Rabu, 19 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Maulana Ainul Yaqin


               


               Saya bernama Maulana Ainul Yaqin. Nama panggilan saya adalah Nana. Saya anak dari pasangan suami-istri bernama Malikuz Zahar dan Utami. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Adik saya yang pertama bernama Salsabila Nurul Zhafira dan Adik saya yang kedua adalah Muhammad Emil Aisy Fayadh. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 10 juli 1996. Saya berumur 15 tahun.  Saya bergolongan darah B. Saya tinggal di Permata Pamulang blok E 11/15, lingkungan yang tepat bagi seorang anak untuk tumbuh.
                Masa balita saya dilewati dengan sangat baik. Ibu saya memberi ASI selama 3 bulan. Seperti balita pada umumnya, saya juga sering memberikan lukisan-lukisan terbaik pada dinding rumah saya. Entah itu berupa huruf atau gambar yang sering saya lihat. Pokoknya, pada saaat saya masih balita keadaan rumah tidak akan serapih sekarang ini. Saya memiliki banyak pembantu yang dikhususkan untuk membantu saya waktu itu. Banyak yang tidak kuat untuk menjaga saya karena saya tergolong nakal yang sebenarnya banyak akal.  Saya sering dibelikan mainan-mainan oleh bapak saya. Mainan yang paling berkesan adalah miniature kereta api yang ia bawa sebagai oleh-oleh, sayangnya mainan itu berakhir masa jabatannya pada saat saya membawa mainan itu untuk mandi. Pada saat saya masih balita, saya tergolong anak yang susah untuk diam. Bahkan, Ibu saya sempat khawatir karena keadaan saya yang tergolong hiperaktif, untungnya saya tidak berpenyakit hiperaktif seperti yang ditakuti Ibu dan tante saya. Saya lari-larian kesana kemari, nangis sampai tetangga terbangun pada malam hari, dan sering menghancurkan mainan-mainan saya. Saya juga sempat diasuh setengah hari oleh kakek dan nenek saya karena orang tua masih kerja pada saat itu. Kakek dan nenek memberikan saya makan, member susu, dan juga bermain bersama saya. Sedihnya, kakek yang waktu itu sempat merawat saya meninggal saat saya masih berumur satu tahun. Pada saat saya berumur 3 tahun, saya dimasukkan ke sekolah playgroup al-azhar oleh kedua orang tua saya. Tidak banyak memori yang tersimpan sewaktu saya disana. Saya naik kelas dengan nilai yang cukup memuaskan. Setelah itu, saya dimasukkan oleh kedua orang tua saya ke taman kanak-kanak Aisyiah di daerah Surya Kencana. Saya diberi pendidikan dasar seperti menulis, membaca, dan mengaji. Saya pernah mengikuti lomba tari saman yang ditonton oleh kedua orangtua saya di sekolah playgroup. Walaupun saya masih di TK, tepuk tangan adalah hadiah termanis yang orang berikan setelah kita menampilkan sesuatu di atas pentas, dan itu memberi saya pengaruh yang cukup besar untuk kehidupan di lain hari.  Di TK juga terdapat fasilitas arena bermain untuk mengembangkan kecerdasan motorik siswa-siswanya. Saat saya di TK tidak ada masalah yang serius tentang nilai-nilai pelajaran saya. Saya dapat bersosialisasi sebagaimana anak-anak pada umumnya. Guru yang masih saya ingat di TK adalah Bu Dewi. Saya diajar olehnya dan dia juga guru pedamping kelas saya. Selama balita, saya juga memiliki teman-teman di lingkungan rumah saya. Walaupun masih tergolong anak kecil, banyak diantara mereka yang sudah pintar menghasut dan membuat kelompok-kelompok tersendiri. Dengan teman-teman, saya sering pergi jauh dari rumah dengan menggunakan sepeda mengeksplorasi segala daerah di sekitar rumah saya. Saya memiliki teman paling dekat saat saya balita, dia bernama Opik. Saya biasa ke rumah Opik untuk bermain ps, berkumpul dengan teman yang lain, atau hanya sekedar tidur siang atau mandi. Pertemanan ini berlanjut sampai saya duduk di SMA dan akan berlanjut sampai seterusnya. Lingkungan rumah saya sering mengadakan lomba-lomba pada saat 17 agustusan sebagai cara untuk memperingati hari bersejarah tersebut. Saya mengikuti lomba-lomba tersebut bersama Opik dan saya sering mendapat hadiah dari lomba-lomba tersebut.  Masa kecil yang sangat bahagia.
                Pada usia saya yang menginjak 6 tahun, saya dimasukkan (lagi) oleh orang tua saya ke SD Muhammadiyah 12 Pamulang. Alasan yang cukup bijak memasukkan saya kesini karena ingin membentuk moral agama saya lebih baik lagi. Saya dites oleh guru-guru disini dan Alhamdulillah, saya masuk ke kelas 1A. Di kelas ini, saya diajar oleh guru perempuan bernama Bu Siti. Guru ini cukup tegas orangnya dan menurut saya, bukan contoh guru yang baik dalam mengajar anak kelas 1 SD. Anak kelas 1 SD diharapkan mendapat guru yang kalem, baik, dan tidak cepat marah. Oke, balik ke topik. Di minggu-minggu pertama saya sekolah, saya pernah lupa membawa buku paket dan akhirnya saya dimarahi oleh guru saya itu. Untung saja saya bermental kuat jadi hal seperti itu tak masuk ke otak saya. Di kelas ini, saya berteman dengan bagas. Saya kenal Bagas karena sama-sama mengikuti ekskul sepak bola. Ya, memang dalam hal ini, Bagas lebih jago. Setiap saya satu tim dengan dia, saya akan semangat pada saat mainnya dan kalo beda tim, rasa pupus harapan memasuki pikiran. Saya naik kelas dengan nilai yang tidak memuaskan saat itu dan masuk ke kelas 2C. Di kelas ini saya diajar oleh Pak Dodo sebagai wali kelas 2C. Dia orangnya lebih asik dalam mengajar dan murah senyum. Kalau dipikir-pikir, Pak Dodo ini mirip Polo Srimulat. Di kelas ini, lebih banyak murid yang terkesan bandel daripada yang pintar. Saya masih mengikuti ekskul bola saat itu karena memang bola hobbi saya. Tidak banyak kenangan yang bisa diingat waktu itu. Saya naik kelas dengan nilai yang bagus dan masuk ke kelas 3B1. Sejak saya kelas 3, memang nama kelas tidak ada yg sampe E. Mungkin agar orangtua siswa tidak ada yang merasa kecewa lagi karena anaknya masuk kelas E. Di kelas 3B1, saya mendapat wali kelas bernama Pak Samwani. Saya juga nyaman diajar olehnya karena beliau yang murah senyum dan tidak mudah marah. Di kelas 3 ini, prestasi saya sangat bagus. Saya sering mendapat nilai tertinggi di kelas. Saya berteman dengan siapa saja tetapi, saat itu saya dekat dengan seorang bernama Helmi. Dia teman sebangku saya dan orangnya rada-rada begitu. Waktu itu, saya pernah meminjam duit kepada Helmi sebesar 6000 kalau tidak salah, dan pada saat saya balik ke kelas sehabis jajan, Ilham marah ke saya dan meminta duit yang saya pinjam tadi dibalikkan ke Helmi. Entah apa yang sudah dibilang Helmi sampai Ilham mengira saya memalak Helmi itu. Akhirnya perkelahian tak bisa dielakkan. Saya berkelahi dengan Ilham dan yang tadinya Ilham sendiri, tiba-tiba anak bernama Raihan juga mengikuti perkelahian itu. Saya, Raihan, Ilham ,dan Helmi dipanggil oleh Pak Samwani dan dimintai penjelasan tentang perkelahian tadi. Akhirnya, saya memberikan kembali uang yang tadi saya pinjam kepada Helmi dan Raihan dan Ilham juga meminta maaf kepada saya. Masalah pun selesai. Saya pindah ekskul menjadi basket karena ingin badan saya bertambah tinggi, maklum waktu itu saya terbilang cukup pendek. Saya juga dibelikan sepeda baru oleh bapak saya. Saya pun menginjak kelas 4 SD, kelas saya adalah 4A2. Di kelas ini, saya bertemu dengan teman-teman yang sampai sekarang masih saya ingat. Saya sering bermain benteng, petak umpet, bola, dan sebagainya dengan mereka. Saya ke kantin dengan teman-teman, mengobrol, dan juga sekedar duduk-duduk saja. Saya memang tidak memiliki kekurangan dalam akademis selama di SD dulu. Lingkungan di rumah saya juga semakin mengasikkan. Saya bermain bola di lapangan dekat rumah saya, berteman dengan segala macam orang. Saya juga pernah berkelahi dengan salah satu teman di komplek saya karena masalah bola. Pada saat saya kelas 4. Saya kehilangan sepeda saya yang waktu itu dibelikan oleh bapak saya. Saat lebaran, saya bertemu dengan kakek saya dan menceritakan hal yang menimpa sepeda saya. Saya pun dikasih THR berlebih untuk membeli sepda yang baru, sayangnya, sekarang kakek yang ini juga sudah meninggal. Disaat kelas 4 ini, saya mendapat rata-rata nilai yang paling bagus diantara kelas-kelas sebelumnya. Di kelas 4, saya sekelas dengan anak yang berasal dari aceh. Dia bernama Ai. Dia pindah kesini karena di Aceh sedang terkena musibah yaitu Tsunami. Saya pun naik kelas dan berada di kelas 5 Hasan Al-Bana. Nama kelas di Muhammadiyah memang sering berganti-ganti seiring waktu. Saya mulai mengikuti pramuka yang diadakan tiap Kamis di sekolah. Saya juga mengikutin perkemahan di sekolah dan di Cibubur waktu itu. Saya satu regu dengan Bagas, dia memang anak yang cukup aktif dalam segala bidang. Entah mengapa, saya tidak terlalu memusingkan untuk menyukai seseorang walaupun ada saja orang yang saya sukai. Cukup sampai disini, beranjak ke kelas 6. Saya di kelas 6 memiliki guru yang lumayan gendut, pintar matematika karena memang dia guru matematika, dan juga menyenangkan. Dia pintar melawak dan juga cepat untuk naik pitam. Namanya adalah Pak Yanto. Karena dia juga saya menjadi menyukai pelajaran matematika. Di kelas 6 ini saya mengikuti ekskul basket yang nantinya menjadi modal awal untuk di SMP nanti. Nilai UASBN saya waktu itu 27.45 dan termasuk ke dalam tingkatan 10 besar di sekolah.
                Pada umur 12 tahun, saya memasuki SMP 1 Pamulang yang sekarang berganti nama menjadi 4 Tangerang Selatan. Waktu saya mos, saya diharuskan meminta tanda tangan para OSIS disana dan untungnya saya dapat mengisi seluruh kolom tanda tangan osis itu. Saya masuk ke program RSBI di smp ini. Memang sebagian besar pelajarannya memakai bahasa inggris, sehingga rata-rata nilai saya menurun drastis di semester pertama. Saya juga mulai menyukai teman sekelas saya yang tentu saja berlawanan jenis yaitu bernama Shinta (nama disamarkan). Di semester 2, nilai-nilai saya beranjak membaik dari sebelumnya. Saya naik dengan ranking 14 di kelas yang hanya 24 orang, cukup menyedihkan. Di kelas 8, wali kelas saya bernama Bu Jannah. Beliau juga seorang guru matematika yang cukup handal namun kurang bisa dalam menjelaskan materi yang kurang dipahami anak-anak muridnya.
Di kelas 8 ini, saya masuk ke dalam tim  inti basket 4 tangsel. Saya memang menyukai basket karena selain menjadikan postur badan bagus, olahraga ini merupakan olahraga yang popular setelah bola.. Beranjak ke kelas 9, saya menjadi lebih serius dalam belajar. Mengingat UN sebentar lagi diadakan saya meminta orang tua saya untuk memasukkan saya ke sebuah tempat les agar dapat mengulang dan melatih pelajaran-pelajaran yang dikira masih kurang. Saya juga sempat mengikuti lomba matematika di SMP Pembangunan Jaya Bintaro dan hasilnya kurang memuaskan. Tetapi, saya tetap menyukai pelajaran ini. Saat-saat SMP memang masa-masa untuk mencari teman. Saya memiliki 2 orang teman terdekat saya yang sekarang berbeda SMA dengan saya. Walaupun begitu, tetap saja mereka sudah memberikan kesan yang patut diingat selamanya. Saya lulus SMP dengan nilai yang terbaik se SMP yaitu 38,90. Saya diberi hadiah berupa sepatu dan liburan oleh orang tua saya. Nilai yang terbaik adalah nilai yang diberikan oleh orang lain kepada kita berkat hasil karya kita sendiri.
        Masa-masa di SMA pun dimulai. Banyak kegiatan yang sudah saya lakukan sejak kelas 10 sampai kelas 11 di SMA Labschool Kebayoran. Pada tanggal 18 dan 19 Oktober 2011, sekolah ku mengadakan sebuah persiapan untuk melakukan kegiatan yang diwajibkan bagi seluruh siswa Labschool yang belum mengikutinya, yaitu TO. To atau trip observasi ini dilakukan agar membentuk karakter siswa yang lebih baik. Pada hari-hari persiapan TO atau yang disebut dengan pra-TO, kami angkatan dasecakra diwajibkan untuk memangkas habis rambut kami alias botak. Ya, botak, agar terlihat sama rata dan lebih gagah. Kami diajarkan untuk menyalakan kompor minyak, mengecat tongkat, baris berbaris, dan menjaga kesatuan di dalam kelompok. Dua hari tidaklah cukup untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan TO, tetapi dengan semangat juang yang tinggi kami yakin dapat melaluinya dengan baik. Saya juga mengikuti Bintama di Grup 1 Kopassus Serang. Disana, saya beserta angkatan Dasecakra dilatih mental dan fisik untuk menjadi seorang pemimpin masa depan. Teriakan pelatih kopassus sudah biasa didengar oleh kami. Banyak hal kami lakukan disana mulai dari pengenalan pelatih beserta komplek Grup 1 Kopassus di Serang, penjelajahan, dan jurit malam. Walaupun hasil sertifikat saya banyak yang c, pengalaman seperti ini tak bisa digambarkan kata-kata. Saya juga mengikuti kegiatan yang bernama Lapinsi untuk membentuk kader-kader OSIS yang berpengalaman. Mulai dari tes fisik, proposal, hingga agama. Alhamdulillah saya terpilih menjadi anggota OSIS periode 2012-2013.











       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar