasa TO sudah akan datang.  Tidak ketinggalan, pra-TO kami jalani terlebih dahulu.  Pra-TO memang tidak terlalu menyenangkan.  Jauh berbeda dengan TO yang sangat seru.  Tak lama kemudian BINTAMA pun datang.  Kami dilatih di Grup-1 KOPASSUS  Serang, Banten.  Bagian yang paling menyenangkan adalah saat survival di hutan.  Saya pun mencoba memakan ular dan biawak.  Sangat melelahkan memang saat menjalaninya.  Tetapi ketika sudah selesai, kegiatan ini menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan.
15 tahun telah saya jalani.  Sangat banyak yang dapat saya pelajari.  Dan kenangan ini sangat sulit dan tidak mungkin untuk dilupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar